Anda di halaman 1dari 7

Volume 3 No.

1, Juni 2018 MEANS (Media Informasi Analisa dan Sistem)


http://ejournal.ust.ac.id/index.php/Jurnal_Means/ p-ISSN : 2548-6985, e-ISSN : 2599-3089

Potensi Tindak Pidana Kriminal oleh Anak Remaja ditinjau dari


Faktor Umur dan Pendidikan dengan Metode Multi Factor
Evaluation Process (MFEP)
1)
Riswan Limbong
STMIK Budi Darma Medan, Jl. SM.Raja No.338 Sp.Limun Medan, Sumut, Indonesia
E-Mail: riswanlimbong@gmail.com
2)
Kristian Siregar
STMIK Budi Darma Medan, Jl. SM.Raja No.338 Sp.Limun Medan, Sumut, Indonesia
E-Mail: kristianregar@gmail.com

ABSTRAK
Menurut data statistik pada tahun 2013 sebanyak 535 kasus dan pada tahun 2014
sebanyak 723 kasus, dan berdasarkan data yang ada kenaikan terjadi ± 1,35%.
Penyebab terjadinya tindakan kriminal ini disebabkan oleh banyak faktor, tetapi jika
faktor-faktor penyebab terjadinya tindakan kejahatan ini diketahui lebih dini oleh
pihak orang tua (masyarakat), mungkin orang tua dapat mendidik anaknya dan
dapat mengurangi jumlah anak remaja pelaku tindak pidana kriminal fisik. Tindakan
kriminal fisik yang dimaksud dalam penelitian ini adalah : Perampokan, ketertiban
Umum pencurian dan pembunuhan.
Multifactor Evaluation Process (MFEP) adalah metode kuantitatif yang
menggunakan.”weighting system”. Dalam pengambilan keputusan multifaktor,
pengambil keputusan secara subyektif dan intuitif menimbang berbagai faktor yang
mempunyai pengaruh penting terhadap alternative pilihan mereka. Untuk keputusan
yang berpengaruh secara strategis, lebih dianjurkan menggunakan sebuah
pendekatan kuantitatif seperti MFEP. Dalam MFEP pertama-tama seluruh kriteria,
yang menjadi faktor penting dalam melakukan pertimbangan diberikan pembobotan
(weighting) yang sesuai. Langkah yang sama juga dilakukan terhadap alternatif-
alternatif yang akan dipilih, yang kemudian dapat dievaluasi berkaitan dengan
faktor-faktor pertimbangan tersebut. Metode MFEP menentukan bahwa alternatif
dengan nilai tertinggi adalah solusi terbaik berdasarkan kriteria yang telah dipilih.

Kata Kunci : Tindak Kriminal Fisik, Kenakalan Remaja, MFEP, Sistem Pendukung
Keputusan

PENDAHULUAN warga negara Indonesia yang senantiasa


Remaja adalah bagian dari generasi muda memiliki tanggungjawab dan bermanfaat sesuai
merupakan suatu kekuatan sosial yang sangat dengan Pancasila dan UUD 1945.
berperan dalam pembangunan bangsa dan Berdasarkan ketentuan dari pihak
negara. Di tangan generasi muda terletak sekolah, untuk hasil rekomendasi kelompok
masa depan bangsa yang kelak akan menjadi campuran, pilihan pertama dan pilihan kedua
pemimpin dalam membangun hari depan yang berasal dari program studi saintek, sedangkan
lebih baik. Sebagai generasi penerus pilihan ketiga dari program studi soshum. Pada
perjuangan bangsa Indonesia yang mempunyai tabel 15 dapat dilihat bahwa walaupun nilai
hak dan kewajiban ikut serta dalam weight evaluation program studi Teknik Geologi
membangun negara dan bangsa Indonesia, dan program studi Teknik Arsitektur lebih kecil
generasi muda dalam hal ini remaja merupakan dari weight evaluation program studi
subyek dan obyek pembangunan nasional Manajemen atau Ilmu Administrasi Negara,
dalam usaha mencapai tujuan bangsa tetap saja pilihan pertama dan kedua berasal
Indonesia yaitu mewujudkan masyarakat yang dari program studi saintek. Karena berdasarkan
adil dan makmur. ketentuan, untuk pilihan pertama dan kedua
Remaja merupakan modal pembangunan rekomendasinya hanya dari kelompok program
yang akan memelihara dan mengembangkan studi saintek, selanjutnya adalah program studi
hasil pembagunan baik fisik maupun mental dari kelompok soshun. Hasil dari rekomendasi
sosial Indonesia yang harus ditumbuh- pemilihan program studi ini, bukanlah hasil
kembangkan sebagai manusia seutuhnya, mutlak bahwa siswa harus memilih program
sehingga mempunyai kemampuan untuk studi yang direkomendasikan, tetapi hasil
melaksanakan hak dan kewajibannya sebagai rekomendasi ini hanya sebagai pendukung

