Anda di halaman 1dari 14

Contoh pendekatan Objektif

OBJEKTIVITAS TOTI TJITRAWASITA DALAM CERPEN


SURABAYA
PENDAHULUAN
Kenyataan atau realitas dalam hidup dan fiksional atau rekaan adalah dua hal yang
berbeda. Kenyataan menggambarkan keadaan yang sebenarnya yang dialami dan dilakukan
oleh manusia, sedangkan rekaan atau fiksionalitas adalah daya imajinasi atau khayalan dari
seorang. Tetapi, kedua hal tersebut menjadi satu di dalam karya sastra. Dalam karya sastra,
kenyataan dan fikisionalitas merupakan dua hal yang saling melengkapi dan menjadikan
karya sastra menarik untuk dibaca.
Karya sastra merupakan hasil cipta kreatif dari pengarang, lahir dari proses
perenungan dan penjelajahan yang muncul dari realitas kehidupan masyarakat. Melalui karya
sastra, pengarang berusaha mengungkapkan nilai-nilai kehidupan yang ada dalam
masyarakat. Hal ini dikarenakan pengarang merupakan bagian dari masyarakat yang hidup
dan mengalami berbagai macam kegiatan dan kehidupan dalam bermasyarakat. Pengarang
menangkap realitas dan nilai-nilai masyarakat kemudian secara kreatif mengolah,
mengeidelisasi, dan mengekspresikan dalam bentuk karya sastra.
Sastra adalah inspirasi kehidupan yanag dituangkan dalam sebuah bentuk
keindahan. Sastra adalah buku-buku yang memuat perasaan kemanusiaan yang mendalam
dan kebenaran moral dengan sentuhan kesucian, keluasan pandangan, dan bentuk yang
mempesona (Sumardjo dan Saini, 1997: 2-3). Seorang sastrawan akan melahirkan sebuah
karya sastra jika memang ia ingin mengekspresikan gagasannya dan kegelisahannya terhadap
kemasyarakatan dan kebudayaan (Jurnal Bogor, 2009).
Karya sastra merupakan dunia baru yang diciptakan oleh pengarang. Dunia baru yang
merupakan gabungan dari realitas sosial yang ada dalam lingkungan pengarang maupun dari
luar lingkungan pengarang dengan daya imajinasi pengarang dalam mengungkapkan pikiran
dan keinginannya. Dapat dikatakan bahwa sastra tidak terlahir dari kekosongan, tetapi sastra
lahir dari tanggapan diri pengarang ketika kesadarannya bersentuhan dengan kenyataan.
Pengalaman dan refleksi batin atas hal tersebut terlahir dalam karya sastra (Najid, 2003:9).
Sastra tidak hanya lahir dari kekosongan. Sastra adalah gambaran kehidupan yang ada
di sekitar kita karena sastra adalah cerminan masyarakat. Sastra adalah dunia kecil yang
diciptakan oleh pengarang yang di dalamnya terdapat masalah-masalah kehidupan yang
bersumber dari realitas sosial atau kehidupan lingkungan sosial yang ada di alam pikiran
pengarang maupun yang dilihat oleh pengarang. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan
oleh Damono dalam Najid (2003:9) bahwa sastra adalah cermin kehidupan. Sastra merupakan
kristalisasi nilai dan pengalaman hidup. Sastra menampilkan gambaran kehidupan dan
kehidupan adalah kenyataan budaya.
Dalam menciptakan karya sastra, pengarang tidak hanya menonjolkan daya
imajinasinya saja. Tetapi, pengarang harus bisa menggabungkan daya pikir yang dia miliki
dengan kenyataan sosial yang ada yang merupakan sumber penulisan menjadi sebuah karya
sastra yang bermutu, karya sastra yang bisa memberikan gambaran kepada masyarakat
tentang kehidupan dan permasalahannya. Hal ini dikarenakan karya sastra tidak hanya
bertujuan menghibur saja tetapi juga bermanfaat. Melalui karya sastra, pembaca dapat
memikirkan masalah yang ada dalam kehidupannya sehingga pembaca mampu memilah
mana hal yang baik dan mana yang jelek.
Dalam mencipta karya sastra, proses kreatif seorang pengarang dengan pengarang
lain pastilah berbeda. Setiap sastrawan memiliki proses kreatif tersendiri, ada yang
menceritakan diri dalam karyanya dan ada pula yang mengeskpresikan idenya tanpa harus
melibatkan atau menceritakan dirinya dalam karya tersebut. Hal ini sejalan dengan pendapat
Wellek dan Warren (1989:85) bahwa ada dua tipe penyair yaitu tipe yang objektif dan tipe
yang subjektif. Tipe objektif adalah tipe pengarang yang mampu membuat negasi, terbuka
pada dunia, dan penhilangan identitas diri pengarang. Sebaliknya tipe subjektif adalah tipe
pengarang yang selalu ingin memamerkan kepribadiannya, memotret diri, menyampaikan
pengakuan dan menyatakan dirinya.
Salah satu karya sastra itu adalah cerpen. Cerpen merupakan salah satu bentuk karya
sastra yang menggambarkan gambaran hidup manusia dengan liku-liku yang ada di
dalamnya. Cerpen menggambarkan semuanya dengan kompleks dan sebagai aktualisasi dari
gejolak jiwa pengarang yang bergelut dengan dunia sastra dan akan terus menciptakan karya
sastra sebagai bagian dari penggambarannya terhadap kehidupan dan realitas sosial yang ada
di masyarakat.
Hal ini seperti terlihat dalam cerpen “Surabaya” karya Toti Tjitrawasita dalam Dua
Kelamin bagi Midin (Cerpen KOMPAS Pilihan 1970-1980). Cerpen tersebut menceritakan
perjalanan seorang nenek untuk bertemu dangan anak dan cucunya yang ada di Surabaya
dengan penuh perjuangan. Dalam perjalanan untuk bertemu dengan anak dan cucunya, nenek
Soma mengalami berbagai pengalaman hidup yang menyakitkan yang menjadikannya
sebagai wanita yang tangguh dan kuat dalam menjalani hidup. Dengan melihat situasi di atas
dan melihat isi dari cerpen “Surabaya” karya Toti Tjitrawasita, pembahasan yang dilakukan
adalah tentang objektivitas pengarang dalam cerpen tersebut.

