Anda di halaman 1dari 36

LAPORAN PERCOBAAN KOROSI LOGAM (PAKU)

Kata Pengantar
Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas kehendak-Nyalah laporan percobaan ini
dapat terselesaikan. Penulisan laporan percobaan ini bertujuan untuk mengetahui proses
terjadinya korosi pada logam (paku).
Dengan terselesaikannya laporan percobaan ini diharapkan dapat memberi pengetahuan
tentang bahan-bahan yang dapat mempercepat terjadinya korosi (karat), proses terjadinya korosi,
kerugian, serta cara mencegah terjadinya korosi. Terselesaikannya laporan percobaan ini tentu
saja bukan karena kemampuan penulis semata. Namun berkat dukungan dan bantuan dari pihak-
pihak terkait.
Kami menyadari bahwa laporan percobaan ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu, kritik
serta saran yang membangun dari para pembaca sangat kami harapakan demi
penyempurnaan laporan percobaan ini. Semoga laporan percobaan ini dapat memberi manfaat
bagi para pembaca tentang proses terjadinya korosi pada besi.

Labessi, September 2015

Penulis
Daftar Isi
Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB 1 PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Percobaan
D. Manfaat Percobaaan
BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Pengertian Korosi
B. Faktor-Faktor Penyebab Korosi
C. Proses Terjadinya Korosi
D. Dampak Korosi
E. Pencegahan Korosi
BAB III METODE PENELITIAN
A. Waktu dan Tempat
B. Alat dan Bahan
C. Langkah Kerja
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Tabel Hasil Percobaan
B. Gambar Hasil Percobaan
C. Pembahasan
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
Daftar Pustaka
F.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam bahasa sehari-hari korosi dikenal dengan perkaratan. Korosi ini sebenarnya
merupakan peristiwa oksidasi logam oleh gas oksigen yang ada di udara membentuk oksidanya.
Proses korosi banyak menimbulkan masalah pada barang-barang yang terbuat dari besi walaupun
logam-logam lain (kecuali logam mulia) dapat juga mengalami korosi. Jadi jelas korosi dikenal
sangat merugikan.
B. Rumusan Masalah
1. Apa faktor yang mempengaruhi terjadinya korosi/perkaratan pada besi?
2. Bagaimana proses terjadinya perkaratan pada besi?
C. Tujuan Percobaan
1. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya korosi (karat) besi.
2. Untuk mengetahui paku yang lebih cepat dan banyak perkaratannya.
D. Manfaat Percobaan
1. Dapat mengetahui sifat dari berbagai bahan terhadap besi.
2. Dapat menambah informasi mengenai korosi (karat).
3. Dapat menambah pengetahuan tentang larutan elektrolit.
BAB II
KAJIAN TEORITIS
A. Pengertian Korosi
Menurut Roberge, Korosi adalah peristiwa rusaknya logam karena reaksi dengan
lingkungannya, sedangkan menurut Gunaltun, korosi adalah fenomena elektrokimia dan hanya
menyerang logam, Korosi adalah teroksidasinya suatu logam. Korosi adalah kerusakan atau
degradasi logam akibat reaksi dengan lingkungan yang korosif. Korosi dapat juga diartikan
sebagai serangan yang merusak logam karena logam bereaksi secara kimia atau elektrokimia
dengan lingkungan.
Dalam kehidupan sehari - hari, besi yang teroksidasi disebut dengan karat dengan rumus
Fe2O3·xH2O. Proses perkaratan termasuk proses elektrokimia, di mana logam Fe yang
teroksidasi bertindak sebagai anode dan oksigen yang terlarut dalam air yang ada pada
permukaan besi bertindak sebagai katode.
Reaksi perkaratan:
Anode : Fe → Fe2+ + 2 e–
Katode : O2 + 2H2O → 4e– + 4 OH–
Korosi merupakan proses elektrokimia. Pada korosi besi, bagian tertentu dari besi itu berlaku
sebagai anode, di mana besi mengalami oksidasi.
Fe(s) ↔ Fe2+(aq) + 2e Eº = +0.44 V
Elektron yang dibebaskan di anode mengalir ke bagian lain besi itu yang bertindak sebagai
katode, di mana oksigen tereduksi.
O2(g) + 2H2O(l) + 4e ↔ 4OH-(aq) Eº = +0.40 V
atau
O2(g) + 4H+(aq) + 4e ↔ 2H2O(l) Eº = +1.23 V
Ion besi (II) yang terbentuk pada anode selanjutnya teroksidasi membentuk ion besi(III) yang
kemudian membentuk senyawa oksida terhidrasi, Fe2O3 . xH2O, yaitu karat besi. Korosi Besi
memerlukan oksigen dan air.
B. Faktor-Faktor Penyebab Korosi
Faktor yang berpengaruh terhadap korosi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu yang berasal
dari bahan itu sendiri dan dari lingkungan. Faktor dari bahan meliputi kemurnian bahan, struktur
bahan, bentuk kristal, unsur-unsur kelumit yang ada dalam bahan, teknik pencampuran bahan
dan sebagainya. Faktor dari lingkungan meliputi tingkat pencemaran udara, suhu, kelembaban,
keberadaan zat-zat kimia yang bersifat korosif dan sebagainya.
Bahan-bahan korosif (yang dapat menyebabkan korosi) terdiri atas asam, basa serta garam,
baik dalam bentuk senyawa maupun anorganik. Penguapan dan pelepasan bahan-bahan
korosif ke udara dapat mempercepat proses korosi. Udara dalam ruangan yang terlalu asam atau
basa dapat mepercepat proses korosi peralatan elektronik yang ada dalam ruangan tersebut.
Flour, hidrogen fluorida beserta senyawaan-senyawaannya dikenal sebagai bahan korosif. Dalam
industri, bahan ini umumnya dipakai untuk sintesa bahan-bahan organik. Amoniak (NH3)
merupakan bahan kimia yang cukup banyak digunakan dalam kegiatan industri. Pada suhu dan
tekanan normal, bahan ini berada dalam bentuk gas dan sangat mudah terlepas ke udara. ( Purba,
Michael.2007)
C. Proses Terjadinya Korosi
Korosi atau pengkaratan merupakan fenomena kimia pada bahan – bahan logam yang pada
dasarnya merupakan reaksi logam menjadi ion pada permukaan logam yang kontak langsung
dengan lingkungan berair dan oksigen. Contoh yang paling umum, yaitu kerusakan logam besi
dengan terbentuknya karat oksida. Dengan demikian, korosi menimbulkan banyak kerugian.
Korosi logam melibatkan proses anodik, yaitu oksidasi logam menjadi ion dengan melepaskan
elektron ke dalam (permukaan) logam dan proses katodik yang mengkonsumsi electron tersebut
dengan laju yang sama. Proses katodik biasanya merupakan reduksi ion hidrogen atau oksigen
dari lingkungan sekitarnya. Untuk contoh korosi logam besi dalam udara lembab.( Purba,
Michale. 2007 )
D. Dampak Korosi
Besi ( Paku ) yang terkena korosi akan bersifat rapuh dan tidak ada kekuatan. Ini sangat
membahayakan kalau besi tersebut digunakan sebagai pondasi bangunan atau jembatan.
Senyawa karat juga membahayakan kesehatan, sehingga besi tidak bisa digunakan sebagai alat-
alat masak, alat-alat industri makanan/farmasi/kimia.
E. Pencegahan Korosi
Pencegahan besi dari perkaratan bisa dilakukan dengan cara berikut.
1) Proses pelapisan
Besi dilapisi dengan suatu zat yang sukar ditembus oksigen. Hal ini dilakukan dengan cara dicat
atau dilapisi dengan logam yang sukar teroksidasi. Logam yang digunakan adalah logam yang
terletak di sebelah kanan besi dalam deret volta (potensial reduksi lebih negatif dari besi).
Contohnya: logam perak, emas, platina, timah, dan nikel.
2) Proses katode pelindung (proteksi katodik)
Besi dilindungi dari korosi dengan menempatkan besi sebagai katode, bukan sebagai anode.
Dengan demikian besi dihubungkan dengan logam lain yang mudah teroksidasi, yaitu logam di
sebelah kiri besi dalam deret volta (logam dengan potensial reduksi lebih positif dari besi).
Hanya saja logam Al dan Zn tidak bisa digunakan karena kedua logam tersebut mudah
teroksidasi, tetapi oksida yang terbentuk (A12O3/ZnO) bertindak sebagai inhibitor dengan cara
menutup rapat logam yang di dalamnya, sehingga oksigen tidak mampu masuk dan tidak
teroksidasi. Logam-logam alkali, seperti Na, K juga tidak bisa digunakan karena akan bereaksi
dengan adanya air. Logam yang paling sesuai untuk proteksi katodik adalah logam magnesium
(Mg). Logam Mg di sini bertindak sebagai anode dan akan terserang karat sampai habis, sedang
besi bertindak sebagai katode tidak mengalami korosi.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu
Praktikum dilaksanakan di rumah Yulia Pratiwi, pada tanggal 19 September 2015.
B. Alat dan Bahan
a) Alat :
 6 buah botol kecil
 Paku ukuran 5cm
 Kain lap
 Kamera
b) Bahan :
 Air Suling
 Larutan Garam
 Minyak Goreng
 Kapas
C. Langkah Kerja
1. Siapkan 6 buah botol kecil dan 6 buah paku yang sudah dilap hingga hilang pelapisnya.
2. Beri label 1,2,3,4,5, dan 6 pada setiap botol.
3. Botol 1 diisi paku dan larutan garam
4. Botol 2 diisi paku dan air
5. Botol 3 diisi paku dan air, kemudian ditutup
6. Botol 4 diisi paku, air, dan minyak goreng, kemudian ditutup.
7. Botol 5 diisi paku dengan kapas
8. Botol 6 diisi paku
9. Simpan botol tersebut selama ±7 hari di tempat yang sirkulasi udaranya bagus dan tidak terkena
cahaya matahari langsung.
10. Amati perubahan yang terjadi pada paku-paku tersebut dan ambil gambar setiap perubahan yang
terjadi.
11. Buat Kesimpulan dari percobaan yang dilakukan.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Tabel Hasil Percobaan