Potensi Tindak Pidana Kriminal oleh Anak Remaja ditinjau dari Faktor Umur dan Pendidikan dengan 69
Metode Multi Factor Evaluation Process (MFEP). Oleh : Riswan Limbong, Kristian Siregar
Volume 3 No. 1, Juni 2018 MEANS (Media Informasi Analisa dan Sistem)
http://ejournal.ust.ac.id/index.php/Jurnal_Means/ p-ISSN : 2548-6985, e-ISSN : 2599-3089

keputusan bagi siswa dalam memilih program Kriminologi adalah ilmu pengetahuan
studi yang diminatinya. Karena pengambilan mengenai sikap tindak kriminal. Sehubungan
keputusan dikembalikan lagi kepada siswa itu beliau menjelaskan pula bahwa Kriminologi
yang bersangkutan [2]. modern berakar dari sosiologi, psikologi,
psikiatri dan ilmu hukum yang ruang lingkupnya
LANDASAN TEORI meliputi :
2.1. Kriminologi a. Hakekat, bentuk-bentuk dan
Kriminologi sebagai ilmu pembantu dalam frekuansi-frekuensi perbuatan kriminal
hukum pidana yang memberikan pemahaman sesuai dengan distribusi sosial, temporal
yang mendalam tentang fenomena kejahatan, dan geografis.
sebab dilakukannya kejahatan dan upaya yang b. Karakteristik-karakteristik fisik, psikologis,
dapat menanggulangi kejahatan, yang sejarah serta. sosial penjahat dan
bertujuan untuk menekan laju perkembangan hubungan antara. kriminalitas dengan
kejahatan. Seorang antropolog yang berasal tingka laku abnormal lainnya.
dari Prancis, bernama Paul Topinard c. Karakteristik korban-korban kejahatan.
mengemukakan bahwa “Kriminologi adalah d. Tingkah laku non kriminal anti sosial, yang
suatu cabang ilmu yang mempelajari soal-soal tidak semua masyarakat dianggap,
kejahatan. Kata Kriminologi itu sendiri berdasar sebagai kriminalitas.
etimologinya berasal dari dua kata, crimen e. Prosedur sistem peradilan pidana
yang berarti kejahatan dan logos yang berarti f. Metode-metode hukuman, latihan dan
ilmu pengetahuan, sehingga secara penanganan narapidana
sederhana Kriminologi dapat diartikan sebagai g. Struktur sosial dan organisasi
ilmu pengetahuan yang mempelajari kejahatan lembaga-lembaga penal
[12]. h. Metode-metode pengendalian dan
Kriminologi sebagai salah satu disiplin penanggulangan kejahatan
ilmu sosial menelaah gejala dan tingkah laku i. Metode-metode identifikasi kejahatan dan
anggota masyarakat dari sudut tertentu yaitu penjahat
dari segi pola, motivasi, serta usaha j. Studi mengenai asas dan perkembangan
menanggulangi kejahatan. Kriminologi adalah hukum pidana serta. sikap umum terhadap
ilmu pengetahuan yang mempelajari gejala- kejahatan dan penjahat.
gejala kejahatan seluas-luasnya (kriminologi
teoritis dan kriminologi murni). Kriminilogi 2.2. Pengertian Tindak Pidana dan Unsur-
teoritis adalah ilmu pengetahuan yang Unsurnya
berdasarkan pengalaman, yang seperti ilmu- Tindak Pidana atau delik berasal dari bahasa
ilmu pengetahuan lainnya yang sejenis, Latin delicta atau delictum yang dikenal dengan
memperhatikan gejala-gejala dan mencoba istilah strafbar feit dan dalam KUHP (Kitab
menyelidiki krminologi teoritis disusun Undang–Undang Hukum Pidana) dengan
kriminologi terapan. perbuatan pidana atau peristiwa pidana.
Kriminologi menurut Soedjono Kata Strafbar feit inilah yang melahirkan
Dirdjosisworo adalah ilmu pengetahuan yang berbagai istilah yang berbeda–beda dari
mempelajari sebab, akibat, perbaikan dan kalangan ahli hukum sesuai dengan sudut
pencegahan kejahatan sebagai gejala manusia pandang yang berbeda pula. Ada yang
dengan menghimpun sumbangan-sumbangan menerjemahkan dengan perbuatan pidana,
berbagai ilmu pengetahuan. Tegasnya, tindak pidana dan sebagainya. Dari pengertian
Kriminologi merupakan sarana untuk secara etimologi ini menunjukan bahwa tindak
mengetahui sebab-sebab kejahatan dan pidana adalah perbuatan kriminal, yakni
akibatnya, mempelajari cara-cara mencegah perbuatan yang diancam dengan hukuman.
kemungkinan timbulnya kejahatan [4], Dalam pengertian ilmu hukum, tindak pidana
menyatakan bahwa kriminologi adalah studi dikenal dengan istilah crime dan criminal.
ilmiah tentang kejahatan dan penjahat yang Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia,
mencakup analisa tentang : kata pidana berarti hukuman kejahatan tentang
a. Sifat dan luas kejahatan pembunuhan, perampokan, korupsi dan lain
b. Sebab-sebab kejahatan sebagainya. Pidana juga berarti hukuman.
c. Perkembangan hukum pidana dan Dengan demikian, kata mempidana berarti
pelaksanaan peradilan pidana menuntut berdasarkan hukum pidana,
d. Ciri-ciri penjahat menghukum seseorang karena melakukan
e. Pembinaan penjahat tindak pidana. Dipidana berarti dituntut
f. Pola-pola kriminalitas, dan berdasarkan hukum pidana, dihukum
g. Akibat kejahatan atas perubahan sosial berdasarkan hukum pidana, sehingga
terpidana berarti orang yang dkenai hukuman.

