Anda di halaman 1dari 6

WUJUD KOTA TROPIS DI INDONESIA: SUATU PENDEKATAN IKLIM, LINGKUNGAN DAN ENERGI (Tri Harso Karyono)

WUJUD KOTA TROPIS DI INDONESIA:


SUATU PENDEKATAN IKLIM, LINGKUNGAN DAN ENERGI

Tri Harso Karyono


Staf Pengajar Program Studi Arsitektur di Jakarta
E-maill: tkaryono@telkom.net; thkar@hotmail.com

ABSTRAK

Sebagian besar kota di Indonesia dirancang tanpa memperhatikan beberapa aspek seperti halnya iklim,
kesehatan lingkungan dan penghematan energi. Akibatnya, beberapa kota tersebut menjadi tidak cukup nyaman
bagi warga setempat untuk tinggal dan bekerja. Tulisan ini dimaksudkan untuk menganalisis berbagai aspek
yakni, iklim, lingkungan dan energy, yang berpengaruh terhadap rancangan kota tropis di Indonesia. Beberapa
strategi pemecahan yang berkaitan dengan aspek tersebut di atas dicoba untuk ditawarkan melalui tulisan ini.

Kata kunci: energi, iklim, Indonesia, kota tropis basah, lingkungan.

ABSTRACT
Almost all the Indonesian cities are designed someway in which local climate, environmental aspect and
energy conservation have been paid little inttention by the architecs and urban designers. The result is that most
of the Indonesian cities have provided no good place for people living in. This articles tries to explore all the
possibility aspects of climatic, environmental and energy, in which they may influence to the design of humid
tropical cities of Indonesia. Some strategies are proposed to achieve a better urban design in terms of climate,
environment and energy conservation.

Keywords: climate, environment, energy, humid tropical city, Indonesia.

PENDAHULUAN berada di suatu kota dengan dimensi yang relatif


kecil tersebut. Jarak tempuh antara satu dengan
Masyarakat modern memandang kota tempat kegiatan yang lain relatif menjadi pendek,
sebagai tempat berkumpulnya berbagai kelomp- disamping kemungkinan terjadi kemacetan lalu
ok manusia atau komunitas yang saling lintas juga lebih kecil. Bagi mereka yang tinggal
berinteraksi untuk suatu kepentingan atau tujuan di kota seperti Semarang, Yogya, Padang,
tertentu. Ukuran atau 'dimensi' kota mempe- Mataram, dan sebagainya, keluhan mengenai
ngaruhi intensitas interaksi antar individu, sempitnya waktu untuk melaksanakan berbagai
kelompok maupun komunitas manusia tersebut. pekerjaan tidak akan muncul. Hal ini berbeda
Interaksi manusia semakin intens dimana bagi mereka yang tinggal di kota besar seperti
dimensi ‘waktu’ menjadi pendek terjadi pada Jakarta dan Surabaya misalnya. Pekerjaan yang
kota-kota besar. Manusia cenderung memper- dapat diselesaikan dalam satuan waktu yang
panjang dimensi waktu yang pendek dengan cara sama cenderung menjadi lebih sedikit bagi
menempatkan fungsi-fungsi kegiatan tersebut mereka yang bekerja di kota besar dibanding
sedekat mungkin, atau dengan kata lain saling dengan mereka yang bermukim di kota yang
‘merapatkan’ bangunan yang digunakan sebagai lebih kecil.
wadah kegiatan fungsi tersebut. Perapatan
bangunan ini akan memperpendek jarak tempuh
antara fungsi kegiatan yang berbeda. TROPIS: PERMASALAHAN DARI ASPEK
Untuk kota dengan dimensi yang relatif IKLIM
kecil, rentang waktu tertentu, misalnya satu jam
atau satu hari dapat digunakan oleh warga kota Secara klasik iklim tropis dibagi dua: tropis
untuk menyelenggarakan berbagai aktifitas yang basah dan tropis kering. De Wall membagi iklim
berbeda, sehingga satuan waktu menjadi terasa tropis menjadi 10 klasifikasi berdasarkan suhu
lebih panjang. Hal ini dapat diamati apabila kita harian rata-rata dan perbedaan antara suhu siang

Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan - Universitas Kristen Petra 141
http://puslit.petra.ac.id/journals/architecture/
DIMENSI TEKNIK ARSITEKTUR Vol. 29, No. 2, Desember 2001: 141 - 146

dan malam. Dalam pengelompokan ini, hanya material keras, maka suhu udara kota menjadi
kota atau wilayah yang memiliki suhu udara lebih tinggi dibanding kawasan sekelilingnya
harian rata-rata 28o C atau lebih dimasukan dalam yang masih bersifat rural. Fenomena ini
katagori iklim tropis. Jakarta disebutkan sebagai sering disebut sebagai heat urban island,
masuk dalam kategori pertama, dengan suhu dimana area fisik kota seolah menjadi sebuah
rata-rata 28o C serta deviasi sekitar 7o , sementara pulau yang memancarkan panas di tengah
kota-kota sejuk seperti Bandung, Malang, Bukit hamparan kehijauan kawasan rural.
Tinggi, Prapat, dan lainnya tidak masuk dalam
3. Berkurangnya kecepatan angin pada kawasan
klasifikasi tropis yang dirumuskan oleh de Wall
urban
karena memiliki suhu rata-rata harian yang lebih
Kawasan kota dicirikan dengan kerapatan
rendah.
bangunan yang lebih tinggi dibanding
Ciri yang menonjol pada iklim tropis adalah
kawasan rural. Dengan kepadatan bangunan
tingginya suhu rata-rata harian dibanding pada
yang tinggi – yang berarti mengecilnya ruang
iklim lain. Persoalan yang ditimbulkan oleh
terbuka, kecepatan angin dalam kota
iklim ini dalam kaitannya dengan kota sebagai
berkurang secara mencolok dibanding pada
tempat manusia bermukim dan melangsungkan
kawasan rural, yang masih terbuka.
aktifitas kerja sehari-hari adalah sebagai berikut:
4. Berkurangnya vegetasi per satuan luas
1. Pemanasan yang ditimbulkan oleh Radiasi
tertentu
Matahari
Seperti diuraikan diatas, kawasan kota
Matahari memancarkan panasnya melalui
dicirikan dengan menurunkan jumlah vegetasi
radiasi ke permukaan bumi. Panas yang
persatuan luas tertentu dibanding kawasan
dipancarkan oleh matahari ke permukaan
yang masih bersifat rural. Karena kemampuan
bumi tidak tergantung apakah permukaan
tumbuhan untuk menyerap dan mengeliminir
bumi tersebut berupa kota (urban) atau desa
panas yang dipancarkan oleh matahari, maka
(rural), tapi lebih bergantung pada sudut
suatu kawasan yang banyak ditutup oleh
jatuh–radiasi akan mencapai jumlah maksi-
tumbuhan (misalnya desa) cenderung
mum apabila sudut jatuhnya 90o , demikian
memiliki suhu udara yang lebih rendah
juga bergantung pada kondisi awan yang
dibanding kawasan yang banyak tertutup oleh
dapat menghalangi pemancaran radiasi
material keras, seperti halnya kawasan urban.
tersebut. Implikasi radiasi matahari ke
permukaan bumi akan berbeda ketika
Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam banyak
permukaan tersebut memiliki perbedaan
hal perancangan kota-kota besar di Indonesia
karakter dalam hal penyerapan dan
masih kurang memperhatikan aspek iklim, yakni
pemantulannya terhadap radiasi tersebut.
tropis basah. Problematik yang ditimbulkan oleh
Permukaan keras cenderung akan menyerap
iklim tropis basah, seperti halnya curah hujan
panas lebih banyak, yang pada saatnya akan
yang tinggi, suhu udara yang umumnya berada
dipantulkan kembali. Warna permukaan juga
diatas toleransi kenyamanan, radiasi matahari
menentukan jumlah panas yang diserap,
yang menyengat, kelembaban tinggi serta aliran
warna terang cenderung akan lebih banyak
udara yang relatif lambat bagi pencapaian
memantulkan, sementara warna gelap
kenyamanan termis, tidak banyak diantisipasi
cenderung lebih banyak menyerap panas
oleh perencana maupun perancang kota.
radiasi tersebut.
Perencana kota kurang memikirkan bagaimana
2. Terjadinya ‘heat urban island’ melengkapi kawasan permukiman dengan
Akibat tertutupnya permukaan tanah oleh fasilitas-fasilitas pendukung, seperti kantor pos,
beton (yang dapat berupa bangunan atau bank, klinik kesehatan, tilpon umum, sekolah,
perkerasan permukaan tanah) serta aspal pasar, dan sebagainya, sehingga setiap penduduk
(jalan dan parkir), radiasi matahari yang jatuh pada kawasan permukiman tersebut tidak perlu
pada permukaan tersebut sebagian besar menempuh jarak jauh - yang tidak dapat
diserap dan kemudian dilepaskan lagi ke ditempuh dengan berjalan kaki. Banyak
udara di atas dan sekitarnya. Pelepasan panas dijumpai, bahwa penghuni suatu permukinan di
yang diserap oleh material keras sebagaimana kota atau tepi kota harus menggunakan
beton atau aspal akan jauh lebih besar kendaraan hanya untuk menuju kantor pos,
dibanding yang terjadi pada tumbuhan. menuju bank, bahkan untuk sekedar potong
Karena sebagian besar area kota tertutup oleh rambut sekalipun. Penempatan fungsi-fungsi