Pengamatan Hari Ke-


Botol
1 2 3 4 5 6 7
Permukaan Permukaan Permukaan paku Permukaan Perkaratan Perkaratan
Tidak
1 paku berkarat paku berkarat berkarat dan air paku berkarat mengendap mengendap
berkarat
dan air keruh dan air keruh keruh dan air keruh dan air keruh dan air keruh

Permukaan Permukaan paku Permukaan Permukaan Permukaan


Tidak Permukaan
2 paku mulai berkarat dan air paku berkarat paku berkarat paku berkarat
berkarat paku berkarat
berkarat keruh dan air keruh dan air keruh dan air keruh
Permukaan
Permukaan Permukaan paku Permukaan Permukaan paku berkarat
Tidak Permukaan
3 paku mulai berkarat dan air paku berkarat paku berkarat dan air
berkarat paku berkarat
berkarat keruh dan air keruh dan air keruh bertambah
keruh
Pangkal dan Pangkal dan Pangkal dan Pangkal dan
Pangkal dan
Tidak Pangkal paku ujung paku ujung paku ujung paku ujung paku
4 ujung paku
berkarat berkarat berkarat, air berkarat, air berkarat, air berkarat, air
berkarat
masih bersih masih bersih masih bersih tetap bersih
Tidak
Tidak berkarat
Tidak berkarat Tidak berkarat Tidak berkarat Tidak berkarat Tidak berkarat
5 (tidak
berkarat (tidak (tidak berubah) (tidak berubah) (tidak berubah) (tidak berubah)
berubah)
berubah)
Tidak
Tidak berkarat Ujung
6 Ujung berkarat Ujung berkarat Ujung berkarat Ujung berkarat
berkarat (tidak berkarat
berubah)
B. Gambar Hasil Percobaan
Hari ke-1 :
Hari ke-2 :
Hari ke-3 :

Hari ke-4
Hari ke-5
Hari ke-6
Hari ke-7
C. Pembahasan
o Botol 1 (berisi larutan garam dan air) permukaan pakunya sudah berkarat pada hari ke-2 dan
airnya juga sudah keruh. Sampai hari ke-5 tidak mengalami perubahan lagi. Pada hari ke 6 dan
ke 7 perkaratannya mengendap ke dasar.
o Botol 2 (berisi paku dan air) permukaan pakunya mulai berkarat pada hari ke-2. Pada hari ke-4
airnya juga sudah keruh dan karatnya bertambah. Dan selanjutnya tidak mengalami perubahan
lagi sampai hari ke-7.
o Botol 3 (berisi paku dan air, kemudian ditutup) permukaan pakunya mulai berkarat pada hari ke-2,
dan airnya keruh pada hari ke-4. Pada hari ke-5 airnya bertambah keruh. Sampai hari ke-7,
airnya berwarna merah bata.
o Botol 4 (berisi paku, air, dan minyak goreng, kemudian ditutup) ujungnya sudah berkarat pada
hari ke-2, dan pangkalnya juga sudah berkarat pada hari ke-3, tetapi airnya masih bersih. Dan
sampai hari ke-7 tidak mengalami perubahan lagi.
o Botol 5 (berisi paku dan kapas) tidak pernah mengalami perubahan atau tidak berkarat dari hari
pertama sampai hari ke-7.
o Botol 6 (hanya paku) ujungnya berkarat pada hari ke-3. Dan selanjutnya tidak pernah mengalami
perubahan lagi sampai hari ke-7.
Dari percobaan yang telah dilaksanakan, kita dapat mengetahui bahwa KOROSI terjadi
karena adanya pengaruh lingkungan terhadap suatu benda, dan adanya beberapa faktor yang
menyebabkan korosi terjadi, adapun faktor itu adalah :
 Udara – O2 : Korosi terjadi lebih mudah jika suatu logam berekasi dengan udara disekitarnya, jadi
korosi akan lebih cepat terjadi jika oksigen bereaksi dengan mengoksidasi logam tertentu yang
cukup reaktif, seperti besi (Fe). Teori ini sesuai dengan hasil yang kami dapatkan.
 Air – H2O : Korosi juga akan terjadi jika pereduksinya adalah air (H2O). Semakin sering logam
(besi) terkena air, maka akan semakin cepat logam tersebut mengalami korosi. Hal ini juga
sesuai dengan hasil yang kami dapat.
 Zat elektrolit
Zat-zat elektrolit, terutama asam dan garam merupakan zat yang dapat mempercepat korosi
logam. Sebagai contoh, hujan asam dapat memicu proses korosi pada beberapa peralatan yang
terbuat dari logam, begitu juga dengan air laut yang mengandung garam dapat memicu terjadinya
korosi pada badan kapal yang terbuat dari logam. Hal ini juga sudah sesuai dengan hasil yang
kami dapat.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan, kita dapatkan bahwa paku yang paling cepat berkarat
adalah paku yang berada di botol yang berisi larutan garam yang tidak tertutup. Hal ini karena
perkaratan pada paku tersebut di pengaruhi oleh Oksigen dan Zat elektrolit (garam). Kemudian
yang paling berkarat sampai hari ke-7 adalah paku yang berada di botol yang berisi air tanpa
penutup. Hal ini jelas menunjukkan bahwa kombinasi antara air dan oksigen akan lebih
memberikan efek yang lebih signifikan daripada keberadaan O2 saja atau H2O saja.
Kemudian antara paku yang disimpan di dalam botol terbuka dengan paku yang disimpan
dalam botol terbuka yang berisi kapas, yang berkarat adalah yang tidak memiliki kapas. .....
B. Saran
Adapun saran yang dapat kami berikan, yakni:
 Dalam melakukan percobaan, sebaiknya kelompok tersebut memiliki kerjasama yang kompak.
 Sediakan alat dan bahan dengan lengkap.
 Jangan lalai dengan kewajibannya untuk mengamati dan mencatat perubahan yang terjadi pada
gelas setiap hari.
 Ikuti petunjuk yang berlaku
Daftar Pustaka

