Anda di halaman 1dari 41

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan negara hukum dan negara yang sedang berkembang yang berusaha

mengejar ketertinggalannya untuk menjadi negara maju dengan konsep pembangunan.Dalam

pelaksanaan pembangunan keterlibatan negara dan warga Negara dalam segala bidang sangat

diharapkan. Perkembangan Negara Indonesia telah menghasilkan pembangunan yang pesat

dalam kehidupan nasional yang perlu dilanjutkan dengan dukungan pemerintah dan seluruh

potensi masyarakat. Oleh karena itu pemerintah menepatkan pungutan-pungutan berupa pajak

sebagai salah satu perwujudan kewajiban kewarganegaraan yang merupakan sarana peran serta

dalam pembiayaan negara dan pembangunan nasional. Indonesia merupakan negara hukum,

yang berarti Indonesia menjunjung tinggi hukum dan kedaulatan hukum. Hal ini sebagai

konsekuensi dari ajaran kedaulatan hukum bahwa kekuasaan tertinggi tidak terletak pada

kehendak pribadi penguasa (penyelengara negara/pemerintah), melainkan pada hukum.Jadi,

kekuasaan hukum terletak di atas segala kekuasaan yang ada dalam negara dan kekuasaan itu

harus tunduk pada hukum tertulis (undang-undang).

Hakikatnya adalah segala tindakan atau perbuatan tidak boleh bertentangan dengan hukum

yang berlaku, termaksud untuk merealisasikan keperluan atau 2 kepentingan negara maupun

untuk keperluan warganya dalam bernegara. Keperluan atau kepentingan negara terhadap pajak

tidak dapat dilakukan oleh negara sebelum ada hukum yang mengaturnya, pengenaan pajak oleh

negara kepada warganya (wajib pajak) harus berdasarkan pada hukum (undang-undang)yang

berlaku sehingga negara tidak dikategorikan sebagai negara kekuasaan (Muhammad Djafar Saidi

2007). Pajak sebagai sumber utama penerimaan negara perlu terus ditingkatkan agar
pembangunan nasional dapat dilaksanakan dengan kemampuan sendiri berdasarkan prinsip

kemandirian. Peningkatan kesadaran masyarakat dibidang perpajakan harus selalu ditunjang

dengan iklim yang mendukung peran aktif masyarakat serta pemahaman hak dan kewajiban

dalam melaksanakan peraturan perundang-undangan perpajakan. Pajak merupakan salah satu

sumber penerimaan negara yang digunakan untuk melaksanakan pembangunan bagi seluruh

rakyat Indonesia.

Pajak dipungut dari warga Negara Indonesia dan menjadi salah satu kewajiban yang dapat

dipaksakan penagihanya. Pembangunan nasional Indonesia pada dasarnya dilakukan oleh

masyarakat bersama-sama pemerintah. Oleh karena itu peran masyarakat dalam pembiayaan

pembangunan harus terus ditumbuhkan dengan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang

kewajibanya membayar pajak. 3 Pajak dipungut oleh Negara untuk dipergunakan menjalankan

tugas rutin, dan pembangunan yang memerlukan biaya. Disamping itu pajak tidak hanya

berfungsi sebagai alat mengatur perekonomian. Kebijakan dalam bidang perpajakan yang efektif

dapat berperan untuk menjaga keseimbangan ekonomi dan inflasi. Kebijakan dalam bidang

perpajakan tersebut mempunyai peranan penting dalam keadilan sosial,alokasi sumber-

sumber,distribusi pendapatan dan akumulasi modal,lebih dari itu, kebijakan perpajakan tersebut,

dapat berperan untuk mendidik rakyat berkesadaran politik dan bernegara adalah kerealaan

berkorban untuk kepentigan negara, salah satunya adalah kerelaan membayar pajak berdasarkan

APBD sektor pajak daerah memiliki peran yang semakin besar karena akan digunakan untuk

membiayai penyelengaraan pemerintah daerah dan pembangunan daerah peran pajak sangatlah

penting bagi penerimaan kas negara. Pajak merupakan alternatif yang sangat potensial. Sebagai

salah satu sumber penerimaan negara yang sangat potensial,sektor pajak merupakan pilihan yang
sangat tepat, selain karena jumlahnya yang relatif stabil juga merupakan cerminan partisipasi

aktif masyarakat dalam membiayai pembangunan.

Jenis pungutan di Indonesia terdiri dari pajak Negara (pajak pusat), pajak daerah, retribusi

daerah, bea dan cukai dan penerimaan Negara bukan pajak. Salah satu pos Penerimaan Asli

Daerah (PAD) dalam anggaran pendapatan belanja daerah (APBD) adalah pajak daerah. Apabila

pajak telah diatur dengan undang-undang, berarti UndangUndang Pajak harus dilaksanakan

sebagaimana mestinya dan tidak boleh dilanggar mengingat Undang-Undang Pajak tersebut telah

dianggap diketahui oleh wajib pajak selaku pembayar pajak maupun negara yang diwakili oleh

pejabat pajak selaku penagih pajak. Undang-Undang Pajak pada hakikatnya adalah hukum pajak

yang wajib dilaksanakan dan ditaati sebagai konsekuensi dari negara hukum Indonesia.

Sekalipun harus dilaksanakan dan ditaati, Undang-Undang Pajak tidak boleh tidak harus

berintikan keadilan, kemanfaatan, dan kepastian hukum. Dengan demikian, terjemalah pertautan

antara kedaulatan hukum dan kedaulatan rakyat dalam konstelasi Undang-Undang Pajak

(Muhammad Djafar saidi 2007:2). Undang-Undang nomor 28 Tahun 2009 memberikan harapan

yang lebih baik bagi pemerintah daerah karena adanya diskresi dalam penetapan tarif, adanya

penambahan obyek pajak dan juga adanya sumber pajak yang baru.

Namun demikian tetap dilakukan pengkajian yang cermat dalam rangka pembentukan

peraturan daerah sebagai dasar hukum untuk penerapannya secara efektif di daerah. Pendapatan

daerah yang bersumber dari pajak daerah akan meningkat dibandingkan dengan penerimaan pada

tahun-tahun sebelumnya sehingga ketergantungan pemerintah daerah terhadap sumber-sumber

penerimaan dari pemerintah 5 pusat dapat dikurangi demi menciptakan pemerintah daerah yang

lebih mandiri, khusunya dalam pengelolaan keuangan negara. Sekalipun Undang-Undang Nomor

28 Tahun 2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah memberi diskresi tarif dan memberi
peluang kepada pemerintah daerah untuk meningkatkan tarif pajak daerah sampai ke batas

maksimal yang diperbolehkan, namun pemerintah provinsi Sulawesi Selatan tidak memanfaatkan

peluang tersebut secara serta merta. Hal ini didasarkan atas pertimbangan bahwa kewenangan

pemungutan pajak yang dimiliki oleh pemerintah provinsi pada umumnya bersifat dinamis dan

mobile, kecuali Pajak Air Permukaan. Dengan diberlakukanya UndangUndang Nomor 28 Tahun

2009 pemungutan Pajak Air Permukaan pada suatu provinsi masih dapat dilakukan meneruskan

pemungutan PPPBATAP yang telah ada sebelumnya berlaku Undag-Undang Nomor 28 Tahun

2009. Pasal 180 ayat 1 yang menyatakan bahwa peraturan daerah tentang pajak daerah mengenai

jenis pajak provinsi masih tetap berlaku untuk jangka waktu dua tahun.

Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Kalimantan Timur yang berkedudukan di Jl.

Mayjen M.T. Haryono merupakan ujung tombak dalam melaksanakan tugas dilapangan yang

langsung berhadapan dengan wajib pajak. Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Kalimantan Timur

yang mempunyai tugas pokok melaksanakan Pembinaan, Pelayanan Pajak Daerah, Retribusi

Daerah dan Pendapatan Lain-lain sesuai dengan bidang tugasnya. Berdasarkan pengamatan

umum penulis pada Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Kalimantan Timur, adanya pencapaian

target dari penerimaan realisasi pajak air permukaan yang ingin dilihat dari tahun ke tahun

apakah sesuai dengan target yang dianggarkan.

Atas dasar tersebut penulis bermaksud melakukan penelitian mengenai penerimaan

yang diterima Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Kalimantan Timur melalui target dan realisasi

dari tahun ke tahun. Oleh karena itu, dengan maksud tersebut penulis ingin mengadakan

penelitian dengan judul akhir “Analisis Penerimaan Realisasi Pajak Air Permukaan Pada

Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Kalimantan Timur”.


1.2 Rumusan Masalah

Dari uraian latar belakang diatas maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini

yaitu :

“ Berapakah Target dan Realisasi Pajak Air Permukaan pada Dinas Pendapatan Daerah

Provinsi Kalimantan Timurn pada Tahun 2009-2015 apakah sudah mencapai target yang

ditentukan“.

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah : Untuk mengetahui pencapaian target dan potensi

pajak air permukaan pada Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Kalimantan Timur.

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil yang diperoleh dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai

berikut :

1. Berguna dalam mengevaluasi kinerja Unit Pelaksana dalam hal efisiensi dan efektivitas

pemungutan pajak air permukaan.

2. Sebagai acuan untuk memperluas kajian ilmu tentang mekanisme pemungutan pajak

sehingga bermanfaat untuk penulis sendiri, maupun bagi para pembaca atau pihak-

pihak lain yang berkepentingan.

3. Sebagai tambahan wawasan pengetahuan tentang aspek perpajakan,

khususnya mengenai pajak air permukaan air.


BAB II

DASAR TEORI

2.1. Perpajakan

2.1.1. Pengertian Pajak

Menurut Undang-undang No.28 Tahun 2009. Pajak Daerah adalah kontribusi

wajib kepada daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa

berdasarkan undang-undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan

digunakan untuk keperluan daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Dari

pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pajak memiliki unsur-unsur:

1. Kontribusi dari rakyat kepada negara, bahwa yang berhak memungut pajak hanyalah

negara dan kontribusi tersebut berupa uang (bukan barang) .

2. Berdasarkan Undang-undang, pajak di pungut berdasarkan atau dengan ketentuan

Undang-undang serta aturan pelaksanaanya.

3. Tanpa jasa timbal balik atau kontraprestasi dari negara yang secara langsung dapat di

pungut.

4. Digunakan untuk membiayai rumah tangga negara, untuk pengeluaran yang

bermanfaat.
Pengertian pajak menurut Prof. Dr. P. J. A. Adriani dalam Waluyo (2008:2)

mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan pajak adalah :

“Pajak adalah iuran kepada negara (yang dipaksakan) yang tergantung oleh

yangwajib pajak membayarnya menurut peraturan – peraturan, dengan tidak

mendapatkan prestasi – kembali, yang langsung dapat ditunjukan, dan yang

gunanya adalah untuk membiayai pengeluaran – pengeluaran umum berhubungan

dengan tugas negara yang menyelenggarakan pemerintahan”.

Pengertian pajak menurut Prof. Dr. Rochmat Soemantri dalam Mardiasmo

(2011:1) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan pajak adalah :

“Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang – undang (yang

dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbalan (kontraprestasi) yang langsung

dapat ditunjukan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum”.

2.1.2. Fungsi Pajak

Berdasarkan pada pengertian pajak yang telah dipaparkan, dapat disimpulkan

bahwa fungsi pajak adalah sebagai sumber pendapatan negara guna membiayai

pengeluaran – pengeluaran umum negara untuk kesejahteraan masyarakat. Selain itu,

fungsi pajak menurut Mardiasmo (2011:1) :

1. Fungsi Budgetair/Finansial

Fungsi Budgetair/Finansial yaitu pajak sebagai sumber dana bagi pemerintah untuk

membiayai pengeluaran –pengeluarannya.

2. Fungsi Regulerend/Fungsi Mengatur


Fungsi Regulerend/Fungsi Mengatur yaitu pajak sebagai alat untuk mengatur atau

melaksanakan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang sosial ekonomi.

3. Fungsi stabilitas

Fungsi stabilitas yaitu dengan adanya pajak, pemerintah memiliki dana untuk

menjalankan kebijakan yang berhubungan dengan stabilitas harga sehingga inflasi

dapat dikendalikan.

2.1.3. Syarat Pemungutan Pajak

Syarat Pemungutan Pajak (Mardiasmo 2011:2) adalah :

1. Pemungutan pajak harus adil (Syarat Keadilan)

Sesuai dengan tujuan hokum, yakni mencapai keadilan, undang-undang dan

pelaksanaan pemungutan harus adil.

2. Tidak mengganggu perekonomian (Syarat Ekonomis)

Pemungutan tidak boleh mengganggu kelancaran kegiatan produksi maupun

perdagangan, sehingga tidak menimbulkan kelesuan perekonomian masyarakat.

3. Pemungutan pajak harus efisien (Syarat Finansial)

Sesuai fungsi budgetair, biaya pemungutan pajak harus dapat ditekan sehingga lebih

rendah dari hasil pemungutannya.

4. Sistem pemungutan pajak harus sederhana

Sistem pemungutan yang sederhana akan memudahkan dan mendorong masyarakat

dalam memenuhi kewajiban perpajakannya.

Adapun syarat-syarat tersebut diberlakukan agar dalam pemungutan pajak tidak

menimbulkan hambatan atau perlawanan.


2.1.4. Pengelompokan Pajak

Menurut Mardiasmo (2011:5) pajak dikelompokan mernjadi beberapa bagian

yaitu sebagai berikut :

1. Menurut golongannya:

a. Pajak langsung, yaitu pajak yang harus dipikul sendriri oleh wajib pajak dan tidak

dapat dibebankan atau dilimpahkan kepada orang lain.

Contoh : Pajak Penghasilan

b. Pajak tidak langsung, yaitu pajak yang pada akhirnya dapat dibebankan atau

dilimpahkan kepada orang lain.

Contoh : Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

2. Menurut sifatnya:

a. Pajak subjektif, yaitu pajak yang berpangkal atau berdasarkan pada subjeknya,

dalam arti memperhatikan keadaan diri wajib pajak.

Contoh : Pajak Penghasilan

b. Pajak objektif, yaitu pajak yang berpangkal pada objeknya, tanpa memperhatikan

keadaan diri wajib pajak.

Contoh : Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah.

3. Menurut lembaga pemungutnya:

a. Pajak pusat, yaitu pajak yang dipungut oleh pemrintah pusat dan digunakan untuk

membiayai rumah tangga negara.


