Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Angka anak berhadapan dengan hukum selama 2017 semakin
mengkhawatirkan. Baik dari segi angka maupun kualitas perbuatan. Jumlahnya
terus meningkat, perbuatannya kejam, dan modusnya menyerupai orang
dewasa. Tingginya angka kriminalitas yang melibatkan ABH terlihat dari data
Balai Pemasyarakatan Kelas I Surabaya. Lembaga di bawah Kementerian
Hukum dan HAM itulah yang selama ini melakukan assessment terhadap anak-
anak yang terjerat kasus pidana.
Selama 2017 tercatat ada 365 anak yang berhadapan dengan hukum.
Kasusnya beragam. Mulai pencurian biasa, narkoba, pencurian dengan
kekerasan. Angka 365 terbilang tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Ada lonjakan yang sangat signifikan ketimbang tahun lalu. Pada 2016 terdapat
291 anak yang tersangkut kasus pidana. Angka tersebut juga lebih tinggi
daripada tahun sebelumnya.
Fenomena atau peristiwa yang terjadi seperti diatas melibatkan emosi
semata tanpa adanya kematangan emosi pada remaja dapat ditunjukkan pada
beberapa contoh lain seperti terjadinya perkelahian antar pelajar yang
disebabkan oleh masalah kecil dan sepele, kasus bunuh diri dan percobaan
bunuh diri yang marak di kalangan pelajar yang terjadi karena masalah yang
mereka hadapi seperti putus dengan pacar, keadaan ekonomi, nilai standar
kelulusan yang semakin tinggi, dan masalah-masalah lainnya, kemudian
mereka mengambil jalan pintas untuk menyelesaikan masalahnya tanpa
memikirkan akibat dari tindakannya tersebut tidak adanya kematangan emosi
dalam menghadapi hal-hal yang negatif, tanpa ada kematangan emosi bisa
membuat hal yang positif menjadi negatif
Meskipun pada dasarnya kematangan emosi tidak lepas dari peran pola
asuh dalam keluarga, saat anak mengemukakan pendapat sebagai orang tua
harus bisa di dengarkan dan di respon remaja yang memiliki keingintahuan
melebihi masa anak-anak jadi orang tua harus bisa mengontrol dan
mengarahkan keingintahuan remaja kepada hal yang positif, saling menghargai
dalam keluarga membuat remaja merasa memiliki hak yang sama dalam
keluarga, dalam pola asuh yang baik dalam keluarga remaja saat keluar dari
lingkungan keluarga ke lingkungan sosial menjadi pribadi yang memiliki
kematangan emosi yang baik sehingga dapat lebih di terima oleh lingkungan.
Banyak remaja dalam menghadapi permasalahan cepat menyerah dan
mengambil jalan pintas dengan tidak memperhatikan dan memikirkan efek atau
akibat dari keputusan yang diambilnya, itulah salah satu sebab pentingnya
kematangan emosi di miliki oleh remaja. Kematangan emosi sendiri dapat di
katakan sebagai sebagai suatu kondisi perasaan atau reaksi perasaan yang stabil
terhadap suatu objek permasalahan sehingga untuk mengambil suatu keputusan
atau bertingkah laku didasari dengan suatu pertimbangan dan tidak mudah
berubah-ubah dari satu suasana hati ke dalam suasana hati yang lain
Kematangan emosi membuat remaja dalam kondisi yang mampu
mengendalikan dan mengontrol emosinya serta dapat memberi penilaian
terhadap suatu situasi secara kritis sehingga dapat menekan peledakan atau
pengekpresian emosi yang berlebihan
Kedisiplinan, peraturan yang kompleks, obsesi orangtua akan prestasi
dan keinginan orangtua agar anaknya kelak mampu menjadi bagian dari sesuatu
yang sebenarnya anak tersebut tidak inginkan terkadang membuat remaja ini
merasa tertekan. Emosi remaja yang menginginkan kebebasan disini tidak
terwujud. Hal ini terkadang menyebabkan munculnya dua tindakan berbeda
pada remaja, yaitu sikap agresif yang tinggi saat mereka tidak dalam peraturan
yang diterapkan di lingkungannya dan sikap penurut saat mereka ada dirumah.
Keadaan-keadaan seperti itu lah yang penting untuk diketahui agar kedepannya
anak tidak memiliki gangguan kepribadian.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kepribadian
Kepribadian adalah totalitas sifat emosional dan perilaku yang menandai
kehidupan seseorang dari hari ke hari dalam kondisi yang biasanya (Kaplan,
2010). Kepribadian bersifat relatif stabil dan dapat diramalkan.