PEMBAHASAN
Objektivitas Pengarang dalam Cerpen “Surabaya” karya Toti Tjitrawasita
1. Penggambaran Suasana Pedesaan dan Perkotaan
Cerpen merupakan salah satu bentuk karya sastra menjadi media yang tepat untuk
melihat dan mengetahui realitas sosial dan kenyataan yang ada dalam masyarakat. Hal itu
juga terdapat dalam cerpen “Surabaya” karya Toti Tjitrawasita. Cerpen tersebut merupakan
salah satu cerpen yang berisi berbagai macam realitas sosial yang ada dalam masyarakat.
Mulai dari realitas sosial yang ada di pedesaan sampai realitas sosial yang ada di perkotaan.
Pedesaan dan perkotaan adalah dua hal yang berbeda. Dalam kehidupan yang ada di
pedesaan, kerukunan dan kebersamaan menjadi dua hal yang tidak bisa dipisahkan dalam
kegiatan yang dilakukan sehari-hari. Hal ini terlihat dari kutipan yang ada di bawah ini:
“Kabar tersebut lantas pecah dan berputar ramai di sumber tempat mereka saling
bertemu. Dari mulut ke mulut, tersebar ke seluruh dusun yang kecil itu. Beberapa
malah datang ke gubuknya, menunjukkan rasa syukur sambil menyisipkan sekeping
rezeki di kutang mbok Soma...” (Tjitrawasita dalam Kompas, 2003:251).

Dalam kutipan di atas, pengarang melihat bagaimana gambaran pedesaan kemudian


melikiskannya digabubgkan dengan daya imajinasi yang dia peroleh sehingga terciptalah
gambaran pedesaan dalam cerpen tersebut. Dalam kutipan di atas, terlihat jelas bagaimana
keadaan yang ada dalam masyarakat pedesaan. Kabar tentang akan berangkatnya mbok Soma
ke Surabaya untuk menjenguk anak dan cucunya tersebar ke orang-orang dalam dusun itu.
Mereka tidak hanya membicarakannya saja tetapi juga bersimpati dengan mendatangi rumah
mbok Soma meskipun tidak memberikan apa-apa, tetapi ada beberapa yang memberikan
uang saku untuk bekal selama dalam perjalanan ke Surabaya. Hal ini sampai sekarang juga
masih bisa kita temui dalam kehidupan bermasyarakat yang ada di pedesaan-pedesaan
meskipun cerpen itu ditulis di tahun 1970-an.
Dalam kehidupan bermasyarakat di pedesaan, tegur sapa dan berbincang-bincang
merupakan salah satu ciri khas yang ada di pedesaan. Bahan pembicaraan pun tidak hanya
masalah yang besar dan rumit, masalah kecil pun bisa menjadi bahan pembicaraan dalam
berbagai kegiatan yang mereka lakukan. Hal tersebut tercermin dari kutipan di bawah ini:
“.... Satu-satunya pendukung kehidupan, terletak pada satu-satunya sumber yang
merupakan pusat kegiatan di dusun itu. Segala kasak-kusuk, bisik kerling, sampai ke
isu politik, seluruhnya bermula di tempat yang sama...” (Tjitrawasita dalam Kompas,
2003:249).