142 Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan - Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/architecture/
WUJUD KOTA TROPIS DI INDONESIA: SUATU PENDEKATAN IKLIM, LINGKUNGAN DAN ENERGI (Tri Harso Karyono)

bagi aktifitas penduduk kota tidak direncakan genangan air akan mudah menimbulkan berbagai
sedemikian rupa sehingga penghuni kawasan gangguan kesehatan bagi manusia.
permukiman dapat melakukan aktifitas Melimpahnya air hujan pada musim tertentu
kesehariannya dalam radius yang dapat ditempuh serta mengeringnya lahan pertanian, sungai,
dengan berjalan kaki. Dengan demikian ketidak danau dan sebagainya, pada musim yang lain,
nyamanan yang diakibatkan oleh iklim tropis secara langsung atau tidak langsung akan
basah dapat dikurangi, dimana manusia dapat menimbulkan persoalan tertentu yang berkaitan
memenuhi kebutuhan hidup kesehariannya tanpa dengan masalah lingkungan pada kota tropis.
harus menempuh jarak yang relatif jauh, dengan
kemungkinan tidak nyaman akibat sengatan
matahari atau suhu udara tinggi serta hujan. KOTA TROPIS DALAM KAITANNYA
Dengan jarak tempuh yang pendek, persoalan DENGAN KONSUMSI ENERGI
ketidaknyamanan yang diakibatkan oleh iklim
tropis basah dapat dikurangi, apalagi jika Suhu udara yang relatif tinggi (hangat atau
penyelesaian rancangan arsitektur kawasan panas) dalam banyak hal cukup menguntungkan
tersebut dapat dibuat sedemika rupa dengan manusia yang tinggal di wilayah tropis, jika
mengacu pada antisipasi terhadap problematik dilihat dari sudut pandang energi. Manusia tropis
iklim tropis basah, misalnya, jalur-jalur tidak memerlukan energi untuk pemanas ruang
pedestrian yang terlindung dari hujan dan sebagaimana saudaranya yang tinggal pada iklim
sengatan matahari. sub tropis (temperate) atau iklim dingin.
Meskipun pada kondisi udara tertentu dengan
suhu yang tidak dapat ditolerir, manusia tropis
KOTA TROPIS DALAM KAITANNYA memerlukan peralatan pengkondisian udara yang
DENGAN LINGKUNGAN mengkonsumsi energi. Pada kehidupan yang
masih bertaraf dasar, manusia yang hidup pada
Manusia yang tinggal di wilayah beriklim iklim tropis (basah) cenderung tidak memerlukan
tropis sering dianggap ‘tidak beruntung’ oleh energi (listrik) untuk mempertahankan hidupnya.
mereka yang berdiam di wilayah beriklim empat Mereka dapat hidup tanpa bantuan alat pemanas
musim (sub tropis). Pertama, mereka ataupun pendingin udara. Mereka dapat meng-
beranggapan bahwa kawasan tropis (basah) gunakan lampu penerang yang menggunakan
hanya layak sebagai habitat flora (tumbuhan) dan bahan bakar tumbuh-tumbuhan, misalnya
fauna (hewan). Berjuta jenis tumbuhan tumbuh minyak kelapa, minyak buah Jarak, dan
dan berkembang dengan subur pada kawasan ini. sebagainya. Sementara rekan meraka yang
Demikian pula berjuta jenis binatang berkem- berada pada iklim sub tropis sulit untuk dapat
bang biak secara optimal pada kondisi iklim melangsungkan hidup tanpa bantuan pemanas
semacam ini. Kombinasi faktor iklim (suhu pada musim dingin. Singkat kata, ketergantungan
udara, radiasi matahari dan kelembaban) pada manusia tropis terhadap energi (listrik)
iklim tropis basah dianggap sebagai kombinasi sebetulnya relatif jauh lebih rendah dibanding
optimal bagi berlangsungnya kehidupan dan mereka yang berada pada iklim sub tropis
perkembangbiakan berjuta jenis flaura dan fauna tersebut.
di muka bumi ini. Namun dianggap kurang Meskipun demikian, dengan terjadinya
sesuai bagi habitat manusia, karena kombinasi pertukaran budaya, informasi dan teknologi,
faktor iklim serta berkembangnya berbagai serta penjajahan baru dalam bidang ekonomi
serangga dalam banyak hal dapat mengganggu yang dilakukan negara maju (berkuasa) terhadap
kelangsungan hidup manusia, seperti nyamuk negara berkembang (lemah), kecenderungan
malaria, serangga berbisa, reptil berbisa, pemaksaan penggunaan teknologi dari negara
binatang buas dan lainnya. maju terhadap negara berkembang, baik secara
Kombinasi suhu udara dan kelembaban langsung maupun tidak langsung, mengakibatkan
akan mempercepat proses pembusukan dari ketergantungan negara berkembang-yang umum-
bahan-bahan organik, dari aspek lingkungan nya berada pada wilayah tropis, terhadap
sebenarnya hal ini menguntungkan, namun dari penggunaan energi cenderung meningkat secara
sisi kehidupan manusia hal ini seringkali tidak pesat. Perancangan kota di Indonesia yang
menguntungkan. Pembusukan sampah, daun, mengadop konsep dari negara sub tropis,
jasad-jasad organik lain baik itu terjadi di terutama Amerika Serikat, membuat kota
permukaan tanah atau dalam sungai, rawa serta menjadi tidak nyaman secara termis, tanpa

Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan - Universitas Kristen Petra 143
http://puslit.petra.ac.id/journals/architecture/
DIMENSI TEKNIK ARSITEKTUR Vol. 29, No. 2, Desember 2001: 141 - 146

penggunaan energi secara signifikan. Kota bersinar dengan teriknya. Pedestrian perlu
dirancang dengan jalan-jalan lebar serta ruang- diberikan koridor-koridor yang terlindung
ruang terbuka yang diperkeras, tanpa cukup pada bagian atasnya. Setiap bangunan, baik
diberi peneduh pohon. Bangunan-bangunan secara langsung atau tidak, harus terhubung-
dirancang sedemikian rupa sehingga tidak akan kan satu dengan yang lain, sehingga kegiatan
nyaman tanpa pengkondisian udara, mengakibat- manusia tidak terhenti pada saat hujan turun.
kan peningkatan suhu udara kota yang semula Dengan pemikiran semacam ini wujud kota
sudah tinggi akibat pemanasan aspal, beton, serta tropis akan berbeda dengan wujud kota pada
pembuangan panas oleh mesin-mesin peng- iklim non tropis. Bahwa dalam kota tropis
kondisian udara itu sendiri. Kemudian ditambah aktifitas harus dimungkinkan berlangsung
panas yang diakibatkan oleh kendaraan bermotor tanpa terhenti karena kondisi cuaca, misalnya
yang menggunakan AC. Akibat suhu udara kota hujan.
yang tinggi, manusia kota lalu cenderung
2. Penghutanan Kota: meminimalkan penyerap-
menggunakan kendaraan bermotor meskipun
an panas permukaan ruang luar.
untuk menempuh jarak yang relatif pendek
Untuk mengantisipasi suhu udara yang relatif
sekalipun.
tinggi, kota Tropis perlu dirancang sedemikan
Dari persoalan-persoalan yang terakumulasi
rupa dimana radiasi langsung terhadap
ini, ketergantungan manusia yang tinggal di kota
permukaan keras (bangunan, aspal jalan atau
terhadap penggunaan energi menjadi tinggi. Hal
parkir, beton atau perkerasan pada ruang
ini hanya mungkin diatasi jika perancang kota
terbuka) harus dihindari semaksimal
memahami strategi perancangan kota tropis dan
mungkin. Dengan kata lain, setiap perkerasan
mengaplikasikan rancangannya secara benar,
perlu dilindungi oleh pohon atau vegetasi.
sesuai dengan persoalan yang ditimbulkan oleh
Vegetasi menyerap panas dalam jumlah yang
iklim tersebut.
sangat besar, sementara memantulkan
kembali panas tersebut dalam jumlah yang
KONSEP PERANCANGAN sangat kecil. Sehingga kawasan yang
KOTA TROPIS sebagian besar tertutup oleh tumbuhan