laporan praktikum korosi pada paku


KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat
serta karunia-Nya kepada saya sehingga berhasil menyelesaikan laporan ini. Laporan
ini berisikan tentang ” korosi pada paku ”. Di harapkan laporan ini dapat memberikan
informasi kepada kita semua tentang ” korosi pada paku “.
Saya menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan,oleh karena
itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu saya harapkan
demi kesempurnaan laporan ini.
Akhir kata,saya sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah
berperan serta dalam penyusunan laporan ini dari awal sampai akhir.Semoga Allah
SWT senantiasa meridhai segala usaha kita.Amin.

Bulukumba,19 oktober 2013

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................ I
DAFTAR ISI ........................................................................................... II
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ....................................................................................... 1
B. Tujuan1
C. Manfaat ................................................................................................. 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian besi dan korosi ..................................................................... 2
B. Penyebab korosi dan pengendalian korosi ............................................. 3
BAB III PROSEDUL PRAKTIKUM
A. Alat dan bahan ....................................................................................... 5
B. Langka kerja ........................................................................................... 5
C. Waktu pengamatan ................................................................................ 5
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil........................................................................................................ 6
B. Pembahasan ......................................................................................... 7
BAB V MENJAWAB PERTANYAAN ...................................................... 9
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan ........................................................................................... 10
B. Saran 13
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam bahasa sehari-hari korosi dikenal dengan perkaratan yakni sesuatu yang
hampir dianggap sebagai musuh umum masyarakat. Karat adalah sebutan bagi korosi
pada besi, padahal korosi merupakan gejala destruktif yang mempengaruhi hampir
semua logam. Besi adalah salah satu dari banyak jenis logam yang mengalami korosi,
tidak perrlu diingkari bahwa logam itu paling awal menimbulkan korosi serius. Karena
itu tidak mengherankan bila istilah korosi dan karat hampir dianggap sama. Korosi
dikenal merugikan karena bersifat merusak logam dan membahayakan. Oleh karena
itu, dengan pentingnya mempelajari pencegahan korosi percobaan kali ini difokuskan
oleh masalah tersebut dan akan dipaparkan logam-logam apa sajakah yang dapat
menghambat terjadinya korosi..
B. Tujuan Praktikum
Praktikum ini bertujuan untuk :
1. Untuk mengetahui paku pada aqua gelas manakah yang menjadi berkarat.
2. Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan besiberkarat.
3. Cara pencegahan korosi pada besi.
A. Manfaat
Dengan dilakukannya penelitian ini, maka diharapakan akan diperoleh manfaat sebagai
berikut :
1. Dapat mengetahui sifat dari berbagai bahan terhadap besi.
2. Dapat menambah informasi mengenai korosi (karat).
3. Dapat melatih siswa agar terampil dalam melakukan kegiatan praktikum.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Besi dan Korosi
1. Besi
Besi adalah logam yang berasal dari bijih besi (tambang) yang banyak
digunakan untuk kehidupan manusia sehari-hari dari yang bermanfaat sampai dengan
yang merusakkan. Dalam tabel periodik, besi mempunyai simbol Fe dan nomor atom
26. Besi juga mempunyai nilai ekonomis yang tinggi.
Besi adalah logam yang paling banyak dan paling beragam penggunaannya
Hal itu karena beberapa hal, diantaranya:
• Kelimpahan besi di kulit bumi cukup besar,
• Pengolahannya relatif mudah dan murah, dan
• Besi mempunyai sifat-sifat yang menguntungkan dan mudah dimodifikasi.
Salah satu kelemahan besi adalah mudah mengalami korosi. Korosi menimbulkan
banyak kerugian karena mengurangi umur pakai berbagai barang atau bangunan yang
menggunakan besi atau baja. Sebenarnya korosi dapat dicegah dengan mengubah
besi menjadi baja tahan karat (stainless steel), akan tetapi proses ini terlalu mahal
untuk kebanyakan penggunaan besi.
Korosi besi memerlukan oksigen dan air. Berbagai jenis logam contohnya Zink dan
Magnesium dapat melindungi besi dari korosi.
2. Korosi
Korosi adalah kerusakan atau degradasi logam akibat reaksi redoks antara
suatu logam dengan berbagai zat di lingkungannya yang menghasilkan senyawa-
senyawa yang tidak dikehendaki. Dalam bahasa sehari-hari, korosi disebut perkaratan.
Contoh korosi yang paling lazim adalah perkaratan besi.
Pada peristiwa korosi, logam mengalami oksidasi, sedangkan oksigen (udara)
mengalami reduksi. Karat logam umumnya adalah berupa oksida atau karbonat. Rumus
kimia karat besi adalah Fe2O3.nH2O, suatu zat padat yang berwarna coklat-merah.
Korosi merupakan proses elektrokimia. Pada korosi besi, bagian tertentu dari
besi itu berlaku sebagai anode, di mana besi mengalami oksidasi.
Fe(s) <--> Fe2+(aq) + 2e
Elektron yang dibebaskan di anode mengalir ke bagian lain dari besi itu yang bertindak
sebagai katode, di mana oksigen tereduksi .
O2(g) + 4H+(aq) + 4e <--> 2H2O(l)
atau
O2(g) + 2H2O(l) + 4e <--> 4OH-(aq)
Ion besi(II) yang terbentuk pada anode selanjutnya teroksidasi membentuk ion besi(III)
yang kemudian membentuk senyawa oksida terhidrasi, yaitu karat besi. Mengenai
bagian mana dari besi itu yang bertindak sebagai anode dan bagian mana yang
bertindak sebagai katode, bergantung pada berbagai faktor, misalnya zat pengotor,
atau perbedaan rapatan logam itu.
Korosi dapat juga diartikan sebagai serangan yang merusak logam karena logam
bereaksi secara kimia atau elektrokimia dengan lingkungan. Ada definisi lain yang
mengatakan bahwa korosi adalah kebalikan dari proses ekstraksi logam dari bijih
mineralnya. Contohnya, bijih mineral logam besi di alam bebas ada dalam bentuk
senyawa besi oksida atau besi sulfida, setelah diekstraksi dan diolah, akan dihasilkan
besi yang digunakan untuk pembuatan baja atau baja paduan. Selama pemakaian, baja
tersebut akan bereaksi dengan lingkungan yang menyebabkan korosi (kembali menjadi
senyawa besi oksida).
Deret Volta dan hukum Nernst akan membantu untuk dapat mengetahui kemungkinan
terjadinya korosi. Kecepatan korosi sangat tergantung pada banyak faktor, seperti ada
atau tidaknya lapisan oksida, karena lapisan oksida dapat menghalangi beda potensial
terhadap elektroda lainnya yang akan sangat berbeda bila masih bersih dari oksida.
B. Penyebab korosi dan Pengendalian korosi
1. Penyebab korosi
Faktor yang berpengaruh terhadap korosi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu
yang berasal dari bahan itu sendiri dan dari lingkungan. Faktor dari bahan meliputi
kemurnian bahan, struktur bahan, bentuk kristal, unsur-unsur kelumit yang ada dalam
bahan, teknik pencampuran bahan dan sebagainya.
Faktor dari lingkungan meliputi tingkat pencemaran udara, suhu, kelembaban,
keberadaan zat-zat kimia yang bersifat korosif dan sebagainya. Bahan-bahan korosif
(yang dapat menyebabkan korosi) terdiri atas asam, basa serta garam, baik dalam
bentuk senyawa an-organik maupun organik.
Penguapan dan pelepasan bahan-bahan korosif ke udara dapat mempercepat proses
korosi. Udara dalam ruangan yang terlalu asam atau basa dapat memeprcepat proses
korosi peralatan elektronik yang ada dalam ruangan tersebut. Flour, hidrogen fluorida
beserta persenyawaan-persenyawaannya dikenal sebagai bahan korosif. Dalam
industri, bahan ini umumnya dipakai untuk sintesa bahan-bahan organik. Ammoniak
(NH3) merupakan bahan kimia yang cukup banyak digunakan dalam kegiatan industri.
Pada suhu dan tekanan normal, bahan ini berada dalam bentuk gas dan sangat mudah
terlepas ke udara.
2. Pengendalian korosi
Korosi menimbulkan banyak kerugian karena mengurangi umur berbagai barang
atau bangunan yang menggunakan besi atau baja. Sebenarnya korosi dapat dicegah
dengan mengubah besi menjadi baja tahan karat (stainless steel). Akan tetapi, proses
ini terlalu mahal untuk kebanyakan penggunaan besi.
Korosi besi memerlukan oksigen dan air. Kemudian, kita ketahui bahwa berbagai
jenis logam dapat melindungi besi terhadap korosi. Cara-cara pencegahan korosi besi
yang akan dibahas berikut ini didasarkan pada dua sifat tersebut.