Contoh : Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas

Barang Mewah, Pajak Bumi dan Bangunan, dan Bea Materai.

b. Pajak daerah, yaitu pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah dan digunakan

utnuk membiayai rumah tangga daerah.

Contoh : Pajak Reklame, Pajak Hotel, Pajak Restoran dan Pajak Hiburan.

2.1.5. Sistem Pemungutan Pajak

Pemungutan pajak dapat dilakukan dengan 3 sistem yaitu:

1. Official Assessment System

Adalah suatu sistem pemungutan yang memberi wewenang kepada pemerintah

(fiskus) untuk menentukan besarnya pajak yang terutang oleh wajib pajak.

Cirri-cirinya:

a. Wewenang untuk menentukan besarnya pajak terutang ada pada fiskus.

b. Wajib pajak bersifat pasif.

c. Utang pajak timbul setelah dikeluarkan surat ketetapan pajak oleh fiskus.

2. Self Asessment System

Adalah suatu sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada wajib pajak

untuk menentukan sendiri besarnya pajak yang terutang.

Cirri-cirinya:

a. Wewenang untuk menentukan besarnya pajak terutang ada pada wajib pajak

sendiri.
b. Wajib pajak aktif, mulai dari menghitung, menyetor dan melaporkan sendiri

pajak yang terutang.

c. Fiskus tidak ikut campur dan hanya mengawasi.

3. With Holding System

Adalah suatu sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada pihak ketiga

(bukan fiskus dan bukan wajib pajak yang bersangkutan) untuk menentukan besarnya

pajak yang terutang oleh wajib pajak.

Cirri-cirinya: Wewenang menentukan besarnya pajak yang terutang ada pada pihak

ketiga, pihak selain fiskus dan wajib pajak.

Berdasarkan uraian diatas maka sistem pemungutan pajak dapat dilakukan berdasarkan

sistem-sistem yang telah disampaikan diatas.

2.1.6. Tarif Pajak

Tarif pajak digunakan dalam perhitungan besarnya pajak terutang. Dengan kata

lain, tarif pajak merupakan tarif yang digunakan untuk menentukan besarnya pajak yang

harus dibayar. Secara umum, tarif pajak dinyatakan dalam bentuk persentase. Berdasarkan

pola persentase pajak, tarif pajak dibagi 4 macam anatara lain:

1. Tarif sebanding/proporsional

Tarif berupa presentase yang tetap, terhadap berpaapun jumlah yang dikenai pajak

sehingga besarnya pajak yang terutang proporsional terhadap besarnya nilai yang

dikenai pajak.

2. Tarif tetap
Tarif berupa jumlah yang tetap (sama) terhadap berapapun jumlah yang dikenai pajak

sehingga besarnya pajak terutang tetap.

3. Tarif Progresif

Presentase tarif yang digunakan semakin besar bila jumlah yang dikenai pajak semakin

besar.

4. Tarif Degresif

Presentase tarif yang digunakan semakin kecil bila jumlah yang dikenai pajak semakin

besar.

2.1.7. Asas-asas Pemungutan Pajak

Menurut Adam Smith dalam Waluyo (2008:13) menyatakan bahwa pemungutan

pajak hendaknya didasarkan paada asas-asas berikut ini:

1. Asas Equality

Pemungutan pajak harus bersifat adil dan merata yaitu pajak dikenakan kepada orang

pribadi yang harus sebanding dengan kemampuan membayar pajak atau ability to pay

dan sesuai dengan manfaat yang diterima.

Adil yang dimaksud bahwa setiap wajib pajak menyumbangkan uang untuk

mengeluarkan pemerintah sebanding dengan kepentingan dan manfaat yang diminta.

2. Asas Certainty
Penetapan pajak itu tidak ditentukan sewenang-wenang. Oleh karena itu, Wajib Pajak

harus mengetahui secara jelas dan pasti pajak terutang, kapan harus dibayar, serta

batas waktu pembayaran.

3. Asas Convenience

Kapan Wajib Pajak itu harus membayar pajak sebaiknya sesuai dengan saat-saat yang

tidak menyulitkan Wajib Pajak.

4. Asas Economy

Secara ekonomi biaya pemungutan dan biaya pemenuhan kewajiban pajak bagi Wajib

Pajak diharapkan seminimum mungkin, demikian pula beban yang dipikul Wajib

Pajak.

Sedangkan asas pemungutan pajak yang dipaparkan oleh Mardiasmo (2011:7) adalah

sebagai berikut:

1. Asas Domisili (asas tempat tinggal)

Negara berhak mengenakan pajak atas seluruh penghasilan Wajib Pajak yang

bertempat tinggal di wilayahnya, baik penghasilan yang berasal dari dalam maupun

dari luar negeri.

2. Asas Sumber

Negara berhak mengenakan pajak atas penghasilan yang bersumber di wilayahnya

tanpa memperhatikan tampat tinggal Wajib Pajak.

3. Asas Kebangsaan

Pengenaan pajak dihubungkan dengan kebangsaan suatu Negara.


2.2. Pajak Daerah

2.2.1. Pengertian Pajak Daerah

Pajak daerah menurut Undang-undang No. 28 Tahun 2009 Pasal 10 tentang

Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, adalah:

“Pajak Daerah adalah kontribusi wajib kepada Daerah yang terutang oleh

orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-undang,

dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk

keperluan Daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”.

Sedangkan pajak daerah menurut Erly Suandy (2011:229) dapat diartikan

sebagai berikut:

“Pajak Daerah adalah iuran yang wajib dilakukan oleh orang pribadi atau

badan kepada daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang, yang dapat

dipaksakan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang

digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintah daerah dan

pembangunan daerah”.

2.2.2. Jenis – Jenis Pajak Daerah

Menurut Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2009 pajak

daerah dibagi menjadi dua kelompok, yaitu :

1. Pajak Provinsi, terdiri atas:

a. Pajak Kendaraan Bermotor

Pajak Kendaraan Bermotor adalah pajak atas kepemilikan atau penguasaan

kendaraan bermotor. Kendaraan Bermotor adalah semua kendaraan beroda


beserta gandengannya yang digunakan di semua jenis jalan darat, dan

digerakan oleh peralatan teknik berupa motor atau peralatan lainnya ya ng

berfungsi untuk mengubah suatu sumber daya energtertentu menjadi tenaga

gerak kendaraan bermotor yang bersangkutan, termasuk alat – alat besar yang

dalam operasinya menggunakan roda dan motor dan tidak melekat secara

permanen serta kendaraan bermotor yang dioperasikan di air.

b. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor

Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor adalah pajak atas penyerahan hak milik

kendaraan bermotor sebagai akibat perjanjian dua pihak atau perbuatan

sepihak atau keadaan yang terjadi karena jual beli, tukar menukar, hibah,

warisan atau pemasukan dalam badan usaha.

c. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor

Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor adalah pajak atas penggunaan bahan

bakar kendaraan bermotor. Bahan Bakar Kendaraan Bermotor adalah semua

jenis bahan bakar cair atau gas yang digunakan untuk kendaraan bermotor.

d. Pajak Air Permukaan

Pajak Air Permukaan adalah pajak atas pengambilan atau pemanfaatan air

permukaan. Air Permukaan adalah semua air yang terdapat pada permukaan

tanah, tidak termasuk air laut, baik yang berada di laut maupun di darat.

