Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA PASIEN BPH (BENIGN PROSTATIC HYPERTROPHY)

Oleh :

Ni Luh Putu Putri Widiari (P07120216010)

KEMENTERIAN KESEHATAN R.I.


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN DENPASAR
TAHUN 2018
A. Konsep Dasar Penyakit
1. Definisi/Pengertian
- Hipertrofi prostat adalah perbesaran kelenjar prostat yang membesar,
memanjang kearah depan kedalam kandung kemih dan menyumbat aliran
keluar urine, dapat mengakibatkan hidronefrosis dan hidroureter. Penyebabnya
tidak pasti, tetapi bukti-bukti menunjukkan adanya keterlibatan hormonal.
Kondisi ini yang umum terjadi pada pria diatas usia 50 tahun (Pierce & Neil,
2006).
- BPH adalah penyakit yang disebabkan oleh penuaan dimana terjadi
pertumbuhan nodul-nodul fibroadenomatosa majemuk dalam prostat;
pertumbuhan tersebut di mulai dari bagian periuretral sebagai proliferasi yang
terbatas dan tumbuh dengan menekan kelenjar normal yang tersisa dan
pembesaran bagian periuretral akan menyebakan obstruksi leher kandung
kemih dan urertra pars prostatika yang mengakibatkankan berkurangnya aliran
kemih dari kandung kemih (Price & Wilson, 2006)
- BPH merupakan pertumbuhan berlebihan dari prostat yang bersifat jinak dan
bukan kanker, dimana yang umumnya diderita oleh kebanyakan pria pada
waktu meningkatnya usia sehingga dinamakan penyakit orang tua. Perbesaran
dari kelenjar ini lambat laun akan mengakibatkan penekanan pada saluran urin
sehingga menyulitkan berkemih (Rahardja, 2010).
Jadi, dapat disimpulkan bahwa BPH merupakan keadaan dimana terjadi
pembesaran pada kelenjar prostat yang dapat menyebabkan obstruksi pada leher
kandung kemih dan menyumbat aliran urine keluar. Kondisi ini umumnya terkait
dengan proses penuaan dan terjadi pada pria di atas usia 50 tahun.
2. Penyebab/Faktor Predisposisi
Menurut Pakasi (2009) penyebab pasti BPH sampai sekarang belum diketahui.
Namun yang pasti kelenjar prostat sangat tergantung pada hormon androgen. Faktor
lain yang erat kaitannya dengan BPH adalah proses penuaan. beberapa factor
kemungkinan penyebab antara lain :
a. Perubahan keseimbangan hormon estrogen – testoteron
Pada proses penuaan pada pria terjadi peningkatan hormon estrogen dan
penurunan testosteron yang mengakibatkan hiperplasi stroma.

b. Interaksi stroma – epitel


Peningkatan epidermal gorwth factor atau fibroblast growth factor dan
penurunan transforming growth factor beta menyebabkan hiperplasi stroma dan
epitel.
c. Peningkatan Dehidrotestosteron (DHT)
Dehidrotestosteron yang berasal dan testosteron dengan bantuan enzim 5α-
reduktase diperkirakan sebagai mediator utama pertumbuhan prostat. Dalam
sitoplasma sel prostat ditemukan reseptor untuk dehidrotestosteron (DHT).
Reseptor ini jumlahnya akan meningkat dengan bantuan estrogen. DHT yang
dibentuk kemudian akan berikatan dengan reseptor membentuk DHT-Reseptor
kompleks. Kemudian masuk ke inti sel dan mempengaruhi RNA untuk
menyebabkan sintesis protein sehingga terjadi protiferasi sel (Hardjowidjoto,
2000).
d. Apoptosis
Kematian sel berakibat terjadinya kondensasi dan fragmentasi sel. Sel yang
telah mati tersebut akan difagositosis sel sekitarnya dan didegradasi oleh enzim
lisosom. Hal ini, menyebabkan pertambahan massa prostat.
3. Patofisiologi
Dihidrotestosteron (DHT) adalah metabolit hormone testosterone yang
merupakan mediator pokok pertumbuhan kelenjar prostat. Hormone ini disintesis di
dalam kelenjar prostat dari hormone testosterone yang beredar dalam darah, dimana
proses tersebut terjadi melalui kerja enzim 5α-reduktase, tipe 2. Walaupun DHT
terlihat sebagai factor trofik utama yang memediasi hyperplasia kelenjar prostat,
hormone estrogen juga ikut terlibat. Interaksi stroma-epitel yang dimediasi oleh
factor-faktor pertumbuhan peptide juga memberikan kontribusinya. Gejala klinis
obstruksi traktus urinarius inferior terjadi karena kontraksi kelenjar prostat yang
dimediasi oleh otot polos pada kelenjar tersebut. Tegangan otot polos kelenjar
prostat dimediasi oleh adenoreseptor α1 yang hanya terdapat di dalam stroma
kelenjar prostat (Mitchell et al, 2008).
Secara makroskopik, pembesaran kelenjar terjadi karena adanya nodul-
nodul dengan ukuran bervariasi dalam zona transisi (daerah periuretral) (Mitchell
et al, 2008). Hiperplasia prostatika adalah pertumbuhan nodul-nodul
fibroadenomatosa majemuk dalam prostat. Pertumbuhan tersebut dimulai dari
bagian periuretral sebagai proliferasi yang terbatas dan tumbuh dengan menekan
kelenjar normal yang tersisa. Jaringan hiperplastik terutama terdiri dari kelenjar
dengan stroma fibrosa dan otot polos yang jumlahnya berbeda-beda. Prostat
tersebut mengelilingi uretra, dan pembesaran bagian peri uretral akan menyebabkan
obstruksi leher vesika urinaria dan uretra pars prostatika, yang mengakibatkan
berkurangnya aliran urine dari vesika urinaria. Penyebab BPH kemungkinan
berkaitan dengan penuaan dan disertai dengan perubahan hormon. Dengan
penuaan, kadar testosteron serum menurun dan kadar esterogen serum meningkat.
Terdapat teori bahwa rasio esterogen/androgen yang lebih tinggi akan merangsang
hiperplasia jaringan prostat (Price and Wilson, 2005).
4. Path Way