1. Mengecat. Jembatan, pagar dan railing biasanya dicat. Cat menghindarkan kontak
besi dengan udara dan air.
2. Melumuri dengan oli atau gemuk. Cara ini diterapkan untuk berbagai perkakas dan
mesin. Oli dan gemuk mencegah kontak besi dengan air.
3. Dibalut dengan plastik. Berbagai macam barang, misalnya rak piring dan keranjang
sepeda dibalut dengan plastik. Plastik mencegah kontak besi dengan udara dan air.
4. Tin plating (pelapisan dengan timah).
Kaleng-kaleng kemasan terbuat dari besi yang dilapisi dengan timah. Pelapisan
dilakukan secara elektrolisis, yang disebut electroplating. Timah tergolong logam yang
tahan karat. Besi yang dilapisi timah tidak mengalami korosi karena tidak ada kontak
dengan oksigen (udara) dan air. Akan tetapi, lapisan timah ada yang rusak, misalnya
tergores, maka timah justru mendorong/mempercepat korosi besi. Hal itu terjadi karena
potensial reduksi besi lebih negatif daripada timah. Oleh karena itu, besi yang dilapisi
dengan timah akan membentuk suatu sel elekrokimia dengan besi sebagai anode.
Dengan demikian, timah mendorong korosi besi. Akan tetapi, hal itu justru yang
diharapkan, sehingga kaleng-kaleng bekas cepat hancur.
5. Galvanisasi (pelapisan dengan zink).
Pipa besi, tiang telpon, badan mobil, dan berbagai barang lain dilapisi dengan zink.
Berbeda dengan timah, zink dapat melindungi besi dari korosi sekalipun lapisannya
tidak utuh. Hal itu terjadi karena suatu mekanisme yang disebut dengan perlindungan
katode. Oleh karena potensial reduksi besi lebih positif daripada zink, maka besi yang
kontak dengan zink akan membentuk sel elekrokimia dengan besi sebagai katode.
Dengan demikian, besi terlindungi dan zink yang mengalami oksidasi.
6. Cromium plating (pelapisan dengan kromium). Besi atau baja juga dapat dilapisi
dengan kromium untuk memberi lapisan pelindung yang mengkilap, misalnya untuk
bumper mobil. Cromium plating juga dilakukan dengan elektrolisis. Sama seperti zink,
kromium dapat memberi perlindungan sekalipun lapisan kromium itu ada yang rusak
7. Sacrificial protection (pengorbanan anode).
Magnesium adalah logam yang jauh lebih aktif (berarti lebih mudah berkarat) daripada
besi. Jika logam magnesium dikontakkan dengan besi, maka magnesium itu akan
berkarat tetapi besi tidak. Cara ini digunakan untuk melindungi pipa baja yang ditanam
dalam tanah atau badan kapal laut. Secara periodik, batang magnesium harus diganti.

BAB III
PROSEDUR PRAKTIKUM
A. Alat dan Bahan
 6 buah paku
 6 buah gelas aqua plastik
 Air Biasa
 Air yang sudah dipanas
 Larutan garam
 Larutan cuka
 Karet gelang
B. Langka kerja
1. Siapkan alat dan bahan yang diperlukan.
2. Siapkan tabel hasil pengamatan seperti berikut.
Identitas Perubahan yang terjadi
Aqua gelas
A Hari ke-1:
Hari ke-2:
Hari ke-3:
Hari ke-4
Hari ke-5:
Hari ke-6:
Hari ke-7:
B

3. Beri identitas aqua gelas tersebut dari A-F


4. Perlakuan paku setiap aqua gelas sebagai berikut :
Pada aqua gelas A: diisi paku saja dengan keadaan terbuka
Pada aqua gelas B: diisi paku dan air biasa.
Pada aqua gelas C: diisi paku dan air yang sudah mendidih.
Pada aqua gelas D sama perlakuannya dengan aqua gelas A tetapi bedanya pada
aqua D di beri tutup dengan plastik yang telah di sediakan dan di ikatkan dengan karet
gelang.
Pada aqua gelas E : diisi paku dan air serta ditambah garam 1 sendok makan.
Pada aqua gelas F: diisi paku dan air serta di tambah larutan cuka 2 sendok makan.
5. Setelah semua selesai letakkan ke 8 aqua gelas tersebut di tempat yang baik yang
tidak terkena sinar matahari
6. Kemudian amati dan catat perubahan yang terjadi selama 1 minggu
C. Waktu pengamatan
Pengamatan dilakukan pada tanggal 14 oktober 2013 sampai 19 oktober 2013.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Dari pengamatan yang kami lakukan kami memperoleh hasil sbb.
Identitas Perubahan yang Terjadi
Gelas
A Hari ke-1: Belum terjadi perubahan
Hari ke-2: Belum mengalami perubahan
Hari ke-3: Tidak terjadi korosi
Hari ke-4: Tidak terjadi korosi
Hari ke-5: Tidak terjadi korosi
Hari ke-6: Tidak terjadi korosi
B Hari ke-1:
Belum ada Perubahan
Hari ke-2:
Terjadi perubahan, mulai timbul korosi pada paku
dibagian bawah
Hari ke-3:
Terjadi perubahan, mulai timbul korosi pada paku
Dibagian tengah,
Hari ke-4:
Terjadi perubahan, mulai timbul korosi pada paku
dan warna air menjadi kuning.
Hari ke-5:
Mengalami korosi dan warna air menjadi kuning.
Hari ke-6:
Korosi bertambah banyak
C Hari ke-1: Belum ada perubahan
Hari ke-2: Terjadi perubahan sedikit korosi
Hari ke-3: Mengalami korosi di semua bagian paku dan
warna air sedikit kekuninggan
Hari ke-4:
Mengalami korosi di semua bagian paku dan warna air
pada paku menguning.
Hari ke-5:
Air menjadi menguning karena paku berkorosi lebih
banyak.
Hari ke-6:
Korosi bertambah banyak di seluruh bagian paku
D Hari ke-1: Belum ada perubahan
Hari ke-2: Belum ada perubahan
Hari ke-3: Tidak terjadi korosi
Hari ke-4: Tidak terjadi korosi
Hari ke-5: Tidak terjadi korosi
Hari ke-6: Tidak terjadi korosi
E Hari ke-1:
Belum ada perubahan
Hari ke-2:
Belum ada perubahan
Hari ke-3:
Mulai mengalami perubahan
Hari ke-4:
Mulai mengalami korosi di semua bagian paku dan
warna air pada paku menguning.Serta terjadi
penguapan.
Hari ke-5:
Air menjadi menguning karena paku berkorosi lebih
banyak.
Dan korosi lebih banyak Serta terjadi penguapan.
Hari ke-6:
Korosi bertambah banyak di seluruh bagian paku dan
warna air menguning.Serta terjadi penguapan.
Hari ke-1:
Belum ada perubahan
Hari ke-2:
Mulai mengalami perubahan
Hari ke-3:
F Terjadi perubahan, timbul gelembung-gelembung di
sekitar paku dan paku berubah menjadi hitam, air tetap
berwarna putih.
Hari ke-4:
Terjadi perubahan, timbul gelembung-gelembung di
sekitar paku dan paku berubah menjadi hitam, air tetap
berwarna putih
Hari ke-5:
Gelembung-gelembung bertambah banyak di sekitar
paku dan paku berubah menjadi hitam, air tetap
berwarna putih.
Hari ke-6:
Gelembung-gelembung bertambah banyak di sekitar
paku dan paku berubah menjadi hitam, air tetap
berwarna putih.