2.2 Gangguan Kepribadian


2.2.1. Definisi
Gangguan kepribadian adalah suatu varian kepribadian yang tidak
fleksibel dan maladaptif serta menyebabkan gangguan fungsional yang
bermakna atau penderitaan subjektif (Kaplan, 2010).
Individu dengan gangguan kepribadian menunjukkan pola maladaptif,
tidak fleksibel serta mendarah daging yang berhubungan dan mengesankan
lingkungan dan dirinya sendiri. Gejala gangguan kepribadian yaitu aloplastik
(mampu mengadaptasi dan mengubah lingkungan eksternal) dan egosintonik
(dapat diterima oleh ego), serta tidak merasa cemas dengan perilaku
maladaptifnya karena tidak secara rutin merasakan sakit dari apa yang
dirasakan oleh masyarakat sebagai gejalanya. Individu mungkin menyangkal
masalahnya, dianggap tidak termotivasi untuk melakukan pengobatan,
menolak bantuan psikiatrik dan dianggap tidak mempan terhadap pemulihan
(Kaplan, 2010).
2.2.2. Etiologi
a. Faktor Genetik
Faktor genetik memiliki peran dalam terjadinya gangguan kepribadian.
Gangguan kepribadian kelompok A lebih sering ditemukan pada saudara
biologis dari pasien skizofrenik dibandingkan kelompok kontrol. Banyak
ditemukan saudara dengan gangguan kepribadian skizotipal pada mereka
yang memiliki riwayat keluarga skizofrenia. Pada kelompok B, gangguan
kepribadian dissosial berhubungan dengan penyalahgunaan alkohol,
individu dengan gangguan kepribadian ambang memiliki banyak saudara
dengan gangguan mood serta ada hubungan yang kuat antara gangguan
kepribadian histrionik dan gangguan somatisasi.
b. Faktor Biologis
Hormon dan neurotransmitter memiliki peran pada gangguan
kepribadian. Individu dengan sifat impulsif seringkali menunjukkan
peningkatan kadar testosteron, 17-estradiol dan estrone. Pada primata
bukan manusia ditemukan bahwa androgen meningkatkan sifat agresif dan
perilaku seksual. Monoamin oksidase (MAO) trombosit juga berperan.
Seseorang dengan MAO trombosit yang rendah melaporkan menggunakan
lebih banyak waktu dalam aktivitas sosial dibandingkan seseorang dengan
MAO trombosit yang tinggi. Serotonin adalah neurotransmitter yang
menurunkan depresi dan impulsivitas. Metabolit serotonin yaitu 5-
hydroxyindoleacetic acid (5-HIAA) ditemukan rendah kadarnya pada
orang yang berusaha bunuh diri serta pada pasien yang impulsif dan
agresif. Adanya disfungsi sistem saraf pusat berisiko terjadinya gangguan
kepribadian, khususnya gangguan kepribadian dissosial dan ambang.
c. Faktor Temperamental
Faktor temperamental berhubungan dengan gangguan kepribadian
pada masa dewasa. Sebagai contoh, anak-anak yang secara temperamental
ketakutan mungkin mengalami gangguan kepribadian menghindar.
Gangguan kepribadian mungkin berasal dari ketidaksesuaian antara
temperamen orang tua dan cara membesarkan anak. Contohnya adalah
seorang anak yang pencemas dibesarkan oleh ibu yang juga seorang
pencemas maka anak tersebut lebih rentan mengalami gangguan
kepribadian dibandingkan dengan anak yang pencemas dibesarkan oleh ibu
yang tenang. Kultur yang memaksakan agresi mungkin secara tidak
disadari berperan dalam terjadinya gangguan kepribadian paranoid dan
dissosial. Lingkungan fisik juga mungkin memiliki peran, contohnya yaitu
seorang anak kecil yang aktif mungkin tampak hiperaktif jika tinggal di
apartemen kecil yang tertutup tetapi tampak normal di ruang kelas yang
besar dengan lapangan yang berpagar.
d. Faktor Psikoanaltik
Kepribadian yang unik pada masing-masing individu sangat
ditentukan oleh mekanisme pertahanan karakteristik orang tersebut.
Masing-masing gangguan kepribadian memiliki kelompok mekanisme
pertahanan yang membantu klinisi mengenali tipe patologi karakter yang
ada. Sebagai contoh, orang dengan gangguan kepribadian skizoid
berhubungan dengan penarikan diri.
Jika mekanisme pertahanan berfungsi baik, penderita dengan
gangguan kepribadian mampu mengatasi perasaan kecemasan, depresi,
kemarahan, malu atau bersalah. Penderita sering memandang perilakunya
sebagai egosintonik yang berarti perilaku penderita tersebut tidak
menimbulkan penderitaan pada diri penderita meskipun dapat merugikan
orang lain. Penderita mungkin tidak mau melakukan terapi karena
mekanisme pertahanan mereka penting dalam pengendalian hal yang tidak
menyenangkan dan mereka tidak berminat untuk menghilangkan
mekanisme pertahanan tersebut. Sebagai contoh, banyak orang, khususnya
mereka yang dicap skizoid, menggunakan pertahanan fantasi mereka secara
berlebihan. Mereka mencari penghiburan dan kepuasan dalam diri mereka
sendiri dengan menciptakan kehidupan khayalan, khususnya teman
khayalan, di dalam pikiran mereka sendiri. Mereka seringkali tampak
menjauhkan diri, tetapi sebenarnya hal tersebut terjadi karena mereka
mengalami ketakutan akan keintiman.
2.2.3. Klasifikasi
a. BerKelompok A terdiri dari gangguan kepribadian paranoid, skizoid dan
skizotipal. Individu dengan gangguan kepribadian tersebut seringkali
tampak aneh dan eksentrik.
b. Kelompok B terdiri dari gangguan kepribadian dissosial, ambang
(borderline), histrionik dan narsistik. Individu dengan gangguan
kepribadian tersebut seringkali tampak dramatik, emosional dan tidak
menentu.
c. Kelompok C terdiri dari gangguan kepribadian menghindar, dependen dan
obsesif-kompulsif.
d. Gangguan kepribadian yang tidak ditentukan yaitu gangguan kepribadian
pasif-agresif dan gangguan kepribadian depresif.
Individu dengan gangguan kepribadian yang tergolong kelompok C dan
gangguan kepribadian yang tidak ditentukan seringkali tampak cemas atau
ketakutan. Seseorang bisa memiliki satu atau lebih gangguan kepribadian dan
masing-masing gangguang kepribadian tersebut harus didiagnosis dan dikode
pada aksis II menurut DSM-IV.

