Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Konselor sebagai pendidik profesional melakukan pelayanan konseling sebagai salah satu
upaya pendidikan untuk membantu individu memperkembangkan diri secara optimal sesuai
dengan tahap-tahap perkembangan dan tuntutan lingkungan. Konseling sebagai profesi
bantuan diperuntukan bagi individu-individu normal yang sedang menjalani proses
perkembangan sesuai dengan tahap-tahap perkembangan agar mencapai perkembangan
optimal, kemandirian dan kebahagiaan dalam menjalani berbagai kehidupan. Konseling
sebagai profesi bantuan (helping profession) adalah konsep yang melandasi peran dan fungsi
konselor di masyarakat dewasa ini. Pelayanan bimbingan dan konseling di satuan pendidikan
akan dapat diwujudkan oleh Kinerja Guru bimbingan dan konseling (Guru BK) atau konselor
profesional, bermartabat dan berwawasan masa depan sehingga akan mampu
memberdayakan dan membudayakan manusia memasuki sebuah wilayah kesatuan pasar
bebas dan basis produksi dengan kompetisi di semua sektor yang sangat tinggi yaitu
globalisasi di abad ke-21.
Konselor menjadi salah satu profesi yang cukup bergengsi pada perkembangan abad 21,
karena profesi konselor yang erat kaitannya dengan permasalahan perkembangan manusia,
bagaimana mereka berhadapan dan bertindak dalam lingkungan sosial mereka berada.
Permasalahan yang dihadapi oleh manusia menjadi semakin kompleks ketika memasuki era
digital dengan kemajuan teknologi atau biasa disebut dengan era globalisasi yang menjadikan
perkembangan mobilitas manusia menjadi serba cepat. Menurut Luhur (2009) abad 21
ditandai dengan peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi, semakin canggihnya sistem
komunikasi dan arus informasi, persaingan yang semakin ketat dalam standar pemenuhan
pasar internasional yang berupa produk dari gagasan dan pikiran serta tuntutan kerja yang
semakin profesional. Memasuki perkembangan era yang semakin kompleks ini menuntut
setiap profesi untuk ikut berkembang melihat arah kemana untuk menjadikan profesi tersebut
tetap eksis dan dibutuhkan oleh masyarakat.
Abad 21 menuntut kecakapan gobal dalam hal cara berfikir, bekerja, penguasaan
teknologi, dan sebagai warga dunia. Diperlukan pendidikan yang menekankan pada potensi
peserta didik dalam setting pembudayaan, konselor sekolah harus memiliki kesadaran penuh
dalam konteks lokal maupun nasional, serta memiliki kesadasaran kultural. Pemberian
layanan yang diberikan sesuai dengan perkembangan zaman, oleh karenanya selain siswa,
Konselor sekolah juga seyogyanya memiliki kecakapan global transkultural sebagai warga
dunia, dan kecakapan berfikir tinggi disertai penguasaan teknologi yang meletakan dasar
pemanfaatan ilmu dan teknologi pada nilai dan etika kultural.
Salah satu tantangan terberat konselor diabad 21 ini adalah yang berkaitan dengan
kompleksitas multikultural yang ada. Indonesia memiliki keanekaragaman baik suku, etnis,
budaya, bahasa bahkan agama. Program bimbingan dan konseling hendaknya memahami,
memperhatikan, dan mempertimbangkan keragaman tersebut sehingga terhindar dari sikap
diskriminatif dan pembedaan dalam praktiknya. Oleh karena itu gagasan konseling lintas
budaya menjadi suatu terobosan dan alternative yang dapat digunakan oleh para pelaku
bimbingan dan konseling terhadap latar belakang budaya klien yang berbeda-beda.
Beberapa penelitian terdahulu yang membahas tentang multikultural diantaranya oleh
Roifah (2016) dengan judul penelitian Model Konseling Multikultural Pada Lembaga ECCD-
RC (Early Childhood Care And Development Resource Center) Yogyakarta. Penelitian
tersebut bertujuan untuk mengetahui teknik dan strategi yang digunakan konselor pada
lembaga ECCD-RC dalam menangani konseli dengan latar belakang budaya yang berbeda.
Penelitian lainnya oleh Ridlwan (2017) dengan judul Komunikasi Konseling Lintas Budaya
di MAN 2 Brebes Jawa Tengah. Tujuan dari penelitian tersebut adalah untuk mengetahui
cara komunikasi antara konselor dengan konseli dengan latar belakang budaya yang berbeda
dalam proses konseling. Penelitian selanjutnya oleh Iswari (2017) dengan judul penelitian
Efektivitas Penyelenggaraan Konseling Dengan Memahami Komunikasi Antar Budaya.
Penelitian yang dilakukan oleh Iswari bertujuan untuk mengetahui efektivitas dari
pemahaman komunikasi budaya terhadap perubahan perilaku klien.
Konseling multikultural merupakan konseling yang melibatkan konselor dan klien yang
berasal dari latar belakang budaya yang berbeda (Lestari, I. 2012; Fajrin, Y. N. 2014; Yusuf,
M. 2016), dan karena itu proses konseling sangat rawan oleh terjadinya bias-bias budaya
pada pihak konselor yang mengakibatkan konseling tidak berjalan efektif. Berdasarkan
uraian tersebut maka agar proses konseling berjalan efektif maka konselor dituntut untuk
mengapresiasikan diversitas budaya dan memiliki keterampilan yang resposif secara kultural.
Berangkat dari latar belakang dan beberapa penelitian, penulis tertarik untuk mengangkat
permasalahan tentang dan Profesi Konselor Abad 21 dalam Multikultural.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana masyarakat Indonesia abad 21?
2. Bagaimana profesi konselor abad 21?
3. Bagaimana multikultural dan tantangan profesi konselor abad 21?
4. Bagaimana konselor efektif dan kompeten secara kultural?
5. Bagaimana konselor masa depan?

C. Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui masyarakat Indonesia abad 21.
2. Untuk mengetahui profesi konselor abad 21.
3. Untuk mengetahui multikultural dan tantangan profesi konselor abad 21.
4. Untuk mengetahui konselor efektif dan kompeten secara kultural.
5. Untuk mengetahui konselor masa depan.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Masyarakat Indonesia Abad 21


Perkembangan ilmu pengetahuan diakui melaju sangat pesat diabad 21, terutama
dibidang teknologi, informasi dan komunikasi yang membuat beragam informasi dari
berbagai negara mampu diakses dengan instan, cepat, mudah, murah, dan dapat diakses oleh
siapa saja. Permasalahan generasi saat ini lebih kompleks dari generasi sebelumnya. Generasi
saat ini adalah generasi muda yang dibanjiri dengan kemudahan dari berbagai sisi.
Kemudahan yang juga memiliki dampak negatif bagi perkembangan generasi muda.
Perkembangan kehidupan masyarakat yang semakin mendunia yang diiringi berbagai
perubahan dan kemajuan serta masalah-masalah yang melekat di dalamnya menimbulkan
berbagai tantangan dan sekaligus menumbuhkan harapan bagi seluruh warga masyarakat.
Tantangan, harapan, kesenjanjangan, dan persaingan yang terus menerus sebagai suatu
kenyataan yang dihadapi manusia dalam berbagai setting kehidupan, yaitu keluarga, sekolah,
organisasi pemuda dan kemasyarakatan, menjadi potensi timbulnya berbagai permasalahan.
Kondisi semacam ini menjadikan fokus perhatian serta medan pelayanan konseling semakin
lebar, tidak hanya terbatas pada lingkungan persekolahan, melainkan juga memasuki
lingkungan masyarakat luas.
Masalah yang muncul ke permukaan mengenai pemahaman masyarakat era digital yakni
mengenai sejauh mana definisi masyarakat era digital memperoleh porsi yang tepat dalam
seluruh konteks perkembangan masyarakat secara luas. Pada dasarnya sebutan masyarakat
era digital telah melekat dengan sendirinya pada situasi masyarakat yang telah ada.
Merupakan suatu kenyataan bahwa setiap individu mempunyai kebutuhan dan tuntutan
terhadap teknologi informasi. Perkembangan dinamika kemanusiaan menempatkan
perkembangan teknologi informasi dalam konteks masyarakat era digital menjadi suatu
kenyataan bahkan keharusan.Indonesia hanya membutuhkan beberapa dekade saja
pascakemerdekaan.
Ilmu pengetahuan dan teknologi haruslah diarahkan kepada kehidupan bermoral manusia.
Oleh karena itu esensi nilai dalam masyarakat global di abad ke-21 menjadi amat penting,
dalam kondisi manusia menghadapi ketidakpastian (uncertainty) dan bahkan kesemrawutan
(chaos) yang bisa membuat nilai-nilai rujukan yang ada menjadi amat rentan terhadap
pengaruh nilai-nilai baru yang dangkal dan instrumental.Di sinilah manusia perlu belajar
memahami dan memaknai nilai agar nilai rujukan yang diikutinya tidak semata-mata nilai
transformasi kultural tetapi dimaknai secara kontekstual. Masa depan yang dibawa oleh
proses globalisasi di abad ke-21 adalah masyarakat yang berdasarkan ilmu pengetahuan
(knowledge based society). Masyarakat masa depan tersebut adalah masyarakat yang berubah
dan didasarkan pada penemuan-penemuan yang meningkatkan taraf hidup manusia. Sikap
inovatif merupakan syarat yang perlu dikembangkan dalam pendidikan termasuk juga dalam
konseling.Sikap inovatif memerlukan manajemen waktu (time management) dalam bekerja,
kualitas terkontrol dalam pekerjaan, serta sikap keterbukaan untuk mencari yang lebih
baik.Suatu masyarakat berdasarkan ilmu pengetahuan adalah suatu masyarakat
komunikatif.Oleh karena itu penguasaan bahasa dunia serta bahasa komputer merupakan
syarat mutlak dalam kemajuan suatu masyarakat.
Tantangan era digital di Indonesia utamanya yakni bangsa Indonesia harus berusaha
menyetarakan atau mengikuti perkembangan zaman akan perkembangan teknologi dunia,
karena perkembangan teknologi dan informasi sangat pesat. Bangsa Indonesia harus
meningkatkan kreatifitasnya dalam dunia teknologi agar dapat mengikuti perkembangan
zaman yang sekarang ini dalam kondisi yang serba mutakhir. Hal ini tentu akan memberikan
dampak yang sangat besar bagi dunia pendidikan khususnya terkait peluang dan tantangan ke
depannya.Menghadapi perubahan kehidupan yang begitu cepat diera globalisasi abad 21 di
masa depan, manusia dituntut untuk mampu melakukan kompetisi dan bahkan mega-
kompetisi di dalam seluruh kehidupan manusia. Mega-kompetisi tersebut adalah dorongan
untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia, dengan kualitas tersebut orang saling
bersaing satu dengan yang lain. Manusia modern yang hidup dalam masyarakat yang penuh
risiko, harus cepat mengambil sikap, mengadakan pilihan yang tepat untuk hidupnya atau dia
hanyut bersama-sama dengan perubahan tersebut. Suatu masyarakat yang berisiko adalah ciri
utama masyarakat masa depan. Dalam menghadapi masyarakat yang penuh risiko tersebut
kita dapat mengambil sikap yang ragu-ragu atau pesimis atau sikap optimisme untuk
menghadapi perubahan. Masyarakat masa depan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi
belum cukup untuk membangun masyarakat yang sejahtera dan damai. Masyarakat itu adalah
masyarakat madani yang berkembang berdasarkan kehidupan yang mengakui akan hak asasi
manusia dan partisipasi setiap anggotanya di dalam membangun masyarakatnya. Inilah
masyarakat demokratis yang mengakui akan hak-hak asasi manusia, hidup penuh toleransi
dan saling menghargai. Dengan demikian penguasaan ilmu pengetahuan dan penerapan
teknologi tidak diarahkan kepada pemusnahan peradaban manusia tetapi terarah kepada
kehidupan dunia yang lebih baik, aman, saling pengertian,dan saling menghargai. .

