Anda di halaman 1dari 9

“KOEFISIEN EKSPANSI TERMAL”

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang (min. 1 paragraf tanpa sitasi)
Seperti yang kita ketahui, Indonesia berada di daerah khatulistiwa yang
membuatnya rentan terhadap perubahan iklim. Iklim sendiri berpengaruh
pada kenaikan suhu udara sehingga Indonesia adalah wilayah yang
cenderung panas. Kenaikan suhu ini dapat menyebabkan zatm engalami
ekspansi termal. Ekspansi termal sendiri kecenderungan bahan untuk
berubah volumenya sebagai respon dari perubahan temperatur/suhu.
Koefisien ekspansi trmal menggambarkan bagaimana ukuran suatu objek
berubah dengan adanya perubahan temperatur.
Pemuaian dapat dialami oleh zat padat, zat, cair dan gas. Pemuaian
pada zat padat ada 3 jenis yaitu pemuaian panjang (untuk satu
demensi), pemuaian luas (dua dimensi)dan pemuaian volume (untuk tiga
dimensi). Sedangkan pada zat cairdan zat gas hanya terjadi pemuaian
volume saja. kita dapat menemukan beberapacontoh dari manfaat
pemuaian tersebut. Misalnya botol kaca yang memiliki tutup logam yang
sukar dibuka. Untuk membukanya tutup botol dipanaskan terlebih dahulu
dengan api. Ketika dipanaskan, tutup botol akan memuai sehingga tutup
akan longgar dan mudah dibuka
1.2 Tujuan Praktikum (dibuat poin )
- Memahami dan mengetahui proses pemuaian zat padat dan gas
- Mengukur besarnya koefisien ekspansi termal
- Menjelaskan pengaruh perubahan temperatur/suhu
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Ekspansi Termal (2 sitasi)
Pada umunya suatu bahan akan berekspansi apabila suhunya dinaikkan.
Ekspansi termal didefinisikan sebagai perubahan ukuran suatu bahan akibat
kenaikan satu satuan suhu (Atmoko, 2008). Pemuaian panjang suatu benda
dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu panjang awal benda, koefisien muai
panjang dan besar perubahan suhu. Koefisien muai panjang suatu benda
sendiri dipengaruhi oleh jenis benda atau jenis bahan. (Inbanathan, S.S.R.
Moorthy, K., dan G. Balasubramanian, G. 2008)
2.2 Pengertian Koefisien Ekspansi Termal (2 sitasi)
Koefisien ekspansi termal adalah fraksi penignkatan volume zat
perderajat peningkatan suhu. Ketika suatu zat dipanaskan, partikel-partikel yang
mulai bergerak lebih dan dengan demikianbiasanya mempertahankan pemisahan rata-rata
yang lebih besar. Material yang kontrak denganmeningkatnya suhu jarang, efek ini
terbatas dalam ukuran, dan hanya terjadi dalam rentang suhuterbatas Tingkat ekspansi
dibagi dengan perubahan suhu disebut koefisien material ekspansi termal dan
umumnya bervariasi dengan suhu.
2.3 Macam – Macam Koefisien Ekspansi Termal (1 sitasi) (panjelasan +
persamaan masing-masing)

2.3.1 Koefisien Ekspansi Linier (𝜶)


Perubahan dimensi linier dari suatu objek, seperti panjang, lebar, atau
tebalnya karena adanya kenaikan temperatur 1°C dinamakan koefisien
ekspansi thermal linier atau koefisien ekspansi linier. Jika suatu objek
memiliki panjang linier L pada temperatur T, maka perubahan panjang
yang berasal dari suatu perubahan temperatur ∆T adalah ∆L yang dapat
dituliskan ∆L =α L ∆T dengan α, yang dinamakan koefisien ekspansi
linier, mempunyai nilai yang berbeda-beda untuk bahan-bahan yang
berbeda. Dengan menuliskan kembali rumus ini maka kita dapatkan
∆L α = ∆TL sehingga α mempunyai arti sebagai bagian perubahan
panjang per derajat perubahan temperatur (Astuti dkk, 2009)