B. Pembahasan
Dari hasil pengamatan tersebut, kita memberikan 4 perlakuan beda pada paku
yaitu paku yang diberi air biasa, paku yang diberi air yang sudah dimasak, pemberian
air garam pada paku, pemberian air cuka pada paku tersebut serta 2 perlakuan
berbeda pada aqua gelas yaitu aqua gelas tertutup dan tidak tertutup.
Dari hasil pengamatan selama 6 hari kami mendapati bahwa pada medium aqua
terbuka pada paku A (tanpa air) tidak terjadi korosi, pada paku B (air biasa) terjadi
korosi secara menyeluruh pada paku dan membuat air pada paku tersebut berubah
warnanya menjadi kuning ,pada paku C(air yang sudah dimasak) terjadi korosi dan
membuat air pada paku tersebut berubah warnanya menjadi kuning, Kami juga
melakukan pangamatan pada medium aqua gelas tertutup dan kami mendapati bahwa
paku D(tanpa air) tidak terjadi korosi sedikitpun dalam 6 hari pengamatan, pada paku E(
air garam ) terjadi korosi secara keseluruhan dan membuat air pada paku tersebut
berubah warnanya menjadi kuning serta terjadi penguapan, sedangkan pada paku
F(air cuka) CH3COOH terjadi korosi secara keseluruhan dengan keadaan paling cepat
terjadinya korosi di bandingkan dengan keadaan lain tetapi paku berwarna hitam. Hal
ini di karenakan asam lebih cepat menyebabkan korosi.
Setelah di bandingkan ternyata secara keseluruhan paku yang tidak terkena air
tidak mengalami korosi. Perbedaan juga terjadi antara paku di air biasa/ air panas / air
garam dengan paku di air cuka. Korosi yang terjadi pada paku yang diletakkan di air
biasa/ air panas / air garam berwarna kuning dan air juga berubah menjadi kuning,
karena korosi tersebut terjadi oleh oksodasi oksigen. sedangkan korosi yang terjadi
pada paku yang diletakkan di air cuka berwarna hitam, korosi tersebut terjadi karena
asam pada cuka.

BAB V
MENJAWAB PERTANYAAN

1. Apa guna CaCl2 dalam percobaan korosi?


Jawab : yaitu untuk mencegah korosi atau pengkaratan pada Fe atau Paku. CaCl 2
menyerap uap air karena itu di dalam tabung hanya terdapat besi dan oksigen,sehingga
besi tidak dapat mengalami reaksi reduksi dan korosi tidak terjadi. Dan CaCl2 berfungsi
untuk membantu meningkatkan kadar kalsium air, yang pada gilirannya meminimalkan
potensi terjadinya korosi, karena kalsium klorida padat dapat menghilangkan air terlarut
2. Mengapa air dalam botol C didikan terlebih dahulu ?
Jawab : karena air yang telah didihkan tersebut akan kehilangan kandungan oksigen
terlarutnya, karena pada proses pemanasan akan terjadi penguapan.
3. Dalam botol yang mana paku paling cepat berkarat ?
Jawab : pada tabung ketiga yang berisi paku berisi air panas. Hal ini terjadi karena
seperti yang kita ketahui bahwa faktor utama penyebab terjadinya korosi adalah
adanya air dan oksigen. Pada tabung ketiga yang berisi air panas, terdapat air dan
oksigen terlarut. Selain itu, keadaan tabung yang terbuka, memungkinkan oksigen yang
berada di udara dapat berikatan dengan air biasa, akibatnya keadaan tabung menjadi
kaya oksigen (O2), sehingga korosi dapat terjadi pada paku di tabung ketiga.
4. Zat apakah yang menyebabkan timbulnya perkaratan pada paku ?
Jawab :  Udara – O2 : Korosi terjadi lebih mudah jika suatu logam berekasi dengan
udara disekitarnya, jadikorosi akan lebih cepat terjadi jika oksigen bereaksidengan
mengoksidasi logam tertentu yang cukup reaktif, seperti besi (Fe).
 Air – H2O : Korosi juga akan terjadi jika pereduksinyaadalah air (H2O) , sehingga jika
lebih mudah suatu logam cukup reaktif jika telah berinteraksi dengan air (O 2 )
 Jenis Pereduksi : tidak semua pereduksi mampu menyebabkan korosi, contohnya
HCl, dan larutan lainya dari asam halida.
 Jenis Logam : Logam yang sangat reaktif dapat mencegah logam lain untuk
bereduksi sehingga kejadian korosi dapat dicegah.

BAB VI
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari hasil pratikum tersebut saya dapat menyimpulkan bahwa paku yang tidak
mengalami korosi terjadi pada paku A dan D(paku terbuka tanpa air dan paku tertutup
tanpa air) hal ini bisa terjadi karena tidak ada kontak langsung antara oksigen dan air
serta plastik merupakan pencegahan agar tidak terjadi korosi.
Kemudian dari praktek tersebut di benarkan bahwa salah satu faktor korosi
adanya kontak antara udara dan air.Agar tidak terjadi korosi pada besi jangan sampai
besi terkontaminasi dengan air atau larutan yang dapat menyebabkan oksidasi
sehingga besi dapat berkarat. Jika kita menghindarkan besi dari air, maka besi tidak
dapat bereaksi dengan oksigen yang dapat membuatnya berkarat.
Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Korosi Adalah
A) Air
B) Oksigen
Faktor-Faktor Yang Dapat Mempercepat Terjadinya Korosi
A) Elektrolit
B) Permukaan Besi
Cara Mengatasi Korosi Adalah
A) Sacrificial Protection (Pengorbanan Anode)
B) Cromium Plating (Pelapisan Dengan Kromium)
C) Galvanisasi (Pelapisan Dengan Zink)
D) Tin Plating (Pelapisan Dengan Timah)
E) Dibalut Dengan Plastic
F) Melumuri Dengan Oli Atau Minyak
G) Dicat
B. Saran
Setiap melakukan praktikum diharapkan untuk dapat memperhatikan prosedur
kerja serta memperhatikan keselamatan kerja. Selain itu, diusahakan untuk
memperbanyak referensi guna memudahkan kita baik dalam melakukan praktikum
maupun dalam penyusunan laporan praktikum.