B. Profesi Konselor Abad 21


Bimbingan dan konseling merupakan suatu profesi. Setiap profesi memiliki ciri-ciri
tertentu. Hal ini terlihat dari ciri-ciri profesi sebagai berikut:
a. Bimbingan dan konseling dilaksanakan oleh petugas yang disebut guru pembimbing atau
konselor (sekolah) yang merupakan lulusan dari pendidikan keahlian, yakni lulusan
perguruan tinggi Jurusan dan Program Studi Bimbingan dan Konseling,
b. Kegiatan bimbingan dan konseling merupakan pelayanan kemasyarakatan dan bersifat
social,
c. Dalam melaksanakan layanan, guru pembimbing menggunakan berbagai metode atau
teknik ilmiah,
d. Memiliki organisasi profesi, yaitu Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia
(ABKIN), yang saat didirikan tanggal 12 Desember 1975 di Malang dikenal dengan
nama Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI). Sebagai sebuah organisasi, ABKIN
memiliki AD/ ART maupun kode etik,
e. Ada pengakuan masyarakat / pemerintah, seperti tercantum dalam SK Mendikbud Nomor
25 Tahun 1995 yang menyatakan bahwa IPBI (saat ini ABKIN) sejajar dengan PGRI dan
ISPI. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal
1 Ayat 6 menetapkan konselor sebagai salah satu jenis kualifikasi pendidik.
f. Para anggotaprofesi bimbingan dan konseling memiliki keinginan untuk memajukan diri,
baik wawasan pengetahuannya maupun keterampilannya, yaitu melalui kegiatan seminar,
pelatihan, workshop atau pertemuan ilmiah lainnya.
Dahir, C. A. (2009) menyatakan bahwa memasuki abad 21, konseling sekolah telah
mengalami kemajuan dan pergeseran dari pola-pola tradisional yang berfokus pada
pemberian layanan menjadi pola-pola yang berfokus pada satu sistem yang proaktif dan
programatik. Dalam menghadapi tantangan yang dihadapi siswa sekolah di abad 21,
konseling sekolah telah dipengaruhi oleh paradigma dan praktek yang mengarah pada profesi
dan pembaharuan dalam penekanan memberikan bantuan dan dukungan kepada siswa dalam
pencapaian prestasi akademik, advokasi keadilan sosial, dan akuntabilitas konselor.
Konseling identik dengan kehidupan. Konseling adalah kehidupan itu sendiri. Konseling
adalah proses kehidupan dan bukan proses untuk mempersiapkan hidup. Hidup yang
sewajarnya adalah hidup di mana manusia dapat mengembangkan diri dan mewujudkan diri
sebagai mahluk individu, sebagai mahluk sosial dan sebagai mahluk beragama.
Pendidikan adalah perwujudan diri (Wilds & Lottich,1961:246) ini berarti bahwa konseling
sebagai bagian pendidikan juga berusaha untuk membantu manusia untuk dapat
memberdayakan dirinya dalam melakukan perwujudan diri sehingga akan menjadi eksis
dalam kehidupan. Konseling adalah upaya untuk membantu individu-individu yang sedang
dalam proses perkembangan untuk mencapai tugas perkembangannya sehingga akan menjadi
manusia yang berdaya dan berbudaya bangsa Indonesia.
Penyelenggaraan pelayanan bimbingan konseling sesuai dengan kewenangan dan kode
etik profesional konselor. Konselor ataupun guru BK memiliki kewenangan yang terdapat di
Kebudayaan (2007), yakni: a) merancang kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling, b)
mengimplementasikan kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling, c) menilai proses dan
hasil kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling serta melakukan penyesuaian-penyesuaian
sambil jalan berdasarkan keputusan transaksional selama rentang proses bimbingan dan
konseling dalam rangka memandirikan konseli, dan d) mengembangkan profesionalitas
sebagai konselor secara berkelanjutan.
Dahir, C.A, 2009 mengidentifikasi ada enam premis dasar yang cukup kritis terkait
dengan masa depan konseling sekolah, yaitu:
1. Apa yang dilakukan oleh profesi konseling sekolah dewasa ini akan berpengaruh
terhadap kualitas bidang konseling sekolah dan lingkungan pendidikan di mana koselor
sekolah dan siswa berada.
2. Metode ilmiah dalam penelitian konseling sekolah dapat digunakan untuk mengantisipasi
masa depan konselor sekolah yang belum diketahui,
3. Tidak hanya satu masa depan yang menunggu profesi konseling sekolah, akan tetapi
banyak berbagai kemungkinan masa depan, tergantung pada apa yang dipilih oleh
konselor sekolah pada masa kini,
4. Konselor sekolah harus memiliki landasan moral dalam tanggung jawabnya bagi siswa
generasi masa depan dan juga konselor sekolah generasi selanjutnya.
5. Teknologi akan terus memberikan pengaruh dan dukungan bagi konseling sekolah, akan
tetapi konselor sekolah bertanggung jawab untuk memadukan teknologi itu bagi
kepentingan masa depan yang mungkin tidak diperlukan di masa dua puluh tahun yang
lalu.
6. Diperlukan adanya suatu studi ekstensif untuk menunjang gagasan-gagasan bagi profesi
konseling sekolah dan siswa.
Menurut Dahir, C.A, (2009) keenam premis itu masih relevan untuk dijadikan rujukan
pada masa kini dalam menghadapi tantangan abad 21. Ia mengatakan bahwa konselor
sekolah di abad 21 berada dalam posisi yang memiliki kekuatan dan strategis untuk
menunjukkan secara efektif bagaimana melengkapi prestasi akademik dan perkembangan
afektif sebagai formula yang tepat untuk membantu siswa. Konselor sekolah berperan
sebagai kunci tim kepemimpinan pendidikan dan membangun tantangam untuk berbagi
tanggung jawab dalam mempersiapkan siswa agar mencapai standar akademik sambil
membantu meraka menjadi anggota masyarakat yang produktif dan bermakna. Menurut The
American School Counselor Association (Blum dan Davis dalam Hidayah, Elia, Boli, &
Hambali, 2017), seorang konselor yang akuntabel hendaknya memenuhi standar 1 sampai
dengan standar 13.

