Anda di halaman 1dari 5

Bahan baku proses pembuatan caustic soda adalah garam, air, dan listrik.

Proses pembuatan caustic soda


 Pemurnian bahan baku yang meliputi pencampuran, pengendapan
pengotor, penyaringan pengotor, penukaran ion.
 Proses utama yang meliputi pengasaman dan elektrolisa.
 Tahap Finishing meliputi evaporasi dan pendinginan produk.

Produk samping dari pembuatan caustic soda berupa gas Cl yang diproses lebih
lanjut menjadi chlorine cair.

Pemurnian Bahan Baku

1. Tangki pencampur (Pencampuran)

Garam (97,7%) dilarutkan bersama air proses dan garam lemah recycle pada
suhu 90,6oC ke dalam tangki pencampur untuk mendapatkan larutan garam
konsentrasi 27%(othmer,2000). Larutan garam jenuh keluar dari tangki
pencampur memiliki suhu 67,1oC memasuki tangki pengendap, suhu operasi
yang baik untuk pengendapan adalah diatas 60oC(bahruddin,2003).
2. Tangki pengendap (Pengendapan)
Larutan garam dari tangki pencampur memasuki tangki pengendap untuk
diendapkan pengotornya, diantaranya CaSO4, MgSO4, CaCl2, MgCl2
menggunakan Na2CO3 dan NaOH dengan reaksi sebagai berikut:
CaSO4 + Na2CO3 → CaCO3↓ + Na2SO4
MgSO4 + 2NaOH → Mg(OH)2 ↓+ Na2SO4
CaCl2 + Na2SO4 → CaSO4↓ + 2NaCl
MgCl2 + 2NaOH → Mg(OH)2↓ + 2NaCl
CaCl2 + Na2CO3 → CaCO3 ↓ + 2NaCl
Reagen dan pengotor bereaksi membentuk endapan dan dikeluarkan dari dasar
tangki.
Pemberian reagen dilakukan dengan kadar berlebih untuk mendapatkan hasil
yang optimum. Pemberian reagen NaOH dilakukan dengan excess 0,01 g NaOH
per liter larutan garam, untuk Na2CO3 0,15 g per liter larutan
garam(Elliot,1999). Pada kondisi ini ion Ca2+ yang bereaksi 88,6% dan ion
Mg2+ 67,6% (bahrudin,2003).
Sekitar 60% dari pengotor yang mengendap keluar dari bagian bawah tangki
pengendap, sedangkan larutan lainya keluar dari bagian atas clarifier menuju ke
filter

3. Filtrasi (Penyaringan)
Endapan yang masih tersisa seluruhnya di terfilter dalam filter press

4. Pertukaran ion
Selama proses sedimentasi, masih terdapt ion-ion yang masih lolos sehingga
diperlukan perlakuan lebih lanjut dengan melewatkanya pada resin penukar ion.
Reaksi penukaran ion yang terjadi adalah:
Resin kation : R-H + A- → R-A + H+
Resin anion : R-OH – B+ → R-B + OH-
Proses diatas terjadi secara reversible sehingga bila resin sudah jenuh, atau
tidak bisa menangkap atau mengikat ion mineral positif/negative, bisa
diregenerasi kembali. Regenerasi dilakukan dengan mereaksikan kembali resin
dengan asam-basa yaitu NaOH dan H2SO4 sehingga ion mineral positif yang
sudah terikat di resin akan terlepas lagi. Reaksi regenerasi sebagai berikut:
2(R-A) + H2SO4 → 2(R-H) + A2SO4
2R-B + NaOH → R-OH + NaB
Proses yang terjadi dalam unit ini adalah kation dan anion yang terlarut dalam
air umpan akan terserap oleh resin secara bersama-sama. Indikasi adanya
penyerapan di dalam mixed bed polisher adalah konduktivitas air yang keluar
rendah. Konduktivitas rendah berarti padatan atau mineral yang terlarut di
dalamnya juga rendah.

Proses Utama

1. Penambahan HCl (Pengasaman)

Penambahan HCl dilakukan untuk mengurangi terjadinya pembentukan chlorate


pada sel elektrolisa, larutan masuk anoda diasamkan hingga ph 4.