e. Pajak Rokok

Pajak Rokok adalah pungutan atas cukai rokok yang dipungut oleh

pemerintah.
1. Pajak Kota/Kabupaten terdiri atas:

a. Pajak Hotel

Pajak Hotel adalah pajak atas pelayanan hotel. Hotel adalah bangunan yangh

khusus disediakan bagi orang untuk dapat menginap atau istirahat,

memperoleh pelayanan, dan atau fasilitas lainnya dengan dipungut bayaran,

yang mencakup motel, losmen, gubuk pariwisata, wisma pariwisata,

pesanggarahan, rumah penginapan dan sejenisnya, serta rumah kos dengan

jumlah kamar lebih dari 10 (sepuluh).

b. Pajak Restoran

Pajak Restoran adalah pajak atas pelayanan restoran. Restoran adalah fasilitas

penyedia makanan dan minuman dengan dipungut bayaran, yang mencakup

juga rumah makan, kafetari, kantin, warung, bar, dan sejenisnya termasuk jasa

boga/catering.

c. Pajak Hiburan

Pajak Hiburan adalah pajak atas penyelenggaraan hiburan. Hiburan adalah

semua jenis tontonan, pertunjukan, permainan, dan keramaian yang dinikmati

dengan dipungut biaya.

d. Pajak Reklame

Pajak Reklame adalah pajak ats penyelenggaraan reklame. Reklame adalah

benda, alat, pembuatan atau media yang menurut bentuk dan corak ragamnya

untuk tujuan komersial memperkenalkan, menganjurkan, mempromosikan,

atau untuk menarik perhatian umum kepada suatu barang, jasa, atau orang
yang ditempatkan atau yang dapat dilihat, dibaca, dan didengar dari suatu

tempat oleh umum.

e. Pajak Penerangan Jalan

Pajak Penerangan Jalan adalah pajak atas penggunaan tenaga listrik baik yang

dihasilkan oleh pembangkit listrik sendiri maupun yang diperoleh dari sumber

lain.

f. Pajak Mineral Bukan Logam

Pajak Mineral Bukan Logam adalah pajak atas kegiatan pengambilan mineral

bukan logam dan batuan, baik dari sumber alam di dalam atau permukaan

bumi untuk dimanfaatkan.

g. Pajak Parkir

Pajak Parkir adalah pajak yang dikenakan atas tempat parker di luar badan

jalan, baik yang disediakan sebagai suatu usaha, termasuk penyediaan tempat

penitipan kendaraan bermotor.

h. Pajak Air Tanah

Pajak Air Tanah adalah pajak atas pengambilan atau pemfaatan Air tanah. Air

Tanah adalah air yang terdapat dalam lapisan tanah atau batuan di bawah

permukaan tanah.

i. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB)

Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) adalah pajak atas

perolehan hak atas tanah dan bangunan. Perolehan Hak atas Tanah dan
Bangunan adalah perbuatan atau peristiwa hukum yang mengakibatkan

diperolehnya hak atas tanah dan bangunan oleh orang pribadi.

j. Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan

Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan adalah pajak atas bumi

dan bangunan yang dimiliki, dikuasai, atau dimanfaatkan oleh orang pribadi

atau Badan, kecuali kawasan yang digunakan untuk kegiatan usaha

perkebunan, perhutanan, dan pertambangan.

2.2.3. Tarif Pajak Daerah

Tarif Pajak Daerah berdasarkan Undang-undang No. 28 Tahun 2009 Tentang

Pajak Daerah dan Retribusi Daerah yang dikutip oleh Marihot P Sihaan (2011:87):

1. Tarif Pajak Kendaraan Bermotor

a. Untuk kepemilikan pertama Kendaraan Bermotor pribadi sebesar 1,5%

(satu koma lima persen).

b. Untuk kepemilikan Kendaraan Bermotor kedua dan seterusnya tarif dapat

ditetapkan secara progresif paling rendah sebesar 2% (dua persen).

c. Tarif pajak Kendaraan Bermotor angkutan umum, ambulans, pemadam

kebakaran, social keagamaan, lembaga social dan keagamaan,

Pemerintah/TNI/POLRI, Pemerintah Daerah, dan Kendaraan lain yang

ditetapkan dengan Peraturan Daerah, ditetapkan paling rendah sebesar

0,5% (nol koma lima persen).

d. Tarif pajak Kendaraan Bermotor alat-alat berat dan alat-alat besar

ditetapkan paling rendah sebesar 0,2% (nol koma dua persen).


2. Tarif Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor atas penyerahan pertama

ditetapkan masing-masing sebagai berikut:

a. Untuk Kendaraan Bermotor bukan umum atas penyerahan pertama sebesar

15% (lima belas persen).

b. Untuk Kendaraan Bermotor umum sebesar 15% (lima belas persen).

c. Tarif pajak Kendaraan Bermotor pemerintah , TNI dan POLRI sebesar 5%

(lima persen).

d. Tarif pajak Kendaraan Bermotor alat-alat berat dan alat-alat besar yang

tidak menggunakan jalan umum sebesar 1,75% (nol koma tujuh puluh

lima persen).

3. Tarif Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor atas penyerahan kedua dan

selanjutnya ditetapkan masing-masing sebagai berikut:

a. Untuk Kendaraan Bermotor bukan umum atas penyerahan kedua dan

selanjutnya sebesar 1% (satu persen).

b. Untuk Kendaraan Bermotor umum sebesar 1% (satu persen).

c. Tarif pajak Kendaraan Bermotor alat-alat berat dan alat-alat besar yang

tidak menggunakan jalan umum sebesar 0,075% (nol koma nol tujuh

puluh lima persen).

4. Tarif Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor atas hibah atau waris ditetapkan

masing-masing sebagai berikut:

a. Untuk Kendaraan Bermotor bukan umum sebesar 0,1% (nol koma satu

persen).

b. Untuk Kendaraan Bermotor umum sebesar 0,1% (nol koma satu persen).
c. Tarif pajak Kendaraan Bermotor alat-alat berat dan alat-alat besar yang

tidak menggunakan jalan umum sebesar 0,075% (nol koma nol tujuh

puluh lima persen).

5. Untuk Kendaraan Bermotor yang berasal dari penjualan atau Lelang

Kendaraan Bermotor Pemerintah dikenakan tarif sebesar 1% (satu persen),

TNI dan POLRI, kecuali untuk Kendaraan Bermotor alat-alat berat dan alat-

alat besar yang tidak menggunakan jalan umum dikenakan tarif sebesar

0,075% (nol koma nol tujuh puluh lima persen).

6. Klasifikasi Kendaraan Bermotor Alat Berat dan Alat Besar yang tidak

menggunakan jalan umum ditetapkan oleh Gubernur atau Pejabat yang

ditunjuk.

7. Tarif Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor ditetapkan masing-masing

sebagai berikut:

a. Tarif Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor ditetapkan sebesar 7,5%

(tujuh koma lima persen).

b. Khusus tarif pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor untuk bahan bakar

kendaraan umum dapat ditetapkan 50% (lima puluh persen) lebih rendah

dari tarif pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor untuk kendaraan

pribadi.