Standar 1. Konselor sekolah professional merencanakan, mengatur dan menjalankan


program konseling sekolah.
Standar 2. Konselor sekolah professional mengimplementasikan kurikulum bimbingan
sekolah melalui penggunaan keterampilan-keterampilan mengajar yang efektif
dan perencanaan yang mawas terhadap pertemuan kelompok yang terstruktur
bagi para siswa.
Standar 3. Konselor sekolah yang professional mengimplementasikan komponen
perencanaan dengan membimbing individu-individu dan kelompok-kelompok
siswa dan orang tua atau wali mereka melalui pengembangan pendidikan dan
perencanaan karir
Standar 4. Konselor professional memberikan layanan-layanan responsif melalui pemberian
konseling individual dan konseling kelompok kecil yang efektif, konsultasi dam
keterampilan-keterampilan melakukan referal.
Standar 5. Konselor sekolah yang professional melaksanakan dukungan system melalui
pengelolaan program konseling sekolah dan mendukung program-program
kependidikan lainnya.
Standar 6. Konselor sekolah professional membahas system pengelolaan departemen
konseling dan rencana-rencana menindak program dengan administrator sekolah
Standar 7. Konselor sekolah yang professional bertanggung jawab untuk menetapkan dan
mengadakan rapat dewan penasehat untuk program konseling sekolah
Standar 8. Konselor sekolah professional mengumpulkan dan menganalisis data untuk
mengawal arah program dan penekanannya
Standar 9. Konselor sekolah professional memantau perkembangan para siswa pada sebuah
basis yang teratur
Standar 10. Konselor sekolah professional menggunakan waktu dan kalender untuk
mengimplementasi sebuah program yang efisien.
Standar 11. Konselor sekolah professional mengembangkan sebuah evaluasi hasil dari
program.
Standar 12. Konselor sekolah professional mengadakan audit program tahunan.
Standar 13. Konselor sekolah professional adalah penasehat seorang siswa, pemimpin,
kolaborator, dan seorang agen perubahan sebuah sistem

