Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

PERNIKAHAN DALAM ISLAM

OLEH: KELOMPOK II

IRMA FUJI ANINGRUM 105731110616

MUSPIRA 105731111116

RISNA SAFITRI 105731111216

PROGRAM STUDI AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2018
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr. Wb.

Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang


telah melimpahkan rahmat dan segala bentuk kenikmatannya kepada kita semua
sehingga penulisan ini dapat terselesaikan sesuai dengan waktu yang diharapkan.
Dan tak lupa pula penulis mengirimkan salam dan shalawat atas junjungan kita
Nabiullah Muhammad saw. Sebagai rahmatan lil’alamin.

Penulisan makalah ini merupakan bentuk kewajiban dan penyempurnaan


nilai terhadap kami selaku mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Makassar.
Tugas “Makalah Pernikahan Dalam Islam” ini kami tulis dan kami susun dengan
segenap keikhlasan yang kami kumpulkan disela-sela waktu yang sangat sempit.

Dan ucapan terima kasih kepada dosen AIK V kami yang telah
memberikan banyak arahan dan bimbingan kepada kami.

Penyusunan makalah ini belum sempurna, oleh karena itu penulis


mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang sifatnya membangun.

Wassalam.....!

Makassar, 11 Oktober 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................................ ii


DAFTAR ISI...................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................... 1
A. Latar Belakang ........................................................................................................ 1
B. Rumusan Malasah ................................................................................................... 2
C. Tujuan Penulisan ..................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN .................................................................................................... 3
A. Definisi Pernikahan dan Perkawinan ...................................................................... 3
B. Syarat Pernikahan Menurut Undang-Undang ......................................................... 5
C. Rukun Nikah ........................................................................................................... 6
D. Mahar ( Mas Kawin ) .............................................................................................. 7
E. Khitbah ( Peminangan ) .......................................................................................... 8
F. Hukum Menikah ..................................................................................................... 9
G. Tujuan Menikah ...................................................................................................... 9
H. Hikmah Pernikahan ............................................................................................... 10
BAB III PENUTUP .......................................................................................................... 11
A. Kesimpulan ........................................................................................................... 11
B. Saran ..................................................................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 12

iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pernikahan dalam pandangan Islam adalah sesuatu yang luhur dan sakral,
bermakna ibadah kepada Allah, mengikuti Sunnah Rasulullah dan dilaksanakan
atas dasar keikhlasan, tanggungjawab, dan mengikuti ketentuan-ketentuan hukum
yang harus diindahkan. Dalam Undang-Undang RI Nomor 1 tahun 1974 tentang
Perkawinan Bab I pasal 1, perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria
dengan seorang wanita sebagai suami-isteri dengan tujuan membentuk keluarga
(rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Sedangkan tujuan pernikahan adalah sebagaimana difirmankan Allah s.w.t.
dalam surat Ar-Rum ayat 21 “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia
menciptakan untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri, supaya kamu
cenderung dan merasa tenteram kepadanya dan dijadikan-Nya di antaramu rasa
kasih sayang (mawaddah warahmah). Sesungguhnya pada yang demikian itu
menjadi tanda-tanda kebesaran-Nya bagi orang-orang yang berfikir”. Mawaddah
warahmah adalah anugerah Allah yang diberikan kepada manusia, ketika manusia
melakukan pernikahan.
Pernikahan merupakan sunah nabi Muhammad saw. Sunnah diartikan secara
singkat adalah, mencontoh tindak laku nabi Muhammad saw. Perkawinan
diisyaratkan supaya manusia mempunyai keturunan dan keluarga yang sah
menuju kehidupan bahagia di dunia dan akhirat, di bawah naungan cinta kasih dan
ridha Allah SWT, dan hal ini telah diisyaratkan dari sejak dahulu, dan sudah
banyak sekali dijelaskan di dalam al-Qur’an:
Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-
orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan
hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan
memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha Luas (pemberian-
Nya) lagi Maha mengetahui.(QS. an-Nuur ayat 32).