Potensi Tindak Pidana Kriminal oleh Anak Remaja ditinjau dari Faktor Umur dan Pendidikan dengan 70
Metode Multi Factor Evaluation Process (MFEP). Oleh : Riswan Limbong, Kristian Siregar
Volume 3 No. 1, Juni 2018 MEANS (Media Informasi Analisa dan Sistem)
http://ejournal.ust.ac.id/index.php/Jurnal_Means/ p-ISSN : 2548-6985, e-ISSN : 2599-3089

Peristiwa pidana itu adalah sesuatu MFEP merupakan model pengambilan


perbuatan atau rangkaian perbuatan manusia, keputusan yang menggunakan pendekatan
yang bertentangan dengan Undang-undang kolektif dari proses pengambilan keputusannya
atau peratturan perundang-undangan lainnya, (Render dan Stair, 2002).
terhadap perbuatan mana diadakan tindakan Di bawah ini merupakan langkah-langkah
penghukuman, menyatakan bahwa dalam proses perhitungan menggunakan metode
peristiwa pidana itu mempunyai syarat-syarat MFEP, yaitu:
[7], yaitu: a). Harus ada suatu perbuatan 1. Menentukan faktor dan bobot faktor dimana
manusia, b). Perbuatan itu harus sesuai total pembobotan harus sama dengan 1 (∑
dengan apa yang dilukiskan didalam ketentuan pembobotan = 1), yaitu factor weight.
hukum. c). Harus terbukti adanya “dosa” 2. Mengisikan nilai untuk setiap faktor yang
pada orang yang berbuat, yaitu orangnya harus mempengaruhi dalam pengambilan
dapat dipertanggungjawabkan, d). Perbuatan keputusan dari data-data yang akan
itu harus berlawanan dengan hukum. e). diproses nilai yang dimasukkan dalam
Terhadap perbuatan itu harus tersedia proses pengambilan keputusan merupakan
ancaman hukumannya dalam undang-undang. nilai objektif, yaitu sudah pasti yaitu factor
evaluation yang nilaianya antara 01.
2.3. Metode Multifactor Evaluation Process 3. Proses perhitungan weight evaluation yang
(MFEP) merupakan proses perhitungan bobot
Multifactor Evaluation Process (MFEP) adalah antara factor weight dan factor evaluation
metode kuantitatif yang menggunakan dengan serta penjumlahan seluruh hasil
”weighting system”. Dalam pengambilan weight evaluations untuk memperoleh total
keputusan multifaktor, pengambil keputusan hasil evaluasi.
secara subyektif dan intuitif menimbang
berbagai faktor yang mempunyai pengaruh Penggunaan model MFEP dapat
penting terhadap alternative pilihan mereka. direalisasikan:
Untuk keputusan yang berpengaruh secara 1. WE = FW x E
strategis, lebih dianjurkan menggunakan 2. ∑WE = ∑(FW x E)
sebuah pendekatan kuantitatif seperti MFEP
[6][9]. Dalam MFEP pertama-tama seluruh Keterangan :
kriteria, yang menjadi faktor penting dalam 1. WE = Weighted Evaluation
melakukan pertimbangan diberikan 2. FW = Factor Weight
pembobotan (weighting) yang sesuai. Langkah 3. E = Evaluation
yang sama juga dilakukan terhadap alternatif- 4. ∑WE = Total Weighted Evaluation
alternatif yang akan dipilih, yang kemudian
dapat dievaluasi berkaitan dengan faktor-faktor METODE PENELITIAN
pertimbangan tersebut. Metode MFEP Desain dan tahapan penelitian yang
menentukan bahwa alternatif dengan nilai dilaksanakan peneliti untuk memudahkan
tertinggi adalah solusi terbaik berdasarkan tahapan pelaksanaan dapat dilihat dengan
kriteria yang telah dipilih. menggunakan gambar 1 berikut:

Gambar 1. Diagram Desain Metode dan Tahapan Penelitian

Potensi Tindak Pidana Kriminal oleh Anak Remaja ditinjau dari Faktor Umur dan Pendidikan dengan 71
Metode Multi Factor Evaluation Process (MFEP). Oleh : Riswan Limbong, Kristian Siregar
Volume 3 No. 1, Juni 2018 MEANS (Media Informasi Analisa dan Sistem)
http://ejournal.ust.ac.id/index.php/Jurnal_Means/ p-ISSN : 2548-6985, e-ISSN : 2599-3089

