Anda di halaman 1dari 22

TUGAS GERIATRI

MOBILITAS PADA ELDERLY

Disusun Oleh :

Agung Nur Kholis P27228015 062


Asri Diah Kusumawati P27228015 071
Dyah Ayu Permata P27228015 079
Feranita Agus Setiani P27228015 082
Khanif Anisa Rahmah P27228015 091
Luthfia Ayu Az Zahra P27228015094

Diajukan Guna Melengkapi


Tugas Okupasi Terapi Pada Geriatri Semester VI

PRODI DIPLOMA IV OKUPASI TERAPI


JURUSAN OKUPASI TERAPI
POLTEKKES KEMENTRIAN KESEHATAN SURAKARTA
TAHUN 2018
DAFTAR ISI

Mobilitas Pada Elderly


Pendahuluan ...........................................................................................................3
Kegiatan Belajar 1..................................................................................................5
Uraian Materi........................................................................................................5
Rangkuman .....................................................................................................17
Tes Formatif...............................................................................................18
Kunci Jawaban...............................................................................21
Daftar Pustaka.....................................................................................................22

Mobilitas Pada Elderly 2


Mobilitas Pada Elderly
P EN DA HUL UA N

Masa dewasa tua (lansia) dimulai setelah pensiun, biasanya antara usia 65
dan 75 tahun. Menua adalah proses menghilangnya secara perlahan-lahan
kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan
mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap
infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita. Proses menua merupakan
proses yang terus menerus secara alamiah dimulai sejak lahir dan umumnya
dialami oleh semua makhluk hidup (Bastaman, 2000). Proses menua adalah
proses sepanjang hidup, yang dimulai sejak permulaan kehidupan, sehingga
merupakan proses alamiah yang berarti seseorang telah melalui tiga tahap
kehidupan, yaitu anak, dewasa, dan tua (Nugroho, 2008).

Salah satu teori menua yaitu teori biologis, yang mencoba untuk
menjelaskan proses fisik penuaan, termasuk perubahan fungsi dan struktur,
pengembangan, panjang usia dan kematian. Perubahan-perubahan dalam tubuh
termasuk perubahan molekular dan seluler dalam sistem organ utama dan
kemampuan tubuh untuk berfungsi secara adekuat dan melawan penyakit. Teori
biologis juga mencoba untuk menjelaskan mengapa orang mengalami penuaan
dengan cara yang berbeda dari waktu ke waktu dan faktor apa yang
mempengaruhi umur panjang, perlawanan terhadap organisme, dan kematian
atau perubahan seluler (Stanley & Beare 2007).

Diantara perubahan itu terdapat perubahan pada muskuloskeletal


dimana pada lansia terjadi penurunan tinggi badan, redistribusi massa otot dan
lemak subkutan, peningkatan porositas tulang, atrofi otot, pergerakan yang
lambat, pengurangan kekuatan, dan kekakuan sendi-sendi (Stanley & Beare,
2007). Perubahan sistem muskuloskeletal merupakan hal yang wajar dan dialami
oleh setiap lansia yang menyebabkan berbagai kondisi seperti perubahan
penampilan, kelemahan, dan melambatnya pergerakan.

Mobilitas Pada Elderly 3


Pada Bab ini menyajikan pembahasan tentang mobilitas pada elderly.

Bab ini terdiri atas 1 (enam) sub bab :

1. Mobilitas

Setelah mempelajari bab ini diharapkan anda dapat :

1. Menjelaskan tentang definisi, pengertian mobilisasi, faktor resiko,


faktor yang mempengaruhi mobilitas dan perubahan sistem
muskuloskeletal pada lansia serta pemeriksaan-pemeriksaan fisik dan
penatalaksanaan mobilitas pada lansia.

Agar anda dapat mencapai hasil belajar yang optimum, ikutilah semua
petunjuk dalam bab ini dengan cermat. Baca semua uraian materi ini secara
berulang, aplikasikan contoh yang ada ke dalam situasi lain, kerjakan latihan
dengan sungguh-sungguh, dan baca rangkuman sebelum mengerjakan tes
formatif!

Jika anda melakukan disiplin yang tinggi dalam belajar, anda pasti berhasil
dan secara berangsur-angsur akan menjadi mahasiswa yang mampu mandiri
dalam belajar.