Faktor usia Faktor


hormonal

BPH

» Kesulitan Penatalaksanaan operasi : TURP


berkemih & Open Prostatektomi
» Retensi
urin
» Sakit saat
Kurangnya informasi, belum Adanya luka operasi,
berkemih
adanya pengalaman terpasang katetr
» Urin
menetes
» BAK tidak

Masalah Masalah
Masalah keperawatan : keperawatan :
keperawatan : Retensi Kurangnya Cemas
urin pengetahuan

Masalah keperawatan ;
Nyeri akut

Masalah keperawatan :
Risiko infeksi

5. Klasifikasi Kerusakan Integritas


Jaringan
Secara klinik derajat berat, dibagi menjadi 4 gradiasi, yaitu (Sjamsuhidayat & De
Jong, 2005) :
a. Derajat 1
Apabila ditemukan keluhan prostatismus, pada DRE (digital rectal
examination) atau colok dubur ditemukan penonjolan prostat dan sisa urine
kurang dari 50 ml.
b. Derajat 2
Ditemukan tanda dan gejala seperti pada derajat 1, prostat lebih menonjol, batas
atas masih teraba dan sisa urine lebih dari 50 ml tetapi kurang dari 100 ml.
c. Derajat 3
Seperti derajat 2, hanya batas atas prostat tidak teraba lagi dan sisa urin lebih
dari 100 ml.
d. Derajat 4
Apabila sudah terjadi retensi urine total.
6. Gejala Klinis
Kompleks gejala obstruktif dan iritatif mencangkup peningkatan frekuensi
berkemih, nokturia, dorongan ingin berkemih, anyang-anyangan, abdomen tegang,
volume urine menurun, dan harus mengejan saat berkemih, aliran urine tidak
lancar, dribling (keadaan dimana urine terus menetes setelah berkemih), rasa seperti
kandung kemih tidak kosong dengan baik, retensi urine akut (bila lebih dari 60 ml
urine tetap berada dalam kandung kemih setelah berkemih), dan kekambuhan
infeksi saluran kemih. Pada akhirnya, dapat terjadi azotemia (akumulasi produk
sampah nitrogen) dan gagal ginjal dengan retensi urine kronis dan volume residu
yang besar. Gejala generalisata juga mungkin tampak, termasuk keletihan,
anoreksia, mual dan muntah, dan rasa tidak nyaman pada epigastrik (Smeltzer,
2001).
Tanda dan gejala yang sering terjadi adalah gabungan dari hal-hal berikut
dalam derajat yang berbeda-beda yaitu sering berkemih, nokturia, urgensi (kebelet),
urgensi dengan inkontinensia, tersendat-sendat, mengeluarkan tenaga untuk
mengalirkan kemih, rasa tidak puas saat berkemih, inkontinensia overflow, dan
kemih yang menetes setelah berkemih. Kandung kemih yang teregang dapat teraba
pada pemeriksaan abdomen, dan tekanan suprapubik pada kandung kemih yang
penuh akan menimbulkan rasa ingin berkemih. Prostat diraba sewaktu pemeriksaan
rectal untuk menilai besarnya kelenjar (Price and Wilson, 2005).
7. Pemeriksaan Fisik
a. Dilakukan dengan pemeriksaan tekanan darah, nadi dan suhu. Nadi dapat
meningkat pada keadaan kesakitan pada retensi urin akut, dehidrasi sampai syok
pada retensi urin serta urosepsis sampai syok – septik.
b. Pemeriksaan abdomen dilakukan dengan tehnik bimanual untuk mengetahui
adanya hidronefrosis, dan pyelonefrosis. Pada daerah supra simfiser pada
keadaan retensi akan menonjol. Saat palpasi terasa adanya ballotemen dan klien
akan terasa ingin miksi. Perkusi dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya
residual urin.
c. Penis dan uretra untuk mendeteksi kemungkinan stenose meatus, striktur uretra,
batu uretra, karsinoma maupun fimosis.
d. Pemeriksaan skrotum untuk menentukan adanya epididimitis
e. Rectal touch / pemeriksaan colok dubur bertujuan untuk menentukan konsistensi
sistem persarafan unit vesiko uretra dan besarnya prostat. Dengan rectal toucher
dapat diketahui derajat dari BPH, yaitu :
a) Derajat I = beratnya  20 gram.
b) Derajat II = beratnya antara 20 – 40 gram.
c) Derajat III = beratnya  40 gram.