1
B. Rumusan Malasah
1. Apakah definisi pernikahan dan perkawinan?
2. Bagaimana syarat pernikahan menurut undang undang?
3. Bagaimana rukun nikah?
4. Apakah yang di maksud dengan mahar?
5. Apakah yang dimaksud dengan khitbah?
6. Bagaimana hukum menikah?
7. Apakah tujuan menikah?
8. Bagaimana hikmah pernikahan?

C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui apa definisi pernikahan dan perkawinan.
2. Mengetahui bagaimana syarat pernikahan menurut undang undang.
3. Mengetahui bagaimana rukun nikah.
4. Mengetahui apa yang dimaksud dengan mahar.
5. Mengetahui apa yang dimaksud dengan khitbah.
6. Mengetahui bagaimana hukum menikah.
7. Mengetahui apakah tujuan menikah.
8. Mengetahui bagaimana hikmah pernikahan.

2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Pernikahan dan Perkawinan
Pernikahan adalah bentukan kata benda dari kata dasar nikah; kata itu
berasal dari bahasa Arab yaitu kata nikkah (Arab: ‫)النكاح‬ yang berarti
perjanjian perkawinan; berikutnya kata itu berasal dari kata lain dalam bahasa
Arab yaitu kata nikah (Arab: ‫ )نكاح‬yang berarti persetubuhan.
Istilah nikah berasal dari bahasa Arab, yaitu ( ‫) النكاح‬, adapula yang
mengatakan perkawinan menurut istilah fiqh dipakai perkataan nikah dan
perkataan zawaj. ]Sedangkan menurut istilah Indonesia adalah perkawinan.
Dewasa ini kerap kali dibedakan antara pernikahan dan perkawinan, akan tetapi
pada prinsipnya perkawinan dan pernikahan hanya berbeda dalam menarik akar
katanya saja.
Para ulama fiqh pengikut mazhab yang empat (Syafi’i, Hanafi, Maliki, dan
Hanbali) pada umumnya mereka mendefinisikan perkawinan pada :
“Akad yang membawa kebolehan (bagi seorang laki-laki untuk berhubungan
badan dengan seorang perempuan) dengan (diawali dalam akad) lafazh nikah
atau kawin, atau makna yang serupa dengan kedua kata tersebut.”
Dalam kompilasi hukum islam dijelaskan bahwa perkawinan adalah
pernikahan, yaitu akad yang kuat atau mitsaqan ghalizhan untuk mentaati perintah
Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah. Dari beberapa terminologi yang
telah dikemukakan nampak jelas sekali terlihat bahwa perkawinan adalah fitrah
ilahi. Hal ini dilukiskan dalam Firman Allah:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu
isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram
kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya
pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang
berfikir. (QS.Ar-Rum ayat 21).”
Pernikahan dalam Islam merupakan fitrah manusia dan merupakan ibadah
bagi seorang muslim untuk dapat menyempurnakan iman dan agamanya. Dengan
menikah, seseorang telah memikul amanah tanggung jawabnya yang paling besar