Mobilitas Pada Elderly 4


Kegiatan Belajar 1

Mobilitas

Kepada pembaca sekalian, disini kita akan mempelajari tentang “ Apa itu
Mobilitas? , Bagaimanakah tanda dan gejala gangguan Mobilitas? Dan seberapa
besar peluang bagi penderita Mobilitas dapat sembuh?. Mari kita simak uraian
materi berikut ini. Selamat membaca !

URAIAN MATERI

A. Pengertian Mobilisasi

Mobilisasi adalah pergerakan yang memberikan kebebasan dan


kemandirian bagi seseorang. (Miller, 2012). Mobilitas merupakan salah
satu aspek yang terpenting dalam fungsi fisiologis karena hal itu
diperlukan untuk mempertahankan kemandirian (Miller, 2012). Mobilisasi
mempunyai banyak tujuan, seperti mengekspresikan emosi dengan
gerakan nonverbal, pertahanan diri, pemenuhan kebutuhan dasar, aktivitas
hidup sehari-hari dan kegiatan rekreasi. Dalam mempertahankan mobilitas
fisik secara optimal maka sistem saraf, otot, dan skeletal harus tetap utuh
dan berfungsi dengan baik (Potter & Pery, 2005).

B. Jenis Mobilitas

Jenis mobilitas ada beberapa macam diantaranya mobilitas penuh,


mobilitas sebagian temporer dan mobilitas sebagian permanen. Mobilitas
penuh merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak secara penuh dan
bebas sehingga dapat melakukan interaksi sosial dan menjalankan peran
sehari-hari. Mobilitas penuh ini merupakan fungsi saraf motorik volunter
dan sensorik untuk dapat mengontrol seluruh area tubuh seseorang.
Mobilitas sebagian ini ada dua macam, mobilitas sebagian temporer,
dimana kemampuan individu untuk bergerak dengan batasan yang sifatnya
sementara. Hal tersebut dapat disebabkan oleh trauma reversibel pada

Mobilitas Pada Elderly 5


sistem muskuloskeletal, seperti adanya dislokasi sendi dan tulang dan
mobilitas sebagian permanen, yang merupakan kemampuan individu untuk
bergerak dengan batasan yang sifatnya menetap. Hal tersebut dapat
disebabkan oleh rusaknya sistem saraf yang reversibel. Contoh hemiplegi
karena stroke, paraplegi karena cedera tulang belakang (Carpenito, 2009).

C. Hambatan Mobilitas

Hambatan mobilitas fisik adalah suatu keadaan ketika individu


mengalami keterbatasan atau berisiko mengalami keterbatasan gerak fisik,
tetapi bukan imobilitas. Gangguan mobilitas fisik menggambarkan kondisi
individu dengan keterbatasan penggunaan lengan atau tungkai atau
keterbatasan kekuatan otot (Carpenito, 2009). Sedangkan menurut
NANDA (2012) bahwa hambatan mobilitas fisik merupakan keterbatasan
pada pergerakan fisik tubuh atau satu atau lebih ekstremitas secara mandiri
dan terarah.

Pada lansia, hambatan mobilitas fisik sering terjadi berawal karena


adanya suatu gejala atau penyakit pada tulang seperti osteoporosis hingga
menyebabkan lansiaterjatuh dan timbulnya fraktur (Pujiastuti, 2003).
Ditambahkan pula bahwa osteoporosis terjadi karena ketidakseimbangan
antara resorpsi tulang dan pembentukan tulang. Sedangkan densitas
mineral tulang berkurang sehingga tulang menjadi lebih keropos dan
mudah patah walaupun dengan trauma minimal. Kondisi tersebut akan
meningkatkan kemungkinan lansia mempunyai masalah dalam mobilitas
fisiknya.

D. Manifestasi Klinis

Karakteristik dari adanya gangguan mobilitas fisik diantaranya


(NANDA, 2012) :
1. Penurunan waktu reaksi menyebabkan lansia akan mengalami
perlambatan dalam merespon sesuatu.

Mobilitas Pada Elderly 6


2. Kesulitan membolak-balik posisi sehingga jika lansia telah berada
pada posisi tertentu pada kursi roda makaakan terus dalam keadaan
seperti itu, melakukan aktivitas lain sebagai pengganti pergerakan
(misal dengan meningkatkan perhatian pada aktivitas orang lain).
3. Dipsnea setelah beraktivitas sehingga lansia cepat capek.
4. Perubahan cara berjalan, gerakan bergetar.
5. Keterbatasan kemampuan melakukan keterampilan motorik halus.
6. Keterbatasan rentang pergerakan sendi, tremor akibat pergerakan.
7. Ketidakstabilan postur yang mempengaruhi cara berjalan,
pergerakan lambat, pergerakan tidak terkoordinasi.