2.3.2 Koefisien Ekspansi Luas (𝜷)


(Kurniyati, 2008)
2.3.3 Koefisien Ekspansi Volumetrik (𝜸)

(podo nduwure)
2.4 Nilai Koefisien Termal Setiap Bahan atau Zat (1 sitasi) (Dibuat Tabel)
(minimal 5 bahan atau zat)

(Gozali, 2012)
2.5 Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Koefisien Ekspansi Termal (1 sitasi)

Kandungan uap air


Konduktifitas termal air sebesar 25x konduktifitas udara tenang.Oleh karena
ituapabila suatu benda berpori diisi air maka akan berpengaruh terhadap
konduktifitastermal.Konduktifitas termal yang rendah pada bahan insulasi adalah selaras
dengankandungan udara dalam bahan tersebut (syamsidar, 2015)
.Suhu
Pengaruh suhu terhadap konduktifitas termal suatu bahan adalah kecil.Namun secara
umum dapat dikatakan bahwa konduktifitas termal akan meningkat
apabilasuhu meningkat.
3.Kepadatan dan Porositas
Konduktifitas termal berbeda pengaruh terhadap kepadatan apabila poro-pori
bahansemakin banyak maka konduktifitas termak rendah. Perbedaan
konduktifitas termal bahandengan kepa datan yang sama, akan tergantung
kepada perbedaan struktur, yang meliputi:ukuran, distribusi, hubungan
pori/lubang.

BAB III METODE PELAKSANAAN


3.1 Alat dan Bahan
a. Termometer f. Boss head m. Pewarna
Sintetis
b. Tabung Erlemeyer 100 ml g. Penjepit klem n. Gelas Ukur
c. Slang silikon h. Korek Api o. Beaker
Glass
d. Pembakar Spirtus j. Penggaris p. Siring 10
ml
e. Statif k. Sumbat karet 2 lubang q. Stopwatch
f. Penghubung Slang silikon l. Klem Universal m. Manometer
(sertakan masing-masing gambar alat dan bahan, di print dan ditempel +
tanpa literatur)
3.2 Cara Kerja (Persiapan percobaan pemuaian gas yang telah disediakan)
(Diagram Alir)
3.3 Gambar Rangkaian Percobaan Praktikum Ekspansi Termal Volumetrik +
Penjelasan (1 sitasi) (Literature)

DAFTAR PUSTAKA (Minimal 5)


Astuti, Edi Tri. dkk. 2009. MENENTUKAN KOEFISIEN EKSPANSI
LINIER BATANG KUNINGAN DENGAN TEKNIK ESPI (ELECTRONIC
SPECKLE PATTERN INTERFEROMETRY). Jurnal Fisika Himpunan
Fisika Indonesia Vol. 9 No. 1 Hal. 32-33
Atmoko, Rahmat Dwi. 2008. Penentuan koefisien ekspansi volume zat cair
menggunakan metode pengukuran indeks bias zat cair. Skripsi sarjana.
Unibersitas Sanata Dharma: Yogyakarta
Gozali, Rahmat. 2012. Alat ukur muai panjang logam. Skripsi sarjana. Univ
indo: depok
Inbanathan, S.S.R. Moorthy, K., and G. Balasubramanian, G. 2008.
Measurement and Demonstration of Thermal Expansion Coefficient. Journal
Of Physics Teacher Vol 45, pp. 566-567
Kurniyati, Agnes. 2008. Penentuan koefisien muai panjang suatu logam
dengan interferometer Michelson. Skripsi sarjana. Unv sanata dharma: YK
Syamsidar, dkk. 2015. Studi Tentang Sifat Termal, Kuat Lentur, dan Struktur Mikro Keramik-
Geopolimer Berbasis Metakaolin. Jurnal Prosiding Pertemuan Ilmiah XXIX