C. Multikultural Dan Tantangan Profesi Konselor Abad 21


Fenomena semakin meningkatnya keragaman konseli/siswa pada komunitas pendidikan
dan khususnya dalam layanan bimbingan dan konseling. Sue menyebut (1991: 17-21)
keragaman etnis, gender, latar belakang budaya, geografis, asal daerah, ras, kondisi fisik
(abilitas/disabilitas), usia, serta keragaman sosial ekonomi, agama, karakteristik pribadi,
kemampuan sosial, perilaku dan kebiasaan serta kemampuan intelektual, telah menjadi
fenomena keseharian di madrasah, yang diakibatkan oleh penyebaran penduduk, mengikuti
pekerjaan orang tua, atau perpindahan untuk mendapatkan pendidikan di tempat yang
berbeda budaya.
Keragaman budaya (multikultural) merupakan peristiwa alami karena bertemunya
berbagai budaya, berinteraksinya beragam individu dan kelompok dengan membawa perilaku
budaya, memiliki cara hidup berlainan dan spesifik. Keragaman konseli seperti berbeda
budaya, latar belakang keluarga, agama, dan etnis tersebut saling berinteraksi dalam
komunitas sekolah dan hal tersebut memerlukan pemahaman budaya (Matsumoto,1996).
Dalam layanan konseling, keragaman budaya menyadarkan konselor tentang pentingnya
kesadaran multikultural dalam menghadapi perbedaan, sekecil apapun perbedaan tersebut.
Konselor perlu mengubah persepsi mereka, mencukupkan diri dengan pengetahuan tentang
budaya, memahami bentuk-bentuk diskriminasi, stereotip dan rasisme (Holcomb-McCoy,
2004,294). Konselor sekolah, harus menghargai keberagaman konseli (Depdiknas, 2007, 12),
Konselor perlu memiliki kesadaran multikultural yaitu menghargai perbedaan dan keragaman
nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, menyadari adanya bias-bias dan kesadaran akan
keterbatasan diri dalam hal budaya. Konselor memahami pandangan hidup dan latar belakang
budaya diri dan konseli serta mengembangkan strategi konseling yang sesuai budaya. Di sini
klien tidak hanya dipahami dalam terminologi psikologis murni tapi juga dipahami sebagai
anggota aktif dari sebuah budaya. Perasaan, pengalaman dan identitas dari klien dipandang
dibentuk oleh lingkungan budaya. Ramirez (1991) berpendapat bahwa tema umum yang
terdapat dalam semua konseling beragam budaya adalah tantangan untuk hidup dalam
masyarakat beragam budaya. Dia menyatakan bahwa tujuan utama dalam menghadapi
konseli dari berbagai kelompok etnis adalah mengembangkan “fleksibelitas kultural”.
Ramirez (1991) menekankan bahwa bahkan anggota kelompok kultur yang dominan atau
mayoritas merasakan ketidaksesuaian antara siapa diri kita dan apa yang diharapkan orang
lain dari kita. Pendekatan yang diambil oleh Ramirez (1991) menggunakan penyesuaian gaya
dan pemahaman kultural konseli oleh konselor di pertemuan awal, kemudian mendorong
untuk mencoba berbagai bentuk perilaku kultural. Jelas pendekatan ini menuntut fleksibelitas
kultural dan kesadaran diri tingkat tinggi dalam diri konselor. Untuk bisa menghargai semua
keragaman etnis,budaya, dan agama tentu diperlukan beberapa prasyarat.
1. Pertama, secara teologis-filosofis diperlukan kesadaran dan keyakinan bahwa setiap
individu dan kelompok etnis itu unik, namun dalam keunikannya, masing-masing
memiliki kebenaran dan kebaikan universal, hanya saja terbungkus dalam wadah budaya,
bahasa, dan agama yang beragam dan bersifat lokal.
2. Kedua, secara psikologis memerlukan pengkondisian terhadap orang lain atau kelompok
berbeda. Cara paling mudah untuk menumbuhkan sikap demikian adalah melalui contoh
keseharian yang ditampilkan orang tua, guru, konselor di sekolah dan pengajaran agama.
3. Ketiga, desain kurikulum pendidikan, program konseling, dan kultur sekolah harus
dirancang sedemikian rupa sehingga peserta didik mengalami secara langsung makna
multikultural dengan panduan guru dan konselor yang memang sudah disiapkan secara
matang.
4. Keempat, pada tahap awal hendaknya diutamakan untuk mencari persamaan dan nilai-
nilai universal dari keragaman budaya dan agama yang ada sehingga aspek-aspek yang
dianggap sensitif dan mudah menimbulkan konflik tidak menjadi isu dominan.
5. Kelima, dengan berbagai metode yang kreatif dan inovatif hendaknya nilai-nilai luhur
Pancasila ditegakkan kembali dan ditanamkan pada peserta didik khususnya konseli agar
sense of citizenship dari sebuah negara,bangsa semakin kuat.
Dalam menghadapi tantangan global di abad ke-21 dan dalam masyarakat Indonesia yang
multikultural, konselor harus melihat peluang bagi profesi konseling untuk menjadi profesi
bantuan sesungguhnya, yang harus mampu merespon kebutuhan masyarakat multikultural
dan masyarakat masa depan serta mengantisipasi masa depan. Oleh karena itu, profesi
konseling harus berupaya untuk mengokohkan dan mempromosikan identitas, kelayakan,dan
akuntabilitas konselor profesional secara nasional maupun internasional,serta menegaskan
identitas profesi konseling dan masyarakat konselor yang secara nasional telah memenuhi
standar profesi konseling, sehingga dapat memenuhi tuntutan dinamika perkembangan
masyarakat global.
Robert B. Tucker (dalam Rakhmawati, 2017) mengidentifikasi adanya sepuluh tantangan
di abad 21 yaitu:
1. Kecepetan (speed)
2. Kenyamanan (convinience)
3. Gelombang generasi (age wave)
4. Pilihan (choice)
5. Ragam gaya hidu (life style)
6. Kompetisi harga (discounting)
7. Pertambahan nilai (value added)
8. Pelayanan pelanggan (costumer service)
9. Teknologi sebagai andalan (techno age)
10. Jaminan mutu (quality control)