2.3 Gangguan Emosional Tak Stabil


2.3.1. Definisi
Borderline personality disorder (BPD), juga dikenal sebagai gangguan
kepribadian emosional yang tidak stabil adalah pola perilaku abnormal jangka
panjang yang dicirikan oleh hubungan yang tidak stabil dengan orang lain,
perasaan diri yang tidak stabil dan emosi yang tidak stabil. Sering ada
perilaku berbahaya dan menyakiti diri sendiri. Orang mungkin juga berjuang
dengan perasaan hampa dan takut ditinggalkan. Gejala dapat disebabkan oleh
kejadian yang tampaknya normal. Perilaku biasanya dimulai pada masa
dewasa awal dan terjadi di berbagai situasi. Penyalahgunaan zat, depresi, dan
gangguan makan biasanya dikaitkan dengan BPD.
Gangguan kepribadian emosional yang tidak stabil pertama kali
diperkenalkan oleh Kernberg pada tahun 1975 sebagai suatu diagnosis pada
sekelompok pasien dengan mekanisme pertahanan yang primitif dan objek
relasi internal yang patologis. Pada banyak kepustakaan, gangguan
kepribadian emosional yang tidak stabil dahulu sering dianggap sebagai
batasan antara psikosis dan neurosis.
Gangguan kepribadian emosional yang tidak stabil adalah gangguan
mental yang ditandai dengan suasana hati serta citra diri yang senantiasa
berubah-ubah, dan perilaku yang impulsif. Seseorang yang mengalami
gangguan kepribadian ambang memiliki cara pikir, cara pandang, serta
perasaan yang berbeda dibanding orang lain pada umumnya. Akibatnya,
timbul masalah dalam menjalankan kehidupan sehari-hari dan menjalin
hubungan dengan orang lain, seperti hubungan dalam keluarga dan
di lingkungan pekerjaan. Gangguan ini umumnya muncul pada periode
menjelang usia dewasa. Dengan penanganan berupa psikoterapi dan
pemberian obat, penderita gangguan kepribadian ambang dapat membaik
seiring bertambahnya usia.

