Anda di halaman 1dari 9

BAB 11

AUDITING KECURANGAN

JENIS-JENIS KECURANGAN
Pelaporan keuangan yang curang
Pelaporan keuangan yang curang adalah salah saji atau pengabadian jumlah atau pengungkapan yang
disengaja dengan maksud menipu para pemakai laporan itu. Sebagian besar kasus melibatkan salah saji
jumlah yang disengaja, bukan pengungkapan.
Meskipun kebanyakan kasus pelaporan keuangan yang curang melibatkan upaya melebihi sajikan
laba entah dengan melebih sajikan aset dan laba atau dengan mengabaikan kewajiban dan beban,
perusahaan juga sengaja merendahkan sajikan laba.

Penyalahgunaan aset
Penyalahgunaan (misappropriation) aset adalah kecurangan yang melibatkan pencurian aset, entitas.
Manajemen memiliki kewenangan dan kendali yang lebih besar atas aktiva organisasi,
penyelewengan yang melibatkan manajemen puncak dapat menyangkut jumlah yang signifikan.

KONDISI PENYEBAB TERJADINYA KECURANGAN


Terdapat tiga kondisi yang menyebabkan terjadinya pelaporan keuangan yang curang dan juga
penyalahgunaan aset sebagaimana dijelaskan dalam SAS 99 (AU 316). Tiga kondisi tersebut disebut
dengan segitiga kecurangan(fraud triangle).

GAMBAR 11-1 Segitiga Kecurangan

Insentif / Tekanan

Kesempatan Sikap / Rasional

1. Insentif atau Tekanan


Manajemen ataupun pegawai lainnya mempunyai insentif ataupun tekanan untuk melakukan
tindakan kecurangan.
2. Kesempatan
Situasi yang membuka ataupun memberikan kesempatan bagi manajemen ataupun pegawai
untuk melakukan tindakan kecurangan.
3. Sikap atau Rasionalisasi
Adanya sikap, karakter, ataupun seperangkat nilai-nilai etika yang membolehkan manajemen
atau pegawai untuk melakukan suatu tindakan yang tidak jujur, atau dapat dikatakan bahwa
merekaberada dalam lingkungan yang dapat memberikan tekanan yang cukup besar yang
menyebabkan mereka membenarkan diri mereka untuk melakukan tindakan yang tidak jujur
tersebut.

Faktor Risiko untuk Pelaporan Keuangan yang Curang


 Insentif/Tekanan
Insentif yang umum bagi sebuah perusahaan untuk melakukan manipulasi laporan keuangan adalah
adanya suatu penurunan dalam prospek keuangan dalam perusahaan.
 Kesempatan
Melibatkan penilaian atau pertimbangan subjektif dan juga estimasi yang cukup signifikan jauh lebih
besar.
 Sikap/Rasionalisasi
Sikap dari manajemen puncak dalam laporan keuangan merupakan faktor risiko yang penting dalam
menilai kemungkinan adanya suatu kecurangan dalam laporan keuangan perusahaan.
Faktor Risiko untuk Penyalahgunaan Aset
 Insentif/Tekanan
Tekanan keuangan merupakan insentif atau dorongan yang sifatnya umum bagi pegawai yg
melakukan penyalahgunakan aset.
 Kesempatan
Kelemahan dalam hal pengendalian internal dapat menciptakan kesempatan terjadinya tindakan
pencurian.
 Sikap/Rasionalisasi
Sikap manajemen dalam pengendalian dan juga kode etik ataupun perilaku etis dapat menyebabkan
para pegawai dan juga manajer membenarkan pencurian aset perusahaan.

MENILAI RISIKO KECURANGAN


Standar auditing memberikan pedoman bagi auditor dalam menilai risiko kecurangan. Auditor harus
mempertahankan tingkat skeptisisme profesional ketika mempertimbangkan serangkaian informasi yang
luas, termasuk faktor - faktor risiko kecurangan, dengan tujuan untuk mengidentifikasi dan juga
menghadapi risiko kecurangan.

