Anda di halaman 1dari 10

BAGIAN OBSTETRI- GINEKOLOGI

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TADULAKO


RSUD UNDATA PALU

REFLEKSI KASUS

Tanggal Pemeriksaan : 14-11-2017


Jam : 10.00 WITA
Tempat :Poli KIA RSUD Undata Palu

I. DENTITAS
Nama : Ny. MK Nama Suami : Tn. F
Umur :32 tahun Umur : 36 tahun
Alamat : Desa Karya Mukti Alamat : Desa Karya Mukti
Pekerjaan : PNS Pekerjaan : Wiraswasta
Agama : Islam Agama : Islam
II. ANAMNESIS
G3P2A0
HPHT : 15- 9 - 2017
TP : 22 – 06 - 2018
Usia Kehamilan : ± 6 minggu
Menarche : 18 tahun
Perkawinan : 7 tahun
Lama Haid : 7 hari

Keluhan Utama : Keluar darah dari jalan lahir

Riwayat Penyakit Sekarang :


Pasien Ny. MK 32 tahun dengan G3P2A0 usia kehamilan ± 6 minggu datang
memeriksakan diri ke Poli KIA RSUD dengan keluhan keluar darah dari jalan
lahir, sejak 2 hari yang lalu, jumlah sedikit-sedikit, berwarna merah. Keluhan
disertai nyeri hebat pada perut bagian bawah, nyeri mendadak, nyeri hilang
timbul, nyeri perut tanpa ada pencetus, mual (-), muntah (-) , pusing, dan sakit
kepala (-). Keluhan ini baru pertama kali dirasakan. Tidak ada riwayat senggama

1
BAGIAN OBSTETRI- GINEKOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TADULAKO
RSUD UNDATA PALU

sebelumnya, tidak ada riwayat keputihan yang berbau dan terasa gatal pada daerah
kelamin. Riwayat ANC 1 kali dengan bidan di puskesmas terdekat. Saat tiba di
RS pasien diperiksa oleh dokter dan hasil USG menunjukkan adanya kehamilan
ektopik terganggu.

Riwayat Penyakit Dahulu :


Riwayat menstruasi sebelumnya teratur (+) tiap bulan dengan durasi 5-7 hari.
Riwayat hipertensi (-), Riwayat Diabetes Mellitus (-), Asma (-), Alergi (-)
Riwayat operasi (-)

Riwayat obstetri :

Tahun Umur Jenis Hidup/


No. Anak ke JK penolong
persalinan kehamilan persalinan mati
1. I 2011 L Aterm Normal Bidan Hidup
2. II 2014 P Aterm Normal Bidan Hidup

III. PEMERIKSAAN FISIK


KU : Sakit sedang Tekanan Darah: 110/80 mmHg
Kesadaran : Compos mentis Nadi : 94x/menit
Respirasi : 20 x/menit Suhu : 37,3 ºC

 KEPALA-LEHER
Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterus (-/-), edema palpebra (-/-),
pembesaran KGB (-), pembesaran kelenjar tiroid (-).

 THORAKS
I : Pergerakan thoraks simetris, sikatrik (-)
P : Nyeri tekan (-), massa tumor (-)

2
BAGIAN OBSTETRI- GINEKOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TADULAKO
RSUD UNDATA PALU

P : Sonor pada kedua lapang paru, pekak pada area jantung, batas paru-
hepar SIC VII linea mid-clavicula dextra, batas jantung dalam batas
normal.
A : Bunyi pernapasan vesikuler +/+, rhonki -/-, wheezing -/-.
Bunyi jantung I/II murni regular.
 ABDOMEN:
I : Tampak cembung
A : Peristaltik usus + (kesan normal).
P : Nyeri tekan abdomen bagian bawah terutama regio inguinalis dextra.
Uterus tidak teraba
P : Tympani
 Genitalia :
Pemeriksaan Dalam :
- Vulva : tidak ada kelainan
- Vagina : tidak ada kelainan
- Fluksus : (+) darah
- Fluor : (-)
- Portio : lunak
Nyeri goyang portio : (+)
Inspekulo : Ostium uteri externa tertutup (tidak ada
pembukaan)
Kuldocentesis : aspirasi pada fornix posterior didapatkan
cairan darah berwarna merah kecoklatan.