Brune, M. (2016). Borderline Personality Disorder. Evolution, Medicine, &


Public Health

2.3.2. Epidemiologi
Prevalensi gangguan kepribadian emosional yang tidak stabil awalnya
diperkirakan 1 hingga 2 persen dari populasi umum dan terjadi tiga kali lebih
sering pada wanita dibandingkan pada pria. Wanita mempunyai
kecenderungan 3 kali lebih rentan dibandingkan laki-laki. Epidemiologi
gangguan kepribadian emosional yang tidak stabil memiliki persentase 6%
pengidap yang berasal dari komunitas masyarakat dan 15-20% pasien di
rumah sakit jiwa merupakan pengidap gangguan kepribadian ambang tersebut.
Sampai saat ini belum ada data pasti di Indonesia, namun diperkirakan
kejadian gangguan kepribadian emosional yang tidak stabil cukup tinggi
karena biasanya gangguan kepribadian ini ditandai oleh perilaku agresif dan
impulsif, yang biasanya banyak terdapat pada individu dengan perilaku
kekerasan. Hal itu dapat dilihat sehari-hari dari berbagai laporan media.
Pada kebanyakan kasus, gangguan kepribadian emosional yang tidak
stabil pertama kali ditemukan pada usia akhir remaja; beberapa terjadi pada
anak namun jarang terjadi pada dewasa di atas 40 tahun Pasien-pasien dengan
gangguan kepribadian emosional yang tidak stabil baru datang ke fasilitas
kesehatan ketika telah ada upaya bunuh diri atau setelah episode melukai diri
sendiri.
2.3.3. Etiologi
Penyebab yang pasti terjadinya gangguan kepribadian ini masih
dipertanyakan. Namun, belakangan ini para peneliti terutama di bidang
neurobiologi dan psikofarmakologi melakukan pendekatan biologis yang
lebih mendalam dengan hipotesis adanya keterlibatan baik unsur fungsi otak,
neurotransmiter, genetik, dan neuroendokrin.
Salah satu yang paling sering diteliti adalah hubungan antara sistem
serotonergik dan regio otak yang terlibat dalam perilaku impulsif
dan agresif pada pasien gangguan kepribadian ambang. Berikut beberapa
penyebab yang diduga mempengaruhi seseorang memiliki gangguan
kepribadian ambang:
a. Genetik
Sebanyak 42-68% pasien dengan gangguan kepribadian ambang
merupakan penyakit gangguan kepribadian yang diwariskan. Gen yang
diduga terlibat dalam gangguan kepribadian ambang belum teridentifikasi.
b. Biologis
Penelitian menggunakan MRI pada pasien dengan gangguan
kepribadian ambang menunjukkan hiperesponsitifitas amygdala dan
gangguan inhibisi dari korteks prefrontal selama melibatkan kegiatan-
kegiatan yang menunjukkan ekspresi wajah, reaksi emosional dan
hubungan interpersonal. Dalam kasus gangguan kepribadian ambang,
hipersensitivitas terhadap rangsangan negatif dan aktivasi berlebihan dari
pengaruh negatif, terkait dengan hiperaktivitas amigdala dan struktur
terkait dari sistem limbik, dan, pada saat yang sama, kurangnya kapasitas
untuk kontekstualisasi kognitif dan mempengaruhi kontrol.
Terkait dengan penurunan fungsi korteks prefrontal dan preorbital dan
daerah anterior cingular, merupakan korelasi neurobiologis yang signifikan
dari patologi ini. Terdapat bukti bahwa neurohormone seperti oksitosin dan
opioid memediasi kemunculan rasa takut atas penolakan dan ditinggalkan.
c. Lingkungan
Lingkungan juga mempengaruhi seseorang memiliki kepribadian
ambang, keadaan seperti mengucilkan seseorang dapat membuat trauma
pada diri seseorang. Trauma yang terjadi dapat bermanifestasi pada
penderita sebagai rasa tidak percaya diri, pendiam dan masih banyak lagi.
d. Keluarga
Keluarga merupakan tempat utama terbentuknya suatu kepribadian
pada seseorang. Hal ini terkait erat dengan pola asuh orang tua. Pola asuh
yang menelantarkan anak akan membentuk kepribadian seorang anak
menjadi impulsif, tidak mau diatur dan masih banyak lagi.

