Anda di halaman 1dari 5

GUGUS PERGI DAN PENGARUH GUGUS TETANGGA

GUGUS PERGI DAN PENGARUH GUGUS TETANGGA

NAMA ; TUTI FITRI YANI


NIM ; F1C111037
MATA KULIAH ; KIMIA ORGANIK FISIK
PROD I; S1 KIMIA

SUBSTITUSI NUKLEOFILIK

Pada kimia organik maupun anorganik, substitusi nukleofilik adalah suatu kelompok
dasar reaksi substitusi, dimana sebuahnukleofil yang "kaya" elektron, secara
selektif berikatan dengan atau menyerang muatan positif dari sebuah gugus
kimia atau atom yang disebut gugus lepas (leaving group).
Bentuk umum reaksi ini adalah

Nu: + R-X → R-Nu + X:


Dengan Nu menandakan nukleofil, : menandakan pasangan elektron, serta R-X
menandakan substrat dengan gugus pergi X. Pada reaksi tersebut, pasangan
elektron dari nukleofil menyerang substrat membentuk ikatan baru, sementara
gugus pergi melepaskan diri bersama dengan sepasang elektron. Produk
utamanya adalah R-Nu. Nukleofil dapat memiliki muatan listrik negatif ataupun
netral, sedangkan substrat biasanya netral atau bermuatan positif.
Contoh substitusi nukleofilik adalah hidrolisis alkil bromida, R-Br, pada kondisi
basa, dimana nukleofilnya adalah OH− dan gugus perginya adalah Br-.

R-Br + OH− → R-OH + Br−


Reaksi substitusi nukleofilik sangat umum dijumpai pada kimia organik, dan
reaksi-reaksi ini dapat dikelompokkan sebagai reaksi yang terjadi pada
karbon alifatik, atau pada karbon aromatikatau karbon tak jenuh lainnya
(lebih jarang).
Menurut kinetikanya, reaksi substitusi nukleofilik dapat dikelompokkan
menjadi reaksi SN1 dan SN2.
GAMBAR; Contoh reaksi substitusi nukleofilik yang terjadi
pada guguskarbonil pada
sebuah keton melalui substitusi dengan senyawa bergugus hidroksida. Pada
contoh ini,
terbentuk senyawa hemiasetal yang tak stabil.

EFEK DARI GUGUS TETANGGA


Pada reaksi substitusi nukleofilik, efek gugus tetangga didefinisikan sebagai
gugus yang memberikan suatu reaksi intermediate yang baru pada pusat
reaksi. Untuk reaksi substitusi seperti dibawah, X sebagai gugus tetangga
berperan dalam penyerangan nukleofilik intramolekul sehingga melepaskan
Y sebagai gugus pergi, yang kemudian diikuti oleh substitusi intermolekul.

Hasil dari efek gugus tetangga ini ialah pembentukan produk substitusi
dengan konfigurasi yang berlawanan dengan konfigurasi yang seharusnya
terjadi pada SN2, dimana reaksi SN2 pada umumnya membentuk konfigurasi
yang berlawanan dengan substrat. Dengan adanya partisipasi gugus
tetangga, konfigurasi produk sama dengan substrat.

Efek dari gugus tetangga ini juga dapat mempengaruhi kecepatan reaksi.
Jika suatu gugus tetangga mempengaruhi reaksi melalui suatu jalan yang
menyebabkan peningkatan kecepatan reaksi, maka gugus tetangga tersebut
dikatakan sebagai “anchimeric assistance”. Peningkatan kecepatan reaksi
dengan adanya partisipasi gugus tetangga diketahui dengan membandingkan
laju reaksi suatu senyawa yang memiliki gugus tetangga dengan reaksi yang
sama pada senyawa analog yang tidak memiliki gugus tetangga.

Gugus tetangga dapat menggunakan pasangan elektronnya untuk


berinteraksi dengan sisi belakang atom karbon yang menjalani substitusi,
sehingga mencegah serangan dari nukleofilik, sehingga nukleofilik hanya
dapat bereaksi dengan atom karbon dari sisi depan, dan produknya
mengikuti konfigurasi awal.

Atom atau gugus yang dapat meningkatkan laju SN2 melalui partisipasi
gugus tetangga ialah nitrogen dalam bentuk amina, oksigen dalam bentuk
karboksilat dan ion alkoksida, dan cincin aromatik. Partisipasi hanya efektif
jika interaksinya membentuk cincin segitiga, lima dan enam.

EFEK OKSIGEN SEBAGAI GUGUS TETANGGA


Contoh efek oksigen ialah pada substitusi basa dari 1,2-klorohidrin
menghasilkan 1,2-diol dengan konfigurasi yang tidak berubah.