Skeptisme Profesional
Standar auditing menyatakan bahwa, dalam melakukan skeptisisme profesional, seorang auditor “tidak
mengasumsikan bahwa manajemen tidak jujur namun juga tidak mengansumsikan kejujuran absolut”.
Pikiran yang Selalu Mempertanyakan
Selama dalam tahap merencanakan audit dalam setiap audit, tim audit haruslah membahas mengenai
kebutuhan untuk menjaga pikiran kritis atau kebutuhan dalam mempertahankan suatu pikiran yang selalu
mempertanyakan di sepanjang penugasan audit untuk melakukan identifikas atas risiko-risiko kecurangan
dan juga secara kritis melakukan evaluasi kritis atas bukti-bukti audit.
Evaluasi kritis atas bukti audit
Auditor haruslah melakukan penyelidikan masalah-masalah yang ada secara mendalam, mendapatkan
bukti-bukti tambahan apabila diperlukan dan juga melakukan konsultasi dengan anggota tim lainnya.

Sumber Informasi untuk Melakukan Penilaian atas Risiko Kecurangan


Terdapat lima sumber informasi yang digunakan dalam menilai risiko kecurangan yaitu:
1. Komunikasi Antara Tim Audit
Standar auditing mengharuskan tim audit untuk melaksanakan diskusi untuk berbagi wawasan di
antara anggota tim audit yang lebih berpengalaman dan juga untuk “curah pendapat”

2. Tanya Jawab Atau Wawancara Dengan Manajemen


Standar auditing mengharuskan seorang auditor untuk mengajukan pertanyaan spesifik tentang
kecurangan dalam setiap audit.
3. Faktor-Faktor Risiko
Adanya sebuah insentif ataupun tekanan untuk melakukan tindakan kecurangan, kesempatan
untuk melakukan tindakan kecurangan, ataupun sikap/rasionalisasi yang digunakan untuk
membenarkan atau merasionalisasi tindakan kecurangan.
4. Prosedur Analitis
Seorang auditor haruslahmelaksanakan prosedur analitis di sepanjang fase perencanaan dan juga
penyelesaian audit
5. Informasi Lainnya
Auditor harus mempertimbangkan semua informasi yang sudah diperoleh dalam setiap tahap atau
bagian audit ketika menilai risiko kecurangan.

Mendokumentasikan penilaian kecurangan


Standar auditing mengharuskan auditor mendokumentasikan hal-hal yang berhubungan dengan
pertimbangan auditor mengenai salah saji yang material akibat kecurangan.
Setelah risiko kecurangan diidentifikasi dan didokumentasikan, auditor harus mengevaluasi faktor-
faktor yang mengurangi risiko kecurangan sebelum mengembangkan respons yang tepat terhadap resiko
kecurangan itu.

MENGAWASI TATA KELOLA KORPORASI UNTUK MENGURANGI


RISIKO KECURANGAN
Pedoman yang dikembangkan oleh AICPA mengidentifikasi tiga unsur untuk mencegah,
menghalangi, dan mendeteksi kecurangan, yakni:
1. Budaya jujur dan etika yang tinggi.
2. Tanggung jawab manajemen untuk mengevaluasi risiko kecurangan.
3. Pengawasan oleh komite audit.

Budaya Jujur Dan Etika Yang Tinggi


Penciptaan budaya jujur dan etika yang tinggi meliputi enam unsur:
1. Menetapkan Tone at the Top
Kejujuran dan integritas manajemen akan memperkuat kejujuran serta integritas karyawan di
seluruh organisasi.
2. Menciptakan Lingkungan Kerja yang Positif
Banyak organisasi, yang meliputi semua perusahaan publik di A.S., menerapkan proses
“whistleblowing” (membuka rahasia) bagi karyawan untuk melaporkan pelanggaran aktual atau
yang dicurigai atau pelanggaran yang potensial atas kode perilaku atau kebijakan etika.
3. Mempekerjakan dan Mempromosikan Pegawai yang Tepat
Kebijakan itu dapat mencakup pengecekan latar belakang memverifikasi pendidikan, riwayat
pekerjaan, serta referensi pribadi calon karyawan, termasuk referensi tentang karakter dan
integritas orang-orang yang dipertimbangkan dan dipekerjakan atau dipromosikan menduduki
jabatan penting.
4. Pelatihan
Pegawai harus diberi tahu tentang tugasnya untuk menyampaikan kecurangan aktual atau yang
dicurigai serta cara yang tepat untuk menyampaikannya.