2.3.4. Patofisiologi
Beberapa regio di otak diperkirakan berperan dalam perilaku manusia.
Hasil penelitian menggambarkan bahwa perilaku impulsif, disregulasi, dan
kelainan kepribadian adalah aspek utama gangguan kepribadian ambang.
Gangguan kepribadian ini dapat dipikirkan mempunyai profil neurobiologi
yang unik. Prefrontal korteks terutama korteks prefrontal orbital dan korteks
ventral media yang bersebelahan berperan dalam pengaturan perilaku agresif.
Aktivitas korteks prefrontal dimodulasi oleh traktus serotonergik yang naik
dari nukleus raphe di otak tengah, di mana badan-badan sel serotonergik
terletak dengan sinaps pada neokorteks, berlaku pada sejumlah reseptor
terutama reseptor 5-HT2a.
Lesi pada korteks prefrontal, terutama korteks orbito frontal, pada
masa kanak awal dapat bermanifestasi sebagai disinhibisi perilaku antisosial
dan perilaku agresif pada masa kehidupan selanjutnya. Sedangkan
pengurangan massa abu-abu di prefrontal telah dihubungkan dengan defisit
autonomik pada gangguan kepribadian antisosial dengan perilaku agresif.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa korteks orbitofrontal dan media frontal
yang bersebelahan mempunyai pengaruh hambatan/inhibisi agresi untuk
mengatur atau mengontrol pelepasan agresi.
Lesi pada korteks frontal telah lama dikenal berhubungan dengan
perilaku impulsif agresif. Kasus pertama dan paling terkenal berasal dari suatu
kasus dari tahun 1800-an. Seorang pekerja bernama Phineas Gage berperilaku
bermusuhan dan agresif secara verbal setelah mengalami luka tembus di lobus
frontal otaknya karena kecelakaan saat bekerja. Phineas Gage
kemudian berubah dari seseorang yang sebelumnya serius, aktif dalam
bekerja, dan energik menjadi seorang yang bermusuhan, kekanakan, tidak
bertanggung jawab dan berperilaku agresif. Penelitian modern menyimpulkan
bahwa lokasi luka saat itu terdapat pada bagian anterior dan medial dari
korteks orbitofrontal, juga mengenai girus cinguli anterior dan korteks frontal
anterior dan yang berhubungan di medial.
Banyak laporan lain menyimpulkan bahwa luka atau pembedahan
pengangkatan daerah korteks frontal terutama orbitofrontal akan
menyebabkan perilaku agresif. Salah satunya adalah impulsivitas pada pasien
gangguan kepribadian ambang serupa dengan akibat kerusakan pada korteks
orbitofrontal. Namun hal lain yang merupakan karakteristik utama gangguan
kepribadian ambang, misalnya tingginya emosional, tidak terdapat pada
pasien dengan kerusakan korteks orbitofrontal. Pasien dengan gangguan
kepribadian ambang juga mempunyai ketidakseimbangan neurokimiawi dan
hiperaktivitas amigdala yang tidak terdapat pada pasien dengan kerusakan
korteks orbitofrontal.
Hubungan timbal balik antara korteks orbitofrontal dan amigdala
mungkin berperanan dalam mengatur respons emosional dan perilaku.
Disfungsi sirkuit limbik-orbitofrontal mungkin terlibat dalam gangguan
kepribadian ambang. Terdapat penelitian yang menyatakan amigdala dan
korteks orbitofrontal bertindak sebagai bagian dari sistem neuron yang
terintegrasi, sebagai penunjuk pembuatan keputusan dan seleksi respons
adaptif berdasarkan gabungan penguatan stimulus. Gangguan kepribadian
ambang mempunyai beberapa defisit yang dapat dihubungkan dengan fungsi
yang ditunjukkan oleh korteks orbitofrontal. Kekurangan ini mungkin
berhubungan dengan volume korteks orbitofrontal yang lebih kecil atau
terhadap aktivitas yang rendah di korteks orbitofrontal.
Penelitian lebih lanjut untuk mengetahui regio di otak yang
berhubungan dengan perilaku impulsif agresif dilakukan dengan
menggunakan bantuan positron emission tomography (PET) scan. Dari
penelitian itu didapatkan bahwa terdapat pengurangan aktivitas di daerah
korteks prefrontal pada pasien dengan gangguan bipolar, pasien dengan
gangguan kepribadian yang dikarakteristikan dengan perilaku impulsif
agresif, orang dengan masalah alkohol yang berperilaku impulsif dan agresif,
pembunuh yang impulsif, dan pasien rawat dengan perilaku kekerasan.
Beberapa penelitian menggunakan fenfluramine sebagai zat serotonergik yang
dapat meningkatkan aktivitas sistem serotonergik dan meningkatkan
metabolisme dan atau aliran darah di korteks orbitofrontal pada subjek yang
normal.
Fenfluramine meningkatkan akitivitas serotonergik dengan cara
pelepasan langsung serotonin, menghalangi pengambilan kembali serotonin
dari celah sinaps, atau mungkin dengan kerja di reseptor. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa setelah pemberian fenfluramine terdapat aktivitas
metabolik yang rendah pada pasien dengan perilaku impulsif agresif
dibandingkan dengan subjek yang normal. Perbedaan aktivitas metabolisme
ini secara nyata terdapat di regio ventral medial frontal, girus cinguli tengah
kanan dan kiri atas, dan lobus parietal kanan atas. Metabolisme yang
meningkat setelah pemberian fenfluramine juga terdapat pada daerah korteks
prefrontal, orbitofrontal kiri, dan daerah lateral hemisfer kanan subjek normal.
Hal ini tidak ditemukan pada subjek dengan perilaku impulsif agresif. Pada
penelitian ini didapatkan respons metabolik yang tumpul terhadap fenfluramin
terdapat secara khusus pada bagian orbital dan regio prefrontal yang
berhubungan seperti halnya pada korteks cinguli.
Penelitian sebelumnya mengenai hubungan antara fenfluramine
dengan perilaku agresif impulsif berfokus pada respons prolaktin terhadap
fenfluramine. Namun respons prolaktin terhadap fenfluramine tidak
mencerminkan sirkuit otak yang terpengaruh pada modulasi perilaku agresif.
Respons metabolik glukosa terhadap fenfluramine mendasari suatu tes yang
lebih langsung dan sensitif terhadap respons pembentukan serotonin.
Mekanisme pasti yang bertanggung jawab terhadap respons metabolik
terhadap fenfluramine belum ditentukan. Reseptor serotonergik multipel
termasuk 5-HT1a, 5-HT1b, 5-HT2a, dan 5-HT2c terdapat di korteks serebral.
Bergantung pada regio otak, dosis, dan spesifisitas reseptor agonis
serotonergik, reseptor-reseptor ini mungkin berperan dalam meningkatkan
atau menurunkan aktivitas metabolisme glukosa serebral. Suatu penelitian
terhadap primata memperlihatkan bahwa perilaku agresif primata
berhubungan secara terbalik dengan jumlah reseptor 5-HT2 di korteks
orbitofrontal posterior, korteks frontal media, dan amigdala; hubungan itu
tidak ditemukan di daerah otak yang lain.
Sebaliknya jumlah reseptor 5-HT2 di korteks frontal orbital posterior,
postrerior temporal, dan amigdala secara langsung berhubungan dengan
perilaku prososial. Penemuan itu mendukung hipotesis bahwa efek serotonin
secara spesifik terhadap perilaku bergantung pada regio yang dipengaruhinya.
Sebagai contoh, kadar serotonin yang tinggi di korteks orbital menyebabkan
perilaku yang kooperatif sedangkan sebaliknya kadar serotonin yang rendah di
korteks orbital menyebabkan perilaku agresif.

