Anda di halaman 1dari 21

A.

DEFINISI

Demam adalah peningkatan titik patokan (set point) suhu di hipotalamus

(Elizabeth J. Corwin, 2010). Dikatakan demam jika suhu orang menjadi lebih dari

37,5 ºC (E. Oswari, 2009). Demam terjadi karena pelepasan pirogen dari dalam

leukosit yang sebelumnya telah terangsang oleh pirogen eksogen yang dapat berasal

dari mikroorganisme atau merupakan suatu hasil reaksi imunologik yang tidak

berdasarkan suatu infeksi (Sjaifoellah Noer, 2008).

Demam adalah keadaan dimana terjadi kenaikan suhu hingga 38⁰C atau lebih.

Ada juga yang yang mengambil batasan lebih dari 37,8⁰C.Sedangkan bila suhu tubuh

lebih dari 40⁰C disebut demam tinggi (hiperpireksia)(Julia, 2000).

B. ANATOMI DAN FISIOLOGI


1. Anatomi

Menurut Setiadi (2007), otak merupakan alat tubuh yang sangat penting

karena merupakan pusat computer dari semua alat tubuh. Bagian dari syaraf

sentral yang terletak di dalam rongga tengkorak ( cranium) dibungkus oleh selaput

otak yang kuat. Cranium (tengkorak) berkembang dari sebuah tabung yang

mulanya memperlihatkan tiga gejala pembesaran otak awal.


a. Otak depan menjadi hemisfer serebri, korpus striatum, thalamus, serta

hipotalamus

b. Otak tengah, otak ini menjadi tegmentum, krus serebri, korpus

kuadrigeminus.

c. Otak belakang (pons), bagian otak yang menonjol yang tersusun dari

lapisan fiber (berserat) dan termaasuk sel yang terlibat dalam pengontrolan

pernafasan, dimana pons ini terdiri atas Pons varoli, Medulla oblongata dan

Cerebelum.

Otak dilindungi oleh kulit kepala, rambut, tulang tengkorak dan columna

vertebral serta Meningen (selaput otak).

Bagian-bagian otak secara garis besar terdiri dari cerebrum (otak besar),

brain stem (batang otak) dan cerebellum (otak kecil)

a. Cerebrum (otak besar)

Menurut Syaifuddin (2006), Cerebrum atau otak besar merupakan

bagian yang terluas dan terbesar dari otak, berbentuk telur, mengisi penuh

bagian depan atas rongga, masing-masing disebut fosa kanialis anterior atas

dan fosa kraialis bawah. Kedua permukaan ini dilapisi oleh lapisan

kelabu (zat kelabu) yaitu pada bagian korteks serebral dan zat putih terdapat pada

bagian dalam yang mengandung serabut saraf. Sedangkan menurut Setiadi

(2007), permukaan cerebrum berasal dari bagian yang menonjol (gyri) dan

lekukan (sulci). Cerebrum pada otak besar ditemukan beberapa lobus yaitu :
1) Lobus frontalis adalah bagian dari cerebrum yang terletak didepan sulkus

sentalis

2) Lobus parientalis, terdapat didepan sulkus sentralis dan dibelakang oleh

karako-oksipitalis.

3) Lobus temporalis, terdapat dibawah lateral dari fisura serebralis dan

didepan lobus oksipitalis

4) Lobus occipitalis yang mengisi bagian belakang dari cerebrum

(Syaifuddin, 2006).

b. Batang otak

Menurut Pearce (2009), batang otak terdiri atas otak tengah

(diensefalon) pons varoli dan medula oblongata. Otak tengah (diensefalon)

merupakan bagian atas batang otak. Akuaduktus serebri yang menghubungkan

ventrikel ketiga dan keempat melintas melalui otak tengah ini.