3
dalam dirinya terhadap keluarga yang akan ia bimbing dan pelihara menuju jalan
kebenaran. Pernikahan memiliki manfaat yang paling besar terhadap kepentingan-
kepentingan sosial lainnya. Kepentingan sosial itu yakni memelihara
kelangsungan jenis manusia, melanjutkan keturunan, melancarkan rezeki,
menjaga kehormatan, menjaga keselamatan masyarakat dari segala macam
penyakit yang dapat membahayakan kehidupan manusia serta menjaga
ketenteraman jiwa.
Pernikahan memiliki tujuan yang sangat mulia yaitu membentuk suatu
keluarga yang bahagia, kekal abadi berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Hal
ini sesuai dengan rumusan yang terkandung dalam Undang-Undang Nomor 1
tahun 1974 pasal 1 bahwa: "Perkawinan merupakan ikatan lahir dan batin antara
seorang wanita dengan seorang pria sebagai suami istri dengan tujuan
membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan
Ketuhanan Yang Maha Esa."
Sesuai dengan rumusan itu, pernikahan tidak cukup dengan ikatan lahir atau
batin saja tetapi harus kedua-duanya. Dengan adanya ikatan lahir dan batin inilah
perkawinan merupakan satu perbuatan hukum di samping perbuatan keagamaan.
Sebagai perbuatan hukum karena perbuatan itu menimbulkan akibat-akibat hukum
baik berupa hak atau kewajiban bagi keduanya, sedangkan sebagai akibat
perbuatan keagamaan karena dalam pelaksanaannya selalu dikaitkan dengan
ajaran-ajaran dari masing-masing agama dan kepercayaan yang sejak dahulu
sudah memberi aturan-aturan bagaimana perkawinan itu harus dilaksanakan.
Dari segi agama Islam, syarat sah pernikahan penting sekali terutama untuk
menentukan sejak kapan sepasang pria dan wanita itu dihalalkan
melakukan hubungan seksual sehingga terbebas dari perzinaan. Zina merupakan
perbuatan yang sangat kotor dan dapat merusak kehidupan manusia. Dalam
agama Islam, zina adalah perbuatan dosa besar yang bukan saja menjadi urusan
pribadi yang bersangkutan dengan Tuhan, tetapi termasuk pelanggaran hukum dan
wajib memberi sanksi-sanksi terhadap yang melakukannya. Di Indonesia yang
mayoritas penduduknya beragama Islam, maka hukum Islam sangat memengaruhi
sikap moral dan kesadaran hukum masyarakatnya.

4
Agama Islam menggunakan tradisi perkawinan yang sederhana, dengan
tujuan agar seseorang tidak terjebak atau terjerumus ke dalam perzinaan. Tata cara
yang sederhana itu tampaknya sejalan dengan Undang-Undang Nomor 1 tahun
1974 pasal 2 ayat 1 yang berbunyi: "Perkawinan adalah sah apabila dilakukan
menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya." Dari pasal tersebut
sepertinya memberi peluang-peluang bagi anasir-anasir hukum adat untuk
mengikuti dan bahkan berpadu dengan hukum Islam dalam perkawinan. Selain itu
disebabkan oleh kesadaran masyarakatnya yang menghendaki demikian. Salah
satu tata cara perkawinan adat yang masih kelihatan sampai saat ini adalah
perkawinan yang tidak dicatatkan pada pejabat yang berwenang atau disebut
nikah siri. Perkawinan ini hanya dilaksanakan di depan penghulu atau ahli agama
dengan memenuhi syariat Islam sehingga perkawinan ini tidak sampai dicatatkan
di kantor yang berwenang untuk itu.

B. Syarat Pernikahan Menurut Undang-Undang


Berdasarkan Pasal 6 UU No. 1/1974 tentang perkawinan, syarat
melangsungkan perkawinan adalah hal-hal yang harus dipenuhi jika akan
melangsungkan sebuah perkawinan. Syarat-syarat tersebut yaitu:
 Ada persetujuan dari kedua belah pihak.
 Untuk yang belum berumur 21 tahun, harus mendapat izin dari kedua orang
tua. Atau jika salah seorang dari kedua orang tua telah meninggal atau tidak
mampu menyatakan kehendaknya, maka izin dapat diperoleh dari orang tua
yang masih hidup atau orang tua yang mampu menyatakan kehendaknya.
 Bila orang tua telah meninggal dunia atau tidak mampu menyatakan
kehendaknya, maka izin diperoleh dari wali, orang yang memelihara atau
keluarga yang mempunyai hubungan darah dalam garis keturunan lurus ke
atas.
Bagi yang beragama Islam, dalam perkawinan harus ada (Pasal 14
Kompilasi Hukum Islam (KHI):
 Calon istri
 Calon suami