Kutipan di atas memperlihatkan kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat pedesaan di salah
satu tempat yang merupakan pusat kegiatan di dusun tersebut, yaitu sumber air yang ada di
pedesaan tersebut. Salah satu kegiatan yang dilakukan antara lain adalah membicarakan
masalah yang mereka hadapi meskipun itu hanya membicarakan orang lain sampai pada
masalah besar yang ada dalam kehidupan yang mereka jalani. Dalam kehidupan di pedesaan,
kerukunan dan kebersamaan dan saling mambantu adalah kegiatan yang tidak bisa dilepaskan
dari kehidupan mereka.
Situasi dan kehidupan bermasyarakat yang sulit kita lihat dalam kehidupan
masyarakat di perkotaan. Kehidupan masyarakat perkotaan lebih cenderung individu dan
acuh kepada orang lain. Situasi tersebut dapat dilihat dari kutipan di bawah ini:
“ Tak ada keramahan yang menyambutnya, setiap kali ia berhenti untuk
menentramkan hatinya, setiap kali orang bergumam dan menggusur tempatnya..
(Tjitrawasita dalam kompas, 2003:252).

Kutipan tersebut memperlihatkan keadaan dan situasi yang ada di Surabaya ketika mbok
Soma tiba di Surabaya tepatnya di Stasiun Pasar Turi. Ketika dia datang dan menginjakkan
kakinya di Surabaya, ketidakramahan yang dia terima. Dia ingin beristirahat sebentar saja,
tetapi dia selalu tergusur dan tergeser oleh penduduk yang ada di tempat tersebut. Mereka
menganggap mbok Soma tidak ada meskipun dia adalah seorang nenek tua yang hanya ingin
bertemu dengan anak dan cucunya. Selain itu banyak orang yang mencibir dan mengejek si
nenek yang hanya akan menjadi sampah di kota yang besar ini yaitu kota Surabaya.
2. Penggambaran Kehidupan di Kota Surabaya
Dalam cerpen ini, sang pengarang yaitu Toti Tjitrawasita menggambarkan kehidupan
yang ada di kota Surabaya berawal dari kedatangan Mbok Soma di Surabaya. Hal ini bisa
dilihat dari kutipan di bawah ini:
Surabaya yang cerah ceria, acuh tak acuh saja menyambut kedatangan tamunya.
Waktu kereta berhenti di Stasiun Pasar Turi, ia tak sadar bahwa telah sampai di akhir
perjalanannya. Lautan manusia yang lalu lalang di perut stasiun, tak satu pun yang
dikenalnya, dan tak satu pun yang memperhatikannya.... (Tjitrawasita dalam Kompas,
2003: 252).

Dari kutipan di atas, suasana yang tergambar dan menggambarkan kota Surabaya tidak
berasal dari pengalaman pribadi sang pengarang. Hal ini dikarenakan semua orang sudah tahu
bagai kota Surabaya meskipun itu terjadi pada tahun 70-an. Kota Surabaya merupakan kota
yang panas dan merupakan salah kota metropolitan di Indonesia. Jadi, orang-orang yang
hidup di dalamnya hanya mementingkan kepentingan dirinya sendiri dan tidak peduli dengan
orang lain.
Kehidupan yang begitu ketat dan begitu sulit untuk mencari nafkah di kota besar
menjadikan semua orang menghalalkan segala cara untuk menghidupi keluarganya termasuk
dengan cara merampok. Hal ini terlihat dari kutipan di bawah ini:
.... di sebuah pengkolan yang remang-remang, ia disergap oleh lelaki muda dengan
belati terhunus tepat menghunjam tenggorokannya.....
Dengan patuh diturunkannya rinjingnya, dinaikkan ke atas becak. Uang tak seberapa
di gembolannya diulurkan kepada yang sedang meminta.... (Tjitrawasita dalam
Kompas, 2003: 252-253).

Dari kutipan di atas, Toto Tjitrawasita mampu menggambarkan kehidupan yang ada di kota
Surabaya dengan jelas yang penuh dengan kekerasan bagi siapa saja yang belum mengenal
kota Surabaya dan tidak peduli siapa korbannya. Hal ini sudah banyak diketahui oleh banyak
orang karena memang itulah yang terjadi di kota besar. Yang penting bisa bertahan hidup
meskipun cara yang dilakukan merugikan orang lain.

DAFTAR RUJUKAN
Cerpen Kompas Pilihan 1970-1980. 2003. Dua Kelamin bagi Midin. Jakarta: PT Kompas
Media Nusantara.

Najid, Moh. 2003. Mengenal Apresiasi Prosa Fiksi. Surabaya: Unversity Press.
Tjitrawasita, Toti. 1977. Surabaya (dalam buku kumpulan cerpen Dua Kelamin bagi Midin:
Cerpen Kompas Pilihan 1970-1980). Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
Sumardjo, Jakob dan Saini, KM. 1997. Apresiasi Kesusastraan Jakarta: PT. Gramedia
Pustaka Utama.