Menurut Syaifuddin (2006), batang otak terdiri dari :

1) Dianzefalon, bagian batang otak paling atas terdapat diantara serebelum

dengan meansefalon. Kumpulan dari sel saraf yang

2) terdapat dibagian depan lobus temporalis terdapat kapsula interna dengan

sudut menghadap ke samping.

3) Mensensefalon, atap dari Mensensefalon terdiri dari empat bagian yang

menonjol ke atas. Dua di sebelah atas disebut korpus kuadrigeminus

inferior. Serat saraf okulomotorius berjalan ke ventrikel bagian medial.


Serat nervus troklearis berjalan ke arah dorsal menyilang garis tengah ke

sisi lain.

4) Pons varoli, Brakium pontis yang menghubungkan mesensefalon dengan

pons valori dengan cerebellum, terletak di depan cerebellum diantara otak

tengah dan medulla oblongata. Disini terdapat premotoksid yang mengatur

gerakan pernafasan dan refleks,

5) Medulla oblongata, merupakan bagian dari batang otak yang paling bawah

yang menghubungkan pons varoli dengan medulla spinalis, bagian bawah

medulla oblongata merupakan persambungan medulla spinalis ke atas,

bagian atas medulla oblongata yang melebar disebut kanalis sentralis

didaerah tengah bagian ventral medulla oblongata.

c. Cerebellum

Menurut Syaifuddin (2006), cerebellum atau otak kecil terletak pada bagian

bawah dan bagian belakang tengkorak dipisahkan dengan cerebellum oleh

fisura transversalis oleh pons varoli dan diatas medulla oblongata. Organ ini

banyak menerima serabut eferen sensoris. Sedangkan menurut Setiadi (2007),

cerebellum mempunyai dua hemisfer yang dihubungkan oleh fermis, berat

cerebellum lebih kurang 150 gram (85-90%) dari berat otak seluruhnya.

Bentuknya oval, bagian yang mengecil pada sentral disebut vermis dan bagian-

bagian yang melebar pada lateral disebut hemisfer. Cerebellum berhubungan

dengan batang otak melalui pendunkulus serebri inferior (korpus retiformi).


Permukaan luar cerebellum berlipat- lipat menyerupai cerebellum tetapi

lipatannya lebih kecil dan lebih teratur. Permukaan cerebellum ini mengandung

zat kelabu.

Menurut Setiadi (2007), setiap pergerakan memerlukan koordinasi dalam

kegiatan sejumlah otot. Otot antagonis harus mengalami relaksasi secara teratur

dan otot diperlukan oleh bermacam pergerakan.

2. Fisiologi

Menurut Syaifuddin (2006), sistem saraf mengatur kegiatan tubuh yang

cepat seperti kontraksi otot, peristiwa fiselar yang berubah dengan cepat

menerima ribuan informasi dari berbagai organ sensoris dan kemudian

menginterpretasikannya untuk menentukan reaksi yang harus dilakukan tubuh.

Membran sel bekerja sebagai suatu sekat pemisah yang amat efektif dan selektif

antara cairan ekstra seluler dan cairan intra seluler. Di dalam ruangan ekstra

seluler, disekitar neuron terdapat cairan intraseluler terdapat kalium Bagian-

bagian otak secara geris besar terdiri dari cerebrum (otak besar), brain stem

(batang otak) dan cerebrum (otak kecil)

a. Menurut Syaifuddin (2006), fungsi cerebrum yaitu :

1) mengingat pengalaman masa lalu

2) pusat persyarafan yang menangani, aktifitas mental, akal intelegensi,

keinginan dan memori

3) pusat menangis, buang air besar dan buang air kecil

b. Menurut Setiadi (2007), cerebrum pada otak besar dibagi 4 lobus yaitu :
1) lobus frontalis, menstimuli pergerakan otot, yang bertanggung jawab

untuk proses berfikir.

2) Lobus parientalis, fungsinya merupakan area sensoris dari otak yang

merupakan sensasi perabaan, tekanan, dan sedikit menerima perubahan

temperature.