Penelitian tentang tinjauan oleh remaja dan upaya-upaya yang


kriminologis terhadap tindak pidana kriminal dilakukan pihak kepolisian dalam
fisik oleh remaja di Kota Medan menanggulangi terjadinya tindak
adalah Empiris yaitu adalah penelitian pidana kriminal fisik oleh remaja.
berdasarkan fakta–fakta yang ada di dalam
masyarakat mengenai faktor-faktor yang 3.2. Teknik Analisis Data
menyebabkan terjadinya tindak pidana Data penelitian diolah dan dianalisis
kriminal fisik oleh remaja di Kotamadya secara kualitatif yaitu menganalisa data
Medan dan bagaimanakah upaya-upaya berdasarkan kualitasnya lalu dideskripsikan
yang dilakukan oleh Orang Tua dalam dengan menggunakan kata-kata sehingga
menanggulangi terjadinya tindak pidana diperoleh bahasan atau paparan dalam
kriminal fisik oleh remaja di Kotamadya bentuk kalimat yang sistematis dan dapat
Medan. dimengerti, kemudian ditarik kesimpulan.
Dapat dilihat pada gambar 2 berikut:
3.1. Teknik Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dilakukan dengan
dua cara yaitu :
1. Penelitian Kepustakaan (Library
Research)
Yaitu penulis melakukan pengumpulan
data dengan cara membaca sejumlah
literatur yang relevan dengan tinjauan
kriminologi terhadap tindak pidana
kriminal fisik oleh remaja, serta bahan-
bahan normatif berupa produk hukum
yaitu Kitab Undang-Undang Hukum
Acara Pidana (KUHAP), Undang-
Undang tindak pidana kriminal fisik.
2. Penelitian di Lapangan (Field Research)
a). Observasi (Observation) Gambar 2. Diagram Teknik Pelaksanaan
Yaitu penulis mendatangi lokasi Penelitian
penelitian kemudian melakukan
pengamatan secara langsung dan HASIL DAN PEMBAHASAN
seksama terhadap obyek penelitian
Permasalahan serius yang sedang dihadapi
guna mengetahui faktor-faktor yang
adalah masalah kenakalan remaja yang
mempengaruhi terjadinya tindak
merupakan persoalan aktual dihampir setiap
pidana kriminal fisik oleh remaja
negara di dunia termasuk Indonesia. Saat ini
dan upaya-upaya yang dilakukan
sebagai gambaran merebaknya kasus-kasus
oleh pihak kepolisian dalam
pelanggaran hukum yang dilakukan remaja
menanggulangi tindak pidana
dapat berupa perkelahian, penodongan,
tindak pidana kriminal fisik.
perampokan, pencurian, pemilikan senjata
b). Wawancara (Interview)
tajam bahkan penyalahgunaan narkotika
Yaitu penulis melakukan tanya
atau berbagai pelanggaran hukum lainnya.
jawab (interview) kepada sejumlah
Dari beberapa kasus pelanggaran hukum
nara sumber yang berkompeten
tersebut dapat memberikan gambaran
seperti remaja yang pernah
bahwa di era pembangunan manusia
menjadi pelaku dalam tindak
seutuhnya, remaja yang mempunyai hak dan
