Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN

PADA PASIEN DENGAN SOFT TISSUE TUMOR

DI OK GBPT RSUD DR. SOETOMO SURABAYA

DISUSUN OLEH :

AMITA PRATAMA PUTRI (P27820715010)

PROGRAM STUDI DIV KEPERAWATAN GAWAT DARURAT


JURUSAN KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN SURABAYA
2018/2019
LAPORAN PENDAHULUAN

A. Definisi
Soft Tissue Tumor atau Soft Tissue Sarkoma adalah suatu kelompok umur tertentu
yang biasanya berasal dari jaringan ikat, dan ditandai sebagai massa di anggota gerak badan
atau retroperitoneum (Toy et al, 2011)
Soft Tissue Tumor (STT) adalah pertumbuhan sel baru, abnormal, progresif, dimana
sel selnya tidak tumbuh seperti kanker. Soft Tissue Tumor adalah suatu benjolan atau
pembengkakan abnormal yang disebabkan oleh neoplasma dan nonneoplasma (Brunerr and
Suddart, 2011).
Soft tissue tumor adalah pertumbuhan sel baru, abnormal, progesif, sel-selnya tidak
tumbuh seperti kanker (Price, Sylvia Anderson, 2015).

B. Klasifikasi
Tumor jinak bisa berubah menjadi tumor ganas/kanker, penyebaran atau metastasis
kanker ini paling sering melalui pembuluh darah ke paru-paru ke liver, dan tulang. Jarang
menyebar melalui kelenjar getah bening (Muttaqin, 2008).
C. Etiologi
1. Kondisi genetik
Ada bukti tertentu pembentukan gen dan mutasi gen adalah faktor predisposisi untuk
beberapa tumor jaringan lunak, dalam daftar laporan gen yang abnormal, bahwa gen
memiliki peran penting dalam diagnosis.
2. Radiasi
Mekanisme yang patogenic adalah munculnya mutasi gen radiasi-induksi yang
mendorong transformasi neoplastic.
3. Lingkungan carcinogens
Sebuah asosiasi antara eksposur ke berbagai carcinogens dan setelah itu dilaporkan
meningkatnya insiden tumor jaringan lunak.
4. Infeksi Infeksi virus
Epstein-Barr dalam orang yang kekebalannya lemah juga akan meningkatkan
kemungkinan tumor pembangunan jaringan lunak.
5. Trauma
Hubungan antara trauma danSoft Tissue Tumorsnampaknya kebetulan. Trauma
mungkin menarik perhatian medis ke pra-luka yang ada (Muttaqin, 2008).

D. Manifestasi Klinis
1. Gejala dan tanda kanker jaringan lunak tidak spesifik, tergantung pada lokasi di mana
tumor berada, umumnya gejalanya berupa adanya suatu benjolan dibawah kulit yang
tidak terasa sakit. Hanya sedikit penderita yang mengeluh sakit, yang biasanya terjadi
akibat pendarahan atau nekrosis dalam tumor, dan bisa juga karena adanya penekanan
pada saraf-saraf tepi (Muttaqin, 2008).
2. Tumor jinak jaringan lunak biasanya tumbuh lambat, tidak cepat membesar, bila diraba
terasa lunak dan bila tumor digerakan relatif masih mudah digerakan dari jaringan di
sekitarnya dan tidak pernah menyebar ke tempat jauh (Muttaqin, 2008).
3. Umumnya pertumbuhan kanker jaringan lunak relatif cepat membesar, berkembang
menjadi benjolan yang keras, dan bila digerakkan agak sukar dan dapat menyebar ke
tempat jauh ke paru-paru, liver maupun tulang. Kalau ukuran kanker sudah begitu besar,
dapat menyebabkan borok dan perdarahan pada kulit diatasnya (Muttaqin, 2008).
E. Patofisiologi
Pada umumnya tumor-tumor jaringan lunak atau Soft Tissue Tumors (STT) adalah
proliferasi jaringan mesenkimal yang terjadi di jaringan nonepitelial ekstraskeletal tubuh.
Dapat timbul di tempat di mana saja, meskipun kira-kira 40% terjadi di ekstermitas bawah,
terutama daerah paha, 20% di ekstermitas atas, 10% di kepala dan leher, dan 30% di badan.
Tumor jaringan lunak tumbuh centripetally, meskipun beberapa tumor jinak, seperti
serabut luka. Setelah tumor mencapai batas anatomis dari tempatnya, maka tumor membesar
melewati batas sampai ke struktur neurovascular. Tumor jaringan lunak timbul di lokasi
seperti lekukan-lekukan tubuh (Muttaqin, 2008).
Proses alami dari kebanyakan tumor ganas dapat dibagi atas 4 fase yaitu :
1) Perubahan ganas pada sel-sel target, disebut sebagai transformasi.
2) Pertumbuhan dari sel-sel transformasi.
3) Invasi lokal.
4) Metastasis jauh (Muttaqin, 2008).
F. Pathway