3) Lobus temporalis, mengandung area auditori yang menerima sensasi

dari telinga.

4) Lobus occipitalis yang mengisi bagian belakang dari cerebrum

mengandung area visual yang menerima sensasi dari mata.

Area khusus otak besar (cerebrum) adalah :

1) Somatic sensory area yang menerima impuls dari reseptor sensori

tubuh.

2) Primary motor area yang mengirim impuls ke otot skeletal

3) Broca’s area yang terlibat dalam kemampuan bicara.

C. ETIOLOGI

Menurut Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal 2000 bahwa etiologi

febris,diantaranya

1. Suhu lingkungan.
2. Adanya infeksi.
3. Pneumonia.
4. Malaria.
5. Otitis media.
6. Imunisasi
D. MANIFESTASI KLINIS
Tanda dan gejala terjadinya febris adalah:
1. Anak rewel (suhu lebih tinggi dari 37,8⁰C - 40⁰C)
2. Kulit kemerahan
3. Hangat pada sentuhan
4. Peningkatan frekuensi pernapasan
5. Menggigil
6. Dehidrasi
7. Kehilangan nafsu makan
Banyak gejala yang menyertai demam termasuk gejala nyeri punggung,

anoreksia dan somlolen. Batasan mayornya yaitu suhu tubuh lebih tinggi dari

37,5⁰C - 40⁰C, kulit hangat, takichardi, sedangkan batasan karakteristik minor

yang muncul yaitu kulit kemerahan, peningkatan kedalaman pernapasan,

menggigil/merinding perasaan hangat dan dingin, nyeri dan sakit yang spesifik

atau umum (misal: sakit kepala verigo), keletihan, kelemahan, dan berkeringat

(Isselbacher. 1999, Carpenito. 2000).


E. PATOFISIOLOGI
Demam adalah sebagai mekanisme pertahanan tubuh (respon imun) anak

terhadap infeksi atau zat asing yang masuk ke dalam tubuhnya. Bila ada infeksi atau

zat asing masuk ke tubuh akan merangsang sistem pertahanan tubuh dengan

dilepaskannya pirogen. Pirogen adalah zat penyebab demam, ada yang berasal dari

dalam tubuh (pirogen endogen) dan luar tubuh (pirogen eksogen) yang bisa berasal

dari infeksi oleh mikroorganisme atau merupakan reaksi imunologik terhadap benda

asing (non infeksi). Zat pirogen ini dapat berupa protein, pecahan protein, dan zat

lain, terutama toksin polisakarida, yang dilepas oleh bakteri toksik yang dihasilkan

dari degenerasi jaringan tubuh menyebabkan demam selama keadaan sakit.


Mekanisme demam dimulai dengan timbulnya reaksi tubuh terhadap pirogen.

Pada mekanisme ini, bakteri atau pecahan jaringan akan difagositosis oleh leukosit
darah, makrofag jaringan, dan limfosit pembunuh bergranula besar. Seluruh sel ini

selanjutnya mencerna hasil pemecahan bakteri ke dalam cairan tubuh, yang disebut

juga zat pirogen leukosit.


Pirogen selanjutnya membawa pesan melalui alat penerima (reseptor) yang

terdapat pada tubuh untuk disampaikan ke pusat pengatur panas di hipotalamus.

Dalam hipotalamus pirogen ini akan dirangsang pelepasan asam arakidonat serta

mengakibatkan peningkatan produksi prostaglandin (PGEZ). Ini akan menimbulkan

reaksi menaikkan suhu tubuh dengan cara menyempitkan pembuluh darah tepi dan

menghambat sekresi kelenjar keringat. Pengeluaran panas menurun, terjadilah

ketidakseimbangan pembentukan dan pengeluaran panas. Inilah yang menimbulkan

demam pada anak. Suhu yang tinggi ini akan merangsang aktivitas “tentara” tubuh

(sel makrofag dan sel limfosit T) untuk memerangi zat asing tersebut dengan

meningkatkan proteolisis yang menghasilkan asam amino yang berperan dalam

pembentukan antibodi atau sistem kekebalan tubuh

G. KLASIFIKASI

Tipe demam yang mungkin kita jumpai antara lain:

1. Demam septik

Suhu badan berangsur naik ketingkat yang tinggi sekali pada malam hari

dan turun kembali ketingkat diatas normal pada pagi hari. Sering disertai

keluhan menggigil dan berkeringat. Bila demam yang tinggi tersebut turun

ketingkat yang normal dinamakan juga demam hektik.

2. Demam remiten
Suhu badan dapat turun setiap hari tetapi tidak pernah mencapai suhu

badan normal. Penyebab suhu yang mungkin tercatat dapat mencapai dua

derajat dan tidak sebesar perbedaan suhu yang dicatat demam septik.

3. Demam intermiten

Suhu badan turun ketingkat yang normal selama beberapa jam dalam satu

hari. Bila demam seperti ini terjadi dalam dua hari sekali disebut tersiana dan

bila terjadi dua hari terbebas demam diantara dua serangan demam disebut

kuartana.

4. Demam kontinyu

Variasi suhu sepanjang hari tidak berbeda lebih dari satu derajat. Pada

tingkat demam yang terus menerus tinggi sekali disebut hiperpireksia.

5. Demam siklik

Terjadi kenaikan suhu badan selama beberapa hari yang diikuti oleh

beberapa periode bebas demam untuk beberapa hari yang kemudian diikuti oleh

kenaikan suhu seperti semula. Suatu tipe demam kadang-kadang dikaitkan

dengan suatu penyakit tertentu misalnya tipe demam intermiten untuk malaria.

Seorang pasien dengan keluhan demam mungkin dapat dihubungkan segera

dengan suatu sebab yang jelas seperti : abses, pneumonia, infeksi saluran

kencing, malaria, tetapi kadang sama sekali tidak dapat dihubungkan segera

dengan suatu sebab yang jelas. Dalam praktek 90% dari para pasien dengan

demam yang baru saja dialami, pada dasarnya merupakan suatu penyakit yang
self-limiting seperti influensa atau penyakit virus sejenis lainnya. Namun hal ini

tidak berarti kita tidak harus tetap waspada terhadap infeksi bakterial.

F. PENATALAKSANAAN
1. Secara Fisik

Mengawasi kondisi klien dengan : Pengukuran suhu secara berkala setiap

4-6 jam. Perhatikan apakah anak tidur gelisah, sering terkejut, atau mengigau.

Perhatikan pula apakah mata anak cenderung melirik ke atas atau apakah anak

mengalami kejang-kejang. Demam yang disertai kejang yang terlalu lama akan

berbahaya bagi perkembangan otak, karena oksigen tidak mampu mencapai otak.

Terputusnya suplai oksigen ke otak akan berakibat rusaknya sel-sel otak. Dalam

keadaan demikian, cacat seumur hidup dapat terjadi berupa rusaknya fungsi

intelektual tertentu.

a. Bukalah pakaian dan selimut yang berlebihan


b. Memperhatikan aliran udara di dalam ruangan
c. Jalan nafas harus terbuka untuk mencegah terputusnya suplai oksigen ke

otak yang akan berakibat rusaknya sel-sel otak.


d. Berikan cairan melalui mulut, minum sebanyak-banyaknyaMinuman yang

diberikan dapat berupa air putih, susu (anak diare menyesuaikan), air buah

atau air teh. Tujuannnya adalah agar cairan tubuh yang menguap akibat

naiknya suhu tubuh memperoleh gantinya.