DAFTAR PUSTAKA
Www.Google.Com
Harnanto, Ari. 2009. KIMIA Untuk SMA/MA Kelas XII. Jakarta. Setia Aji.
Skip to main content

READ PAPER

 About
 Blog
 People
 Papers
 Job Board
 Advertise

 We're Hiring!

 Help Center

 Find new research papers in:


 Physics
 Chemistry
 Biology
 Health Sciences
 Ecology
 Earth Sciences
 Cognitive Science
 Mathematics
 Computer Science

 Terms
 Privacy
 Copyright
 Academia ©2017

Laporan Praktikum Kimia

Korosi Pada Besi

Disusun oleh:

Kelompok 6
1. Dwika Martharina
2.Emi Novianti
3.Rina Kurniati
4.Rizky Utami
5.Romadhon

Kelas: XII.IPA.1

Guru Pembimbing: Kristini Erlita, S.Pd., M.Si

Dinas Pendidikan Kabupaten Ogan Ilir


SMA Negeri 2 Tanjung Raja
Tahun Pelajaran 2014/2015

A. Topik Percobaan
Korosi

B. Tujuan Percobaan
Mengamati faktor-faktor yang menyebabkan korosi pada logam

C. Dasar Teori
Korosi merupakan proses perubahan logam menjadi senyawa, terutama terjadi
dalam lingkungan yang mengandung air, atau peristiwa teroksidasinya suatu logam oleh gas
oksigen di udara.

Salah satu contoh korosi adalah yang terjadi pada besi, atau biasa disebut dengan karat.
Besi yang mengalami korosi membentuk karat dengan rumus Fe 2 O 3 ,

nH 2 O. Pada proses pengamatan, besi (Fe) bertindak sebagai preduksi dan Oksigen (O2) yang
terlarut dalam air bertindak sebagai pengoksidasi. Persamaan reaksi pembentukan karat :

Anode : Fe 2+ + 2e - → Fe

Katode : 2H 2 O → O 2 + 4H + + 4e -

Karat disebut sebagai autokatalis karena karat yang terjadi pada logam akan
mempercepat proses pengaratan berikutnya.korosi adalah kerusakan atau degra dasi logam
akibat reaksi redoks antara suatu logam dengan berbagai zat di lingkungannya yang
menghasilkan senyawa-senyawa yang tidak dikehendaki. Dalam bahasa sehari-hari, korosi
disebut perkaratan. Contoh korosi yang paling lazim adalah perkaratan besi.

Pada peristiwa korosi, logam mengalami oksidasi, sedangkan oksigen (udara)


mengalami reduksi. Karat logam umumnya berupa oksida atau karbonat. Rumus kimia karat
besi adalah Fe 2O 3. nH 2O, suatu zat padat yang berwarna coklat-merah. Korosi merupakan
proses elektro kimia.Pada korosi besi, bagian tertentu dari besi itu berlaku sebagai anode,
dimana besi mengalami oksidasi.

Menurut Roberge, korosi adalah peristiwa rusaknya logam karena reaksi rusaknya logam karena
reaksi dengan lingkungannya. Sedangkan menurut Gunaltun, korosi adalah fenomena elektrokimia dan
hanya menyerang logam. Ada pula definisi lain yang mengatakan bahwa korosi merupakan rusaknya
logam karena adanya zat penyebab korosi. Pada dasarnya peristiwa korosi adalah reaksi elektrokimia.
Secara alami pada permukaan logam di lapisi oleh suatu lapisan film oksida (FeO. OH). pasivitas dari
lapisan film ini akan rusak karena adanya pengaruuh dari lingkungan, misalnya adanya penurunan pH
atau akalinitas dari lingkungan atau pun serangan dari ion-ion klorida.

D. Alat Dan Bahan


1. Tabung Reaksi
2. Rak tabung reaksi
3. Silinder ukur
4. Pemegang tabung reaksi
5. Paku besi
6. Air
7. BaCl2
8. H2SO4
9. Kapur
10. Kapas
11. Akuades
12. Minyak Kelapa

E. Pengantar Percobaan
Korosi merupakan salah satu jenis reaksi redoks. Peristiwa korosi yang paling banyak dijumpai adalah
perkaratan besi. Di mana permukaan logam bertindak sebagai:
Anoda (Oksidasi): Fe(s) Fe2+(aq) + 2 e- E = +0,44 V
Katoda (Reduksi): O2 + 4 H+ 2 e- H2O E = +1,23 V
2+
Reaksi 4 Fe + O2(g) + H2O 2 Fe2O3(s) Esel = +1,67 V

F. Keselamatan Kerja
1. Bahan-bahan yang digunakan, jangan sampai tertelan.
2. Bahan-bahan asma/basa yang digunakan, jangan sampai terkena kulit, jika terkena kulit segera bilas
dengan air yang mengalir.
3. Dalam setiap pengamatan yang dilakukan, jaga jarak mata anda dengan materi yang diamati, hati-hati
mata jangan sampai terkena efek dari zat/reaksi yang terjadi. Jika terkena segera bilas dengan air.
4. Bersihkan (cuci) peralatan setiap kali sehabis digunakan percobaan. Tabung reaksi dibersihkan dengan
sikat tabung reaksi.

G. Prosedur Percobaan

1. Siapkan 7 buah tabung reaksi dan 7 buah paku yang sudah diamplas hingga hilang pelapisnya, lalu ikuti
langkah berikut ini:
a. Tabung reaksi 1: masukkan sebatang paku
b. Tabung reaksi 2: masukkan sebatang paku dan serbuk BaCl lalu pasang sumbat pada mulut tabung
c. Tabung reaksi 3: masukkan sebatang paku, beri kapas di bagian atas paku lalu taburkan serbuk kapur
di atas permukaan kapas.
d. Tabung reaksi 4: masukkan sebatang paku dan air akuades hingga paku terendam.
e. Tabung reaksi 5: masukkan sebatang paku dan air keran hingga paku terendam.
f. Tabung reaksi 6: masukkan air akuades, panaskan di atas api sampai mendidih kemudian masukkan
paku dan pasang sumbat pada mulut tabung (tambahkan beberapa tetes minyak kelapa agar udara tidak
dapat masuk kembali ke dalam air)
g. Tabung reaksi 7: masukkan sebatang paku dan H2SO4
2. Amati yang terjadi pada paku di dalam tiap tabung reaksi tersebut.
H. Hasil Percobaan
Warna awal paku yang telah diamplas: Putih
Tabung
Pengamatan Hari Ke-
Reaksi

1 2 3

1 Tidak berkarat Tidak berkarat Tidak berkarat

Paku sedikit berkarat dan


2 Tidak berkarat Tidak berkarat
berwarna hitam.

3 Tidak berkarat Sedikit berkarat Berakarat

Karatnya mengendap, kepala


4 Tidak berkarat Kepala paku berkarat
paku berkarat.

5 Tidak berkarat Tidak berkarat Karatnya mengendap

Kepala paku berkarat, karatnya


6 Tidak berkarat Kepala paku berkarat
mengendap

Paku berwarna hitam, Oksigen berkurang, karat


7 Tidak berkarat air bening, banyak mengendap, dan warna air
oksigen. menjadi kekuningan.

I. Pembahasan
Besi merupakan logam yang mudah berkarat. Karat besi merupakan zat yang di hasilkan pada
peristiwa koros, yaitu berupa zat padat berwarna cokelat kemerahan yang bersifat rapuh serta berpori.
Bila di biarkan, besi akan habis menjadi karat. Dampak dari peristiwa korosi bersifat sangat merugikan.
Contohnya adalah keroposnya jembadan, bodi mobil, atau pun berbagai kontruksi dari besi lainnya.