Kondisi genetik, radiasi, infeksi, trauma

Terbentuknya benjolan (tumor) dibawah kulit

Soft Tissue Tumor (STT)

Pre Post Operasi


Operasi

Adanya Terputusnya Adanya luka post op


inflamasi kontinuitas
jaringan

Perubahan
fisik Menstimulasi
respon Peradanga Tempat masuk
nyeri n pada mikroorganisme
kulit
Anatomi
kulit Resti infeksi
abnormal Nyeri

Bercak –
bercak merah
Kerusakan
Kurang integritas
pengetahua kulit
n
Cemas
G. Komplikasi
1. Komplikasi awal
a. Shock Hipovolemik/traumatic
Fraktur (ekstrimitas, vertebra, pelvis, femur) → perdarahan & kehilangan cairan
ekstrasel ke jaringan yang rusak → shock hipovolemi, Lepuh dan luka akibat gips
b. Emboli lemak, Cedera saraf, Cedera visceral
c. Tromboemboli vena
Berhubungan dengan penurunan aktivitas/kontraksi otot/bedrest, Otot dan tendon
robek
d. Infeksi
Fraktur terbuka: tulang kontaminasi infeksi sehingga perlu monitor tanda infeksi dan
terapi antibiotik.
Sendi : Hemartrosis dan infeksi, Cedera ligament, Algodistrofi
e. Cedera vaskular (termasuk sindroma kompartemen)
2. Komplikasi lambat
a. Tulang
 Nekrosis avaskular : Karena suplai darah menurun sehingga menurunkan fungsi
tulang
 Delayed union : Proses penyembuhan fraktur sangat lambat dari yang diharapkan
biasanya lebih dari 4 bulan. Proses ini berhubungan dengan proses infeksi.
Distraksi/tarikan bagian fragmen tulang.
 Non union : Proses penyembuhan gagal meskipun sudah diberi pengobatan. Hal
ini disebabkan oleh fibrous union atau pseudoarthrosis.
 Mal-union : Proses penyembuhan terjadi tetapi tidak memuaskan (ada perubahan
bentuk)
b. Jaringan lunak
 Ulkus dekubitus
 Miositis osifikans
 Tendinitis dan rupture tendon
 Tekanan dan terjepitnya saraf
 Kontraktur volkmann
c. Sendi
 Ketidakstabilan
 Kekakuan
 Algodistrofi
Pasien dengan fraktur intertrochanter femur mempunyai resiko menderita penyakit
tromboemboli dan mempunyai resiko kematian, sama halnya pada fraktur colum femur.
Selain itu resiko osteonekrosis dan non-union minimal, karena suplai darah yang baik
pada regiofemur.