5. Konfirmasi
Sebagian besar perusahaan mengharuskan pegawainya untuk secara periodik mengonfirmasikan
tanggung jawabnya mematuhi kode perilaku.
6. Disiplin
Pegawai harus mengetahui bahwa mereka akan dimintai pertanggungjawaban jika tidak
mengikuti kode perilaku perusahaan.

Tanggung Jawab Manajemen Untuk Mengevaluasi Risiko Kecurangan


Kecurangan tidak mungkin terjadi tanpa adanya kesempatan untuk melakukannya dan menyembunyikan
perbuatan itu.
Mengidentifikasi dan Mengukur Risiko Kecurangan
Pengawasan yang efektif atas kecurangan dimulai dengan pengakuan manajemen bahwa
kecurangan mungkin terjadi, dan hampir semua pegawai sanggup melakukan perbuatan tidak
jujur bila situasinya memungkinkan.
Mengurangi Risiko Kecurangan
Manajemen bertanggung jawab merancang dan mengimplementasikan program serta
pengendalian untuk mengurangi risiko kecurangan
Memantau Program dan Pengendalian Pencegahan Kecurangan
Untuk bidang-bidang yang risiko kecurangannya tinggi, manajemen harus mengevaluasi secara
periodik apakah program dan pengendalian antikecurangan yang tepat telah diimplementasikan
serta berjalan efektif.

Pengawasan Oleh Komite Audit


Dalam memenuhi tanggung jawab ini, komite audit memperhitungkan potensi diabaikannya pengendalian
internal oleh manajemen serta mengawasi proses penilaian risiko kecurangan oleh manajemen, dan
program serta pengendalian antikecurangan.
Untuk meningkatkan kemungkinan bahwa setiap upaya oleh manajemen senior untuk melibatkan
pegawai dalam melakukan atau menutupi kecurangan dapat segera terungkap, pengawasan harus
mencakup:
 Pelaporan langsung temuan-temuan penting oleh audit internal kepada komite audit.
 Laporan periodik oleh pejabat etika tentang whistleblowing.
 Laporan lain tentang tidak adanya perilaku etis atau kecurangan yang dicurigai.

Karena komite audit memiliki peran penting dalam menetapkan “tone at the top” yang tepat dan
mengawasi tindakan manajemennya, PCAOB Standard 5 mengharuskan auditor perusahaan publik
mengevaluasi efektivitas komite audit sebagai bagian dari evaluasi auditor mengenai keefektifan
pelaksanaan pengendalian internal atas pelaporan keuangan.