 EKSTREMITAS :
Atas : Edema (-/-), akral hangat
Bawah : Edema (-/-), akral hangat

3
BAGIAN OBSTETRI- GINEKOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TADULAKO
RSUD UNDATA PALU

IV. PERMASALAHAN
1. Kehamilan yang bermasalah
2. Kehamilan yang tidak seperti sebelumya
3. Khawatir/cemas terhadap kehamilan sekarang

V. DIAGNOSIS BANDING
 Abortus inkomplit
 Mollahidatidosa

VI. INTERVENSI PEMERIKSAAN


 Pemeriksaan Penunjang
 Darah Rutin
 PEMERIKSAAN PENUNJANG
Darah rutin (14/11/2017, Jam 10.02 wita)
RBC 3.55 103/mm3
HB 9.8 g/dL
WBC 11,0 103/mm3
HCT 32.9 %
PLT 361 103/mm3
HCG tes Positif

 HbSAg : non reaktif


 RT HIV : non reaktif

4
BAGIAN OBSTETRI- GINEKOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TADULAKO
RSUD UNDATA PALU

USG Abdomen:
Dilakukan USG oleh dr. Juniaty Caroline, Sp.OG . Hasil : Ukuran uteri
8.3x4 cm
Kesan : Kehamilan ektopik terganggu

VIII. DIAGNOSIS DEFINITIF


Kehamilan Ektopik terganggu

IX. PENATALAKSANAAN
Intervensi Perawatan

5
BAGIAN OBSTETRI- GINEKOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TADULAKO
RSUD UNDATA PALU

• Rawat inap
• Observasi keadaan umum dan tanda-tanda vital
• Pemantauan perdarahan
• Menyiapkan darah Whole dan PRC 2 kantong
• Pemeriksaan darah rutin dan urin (plano test)
• Operasi Cito laparatomi

Intervensi Pengobatan
Pra operativ
• IVFD RL 28ttpm
• Inj. Ceftriaxone 1 gr/12 jam
• Inj. Asam traneksamat 500mg/8 jam

Post operariv
 IVFD RL : Dex 5%, 1:1, 20 TPM
 Inj. Ceftriaxone 1 gr/12 jam/ IV
 Drips. Metronidazole 500 mg /12 jam/IV
 Inj. Ranitidin 50 mg/8 jam/IV
 Inj. Ketorolak 30 mg/8 jam /IV
 Inj. Asam traneksamat 500 mg/8 jam/IV

Rawat jalan
 Cefadroksil 500 mg x 3/ hari
 Asam mefenamat 500 mg x 3/ hari
 Tablet sulfat ferrous 1x1

X. PEMBAHASAN
Pada kasus ini, wanita 32 tahun didiagnosis dengan kehamilan ektopik
terganggu, diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang. Gejala dan tanda kehamilan tuba terganggu dangat berbeda-