8. Pemeriksaan Diagnostik
a. Uji laboratorium yang dilakukan mencakup pemeriksaan:
- Nitrogen urea darah (BUN) dan kreatinin serum (SC) untuk menyingkirkan
gagal ginjal
- Urinalisis dan biakan urine untuk menyingkirkan infeksi saluran kemih
b. Pielografi intravena (IVP) atau US biasanya tidak dilakukan pada pria dengan
hasil normal pada pemeriksaan laboratorium sederhana. Pemeriksaan ini
dicadangkan untuk pasien dengan hematuria atau dicurigai mengidap
hidronefrosis.
c. Urodinamik dengan uroflowmetry dan sistometri dapat menilai makna BPH.
Pada pemeriksaan ini, pasien berkemih dan berbagai pengukuran dilakukan.
Pada uroflowmetry, pasien berkemih minimal 150 mL, kemudian laju maksimal
aliran urin dicatat.
d. USG (Ultrasonografi), digunakan untuk memeriksa konsistensi, volume dan
besar prostat juga keadaan buli – buli termasuk residual urin. Pemeriksaan
dapat dilakukan secara transrektal, transuretral dan supra pubik.
e. Sistouretroskopi biasanya dicadangkan untuk pasien yang mengalami hematuria
dengan sebab yang belum diketahui setelah dilakukan IVP atau US atau
praoperasi telah dilakuan untuk pasien yang memerlukan TURP.
f. Skor gejala, perkiraan volume prostat, dan pengukuran antigen spesifik-prostat
dalam serum dapat membantu memperkirakan perkembangan BPH, (McPhee
&Ganong, 2010)

9. Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan BPH secara umum menurut Grace and Borley (2007) adalah:
a. Medikamentosa, seperti mengubah asupan cairan oral; kurangi konsumsi
kafein; menggunakan Bloker α- adrenergic (misalnya fenoksibenzamin,
prazosin); antiandrogen yang bekerja selektif pada tingkat seluler prostat
(misalnya finasteride); kateterisasi intermiten jika terdapat kegagalan otot
detrusor; dan dilatasi balon dan stenting pada prostat (pada pasien yang tidak
siap operasi).
b. Pembedahan
Indikasi pembedahan pada BPH adalah :
1) Klien yang mengalami retensi urin akut atau pernah retensi urin akut.
2) Klien dengan residual urin  100 ml.
3) Terapi medikamentosa tidak berhasil.
4) Flowmetri menunjukkan pola obstruktif
Pembedahan dapat dilakukan dengan :
1) TURP (Trans Uretral Reseksi Prostat )
2) Retropubic atau Extravesical Prostatectomy
3) Perianal Prostatectomy
4) Suprapubic atau Tranvesical Prostatectomy

Menurut Sjamsuhidjat (2005), dalam penatalaksanaan pasien dengan BPH


tergantung pada stadium-stadium dari gambaran klinis, yaitu:
a. Stadium I, biasanya belum memerlukan tindakan bedah, diberikan pengobatan
konservatif, misalnya menghambat adrenoresptor alfa seperti alfazosin dan
terazosin. Keuntungan obat ini adalah efek positif segera terhadap keluhan,
tetapi tidak mempengaruhi proses hiperplasi prostat. Sedikitpun kekurangannya
adalah obat ini tidak dianjurkan untuk pemakaian lama.
b. Stadium II, merupakan indikasi untuk melakukan pembedahan biasanya
dianjurkan reseksi endoskopi melalui uretra (trans uretra)
c. Stadium III, reseksi endoskopi dapat dikerjakan dan apabila diperkirakan
prostat sudah cukup besar, sehinga reseksi tidak akan selesai dalam 1 jam.
Sebaiknya dilakukan pembedahan terbuka. Pembedahan terbuka dapat
dilakukan melalui trans vesika, retropubik dan perineal.
d. Stadium IV, yang harus dilakukan adalah membebaskan penderita dari retensi
urin total dengan memasang kateter atau sistotomi. Setelah itu, dilakukan
pemeriksaan lebih lanjut untuk melengkapi diagnosis, kemudian terapi
definitive dengan TUR atau pembedahan terbuka.
Pada penderita yang keadaan umumnya tidak memungkinkan dilakukan
pembedahan dapat dilakukan pengobatan konservatif dengan memberikan obat
penghambat adrenoreseptor alfa. Pengobatan konservatif adalah dengan
memberikan obat anti androgen yang menekan produksi LH.
10. Komplikasi
Menurut Sjamsuhidajat dan De Jong (2005) komplikasi BPH adalah :
1. Retensi urin akut, terjadi apabila buli-buli menjadi dekompensasi
2. Infeksi saluran kemih
3. Involusi kontraksi kandung kemih
4. Refluk kandung kemih
5. Hidroureter dan hidronefrosis dapat terjadi karena produksi urin terus berlanjut
maka pada suatu saat buli-buli tidak mampu lagi menampung urin yang akan
mengakibatkan tekanan intravesika meningkat.
6. Gagal ginjal bisa dipercepat jika terjadi infeksi
7. Hematuri, terjadi karena selalu terdapat sisa urin, sehingga dapat terbentuk batu
endapan dalam buli-buli, batu ini akan menambah keluhan iritasi. Batu tersebut
dapat pula menibulkan sistitis, dan bila terjadi refluks dapat mengakibatkan
pielonefritis.
8. Hernia atau hemoroid lama-kelamaan dapat terjadi dikarenakan pada waktu
miksi pasien harus mengedan.