MERESPONS RISIKO KECURANGAN


Respon auditor terhadap risiko kecurangan meliputi hal-hal berikut:
Mengubah Pelaksanaan Audit Secara Keseluruhan
Auditor dapat memilih di antara beberapa respon secara keseluruhan bila risiko kecurangan meningkat.
Jika risiko salah saji akibat kecurangan meningkat, personil yang lebih berpengalaman dapat ditugasakan
dalam audit itu.
Merancang dan Melaksanakan Prosedur Audit untuk Menangani Risiko Kecurangan
Prosedur audit yang tepat yang digunakan untuk menangani risiko kecurangan tertentu tergantung pada
akun yang diaudit dan jenis risiko kecurangan yang diidentifikasikan.
Merancang dan Melaksanakan Prosedur untuk Menangani Pengabaian Pengendalian oleh
Manajemen
Adapun 3 prosedur yang harus dilaksakan dalam setiap audit antara lain:
 Memeriksa Ayat Jurnal dan Penyesuaian Lainnya untuk Mencari untuk Mencari Bukti Salah Saji
yang Mungkin Akibat Kecurangan
 Mereview Estimasi Akuntansi untuk Mengetahui Adanya Biasa
 Mengetahui Dasar Pemikiran Bisnis untuk Transaksi Tidak Biasa yang Signifikan
Memutakhirkan Proses Penilaian Risiko
Adapun beberapa hal yang harus diwaspadai oleh auditor dalam melakukan proses audit antara lain:
 Perbedaan dalam catatan akuntansi
 Bukti audit yang bertentangan atau hilang
 Hubungan yang serba salah atau tidak biasa antara auditor dan manajemen
 Hasil dari prosedur substantif atau prosedur analitis pada tahap review akhir
 Jawaban yang tidak jelas atau tidak masuk akal atas pertanyaan yang diajukan selama audit

BIDANG-BIDANG RISIKO KECURANGAN YANG SPESIFIK


 Risiko Kecurangan dalam Pendapatan dan Piutang Usaha
Hal ini dibuktikan oleh studi yang dilakukan oleh COSO yang menemukan bahwa lebih dari
sebagian kecurangan yang terjadi dalam laporan keuangan itu melibatkan piutang usaha dan
pendapatan.
Risiko Pelaporan Keuangan Yang Curang Atas Pendapatan
Alasan yang terpenting adalah bahwa pendapatan hampir selalu merupakan akun terbesar dalam
laporan laba-rugi, sehingga satu salah saji yang hanya merupakan persentase yang kecil dari
pendapatan masih bisa berdampak besar terhadap laba.
Dalam manipulasi pendapatan, ada tiga jenis utama manipulasi pendapatan yaitu :
1. Pendapatan Fiktif
Biasanya pelaku berusaha keras untuk menciptakan pendapatan fiktif, dengan cara
menciptakan kebijakan fiktif, serta melibatkan puluhan jumlah karyawan.
2. Pengakuan Pendapatan Prematur
Seringnya, sebuah perusahaan mempercepatwaktu untuk melakukan pengakuan
pendapatan untuk memperoleh target pandapatan serta penjualan.
3. Manipulasi atas Penyesuaian Pendapatan
Penyesuaian yang umumnya digunakan untuk pendapatan adalah menyangkut retur
penjualan serta alokasi dari penjualan. Biasanya perusahaan menyembunyikan retur dari
auditor. Adapun maksud dari tindakan ini adalah agar penjualan dan pendapatan menjadi
lebih besar.

Tanda-Tanda Peringatan Kecurangan Pendapatan.


Ada banyak tanda peringatan atau gejala yang mengindikasikan kecurang pendapatan. Dua di
antara yang paling bermanfaat adalah prosedur analitis dan perbedaan dokumenter.
1. Prosedur Analitis
Adapun prosedur analitis yang sering digunakan untuk menemukan terjadinya
kecurangan yakni “persentase laba kotor” serta “perputaran piutang”.
2. Perbedaan Dokumenter
Pada transaksi fiktif jarang sekali memiliki tingkat bukti dokumenter yang sama seperti
dalam transaksi yang sah atau legal. Sebagai contoh ketidak-detilan dari transaksi fiktif
yang tidak bisa menyamai transaksi legal dari segi detail bukti dokumenter.

Penyalahgunaan Penerimaan yang Melibatkan Kas


Kecurangan semacam ini dapat berdampak buruk terhadap organisasi karena aktiva langsung
hilang.
1. Kelalaian Pencatat Penjualan
Kecurangan ini mudah untuk dideteksi apabila barang yang dikirim kepada
customer secara kredit.
2. Pencurian Penerimaan Kas Setelah Penjualan Dicatat
Akibatnya untuk menyembunyikan pencurian, si pelaku harus mengurangi rekening
pelanggan dengan salah satu dari tiga cara :
a. Mencatat suatu retur penjualan atau pengiurangan harga
b. Menghapus rekening pelanggan
c. Mencatat pembayaran dari pelanggan lain dalam rekening pelanggan itu, yang
dikenal sebagai lapping.