Wellek dan Warren. 1989. Teori Kesusastraan. Jakarta : PT. Gramedia.

http//www.jurnal bogor..com 2009

Contoh Pendekatan Ekspresif


SUBJEKTIVITAS MOHAMAD SOBARY
DALAM NOVEL SANG MUSAFIR

Sastra adalah inspirasi kehidupan yanag dituangkan dalam sebuah bentuk


keindahan. Sastra adalah buku-buku yang memuat perasaan kemanusiaan yang mendalam
dan kebenaran moral dengan sentuhan kesucian, keluasan pandangan, dan bentuk yang
mempesona (Sumardjo dan Saini, 1997: 2-3). Seorang sastrawan akan melahirkan sebuah
karya sastra jika memang ia ingin mengekspresikan gagasannya dan kegelisahannya terhadap
kemasyarakatan dan kebudayaan (Jurnal Bogor, 2009).
Dalam mencipta karya sastra, proses kreatif seorang pengarang dengan pengarang
lain pastilah berbeda. Setiap sastrawan memiliki proses kreatif tersendiri, ada yang
menceritakan diri dalam karyanya dan ada pula yang mengeskpresikan idenya tanpa harus
melibatkan atau menceritakan dirinya dalam karya tersebutr. Hal ini sejalan dengan pendapat
Wellek dan Warren (1989:85) bahwa ada dua tipe penyair yaitu tipe yang objektif dan tipe
yang subjektif. Tipe objektif adalah tipe pengarang yang mampu membuat negasi, terbuka
pada dunia, dan penhilangan identitas diri pengarang. Sebaliknya tipe subjektif adalah tipe
pengarang yang selalu ingin memamerkan kepribadiannya, memotret diri, menyampaikan
pengakuan dan menyatakan dirinya.
Novel adalah salah satu karya sastra yang mengungkapkan kehidupan dan
pengalaman hidup manusia. Novel Sang Musafir adalah salah satu buah karya Mohamad
Sobary yang menceritakan tentang perjalanan dan pengalaman manusia lebih tepatnya
pengalaman kehidupan tokoh Aku mulai dari kecil sampai si Aku dewasa. Cerita dimulai
dengan hadirnya seorang bocah yang meninggalkan tempat kelahirannya menuju ke Jakarta
untuk mencari kehidupannya di kota yang besar itu. Di dalam kereta api, bocah itu
menerawang jauh. Pikirannya hanya berisi Jakarta dan masa depannya yang masih gelap
yang pelan-pelan sedang ia “lukis” dalam benaknya. Pikiran bocah itu menerawang jauh ke
dunia yang tidak dikenalnya dan berganti dari imajinasi ke imajinasi yang lain secara bebas
dan leluasa. Dunia khayal dan dunia nyata ia campur aduk bersatu rupa. “Aku hanya musafir
yang menunduk dan melingsut, apa yang bisa membuat aku tahu bahwa di Jakarta yang
sumpek dan ruwet secara fisik maupun rohaniah, kehidupan berjuta-juta manusia bisa
berlangsung tanpa ketulusan dan cinta. Tapi dengan demikian hidup bisa kehilangan separoh
atau bahkan seluruh makna hakikinya.
Beranjak dewasa, si bocah akhirnya bekerja dan berumah tangga. Namun setelah dia
dapatkan semuanya, si aku masih terus bertanya dalam hatinya. Terlihat tokoh Aku selalu
diliputi pertanyaan tentang perjalanan hidupnya. Si Aku selalu memandang hidup berdasar
pada pengetahuan dan akal budi agar terwujud pergaulan yang lebih baik dan berdasarkan
asas-asas kemanusiaan.
Cerita yang dipaparkan Sobary dalam novel ini merupakan perjalanan hidup Sobary
sendiri. Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut.
Dalam pengembaraanku, jauh dari orang tua, jauh dari kampung, aku merasa
dekat dengan ibu. Rupanya, dari jarak jauh, aku bisa memahami arti ibu. Dan
aku merasa tak sendirian lagi. Ibuku selalu hadir dalam mimpi-mimpiku.
Bayangan ibuku selalu tampil, anehnya, dalam sebingkai potret, yang
menatapku tanpa menyapa. Tapi aku selalu tahu pesan bisunya, yang begitu
pasti, seperti dalil ilmu hidup : di mana ada kemauan di situ ada jalan (Sobary,
2007: 15-16).

Perpisahan ini mengantarkanku pada pemahaman untuk menerima pertuah


Gibran, bahwa aku memang berasal darimu, tapi bukan milikmu. Aku anak
panah yang telah lepas dari busurnya : busur di hatimu, dan busur di dasar
pertiwi, tanah tumpah darah di kampung kita. Aku milik Sang Hidup. Maka,
izinkan aku, dengan restumu, meneruskan pengembaraan ini. Lorong-lorong
masih panjang dan menantang, dan aku-pengembara yang melangkah pelan,
dengan langkah-langkah kecil ini-belum melewati semuanya, belum tahu apa
yang bakal kujumpai di depan sana (Sobary, 2007: 17).