Serangan awal dilakukan oleh basa pada pembentukan anion alkoksida,


dilanjutkan dengan serangan internal oleh RO- dan menghasilkan epoksida
dengan inversi konfigurasi pada C*. Atom karbon ini selanjutnya menjalani
reaksi SN2 oleh serangan OH-, dengan inversi konfigurasi yang kedua pada
C*. Anion alkoksida yang kedua ini mengabstraksi proton dari pelarut untuk
membentuk produk 1,2-diol dengan konfigurasi yang sama dengan substrat.
Contoh lain dari partisipasi oksigen sebagai gugus tetangga ialah pada
hidrolisis anion 2-bromopropanoat dengan konsentrasi OH- yang rendah,
juga diperoleh hasil dengan konfigurasi yang tidak berubah. Kecepatan
reaksi tidak bergantung dari konsentrasi OH-, dan mekanismenya ialah :

EFEK NITROGEN SEBAGAI GUGUS TETANGGA


Efek nitrogen sebagai gugus tetangga dapat terjadi dalam bentuk aminanya,
seperti reaksi substitusi senyawa amina di bawah ini :
kinetika reaksi diatas merupakan reaksi orde satu. Kecepatan reaksi
tergantung hanya pada konsentrasi substrat tapi tidak pada nukleofiliknya.
Hal ini mengherankan, dimana substitusi nukleofilik atom karbon primer
SN2 kecepatan reaksinya tergantung pada konsentrasi substrat dan
nukleofilik. Tetapi dengan adanya partisipasi gugus tetangga mengakibatkan
kecepatan reaksinya hanya bergantung kepada konsentrasi substratnya saja.

EFEK GUGUS ORTO INTRAMOLEKUL


Dengan adanya dua substituent pada benzene dengan posisi orto, dimana
substituent pertama mengandung gugus pergi, dan substituen kedua
mengandung gugus yang berpartisipasi sebagai gugus tetangga, maka dapat
terbentuk senyawa intermediate melalui partisipasi gugus orto
intramolekul.

Efek Mesomeri (efek resonansi/konjugasi)

Distribusi electron dapat terjadi dalam rantai karbon tak jenuh, khususnya
dalam system terkonjugasi, melalui orbital π. Contohnya adalah gugus
karbonil, tidak dapat hanya digambarkan dengan struktur sederhana (a)
saja, maupun dengan dipole (b) yang diperoleh dari pergeseran electron π.
Struktur yang sebenarnya adalah (c), yaitu suatu hybrid dari (a) dan (b)
yang merupakan bentuk kononikal. Efek induksi juga dapat terjadi, seperti
ditunjukan pada (c), namun efek induksi akan sangat kecil dibandingkan
dengan efek mesomeri sebab electron σ kurang dapat terpolarisasi dan oleh
karenanya kurang siap untuk bergeser daripada electron π.
Jika gugus C=O terkonjugasi dengan C=C, polarisasi di atas dapat
diteruskan lebih lanjut oleh electron π, contohnya:
Delokalisasi terjadi, sehingga pada C3 terjadi kekurangan electron, begitu
jugan dengan C1. Perbedaan antara transmisi dengan system terkonjugasi
ini dengan efek indutif dalam suatu system jenuh adalah bahwa di sini efek
kekurangan electron disebabkan oleh transmisi tersebut, dan polaritasnya
bergantian antara atom karbon yang berdekatan.

Stabilisasi dapat terjadi dengan delokalisasi ion bermuatan positif atau


negative dengan orbital π
Stabilisasi anion penoksida (2), dengan delokalisasi muatannya dengan
delokalisasi orbital π pada inti, hal ini menyebabkan fenol bersifat asam
(fenol lebih asam dari alcohol tetapi lebih rendah dari asam karboksilat)

Efek mesomerik, mirip dengan efek induksi, efeknya terpolarisasi secara


ermanen dalam keadaan dasar molekul, dan oleh karena itu dinyatakan
dalam sifat fisika senyawanya. Mesomeri hanya dapat terjadi pada senyawa
tak jenuh, namun efek induktif dapat terjadi pada senyawa jenuh maupun
tak jenuh. Efek induksi hanya terbatas pada jarak yang terbatas,
sedangkan efek mesomeri dapat terjadi sepanjang molekul masih
menyediakan system terkonjugasi.
Pada tabel berikut ini diuraikan beberapa gugus yang bersifat penarik dan
pendorong electron dan gugus yang dapat menimbulkan efek mesomerik.