(misalnya di kawasan pedesaan), memiliki
Guna mengantisipasi problematik yang suhu udara yang relatif rendah dibanding
ditimbulkan oleh iklim tropis, perencana maupun kawasan yang terbuka dan diperkeras
perancang kota perlu memperhatikan beberapa (misalnya pusat-pusat kota). Bahan keras
aspek yang berkaitan dengan pemecahan yang digunakan sebagai pelapis permukaan
perancangan kota tropis. tanah (aspal, beton dan lainnya) akan banyak
menyerap panas, namun kemudian panas
1. Perlindungan terhadap cuaca (hujan dan tersebut akan dipancarkan kembali ke udara
radiasi matahari) di atasnya, yang mengakibatkan pemanasan
Manusia yang tinggal pada iklim tropis basah udara di sekitarnya. Dengan pemikiran
cenderung untuk menghindari hujan dan semacam ini, konsep kota tropis harus
sengatan matahari. Dalam kehidupan sehari- mengarah pada penghijauan kota secara
hari kita sering menjumpai bagaimana payung merata dan menyeluruh, dengan kata lain kota
digunakan bukan saja pada saat hujan, namun tropis perlu ‘dihutankan’ agar suhu udara kota
juga pada saat cuaca terang dengan sengatan tersebut dapat dijaga tidak terlalu tinggi diluar
matahari yang terik. Sementara cuaca batas ambang suhu nyaman manusia
mendung, dimana manusia tropis tidak penghuninya.
memerlukan payung, relatif sangat jarang
terjadi. Dalam waktu satu tahun atau 365 hari, 3. Penataan Massa Bangunan dengan mengop-
diperkirakan keadan langit mendung– dimana timalkan aliran udara di sekitar bangunan
manusia tropis tidak kehujanan atau Salah satu cara untuk mengurangi ‘ketidak-
kepanasan, hanya terjadi sekitar 30 hingga 40 nyamanan termis’ pada kawasan beriklim
hari penuh. Dengan mempertimbangkan tropis adalah mengoptimalkan terjadinya
keadaan semacan ini, konsep perancangan aliran udara di sekitar dan di dalam bangunan.
kota tropis harus diarahkan agar pejalan kaki– Pergerakan udara atau angin akan terjadi
dimanapun mereka berada, tidak perlu harus bilamana terdapat ruang terbuka yang
menggunakan payung, atau berteduh pada menerus yang tidak menghalangi laju aliran
saat turun hujan atau pada saat matahari udara tersebut. Ruang terbuka yang menerus

144 Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan - Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/architecture/
WUJUD KOTA TROPIS DI INDONESIA: SUATU PENDEKATAN IKLIM, LINGKUNGAN DAN ENERGI (Tri Harso Karyono)