E. Faktor Resiko Jatuh


Jatuh sering terjadi atau dialami oleh usia lanjut. Banyak faktor
berperan di dalamnya, baik faktor intrinsik dalam diri lansia tersebut
seperti gangguan gaya berjalan, kelemahan otot ekstremitas bawah,
kekakuan sendi, sinkope dan dizzines, serta faktor ekstrinsik seperti lantai
yang licin dan tidak rata, tersandung benda-benda, penglihatan kurang
karena cahaya kurang terang, dan sebagainya.
Jatuh adalah suatu kejadian yang dilaporkan penderita atau saksi
mata, yang melihat kejadian mengakibatkan seseorang mendadak
terbaring/terduduk di lantai/tempat yang lebih rendah dengan atau tanpa
kehilangan kesadaran atau luka (Reuben, 1996). Berdasarkan survai di
masyarakat AS, Tinetti (1992) mendapatkan sekitar 30% lansia umur lebih
dari 65 tahun jatuh setiap tahunnya, separuh dari angka tersebut
mengalami jatuh berulang.
Faktor risiko jatuh pada lansia dibagi dalam dua golongan besar,
yaitu: (Kane, 1994)
1. Faktor - faktor intrinsik (faktor dari dalam)
2. Faktor - faktor ekstrinsik (faktor dari luar)

Mobilitas Pada Elderly 7


Faktor Intrinsik Faktor Ekstrinsik

Kondisi fisik dan Obat obat yang


Neuropsikiatrik diminum

Penurunan Virus Dan FALLS Alat Bantu Berjalan


Pendengaran (JATUH)

Perubahan Neuromuskuler Gaya Lingkungan Yang Tidak


Berjalan Dan Reflek Postural Mendukung (Berbahaya)
Karena Proses Menua

Semua perubahan tersebut mengakibatkan kelambanan gerak, langkah


yang pendek, penurunan irama, dan pelebaran bantuan basal. Kaki tidak dapat
menapak dengan kuat dan lebih cenderung gampang goyah. Perlambatan reaksi
mengakibatkan seorang lansia susah/terlambat mengantisipasi bila terjadi
gangguan seperti terpleset, tersandung, kejadian tiba-tiba, sehingga memudahkan
jatuh.

Penyebab-Penyebab Jatuh Pada Lansia

Penyebab jatuh pada lansia biasanya merupakan gabungan beberapa


faktor, antara lain: (Kane, 1994; Reuben , 1996; Tinetti, 1992; campbell, 1987;
Brocklehurs, 1987).

1. Kecelakaan : merupakan penyebab jatuh yang utama (30-50% kasus jatuh


lansia)
Murni kecelakaan misalnya terpeleset, tersandung
Gabungan antara lingkungan yang jelek dengan kelainan-kelainan akibat
proses menua misalnya karena mata kurang awas, benda-benda yang ada di
rumah tertabrak, lalu jatuh.

Mobilitas Pada Elderly 8


2. Nyeri kepala dan atau vertigo
3. Hipotensi orthostatic
Hipovilemia / curah jantung rendah
Disfungsi otonom
Penurunan kembalinya darah vena ke jantung
Terlalu lama berbaring
Pengaruh obat-obat hipotensi
Hipotensi sesudah makan
4. Obat-obatan
 Diuretik/antihipertensi
 Antidepresen trisiklik
 Sedativa
 Antipsikotik
 Obat-obat hipoglikemia
 Alkohol
5. Proses penyakit yang spesifik
Penyakit-penyakit akut seperti:

Kardiovaskuler : - Aritmia
- Stenosis aorta
- Sinkope sinus carotis
Neurologi : - TIA
- Stroke
- Serangan kejang
- Parkinson
- Kompresi saraf spinal karena spondilosis
- Penyakit serebelum
6. Idiopatik ( tak jelas sebabnya)
7. Sinkope : kehilangan kesadaran secara tiba-tiba
- Drop attack (serangan roboh)