5
 Wali nikah
 Dua orang saksi
 Ijab dan kabul

C. Rukun Nikah
1. Wali
Berdasarkan sabda Rasulullah Sallallahu `Alaihi Wasallam:
‫بَاطل‬. ‫ فَن َك ُح َها بَاطل‬،‫ت ب َغيْر اذن َول ْي َها‬
ْ ‫ايُّ َما ا ْم َرأة نُك َح‬
Artinya : “ Wanita mana saja yang menikah tanpa izin walinya maka
nikahnya batal… batal.. batal.” (HR Abu Daud, At-Tirmidzy dan Ibnu Majah)
2. Saksi
Rasulullah sallallahu `Alaihi Wasallam bersabda:
‫ي َعدْل‬ َ ‫لَ نكَا َح الا ب َولي َو‬
ْ َ‫شاهد‬
Artinya : “Tidak ada nikah kecuali dengan wali dan dua saksi yang adil.”(HR
Al-Baihaqi dan Ad-Daaruquthni. Asy-Syaukani dalam Nailul Athaar berkata :
“Hadist di kuatkandengan hadits-hadits lain.”)
3. Akad nikah
Akad nikah adalah perjanjian yang berlangsung antara dua pihak yang
melangsungkan pernikahan dalam bentuk ijab dan qabul.
4. Ijab
Ijab adalah penyerahan dari pihak pertama, sedangkan qabul adalah
penerimaan dari pihak kedua. Ijab dari pihak wali si perempuan dengan
ucapannya, misalnya: “Saya nikahkan anak saya yang bernama si A kepadamu
dengan mahar sebuah kitab Riyadhus Shalihin.”
5. Qobul
Qabul adalah penerimaan dari pihak suami dengan ucapannya,
misalnya: “Saya terima nikahnya anak Bapak yang bernama si A dengan
mahar sebuah kitab Riyadhus Shalihin.”
Dalam aqad nikah ada beberapa syarat dan kewajiban yang harus
dipenuhi:
 Adanya suka sama suka dari kedua calon mempelai.

6
 Adanya Ijab Qabul.
 Adanya Mahar.
 Adanya Wali.
 Adanya Saksi-saksi.
Untuk terjadinya aqad yang mempunyai akibat-akibat hukum pada suami
istri haruslah memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
 Kedua belah pihak sudah tamyiz.
 Ijab qobulnya dalam satu majlis, yaitu ketika mengucapkan ijab qobul
tidak boleh diselingi dengan kata-kata lain, atau menurut adat dianggap
ada penyelingan yang menghalangi peristiwa ijab qobul.
Di dalam ijab qobul haruslah dipergunakan kata-kata yang dipahami oleh
masing-masing pihak yang melakukan aqad nikah sebagai menyatakan kemauan
yang timbul dari kedua belah pihak untuk nikah, dan tidak boleh menggunakan
kata-kata kasar. Dan menurut sunnah sebelum aqad nikah diadakan khutbah
terlebih dahulu yang dinamakan Khutbatun Nikah atau Khutbatul Hajat.
Syeikh Abu Bakar Jabir Al-Jazaairi berkata dalam kitabnya Minhaajul
Muslim. “Ucapan ketika akad nikah seperti: Mempelai lelaki : “Nikahkanlah aku
dengan putrimu yang bernama Fulaanah.” Wali wanita : “Aku nikahkan kamu
dengan putriku yang bernama Fulaanah.” Mempelai lelaki : “Aku terima nikah
putrimu.”

D. Mahar ( Mas Kawin )


Mahar adalah tanda kesungguhan seorang laki-laki untuk menikahi seorang
wanita. Mahar juga merupakan pemberian seorang laki-laki kepada perempuan
yang dinikahinya, yang selanjutnya akan menjadi hak milik istri secara
penuh. Kita bebas menentukan bentuk dan jumlah mahar yang kita inginkan
karena tidak ada batasan mahar dalam syari’at Islam, tetapi yang disunnahkan
adalah mahar itu disesuaikan dengan kemampuan pihak calon suami. Namun
Islam menganjurkan agar meringankan mahar. Rasulullah saw. bersabda: “Sebaik-
baik mahar adalah mahar yang paling mudah (ringan).”(H.R. Al-Hakim: 2692).