H. Penatalaksanaan
1. Bedah (Eksisi)
Bedah eksisi adalah salah satu cara tindakan bedah yaitu membuang atau
menghancurkan jaringan (tumor) dengan cara memotong. Tindakan ini di lakukan
untuk berbagai tujuan antara lain untuk pemeriksaan penunjang (biopsy), pengobatan
lesi jinak ataupun ganas dan memperbaiki penampilan.
2. Kemoterapi
Metode ini melakukan keperawatan penyakit dengan menggunakan zat kimia untuk
membunuh sel sel tumor tersebut. Keperawatan ini berfungsi untuk menghambat
pertumbuhan kerja sel tumor. Pada saat sekarang, sebagian besar penyakit yang
berhubungan dengan tumor dan kanker dirawat menggunakan cara kemoterapi ini.
3. Radioterapi
Terapi radiasi atau radioterapi adalah terapi yang menggunakan radiasi yang
bersumber dari radioaktif. Kadang radiasi yang diterima merupankan terapi tyunggal.
Tapi, terkadang dikombinasikan dengan kemoterapi dan juga operasi pembedahan.
4. Penatalaksanaan Keperawaatan:
a. Perhatikan kebersihan luka pada pasien
b. Perawatan luka pada pasien
c. Pemberian obat
 Amati ada atau tidaknya komplikasi atau potensial yang akan terjadi setelah
dilakukan operasi

I. Pemeriksaan Penunjang
A. Pemeriksaan imaging
Sebagai tambahan dari pemerikasaan klinis penderita perlu dikerjakan, selain untuk
menegagkan diagnosis juga untuk staging. Pada pemeriksaan dengan foto polos kadang-
kadang didapatkan gambaran masa dengan kalsifikasi. Foto polos pada ekstremitas dapat
digunakan untuk evaluasi adanya infiltrasi tumor pada tulang. Pemeriksaan imaging lebih
lanjut dapat dengan CT scan, MRI atau PET scan.
B. Biopsi pada tumor primer
Bagian yang penting sebelum treatment pada penderita soft tissue tumor. Soft tissue
tumor dengan ukuran yang lebih beasar dari 5 cm harus dipertimbangkan untuk dilakukan
biopsi terlebih dahulu. Dengan biopsi dapat dilakukan pemeriksaan histopatologi dan
diharapkan dapat menentukan grade dari tumor. Grade sangat penting untuk menentukan
rencana terapi.
C. Percutaneous core-needle biopsy (CNB)
Memberikan hasil yang cukup memuaskan untuk diagnosis beberapa soft tissue
tumor. CNB dapat dilakukan secara blind atau dengan image-guided. Dengan image-
guided, biopsi akan lebih terarah pada area tumor (tidak pada area sentral nekrosis).
Insisi biopsi merupakan pilihan kedua apabila dengan CNB diagnostik masih belum bisa
ditegakkan. Hal ini disebabkan oleh karena adanya morbiditas yang harus
dipertimbangkan dengan tindakan insisi biopsi termasuk resiko anestesi, perdarahan dan
penyembuhan luka. Selain itu insisi biopsi juga memerlukan biaya yang lebih besar.
Eksisi biopsi merupakan pilihan pada neoplama yang kecil dan letaknya superficial.
D. Fine needle aspiration biopsy (FNAB)
alat bantu untuk menegakkan diagnosis soft tissue neoplasma masih diperdebatkan. Hasil
dari FNA pada lesi mesenchymal sangat bervariasi dan tergantung beberapa faktor,
diantaranya skill dari aspirator dan keahlian interpretasi dari cytopathologist (Muttaqin,
2008).
ASUHAN KEPERAWATAN TEORI

A. PENGKAJIAN
1. Pemeriksaan fisik yang dilakukan pada klien dengan soft tissue tumor yaitu adanya
keluhan nyeri yang menunjukkan tanda ekspansi tumor yang cepat dan penekanan ke
jaringan sekiranya.
2. Pemeriksaan lokasi tomor, besar, bentuk, batas dan sifat tumor
3. Adanya gangguan pergerakan sendi akibat adanya tumor, spasme otot dan kekakuan
tulang belakang jika tumor terdapat pada tulang belakang.
4. Pemeriksaan neurologis menentukan adanya penekan pada tumor pada saraf-saraf
tertentu (Muttaqin, 2008).