Tanda-tanda Peringatan dan Penyalahagunaan Pendapatan dan Penerimaan Kas


Pencurian dan penerimaan kas terkait yang nilai nya relatif kecil dapat dicegah dan dideteksi
dengan baik oleh pengendalian internal yang dirancang untuk meminimalkan kesempatan
melakukan kecurangan.

 Risiko Kecurangan Persediaan


Persediaan kerap kali merupakan akun terbesar dalam neraca banyak perusahaan, dan auditor
sering merasa sulit memverifikasi eksistensi dan penilaian persediaan.
Risiko Pelaporan Keuangan yang Curang Untuk Persediaan
Persediaan fiktif telah menjadi pusat dari beberapa kasus besar pelaporan keuangan yang curang.
Banyak perusaahaan besar memiliki persediaan yang sangat beragam dan berjumlah besar
dibanyak lokasi , sehingga relatif mudah bagi perusahaan untuk menambah persediaan fiktif pada
catatan akuntansi.
Tanda-tanda Peringatan Kecurangan Pesediaan. Serupa dengan penipuan yang melibatkan
piutang usaha, banyak tanda peringatan atau gejala yang berpotensi menunjukan kecurangan
persediaan. Prosedur analitis sangat efektif untuk mendeteksi kecurangan persediaan.
1. Prosedur analitis
Prosedur analitis, terutama persentasi marjin kotor dan perputaran persediaan, sering kali
membantu membongkar kecurangan persediaan. Persediaan fiktif akan mengurangsajikan
harga pokok penjualan dan melebihsajikan marjin kotor. Persediaan fiktif juga
memperkecil perputaran persediaan.

 Risiko Kecurangan dalam Pembelian dan Utang Usaha


Kasus pelaporan keuangan yang curang yang melibatkan utang usaha relatif umum ditemui
meskipun lebih jarang bila dibandingkan dengan kecurangan yang melibatkan persediaan atau
piutang usaha. Kurang saji yang disengaja atas utang usaha biasanya menghasilkan kurang saji
pembelian dan harga pokok penjualan serta lebih saji laba bersih. Penyalahgunaan yang
signifikan yang melibatkan pembelian juga dapat terjadi dalam bentuk pembayaran kepada
vendor fiktif, serta suap dan perjanjian ilegal lainnya dengan pemasok.

Risiko Laporan Keuangan yang Curang untuk Utang Usaha


Perusahaan mungkin melakukan upaya yang sengaja untuk mengurangsajikan utang usaha dan
melebih sajikan laba. Hal ini dapat dicapai dengan tidak mencatat utang usaha sampai periode
berikutnya, atau dengan mencatat penurunan fiktif utang usaha.

Penyalahgunaan dalam siklus Akuisisi dan Pembayaran


Kecurangan yang paling umum dalam siklus akuisisi adalah si pelaku melakukan pembayaran
kepada vendor fiktif dan menyimpan uang itu dalam rekening fiktif. Kecurangan ini dapat
dicegah dengan menetapkan bahwa pembayaran hanya akan dilakuakan kepada vendor yang
sudah disetujui dan dengan meneliti secara cermat dokumentasi yang mendukung akuisisi itu oleh
personil yang berwenang sebelum pembayaran dilakukan.
 Bidang-bidang risiko kecurangan lainnya
Meskipun beberapa akun lebih rentang dibandingkan yang lain, hampir semua akun dapat
dimanipulasi. Berikut beberapa akun lain yang risiko pelaporan keuangan yang curang atau
menyalahgunakan yang spesifik :

Aset Tetap
Aset tetap, yang merupakan akun neraca yang besar bagi banyak perusahaan, seringkali
didasarkan pada penilaian yang ditetapkan secara subjektif. Akibatnya, aset dapat menjadi sasaran
manipulasi, terutama bagi perusahaan yang tidak memiliki piutang atau persediaan yang material.