7
E. Khitbah ( Peminangan )
Seorang lelaki yang telah berketetapan hati untuk menikahi seorang wanita,
hendaknya meminang wanita tersebut kepada walinya.
Apabila seorang lelaki mengetahui wanita yang hendak dipinangnya telah
terlebih dahulu dipinang oleh lelaki lain dan pinangan itu diterima, maka haram
baginya meminang wanita tersebut. Karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam pernah bersabda:
Yang perlu diperhatikan oleh wali:
 Ketika wali si wanita didatangi oleh lelaki yang hendak meminang si wanita
atau ia hendak menikahkan wanita yang di bawah perwaliannya, seharusnya ia
memerhatikan perkara berikut ini:
 Memilihkan suami yang shalih dan bertakwa. Bila yang datang kepadanya
lelaki yang demikian dan si wanita yang di bawah perwaliannya juga
menyetujui maka hendaknya ia menikahkannya karena Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam pernah bersabda:
‫ إلا ت َ ْف َعلُوا تَ ُك ْن فتْنَة في اْأل َ ْرض َو‬،ُ‫ض ْونَ د ْينَهُ َو ُخلُقَهُ فَزَ ِّو ُج ْوه‬
َ ‫ب إلَ ْي ُك ْم َم ْن ت َ ْر‬ َ ‫ساد َعريْض إذَا َخ‬
َ ‫ط‬ َ َ‫ف‬

“Apabila datang kepada kalian (para wali) seseorang yang kalian ridhai
agama dan akhlaknya (untuk meminang wanita kalian) maka hendaknya
kalian menikahkan orang tersebut dengan wanita kalian. Bila kalian tidak
melakukannya niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.”
(HR. At-Tirmidzi no. 1084, dihasankan Al- Imam Al-Albani rahimahullahu
dalam Al-Irwa` no. 1868, Ash-Shahihah no. 1022)
 Meminta pendapat putrinya/wanita yang di bawah perwaliannya dan tidak
boleh memaksanya.
 Persetujuan seorang gadis adalah dengan diamnya karena biasanya ia malu.

8
F. Hukum Menikah
Adapun hukum menikah, dalam pernikahan berlaku hukum taklifi yang lima
yaitu :
 Wajib bagi orang yang sudah mampu nikah,sedangkan nafsunya telah
mendesak untuk melakukan persetubuhan yang dikhawatirkan akan terjerumus
dalam praktek perzinahan.
 Haram bagi orang yang tidak mampu memenuhi kebutuhan nafkah lahir dan
batin kepada calon istrinya,sedangkan nafsunya belum mendesak.
 Sunnah bagi orang yang nafsunya telah mendesak dan mempunyai
kemampuan untuk nikah,tetapi ia masih dapat menahan diri dari berbuat
haram.
 Makruh bagi orang yang lemah syahwatnya dan tidak mampu member
belanja calon istrinya.
 Mubah bagi orang tidak terdesak oleh alas an-alasan yang mewajibkan segera
nikah atau karena alas an-alasan yang mengharamkan untuk nikah.

G. Tujuan Menikah
Orang yang menikah sepantasnya tidak hanya bertujuan untuk menunaikan
syahwatnya semata, sebagaimana tujuan kebanyakan manusia pada hari ini.
Namun hendaknya ia menikah karena tujuan-tujuan berikut ini:
 Melaksanakan anjuran Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sabdanya:
...‫ع م ْن ُك ُم ا ْلبَا َءة َ فَ ْليَت َزَ او ْج‬ َ َ ‫شبَاب َمن ا ْست‬
َ ‫طا‬ ‫يَا َم ْعش ََر ال ا‬
“Wahai sekalian para pemuda! Siapa di antara kalian yang telah mampu
untuk menikah maka hendaknya ia menikah….”
 Memperbanyak keturunan umat ini, karena Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda:
‫ فَإنِّي ُمكَاثر ب ُك ُم ْاأل ُ َم َم‬،َ‫ت َزَ او ُج ْوا ْال َود ُ ْودَ ْال َولُ ْود‬
“Menikahlah kalian dengan wanita yang penyayang lagi subur, karena (pada
hari kiamat nanti) aku membanggakan banyaknya jumlah kalian di hadapan
umat-umat yang lain.”