D. Konselor Efektif Dan Kompeten Secara Kultural


Konselor profesional abad ke-21 dalam menjalankan profesi bantuan harus mampu
menjadi konselor efektif. Konselor efektif adalah konselor yang dalam menjalankan tugasnya
menghasilkan manfaat dan mendapatkan kepercayaan bagi orang yang dilayani. Keefektifan
konselor dalam menjalankan profesinya karena memiliki akuntabilitas yang meyakinkan
dengan didukung kepemilikan kepribadian, pendidikan formal yang didapat oleh konselor,
dan kemampuan konselor yang meyakinkan melalui praktik konseling berbasis bukti dan
riset tindakan.
Keefektifan seorang konselor dan sebuah konseling ditentukan oleh hal-hal sebagai
berikut: (a) kepribadian dan latar belakang konselor, (b) pendidikan formal yang didapat
oleh konselor, (c) kemampuan konselor untuk terlibat dalam kegiatan konseling profesional
seperti melanjutkan pendidikan,supervisi, advokasi, dan membangun portofolio
(Gladding,T.S (2009). Kepribadian konselor adalah suatu hal yang sangat penting dalam
konseling. Seorang konselor haruslah dewasa, ramah, dan berempati. Mereka harus altruistik
dan tidak mudah marah atau frustasi. Sayangnya masih ada saja beberapa orang yang ingin
terlibat dalam profesi konseling dengan alasan yang salah.
Dalam masyarakat multikultural, Konselor efektif diharapkan menjadi fasilitator, ahli
perbantuan, advokat dan terampil membuat kebijakan, aktif merefleksi atas pertanyaan-
pertanyaan, melakukan konsultasi diri secara berkelanjutan kepada pihak-pihak yang
mengetahui budaya konseli dan memantau perkembangan untuk meningkatkan kompetensi
dalam melayani konseli (Johannes & Erwin, 2004, 329). Konseling harus bisa membantu
dalam membentuk masa depan bangsa melalui berbagai jenis layanan konseling bermartabat
yang dilakukan oleh konselor-konselor yang profesional yang kompeten dalam menjalankan
tugasnya (Wibowo,2015).