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Pre Operasi
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologi (tomor/benjolan)
2. Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan penyakit
Post Op
1. Nyeri berhubungan dengan agen cidera fisik (insisi)
2. Kerusakan Integritas kulit berhubungan dengan faktor mekanik
3. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan luka post operasi
4. Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan penyakit
C. INTERVENSI KEPERAWATAN

No. Diagnosa Tujuan dan Kriteria Intervensi


keperawatan hasil (NIC)
(NOC)
1 Pre Op NOC : NIC :
Nyeri berhubungan dengan - Pain Level, 1. Lakukan pengkajian
agen agen injuri (biologi, - Pain control, nyeri secara
kimia, fisik, psikologis), Setelah dilakukan tinfakan komprehensif termasuk
kerusakan jaringan keperawatan selama …x lokasi, karakteristik,
24 jam Pasien tidak durasi, frekuensi,
DS: Laporan secara verbal
mengalami nyeri, dengan kualitas dan faktor
DO: kriteria hasil: presipitasi
- Mampu mengontrol 2. Bantu pasien dan
a. Posisi untuk menahan
nyeri (tahu penyebab keluarga untuk mencari
nyeri
nyeri, mampu dan menemukan
b. Tingkah laku berhati-
menggunakan tehnik dukungan
hati
nonfarmakologi untuk 3. Kontrol lingkungan
c. Gangguan tidur (mata
mengurangi nyeri, yang dapat
sayu, tampak capek,
mencari bantuan) mempengaruhi nyeri
sulit atau gerakan
- Melaporkan bahwa nyeri seperti suhu ruangan,
kacau, menyeringai)
berkurang dengan pencahayaan dan
d. Terfokus pada diri
menggunakan kebisingan
sendiri
manajemen nyeri 4. Berikan analgetik
e. Fokus menyempit
- Menyatakan rasa untuk mengurangi
(penurunan persepsi
nyaman setelah nyeri nyeri :
waktu,
berkurang 5. Tingkatkan istirahat
f. Tingkah laku distraksi,
6. Berikan informasi
contoh: jalan-jalan,
tentang nyeri seperti
menemui orang lain
penyebab nyeri, berapa
dan/atau aktivitas,
lama nyeri akan
aktivitas berulang-
berkurang dan
ulang)
antisipasi
g. Respon autonom
ketidaknyamanan dari
(seperti diaphoresis,
prosedur
perubahan tekanan
darah, perubahan nafas,
nadi dan dilatasi pupil)
h. Tingkah laku ekspresif
(contoh: gelisah,
merintih, menangis,
waspada, iritabel, nafas
panjang / berkeluh
kesah)