B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan


1. Pengkajian
a. Pemeriksaan fisik
1) Pemeriksaan rektum dengan jari tangan dapat mengungkapkan pembesaran
fokal atau difus prostat
2) Pemeriksaan abdomen bawah (simpisis pubis) dapat memperlihatkan
pembesaran kandung kemih (McPhee & Ganong, 2010)
3) Abdomen: Defisiensi nutrisi, edema, pruritus, echymosis menunjukkan
renal insufisiensi dari obstruksi yang lama.
4) Kandung kemih
- Inspeksi : penonjolan pada daerah supra pubik menunjukan adanya
retensi urine
- Palpasi : akan terasa adanya ballotement dan ini akan menimbulkan
pasien ingin buang air kecil yang menunjukan adanya retensi urine
- Perkusi : suara redup menunjukan adanya residual urine.
5) Pemeriksaan penis: uretra kemungkinan adanya penyebab lain misalnya
stenose meatus, striktur uretra, batu uretra/femosis.
6) Pemeriksaan Rectal Toucher (Colok Dubur) dilakukan dengan posisi knee
chest dengan syarat vesika urinaria kosong/dikosongkan. Tujuannya adalah
untuk menentukan konsistensi prostat dan besar prostat.
b. Pengkajian 11 Pola Fungsional Gordon
1. Pola persepsi dan Manajemen kesehatan
Biasanya kasus BPH terjadi pada pasien laki-laki yang sudah tua, dan
pasien biasanya tidak memperdulikan hal ini, karena sering mengatakan
bahwa sakit yang diderita nya pengaruh umur yang sudah tua. Perawat
perlu mengkaji apakah klien mengetahui penyakit apa yang dideritanya?
Dan apa penyebab sakitnya saat ini?
2. Pola nutrisi dan metabolic
Terganggunya sistem pemasukan makan dan cairan yaitu karena efek
penekanan/nyeri pada abomen (pada preoperasi), maupun efek dari
anastesi pada postoperasi BPH, sehingga terjadi gejala: anoreksia, mual,
muntah, penurunan berat badan, tindakan yang perlu dikaji adalah awasi
masukan dan pengeluaran baik cairan maupun nutrisinya.

3. Pola Eliminasi
Gangguan eliminasi merupakan gejala utama yang seringkali dialami oleh
pasien dengan preoperasi, perlu dikaji keragu-raguan dalam memulai
aliran urin, aliran urin berkurang, pengosongan kandung kemih inkomplit,
frekuensi berkemih, nokturia, disuria dan hematuria. Sedangkan pada
postoperasi BPH yang terjadi karena tindakan invasif serta prosedur
pembedahan sehingga perlu adanya obervasi drainase kateter untuk
mengetahui adanya perdarahan dengan mengevaluasi warna urin. Evaluasi
warna urin, contoh : merah terang dengan bekuan darah, perdarahan
dengan tidak ada bekuan, peningkatan viskositas, warna keruh, gelap
dengan bekuan. Selain terjadi gangguan eliminasi urin, juga ada
kemugkinan terjadinya konstipasi. Pada post operasi BPH, karena
perubahan pola makan dan makanan.
4. Pola latihan- aktivitas
Adanya keterbatasan aktivitas karena kondisi klien yang lemah dan
terpasang traksi kateter selama 6 – 24 jam. Pada paha yang dilakukan
perekatan kateter tidak boleh fleksi selama traksi masih diperlukan, klien
juga merasa nyeri pada prostat dan pinggang. Klien dengan BPH
aktivitasnya sering dibantu oleh keluarga.
5. Pola istirahat dan tidur
Pada pasien dengan BPH biasanya istirahat dan tidurnya terganggu,
disebabkan oleh nyeri pinggang dan BAK yang keluar terus menerus
dimana hal ini dapat mengganngu kenyamanan klien. Jadi perawat perlu
mengkaji berapa lama klien tidur dalam sehari, apakah ada perubahan
lama tidur sebelum dan selama sakit/ selama dirawat?
6. Pola konsep diri dan persepsi diri
Pasien dengan kasus penyakit BPH seringkali terganggu integritas egonya
karena memikirkan bagaimana akan menghadapi pengobatan yang dapat
dilihat dari tanda-tanda seperti kegelisahan, kacau mental, perubahan
perilaku.
7. Pola kognitif- perceptual
Klien BPH umumnya adalah orang tua, maka alat indra klien biasanya
terganggu karena pengaruh usia lanjut. Namun tidak semua pasien
mengalami hal itu, jadi perawat perlu mengkaji bagaimana alat indra klien,
bagaimana status neurologis klien, apakah ada gangguan?
8. Pola peran dan hubungan
Pada pasien dengan BPH merasa rendah diri terhadap penyakit yang
diderita nya. Sehingga hal ini menyebabkan kurangnya sosialisasi klien
dengan lingkungan sekitar. Perawat perlu mengkaji bagaimana hubungan
klien dengan keluarga dan masyarakat sekitar? apakah ada perubahan
peran selama klien sakit?
9. Pola reproduksi- seksual
Pada pasien BPH baik preoperasi maupun postoperasi terkadang
mengalami masalah tentang efek kondisi/terapi pada kemampuan
seksualnya, takut inkontinensia/menetes selama hubungan intim,
penurunan kekuatan kontraksi saat ejakulasi, dan pembesaran atau nyeri
tekan pada prostat.
10. Pola koping dan toleransi stres
Klien dengan BPH mengalami peningkatan stres karena memikirkan
pengobatan dan penyakit yang dideritanya menyebabkan klien tidak bisa
melakukan aktivitas seksual seperti biasanya, bisa terlihat dari perubahan
tingkah laku dan kegelisahan klien. Perawat perlu mengkaji bagaimana
klien menghadapi masalah yang dialami? Apakah klien menggunakan
obat-obatan untuk mengurangi stresnya?
11. Pola keyakinan dan nilai
Pasien BPH mengalami gangguan dalam hal keyakinan, seperti gangguan
dalam beribadah shalat, klien tidak bisa melaksanakannya, karena BAK
yang sering keluar tanpa disadari. Perawat juga perlu mengkaji apakah ada
pantangan dalam agama klien untuk proses pengobatan?