Hidup memiliki banyak sudut yang tak selalu mudah dimengerti. Lalu kita pun
menyerah seperti kalah. Kita menerima-ibarat dalam lotre kemenangan
maupun kekalahan, apa adanya. Apa yang baik dan kita inginkan kita sambut.
Tapi apa yang tak kita kehendaki, tak selamanya kita bisa hindari. Takdir dan
suratan tangan, pendeknya apa yang sudah ginaris, apa pun bentuknya,
berlakulah. Di dalamnya tak ada usaha manusia yang tak sia-sia (Sobary,
2007:62).

Kutipan di atas, Sobary menitipkan amanah yang bermakna sangat dalam yang
dapat dijadikan bahan perenungan bagi pembaca, bagaimana mengilhami unsur ketabahan
menjadi basis berjuang menantang cobaan kehidupan. Proses kehidupan menuju tujuan yang
dicita-citakan selalu diikuti oleh ketabahan melakoninya. Khususnya dalam usaha kontrol
kekuatan atau kesanggupan menjalani hidup yang sarat dengan tantangan.
Penggalan cerita di atas merupakan pengalaman Sobary ketika dia harus
meninggalkan kampung halamannya dan menetap di Jakarta. Sobary telah menceritakan
perjalanan hidupnya ketika beliau masih mengeyam pendidikan dasar dan pendidikan
menengah. Hal ini diperkuat oleh tulisan yang dimuat di http//www.pdt apa dan siapa..co.id
sebagai berikut.
Lantaran tidak bisa beli seragam korp pelajar serbaguna ketika ia di kelas 5 SD,
Sobary tidak bisa melanjutkan ke kelas 6. Akhirnya, "Saya stop di situ. Lagi
pula orangtua saya tidak punya uang." Setelah orangtuanya berhasil
mengumpulkan uang setahun kemudian, baru ia melanjutkan ke kelas 6.

Ketika di kelas satu SMP Muhammadiyah Bantul, ia mengalami hal yang sama.
Tak punya uang buat beli seragam, Sobary terhenti lagi sekolahnya. Pamannya
yang bekerja di Departemen P&K berniat baik ketika memboyongnya ke
Jakarta, meskipun ia miskin dan menanggung banyak anak. "Saya kerja,
menyapu jalanan pasar Blok M," tutur Sobary. Uang hasil kerja ditabung untuk
biaya melanjutkan ke kelas dua SMP Negeri 12 Wijaya, Jakarta Selatan, awal
1967.

Untuk membiayai pendidikannya, Sobary pernah pula bekerja sebagai tukang


antar roti. Ia juga mengarang cerpen anak-anak di majalah Si Kuncung dan
Kawanku- tonggak pertama Sobary belajar menulis.

Selain itu, Sobary sebagai pengarang telah memaparkan pengalamannya waktu


beliau menjabat sebagai kepala di kantor Antara. Berikut kutipannya.
Terus terang aku risau. Selebihnya aku merasa aneh bahwa diriku ada
kekuasaan sebesar itu untuk mengatur orang. Kadang aku khawatir dianggap
angkuh dan tidak adil, karena sesudah setiap keputusan, berdasarkan tradisi
yang sudah turun-temurun, tak lagi dibutuhkan penjelasan (Sobary, 35).

Penggalan cerita di atas, memberikan informasi tentang perjalanan beliau, sebagai


seorang musafir, yang terpaksa harus memilih pilihan (jabatan) yang sebenarnya tidak sesuai
dengan hati nuraninya. Karena bukan pilihan yang ikhlas dia pilih, maka kondisi tersebut
menjadi sangat berat untuk dijalani. Namun sudah selayaknya setiap orang harus selalu siap
dengan pilihan yang ada, baik yang direncanakan maupun yang tidak kita bayangkan sama
sekali. Hal ini dibuktikan penyataan yang dimuat di http//www.pdt apa dan siapa..co.id
sebagai berikut.
Apakah Mohamad Sobary sudah merasa meraih sukses dalam hidupnya?
"Sukses dan kegagalan tidak penting, yang paling penting adalah intensitas
kita dalam menjalani hidup di tengah kemiskinan, di tengah tekanan politik,
ekonomi, sosial," kata lelaki yang dikenal dekat Gus Dur, mantan presiden
yang berjasa menempatkannya di Antara.

Dalam noverl Sang Musafir, Sobary memberikan suatu pandangan hidup bahwa
hidup itu hanyalah serangkaian perjalanan yang di setiap saat harus membuat pilihan. Sobary
dengan cerdas menunjukkan bahwa ketika pilihan sudah diambil maka selanjutnya adalah
bertanggung jawab terhadap pilihan tersebut. Karena pilihan tidak berdiri sendiri tetapi
merupakan awal dari rangkaian pilihan lainnya dan awal dari munculnya tanggung jawab.
Hal ini tampak pada kutipan berikut.
Tapi kalau ditelusuri lebih jauh, ada alasan yang berbeda. Bagiku, tak semua hal
harus dijawab dengan penjelasan. Alasan mereka lain lagi. Ada yang takut, ada
yang mencari aman bagi dirinya sendiri, ada yang melempar tanggung jawab.
Jabatan bisa dikejar mati-matian seperti singa mengejar buruannya. Tapi perkara
tanggung jawab mudah dilupakan (Sobary, 2007:37).