e. Tidur yang cukup agar metabolisme berkurang
f. Kompres dengan air biasa pada dahi, ketiak,lipat paha. Tujuannya untuk

menurunkan suhu tubuh dipermukaan tubuh anak. Turunnya suhu tubuh

dipermukaan tubuh ini dapat terjadi karena panas tubuh digunakan untuk

menguapkan air pada kain kompres. Jangan menggunakan air es karena


justru akan membuat pembuluh darah menyempit dan panas tidak dapat

keluar. Menggunakan alkohol dapat menyebabkan iritasi dan intoksikasi

(keracunan).
g. Saat ini yang lazim digunakan adalah dengan kompres hangat suam-suam

kuku. Kompres air hangat atau suam-suam kuku maka suhu di luar terasa

hangat dan tubuh akan menginterpretasikan bahwa suhu diluar cukup panas.

Dengan demikian tubuh akan menurunkan kontrol pengatur suhu di otak

supaya tidak meningkatkan pengatur suhu tubuh lagi. Di samping itu

lingkungan luar yang hangat akan membuat pembuluh darah tepi di kulit

melebar atau mengalami vasodilatasi, juga akan membuat pori-pori kulit

terbuka sehingga akan mempermudah pengeluaran panas dari tubuh.


2. Obat-obatan Antipiretik

Antipiretik bekerja secara sentral menurunkan suhu di pusat pengatur suhu

di hipotalamus. Antipiretik berguna untuk mencegah pembentukan prostaglandin

dengan jalan menghambat enzim cyclooxygenase sehinga set point hipotalamus

direndahkan kembali menjadi normal yang mana diperintah memproduksi panas

diatas normal dan mengurangi pengeluaran panas tidak ada lagi. Petunjuk

pemberian antipiretik:

a. Bayi 6 – 12 bulan : ½-1 sendok the sirup parasetamol


b. Anak 1 – 6 tahun : ¼-½ parasetamol 500 mg atau 1-1½ sendokteh sirup

parasetamol
c. Anak 6 – 12 tahun : ½-1 tablet parasetamol 500 mg atau 2 sendok teh sirup

parasetamol.
Tablet parasetamol dapat diberikan dengan digerus lalu dilarutkan dengan

air atau teh manis. Obat penurun panas in diberikan 3 kali sehari.Gunakan

sendok takaran obat dengan ukuran 5 ml setiap sendoknya.


Pemberian obat antipiretik merupakan pilihan pertama dalam menurunkan

demam dan sangat berguna khususnya pada pasien berisiko, yaitu anak dengan

kelainan kardiopulmonal kronis kelainan metabolik, penyakit neurologis dan

pada anak yang berisiko kejang demam.Obat-obat anti inflamasi, analgetik dan

antipiretik terdiri dari golongan yang bermacam-macam dan sering berbeda

dalam susunan kimianya tetapi mempunyai kesamaan dalam efek

pengobatannya. Tujuannya menurunkan set point hipotalamus melalui

pencegahan pembentukan prostaglandin dengan jalan menghambat enzim

cyclooxygenase. Asetaminofen merupakan derivat para -aminofenol yang bekerja

menekan pembentukan prostaglandin yang disintesis dalam susunan saraf pusat.

Dosis terapeutik antara 10-15 mgr/kgBB/kali tiap 4 jam maksimal 5 kali sehari.

Dosis maksimal 90 mgr/kbBB/hari Pada umumnya dosis ini dapat d itoleransi

dengan baik.Dosis besar jangka lama dapat menyebabkan intoksikasi dan

kerusakkan hepar.Pemberiannya dapat secara per oral maupun rektal.Turunan

asam propionat seperti ibuprofen juga bekerja meneka n pembentukan

prostaglandin.Obat ini bersifat antipiretik, analgetik dan antiinflamasi. Efek

samping yang timbul berupa mual, perut kembung dan perdarahan, tetapi lebih

jarang dibandingkan aspirin. Efek samping hematologis yang berat meliputi

agranulositosis dan anemia aplastik.Efek terhadap ginjal berupa gagal ginjal akut
(terutama bila dikombinasikan dengan asetaminopen).Dosis terapeutik yaitu 5-10