6
BAGIAN OBSTETRI- GINEKOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TADULAKO
RSUD UNDATA PALU

beda; dari perdarahan yang tiba-tiab dalam rongga perut sampai terdapatnya gejala yang
tidak jelas, sehingga sukar dibuat diagnosisnya. Gejala dan tanda bergantung pada
lamanya kehamilan ektopik terganggu, abortus atau rupture tuba, tuanya kehamilan,
derajat perdarahan yang terjadi , dan keaadaan umum penderita sebelum hamil.
Faktor-faktor yang mendukung terjadinya kehamilan ektopik :
1. Faktor tuba : infeksi pada tuba yang menyebabkan lumen tuba
menyempit atau buntu. Dapat disebabkan oleh endometriosis tuba atau
divertikel saluran tuba yang bersifat kongenital. Adanya tumor disekitar
tuba juga dapat mendukung terjadinya kehamilan ektopik.
2. Faktor abnormalitas zigot : apabila terlalu cepat tumbuh dengan ukuran
besar, maka zigot akan tersendat atau terimplantasi pada tuba.
3. Faktor ovarium : bila ovarium memproduksi ovum dan ditangkap oleh
tuba yang kontralateral.
4. Faktor hormonal : pada akseptor pil KB yang hanya mengandung
progesteron dapat mengakibatkan gerakan tuba melambat sehingga bila
terjadi pembuahan maka akan menimbulkan kehamilan ektopik.
5. Faktor lain (penggunaan IUD), di mana proses peradangan yang dapat
timbul pada endometrium dan endosalping dapat menyebabkan
terjadinya kehamilan ektopik.
6. Faktor usia.
7. merokok.
Pada pasien sendiri, didapatkan riwayat penggunaan alat kontrasepsi IUD
sebelum hamil sekarang ini, sehingga dapat menjadi slah satu faktor terjadinya
kehamilan ektopik.
Pada anamnesis pasien masuk dengan keluhan utama keluar darah dari jalan
lahir, sejak 2 hari yang lalu, darah keluar terus menerus, jumlah sedikit-sedikit, berwarna
merah. Keluhan disertai nyeri hebat pada perut bagian bawah, nyeri mendadak, nyeri
hilang timbul.
Perdarahan pervaginam merupakan tanda penting pada kehamilan ektopik yang
terganggu. Hal ini menunjukkan kematian janin , dan berasal dari kavum uteri karena
pelepasan desidua. Perdarahan yang bersal dari uteri biasanya tidak banyak dan berwarna

7
BAGIAN OBSTETRI- GINEKOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TADULAKO
RSUD UNDATA PALU

coklat tua. Frekuensi perdarahan dikemukakan dari 51% hingga 93%. Perdarahan berarti
gangguan pembentukan human chorionic gonadotropin. Jika plasenta mati, desidual
dapat dikeluarkan seluruhnya.
Sedangkan nyeri perut merupakan keluhan utama pada kehamilan ektopik
terganggu. Pada rupture tuba nyeri perut bagain bawah terjadi secara tiba-tiba dan
intensitasnya disertai dengan perdarahn yang menyebabkan penderita pingsan dan masuk
kedalam syok. Rasa nyeri mula-mula terdapat pada satu sisi; tetapi, setelah darah masuk
kedalam rongga perut, rasa nyeri menjelar kebagian tengah atau ke seluruh perut bawah.
Darah dalam rongga perut dapat merangsang diafragma, sehingga menyebabkan nyeri
bahu dan bila membenuk hematokel retrouterina, menyebabkan defekasi nyeri.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan TD: 110/80 mmHg, Nadi: 94x/menit,
konjungtiva anemis (-/-). Nyeri tekan abdomen bagian bawah terutama regio
inguinalis dextra. uterus tidak teraba. Pada pasien terjadi perdarahan namun tidak
ditemukan tanda-tanda syok. Jika sudah terjadi perdarahan yang hebat dalam
rongga abdomen akan ditemukan tanda-tanda syok. Selain itu, untuk mengetahui
terjadinya perdarahan dapat juga dilakukan dengan pemeriksaan laboratorium
yaitu pemeriksaan hemoglobin serial. Apabila terjadi perdarahan, maka dalam
pemeriksaan hemoglobin 3x berturut-turut pada rentang waktu tertentu akan
menunjukkan hasil yang bermakna (terjadi penurunan hemoglobin).
Pada pemeriksaan ginekologi pasien ini didapatkan portio lunak, nyeri
goyang portio, pelepasan darah, kavum douglasi menonjol dan terdapat nyeri
tekan, tidak ada pembukaan. Hal ini sesuai dengan kehamilan ektopik terganggu
yang pada pemeriksaan vagina dapat ditemukan rasa nyeri ketika menggerakkan
serviks yang biasa disebut dengan nyeri goyang (+), atau slinger sign. Pada
kejadian abortus tuba biasanya konsistensi agak lunak. Pada ruptur ke rongga perut
seluruh janin dapat keluar dari tuba , tetapi bila robekan tuba kecil, perdarahan terjadi
tanpa hasil konsepsi dikeluarkan dari tuba. Darah tertampung pada rongga perut akan
mengalir ke cavum douglasi yang makin lama makin banyak yang akhirnya dapat
memenuhi rongga abdomen. Hematokel retrouterina dapat diraba sebagai tumor
dikavum douglasi.