8. Tarif Pajak Air Permukaan ditetapkan sebesar 10% (sepuluh persen).

9. Tarif Pajak Rokok ditetapkan sebesar 10% (sepuluh persen).

10. Tarif Pajak Hotel ditetapkan sebesar 10% (sepuluh persen).

11. Tarif Pajak Restoran ditetapkan sebesar 10% (sepuluh persen).


12. Tarif Pajak Hiburan ditetapkan paling tinggi sebesar 35% (tiga puluh lima

persen). Khusus untuk hiburan berupa pegelaran busana, kontes kecantikan,

diskotik, karaoke, klab malam, permainan ketangkasan, panti pijat, dan mandi

uap/spa, tarif Pajak Hiburan dapat ditetapkan paling tinggi sebesar 75% (tujuh

puluh lima persen). Khusus hiburan ditetapkan paling tinggi sebesar 10%

(sepuluh persen).

13. Tarif Pajak Reklame ditetapkan paling tinggi sebesar 25% (dua puluh lima

persen).

14. Tarif Pajak Penerangan Jalan ditetapkan paling tinggi sebesar 10% (sepuluh

persen).

15. Tarif Pajak Mineral Bukan Logam dan Bantuan ditetapkan paling tinggi

sebesar 25% (dua puluh lima persen).

16. Tarif Pajak Parkir ditetapkan paling tinggi sebesar 30% (tiga puluh persen).

17. Tarif Pajak Air Tanah ditetapkan paling tinggi sebesar 20% (dua puluh

persen).

18. Tarif Pajak Sarang Burung Walet ditetapkan paling tinggi sebesar 10%

(sepuluh persen).

19. Tarif Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan ditetapkan paling

tinggi sebesar 0,3% (nol koma tiga persen).

20. Tarif Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan ditetapkan paling tinggi

sebesar 5% (lima persen).


2.2.4. Ciri-ciri Pajak Daerah

Menurut Undang-undang No.28 Tahun 2009. Pajak Daerah adalah kontribusi

wajib kepada daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat

memaksa berdasarkan undang-undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara

langsung dan digunakan untuk keperluan daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran

rakyat. Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pajak memiliki unsur-unsur:

1. Kontribusi dari rakyat kepada negara, bahwa yang berhak memungut pajak

hanyalah negara dan kontribusi tersebut berupa uang (bukan barang).

2. Berdasarkan Undang-undang, pajak di pungut berdasarkan atau dengan ketentuan

Undang-undang serta aturan pelaksanaanya.

3. Tanpa jasa timbal balik atau kontraprestasi dari negara yang secara langsung dapat

di pungut.

4. Digunakan untuk membiayai rumah tangga negara, untuk pengeluaran yang

bermanfaat.

2.2.5. Tata Cara Pembayaran Dan Penagihan

1. Gubernur menentuhkan tanggal jatuh tempo pembayaran dan

penyetoran pajak yang terutang paling lama 30 tahun hari kerja

setelah saat terutang pajak.

2. SKPD, SKPDKB, SKPDKTB, STPD, surat keputusan pembetulan,

surat keputusan keberatan, dan putusan banding, yang

menyebabkan jumlah pajak yang harus dibayar bertambah,

merupakan dasar penagihan pajak dan harus dilunasi dalam jangka


waktu paling lama 1 bulan sejak tanggal diterbitkan.

3. Gubernur atas permohonan wajib pajak setelah memunuhi

persyaratan yang ditentukan dapat memberikan persetujuan

kepada wajib pajak yang mengangsur atau menunda pembayaran

pajak, dengan dikenakan bunga sebesar 2% sebulan.

4. Pembayaran Pajak Air Permukaan dilakukan di kas umum daerah atau tempat

lain yang ditetapkan oleh Gubernur.

5. Tata cara pembayaran, penyetoran, tempat pemabayaran, angsuran, dan

penundaan pembayaran pajak diatur lebih lanjut dengan Peraturan Gubernur.

6. Jumlah kekurangan pajak yang terutang dalam STPD sebagaimana dimaksud

pada ayat (1) huruf a ditambah dengan sanksi administratif berupa bunga

sebesar 2% (dua persen) setiap bulan untuk paling lama 15 (lima belas) bulan

sejak saat terutangnya pajak.

7. Gubernur dapat menerbitkan STPD jika:

a. Pajak Air Permukaan dalam tahun berjalan tidak atau kurang bayar.

b. Wajib pajak dikenakan sanksi administratif berupa bunga dan/atau denda.

8. SKPD yang tidak atau kurang dibayar setelah jatuh tempo pembayaran

dikenakan sanksi administratif berupa bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan

dan ditagih melalui STPD.

9. Bentuk, isi, dan tata cara penyampaian STPD sebagaimana dimaksud pada

ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Gubernur.

10. Pajak Air Permukaan terutang harus dilunasi paling lambat 15 (lima belas)

hari kerja,bulan berikutnya dari masa Pajak Air Permukaan yang terutang.
2.2.6. Pembayaran Pajak Daerah

Pembayaran pajak daerah menurut Darwin (2010:157), merupakan suatu

tindakan untuk melunasi hutang pajaknya. Pembayaran pajak daerah segera setelah

memperoleh Surat Pemberitahuan Pajak Daerah dengan mengacu kepada self

assessment system. Pembayaran dan penyetoran pajak daerah yang terutang adalah

paling lama 30 hari setelah saat terutangnya pajak atau berdasarkan peraturan daerah.

2.3. Pajak Air Permukaan

2.3.1. Pengertian Pajak Air Permukaan

Pajak Air Permukaan adalah pajak atas pengambilan atau pemanfaatan air

permukaan. Air Permukaan adalah semua air yang terdapat pada permukaan tanah,

tidak termasuk air laut, baik yang berada di laut maupun di darat. Hanya saja

berdasarkan Undang-undang No. 28 Tahun 2009, PPPABTAP dipecah menjadi dua

jenis pajak, yaitu Pajak Air Permukaan dan Pajak Air Bawah Tanah dimana Pajak

Air Permukaan dimasukkan sebagai pajak provinsi sedangkan Pajak Air Bawah

Tanah menjadi pajak kabupaten/kota.

Pengenaan Pajak Air Permukaan tidak mutlak ada pada seluruh daerah

provinsi yang ada di Indonesia. Hal ini berkaitan dengan kewenangan yang diberikan

kepada pemerintah provinsi untuk mengenakan atau tidak mengenakan suatu jenis

pajak provinsi.
Karena itu untuk dapat dipungut pada suatu daerah provinsi, maka

pemerintah daerah harus terlebih dahulu menerbitkan Peraturan Daerah tentang

Pajak Air Permukaan yang akan menjadi landasan hokum operasional dalam teknis

pelaksanaan pengenaan dan pemungutan Pajak Air Permukaan di daerah provinsi

yang bersangkutan.

Untuk mencegah kevakuman hokum dengan diberlakukannya Undang-

undang No. 28 Tahun 2009 pada tanggal 1 Januari 2010 yang sekarang sudah

berubah dengan dasar hokum Undang-undang No. 10 Tahun 2011, pemungutan

Pajak Air Permukaan pada suatu provinsi masih dapat dilakukan meneruskan

pemungutan PPPBATAP yang telah ada sebelum berlakunya Undang-undang No. 28

Tahun 2009 pasal 180 ayat 1 yang menyatakan bahwa peraturan daerah tentang

pajak daerah mengenai jenis pajak provinsi masih tetap berlaku untuk jangka waktu

dua tahun sebelum diberlakukannya Undang-undang No. 28 Tahun 2009. Hanya saja

dalam dua tahun sejak diberlakukannya Undang-undang No. 28 Tahun 2009

diharapkan pemerintah provinsi yang ingin memungut Pajak Air Permukaan harus

telah menetapkan peraturan daerah tentang Pajak Air Permukaan sebagai dasar

hukum pemungutan Pajak Air Permukaan pada provinsi tersebut.