Andri, AAAA. Kusumawardhani. Neurobiologi Gangguan Kepribadian


Ambang:
Pendekatan Biologis Perilaku Impulsif dan Agresif. Departemen Psikiatri,
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Rumah Sakit Dr. Cipto
Mangunkusumo, Jakarta : Maj Kedokt Indon, Volum: 57, Nomor: 4, April
2007.

2.3.5. Klasifikasi
Organisasi Kesehatan Dunia ICD-10 mendefinisikan gangguan yang secara
konseptual mirip dengan gangguan kepribadian ambang, yang disebut (G60.3)
Gangguan kepribadian emosional yang tidak stabil . Dua subtipenya
dijelaskan di bawah ini. [82]
a) F60.30 Jenis impulsif
Setidaknya tiga dari yang berikut ini harus ada, salah satunya harus:
1) Kecenderungan yang ditandai untuk bertindak secara tidak terduga dan
tanpa mempertimbangkan konsekuensinya;
2) Kecenderungan yang ditandai untuk terlibat dalam perilaku bertengkar
dan memiliki konflik dengan orang lain, terutama ketika tindakan
impulsif digagalkan atau dikritik;
3) Pertanggungjawaban atas ledakan kemarahan atau kekerasan, dengan
ketidakmampuan untuk mengendalikan ledakan perilaku yang
dihasilkan;
4) Kesulitan dalam mempertahankan tindakan apa pun yang tidak
menawarkan hadiah langsung;
5) Suasana tidak stabil dan berubah-ubah (impulsif, aneh).
b) F60.31 Tipe batas bawah
Setidaknya tiga gejala yang disebutkan dalam F60.30 Jenis impulsif harus
ada, dengan setidaknya dua dari berikut ini sebagai berikut:
1) Gangguan dan ketidakpastian tentang citra diri, tujuan, dan preferensi
internal
2) Tanggung jawab untuk terlibat dalam hubungan yang kuat dan tidak
stabil, sering mengarah ke krisis emosional
3) Upaya berlebihan untuk menghindari pengabaian
4) Ancaman berulang atau tindakan menyakiti diri sendiri
5) Perasaan kekosongan yang kronis
6) Menunjukkan perilaku impulsif, misalnya, ngebut di mobil atau
penyalahgunaan zat