mgr/kgBB/kali tiap 6 sampai 8 jam.Metamizole (antalgin) bekerja menekan

pembentukkan prostaglandin.Mempunyai efek antipiretik, analgetik da n

antiinflamasi. Efek samping pemberiannya berupa agranulositosis, anemia aplast

ik dan perdara han saluran cerna. Dosis terap eutik 10 mgr/kgBB/kali tiap 6 -8

jam dan tidak dianjurkan unt uk anak kurang dari 6 bulan.Pemberiannya secara

per oral, intramuskular atau intravena. Asam mefenamat suatu obat gol ongan

fenamat.Khasiat analgetiknya lebih kuat dibandingkan sebagai antipiretik.Efek

sampingnya berupa dispepsia dan anemia hemolitik.Dosis pemberiannya 20

mgr/kgBB/hari dibagi 3 dosis. Pemberiannya secara per oral dan tidak boleh

diberikan anak usia kurang dari 6 bulan.

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Sebelum meningkat ke pemeriksaan-pemeriksaan yang mutakhir, yang siap

tersedia untuk digunakan seperti ultrasonografi, endoskopi atau scanning, masih dapat

diperiksa bebrapa uji coba darah, pembiakan kuman dari cairan tubuh/lesi permukaan

atau sinar tembus rutin.


Dalam tahap berikutnya dapat dipikirkan untuk membuat diagnosis dengan

lebih pasti melalui biopsy pada tempat- tempat yang dicurigai. Juga dapat dilakukan

pemeriksaan seperti angiografi, aortografi, atau limfangiografi

H. KOMMPLIKASI

Menurut Corwin (2000), komplikasi febris diantaranya :

1. Takikardi
2. Insufisensi Jantung
3. Insufisensi Pulmonal
4. Kejang Demam
I. DIAGNOSIS BANDING
1. Meningitis
2. Ensepholitis
3. Subdural empyemo
J. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
1. Identitas : umur untuk menentukan jumlah cairan yang diperlukan
2. Riwayat kesehatan
a. Keluhan utama (keluhan yang dirasakan pasien saat pengkajian) : panas.
b. Riwayat kesehatan sekarang (riwayat penyakit yang diderita pasien saat

masuk rumah sakit): sejak kapan timbul demam, sifat demam, gejala lain

yang menyertai demam (misalnya: mual, muntah, nafsu makn, eliminasi,

nyeri otot dan sendi dll), apakah menggigil, gelisah.


c. Riwayat kesehatan yang lalu (riwayat penyakit yang sama atau penyakit

lain yang pernah diderita oleh pasien).


d. Riwayat kesehatan keluarga (riwayat penyakit yang sama atau penyakit

lain yang pernah diderita oleh anggota keluarga yang lain baik bersifat

genetik atau tidak).


K. DATA FOKUS PENGKAJIAN
1. Bernafas dengan normal
Fungsi mental : mungkin menurun, letargi, kegelisahan
Warna kulit : pucat atau sianosis.
2. Nutrisi
Kehilangan nafsu makan, mual muntah.
3. Eliminasi
Peningkatan jumlah urine
4. Berpakaian: ketidakmampuan dalam berpakaian Kelemahan atau keletihan dalam
berpakain
5. Personal Hygiene
Keletihan atau kelemahan, kelemahan saat aktivitas perawatan diri, penampilan
menandakan kelalaian perawatan personal.
6. Gerak dan keseimbangan
Keletihan, kelemahan terus-menerus sepanjang hari, nyeri dada sesuai dengan
aktivitas.
7. Istirahat dan Tidur
Insomnia, gelisah jika suhu tubuh naik pada saat istirahat/tidur
8. Terjadi peningkatan suhu tubuh dan sirkulasi.
9. Perasaan tidak nyaman , tidak tenang, gelisah
L. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan umum
Kesadaran (baik, gelisah, apatis / koma), badan lemahm frekuensi pernafasan