Selain itu, Sobary sebagai pengarang novel Sang Musafir telah menyatakan diri
bahwa dia adalah sosok yang mementingkan prinsip saling menghormati dan bekerjasama
dengan orang lain. Saling menghormati dan bekerjasama merupakan penentu keberhasilan.
Bekerjasama adalah siap dan setia menerima kekurangan dan kelebihan. Hal ini tampak pada
kutipan berikut.
Jika nasibku ibarat bergantung di sebatang ranting kecil, agak kritis dan
mencemaskan, serta ada tangan-tangan sirik dan hati dengki yang mencoba
menjatuhkanku dari sana, maka aku bergayut pada ranting itu dan berayun-ayun di
ujungnya, mengikuti kelenturan yang sudah diatur oleh tangan besar yang tak
tampak (Sobary, 2007:19).

Penggalan cerita di atas menggambarkan adanya dimensi yang mencerminkan


dualisme esensi manusia, ada kebaikan dan ada pula keburukan. Keduanya menuntut
kecerdasan serta rasionalitas individu mengelolanya. Untuk itu, bekerjasama antara manusia
sangat erat kaitannya dengan pencapaian dan keberhasilan yang diinginkan.
Dalam novel Sang Musafir karya Mohammad Sobary, tokoh Aku menerapkan
prinsip saling menghormati dan bekerjasama dimulai dari keluarga lalu kemudian terbawa ke
lingkungan luar. Hal tersebut tampak pada kutipan berikut.
Istri boleh mengomandani suami dalam cara menjaga kesehatan. Berbahagialah
aku hidup di bawah komando perempuan. Bukankah di kantor hakikatnya sama :
aku juga diatur sekretaris, yang juga perempuan? (Sobary, 2007: 83)

........................................................................................................................
Ruang kerjaku sibuk, lebih daripada kantor kelurahan aku menerima siapapun
yang datang. Aku sudah berjanji membukakan pintuku. Ruang kerjaku tak boleh
angker. Kalau pintu ruanganku terbuka, itu karena pintu hatiku lebih dahulu
terbuka.

Ini bukan kemuliaan yang berlebihan. Aku mendukung gagasan demokrasi dan
segenap corak keterbukaan. Maka, di sini ketika aku mempunyai kekuasaan, dan
memegang sendiri kendali kekuasaan, harus dibuktikan bahwa omongan tak
bertentangan dengan perbuatan, teori tak menodai praktik, gagasan tak membunuh
kenyataan.

Jangan lupa, aku datang bukan untuk menguasai atau mendominasi orang lain.
Aku tak punya selera mendominasi orang lain. Aku tak punya selera mendominasi
siapa pun. Di minggu-minggu pertama masuk kantor, aku sudah rapat dengan
sejumlah tokoh informal, orang-orang kantorku, di luar anggota-anggota resmi
manajemen. Mereka membawa aspirasi demokrasi. Terutama mengenai perlunya
aku bersikap terbuka (Sobary, 2007:84).

Sebagaimana yang tampak pada beberapa kutipan di atas, memberikan informasi


bahwa Sobary telah menyatakan dirinya sebagai sosok yang sangat menjunjung tinggi prinsip
kerjasama dan saling menghormati. Hal ini dipertegas dari tulisan yang dimuat http//www.pdt
apa dan siapa..co.id sebagai berikut.
Untuk keluarga, ayah dua anak ini tetap memberikan waktu dan perhatian. Nasihat
kepada anak-anaknya: "Jangan berlebih-lebihan. Jangan suka iri pada orang lain.
Dan, hidup harus memberi sesuatu kepada orang lain."

Selain itu, dalam novel Sang Musafir, Sobary juga menyatakan dirinya sebagai sosok
yang taat beragama. Sebagai tokoh “Aku” dalam cerita, Sobary menjalani kehidupan dengan
landasan ketaatan beragama. Tokoh Aku mendapatkan pembelajaran agama dari orang tua
serta lingkungan alami di kampung tempatnya tumbuh. Hal ini tampak pada kutipan berikut.
Mr. Kasman Singodimedjo, tokoh Masyumi, yang dianggap singa podium, karena
pandai berpidato dan suaranya lantang menyambar semua jenis kebatilan (dan
juga telinga orang-orang batil), merumuskan bahwa hidup itu perjuangan. Aku tak
heran menemukan pengertian itu di balik jejak-jejak perjalanannya sebagai tokoh
pejuang yang bersemangat dan mendukung cita-cita luhur bukan untuk dirinya
sendiri (Sobary, 2007:29).

Malam mengintip dari kaki langit. Di surau kecil, nggone kajine- di rumah Pak
Haji, Haji Tohir, satu-satunya kiai di kampungku- terdengar sayup-sayup suara
azan magrib. Dan sayup-sayup pula kemudian terdengar suara pujian, nyanyian
rohani yang lembut dan menyayat, tapi menyembuhkan luka-luka hati,
memperkokoh iman dan harapan akan kebaikan-kebaikan dan kemurahan Yang
Maha Pemurah. Pujian berlangsung beberapa menit, sampai semua anggota
jamaah lengkap dam siap untuk shalat bersama.