8
BAGIAN OBSTETRI- GINEKOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TADULAKO
RSUD UNDATA PALU

Pada pasien ini dilakukan pemeriksaan kuldosentesis dan didapatkan hasil


positif yaitu berupa hasil aspirasi yang menunjukkan adanya darah. Cara ini
sangat berguna dalam membantu membuat diagnosis kehamilan ektopik
terganggu. Bila pada aspirasi ditemukan darah, maka isinya disemprotkan pada
kain kasa dan diperhatikan apakah darah yang dikeluarkan merupakan : 1) darah
segar berwarna merah yang dalam bebrapa menit akan membeku; darah ini
berasal dari arteri atau vena yang tertusuk, 2) darah tua berwarna coklat sampai
hitam yang tidak membeku , atau yang berupa bekuan kecil-kecil; darah ini
menunjukkan adanya hematokel retrouterina. Pada pasien ini didapat darah
berwarna coklat hitam yang menunjukkan adanya hematokel retrouterina.
Pada pemeriksaan penunjang dilakukan pemeriksaan USG dan darah rutin.
Pemeriksaan yang dapat dilakukan berupa pemeriksaan hemoglobin dan
hematokrit serial tiap satu jam menunjukkan penurunan kadar Hb akibat
perdarahan, lekositosis ( dapat mencapai > 30.000/µL), urinary pregnancy test dan
serum β-hCG assay. Pada pasien ini di dapatkan penurunan hemoglobin yaitu 9.8
g/dl dan penurunan Hematokrit yaitu 32.7% namun tidak ada peningkatan
leukosit. Pada pasien juga di dapatkan hasil tes β-hCG positif.
Pemeriksaan ultrasound imaging yang dilakukan pada paien yaitu USG
abdominal. Pada pasien ini dilakukan pemeriksaan USG abdomen dengan kesan
Ukuran uteri 8.3 x 4 cm dan kehamilan ektopik terganggu. Pada hasil USG didapatkan
kantung kehamilan dan adanya aliran cairan bebas.
Penanganan pada pasien kehamilan ektopik terganggu adalah laparotomi.
Laparatomi juga Merupakan gold standard untuk mendiagnosis kehamilan
ektopik. Dalam tindakan demikian, beberapa hal harus diperhatikan dan
dipertimbangkan yaitu: kondisi penderita saat itu, keinginan penderita akan fungsi
reproduksinya, lokasi kehamilan ektopik, serta kondisi anatomic organ pelvis.
Pada banyak kasus, pasien-pasien ini membutuhkan salpingektomi karena
kerusakan tuba yang banyak, hanya beberapa kasus saja salpingotomi dapat
dilakukan. Pada pasien kehamilan ektopik yang hemodinamiknya stabil dan
dikerjakan salpingotomi dapat dilakukan dengan teknik laparaskopi. Salpingotomi

9
BAGIAN OBSTETRI- GINEKOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TADULAKO
RSUD UNDATA PALU

laparaskopik diindikasikan pada pasien hamil ektopik yang belum rupture dan
besarnya tidak lebih dari 5 cm pada diameter transversa yang terlihat komplit
melalui laparoskopi. Pada pasien ini, penatalaksanaan yang diberikan adalah
dilakukan tindakan laparotomi dan salpingektomi dextra. Prognosis pada pasien
yaitu dubia et bonam hal ini dapat dilihat dari keadaan tidak didapatkannya
perdarahan yang hebat dan tidak terdapat tanda-tanda syok baik sebelum dan
setelah tindakan laparotomi dan tidak terdapat komplikasi lain, serta keadaan ibu
yang semakin hari semakin membaik

10