tinggi, suhu badan meningkat dan nadi meningkat


2. Kepala dan leher
Bentuk, kebersihan, ada bekas trauma atau tidak
3. Kulit, rambut, kuku
Turgor kulit (baik-buruk), tidak ada gangguan / kelainan.
4. Mata
Umumnya mulai terlihat cowong atau tidak.
5. Telingga, hidung, tenggorokan dan mulut
Bentuk, kebersihan, fungsi indranya adanya gangguan atau tidak.
6. Thorak dan abdomen
Tidak didapatkan adanya sesak, abdomen biasanya nyeri dan ada peningkatan

bising usus.
7. Sistem respirasi
Umumnya fungsi pernafasan lebih cepat dan dalam.
8. Sistem kardiovaskuler
Pada kasus ini biasanya denyut pada nadinya meningkat

9. Sistem muskuloskeletal
Terjadi gangguan apa tidak.
10. Sistem pernafasan
Pada kasus ini tidak terdapat nafas yang tertinggal / gerakan nafas dan biasanya

kesadarannya gelisah, apatis atau koma


M. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Hipertermia berhubungan dengan proses infeksi, proses penyakit.
2. Resiko injuri berhubungan dengan infeksi mikroorganisme.
3. Resiko kurang cairan berhubungan dengan intake yang kurang dan diaforesis.
4. Ansietas berhubungan dengan hipertermi, efek proses penyakit
N. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN

Diagnosa Keperawatan Tujuan dan Kriteria Hasil Interven


(NOC) (NIC)
Hipertermia berhubungan dengan Setelah dilakukan tindakan Fever treatment
proses infeksi, proses penyakit. keperawatan selama…x24jam  Monitir suhu sesering mu
 Monitor IWL
Batasan karakeristik : klien menunjukkan temperatur
 Monitor warna dan suhu
 Kenaikan suhu tubuh diatas dalam batas normal dengan  Monitor tekanan darah, n
 Monitor penurunan tingk
rentang normal kriteria hasil:
 Monitor WBC, HB dan H
 Serangan atau konvulsi (kejang)
 Suhu Tubuh dalam batas  Monitor intake dan outpu
 Kulit kemerahan
 Kolaborasikan pemberian
 Pertambahan RR normal
 Berikan pengobatan untu
 Takikardi  Bebas dari kedinginan
 Saat disentuh tangan terasa hangat  Suhu tubuh stabil 36,50- demam
 Selimuti pasien
37,50c
 Berikan cairan intravena
 Termoregulasi dbn
 Kompres pasien pada lipa
 Nadi dbn
 Tingkatkan sirkulasi udar
<1 bln : 90-170  Berikan pengobatan untu
<1 thn : 80-160 menggigil
2 thn : 80-120 Temperature regulation
6 thn : 75-115  Monitor suhu minimal tia
 Rencanakan monitoring s
10 thn : 70-110
 Monitor TD, nadi dan RR
14 thn : 65-100  Monitor warna dan suhu
 Monitor tanda-tanda hipe
>14thn : 60-100
 Tingkatkan intake cairan
 Respirasi dbn  Selimuti pasien untuk me
BBL : 30-50 x/m kehangatan tubuh
 Diskusikan tentang pentin
Anak-anak : 15-30 x/m
dan kemungkinan efek negat
Dewasa : 12-20 x/m
 Berikan antipiretik bila p