Beban Penggajian
Perusahaan mungkin saja melebihsajikan persediaan dan laba bersih dengan mencatat biaya
tenaga kerja berlebihan dalam persediaan. Namun demikian, sebenarnya kecurangan dalam
penggajian yang melibatkan penyalahgunaan aktiva itu cukup umum terjadi walaupun nilai yang
terlibat di dalamnya seringkali bersifat tidak material.
Ada dua kecurangan yang umumnya terjadi yaitu :
1. Penciptaan pegawai fiktif
Kecurangan ini bisa dicegah dengan melakukan pemisahan sumber daya manusia dengan
fungsi penggajian.
2. Lebih saji jumlah jam kerja karyawan
Kecurangan ini bisa dicegah dengan menggunakan mesin time lock yang merupakan
sebuah alat yang digunakan untuk mencetak jam datang serta jam pulang dari para
pegawai atau dengan persetujuan jam kerja.

TANGGUNG JAWAB BILA DICURUGAI ADA KECURANGAN


Kecurangan sering kali terdeteksi melaui penerimaan tip anonim, oleh review manajemen, audit internal,
atau secara kebetulan. Auditor eksternal mendeteksi persentase kecurangan yang relative kecil, tetapi
kemungkinan besar akan mendeteksinya apabila kecurangan itu memiliki dampak yang material terhadap
laporan keuangan.

Merespons Salah Saji yang Mungkin Ditimbulkan oleh Kecurangan


Apabila dicurigai ada kecurangan, auditor akan mengumpulkan informasi tambahan untuk menentukan
apakah kecurangan itu memang ada. Sering kali, auditor memulai dengan mengajukan pertanyaan
tambahan kepada manajemen dan pihak lainnya.

Penggunaan Pengajuan Pertanyaan


Wawancara akan memungkinkan auditor menjernihkan masalah yang tidak teramati dan mengamati
respons lisan serta nonlisan responden serta dapat membantu mengidentifikasi masalah-masalah yang
tidak tercantum dalam dokumentasi atau konfirmasi.
Kategori Pengajuan Pertanyaan
Auditor dapat menggunakan salah satu atau lebih dari 3 kategori pengajuan pertanyaan berdasarkan
tujuan auditor, yaitu:
1. Pengajuan pertanyaan informasional (informational inquiry)
Auditor dapat menggunakan pengajuan pertanyaan informasional untuk memperoleh informasi
tentang fakta dan detail yang belum dimiliki auditor, biasanya mengenai peristiwa atau proses di
masa lalu atau yang sedang berjalan saat ini.
2. Pengajuan pertanyaan penilaian (assessment inquiry)
Auditor dapat menggunakan pengajuan pertanyaan penilaian untuk menguatkan atau menyangkal
informasi sebelumnya. Salah satu kegunaan pengajuan pertanyaan ini yang biasa dilakukan
adalah untuk memperkuat jawaban manajemen atas pengajuan pertanyaan sebelumnya dengan
mengajukan pertanyaan kepada pegawai lainnya.
3. Pengajuan pertanyaan interogatif (interrogative inquiry)
Pengajuan pertanyaan interrogative sering digunakan untuk memastikan apakah setiap individu
berbohong atau sengaja tidak mengungkapkan pengetahuan penting tentang fakta, peristiwa, atau
situasi penting.. Pada saat menggunakan pengajuan pertanyaan interogatif, sering kali auditor
mengajukan pertanyaan khusus dan terarah dengan meminta jawaban “ya” atau “tidak”.

