Anda di halaman 1dari 3

ARTIKEL PEMBANGUNAN PERIKANAN

KEBIJAKAN INDUSTRIAL PERIKANAN SEKTOR BUDIDAYA

Disusun oleh :

Egi Patria S. G. 230110150148

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI PERIKANAN
JATINANGOR
2018
Industrialisasi perikanan merupakan proses perubahan sistem produksi
hulu dan hilir untuk meningkatkan nilai tambah, produktivitas, dan skala produksi
sumber daya kelautan dan perikanan. Caranya melalui modernisasi yang didukung
dengan arah kebijakan terintegrasi antara kebijakan ekonomi makro,
pengembangan infrastruktur, sistem usaha dan investasi, ilmu pengetahuan dan
teknologi, serta sumber daya manusia untuk kesejahteraan rakyat. Alam telah
bekerja secara efisien. Hutan tumbuh tak perlu pupuk. Ikan di laut berkembang
biak tanpa harus diberi pakan oleh manusia. Ekosistem laut memiliki cara sendiri,
bagaimana membuat ikan hidup. Mekanisme kerja alam inilah yang mestinya
ditiru. Di sinilah diperlukan kreativitas dan inovasi manusia untuk menerapkan
prinsip kerja alam tersebut dalam aktivitas ekonomi produktif yang
menguntungkan.

Lebih dari 85% pelaku usaha kelautan dan perikanan termasuk


pembudidaya ikan masuk dalam kategori skala mikro dan kecil. Sebagian besar
dari mereka memiliki kemampuan yang terbatas dalam mengakses sumber-sumber
pembiayaan baik perbankan maupun non perbankan. Akibatnya, telah secara
langsung menurunkan kemampuan pembudidaya untuk meningkatkan skala
usahanya. Menyikapi hal tersebut, penting bagi Kementerian Kelautan dan
Perikanan (KKP) mempertemukan pembudidaya dengan lembaga pembiayaan
sehingga pembudidaya dapat terfasilitasi dalam mengakses sumber-sumber
pembiayaan dengan berbagai skema. Sejak tahun 2016 telah berhasil disalurkan
dana melalui Program Kemitraan/PKBL sebesar Rp. 480 juta untuk 9 orang
pembudidaya di Kabupaten Indramayu. Kerjasama ini berlanjut pada tahun 2017
dan telah tersalurkan dana sebesar Rp. 1,4 M untuk 38 orang pembudidaya ikan di
Kabupaten Pemalang dan Demak. Tidak berhenti disitu, untuk tahun 2018, KKP
terus melanjutkan kerjasama dengan PT. Pelni dan KKP mengusulkan lebih
banyak kabupaten yang bisa terjangkau, yaitu di 9 Provinsi dan 38
Kabupaten/Kota. Pemilihan Kabupaten/Kota tersebut antara lain berdasarkan
Sertifikat Sehatkan yang telah dimiliki.
Sedangkan dengan Bank Mandiri, kerjasama dilakukan dalam bentuk
pemanfaatan program CSR, diantaranya untuk pengembangan tambak rintisan
program perhutanan sosial di Desa Pantai Bakti Kecamatan Muara Gembong
Kabupaten Bekasi yang belum lama ini diresmikan oleh Presiden Jokowi. Dengan
banyak nya bantuan dari pemerintah pembudidaya sudah sangat dipermudah untuk
melakukan industrial perikanan sektor budidaya. Salah satu penghambat nya
adalah mahal nya harga produksi budidaya yaitu salah satu nya pakan. Bagaimana
mengembangkan budidaya perikanan hemat pakan. Saat ini pakan merupakan
komponen besar dalam struktur biaya produksi budi daya. Dan, pakan tersebut
kandungan impornya sangat tinggi. Bila ini berhasil, maka akan membantu 3,3 juta
pembudi daya ikan, sekaligus menurunkan ketergantungan impor. Di Afrika
Selatan sudah mulai dengan memanfaatkan maggot sebagai sumber proteinnya.
Lebih baik lagi bila dikembangkan budi daya tanpa pakan dengan memperhatikan
trophic level spesies-spesies di dalamnya. Tentu masih banyak lagi inovasi-inovasi
yang bisa dihasilkan, dan ini memerlukan riset-riset yang diilhami spirit ekonomi
biru tersebut. Tanpa riset transdisiplin yang memadai, termasuk di dalamnya
rekayasa finansial, akan sulit ditemukan inovasi yang aplikatif, murah, dan ramah
lingkungan.