2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada pasien BPH yaitu:
a) Gangguan eleminasi urin berhubungan dengan obstruks anatomik (BPH)
ditandai dengan BAK frekuensi sering namun sedikit-sedikit, nokturia, dysuria,
retensi urine, urgensy (dorongan berkemih), anyang-anyangan, dan dribling.
b) Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis (BPH) ditandai dengan
melaporkan nyeri secara verbal, peningkatan denyut nadi, peningkatan
frekuensi pernapasan, peningkatan tekanan darah, meringis, melokalisasi nyeri.
c) Risiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif (pemasangan kateter).
d) Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan prosedur pembedahan
ditandai dengan adanya luka insisi pembedahan.
e) Ansietas berhubungan dengan kurang pajanan informasi ditandai dengan
pengungkapan masalah.
3. Rencana Asuhan Keperawatan
Diagnosa
No Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Rasional
Keperawatan
1 Gangguan eleminasi Setelah diberikan asuhan NIC Label: Urinary Elimination Urinary Elimination Management
urin berhubungan keperawatan selama…. x 24 Management 1. Memonitor adanya perubahan
dengan obstruks jam, diharapkan pasien 1. Monitor eleminasi urin termasuk pola eliminasi
anatomik (BPH) dapat berkemih dengan frequensi, konsistensi, bau, volume, dan 2. Prevensi terjadinya retensi urin
ditandai dengan kriteria hasil: warna jika diperlukan yang berat
BAK frekuensi NOC Label : Urinary 2. Monitor tanda dan gejala dari retensi 3. Mengurangi kejadian
sering namun Elimination urinary ketidaknyamanan
sedikit-sedikit, a. Pola eleminasi klien 3. Identifikasi factor kontribusi yang 4. Mengevaluasi keseimbangan
nokturia, dysuria, teratur menyebabkan gangguaneliminasi urine input dan output cairan
b. Jumlah urin dalam
retensi urine, 4. Instruksikan klien dan keluarga mencatat 5. Untuk mengetahui pola berkemih
rentang normal (0.5 – 1
urgensy (dorongan urinary output jika diperlukan klien
cc/kgBB/jam)
berkemih), anyang- 5. Catat waktu berkemih
c. Tidak nyeri saat
anyangan, dan Urinary Retention Care
berkemih
dribling d. Tidak mengalami 1. Rangsang refleks kandung kemih dengan Urinary Retention Care
nokturia mengaplikasikan kompres dingin di perut, 1. Memberikan perawatan yang
e. Tidak mengalami retensi
mengelus paha bagian dalam atau dengan lebih spesifik untuk mengatasi
urine
air mengalir inkontinensia klien
f. Warna urine jernih
2. Minta klien dan keluarga memperhatikan
2. Membantu mengosongkan
kekuningan
input dan output cairan klien
g. Pengosongan kandung kandung kemih dengan teknik
3. Memonitor input dan output cairan klien
kemih yang sempurna Urinary Catheterization nonfarmakologis
h. Tidak ada darah ketika
1. Jelaskan prosedur pemasangan kateter 3. Membantu klien untuk
berkemih 2. Gunakan teknik sterile ketika melakukan
mengosongkan kandung kemih
i. Pasien tidak merasa
pemasangan kateter
4. Memandirikan klien dan keluarga
panas ketika berkemih 3. Gunakan selang kateter dengan ukuran yg
5. Memastikan apakah output sesuai
paling kecil, tidak memaksakan ukuran
dengan input cairan klien
yang besar
4. Tunjukkan dan ajarkan pasien untuk
melakukan perawatan kateter atau Urinary Catheterization
pengosongan urin bag. 1. Meningkatkan pengetahuan klien
Medication Management dan keluarga serta menurunkan
1. Berikan obat apa yang dibutujkan dan kecemasan klien terhadap
diadministrasikan menurut resep dan prosedur yang akan dilakukan
prosedur 2. Mencegah terjadinya infeksi
2. Monitor efek therapeutik dari obat 3. Menurunkan rasa nyeri pada saat
3. Monitor tanda dan gejala adanya efek prosedur dilakukan, mencegah
toksik terjadinya ruptur pembuluh darah
4. Monitor efek samping dari obat pada saluran kemih.
5. Pantau ketaatan pasien terhadap regiment 4. Mencegah terjadinya infeksi
medication akibat pemasangan kateter
6. Kaji pengetahuan klien tentang obat
7. Ajarkan klien dan keluarga prosedur terapi Medication Management
obat 1. Penanganan farmakologis untuk
8. Ajarkan klien tanda dan gelaja dari efek penyebab gangguan
terapi, efek samping dan efek toksik dari 2. Memantau keefektifan
regimen terapi pemberian medikasi
3. Menghindari adanya respon
Bladder Irrigation yang merugikan
4. Menghindari efek yang tidak
1. Pastikan apakah irigasi akan terus
diinginkan
berkelanjutan atau intermiten (sesuai
5. Monitoring perbaikan prilaku
kebutuhan)
2. Lakukan irigasi dengan teknik steril untuk mempercepat
3. Bersihkan tempat untuk memasukan dan penyembuhan
cairan mengeluarkan cairan dengan 6. Meningkatkan pengetahuan
alkohol klien tentang medikasi yang
4. Monitor dan pertahankan kecepatan aliran
diberikan
yang sesuai
5. Catat cairan yang digunakan, karakteristik 7. Meningkatkan pemahaman klien
output dan jumlahnya. dan keluarga mengenai cara
penggunaan obat
8. Agar klien paham tentang efek
samping dan penanganannya