Mengevaluasi Respons atas Pengajuan Pertanyaan


Agar pengajuan pertanyaan efektif, auditor harus terampil menyimak dan mengevaluasi respons atas
pertanyaan yang diajukan. Pertanyaan tindak lanjut yang efektif sering kali menghasilkan informasi yang
lebih baik untuk menilai apakah memang ada kecurangan. Teknik menyimak yang baik serta pengamatan
atas petunjuk perilaku akan mempertajam teknik pengajuan pertanyaan auditor.

Teknik Menyimak
Sangat penting bagi auditor untuk memanfaatkan keterampilan menyimak yang efektif selama proses
pengajuan pertanyaan. Auditor harus terus memperhatikan dengan mempertahankan kontak mata,
mengangguk sebagai tanda setuju, atau memperlihatkan tanda-tanda pemahaman lain. Auditor juga harus
berusaha untuk tidak membentuk terlebih dahulu ide-ide tentang informasi yang diberikan.

Mengamati Petunjuk Perilaku


Investigator yang berpengalaman akan memperhatikan bahwa subjek yang tidak nyaman memberikan
jawaban atas pertanyaan yang sering kali mempertontonkan banyak perilaku nonlisan. Auditor yang
belum berpengalaman harus berhati-hati ketika mereka mulai melihat sikap yang tidak biasa, dan mereka
harus mendiskusikan kekhawatirannya dengan anggota senior tim audit sebelum melakukan apa pun
untuk merespons perilaku itu.

Tanggung Jawab Lain Apabila Dicurigai Ada Kecurangan


Apabila auditor curiga bahwa mungkin ada kecurangan, standar auditing mengharuskan auditor
memperoleh bukti tambahan untuk menetukan apakah kecurangan yang material sudah terjadi.

Analisis Perangkat Lunak Audit


Auditor sering kali menggunakan perangkat lunak audit seperti ACL atau IDEA untuk menentukan
apakah mungkin ada kecurangan. Auditor menggunakan perangkat lunak audit, termasuk alat bantu
spreadsheet dasar seperti Excel, untuk memilah transaksi atau saldo akun ke dalam beberapa subkategori
guna diuji lebih lanjut. Auditor juga memakai alat bantu spreadsheet dasar, seperti Excel, untuk
melaksanakan prosedur analitis pada tingkat disagregat.
Pengujian Substantif yang Diperluas
Dalam beberapa contoh, auditor mungkin mengkonfirmasi setiap transaksi, dan bukan keseluruhan saldo
akun, terutama untuk transaksi bernilai besar yang dicatat menjelang akhir tahun.
Untuk menanggapi risiko yang lebih tinggi bahwa manajemen menggunakan asumsi yang tidak
tepat dalam mengestimasi saldo akun, seperti penyisihan untuk keusangan persediaan, auditor dapat
memanfaatkan spesialis guna membantu mengevaluasi keakuratan dan kelayakan asumsi-asumsi kunci.
Implikasi Audit Lainnya
Standar auditing mengharuskan auditor memperhitungkan implikasi bagi aspek audit lainnya. Sebagai
contoh, kecurangan yang melibatkan penyalahgunaan kas dari dana kas kecil yang berjumlah sedikit
biasanya dianggap tidak signifikan oleh auditor, kecuali masalah itu melibatkan manajemen dari tingkat
yang lebih tinggi, yang mungkin mengindikasikan persoalan yang lebih luas menyangkut integritas
manajemen.
Apabila auditor menetapkan bahwa kecurangan mungkin saja terjadi, standar auditing
mengharuskan auditor membahas masalah itu serta pendekatan audit untuk investigasi lebih lanjut dengan
tingkat manajemen yang tepat, sekalipun masalah itu mungkin dianggap tidak penting.
Penemuan bahwa ada kecurangan juga berimplikasi bagi laporan auditor perusahaan publik
mengenai pengendalian internal atas pelaporan keuangan. PCAOB Standard 5 menyatakan bahwa
kecurangan sebesar berapa pun oleh setidaknya manajemen senior harus dianggap sebagai defisiensi yang
signifikan, dan mungkin merupakan kelemahan yang material dalam pengendalian internal atas pelaporan
keuangan.