2. Kecemasan berhubungan Tingkat kecemasan Pengurangan cemas


dengan Faktor keturunan, Setelah dilakukan tindakan 1. Gunakan pendekatan
Krisis situasional, Stress, keperawatan selama …×24 menenagkan
perub ahan status kesehatan, jam klien dapat mengontol 2. Pahami perspektif
ancaman kematian, cemasnya dengan pasien terhadap situasi
perubahan konsep diri, indikator : stres
kurang pengetahuan dan 1. monitor intensitas 3. temani pasien untuk
hospitalisasi. kecemasan mengurangi takut
DO/DS: (mempertunjukkan 4. berikan informasi
1. Insomnia keadaan tetap dengan mengenai diagnosis
2. Kontak mata kurang nilai 5) tindakan dan prognosis
3. Kurang istirahat 2. menyingkirkan tanda 5. dorong keluarga untuk
4. Berfokus pada diri kecemasan menemani pasien
sendiri (mempertunjukkan 6. identifikasi tingkat
5. Iritabilitas keadaan tetap dengan kecemasan
6. Takut nilai 5) 7. Bantu pasien mengenai
7. Nyeri perut 3. menurunkan stimulus situasi menimbulkan
8. Penurunan TD dan lingkungan ketika kecemasa
denyut nadi cemas 8. dorong pasien untuk
9. Diare, mual, kelelahan (mempertunjukkan mengungkapkan
10. Gangguan tidur keadaan tetap dengan perasaan, ketakutan,
11. Gemetar nilai 5) persepsi
12. Anoreksia, mulut kering 4. merencanakan 9. instruksikan pasien
13. Peningkatan TD, denyut strategi koping untuk menggunakan teknik
nadi, RR situasi penuh stres relaksasi
14. Kesulitan bernafas (mempertunjukkan 10. berikan obat untuk
15. Bingung keadaan tetap dengan mengurangi kecemasan
16. Bloking dalam nilai 5)
pembicaraan
17. Sulit berkonsentrasi
3. Kurang Pengetahuan NOC: NIC :
Berhubungan dengan : - Kowlwdge : disease 1. Kaji tingkat
keterbatasan kognitif, process pengetahuan pasien dan
interpretasi terhadap - Kowledge : health keluarga
2. Jelaskan patofisiologi
informasi yang salah, Behavior
dari penyakit dan
kurangnya keinginan untuk Setelah dilakukan tindakan bagaimana hal ini
mencari informasi, tidak keperawatan selama …. berhubungan dengan
mengetahui sumber-sumber pasien menunjukkan anatomi dan fisiologi,
informasi. pengetahuan tentang dengan cara yang tepat.
DS: proses penyakit dengan 3. Gambarkan tanda dan
Menyatakan secara verbal kriteria hasil: gejala yang biasa
muncul pada penyakit,
adanya masalah - Pasien dan keluarga
dengan cara yang tepat
DO: menyatakan pemahaman 4. Gambarkan proses
Ketidakakuratan tentang penyakit, penyakit, dengan cara
mengikuti instruksi, kondisi, prognosis dan yang tepat
perilaku tidak sesuai program pengobatan 5. Identifikasi
- Pasien dan keluarga kemungkinan
mampu melaksanakan penyebab, dengan cara
yang tepat
prosedur yang dijelaskan 6. Sediakan informasi
secara benar pada pasien tentang
- Pasien dan keluarga kondisi, dengan cara
mampu menjelaskan yang tepat
kembali apa yang 7. Sediakan bagi keluarga
dijelaskan perawat / tim informasi tentang
kemajuan pasien
kesehatan lainnya. dengan cara yang tepat
8. Dukung pasien untuk
mengeksplorasi atau
mendapatkan second
opinion dengan cara
yang tepat atau
diindikasikan
9. Eksplorasi
kemungkinan sumber
atau dukungan, dengan
cara yang tepat
No. Diagnosa Tujuan dan Kriteria Intervensi
keperawatan hasil (NIC)
(NOC)
1 Post Op NOC : NIC :
Nyeri berhubungan dengan - Pain Level, 1. Lakukan pengkajian
agen agen agen injuri - Pain control, nyeri secara
(biologi, kimia, fisik, Setelah dilakukan tinfakan komprehensif
psikologis), kerusakan keperawatan selama 3x 24 termasuk lokasi,
jaringan jam Pasien tidak karakteristik, durasi,
mengalami nyeri, dengan frekuensi, kualitas
DS: Laporan secara verbal
kriteria hasil: dan faktor presipitasi
DO: - Mampu mengontrol 2. Bantu pasien dan
nyeri (tahu penyebab keluarga untuk
a. Posisi untuk menahan
nyeri, mampu mencari dan
nyeri
menggunakan tehnik menemukan
b. Tingkah laku berhati-
nonfarmakologi untuk dukungan
hati
mengurangi nyeri, 3. Kontrol lingkungan
c. Gangguan tidur (mata
mencari bantuan) yang dapat
sayu, tampak capek,
- Melaporkan bahwa nyeri mempengaruhi nyeri
sulit atau gerakan
berkurang dengan seperti suhu ruangan,
kacau, menyeringai)
menggunakan pencahayaan dan
d. Terfokus pada diri
manajemen nyeri kebisingan
sendiri
- Menyatakan rasa 4. Berikan analgetik
e. Fokus menyempit
nyaman setelah nyeri untuk mengurangi
(penurunan persepsi
berkurang nyeri :
waktu,
5. Tingkatkan istirahat
f. Tingkah laku distraksi,
6. Berikan informasi
contoh : jalan-jalan,
tentang nyeri seperti
menemui orang lain
penyebab nyeri,
dan / atau aktivitas,
berapa lama nyeri
aktivitas berulang-
akan berkurang dan
ulang)
antisipasi
g. Respon autonom
ketidaknyamanan dari
(seperti diaphoresis,
prosedur
perubahan tekanan
darah, perubahan nafas,
nadi dan dilatasi pupil)
h. Perubahan autonomik
dalam tonus otot
(mungkin dalam
rentang dari lemah ke
kaku)