Pada peristiwa korosi besi mengalami oksidasi, sedangkan oksigen (udara) mengalami reduksi.
Karat logam umumnya berupa oksida atau karbonat. Rumus kimia karat besi adalah Fe2O3.nH2O, suatu
zat padat yang berwarna cokelat-merah. Pada korosi besi, bagian tertentu dari besi berlaku sebagai
anode, di mana besi mengalami oksidasi.

Fe(s) => Fe2+(aq) + 2e Eo = +0,44 V

Electron yang di bebaskan di anode mengalir ke bagian lain dari besi yang berlaku sebagai katode, di
mana oksigen tereduksi.

O2(g) + 2H2O(l) + 4e => 4OH-(aq) Eo = +0,40 V

Atau

O2(g) + 2H+(aq) + 4e => 2H2O(l) Eo = +1,23 V

Ion besi (ii) yang terbentuk pada anode selanjutnya teroksidasi membentuk ion besi(III) yang kemudian
membentuk senyawa oksida terhidrasi, Fe2O3.nH2O, yaitu karat besi.

Maka reaksi yang terjadi :

Anode : 2Fe(s) => 2Fe2+(aq) + 4e Eo = +0,44 V


Katode: O2(g) + 2H2O(l) + 4e => 4OH-(aq) Eo = +0,40 V

---------------------------------------------------------------------------------------------------- +

Rx sel : 2Fe(s) + O2(g) + 2H2O(l) => 2Fe2+(aq) + 4OH-(aq) Eo = +0,84 V

Ion Fe2+ tersebut kemudian mengalami oksidasi lebih lanjut dengan reaksi :

4Fe2+(aq) + O2 (g) + (4 + 2n) H2O => 2Fe2O3.nH2O + 8H+(aq)

Mengenai bagian mana dari besi itu yang bertindak sebagai anode dan bagian mana yang bertindak
sebagai katode bergantung pada berbagai factor, misalnya zat pengotor atau perbedaan rapatan logam
itu.

Korosi besi memerlukan besi memerlukan oksigen dan air. Dari reaksi terlihat bahwa korosi melibatkan
adanya gas oksigen dan air. Karena itu, besi yang di simpan dalam udara yang kering akan lebih awet di
bandingkan di tempat yang lembab.

Korosi pada besi ternyata di pengaruhi oleh beberapa factor, seperti tingkat keasaman,kontak dengan
elektrolit, kontak dengan pengotor, kontak dengan logam lain yang kurang aktif (logam nikel, timah,
tembaga), serta keadaan logam itu sendiri (kerapatan atau kasar halusnya permukaan).

Jenis-Jenis Korosi dan Pengendaliannya

1. Uniform or general attack corrosion (korosi seragam)

Korosi seragam adalah korosi yang terjadi pada permukaan material akibat bereaksi dengan
oksigen Biasanya korosi seragam ini terjadi pada material yang memiliki ukuran butir yang halus
danhomogenitas yang tinggi

Cara pengendalian dari korosi seragam adalah:

 Dengan melakukan pelapisan dengan cat atau dengan material yang lebih anodik.
 Melakukan inhibitas dan cathodic protection.

2. Rithing Corossion (Korosi Sumuran atau kawah)

Korosi sumuran adalah korosi yang terjadi akibat cacat pada permukaan material seperti celah
atau lubang kecil. Pada daerah cacat ini akan lebih anodik dibandingkan permukaan material sehingga
korosi akan menuju bagian dalam material.

Cara pengendalian korosi sumuran adalah:

 Hindari permukaan logam dari cacat goresan.


 Perhalus permukaan material.
 Hindari variasi yang sedikit pada komposisi material.
3. Crevice Corrosion (korosi celah)

Korosi celah adalah korosi yang di temukan pada daerah berkonsentrasi rendah atau korosi yang
terjadi pada celah yan terbentuk akibat pendempetan material. Pada celah, kadar oksigen lebih rendah
dari lingkungannya sehingga elektron akan berpindah pada kadar oksigen yang tinggi sehingga terjadi
korosi. Korosi celah sering terjadi pada sambungan paku.

Cara pengendalian korosi celah:

 Hindari pemakaian sambungan paku keling atau baut, gunakan sambungan las.
 Gunakan gasket non absorbing.
 Usahakan menghindari daerah dengan aliran udara.

4. Intergranular Corrosion (korosi batas butir)

Korosi batas butir adalah korosi yang terjadi pada atau di sepanjang batas butir dan batas butir
bersifat anodik dan bagian tegah butir bersifat katodik. Korosi ini terjadi akibat presipitasi dari pengotor
sepertikhromium di batas butir, yang menyebabkan batas butir menjadi rentan terhadap serangan
korosi. Dimana presipitat krom karbida terbentuk karena karbon meningkat yang ada di sekitarnya,
sehingga krom disekitarnya akan berkurang dan terjadi korosi. Proses terbentuknya presipitat karbon
karbida disebut sentisiasi. Terjadi pada temperatur 500-800 sehingga kekurangan krom yang
memudahkan terjadinya korosi.

Cara pengendalian korosi batas butir adalah:

 Turunkan kadar Karbon dibawah 0,03%.


 Tambahkan paduan yang dapat mengikat Karbon.
 Pendinginan cepat dari temperatur tinggi.
 Pelarutan karbida melalui pemanasan.
 Hindari Pengelasan.

5. Stress Corossion (korosi tegangan)

Korosi tegangan adalah korosi yang di sebabkan adanya tegangan tarik yang mengakibatkan
terjadinya retak. Tegangan ini di sebabkan pada temperatur dan deformasiyang berbeda.

Cara pengendalian korosi tegangan adalah:

 Turunkan besarnya tegangan.


 Turunkan tegangan sisa termal.Kurangi beban luar atau perbesar area potongan.

6. Errosion Corrosion (korosi erosi)
Korosi erosi adalah korosi yang di sebabkan oleh erosi yang mengikis lapisan pelindung
material , zat erosi itu dapat berupa fluida yang mengandung material abrasive. Korosi tipe ini sering di
temui pada pipa-pipa minyak.

Faktor-faktor yang mempengaruhi korosi ini antara lain:

 Persentase ketidaksamaan, material yang lebih anodik.


 Area permukaan Anodik dan Katodik.
 Temperatur Persentase larutan elektrolit.
 Kesediaan oksigen.
Cara pengendalian korosi erosi :

 Menghindari partikel abrasive pada fluida.


 Mengurangi kecepatan aliran fluida.

7. Selectif Corrosion

Selectif corrosion adalah korosi yang menyerang unsur di dalam logam akibat perbedaan
potensial unsur utamanya. Korosi ini di sebabkan karena komposisi yang tidak merata pada material.
Korosi ini biasa terjadi pada pipa-pipa besi cor

Cara pengendalian selective korosi:

 Menghindari komposisi yang berbeda dari material penyusun.

8. Korosi Galvanik

Korosi galvanik adalah korosi yang terjadi pada dua logam yang berbeda jenis jika di hubungkan.
Korosi ini juga terjadi karena pasangan elektrikal pada dua logam atau paduan logam yang memiliki
perbedaan komposisi. Logam yang lebih anodik akan terkorosi sementara logam lainnya yang lebih
katodik akan terlindungi. Posisi logam pada deret volta akan menentukan apakan suatu logam lebih
anodik atau katodik.

Pengendalian korosi galvanic adalah :

 Hindari pemakaian 2 jenis logam yang berbeda.


 Pergunakan logam yang lebih anodik dengan rasio yang lebih besar dibanding logam katodik.
 Lapisi pada pertemuan dua logam yang berbeda jenis.
 Gunakan logam ketiga yang lebih anodik.