- Penurunan darah ke otak secara tiba-tiba

Mobilitas Pada Elderly 9


- Terbakar matahari

F. Faktor Yang Mempengaruhi Mobilitas

Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi mobilitas pada elderly


diantaranya adalah gaya hidup, dimana hal ini merupakan kebiasaan
sehari-hari yang berlangsung secara terus menerus dari usia muda
sehingga akan menjadi suatu perilaku lansia dan pada akhirnya akan
berdampak pada kemampuan mobilitas fisik, begitupun lansia yang
mempunyai gaya hidup dengan tingkat aktivitas yang tinggi akan
mempengaruhi kemampuan mobilitas fisiknya. Adanya proses
penyakit/cidera akan mempengaruhi fungsi sistem tubuh seperti seseorang
yang mengalami fraktur femur akan mengalami keterbatasan dalam
ekstremitas bagian bawah. Osteoporosis merupakan suatu kondisi yang
menyebabkan sulitnya lansia untuk bergerak karena adanya pengeroposan
tulang sehingga mudah patah, kemudian faktor kebudayaan juga dapat
mempengaruhi mobilitas seseorang, jika lansia terbiasa dengan berjalan
jauh akan mempunyai kemampuan mobilitas yang kuat. Tingkat energi
juga dapat mempengaruhi kekuatan mobilitas, jika energi tersedia banyak
maka mobilitas dapat tinggi begitupun sebaliknya, mobilitas akan kecil
jika ketersediaan energi tidak ada. Mobilitas juga sangat dipengaruhi oleh
usia perkembangan seseorang dimana semakin besar usia dan
perkembangan maka mobilitas juga akan menjadi tinggi.

G. Perubahan Sistem Muskuloskeletal Pada Lansia

Lansia mengalami perubahan pada anatomi dan fisiologi tubuhnya,


yang menyebabkan penurunan fungsi sistem tubuh. Fungsi mobilisasi
manusia dihubungkan pada tiga hal yakni tulang, otot dan persendian yang
juga didukung oleh sistem saraf. Penurunan atau perubahan tersebut
mempengaruhi kemampuan mobilisasi pada lansia (Kim et al, 1995 dalam
Perry & Poter, 2005).

Mobilitas Pada Elderly 10


a) Tulang

Fungsi lain dari tulang adalah sebagai tempat penyimpanan


kalsium, produksi sel-sel darah serta melindungi jaringan dan
organ tubuh. Pertumbuhan tulang mencapai kematangan di masa
dewasa awal. Proses penyerapan kalsium dari tulang untuk
mempertahankan kalsium darah yang stabil dan penyimpanan
kembali kalsium untuk membentuk tulang baru dikenal sebagai
remodelling dan terjadi sepanjang rentang kehidupan manusia
(Stanley & Beare, 2007). Perubahan yang berkaitan dengan proses
menua yang mempengaruhi renovasi ini meliputi: peningkatan
resorpsi tulang, penyerapan kalsium berkurang, peningkatan
hormon paratiroid serum, gangguan regulasi aktivitas osteoblas,
gangguan pembentukan tulang sekunder untuk mengurangi
produksi osteoblas dari matrix tulang, dan penurunan jumlah sel
sumsum. Faktor yang dapat mempengaruhi remodelling tulang dan
biasa terjadi pada dewasa tua adalah hipertiroid, penurunan tingkat
aktivitas, COPD, defisiensi kalsium dan vitamin D dan terapi
medis seperti glukokortiroid dan anticonvulsant. (Exton-Smith,
1985, Riggs and Melton, 1986 dalam Miller 2012).

b) Otot

Kekuatan muskular mulai merosot sekitar usia 40 tahun, dengan


suatu kemunduran yang dipercepat setelah usia 60 tahun.
Regenerasi jaringan melambat dengan penambahan usia, dan
jaringan atrofi digantikan oleh jaringan fibrosa. Perlambatan,
pergerakan yang kurang aktif dihubungkan dengan perpanjangan
waktu kontraksi otot, periode laten, dan periode relaksasi dari unit
motor dalam jaringan otot (Stanley & Beare, 2007). Perubahan
terkait penuaan yang berefek pada otot meliputi berkurangnya
serabut otot (jumlah dan ukuran) yang menyebabkan laju
metabolik basal dan laju konsumsi oksigen maksimal berkurang