Vital Sign Monitoring


 Monitor TD, nadi, suhu d
 Catat adanya fluktuasi tek
 Monitor VS pada saat pas
atau berdiri
 Monitor TD , nadi, RR, se
sesudah aktivitas
 Monitor kualitas dari nad
 Monitor frekuensi dan ira
 Monitor suara paru
 Monitor pola pernafasan a
 Monitor warna, suhu dan
 Monitor sianosis perifer
 Monitor adanya cushing t
melebar, bradikardi, peningk
 Identifikasi penyebab dar
Resiko injuri berhubungan dengan Setelah dilakukan tindakan  Sediakan lingkungan yang
 Identifikasi kebutuhan kea
infeksi mikroorganisme. keperawatan selama …x24jam
dengan kondisi fisik dan fung
anak bebas dari cidera dengan
riwayat penyakit terdahulu pa
kriteria hasil:
 Menghindari lingkungan y
 Menunjukan homeostatis
misalnya memindahkan perab
 Tidak ada perdarahan
 Memasang side rail tempa
mukosa dan bebas dari  Menyediakan tempat tidur
komplikasi lain bersih
 Membatasi pengunjung
 Memberikan penerangan y
 Menganjurkan keluarga un
 Mengontrol lingkungan da
 Memindahkan barang-bar
membahayakan
 Berikan penjelasan pada p
atau pengunjung adanya perub
dan penyebab penyakit.
Resiko kurang cairan berhubungan Setelah dilakukan tindakanFluid management:
dengan intake yang kurang dan keperawatan selama …x24jam  Pertahankan catatan i
diaphoresis, faktor yang volume cairan adekuat dengan akurat
 Monitor status d
mempengaruhi kebutuhan cairan kriteria hasil:
membrane mukosa, nadi a
(hipermetabolik).  Mempertahankan urine
ortostatik)
output sesuai dengan usia
 Monitor vital sign
dan BB, BJ urine normal,  Monitor asupan maka
HT normal intake kalori harian
 Tekanan darah, nadi, suhu  Lakukan terapi IV
 Monitor status nutrisi
tubuh dalam batas normal
 Berikan cairan
 Tidak ada tanda- tanda
 Berikan cairan IV pada
dehidrasi, elastisitas turgor  Dorong masukan oral
 Berikan penggantian na
kulit baik, membrane
 Dorong keluarga un
mukosa lembab, tidak ada
makan
rasa haus yang berlebihan.  Anjurkan minum ku
belimbing perhari
 Kolaborasi dokter jika
muncul memburuk
 Atur kemungkinan tran
Ansietas berhubungan dengan Setelah dilakukan tindakan  Kaji dan identifikasi se
hipertermi, efek proses penyakit keperawatan selama 2x24jam yang dimiliki klien/keluarg
 Berikan informasi pada
ansietas klien/keluarga hilang
akurat tentang penyebab hi
dengan kriteria hasil:
 Validasi perasaan klien
 Klien/keluarga dapat
klien/keluarga bahwa kece
mengidentifikasi hal-hal yang
respon yang normal
dapat meningkatkan dan  Diskusikan dengan klie
menurunkan suhu tubuh tindakan yang dilakukan b
 Klien/keluarga mau
hipertermi dan keadaan pe
berpartisipasi dalam setiap
tidakan yang dilakukan
 Klien/keluarga
mengungkapkan penurunan
cemas yang berhubungan
dengan hipertermi, proses
penyakit
DAFTAR PUSTAKA

Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Edisi Revisi 3. Jakarta:

Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Doenges, M.E, Marry F. MandAlice, C.G. 2010. Rencana Asuhan Keperawatan:

Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien.

Jakarta: EGC.

Guyton, Arthur C. (2008). Fisiologi manusia dan mekanisme penyakit. Ed. 3.

Jakarta, EGC.

Guyton, Arthur C. (2010). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Ed. 9. Jakarta, EGC.

NANDA NIC-NOC. 2012. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan NANDA.

Yogyakarta: Media Hardy

Wong, Dona L, dkk,. 2003. Maternal child nursing care 2nd edition. Santa Luis:

Mosby Inc.
LAPORAN PENDAHULUAN

FEBRIS

Disusun oleh:

Seto Adi Nugroho

4006180034

PROGRAM PROFESI NERS

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

DHARMA HUSADA BANDUNG

2018

Anda mungkin juga menyukai