pidana kriminal fisik, serta
kewajiban membangun bangsa dan negara,
masyarakat, tokoh agama dan
justru mereka melakukan perbuatan yang
tokoh pemuda dalam upaya
melanggar hukum.
menanggulangi terjadinya tindak
Adapun data tindak pidana kriminal
pidana kriminal fisik.
untuk remaja usia 18 tahun kebawah
c). Dokumentasi (Documentation)
menurut data statistik adalah seperti pada
Yaitu penulis melakukan
gambar 3 berikut:
pengumpulan data-data dilokasi
penelitian yang berhubungan
dengan tindak pidana kriminal fisik

Potensi Tindak Pidana Kriminal oleh Anak Remaja ditinjau dari Faktor Umur dan Pendidikan dengan 72
Metode Multi Factor Evaluation Process (MFEP). Oleh : Riswan Limbong, Kristian Siregar
Volume 3 No. 1, Juni 2018 MEANS (Media Informasi Analisa dan Sistem)
http://ejournal.ust.ac.id/index.php/Jurnal_Means/ p-ISSN : 2548-6985, e-ISSN : 2599-3089

Gambar 3. Data jumlah kejahatan Remaja dari tahun 2010-2013 di Sumatera Utara
Sumber : http://sumut.bps.go.id/frontend/linkTabelStatis/view/id/479

Sedangkan menurut data statistik pada tahun 2014 adalah seperti pada gambar 4 berikut:

Gambar 4. Data jumlah kejahatan Remaja tahun 2014 di Sumatera Utara


Sumber : http://sumut.bps.go.id/frontend/linkTabelStatis/view/id/479

Dari data di atas dapat dilihat pada tahun pembobotan = 1). Misalnya nilai bobot
2013 sebanyak 535 kasus dan pada tahun ditentukan sebagai berikut, 0,20 untuk Umur,
2014 sebanyak 723 kasus, dan berdasarkan 0,45 untuk Tingkat Pendidikan dan 0,35 untuk
data yang ada kenaikan terjadi ± 1,35% . Status sosial Keluarga , seperti pada tabel 1
Penyebab terjadinya tindakan kriminal ini berikut:
disebabkan oleh banyak faktor, tetapi jika
faktor-faktor penyebab terjadinya tindakan Tabel 1. Nilai Bobot Untuk Faktor
kejahatan ini diketahui lebih dini oleh pihak Nilai
orang tua (masyarakat), mungkin orang tua Faktor
Bobot
dapat mendidik anaknya dan mengambil Umur 0,20
sebuah solusi yang tepat dan dengan Pendidikan 0,45
mengetahui faktor ini sudah tentu akan dapat Sosial Keluarga 0,35
mengurangi jumlah anak remaja pelaku tindak Total 1
pidana kriminal fisik. Tindakan kriminal fisik
yang dimaksud dalam penelitian ini adalah :
Setelah dilakukan pembobotan, ditetapkan
Perampokan, Ketertiban Umum, Pencurian
ada 3 kriteria pelaku tindakan pidana yang
dan pembunuhan.
akan ditimbang, yaitu Umur, Pendidikan
Langkah selanjutnya adalah
dan Status Sosial Keluarga dievaluasi dan
memberikan pembobotan kepada faktor-
diberikan nilai bobot untuk setiap kriterianya
faktor yang digunakan dimana total
seperti tercantum dalam tabel 2.
pembobotan harus sama dengan 1 (∑