Mobilitas Pada Elderly 11


sehingga otot menjadi lebih mudah capek dan tidak mampu
mempertahankan aktivitas serta kecepatan kontraksi akan
melambat, tergantinya serabut otot dengan jaringan ikat atau
lemak, dan rusaknya membran sel otot karena berkurangnya
komponen cairan dan potassium di dalamnya. Perubahan otot
karena proses menua diantarnya adalah akibat pemecahan protein,
lansia mengalami kehilangan massa tubuh yang membentuk
sebagian otot. Semua perubahan diatas disebut kondisi sarkopenia,
yaitu kehilangan massa otot, kekuatan dan daya tahan otot (Miller,
2012).

c) Sendi

Fungsi muskuloskeletal secara keseluruhan tergantung pada tulang,


otot dan sendi, namun Sendi adalah satu satunya komponen yang
jika digunakan secara terus menerus akan menunjukan efek dan
keausan bahkan pada masa dewasa awal. Beberapa perubahan pada
persendian seiring penuaan adalah berkurangnya viskositas cairan
sinovial, degenerasi kolagen dan selelastin, pecahnya struktur
fibrosa dalam jaringan penghubung, perubahan seluler kartilago
karena selalu digunakan secara terus menerus, pembentukan
jaringan scar dan kalsifikasi di persendian dan jaringan
penghubung. serta adanya perubahan degenartif pada arteri
kartilago menjadi retak, robek, dan permukaannya menipis. Akibat
dari perubahan itu diantaranya adalah gangguan gerakan fleksi dan
ekstensi, penurunan fleksibilitas struktur fibrosa, berkurangnya
gerakan, adanya erosi tulang dan berkurangnya kemampuan
jaringan ikat (Whitbourne, 1985 dalam Miller, 2012). Lansia yang
mempunyai kebiasaan mengkonsumsi purin yang terlalu banyak
juga akan menyebabkan hasil metabolisme asam urat menumpuk di
persendian hingga bengkak dan terasa nyeri. Asam urat ini
seharusnya dikeluarkan bersama urin dan feses namun ketika ginjal

Mobilitas Pada Elderly 12


sudah mengalami penurunan fungsi, maka penumpukan asam urat
akan bertambah parah (Mujahidullah, 2012). Kemunduran
kartilago sendi, besar terjadi pada sendi-sendi yang menahan berat,
dan pembentukan tulang dipermukaan sendi. Komponen-
komponen kapsul sendi pecah dan kolagen yang terdapat pada
jaringan penyambung meningkat secara progresif yang jika tidak
dipakai lagi,mungkin menyebabkan inflamasi, nyeri, penurunan
mobilitas sendi dan deformitas (Stanley & Beare, 2012).

d) Sistem Persyarafan

Para peneliti telah menemukan bahwa dewasa tua dapat belajar


untuk mengkompensasi perubahan karena penuaan pada sistem
saraf pusat untuk pencegahan jatuh (Doumas, Rapp, & Krampe,
2009dalam Miller, 2012). Perubahan kemampuan visual,
penurunan refleks cepat, gangguan proprioception terutama pada
wanita, dan berkurangnya sensasi getar dan sendi pada ekstrimitas
bawah. Proses penuaan pada kontrol postural meningkatkan
goyangan tubuh,dapat mengukur gerakan tubuh ketika berdiri.
karena proses penuaan terjadi reaksi yang lambat, berjalan lambat
dan berkurangnya waktu respon terhadap stimulasi lingkungan.

e) Jaringan Ikat

Pada usia lanjut, dijumpai kehilangan sifat elastisitas dari jaringan


ikat. Proses disuse dapat menyebabkan pengerutan dari jaringan
ikat sehingga kurang mampu mengakomodasikan berbagai
pergerakan. Karena menjadi tidak fleksibel maka kelompok usia
lanjut ini kurang dapat mentoleransi berbagai pergerakan yang
berpotensi membawa kecelakaan dan lebih mudah terjatuh. Pada
orang dewasa muda, diperkirakan kelenturan, kekuatan otot, dan
koordinasi merupakan bufer dari kemungkinan trauma, tetapi bufer
ini jelas berkurang, bahkan hilang pada usia lanjut.