2.3.2. Objek Pajak Air Permukaan

Objek Pajak Air Permukaan meliputi pengambilan dan/atau pemanfaatan

air permukaan. Dikecualikan dari objek Pajak Air Permukaan sebagai berikut:

1. Pengambilan dan/atau pemanfaatan air permukaan oleh Instansi Pemerintah

yang tidak bersifat komersial.


2. Pengambilan dan/atau pemanfaaatan air permukaan untuk kepentingan

pengairan pertanian dan perikanan rakyat.

3. Pengambilan dan/atau pemanfaatan air permukaan untuk keperluan dasar

rumah tangga/perorangan.

4. Pengambilan dan/atau pemanfaatan air permukaan untuk kepentingan

peribadahan, penanggulangan bahaya kebakaran dan untuk keperluan

penelitian serta penyelidikan yang tidak menimbulkan kerusakan atas

sumber air dan lingkungannya atau bangunan pengairan beserta tanah

turutannya.

2.3.3. Subjek Pajak dan Wajib Pajak Air Permukaan

Subjek Pajak Air Permukaan meliputi orang pribadi atau Badan yang dapat

melakukan pengambilan dan/atau pemanfaatan Air Permukaan.

Wajib Pajak Air Permukaan meliputi orang pribadi atau Badan yang

melakukan pengambilan dan/atau pemanfaatan air permukaan.

2.3.4. Dasar Pengenaan Pajak Air Permukaan

1. Dasar Pengenaan Pajak Air Permukaan adalah Nilai Perolehan Air

Permukaan.

2. Perolehan Air Permukaan sebagaimana dimaksud pada ayat 1) dinyatakan

dalam rupiah yang dihitung dengan mempertimbangkan sebagian atau

seluruh factor-faktor berikut:

a. Jenis sumber air.

b. Lokasi sumber air.


c. Tujuan pengambilan dan/atau pemanfaatan air.

d. Volume air yang diambil dan/atau pemanfaatan air.

e. Kualitas air.

f. Luas areal tempat pengambilan dan/atau pemanfaatan air.

g. Tingkat kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh pengambilan

dan/atau pemanfaatan air.

3. Besar Nilai Perolehan Air Permukaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

ditetapkan dengan Peraturan Gubernur.

4. Besarnya Nilai Perolehan Air Permukaan sebagaimana dimasud pada ayat

(1) sepanjang digunakan untuk kegiatan Badan Usaha Milik Negara,

Badan Usaha Milik Daerah yang memberikan pelayanan public,

pertambangan minyak bumi dan gas alam diatur dengan Peraturan Daerah.

5. Volume pemakaian dan pemanfaatan Air Permukaan, berdasarkan catatan

meter dan/atau alat ukur lainnya.

6. Perhitungan volume pemakaian dan/atau pemanfaatan Air Permukaan

dilakukan oleh Tim Teknis dari Dinas Pekerjaan Umum Provinsi

Kalimantan Timur, Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Kalimantan

Timur dan dikoordinasikan oleh Dinas Pendapatan Provinsi Kalimantan

Timur.

2.3.5. Tarif Pajak Air Permukaan

Tarif Pajak Air Permukaan menurut Undang-undang No. 10 Tahun 2011

tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemungutan Pajak Air Permukaan, ditetapkan sebesar


10% (sepuluh persen). Berdasarkan Perda Kalimantan Timur tentang Pajak Daerah,

tarif Pajak Air Permukaan sebesar 10%.

2.3.6. Penghapusan atau Pengurangan Sanksi Administrasi

Menurut Marihot Pahala (2011:484), atas permohonan wajib pajak atau

karena jabatannya, bupati/walikota dapat membetulkan SKPD, SKPDKB, SKPKBT

atau STPD, SKPDN atau SKPDBL yang dalam penerbitannya terdapat kesalahan

tulis atau kesalahan hitung atau kekeliruan penerapan ketentuan tertentu dalam

peraturan perundang-undangan perpajakan daerah. Selaint itu bupati/walikota dapat:

a. Mengurangkan atau menghapuskan sanksi administrative berupa bunga, denda,

dan kenaikan pajak yang terutang menurut peraturan perundang-undangan

perpajakan daerah, dalam hal ini sanksi tersebut dikenakan karena kekhilafan

wajib pajak atau bukan karena kesalahannya.

b. Mengurangkan atau membatalkan SKPD, SKPDKB, SKPDKBT atau, STPD,

SKPDN atau SKPDBL yang tidak benar.

c. Mengurangkan atau membatalkan STPD.

d. Membatalkan hasil pemeriksaan atau ketetapan pajak yang dilaksanakan atau

diterbitkan tidak sesuai dengan tata cara yang ditentukan.

e. Mengurangkan ketetapan pajak terutang berdasarkan pertimbangan kemampuan

membayar wajib pajak atau kondisi tertentu objek pajak.

2.3.7. Pengembalian Kelebihan Pembayaran Pajak

Menurut Darwin (2010:188), pengembalian kelebihan pembayaran pajak

daerah maupun retribusi daerah sesungguhnya sama saja dengan pajak-pajak lain,
hanya saja untuk pajak daerah dan retribusi daerah harus diajukan kepada Kepala

Daerah dalam jangka waktu paling lama 12 bulan sejak diterimanya permohonan

pengembalian kelebihan pembayaran pajak daerah dari Wajib Pajak harus

memberikan keputusan. Apabila waktu 12 bulan terlampaui dan Kepala Daerah tidak

memberi keputusan maka permohonan pengembalian kelebihan pajak dianggap

dikabulkan.

Konsekwensinya adalah bahwa dalam waktu paling lama satu bulan setelah 12 bulan

Kepala Daerah harus menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Daerah Lebih Bayar dan

segera mengirimkannya kepada Wajib Pajak.

Apabila Wajib Pajak mempunyai utang pajak, kelebihan pembayaran pajak

langsung diperhitungkan untuk melunasi terlebih dahulu tentang utang pajak.

Pengembalian kelebihan pembayaran pajak dilakukan dalam jangka waktu paling

lama 2 bulan sejak diterbitkannya Surat Ketetapan Pajak Daerah Lebih Bayar.

Apabila pengembalian kelebihan pembayaran pajak daerah dilakukan setelah jangka

waktu 2 bulan, Kepala Daerah memberikan imbalan bunga 2% sebulan atas

keterlambatan pembayaran kelebihan pembayaran pajak daerah.

2.3.8. Bagi Hasil dan Biaya Pemungutan Pajak Air Permukaan

Menurut Marihot P Siahaan (2011:490), bagi hasil pajak dan biaya

pemungutan pajak:

a. Hasil penerimaan Pajak Air Permukaan merupakan pendapatan

daerah yang harus disetorkan seluruhnya ke kas daerah kabupaten/kota.