Bladder Irrigation

1. Agar tindakan yang dilakukan


benar dan tidak membahayakan
kondisi pasien
2. Untuk mencegah terjadinya
infeksi
3. Tujuan membersihkannya adalah
agar tidak ada kontaminasi
bakteri yang dapat menyebabkan
infeksi apabila masuk ke tubuh
pasien
4. Agar cairan yang masuk tidak
kurang dan tidak lebih serta
sesuai dengan kondisi bladder
pasien.
Jumlah cairan yang masuk harus
seimbang dengan yang keluar
sehingga tidak ada cairan yang
tertahan di dalam tubuh pasien.
Karakteristik output mencerminkan
keadaan bladder pasien
2 Nyeri akut Setelah dilakukan asuhan NIC Label : Pain Management Pain Management
berhubungan dengan keperawatan selama ...x 24
1 Kaji nyeri secara koprehensif (lokasi, 1 Nyeri merupakan pengalaman
agen cedera biologis jam diharapkan nyeri klien
karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas subjektif dan harus dijelaskan oleh
(BPH) ditandai dapat teratasi dengan
dan factor presipitasi) pasien. Identifikasi karakteristik
dengan melaporkan kriteria hasil 2 Eliminasi factor yang memicu terjadinya nyeri dan factor yang berhubungan
nyeri secara verbal, nyeri dengan nyeri merupakan hal yang
NOC Label : Pain Level 3 Kalaborasi pemberian terapi analgetik
peningkatan denyut penting untuk dikaji, untuk
secara tepat
nadi, peningkatan 1. Pasien melaporkan skala memilih intervensi yang tepat dan
4 Anjurkan teknik nonfarmakologi seperti
frekuensi nyeri berkurang mengevaluasi keefektifan dari
relaksasi, distraksi, napas dalam sebelum
2. Pasien tidak tampak
pernapasan, terapi yang diberikan
nyeri terjadi atau meningkat
melokalisasi nyeri dan 2 Faktor pencetus nyeri dapat
peningkatan tekanan 5 Gunakan strategi komunikasi terapeutik
tidak tampak meringis meningkatkan nyeri pasien
darah, meringis, untuk memberikan terapi Nonfarmakologi
3. Respiration rate pasien 3 Agen- agen analgetik secara
melokalisasi nyeri NIC Label : Vital Sign
normal (16-20x /menit) sistemik dapat menghasilkan relaksasi
4. Tekanan darah normal umum
1. Pantau tanda-tanda vital pasien (tekanan
(120/80 mmHg) 4 Tindakan distraksi dan relaksasi
5. Nadi normal (60- darah, nadi, suhu dan respirasi) memungkinkan klien untuk
100x/menit) mengontrol rasa nyeri rasa nyeri yang
NOC Label : Pain contol muncul secara mandiri
5 Komunikasi terapeutik diperlukan
1 Menggunakan analgetik dalam menjalin BHSP dan
seperti yang tidak memudahkan perawat dalam