Mobilitas Pada Elderly 13


H. Pemeriksaan Fisik

a) Mengkaji Skelet Tubuh

Adanya deformitas dan kesejajaran. Pertumbuhan tulang yang


abnormal akibat tumor tulang. Pemendekan ekstremitas, amputasi
dan bagian tubuh yang tidak dalam kesejajaran anatomis. Angulasi
abnormal pada tulang panjang atau gerakan pada titik selain sendi
biasanya menandakan adanya patah tulang.

b) Mengkaji Tulang Belakang

 Skoliosis (deviasi kurvatura lateral tulang belakang)

 Kifosis (kenaikan kurvatura tulang belakang bagian dada)

 Lordosis (membebek, kurvatura tulang belakang bagian


pinggang berlebihan)

c) Mengkaji System Persendian

Luas gerakan dievaluasi baik aktif maupun pasif, deformitas,


stabilitas, dan adanya benjolan, adanya kekakuan sendi.

d) Mengkaji System Otot

Kemampuan mengubah posisi, kekuatan otot dan koordinasi, dan


ukuran masing-masing otot. Lingkar ekstremitas untuk mementau
adanya edema atau atropfi, nyeri otot.

e) Mengkaji Cara Berjalan

Adanya gerakan yang tidak teratur dianggap tidak normal. Bila


salah satu ekstremitas lebih pendek dari yang lain. Berbagai
kondisi neurologist yang berhubungan dengan cara berjalan
abnormal (mis. cara berjalan spastic hemiparesis – stroke, cara
berjalan selangkah-selangkah – penyakit lower motor neuron, cara
berjalan bergetar – penyakit Parkinson).

Mobilitas Pada Elderly 14


f) Mengkaji Kulit Dan Sirkulasi Perifer

Palpasi kulit dapat menunjukkan adanya suhu yang lebih panas


atau lebih dingin dari lainnya dan adanya edema. Sirkulasi perifer
dievaluasi dengan mengkaji denyut perifer, warna, suhu dan waktu
pengisian kapiler.

g) Mengkaji Fungsional Klien

 KATZ Indeks

 Barthel Indeks

I. Penatalakasanaan Terapi Latihan ROM

Aktifitas fisik yang dilakukan secara teratur, terprogram dengan


dosis tertentu pada kelompok lanjut usia dengan tujuan mempertahankan
kemampuan optimal dari sistem tubuh terutama kardiorespirasi dan sistem
otot sebagai bentuk upaya promotive, preventif, kuratif dan rehabilitatif
baik secara fisiologis, psikologis maupun sosial (Depkes, 2001). Dewasa
lansia yang berolah raga secara teratur tidak kehilangan massa atau tonus
otot dan tulang sebanyak dewasa lansia yang tidak aktif, serat otot
berkurang ukurannya, dan kekuatan otot berkurang sebanding dengan
penurunan massa otot. Wanita pasca menopouse memiliki laju
demineralisasi tulang yang lebih besar daripada pria lansia (Perry & Potter,
2005). Manfaat olahraga pada lansia antara lain dapat memperpanjang
usia, menyehatkan jantung, otot, dan tulang, membuat lansia lebih
mandiri, mencegah obesitas, mengurangi kecemasan dan depresi, dan
memperoleh kepercayaan diri yang lebih tinggi.

Adapun prinsip dari latihan fisik yang dilakukan pada lansia adalah
membantu agar tubuh tetap bergerak, meningkatkan daya tahan tubuh,
mencegah cedera, dan memberi kontak psikologis. Penelitian yang
dilakukan oleh Alan Gow, dari University of Edinburgh di Skotlandia
menjelaskan bahwa orang yang berusia tujuh-puluhan dan ikut dalam