Haji Tohir menjadi imam, seperti biasanya, dan sehabis shalat, Haji Tohir berdoa
panjang sekali, untuk memberi peluang semua anggota jamaah ikut merasa
menumpangkan doa masing-masing ke dalam doa Haji Tohir (Sobary, 2007:59).

Penggalan di atas memberikan gambaran bahwa pandangan-pandangan serta arahan


yang diperoleh tokoh “Aku” (Sobary) dari bacaan, pergaulan, serta ceramah dan diskusi-
diskusi memberi dampak positif dalam aktivitas ketaatannya dalam beragama.
Berdasarkan cerita tersebut, dapat diinterpretasikan bahwa ketaatan beragama yang
diperankan oleh tokoh Aku dalam novel Sang Musafir, tidak lain adalah gambaran dari
Sobary sebagai pengarang novel. Hal ini dikuatkan oleh sebuah tulisan yang dimuat
http//www.pdt apa dan siapa..co.id sebagai berikut.
Sobary suka menonton wayang. "Dunia pewayangan membuka mata saya
terhadap realitas hidup kaum rohaniwan," ujarnya. Ia terkesan oleh lakon yang
menyindir tingkah laku orang yang sok kiai dan sok pendeta, tapi goyah imannya
karena uang dan perempuan.

Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa cerita yang dikembangkan Sobary
dalam novel Sang Musafir adalah representasi dari perjalanan hidup Sobary sendiri. Melalui
alur cerita, Sobary telah mengungkapkan perjalanan hidupnya dan telah menyatakan dirinya
bahwa beliau adalah sosok yang tabah, menjunjung tinggi prinsip saling menghormati dan
bekerjasama. Selain itu, Sobary juga telah menyatakan dirinya bahwa beliau adalah sosok
yang taat beragama.

Rujukan
Sobary, Mohamad. 2007. Sang Musafir. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Sumardjo, Jakob dan Saini, KM. 1997. Apresiasi Kesusastraan Jakarta: PT. Gramedia
Pustaka Utama.

Wellek dan Warren. 1989. Teori Kesusastraan. Jakarta : PT. Gramedia.