2. Elektrolisa
Larutan keluar dari resin penukar ion memasuki sebelum memasuki sel
elektrolisa dipanaskan terlebih dahulu hingga suhu 87oC dengan steam. Pada
proses elektrolisa menggunakan anoda dan katoda yang dialiri arus DC(direct
current) sebagai sumber energy. Elektrolisa ini menggunakan nikel sebagai sel
katoda dan titanium sebagai sel anoda. Reaksi utama yang terjadi dalam
elektrolisa :
Anoda : 2Cl- → Cl2 + 2e
Katoda: 2e + H+ → H2
Antara sel anoda dan katoda dibatasi oleh membran, yaitu nafion yang hanya
dapan dilalui oleh ion positif.
Pada anoda feed masuk adalah larutan garam, ion Cl- pada NaCl
teroksidasi sehingga ion Na+ kehilangan pasangan dan bergerak menuju anoda.
Pada anoda feed masuk adalah H2O dan NaOH recycle pada suhu 85oC, ion H+
dari H2O tereduksi sehingga ion OH- kehilangan pasangan. Ion Na+ dan OH-
ini selanjutnya bertemu dan membentuk NaOH. Dihasilkan larutan NaOH yang
dihasilkan 32%. Hasil samping dari proses elektrolisa ini berupa gas chlorine
(Cl2) dan gas Hydrogen (H2) pada suhu 91oC. Gas Cl2 diproses lebih lanjut
menjadi Cl2 liquid, sedangkan gas H2 diblower ke udara karena jumlahnya
relatif sedikit.
Larutan keluar anoda pada suhu 91oC di recycle kembali menuju tangki
pencampur. Sedangkan larutan keluar katoda suhu 91oC mengandung NaOH
32%, 10% direcycle kembali sebagai umpan dan sebagian yang lain dip roses
lebih lanjut untuk mendapatkan NaOH 50%.
Pada elektrolisa ini juga terjadi berbagai reaksi samping. Reaksi
samping yang terjadi yaitu pembentukan Chlorate (NaClO3) reaksi
pembentukan chlorate :
H2O + Cl2 ↔ HClO + HCl
HClO + 3NaOH → NaClO3 + 2NaCl + 3H2O
Perpindahan ion yang terjadi dalam elektrolisa juga tidak sempurna, sekitar 5%
ion Cl- lolos menuju katoda (Uhde), dan sekitar 5% ion OH- lolos menuju
anoda, membentuk NaOH dan kemudian membentuk chlorate.
Reaksi samping lain yang terjadi adalah sebagian dari H2O di anoda juga
teroksidasi dengan reaksi:
H2O → 2H+ + O2 + 2e
Reaksi ini menghasilkan gas O2 yang akan keluar dari bagian atas
anoda, dan ion H+ yang akan menuju ke katoda, kemudian ion H+ bereaksi
dengan OH- manjadi H2O (back mixing).

Finishing

1. Evaporasi

NaOH 32% yang keluar dari sel elektrolisa memasuki evaporator untuk
dipekatkan menjadi 50% NaOH. NaOH di evaporasi menggunakan steam
sehingga NaOH 50% keluar memiliki suhu 144oC. NaOH 50% kemudian
didinginkan melalui beberapa tahap pendinginan, pertama ditukarkan panasnya
dengan feed katoda sehingga suhunya menjadi 110,7oC, larutan ini kemudian
didinginkan kembali menggunakan air pendingin hingga suhunya mencapai
45oC dan ditampung ke dalam tangki penampung.

2. Treatment Recycle
Garam lemah dari anoda masih mengandung chlorate di treatment terlebih
dahulu dengan penambahan HCl untuk reaksi destruksi chlorate :
NaClO3 + HCl → NaCl + 3Cl2 + 3H2O
Setelah melewati reaktor destruksi chlorate, kandungan Cl2 di stripping
menggunakan udara. Larutan setelah stripping yang mengandung NaCl dan
H2O siap direcycle menuju tangki pencampur

Pengolaha produk samping


Gas Cl2 keluar dari bagian atas anoda masih mengandung H2O yang terikut dan
sedikit O2 untuk mendapatkan Cl2 liquid dengan kemurnian 99,65% kandungan
air harus dihilangkan terlebih dahulu. Gas Cl2 pada suhu 91oC didinginkan
terlebih dahulu menggunakan brine hingga suhunya mencapai 10oC pada suhu
ini campuran gas Cl2 telah berada pada dua fase. Campuran gas-liquid ini
kemudian dipisahkan dalam flash separator, produk atas dari flash separator
berupas gas yang memiliki kandungan Cl2 sekitar 99,65.
Untuk mendapatkan Cl2 liquid, gas Cl2 terlebih dahulu dinaikan tekananya,
kemudian dikondensasikan. Kompresi dilakukan dalam dua stage, kompresi
pertama tekanan Cl2 gas 1 atm dinaikan tekananya menjadi 4 atm, dan
didapatkan suhu keluar kompresor 154oC. Selanjutnya dilakukan pendinginan
dari gas Cl2 untuk meringankan beban kompresor ke dua, gas Cl2 didinginkan
menggunakan brine hingga suhu 50oC. Kompresi yang kedua menaikan tekanan
gas Cl2 dari tekanan 4 atm menjadi tekanan 6 atm. Gas Cl2 keluar dari
kompresor kedua pada suhu 93oC, kemudian didinginkan dengan air pendingin
hingga suhu 45oC, dan dikondensasikan sehingga menjadi liquid hingga suhu
8oC.