Mobilitas Pada Elderly 15


banyak olah raga fisik termasuk berjalan kaki beberapa kali dalam satu
pekan, memiliki sedikit penyusutan otak dan tanda lain penuaan pada otak
ketimbang mereka yang kurang aktif secara fisik. Selain untuk mengatasi
keterbatasan gerak sendi, latihan ROM juga dapat meningkatkan kekuatan
otot, yang berarti bahwa latihan gerakan sendi yang memungkinkan
terjadinya kontraksi dan pergerakan otot, dimana individu menggerakkan
masing masing persendiaannya sesuai dengan gerakan normal baik secara
aktif maupun pasif atau latihan yang dilakukan untuk mempertahankan
atau memperbaiki kemampuan menggerakkan persendian secara normal
dan lengkap untuk meningkatkan massa otot dan tonus otot (Potter & Pery,
2005). Pengaruh latihan ROM aktif terhadap kemampuan mobilisasi pada
lansia dengan gangguan muskuloskeletal lebih baik dari sebelum
dilakukan latihan ROM aktif (Utami, 2003). Tujuan ROM adalah untuk
meningkatkan atau mempertahankan fleksibilitas dan kekuatan otot,
mempertahankan fungsi jantung dan pernapasan, mencegah kekakuan
pada sendi, perangsang sirkulasi darah, dan mencegah kelainan bentuk,
kekakuan dan kontraktur. Prinsip yang diterapkan dalam latihan ROM
yaitu harus diulang sekitar 8 kali dan dikerjakan minimal 2 kali sehari,
dilakukan perlahan dan berhati-hati sehingga tidak melelahkan,
memperhatikan tanda-tanda vital sebelum dilakukan latihan ROM, bagian
tubuh yang dapat dilakukan latihan ROM meliputi leher, jari, lengan, siku,
bahu, kaki, dan pergelangan kaki, dilakukan secara berurutan dan teratur
mulai dari head to toe, jangan memegang sendi secara langsung, tapi
pegang ekstremitas secara lembut pada bagian distal atau proksimal sendi
(Perry & Poter, 2005).

Jenis ROM terdiri dari dua jenis, ROM aktif yaitu gerakan yang
dilakukan oleh pasien dengan menggunakan energi sendiri. Terapis
memberikan motivasi, dan membimbing pasien dalam melaksanakan
gerakan sendiri secara mandiri dengan rentang gerak normal. Hal ini untuk
melatih kelenturan dan kekuatan otot serta sendi dengan cara
menggunakan otot-ototnya secara aktif.

Mobilitas Pada Elderly 16


ROM pasif adalah energi yang dikeluarkan untuk latihan berasal
dari orang lain (terapis) atau membutuhkan bantuan. Indikasi latihan ROM
pasif adalah pasien dengan keterbatasan mobilisasi , pasien tidak mampu
melakukan beberapa atau semua latihan rentang gerak dengan mandiri,
pasien baring total dan pasien dengan paralisis ekstremitas total (Suratun
dkk, 2008).

RANGKUMAN

Mobilitas merupakan salah satu aspek yang terpenting dalam fungsi


fisiologis karena hal itu diperlukan untuk mempertahankan kemandirian (Miller,
2012). Beberapa macam jenis mobilitas diantaranya (1)mobilitas penuh
(2)mobilitas sebagian temporer dan (3)mobilitas sebagian permanen (Carpenito,
2009). Hambatan mobilitas mengakibatkan keterbatasan gerak fisik tetapi bukan
mobilitas. Salah satu faktor resiko penghambat mobilitas adalah jatuh. Sebab jatuh
sering terjadi pada usia lanjut, penyebab tersering adalah masalah di dalam dirinya
sendiri (gangguan gait, sensorik, kognitif, sistem syaraf pusat) didukung oleh
keadaan lingkungan rumahnya yang berbahaya.
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi mobilitas pada elderly
diantaranya yaitu gaya hidup, adanya proses penyakit/cidera, kebudayaan, tingkat
energi. Lansia mengalami perubahan pada anatomi dan fisiologi tubuhnya, yang
menyebabkan penurunan fungsi sistem tubuh. Perubahan yang sering terjadi pada
tiga hal yakni tulang, otot dan persendian yang juga didukung oleh sistem saraf.
(Kim et al, 1995 dalam Perry & Poter, 2005). Sebagai penunjang, tenaga medis
memberikan pemeriksaan fisik pada mobilitas lansia. Pemeriksaan fisik tersebut
daiantaranya adalah dengan mengkaji skelet tubuh, tulang belakang, system
persendian, system otot, cara berjalan, kulit dan sirkulasi perifer serta fungsional
klien. Adapun prinsip dari latihan fisik yang dilakukan pada lansia adalah
membantu agar tubuh tetap bergerak, meningkatkan daya tahan tubuh, mencegah
cedera, dan memberi kontak psikologis. Latihan fisik ini bisa dengan gerakan
ROM pasif ataupun aktif, tergantung dari seberapa kuat individu melakukannya.