2. Kerusakan integritas kulit a. Tissue Integrity: Skin Pressure Management


berhubungan dengan : and Mucous 1. Anjurkan pasien untuk
Eksternal : Membranes menggunakan pakaian
a. Hipertermia atau b. Wound Healing: primer yang longgar
hipotermia dan sekunder 2. Hindari kerutan pada
b. Substansi kimia tempat tidur
c. Kelembaban Setelah dilakukan tindakan 3. Jaga kebersihan kulit
d. Faktor mekanik keperawatan selama agar tetap bersihdan
(misalnya : alat yang .......x24 jam integritas kering
dapat menimbulkan luka, jaringan: kulit dan mukosa 4. Mobilisasi pasien
tekanan, restraint) normal dengan indikator: (ubah posisi pasien)
e. Immobilitas fisik 1) temperatur jaringan setiap dua jam sekal
f. Radiasi dalam rentang yang 5. Monitor kulit akan
g. Usia yang ekstrim diharapkan adanya kemerahan
h. Kelembaban kulit 2) elastisitas dalam 6. Monitor aktivitas dan
i. Obat-obatan rentang yang mobilisasi pasien
diharapkan 7. Observasi luka :
Internal : 3) hidrasi dalam lokasi, dimensi,
a. Perubahan status rentang yang kedalaman luka,
metabolik diharapkan karakteristik,warna
b. Tonjolan tulang 4) pigmentasi dalam cairan, granulasi,
c. Defisit imunologi rentang yang jaringan nekrotik,
d. Berhubungan dengan diharapkan tandatanda infeksi
dengan perkembangan 5) warna dalam rentang lokal, formasi traktus
e. Perubahan sensasi yang diharapkan 8. Ajarkan pada keluarga
f. Perubahan status nutrisi 6) tektur dalam rentang tentang luka dan
(obesitas, kekurusan) yang diharapkan perawatan luka
g. Perubahan status cairan 9. Cegah kontaminasi
h. Perubahan pigmentasi feses dan urin
i. Perubahan sirkulasi 10. Lakukan tehnik
j. Perubahan turgor perawatan luka
(elastisitas kulit) dengan steril
11. Berikan posisi yang
DO: mengurangi tekanan
1. Gangguan pada bagian pada luka
tubuh
2. Kerus akan lapisa kulit
(dermis)
3. Gangguan permukaan
kulit (epidermis)

3. Risiko infeksi a. Immune Status 1. Pertahankan teknik


Faktor-faktor risiko : b. Knowledge: Infection aseptif
a. Prosedur Infasif control 2. Batasi pengunjung bila
b. Kerusakan jaringan dan c. Risk control perlu
peningkatan paparan Setelah dilakukan tindakan 3. Cuci tangan setiap
lingkungan keperawatan selama…… sebelum dan sesudah
c. Malnutrisi pasien tidak mengalami tindakan keperawatan
d. Peningkatan paparan infeksi dengan kriteria 4. Gunakan baju, sarung
lingkungan patogen hasil: tangan sebagai alat
e. Imonusupresi 1) Klien bebas dari pelindung
f. Tidak adekuat tanda dan gejala 5. Tingkatkan intake
pertahanan sekunder infeksi nutrisi
(penurunan Hb, 2) Menunjukkan 6. Berikan terapi
Leukopenia, penekanan kemampuan untuk antibiotik
respon inflamasi) mencegah 7. Monitor tanda dan
g. Penyakit kronik timbulnya infeksi gejala infeksi sistemik
h. Malnutrisi 3) Jumlah leukosit dan lokal
i. Pertahan primer tidak dalam batas normal 8. Inspeksi kulit dan
adekuat (kerusakan kulit, 4) Menunjukkan membran mukosa
trauma jaringan, perilaku hidup terhadap kemerahan,
gangguan peristaltik) sehat panas, drainase
5) Status imun, 9. Monitor adanya luka
gastrointestinal, 10. Dorong masukan
genitourinaria cairan
dalam batas normal 11. Dorong istirahat
12. Ajarkan pasien dan
keluarga tanda dan
gejala infeksi