hanya mungkin tersedia apabila penempatan dimungkinkan. Demikian pula ruang-ruang ter-
bangunan tidak terlalu rapat, dalam arti masih buka yang dihijaukan mutlak dirancang diantara
ada ruang diantara bangunan yang tidak bangunan, baik dalam skala kecil (skala
terbangun. Dalam konsep penataan massa bangunan), atau dalam skala sedang (skala
bangunan pada kota tropis, ruang terbuka atau lingkungan), maupun skala besar (skala kota).
ruang ‘antara’ diantara bangunan memegang Hal ini dimaksudkan untuk memberi kemung-
arti penting bagi terjadinya aliran udara atau kinan terhadap penurunan suhu kota. Konsep
angin di sekitar bangunan. Hal ini diharapkan ‘fisik’ kota yang padat bangunan, padat
dapat dimanfaatkan oleh bangunan untuk perkerasan aspal, beton dan lainnya, perlu
menciptakan ventilasi silang sehingga efek dirubah dengan konsep yang mengarah pada fisik
dingin dalam bangunan dapat dicapai (pada ‘desa’ atau kawasan rural, dimana vegetasi
bangunan yang tidak berpengkondisi udara). (sebagai elemen ‘penghilang’ panas) masih
dominan. Setiap permukaan keras yang
4. Pemisahan Sirkulasi Kendaraan Bermotor,
‘terpaksa’ dibangun di kawasan kota, perlu
Kendaraan Tidak Bermotor, dan Pejalan Kaki
dilindungi dari radiasi langsung matahari,
Konsep ini sesungguhnya diperlukan bukan
sehingga proses ‘pemanasan’ kota atau
saja pada rancangan kota di kawasan beriklim
peningkatan suhu udara kota sedikit banyak
tropis, namun konsep ini perlu dilontarkan
dapat dikurangi.
mengingat pemisahan sirkulasi kendaraan
Konsekuensi logis terhadap renggangnya
bermotor, kendaraan tidak bermotor dan
bangunan yang dirancang pada kota tropis,
pejalan kaki seringkali diabaikan di
mengakibatkan memanjangnya jarak tempuh
Indonesia. Dalam hal ini sebetulnya
manusia dari fungsi aktifitas yang satu dengan
penekanannya bukan pada persoalan tropis,
lainnya. Untuk menghindari jarak tempuh yang
namun lebih pada ‘Indonesia’. Mungkin
terlalu panjang, kota tropis (basah) sebaiknya
karena ada kaitan dengan ‘budaya’, politik
dirancang untuk mewadahi jumlah penduduk
atau apapun, umumnya para pejalan kaki atau
yang lebih kecil dibanding kota-kota di wilayah
pengguna kendaraan tidak bermotor selalu
sub tropis (yang disebabkan oleh kepadatannya
dikalahkan oleh kendaraan bermotor. Mereka
yang lebih rendah dibanding kota sub tropis),
tidak diberikan ‘ruang’ yang cukup bagi
sehingga radius terpanjang dalam kota
kebutuhan aktifitasnya. Banyak terjadi, para
diharapkan masih dimungkinkan untuk ditempuh
pejalan kaki dan pemakai kendaran tidak
dengan berjalan kaki, atau kendaraan tidak
bermotor harus menepi atau menunggu
bermotor.
kendaraan bermotor melintas. Resiko
Dari aspek dimensi kota, konsep ‘kantung
dilanggar oleh kendaraan bermotor cukup
pedestrian’ (pedestrian pockets) yang ditawarkan
tinggi akibat perancang kota tidak terlalu
Dough Kelbaugh dan Peter Calthorpe, sangat
memperdulikan keberadan para pejalan kaki
mungkin dipertimbangkan bagi perancangan kota
tersebut. Perancang kota di Indonesia
tropis di Indonesia. Dalam konsep tersebut,
umumnya adalah mereka-mereka yang
mereka menawarkan apa yang disebut dengan
sebagian besar selalu menggunakan
‘kantung-kantung pedestrian’. Dalam setiap
kendaraan bermotor - dan bukan berjalan kaki
kantung pedestrian, yang luasnya sekitar 40
atau bersepeda misalnya. Dalam situasi
hektar, dapat ditampung penduduk sejumlah
semacam ini penghayatan terhadap perilaku
5000 orang serta pekerja sejumlah 3000 orang.
serta kebutuhan rasa aman para pejalan kaki
Kepadatan penduduk rata-rata pada setiap
tidak terdeteksi, sehingga tidak pernah
kantung tersebut adalah 1 orang pada setiap 80
dijadikan pertimbangan dalam perancangan
m2. Kantung-kantung pedestrian ini memiliki
kota.
stasiun kereta (atau tram) yang dihubungkan satu
dengan lainnya menuju pusat kota yang sudah
ada. Dalam setiap kantung pedestrian akan
WUJUD KOTA TROPIS tersedia fasilitas perumahan/pemukiman, per-
tokoan, fasilitas untuk penunjang kebutuhan
Untuk mengantispasi permasalahan iklim sehari-hari (kantor pos, bank, sekolah, poliklinik,
tropis, jarak antar bangunan perlu renggang, dsb.) serta, perkantoran. Penduduk diharapkan
dalam arti memberi kemungkinan terhadap aliran dapat menempuh tempat dimanapun dalam
angin bergerak di sekitar bangunan, sehingga kantung tersebut dengan berjalan kaki. Dengan
penerapan ventilasi silang dalam bangunan mengembangkan konsep tersebut, yakni mem-

Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan - Universitas Kristen Petra 145
http://puslit.petra.ac.id/journals/architecture/
DIMENSI TEKNIK ARSITEKTUR Vol. 29, No. 2, Desember 2001: 141 - 146

berikan kemungkinan digunakannya kendaraan de Wall, H.B., New Recommendations for


tidak bermotor, seperti halnya sepeda, maka Building in Tropical Climates, Building
dapat dibayangkan bahwa penduduk yang berada and Environment, UK, Vol. 28, 1993: 271-
pada kawasan tersebut dapat menikmati waktu 285.
tempuh yang lebih pendek tanpa harus terjadi
polusi udara pada kawasan tersebut. Pengem- Givoni, B., Climate Considerations in Building
bangan lain dalam konsep tersebut adalah and Urban Design,Van Nostrand Rein-
pertimbangan terhadap problematik yang hold, USA, 1998.
ditimbulkan iklim Tropis (basah) yakni hujan
dan terik matahari. Untuk itu setiap jalur-jalur Littlemore, D.S., Building in the Tropics,
pedestrian atau sepeda perlu dipecahkan agar Architectural Science Review, November,
gangguan iklim tersebut dapat dihindari, Australia, 1958.
misalnya memberikan koridor beratap pada jalur-
jalur tersebut. Meir, I.A., Climatic Sub-Regions and design
Melalui kajian lebih lanjut dan cermat, Contextualism, Building and Environment,
pemikiran Dough Kelbaugh dan Peter Calthorpe Vol. 24, 1989: 245-251
yang ditawarkan bagi pemecahan kawasan
‘suburban’ di Amerika, memiliki potensi besar Sekhar, S.C., Higher space temperatures and
untuk dapat dikembangkan bagi pemecahan better thermal comfort – a tropical
perancangan kota tropis di Indonesia, terutama analysis, Energy and Buildings, Vol. 23,
menyangkut aspek dimensi, daya tampung, serta 1995: 63-70
sarana transportasi yang mengarah pada
pertimbangan ‘lingkungan’. Apa yang saya Vale, B. dan Vale, R., Green Architecture,
tawarkan pada tulisan ini mengenai ‘wujud kota’ Thames and Hudson, London, 1991.
pada iklim tropis basah, cenderung akan
mengarah pada konsep ‘suburban’ pada iklim
sub tropis, terutama dilihat dari aspek tingkat
kepadatan bangunan serta daya tampung wilayah
yang terbangun.

DAFTAR PUSTAKA

Baker, N., Passive Building Design in Warm


Climates, Building Technical File, UK,
No. 22, July 1988.

Emmanuel R., A Hypothetical ‘Shadow


Umbrella’ for Thermal Comfort Enhan-
cement in Equatorial Urban Outdoors,
Architectural Science Review, Australia,
Vol. 36, 1993: 173-184.

Emmanuel, R., Energy-Efficient Urban design


Guidelines for Wram-Humid Cities:
Strategies for Colombo, Sri Lanka,
Journal of Architectural and Planning
research, USA, Vol. 12, No 1, 1995.

Chancellor, W.J., Cool Tropical Buildings:


Lessons from Old-Style Designs, Building
and Environment, Vol. 29, No 1, 1994: 5-
12.

146 Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan - Universitas Kristen Petra
http://puslit.petra.ac.id/journals/architecture/

Anda mungkin juga menyukai