Metoda-metoda yang di lakukan dalam pengendalian korosi adalah :


 Menekan terjadinya reaksi kimia atau elektrokimianya seperti reaksi anoda dan katoda.
 Mengisolasi logam dari lingkungannya.
 Mengurangi ion hydrogen di dalam lingkungan yang di kenal dengan mineralisasi.
 Mengurangi oksigen yang larut dalam air.
 Mencegah celah atau menutup celah.
 Mengadakan proteksi katodik,dengan menempelkan anoda umpan.

J. Kesimpulan
Pertanyaaan berikut jawabannya merupakan kesimpulan dari percobaan yang telah dilakukan.
1. Apakah ciri-ciri terjadinya korosi pada besi?
Jawab: Ciri-ciri terjadinya korosi besia dalah logam mengalami oksidasi, sedangkan oksigen (udara)
mengalami reduksi. Karat logam umumnya berupa oksida atau karbonat. Rumus kimia karat besi adalah
Fe2O3. nH2O, suatu zat padat yang berwarna cokelat-mera. Paku berkarat, karat mengendap, paku
berubah menjadi warna hitam, warna H2SO4 menjadi kekuningan

2. Apa kegunaan BaCl2 dan kapur pada percobaan di atas?


Jawab: Kegunaan BaCl2 dan kapur yaitu suapaya paku berkarat atau mengalami korosi, dan paku
menjadi warna hitam.

3. Berdasarkan percobaan yang telah Anda lakukan, pada tabung berapakah korosi paling banyak terjadi?
Jelaskan?
Jawab: Kororsi paling banyak terjadi pada tabung 3, karena pada tabung 3 merupakan percobaan yang
menggunakan kapur yang berfungsi untuk menghasilkan korosi paling banyak.

4. Berdasarkan percobaan yang telah Anda lakukan, pada tabung berapakah korosi paling sedikit terjadi?
Jelaskan?
Jawab: Kororsi paling sedikit terjadi pada tabung 2, karena pada tabung 2 merupakan percobaan yang
menggunakan serbuk BaCl2 yang berfungsi untuk menghasilkan korosi paling sedikit..

5. Berdasarkan hasil percobaan di atas, sebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi perkaratan pada besi?
Jawab: Faktor yang berpengaruh terhadap korosi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu yang berasal dari
bahan itu sendiri dan dari lingkungan. Faktor dari bahan meliputi kemurnian bahan, struktur bahan,
bentuk kristal, unsur-unsur kelumit yang ada dalam bahan, teknik pencampuran bahan dan sebagainya.
Faktor dari lingkungan meliputi tingkat pencemaran udara, suhu, kelembaban, keberadaan zat-zat kimia
yang bersifat korosif dan sebagainya. Bahan-bahan korosif (yang dapat menyebabkan korosi) terdiri atas
asam, basa serta garam, baik dalam bentuk senyawa an-organik maupun organik. Perkaratan pada besi
dipengaruhi oleh O2, air (H2O) dan unsur lain yang mempunyai E°sel lebih positif dibandingkan besi (Fe).

K. Tindak Lanjut
1. Apakah perbedaan korosi yang terjadi pada logam besi dan logam aluminium?

Jawab: Korosi besi memerlukan besi memerlukan oksigen dan air. Dari reaksi terlihat bahwa korosi
melibatkan adanya gas oksigen dan air. Karena itu, besi yang di simpan dalam udara yang kering akan
lebih awet di bandingkan di tempat yang lembab. Korosi pada besi ternyata di pengaruhi oleh beberapa
factor, seperti tingkat keasaman,kontak dengan elektrolit, kontak dengan pengotor, kontak dengan
logam lain yang kurang aktif (logam nikel, timah, tembaga), serta keadaan logam itu sendiri (kerapatan
atau kasar halusnya permukaan).

Aluminium, zink, dan juga kromium, merupakan logam yang lebih aktif daripada besi. Sebenarnya,
aluminium berkarat dengan cepat membentuk oksida aluminium (Al2O3). Akan tetapi, perkaratan
segera terhenti setelah lapisan tipis oksida terbentuk. Lapisan itu melekat kuat pada permukaan logam,
sehingga melindungi logam di bawahnya terhadap perkaratan berlanjut. Lapisan oksida pada permukaan
aluminium dapat dibuat lebih tebal melalui elektrolisis, proses yang disebut anodizing. Aluminium yang
telah mengalami anodizing digunakan untuk membuat panci dan berbagai perkakas dapur, bingkai,
kerangka bangunan (panel dinding), serta kusen pintu dan jendela. Lapisan oksida aluminium lebih
mudah dicat dan member warna yang lebih terang.

2. Berilah beberapa contoh cara pencegahan timbulnya korosi/karat pada logam dalam kehidupan sehari-
hari?

Jawab:

Cara pencegahan timbulnya korosi/karat pada logam dalam kehidupan sehari-hari yaitu sebagai berikut:

1. Dicat
Cat menghindarkan kontak besi dengan udara dan air.

2. Melumuri dengan oli atau minyak


Cara ini diterapkan untuk berbagai perkakas dan mesin oli atau minyak mencegah kontak besi dengan
air.

3. Dibalut dengan plastic


Berbagai macam barang, misalnya rak piring dan kerancang sepeda dibalut dengan plastik. Plastik
mencegah kontak besi udara dan air.

4. Tin plating (pelapisan dengan timah)


Biasanya kaleng-kaleng kemasan terbuat dari besi dilapisi dengan timah. Pelapisan dilakukan secara
elektrolisis, yang disebut electro plating. Timah tergolong logam yang tahan karat. Besi yang dilapisi
timah tidak mengalami korosi karena tidak adanya kontak dengan oksigen (udara) dan air. Akan tetapi,
lapisan timah hanya melindungi besi selama lapisan utuh (tanpa cacat). Apabila lapisan timah ada yang
cacat, misalnya tergores, maka timah justru mendorong/mempercepat kolosi besi. Hal itu terjadi karena
potensial reduksi besi lebih negatif daripada timah. Oleh karena itu, besi yang dilapisi timah akan
membentuk suatu sel elektrokimia dengan besi sebagai anode. Dengan demikian timah mendorong
korosi besi.

5. Galvanisasi (pelapisan dengan zink)


Pipa besi, tiang telepon, badan mobil, dan berbagai barang lain dilapisi dengan zink. Berbeda dengan
timah, zink dapat melindungi besi dari korosi sekalipun lapisannya tidak utuh. Hal itu terjadi karena
suatu mekanisme yang disebut perlindungan katode. Oleh karena potensial reduksi besi lebih positif
daripada zink, maka besi yang kontak dengan zink akan membentuk sel elektrokimia dengan besi
sebagai katode. Dengan demikian, besi terlindungi dan zink yang mengalami oksidasi.

6. Cromium plating (pelapisan dengan kromium)


Besi atau baja juga dapat dilapisi dengan kromium untuk memberi lapisan pelindung yang mengkilap,
misalnya untuk bemper mobil. Cromium plating juga dilakukan dengan elekrolisis. Sama seperti zink,
kromium juga dapat memberi perlindungan sekalipun lapisan kromium itu ada yang rusak.

7. Sacrificial protection (pengorbanan anode)


Magnesium adalah logam yang jauh labih aktif (berarti lebih mudah berkarat) daripada besi. Jika logam
magnesium dikontakkan dengan besi maka magnesium itu akan berkarat tetapi besi tidak. Cara ini
digunakan untuk melindungi pipa baja yang ditanam dalam tanah atau badan kapal laut. Secara
periodik, batang magnesium harus diganti.

Daftar Pustaka

http://catatanhariansonya.blogspot.com/2008/12/korosi.html

http://hadiman88.wordpress.com/2013/03/14/korosi-dan-pencegahan/

http://nonafamani.blogspot.com/2013/10/laporan-praktikum-korosi-besi.html

www.google.com

Anda mungkin juga menyukai