4. Kecemasan berhubungan Tingkat kecemasan Pengurangan cemas


dengan Faktor keturunan, Setelah dilakukan tindakan 1. Gunakan pendekatan
Krisis situasional, Stress, keperawatan selama …×24 menenagkan
perub ahan status kesehatan, jam klien dapat mengontol 2. Pahami perspektif
ancaman kematian, cemasnya dengan pasien terhadap situasi
perubahan konsep diri, indikator : stres
kurang pengetahuan dan 1. monitor intensitas 3. temani pasien untuk
hospitalisasi. kecemasan mengurangi takut
DO/DS: (mempertunjukkan 4. berikan informasi
1. Insomnia keadaan tetap dengan mengenai diagnosis
2. Kontak mata kurang nilai 5) tindakan dan prognosis
3. Kurang istirahat 2. menyingkirkan tanda 5. dorong keluarga untuk
4. Berfokus pada diri kecemasan menemani pasien
sendiri (mempertunjukkan 6. identifikasi tingkat
5. Iritabilitas keadaan tetap dengan kecemasan
6. Takut nilai 5) 7. Bantu pasien mengenai
7. Nyeri perut 3. menurunkan stimulus situasi menimbulkan
8. Diare, mual, kelelahan lingkungan ketika kecemasa
9. Gangguan tidur cemas 8. dorong pasien untuk
10. Gemetar (mempertunjukkan mengungkapkan
11. Anoreksia, mulut kering keadaan tetap dengan perasaan, ketakutan,
12. Peningkatan TD, denyut nilai 5) persepsi
nadi, RR 4. merencanakan strategi 9. instruksikan pasien
13. Kesulitan bernafas koping untuk situasi menggunakan teknik
14. Bingung penuh stres relaksasi
15. Bloking dalam (mempertunjukkan 10. berikan obat untuk
pembicaraan keadaan tetap dengan mengurangi kecemasan
16. Sulit berkonsentrasi nilai 5)

D. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Merupakan tahap keempat dari proses keperawatan. Tahap ini dimulai setelah rencana
tindakan disusun untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan yang mencakup
peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, dan manifestasi koping.

E. EVALUASI
Merupakan tahap terakhir dalam proses keperawatan. Evaluasi merupakan tindakan
elektual untuk melengkapi proses keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnose
keperawatan, rencana tindakan, dan penatalaksanaannya sudah berhasil dicapai. Hasil dari
evaluasi dibagi menjadi 3 yaitu masalah teratasi, masalah teratasi sebagian, dan masalah
belum teratasi.
DAFTAR PUSTAKA

Brunner dan Suddarth. 2011. Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 Volume 2. Jakarta : Penerbit
Buku Kedokteran EGC

Bulcheck, Gloria M, dkk, 2015, Nursing Intervention Classification, America: Elseiver

Herdman, T.Heather, dkk, 2015, Nursing Diagnoses, America: Wiley Blackwell

Moorhead, Sue, dkk, 2015, Nursing Outcome Classification, America: Elseiver

Muttaqin, Arif, 2008, Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem

Muskuloskeletal, Jakarta : EGC.

Price, Sylvia Anderson. 2009. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jakrata :
EGC

Potter, Patricia A.2011. Buku Ajar Fundamental Keperawatan : konsep, proses dan praktik.
Edisi.4 volume 1. Jakarta : EGC

Sjamsuhidayat, R. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC.

Toy, Eugene C. Liu, Terrence H dan Campbell, Andre R. 2011. Case file: Ilmu Bedah Edisi
Ketiga. Tangerang: Karisma Publishing Group.