E. Konselor Masa Depan


Sebagai suatu profesi konselor merupakan suatu profesi yang dinamis, selalu
berkembang, dan menyenangkan, yang berhubungan dengan tragedi manusia dan
kemungkinan dalam cara yang intensif, personal dan perhatian (Gladding, 2012). Menjadi
salah satu profesi yang berdasarkan perkembangan manusia khususnya pada abad 21
permasalahan-permasalahan yang berkembang menuntut konselor memahami realitas yang
ada, bukan hanya perkembangan teknologi dan infromasi tapi bagaimana permasalalahan
yang semakin kompleks. Profesi konselor yang hadir menunjukan keeksistensiannya dalam
menghadapi tantangan global, dengan mengikuti pola perkembangan manusia tidak membuat
profesi konselor menjadi profesi yang bebas nilai dan lepas kontrol tetapi tetap menjadi
profesi yang tetap memegang nilai-nilai dan etika keprofesian.
Pada abad 21 ini, konselor perlu meningkatkan dan menambah beberapa kompetensi agar
tercipta konseling yang membangun kehidupan masa kini dan masa depan yang lebih baik
dari masa lalu dengan berbagai kemampuan intelektual, kemampuan berkomunikasi, sikap
sosial, kepedulian, dan berpartisipasi untuk membangun kehidupan masyarakat dan bangsa
yang lebih baik. Oleh karena itu konselor harus mengembangkan kehidupan individu peserta
didik dalam beragama, seni, kreativitas, berkomunikasi, nilai dan berbagai dimensi
inteligensi yang sesuai dengan diri seorang peserta didik dan diperlukan masyarakat, bangsa
dan manusia dengan melalui konseling.
Kekuatan eksistensi profesi konseling muncul sebagai akibat interaksi timbal balik antara
kinerja konselor bermartabat dengan kepercayaan publik (public trust). Masyarakat percaya
bahwa pelayanan konseling yang diperlukan itu hanya dapat diperoleh dari konselor yang
dipersepsikan sebagai seorang yang kompeten dan bermartabat untuk memberikan pelayanan
konseling yang bermartabat.
Kinerja konselor pada era globalisasi abad ke-21, menuntut konselor profesional yang
memiliki kemampuan sebagai berikut.
1. Kinerja (performance). Kemampuan ini merupakan seperangkat perilaku nyata yang
ditunjukkan oleh seorang konselor profesional pada waktu melaksanakan tugas
profesionalnya/keahliannya.
2. Penguasaan landasan profesional/akademik. Kemampuan ini mencakup pemahaman dan
penghayatan yang me mencakupndalam mengenai filsafat profesi/kepakaran di bidang
konseling.
3. Penguasaan materi akademik/profesional. Kemampuan ini mencakup sosok tubuh
disiplin ilmu konseling beserta bagian-bagian dari disiplin ilmu terkait dan penunjang
yang melandasi kinerja profesional konseling.
4. Penguasaan keterampilan/proses kerja. Kemampuan ini mencakup keterampilan khusus
yang diperlukan oleh konselor profesional dalam melaksanakan kinerja profesional sejak
perencanaan sampai akhir proses pelaksanaannya dalam bentuk penampilan hasil
kinerjanya.
5. Penguasaan penyesuaian interaksional. Kemampuan ini mencakup cara-cara untuk
menyesuaikan diri dengan suasana hubungan kerja pada saat melaksanakan tugas profesi
konselor profesional. Suasana lingkungan kerja yang dimaksud yaitu suasana lingkungan
dimana klien memperoleh layanan, suasana sosial budaya tempat kerja, nilai-nilai dan
norma-norma yang dianut dan sebagainya.
6. Kepribadian. Kemampuan ini mencakup sifat-sifat dan keyakinan yang perlu dimiliki oleh
konselor profesional, termasuk ke dalamnya adalah sikap, nilai, moral dan etika profesi
terkait.
Keenam kemampuan dasar profesi konselor itu tidak boleh dipandang sebagai pilahan-
pilahan yang terpisah, melainkan harus dipandang sebagai suatu keterpaduan yang menjelma
dan bermuara pada kualitas kinerja konselor. Di samping itu,proporsi setiap kemampuan
dasar dalam keseluruhan profil kemampuan konselor itu tidak sama besar tergantung
penekanannya. Dengan demikian kualitas kemampuan lulusan program studi bimbingan dan
konseling setidak-tidaknya dapat dilihat dari kemampuannya dalam melakukan tugasnya,
dengan memperlihatkan perilaku nyata yang didasari oleh ketahanan profesional-akademik,
penguasaan bahan akademik/profesi/ kepakaran, penguasaan proses yang diperlukan, dan
kemampuan menyesuaikan diri dalam suasana interaksional yang dilandasi oleh kepribadian
yang sehat, mantap, dan produktif.
Konselor masa depan di abad ke-21 adalah konselor yang dalam menjalankan profesi
konseling kreatif, inovatif, produktif dan menyenangkan untuk menjadikan profesi konseling
menjadi kuat dan eksis sehingga akuntabilitas konselor profesional secara nasional di
Indonesia ini dapat diwujudkan. Konselor yang kreatif, inovatif dan menyenangkan akan
menjadikan proses konseling hidup, berkembang, dinamis, dan menyenangkan bagi pihak
yang dilayani,sehingga menimbulkan kepercayaan publik (public trust). Profesi konselor
akan menjadi kokoh, banyak dicari orang,dan menjadi pilihan yang sangat berguna bagi
individu yang hidup dalam dunia yang kompleks,sibuk,dan terus berubah sehingga banyak
pengalaman yang sulit dihadapi seseorang untuk segera diselesaikan. Pada saat itulah
konseling merupakan pilihan yang tepat dan sangat bermanfaat.
Konselor di abad ke-21 adalah seorang profesional di dalam masyarakat terbuka, dan
sebagaimana dengan profesi-profesi lain,profesi konselor di masyarakat terbuka adalah suatu
profesi yang kompetitif. Artinya,profesi konselor haruslah benar-benar mempunyai identitas
profesional dan karakteristik profesional karena sifat dari pekerjaannya, tetapi juga
profesionalisme profesi konselor harus berhadapan dan bersaing dengan profesi-profesi lain
di dalam masyarakat terbuka di abad ke-21. Masyarakat terbuka di abad ke-21 hanya
menerima tenaga profesional dalam berbagai bidang kegiatan,termasuk konselor. Artinya,
barang siapa yang tidak profesional tidak akan survive karena tidak dapat berkompetisi
dengan profesi atau orang lain yang lebih kompeten dan kompetitif. Apabila profesi konselor
tidak kompetitif, tidak profesional, hal itu dapat berakibat matinya profesi tersebut, tidak
terjadi public trust, dan tidak memiliki makna bagi kehidupan manusia yang sedang
menjalani proses perkembangan. Oleh karena itu profesionalisme konselor sangat penting,
karena merupakan syarat mutlak di dalam kehidupan global abad ke-21. Globalisasi
mengubah hakikat kerja amatirisme menuju profesionalisme yang kinerjanya didasarkan
pada penguasaan ilmu pengetahuan, tranformasi kebudayaan ke arah budaya yang dinamis,
kreativitas, inovasi, produktivitas yang tinggi, dan kualitas kinerja dan karya yang kompetitif.