Mobilitas Pada Elderly 17


TES FORMATIF
1. Yang tidak termasuk dalam jenis mobilitas adalah....
A. Mobilitas penuh
B. Mobilitas sebagian temporer
C. Mobilitas sebagian tersier
D. Mobilitas sebagian permanen
2. Kemampuan individu untuk bergerak dengan batasan yang
sifatnya sementara, merupakan pengertian dari...
A. Mobilitas penuh
B. Mobilitas sebagian temporer
C. Mobilitas sebagian tersier
D. Mobilitas sebagian permanen
3. Jika energi tersedia banyak maka ...
A. Tinggi
B. Menurun
C. Memburuk
D. Tidak dapat dilakukan
4. Osteoporosis merupakan suatu kondisi yang menyebabkan
sulitnya lansia untuk bergerak karena adanya ...
A. Pemahaman yang kurang
B. Pengeroposan tulang sehingga mudah patah
C. Berkurangnya sistem imun tubuh
D. Sensory yang menurun
5. Proses disuse dapat menyebabkan ...
A. Pengerutan dari jaringan ikat sehingga kurang mampu
mengakomodasikan berbagai pergerakan
B. Pengerutan dari jaringan ikat sehingga mampu mengakomodasikan
berbagai pergerakan
C. Sifat elastisitas dari jaringan ikat hilang
D. Toleransi jaringan ikat di berbagai pergerakan

Mobilitas Pada Elderly 18


6. Dibawah ini yang tidak termasuk dalam perubahan sistem muskuloskeletal
pada lansia adalah ...
A. Tulang
B. Otot
C. Sendi
D. Perederan darah
7. Berikut ini merupakan perubahan tulang KECUALI ...
A. Penurunan resorpsi tulang
B. Penyerapan kalsium berkurang
C. Peningkatan hormon paratiroid serum
D. Peningkatan resorpsi tulang
8. Pada pemeriksaan fisik, hal-hal yang dievaluasi dalam mengkaji kulit dan
sirkulasi perifer, kecuali ...
A. Denyut perifer
B. Warna
C. Suhu
D. Keriput
9. Contoh latihan atau terapi yang diberikan kepada lansia untuk
meningkatkan ROM yaitu...
A. Melakukan senam lansia
B. Melakuan senam aerobik
C. Merajut
D. Melakukan terapi musik
10. Ny.Mn merupakan lansia yang berumur 65 tahun. Mengeluhkan kepada
okupasi terapis jika persendiannya mulai kaku ketika digerakkan dan
ketika mengerjakan aktifitas seperti menyapu cenderung cepat capek dan
lemas. Melihat keluhan dari pasien diatas okupasi terapi membuat
program terapi berupa...
A. Memberikan aktifitas leisure berupa membuat rajutan
B. Memberikan terapi untuk ROM dan kekuatan otot berupa senam
setiap pagi khusus lansia

Mobilitas Pada Elderly 19


C. Memberikan terapi berupa menyusun cone diruang terapi
D. Memberikan terapi berupa latihan menggenggam untuk
meningkatkan ROM

Cocokan jawaban anda dengan kunci jawaban tes formatif 1 yang terdpat
dibagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar. Kemudian, gunakan
rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan anda terhadap materi
kegiatan belajar 1.

Tingkat penugasan =
Jumlah Jawaban yang Benar X 100%
Jumlah Soal

Arti tingkat pengusaan :


90 - 100 % = baik sekali
80 – 8 9% = baik
70 – 79 % = cukup
<70% = Kurang
Apabila mencapai tingkat penugasan 80% atau lebih, anda mendapatkan nilai
Bagus! Jika masih dibawah 80%, Anda harus mengulangi materi kegiatan Belajar
1, terutama bagian yang belum dikuasai.

Mobilitas Pada Elderly 20


Kunci Jawaban Tes Formatif
TES FORMATIF
1. C
2. B
3. A
4. B
5. A
6. D
7. A
8. D
9. A
10. B

DAFTAR PUSTAKA

Mobilitas Pada Elderly 21


Darmojo, R.B, & Martono, H.H. (2004). Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut).
Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

Nurviyandari, Dwi. (2010). Modul: Program Pencegahan Jatuh Pada Lanjut


Usia. Suryanto. 2008. Konsep Lansia.

Utami, Wuri (2009). Pengaruh Latihan ROM aktif Terhadap Kemampuan


Mobilisasi pada Lansia dengan Gangguan Muskuloskeletal di Panti Sosial
Tresa werdha Budi Mulia 03 Ciracas Jakarta Timur.Yulianti. (2015).

Mobilitas Pada Elderly 22