http//www.jurnal bogor..com 2009

http//www.pdt apa dan siapa..co.id

Contoh Pendekatan Mimetik

CERPEN “MALAM SEORANG MALING” KARYA JAKOB SUMARDJO


(Suatu Tinjauan Mimetik)
Karya sastra merupakan hasil cipta kreatif dari seseorang pengarang, lahir melalui
proses perenungan dan pengembaraan yang muncul dari realitas kehidupan masyarakat.
Melalui karya sastra seorang pengarang berusaha untuk mengungkapkan nilai-nilai
kemanusiaan yang lebih tinggi. Pengarang sebagian dari masyarakat menangkap realitas dan
nilai-nilai masyarakatnya kemudian secara kreatif mengolah, mengidealisasi, dan
mengekspresikan dalam bentuk karya sastra. Dengan demikian melalui karya sastra
dilakukan suatu proses terhadap ketimpangan-ketimpangan sosial maupun ketimpangan
keyakinan serta sebagai persoalan hidup di dalam masyarakat (Semi, 1993: 73).
Dalam menciptakan karya sastra, sastrawan dituntut lebih sungguh- sungguh dalam
memperhatikan persoalan masyarakat di sekitarnya. Hanya dengan kesungguhan itulah yang
bisa menghasilkan karya yang baik. Jika kita menerima sastra sebagai suatu ekspresi seni
pengarang yang peka terhadap apa yang hidup dalam masyarakatnya dan memiliki daya
observasi yang tajam terhadap persoalan kemasyarakatan, kemudian diungkapkannya dalam
sebuah karya sastra. Maka secara tidak langsung karya tersebut memiliki peran dalam
perubahan tatanan kehidupan masyarakat. Sebab mampu menggugah hati pembaca untuk
memikirkan masalah masyarakat sehingga termotivasi untuk melakukan suatu perbuatan baik
(Damono, 1999: 88).
Wellek dan Warren (1989) mengingatkan, bahwa karya sastra memang
mengekspresikan kehidupan, tetapi keliru kalau dianggap mengekspresikan selengkap-
lengkapnya. Hal ini disebabkan fenomena kehidupan sosial yang terdapat dalam karya sastra
tersebut kadang tidak disengaja dituliskan oleh pengarang, atau karena hakikat karya sastra
itu sendiri yang tidak pernah langsung mengungkapkan fenomena sosial, tetapi secara tidak
langsung, yang mungkin pengarangnya sendiri tidak tahu.
Dengan demikian, sebuah karya sastra tidak pernah berangkat dari kekosongan sosial.
Artinya karya sastra, ditulis berdasarkan kehidupan sosial masyarakat tertentu dan
menceritakan kebudayaan-kebudayaan yang melatarbelakanginya.
Cerpen ”Malam Seorang Maling” karya Jakob Sumardjo merupakan cerpen pilihan
kompas 1970-1980, yang termuat dalam buku Dua Kelamin bagi Midin. Sumardjo sebagai
pengarang mengangkat suatu cerita berdasarkan kenyataan atau realitas yang terjadi di dalam
masyarakat. Cerpen ini mengisahkan seorang maling yang ketahuan saat melakukan aksinya
di malam hari. Maling tersebut menyelamatkan diri dari kejaran penduduk. Maling itu
memang selamat, tetapi itu terjadi karena kesalahfahaman penduduk yang menangkap
seorang pendatang, yang dikira adalah maling yang mereka kejar. Pendatang itu pun dihabisi.
Membaca cerpen ”Malam Seorang Maling” memunculkan semangat untuk mengingat
dan mencatat, segala ihwal yang tengah berlangsung dalam masyarakat. Tidak
mengherankan, apabila konflik yang berkembang dalam cerita ini, terasa sebagai suatu upaya
rekonstruksi “kenyataan” ke dalam struktur cerita, yang selanjutnya diharapkan dapat dipakai
sebagai seperangkat alat untuk memahami “kenyataan” atau “realitas” itu kembali.
Sumardjo sebagai pengarang cerpen ”Malam Seoramg Maling” sangat jeli telah
mengatakan suatu tentang sebuah dunia nyata dan sekaligus mengungkapkan sebuah kritik
sosial terhadap pemerintah bahwa bangsa Indonesia masih terdapat berbagai ketimpangan
sosial terrmasuk di dalamnya kemiskinan yang menyebabkan munculnya tindakan kriminal.
Situasi yang digambarkan dalam cerita ini ini telah membuat pembaca dapat menarik
sebuah benang merah sebagai pembeda bahwa cerita ini bukanlah semata-mata kenyataan
yang diceritakan namun hanya rekaan dari pengarangnya. Hal ini tampak pada salah satu
penggunaan gaya bahasa personifikasi yang digunakan pengarang ”Malam yang tadinya
seperti dibius mendadak bangkit mengandung ancaman”
Melalui cerpen ini pula, pengarang menyampaikan suatu amanat bahwa dalam
kehidupan ini, setiap manusia harus selalu waspada terhadap segala kemungkinan yang tidak
terduga. Hal ini secara eksplisit disampaikan pengarang sebagaimana tampak pada dua
kutipan berikut.
Dengan mudah jendela itu dapat kucungkil. Penghuni rumah ini terlalu
sembrono atau orang yang tak pernah curiga pada orang-orang semacam aku
ini?
...............................................................................................................

Setelah pakaian lain kumasukkan kopor yang terbuka itu, segera aku jinjing
keduanya. Kulihat suami istri itu masih tak bergerak dari pose semula dan
dengkur lelaki itu persis suara gergaji kayu. Aku ingin ketawa pada pasangan
yang kurang hati-hati ini, tetapi aku bisa menahan diri.

Selain itu, dalam cerpen ”Malam Seorang Maling”, pengarang juga menyampaikan
suatu pesan tentang solidaritas sosial bahwa dalam menjalani kehidupan ini manusia sangat
membutuhkan sebuah kerjasama antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain.
Hal ini tergambar pada kutipan berikut.
Sulit menghindari penghakiman semacam ini. Sebulan ini saja sudah ada lima
rumah kemasukan maling. Kita bisa mengerti kemarahan kampung ini.

Kutipan di atas memberikan gambaran bahwa solidaritas antaranggota masyarakat


sangat penting dalam mengungkap atau menyelesaikan masalah. Namun solidaritas tersebut
harus dijalankan berdasarkan norma yang berlaku agar tidak terjadi kekeliruan. Hal ini
tampak pada kutipan berikut.
”Hus, mungkin ini kekeliruan lagi seperti yang terjadi di kampung Meniran dua
bulan yang lalu. Seorang gelandangan dihantam sampai mati dituduh maling
juga.”

Kutipan di atas memberikan gambaran sekaligus membeikan suatu pemahaman


kepada pembaca bahwa dalam bertindak perlu sebuah pertimbangan yang matang agar tidak
terjadi kekeliruan.

Rujukan :

Damono, Sapardi Djoko. 1999. Politik Ideologi dan Sastra Hibrida. Jakarta: Pustaka
Firdaus.

Cerpen Kompas Pilihan 1970-1980. 2003. Dua Kelamin bagi Midin. Jakarta: PT Kompas
Media Nusantara.

Luxemburg, et.all. 1989. Pengantar Imlu Sastra. Jakarta: PT Gramedia.

Semi, M. Atar. 1993. Metode Penelitian Sastra. Bandung: Angkasa.

Wellek & Warren. 1989. Teori Kesusastraan. Jakarta: PT Gramedia.