direkomendasikan memberikan intervensi


2 Pasien dapat melaporkan Vital Sign
ketika tidak dapat
Tanda-tanda vital mampu
mengontrol nyeri
menentukan perubahan-perubahan
yang terjadi dalam tubuh pasien.
3 Risiko infeksi Setelah dilakukan tindakan NIC Label : Infection Control NIC Label : Infection Control
berhubungan dengan keperawatan selama .....x24 1. Bersihkan lingkungan setelah dipakai 1. Mencegah terjadinya infeksi
prosedur invasive jam status kekebalan pasien pasien lain nosocomial yang dapat
2. Batasi pengunjung bila perlu
(pemasangan kateter) meningkat dengan kriteria memperburuk kondisi pasien
3. Instruksikan pengunjung untuk mencuci
hasil: baru
tangan saat berkunjung dan setelah
NOC Label: 2. Mengurangi resiko infeksi yang
berkunjung
Risk Control : Infectious 4. Gunakan sabun anti mikroba untuk cuci mungkin ditularkan oleh
Process tangan pengunjung
5. Cuci tangan sebelum dan sesudah
a. Dapat mengidentifikasi 3. Mengurangi kuman yang
tindakan keperawatan
factor risiko infeksi ditularkan melalui tangan
6. Gunakan universal precaution dan
b. Mampu melaksanakan
pengunjung
gunakan sarung tangan selama kontak
peningkatan waktu
4. Membantu membunuh kuman
dengan kulit yang tidak utuh
istirahat
7. Tingkatkan intake nutrisi dan cairan yang ditularkan melalui tangan
c. Mampu
8. Berikan terapi antibiotik bila perlu
5. Mencegah terjadinya infeksi
mempertahankan 9. Observasi dan laporkan tanda dan gejal
selama melakukan intervensi
kebersihan lingkungan infeksi seperti kemerahan, panas, nyeri,
d. Mengetahui risiko keperawatan
tumor
infeksi personal 10. Kaji temperatur tiap 4 jam 6. Mengurangi resiko terjadinya
e. Mengetahui kebiasaan 11. Catat dan laporkan hasil laboratorium,
infeksi akibat kontak dengan
yang berhubungan WBC
kulit yang tidak utuh
12. Istirahat yang adekuat
dengan risiko infeksi
13. Kaji warna kulit, turgor dan tekstur, cuci 7. Nutrisi dan cairan dapat
kulit dengan hati-hati meningkatkan imunitas pasien
14. Ajarkan klien dan anggota keluarga
8. Mengurangi infeksi yang dialami
bagaimana mencegah infeksi
pasien
9. Agar dapat melakukan
penanganan infeksi dengan
segera
10. Perubahan temperature
merupakan salah satu indicator
terjadinya infeksi
11. Peningkatan WBC menunjukkan
terjadinya infeksi pada pasien
12. Istirahat yang cukup dapat
membantu meningkatkan
imunitas pasien

4 Kerusakan integritas Setelah dilakukan asuhan NIC Label: Wound Care Wound Care
1. Monitor karakteristik luka termasuk 1. Untuk mengetahui jenis luka dan
jaringan keperawatan selama ....x 24
drainase, warna, ukuran, dan bau. keadaan luka pasien.
berhubungan dengan jam diharapkan terjadi
2. Bersihkan luka dengan normal saline 2. Cairan normal saline merupakan
prosedur perluasan regenerasi sel
menggunakan teknik steril cairan fisiologis (mirip cairan
pembedahan ditandai dengan kriteria hasil : 3. Rawat kulit di sekitar luka
tubuh) sehingga aman untuk
NOC Label: Wound 4. Gunakan obat salep kulit sesuai
dengan adanya luka
digunakan, teknik steril
Healing: Primary kebutuahan apabila diindikasikan.
insisi pembedahan
5. Terapkan balutan yang disesuaikan digunakan untuk mencegah
Intention
a. Pembentukan jaringan dengan tipe luka terjadinya infeksi.
6. Ajarkan pasien dan keluarga tentang 3. Mencegah terjadinya iritasi pada
granulasi (luka mulai
menutup) prosedur perawatan luka kulit dan membantu
b. Tidak ditemukan eksudat 7. Monitor keadaan luka
mempercepat proses
purulen dan serousa
penyembuhan luka.
c. Tidak ada pembekakan,
NIC Label: Infection Protection 4. Untuk membantu proses
eritema, dan bau pada
penyembuhan luka dan menjaga
luka 1. Monitor adanya tanda
kelembaban kulit
dan gejala sistemik atau local dari infeksi 5. Menjaga luka tetap tertutup serta
2. Anjurkan pemberian
NOC Label: Tissue tidak terpapar mikroorganisme.
antibiotic sesuai resep dokter bila 6. Agar pasien dan keluarga dapat
Integrity
diperlukan melakukan secara mandiri
3. Ajarkan pasien dan
1. Perfusi jaringan normal terutama saat dirawat di rumah.
2. ketebalan dan tekstur keluarga tentang tanda dan gejala infeksi 7. Mengetahui perkembangan luka
4. Ajarkan pasien untuk
jaringan normal
mencegah terjadinya infeksi
Infection Protection