Potensi Tindak Pidana Kriminal oleh Anak Remaja ditinjau dari Faktor Umur dan Pendidikan dengan 73
Metode Multi Factor Evaluation Process (MFEP). Oleh : Riswan Limbong, Kristian Siregar
Volume 3 No. 1, Juni 2018 MEANS (Media Informasi Analisa dan Sistem)
http://ejournal.ust.ac.id/index.php/Jurnal_Means/ p-ISSN : 2548-6985, e-ISSN : 2599-3089

Tabel 2. Nilai Faktor dan Status Penyebab (jumlah kasus)


Faktor Ketertiban
Perampokan Pencurian Pembunuhan
Status Potensi Umum
Umur (Tahun) 3 3 2 3
Pendidikan 4 4 2 4
Sosial Keluarga 3 2 2 3

Tabel 3. Bobot Umur menentukan hasil evaluasi. Berikut adalah


Nilai perhitungan weight evaluation pada
UMUR
Bobot alternative status potensi.
12 – 14 1 a. Weight Evaluation Umur
14 – 16 2 WE = FW x E
16 – 18 3 W 1 = 3 x 0.2 = 0.6
W 2 = 3 x 0.2 = 0.6
W 3 = 2 x 0.2 = 0.4
Tabel 4. Bobot Pendidikan
W 4 = 3 x 0.2 = 0.6
Nilai
PENDIDIKAN
Bobot
b. Weight Evaluation Pendidikan
Tidak Sekolah 4 WE = FW x E
SD 3 W 1 = 4 x 0.45 = 1.8
SMP 2 W 2 = 4 x 0.45 = 1.8
SLTA 1 W 3 = 2 x 0.45 = 0.9
W 4 = 4 x 0.2 = 1.8
Tabel 5. Bobot Status Sosial Keluarga
Nilai c. Weight Evaluation Sosial Keluarga
STATUS SOSIAL
Bobot WE = FW x E
Orang Tua Akur 1 W 1 = 3 x 0.35 = 1.05
Tanpa Orang Tua 2 W 2 = 2 x 0.35 = 0.7
Broken Home 3 W 3 = 2 x 0.35 = 0.7
W 4 = 3 x 0.2 = 1.05
Proses perhitungan weight evaluation
merupakan perhitungan antara factor weight Dari hasil perhitungan tersebut diperoleh nilai
dan factor evaluation dengan penjumlahan, weight evaluation dapat dilihat pada tabel
dari hasil weight evaluation dapat berikut:

Tabel 6. Hasil Perhitungan Evaluation Factor


Faktor Ketertiban
Perampokan Pencurian Pembunuhan
Status Penyebab Umum
Umur (Tahun) 0.6 0.6 0.4 0.6
Pendidikan 1.8 1.8 0.9 1.8
Sosial Keluarga 1.05 0.7 0.7 1.05

Menjumlahkan seluruh hasil weight


evaluation untuk memperoleh total evalusi KESIMPULAN

∑ Berdasarkan perhitungan serta perancangan


sistem yang telah dilakukan, maka dapat
disimpulkan bahwa pengambilan keputusan
W 1 = 0.6 + 0.6 + 0.4 + 0.6 = 2.2 penentuan faktor remaja melakukan tindak
W 2 = 1.8 + 1.8 + 0.9 + 1.8 = 6.3 pidana menggunakan metode Multi Factor
Evaluation Process. Beberapa hal yang perlu
W 3 = 1.05 + 0.7 + 0.7 + 1.05 = 3.5
digaris bawahi antara lain:
1) Berdasarkan perhitungan metode MFEP
Dari hasil perhitungan di atas dapat
di dapatkan hasil bahwa tingkat
disimpulkan tingkat pendidikan baik di
pendidikan merupakan penyebab
rumah dan di sekolah adalah menjadi factor
terbanyak terjadi kriminal.
utama penyebab terjadinya tidak pidana bagi
anak remaja yakni dengan nilai 6.3.