Hasil penerimaan Pajak Air Permukaan sebagian diperuntukkan bagi


daerah kabupaten/kota di wilayah provinsi tempat pemungutan Pajak Air

Permukaan. Pembagian hasil penerimaan Pajak Air Permukaan

ditetapkan dalam peraturan daerah provinsi, dengan perimbangan:

1. 50% menjadi bagian provinsi

2. 50% diserahkan kepada kabupaten/kota

b. Biaya Pemungutan Pajak

Dalam rangka pelaksanaan kegiatan pemungutan dan pengelolaan Pajak Air

Permukaan, dapat diberikan biaya pemungutan, misalnya sebesar lima persen dari

hasil penerimaan pajak yang telah disetorkan ke kas daerah provinsi. Biaya

pemungutan adalah biaya yang diberikan kepada aparat penunjang dalam rangka

kegiatan pemungutan. Alokasi dan penggunaan biaya pemungutan Pajak Air

Permukaan ditetapkan dengan keputusan gubernur dengan berpedoman kepada

ketentuan yang berlaku.

2.3.9. Kerangka Pikir

Persentase Target Metode Perhitungan

Hasil Penelitian
BAB III

Hasil
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Definisi Operasional

Pajak Air Permukaan di Kota Samarinda dalam pelaksanaannya dilakukan oleh Dinas

Pendapatan Daerah Provinsi Kalimantan Timur Samarinda. Pembayaran dan pencatatan

penerimaan pajak air permukaan dilakukan di bidang pendataan dan penetapan. Pajak Air
Permukaan adalah salah satu pajak daerah yang dipungut oleh pemerintah daerah tingkat I.

Sehingga penerimaan dari Pajak Air Permukaan sangat diperlukan dalam menambah pemasukan

bagi Pendapatan Asli Daerah Kalimantan Timur.

Untuk mempermudah dan memahami serta mendapatkan gambaran yang lebih jelas

mengenai maksud dari penelitian, selanjutnya akan diberikan definisi operasional tentang

indikator-indikator yang lebih teliti yaitu sebagai berikut:

a. Pajak Air Permukaan adalah pajak atas pengambilan atau pemanfaatan air yang terdapat

pada permukaan tanah.

b. Realisasi adalah tindakan yang nyata atau adanya pergerakan/perubahan dari rencana

yang sudah dibuat atau dikerjakan dalam periode waktu tertentu dengan menggunkan

sumber daya perusahaan.

c. Penerimaan realisasi Pajak Air Permukaan menggunakan perhitungan yang berdasarkan

Nilai Perolehan Air (NPA) yang sudah disesuaikan dengan Peraturan Gubernur

Kalimantan Timur Nomor 10 Tahun 2011 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemungutan

Pajak Air Permukaan. Setelah menggunakan Nilai Perolehan Air maka akan dimasukan

kedalam perhitungan pajaknya dengan tarif 10% (sepuluh persen).

3.2. Rincian Data Yang Diperlukan

Untuk mempermudah dalam melaksanakan penelitian, penulis memerlukan data-data yang

benar-benar dapat dipergunakan dan membantu dalam pemecahan masalah. Data-data yang

diperlukan terdiri dari:


a. Daftar Penerimaan Target dan Realisasi Pajak Air Permukaan.

b. Target Pajak Air Permukaan Tahun 2009-2015.

c. Gambaran umum mengenai Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Kalimantan Timur Kota

Samarinda.

d. Data-data yang mendukung lainnya.

3.3. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian dilakukan pada Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Kalimantan Timur Kota

Samarinda. Penelitian ini dikhususkan pada perhitungan persentase dan potensi target Pajak Air

Permukaan dari laporan penerimaan per tahun. Kemudian menganalisa data yang ada dan

disesuaikan dengan daftar penerimaan target dan realisasi tahun 2009-2015.

3.4. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data adalah cara-cara yang digunakan untuk mengumpulkan data dan

keterangan-keterangan lainnya dalam penelitian terhadap masalah yang menjadi objek penelitian

ini adalah:

a. Penelitian Lapangan (Field Work Research)

Penelitian lapangan melalui dokumentasi, yaitu suatu teknik pengumpulan data yang

dilakukan dengan melihat berbagai arsip dan mengadakan pengamatan langsung pada

objek yang berkaitan dengan penelitian.

b. Penelitian Kepustakaan (Library Research)


Yaitu metode penelitian untuk memperoleh data dengan cara membaca buku-buku

literatur di perpustakaan yang ada kaitannya dengan pajak serta buku-buku ilmiah lainnya

yang ada hubungannya dengan judul penelitian.

3.5. Alat Analisis

Alat analisis merupakan salah satu unsur yang penting dari suatu penelitian, dalam hal ini

penulis akan membahas permasalahan tugas akhir ini dengan menggunakan alat analisis yang

bersifat kuantatif, karena dalam penelitian ini penulis ingin mengetahui persentase dan potensi

dari laporan target dan realisasi. Maka alat analisis ysng digunakan yaitu:

1. Persentase Target dan Realisasi

𝑅𝑒𝑎𝑙𝑖𝑠𝑎𝑠𝑖 𝑃𝑎𝑗𝑎𝑘 𝐴𝑖𝑟 𝑃𝑒𝑟𝑚𝑢𝑘𝑎𝑎𝑛


Persentase = 𝑥100%
𝑇𝑎𝑟𝑔𝑒𝑡 𝑃𝑎𝑗𝑎𝑘 𝐴𝑖𝑟 𝑃𝑒𝑟𝑚𝑢𝑘𝑎𝑎𝑛
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Dinas Pendapatan Daerah Provinsi Kalimantan Timur

4.1.1. Dasar Hukum

Peraturan Gubernur Kalimantan Timur Nomor 10 Tahun 2011 tentang Petunjuk

Pelaksanaan Pemungutan Pajak Air Permukaan. Dalam Peraturan Gubernur ini yang

dimaksud dengan:

1. Daerah adalah Provinsi Kalimantan Timur.

2. Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh

Pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah menurut asas

otonomi dan Tugas Pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam

sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945.

3. Pemerintah Daerah adalah Gubernur dan Perangkat Daerah sebagai unsure

penyelenggara pemerintahan daerah.

4. Gubernur adalah Gubernur Kalimantan Timur.

5. Pemerintah Provinsi adalah Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.

6. Dinas Pendapatan adalah Dinas Pendapatan Provinsi Kalimantan Timur.

7. Kepala Dinas adalah Kepala Dinas Pendapatan Provinsi Kalimantan Timur.

8. Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota adalah Pemerintah Daerah

Kabupaten/Kota di Kalimantan Timur.


9. Pejabat adalah pegawai yang diberi tugas tertentu di bidang perpajakan daerah

sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

10. Pajak Daerah Provinsi Kalimantan Timur, yang selanjutnya disebut pajak,

adalah iuran wajib dan/atau kontribusi wajib kepada daerah yang terutang oleh

orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-

Undang, dengan tidak mendapatan imbalan secara langsung dan digunakan

untuk membiayai penyelenggaraan Pemerintah Daerah dan keperluan

pembiayaan Pembangunan Daerah yang sebesar-besarnya untuk kemakmuran

rakyat.

11. Rekening Kas Umum Daerah adalah rekening tempat penyimpanan uang

daerah yang ditentukan oleh gubernur untuk menampung seluruh penerimaan

daerah dan digunakan untuk membayar seluruh pengeluaran daerah.

12. Pajak Air Permukaan disingkat PAP adalah pajak atas pengambilan dan/atau

pemanfaatan air permukaan.