9
 Menjaga kemaluannya dan kemaluan istrinya, menundukkan pandangannya
dan pandangan istrinya dari yang haram. Karena Allah Subhanahu wa Ta'ala
memerintahkan:
‫ظوا فُ ُرو َج ُه ْم ذَلكَ أ َ ْزكَى لَ ُه ْم إ ان للاَ َخبير ب َما‬ َ ‫قُ ْل ل ْل ُمؤْ منينَ َيغُضُّوا م ْن أ َ ْب‬
ُ َ‫صاره ْم َويَحْ ف‬
ْ َ‫صاره ان َو َيحْ ف‬
‫ظنَ فُ ُرو َج ُه ان‬ َ ‫ضضْنَ م ْن أ َ ْب‬ ُ ‫ َوقُ ْل ل ْل ُمؤْ منَات َي ْغ‬. َ‫صنَعُون‬
ْ ‫َي‬
“Katakanlah (ya Muhammad) kepada laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah
mereka menahan sebagian pandangan mata mereka dan memelihara
kemaluan mereka, yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya
Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat.’ Dan katakanlah kepada
wanita-wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan sebagian
pandangan mata mereka dan memelihara kemaluan mereka…’.” (An-Nur: 30-
31).

H. Hikmah Pernikahan
 Untuk menjaga kesinambungan generasi manusia.
 Menjaga kehormatan dengan cara menyalurkan kebutuhan biologis secara
syar'i.
 Kerja sama suami-istri dalam mendidik dan merawat anak.
 Mengatur rumah tangga dalam kerjasama yang produktif dengan
memperhatikan hak dan kewajiban.

10
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Bagaimanapun aturan undang-undang perlu untuk diperhatikan manakala
tidak ada satu hal yang mengharuskan untuk berpaling darinya. Sehingga dalam
kondisi ikhtiyari(normal), pasangan suami isteri sebaiknya mengikuti segala
aturan undang-undang. Tetapi ketika ada kebutuhan untuk melakukan pernikahan
tanpa pencatatan, pernikahan ini boleh-boleh saja dilakukan. Dan memang, tidak
ada cukup alasan fiqh untuk melarang apalagi mentidaksahkan pernikahan ini.
Dengan demikian mencatatkan perkawinan mengandung manfaat atau
kemaslahatan, kebaikan yang besar dalam kehidupan masyarakat. Sebaliknya
apabila perkawinan tidak diatur secara jelas melalui peraturan perundangan dan
tidak dicatatkan akan digunakan oleh pihak-pihak yang melakukan perkawinan
hanya untuk kepentingan pribadi dan merugikan pihak lain.

B. Saran
 Dengan adanya perkawinan di harapkan dapat mebentuk keluarga yang
sakinah, mawaddah wa rahmah, dunia dan akhirat.
 Perkawinan menjadi wadah bagi pendidikan dan pembentukan manusia baru,
yang kedepannya diharapkan mempunyai kehidupan dan masadepan yang
lebih baik.
 Dengan adanya kepala keluarga yang memimpin bahtera keluarga, kehidupan
diharapkan menjadi lebih bermakna, dan suami-suami dan istri-istri akhir
zaman ini memiliki semangat yang tinggi di jalan Allah. Amin!

11
DAFTAR PUSTAKA

Pernikahan. Dalam https://id.wikipedia.org/wiki/Pernikahan. Akses 12


Oktober 2018.

Qomariyah, Nurlailatul. 2016. Perkawinan Menurut Perundang-Undangan Di


Indonesia. Dalam
https://nurlailatulqomariyah.wordpress.com/2016/06/13/bab-2-
perkawinan-menurut-perundang-undangan-di-indonesia/. Akses 12
Oktober 2018.

12