Potensi Tindak Pidana Kriminal oleh Anak Remaja ditinjau dari Faktor Umur dan Pendidikan dengan 74
Metode Multi Factor Evaluation Process (MFEP). Oleh : Riswan Limbong, Kristian Siregar
Volume 3 No. 1, Juni 2018 MEANS (Media Informasi Analisa dan Sistem)
http://ejournal.ust.ac.id/index.php/Jurnal_Means/ p-ISSN : 2548-6985, e-ISSN : 2599-3089

2) Pemberian bobot faktor kriteria dapat [15]. http://ojs.amikom.ac.id/index.php/semna


mempengaruhi penilaian dan hasil steknomedia/article/view/1419. Seminar
perhitungan metode MFEP. Nasional Teknologi Informasi dan
3) Penelitian ini masih menggunakan 2 Multimedia 2016, ISSN : : 2302-3805,
faktor berdasarkan observasi penulis Hal : 123-126.
dilapangan, faktor tersebut dapat [16]. http://komputa.if.unikom.ac.id/_s/data/ju
dikembangkan menjadi lebih agar rnal/vol.3-no.2/1.3.2.10.2014-50-57-
penelitian ini dapat menghasilkan 2089-9033.pdf/pdf/1.3.2.10.2014-50-57-
penilaian yang efektif. 2089-9033.pdf. Jurnal Ilmiah Komputer
dan Informatika (KOMPUTA) , Vol. 3,
DAFTAR PUSTAKA No. 2, Oktober 2014, ISSN : 2089-9033,
Hal : 50 -57.
[1]. Abussalam, 2007, Kriminologi, Restu
Agung, Jakarta.
[2]. Ahmad Khaidir. 2014 “Sistem
Pendukung Keputusan Penyeleksian
Calon Siswa Baru SMA 1 Badar
Dengan Metode Multifactor Evaluation
Process”. 2301-9425
[3]. Abintoro Prakoso, Kriminologi dan
Hukum Pidana, Yogyakarta, Laksbang
Grafika, 2013, hlm. 14.
[4]. Indah Sri Utari.Aliran dan Teori
Dalam Kriminologi. Yogyakart. Thafa
Media. 2012. Hlm. 20
[5]. Gatot Supramono, 2000, Hukum Acara
Pengadilan Anak, Djambatan, Jakarta.
[6]. Tonni Limbong, 2013. Implementasi
Metode Simple Additive Weighting
(SAW) Untuk Pemilihan Pekerjaan
Bidang Informatika, STMIK Budi Darma
[7]. Kanter dan Sianturi, 2002, Asas-asas
Hukum Pidana di Indonesia dan
Penerapannya. Storia Grafika, Jakarta
[8]. Monks, F.J,K & Haditono, S.R.
1999. Psikologi Perkembangan. Gadjah
Mada University Press, Yogyakarta,
2010.
[9]. Muhammad, Ishaq, Umi. 2012 “Sistem
Pendukung Keputusan Seleksi Calon
POLRI Baru Kota Medan Menggunakan
Metode Multifactor Evaluation Process
(MFEP)”. 1978-6603.
[10]. Render, B. dan Stair,M.R,Jr. 2002.
Quanitative Analysis For Management.
Prentice Hall.
[11]. Sarwono, S.W. 2002. Psikologi Remaja.
Edisi Enam, Raja Grafindo Persada,
Jakarta.
[12]. Topo Santoso, 2001, Menggagas
Hukum Pidana Islam, Penerapan
Hukum Pidana Islam dalam Konteks
Modernitas, Asy-Syaamil Press dan
Grafika, Jakarta.
[13]. Wibowo, Henry., Amalia, Riska., Andi
Fadlun M., Kurnia Arivanti (2009).
“Sistem Pendukung Keputusan Untuk
Menentukan Penerima Beasiswa Bank
BRI Menggunakan FMADM”, 907-5022.
[14]. Kitab Undang-Undang Hukum Acara
Pidana (KUHAP)

Potensi Tindak Pidana Kriminal oleh Anak Remaja ditinjau dari Faktor Umur dan Pendidikan dengan 75
Metode Multi Factor Evaluation Process (MFEP). Oleh : Riswan Limbong, Kristian Siregar