13. Air Permukaan adalah semua air yang terdapat pada permukaan tanah, tidak

termasuk air laut, baik yang berada di laut maupun di darat.

14. Wajib Pajak adalah orang pribadi atau Badan, meliputi pembayaran pajak,

pemotong pajak, dan pemungut pajak, yang mempunyai hak dan kewajiban

perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan

perpajakan daerah.

15. Penanggung Pajak adalah orang pribadi atau badan yang bertanggung jawab

atas pembayaran pajak, termasuk wakil yang menjalankan hak dan memenuhi

kewajiban pajak.
16. Masa Pajak adalah jangka waktu 1 (satu) bulan kalender atau jangka waktu

lain yang diatur dengan Peraturan Gubernur paling lama 3 (tiga) bulan

kalender, yang menjadi dasar bagi Wajib Pajak untuk menghitung, menyetor,

dan melaporkan pajak yang terutang.

17. Pajak yang terutang adalah pajak yang harus dibayar pada suatu saat, dala

Masa Pajak, dalam Tahun Pajak, dan/atau dalam bagian Tahun Pajak sesuai

dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan daerah.

18. Surat Pemberitahuan Pajak Daerah, yang selanjutnya disingkat SPTPD, adalah

surat yang oleh Wajib Pajak digunakan untuk melaporkan perhitungan

dan/atau pembayaran pajak, objek pajak dan/atau bukan objek pajak, dan/atau

harta dan kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan

perpajakan daerah.

19. Surat Pemberitahuan Objek Pajak Daerah, yang disingkat SPOPD, adalah

surat yang dibuat oleh Wajib Pajak untuk melaporkan obyek pajak sebagai

dasar perhitungan dan/atau pembayaran pajak.

20. Surat Ketetapan Pajak Daerah yang selanjutnya disingkat SKPD, adalah surat

ketetapan pajak yang menentukan besarnya jumlah pokok yang terutang.

21. Surat Setoran Pajak Daerah, yang selanjutnya disingkat SSPD, adalah bukti

pembayaran atau penyetoran pajak yang telah dilakukan dengan menggunakan

formulir atau telah dilakukan dengan cara lain ke Kas Daerah melalui tempat

pembayaran yang ditunjuk oleh Gubernur.


22. Surat Tagihan Pajak Daerah yang selanjutnya disingkat STPD, adalah surat

untuk melakukan tagihan pajak dan/atau sanksi administrasi berupa bungan

dan/atau denda.

23. Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar yang selanjutnya disingkat

SKPDKB, adalah surat ketetapan pajak yang menentukan besarnya jumlah

pokok pajak, jumlah kredit pajak, jumlah kekurangan pembayaran pokok

pajak, besarnya sanksi administrasi dan jumlah yang masih harus dibayar.

24. Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan yang selanjutnya

disingkat SKPDKBT, adalah surat ketetapan pajak yang menentukan

tambahan atas jumlah pajak yang telah ditetapkan.

25. Surat Ketetapan Pajak Daerah Lebih Bayar yang selanjutnya disingkat

SKPDLB adalah surat ketetapan pajak yang menentukan jumlah kelebihan

pembayaran pajak arena jumlah kredit pajak lebih besar daripada pajak yang

terutang atau tidak seharusnya terutang.

26. Surat Ketetapan Pajak Daerah Nihil yang selanjutnya disingkat SKPDN

adalah surat ketetetapan pajak yang menentukan jumlah pajak pokok sama

besarnya dengan jumlah kredit pajak atau pajak tidak terutang dan tidak ada

kredit pajak.

27. Surat Keputusan Pembetulan adalah surat keputusan atas pembetulan yang

terdapat dalam Surat Pemberitahuan Pajak Terutang, Surat Ketetapan Pajak

Daerah, Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar, Surat Ketetapan Pajak

Daerah Kurang Bayar Tambahan, Surat Ketetapan Pajak Daerah Nihil, Surat
Ketetapan Pajak Daerah Lebih Bayar, Surat Tagihan Pajak Daerah, Surat

Keputusan Pembetulan, atau Surat Keputusan Keberatan.

28. Surat Keputusan Keberatan adalah surat keputusan atas keberatan terhadap

Surat Pemberitahuan Pajak Terutang, Surat Ketetapan Pajak Daerah, Surat

Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar, Surat Ketetapan Pajak Daerah urang

Bayar Tambahan, Surat Ketetapan Pajak Daerah Nihil, Surat Ketetapan Pajak

Daerah Lebih Bayar, Surat Tagihan Pajak Daerah, Surat Keputusan

Pembetulan, atau Surat Keputusan Keberatan.

29. Surat Keputusan Keberatan adalah surat keputusan atas keberatan terhadap

Surat Pemberitahuan Pajak Terutang, Surat Ketetapan Pajak Daerah, Surat

Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar, Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang

Bayar Tambahan, Surat Ketetapan Pajak Daerah Nihil, Surat Ketetapan Pajak

Daerah Lebih Bayar, atau terhadap pemotongan atau pemungutan oleh pihak

Ketiga yang diajukan oleh Wajib Pajak.

30. Pajak yang Terutang adalah pajak yang harus dibayar pada suatu saat, dalam

Masa Pajak, dalam Tahun Pajak, atau dalam Bagian Tahun Pajak sesuai

dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan daerah.

31. Subjek Pajak adalah orang pribadi atau Badan yang dapat dikenakan pajak.

32. Badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan

baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang

meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, Badan

Usaha Milik Negaraatau Daerah (BUMN atau BUMD) dengan nama dan

dalam bentuk apapun, firma, kongsi, koperasi, dana pension, persekutuan,


perkumpulan, yayasan, organisasi masa, organisasi social politik atau

organisasi yang sejenis lembaga bentuk usaha tetap, dan bentuk badan lainnya

termasuk kontrak investasi, kolektif dan bentuk usaha tetap.

33. Nomor Pokok Wajib Pajak Daerah yang selanjutnya disingkat NPWPD adalah

nomor yang diberikan kepada wajib pajak sebagai sarana dalam administrasi

perpajakan yang dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas

Wajib Pajak dalam melaksanakan Hak dan Kewajiban perpajakannya.

34. Instansi Pemerintah adalah Pemerintah, TNI/POLRI, Pemerintah Provinsi, dan

Pemerintah Kabupaten/Kota.

4.1.2. Organisasi Dinas Pendapatan Daerah Provinsi

1. Kepala Dinas

2. Sekretariat

a. Sub. Bagian perencanaan program

b. Sub. Bagian Umum

c. Sub. Bagian Keuangan

3. Bidang Pajak Daerah

a. Seksi PKB dan BBNKB

b. Seksi Pajak Daerah lainnya

c. Seksi Pembukuan dan Keberatan Pajak

4. Bidang Retribusi dan Pendapatan Lain-lain

a. Seksi Retribusi

b. Seksi Pendapatan Lain-lain


c. Seksi Badan Umum Milik Daerah, Pernyataan Modal dan Pinjaman Daerah

5. Bidang Dana Perimbangan

a. Seksi Bagi Hasil Pajak

b. Seksi Bagi Hasil Bukan Pajak

c. Seksi Dana Perimbangan Lainnya

6. Bidang Pengembangan Pendapatan Daerah

a. Seksi Peraturan Perundang-Undangan

b. Seksi Kasi Evaluasi dan Pelaporan

c. Seksi Kebijakan Pendapatan