2.3.6. Kriteria Diagnosis


Pedoman diagnostik untuk gangguan kepribadian ini berdasarkan
PPDGJ III, yaitu:
 Terdapat kecenderungan yang mencolok untuk bertindak secara impulsif
tanpa mempertimbangkan konsekuensinya, bersamaan dengan
ketidakstabilan emosional
 Dua varian yang khas adalah berkaitan dengan impulsivitas dan
kekurangan pengendalian diri
Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental edisi kelima
(DSM-5) telah menghapus sistem multiaxial. Akibatnya, semua gangguan,
termasuk gangguan kepribadian, tercantum dalam Bagian II dari manual.
Seseorang harus memenuhi 5 dari 9 kriteria untuk menerima diagnosis
gangguan kepribadian ambang. DSM-5 mendefinisikan fitur utama dari BPD
sebagai pola ketidakstabilan yang menyebar dalam hubungan interpersonal,
citra diri , dan mempengaruhi , serta perilaku impulsif yang nyata. Selain itu,
DSM-5 mengusulkan kriteria diagnostik alternatif untuk gangguan
kepribadian ambang di bagian III, "Alternatif DSM-5 Model untuk Gangguan
Kepribadian". Kriteria alternatif ini didasarkan pada penelitian sifat dan
[80]
termasuk menentukan setidaknya empat dari tujuh sifat maladaptif.
Menurut Marsha Linehan , banyak ahli kesehatan mental merasa sulit
mendiagnosis BPD menggunakan kriteria DSM, karena kriteria ini
menggambarkan berbagai macam perilaku. Untuk mengatasi masalah ini,
Linehan telah mengelompokkan gejala BPD di bawah lima bidang utama
disregulasi: emosi, perilaku, hubungan interpersonal, rasa diri, dan kognisi.
2.3.7. Tatalaksana
a. Psikoterapi
Psikoterapi merupakan salah satu terapi untuk penderita gangguan
kepribadian ambang. Namun penderita dapat secara berganti-ganti
mencintai dan membenci ahli terapi dan orang lain di dalam
lingkungannya akibat dari sikapnya yang mengelompokkan orang ke
dalam kategori baik dan jahat. Terapi perilaku digunakan untuk
mengendalikan impuls dan ledakan kemarahan serta untuk menurunkan
kepekaan terhadap kritik dan penolakan. Latihan keterampilan sosial,
khusunya dengan video dapat membantu penderita untuk melihat
bagaimana tindakan mereka mempengaruhi orang lain dan untuk
meningkatkan hubungan interpersonal mereka. Psikoterapi untuk pasien
dengan gangguan kepribadian emosional tidak stabil adalah penyelidikan
intensif dan telah menjadi terapi pilihan. Untuk hasil terbaik,
farmakoterapi telah ditambahkan ke rejimen pengobatan.
Psikoterapi sulit bagi pasien dan terapis. Pasien regresi dengan mudah,
bertindak impuls, dan menunjukkan transferences negatif atau positif labil
atau tetap, yang sulit untuk dianalisis. Identifikasi proyektif juga dapat
menyebabkan masalah kontra-transferensi ketika terapis tidak menyadari
bahwa pasien secara tidak sadar mencoba untuk memaksa mereka untuk
bertindak perilaku tertentu. Mekanisme pertahanan splitting menyebabkan
pasien untuk bergantian menyukai dan membenci terapis dan lain-lain di
lingkungan. Pendekatan yang berorientasi pada realitas cukup efektif.
Pasien dengan gangguan kepribadian emosional tidak stabil sering
melakukannya dengan baik di rumah sakit di mana mereka menerima
psikoterapi intensif pada psikoterapi individual dan secara kelompok. Di
rumah sakit, mereka juga dapat berinteraksi dengan anggota staf terlatih
dari berbagai disiplin ilmu dan dapat diberikan dengan terapi okupasi,
rekreasi, dan profesi. Program-program tersebut sangat membantu ketika
lingkungan rumah merugikan rehabilitasi pasien karena konflik dalam
keluarga atau tekanan lain. Dalam lingkungan yang terlindung di rumah
sakit, pasien yang terlalu impulsif, merusak diri sendiri, atau mutilasi diri
dapat dibatasi, dan tindakan mereka dapat diamati. Dalam situasi yang
ideal, pasien tetap di rumah sakit sampai mereka menunjukkan tanda
perbaikan, sampai dengan 1 tahun di beberapa kasus. Pasien kemudian
dapat dikeluarkan ke sistem suportif khusus, seperti rumah sakit, rumah
sakit malam, dan rumah transisi. Bentuk khusus dari psikoterapi yang
disebut terapi perilaku dialektis (dialectical behavior therapy - DBT) telah
digunakan untuk pasien dengan gangguan ini, terutama mereka dengan
perilaku parasuicidal, seperti sering memotong.
b. Farmakoterapi
Farmakoterapi berguna untuk menangani dengan fitur kepribadian
tertentu yang mengganggu fungsi keseluruhan pasien. Antipsikotik telah
digunakan untuk mengendalikan kemarahan, permusuhan, dan episode
psikotik singkat. Antidepresan meningkatkan mood depresi umum pada
pasien dengan gangguan kepribadian ini. MAO inhibitor (MAOI) dapat
digunakan pada beberapa pasien dengan perilaku impulsif. Benzodiazepin,
khususnya alprazolam (Xanax), membantu kecemasan dan depresi, tetapi
beberapa pasien menunjukkan disinhibisi dengan kelas obat ini.
Antikonvulsan, seperti carbamazepine, dapat meningkatkan fungsi global
untuk beberapa pasien. Agen serotonergik seperti serotonin reuptake
inhibitor (SSRI) telah membantu dalam beberapa kasus.
2.3.8. Komplikasi
Jika tidak mendapatkan pengobatan yang sesuai, gangguan
kepribadian ambang berisiko mengganggu berbagai aspek dalam kehidupan
penderita, seperti mengalami hubungan sarat konflik sehingga
mengakibatkan stres atau perceraian, kehilangan pekerjaan, menghadapi
masalah hukum, hamil tanpa direncanakan, serta kematian akibat bunuh diri.
Selain gangguan dalam kehidupan, penderita BPD ini juga berisiko
mengalami gangguan mental lainnya, seperti depresi, penyalahgunaan alkohol
atau NAPZA gangguan kecemasan, gangguan bipolar dan lainnya