1. Mengetahui terjadinya infeksi


2. Pemberian antibiotic adalah
untuk membantu melawan
mikroorganisme pathogen
penyebab infeksi
3. Agar dapat segera melaporkan
ke pelayanan kesehatan serta
mencegah terjadinya komplikasi
4. Agar tidak terjadi infeksi.
6 Ansietas Setelah dilakukan tindakan NIC Label : Teaching : Disease Proces Teaching : Disease Process
berhubungan dengan keperawatan selama .....x24 1. Berikan penilaian tentang tingkat 1. Tingkat pengetahuan pasien akan
kurang pajanan jam pasien mengetahui pengetahuan pasien tentang proses mempengaruhi perilaku sehat
ditandai dengan tentang proses penyakit penyakit yang spesifik pasien
2. Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan
pengungkapan dengan kriteria hasil: 2. Meningkatkan pengetahuan
bagaiman hal ini berhubungan dengan
masalah NOC Label: Knowledge : pasien mengenai penyakit yang
anatomi dan fisiologi
Disease Process dialaminya
3. Gambarkan tanda dan gejala yang biasa
a. Pasien dan keluarga 3. Mengajarkan pasien untuk
muncul pada penyakit
familiar dengan nama 4. Gambarkan proses penyakit mengenal tanda dan gejala yang
5. Identifikasi kemungkinan penyebab
penyakit mungkin terjadi
b. Pasien dan keluarga dengan cara yang tepat
4. Meningkatkan pengetahuan
6. Sediakan informasi tentang kondisi pasien
mampu
7. Sediakan keluarga informasi tentang pasien mengenai penyakit yang
mendeskripsikan proses
kemajuan pasien dialaminya
penyakit, faktor 8. Diskusikan perubahan gaya hidup yang
5. Mengetahui penyebab penyakit
penyebab, faktor risiko, mungkin diperlukan untuk mencegah
sehingga pengobatan yang
efek penyakit, tanda dan komplikasi di masa yang akan datang dan
diberikan dapat tepat sasaran
gejala, perjalanan atau proses pengontrolan penyakit
6. Agar pasien mengetahui kondisi
9. Diskusikan pilihan terapi
penyakit.
10. Gambarkan rasional rekomendasi penyakit yang sedang dialaminya
c. Pasien dan keluarga
manajemen terapi 7. Agar keluarga mengetahui
mampu
kemajuan pengobatan yang
mendeskripsikan
dijalani pasien
tindakan untuk
menurunkan 8. Perubahan gaya hidup dapat
progresifitas penyakit. membantu mempercepat proses
penyembuhan
9. Pilihan terapi yang tepat akan
mempercepat proses
penyembuhan pasien
10. Meningkatkan pengetahuan
pasien dan keluarga mengenai
intervensi yang diberikan
sehingga mampu menjalani
intervensi dengan disiplin
DAFTAR PUSTAKA

Bulechek, Gloria M., Butcher, Howard K., Dochterman, Joanne M. and Wagner, Cheryl M.
2013. Nursing Interventtions Classification (NIC), Sixth Edition.USA : Mosby
Elsevier
Davey, P. (2002). At a Glance Medicine. Jakarta: Erlangga Medical Series
Grace, P.A., dan Borley, N.R. 2007. At a Glance Ilmu Bedah Edisi Ketiga, 169. Jakarta:
Erlangga
Hardjowidjoto, S. 2000. Benigna Prostat Hiperplasi. Surabaya: Airlangga University
Press
Heffner, Linda J et al. 2005. At a Glance Sistem Reproduksi Edisi Kedua. Jakarta: Erlangga
Medical Series
Herdman, T.H. and Kamitsuru, Shigemi. 2014. Nursing Diagnoses Definitions and
Classification (NANDA) 2015-2017. Oxford: Wiley Blackwell
McPhee, Stephen J., Ganong, William F.(2010). Patofisiologi Penyakit : Pengantar
Menuju Kedokteran Klinis. Jakarta : EGC Mitchell, Kumar, Abbas, & Fausto. (2008).
Buku Saku Dasar Patologis Penyakit Robbins & Cotran. Edisi 7. Jakarta: EGC
Moorhead, Sue., Jonson, Marion., Mass, Meridean L. and Swanson, Elizabeth. 2008.
Nursing Outcomes Classification (NOC), Fifth Edition. St. Louis Missouri : Mosby
Elsevier
Pakasi, R. (2009) Total Prostate Spesific Antigen, Prostate Spesifik Antigen density and
Histophatologic Analysis on benign Enlargent of Prostate. The Indonesian Journal of
medical Science Volume 1 No.5. http://med.unhas.ac.id diakses tanggal 4 Januari
2016
Price, Sylvia A. dan Wilson, Lorraine M. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses
Penyakit Edisi 6. Jakarta : EGC

Rahardja, K. 2010. Obat-Obat Sederhana Untuk Gangguan Sehari-hari. Jakarta: Gramedia.


http://books.google.co.id/books?
id=6GUZoTu03b4C&pg=PA112&dq=benign+prostatic+hyperplasia+adalah&hl=en
&sa=X&ei=lCd8VJaFFYLUuQS7nILQAg&redir_esc=y#v=onepage&q=benign
%20prostatic%20hyperplasia%20adalah&f=false (diakses pada tanggal 4 Januari
2016)

Schwartz, S.I. (2000). Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu Bedah Edisi 6. Jakarta: EGC

Sjamsuhidayat R, Wim de Jong. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. Jakarta: EGC
Smeltzer, Suzanne C & Bare, Brenda G. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Brunner & Suddarth Vol. 2 Edisi 8.Jakarta : EGC