F. Tawaran Solusi
Adapun solusi yang kami tawarkan dari permasalahan tersebut adalah konselor dituntut
secara sadar dan cepat melakukan penyesuaian agar respon-respon yang diberikan lebih
efektif, Selain itu konselor abad 21 perlu memiliki kecakapan yang terbagi menjadi empat
kecakapan penting yaitu way of thingking, way of working, tool of working, dan living in the
word. Kecakapan konselor di abad 21 yang pertama yaitu way of thingking, seperti
kreativitas, inovasi, berfikir kritis, kemampuan menyelesaikan masalah, kemampuan
mengambil keputusan, kemauan untuk belajar, dan kemampuan untuk mengontrol aspek
kognitif (metakognisi). Kecakapan yang kedua yaitu way of working, di dalamnya termasuk
kemampuan komunikasi dan kerjasama. Kecakapan yang ketiga yaitu tool of working, antara
lain kemampuan literasi informasi dan memiliki kemampuan memanfaatkan teknologi
informasi dan komunikasi (melek ICT). Kecakapan yang keempat yaitu living in the world,
antara lain menjadi warga negara dan warga dunia yang baik, memiliki pemahaman tentang
kehidupan dan karier yang baik, memiliki tanggung jawab pribadi dan sosial, serta memiliki
kesadaran dan kompetensi kultural.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Tantangan global di abad 21 secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap pelayanan
bimbingan dan konseling di Indonesia. Memasuki abad 21 konselor sekolah perlu untuk
menghadapi tantangan ini dengan komitmen dan kreativitas. Komitmen dan kreativitas
diperlukan untuk mengubah tantangan menjadi peluang dengan terus berlatih
mengembangkan diri dan mempelajari keterampilan baru yang sesuai dengan kebutuhan
siswa masa kini.
Pengembangan profesionalitas bukanlah sesuatu yang instan melainkan sebuah proses
panjang, konselor sekolah harus terus beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat agar mereka
dapat lebih efektif memenuhi harapan dan kebutuhan siswa. Keterampilan yang saat ini
paling diperlukan adalah keterampilan konselor sebagai mediator budaya dan keterampilan
dalam hal penguasaan teknologi. Konselor dituntut untuk menjadi responsif budaya atau
berperan sebagai mediator budaya, agar konselor sekolah dapat bekerja dengan efektif
dengan populasi dan masalah yang beragam. Keterampilan yang kedua adalah penguasaan
teknologi. Meskipun bekerja dengan teknologi merupakan tantangan bagi beberapa konselor
sekolah, tidak dapat dipungkiri kemajuan teknologi memberikan kesempatan bagi konselor
sekolah untuk memenuhi kebutuhan siswa lebih efisien dan efektif. Program konseling
sekolah berbasis teknologi, membentuk lingkungan sekolah yang lebih efektif dan
memberikan siswa kesempatan berkembang lebih baik.

B. Saran
DAFTAR PUSTAKA

Akhmadi Agus, 2013. Peningkatan Kesadaran Multikultural Konselor (Guru Bk), Vol.03 No.02
Juli-Desember 2013 ISSN 2088-3390
Baker, S. B., & Gerler, E. R. (2004). School Counseling for the Twenty-firstCentury. Upper
Saddle River, NJ:Merrill/Prentice Hall.
Blocher,Donald H (1987) The Profession Counselor. New York: Macmillan Publishing
Company.
Brown,Steven D. & Lent,Robert W. (1984). Handbook of Counseling Psychology. New
Publishing Co.
Gibson R.L & Mitchell M.H. (2008). Introduction to Counceling and Guidance. New Jersey:
Pearson Prentice Hall.
Iswari, M. 2017. Efektivitas Penyelenggaraan Konseling Dengan Memahami Komunikasi Antar
Budaya. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga.

John McLeod.(2009). An Introduction to Counselling.England: McGraw-Hill Education.


Koentjaraningrat (2015). Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: Kompas
Gramedia.
Lestari, I. (2012). Konseling Berwawasan Lintas Budaya. In prosiding seminar nasional
perspektif konseling dalam bingkay budaya. Universitas Muria kudus.

Myrick,R.D., & Witner., J. (1972). School Counseling: Problems and Methods. California:
Goodyear Publ.Coy.
Ridlwan, N. A. 2017. Komunikasi Konseling Lintas Budaya di MAN 2 Brebes Jawa Tengah.
Purwokerto: IAIN Purwokerto.

Rofiah, Y. A. 2016. Model Konseling Multikultural Pada Lembaga ECCD-RC (Early Childhood
Care And Development Resource Center) Yogyakarta. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga.

Rachmawati, Dini. 2017. Konselor Abad 21: Tantangan dan Peluang. Jurnal Konseling
GUSJIGANG. Vol. 3, No. 1.

Samuel.T.Glading.(2012) Konseling:Profesi yang Menyeluruh. Jakarta: INDEKS.


Wibowo,Mungin Eddy (2002). Konseling Perkembangan :Paradigma Baru dan Relevansinya di
Indonesia. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap dalam Bidang Bimbingan dan
Konseling pada FIP-UNNES tanggal 13 Juli 2002. Semarang: Depdiknas UNNES
Wibowo,Mungin Eddy (2017). Tantangan Profesi Bimbingan Dan Konselingdi Abad Ke-2.
Seminar Nasional Bimbingan dan Konseling di Universitas PGRI Semarang Tanggal 11
November 2017. Semarang: Depdiknas UNNES.