Gunderson JG. Borderline Personality Disorder. N Engl J Med 201 ; 364:2037-


42.

2.3.9. Prognosis
Dengan pengobatan, sebagian besar orang dengan BPD dapat
menemukan bantuan dari gejala yang menyedihkan dan mencapai remisi,
yang didefinisikan sebagai bantuan yang konsisten dari gejala setidaknya
selama dua tahun. Studi longitudinal ini melacak gejala orang dengan BPD
menemukan bahwa 34,5% mencapai remisi dalam waktu dua tahun dari awal
penelitian. Dalam empat tahun, 49,4% telah mencapai remisi, dan dalam enam
tahun, 68,6% telah mencapai remisi. Pada akhir penelitian, 73,5% peserta
ditemukan dalam kondisi remisi. Selain itu, dari mereka yang mencapai
pemulihan dari gejala, hanya 5,9% mengalami kekambuhan. Sebuah
penelitian kemudian menemukan bahwa sepuluh tahun dari awal (selama
rawat inap), 86% pasien mengalami pemulihan stabil dari gejala.
Kepribadian pasien dapat memainkan peran penting selama proses
terapi, yang mengarah ke hasil klinis yang lebih baik. Penelitian terbaru
menunjukkan bahwa pasien BPD yang menjalani terapi perilaku dialektik
(DBT) menunjukkan hasil klinis yang lebih baik berkorelasi dengan tingkat
yang lebih tinggi dari sifat kesediaan dalam pasien, dibandingkan dengan
pasien yang rendah dalam kesetujuan atau tidak diobati dengan DBT. Asosiasi
ini dimediasi melalui kekuatan aliansi kerja antara pasien dan terapis; yaitu,
pasien yang lebih menyenangkan mengembangkan aliansi kerja yang lebih
kuat dengan terapis mereka, yang pada gilirannya, mengarah pada hasil klinis
yang lebih baik.
Selain pulih dari gejala yang menyusahkan, orang dengan BPD juga
mencapai tingkat fungsi psikososial yang tinggi. Sebuah penelitian
longitudinal yang melacak kemampuan sosial dan kerja para peserta dengan
BPD menemukan bahwa enam tahun setelah diagnosis, 56% peserta memiliki
fungsi yang baik dalam pekerjaan dan lingkungan sosial, dibandingkan
dengan 26% peserta ketika mereka pertama kali didiagnosis. Prestasi kejuruan
pada umumnya lebih terbatas, bahkan dibandingkan dengan mereka dengan
gangguan kepribadian lainnya. Namun, mereka yang gejalanya telah dikirim
secara signifikan lebih mungkin memiliki hubungan yang baik dengan
pasangan romantis dan setidaknya satu orang tua, kinerja yang baik di tempat
kerja dan sekolah, riwayat kerja dan sekolah yang berkelanjutan, dan fungsi
psikososial yang baik secara keseluruhan.
BAB III
PENUTUP

Gangguan kepribadian ambang adalah suatu kondisi ganguan kepribadian


berkepanjangan dalam fungsi kepribadian seseorang, dimana penderita berjalan
melalui serangkaian pasang surut suasana hati. Penderita hidup dengan ketakutan,
kesepian, dan panik, ketika seorang yang dicintai terpisah dalam waktu singkat.
Penderita merasa begitu tertekan sehingga mereka mencoba untuk merugikan diri
sendiri dan mencoba bunuh diri. Dengan mengenali gangguan kepribadian tersebut
diharapkan seluruh orang mampu untuk memahami, mendukung dan mendorong
penderita untuk mengobati gangguan kepribadiannya.