Anda di halaman 1dari 12

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN ILMU FIQIH

Makalah
Mata Kuliah: Ilmu Fiqih
Dosen Pengampu : Agus Sholeh, M. Ag.

Disusun :

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2017
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Ilmu fiqih adalah bagian dari ilmu Syariat, karena syariat ialah hukum yang
ditetapkan Allah dengan perantaraan Rasul-Nya. Apakah hukum tersebut menyangkut
hubungan manusia dengan Allah, hubungan antar manusia, ataupun menyangkut hubungan
alam sekitarnya. Sedangkan Fiqih ialah hukum-hukum Allah yang berkaitan dengan
perbuatan mukallaf, yang digali daari dalil-dalil syara yang terperinci, seperti: Al quran
dan As-Sunnah juga ijma, qiyas dan sebagainya. Oleh karena itu ilmu fiqih sudah ada sejak
syariat islam diturunkan pada empat belas abad yang lalu.1
Sejalan dengan perkembangan ilmu fiqh, sistematikanya dibagi menjadi lima
periode yaitu: (1) Periode Rasulullah, (2) Periode Sahabat, (3) Periode Imam-imam
mujtahid, (4) Periode Kemunduran, (5) Periode Kebangunan kembali. Kekhususan masing-
masing periode secara singkat akan diuraikan di bawah ini, adapun pembahasan yang lebih
luas dan mendalam kita pelajari dalam kitab-kitab Tarikh al-Tasyri.2
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini ialah:
1. Bagaimana sejarah perkembangan ilmu fiqih?
2. Siapa tokoh-tokoh yang berperan dalam perkembangan ilmu fiqih?
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan yang akan dicapai dari penulisan makalah ini yaitu:
1. Untuk mengetahui sejarah perkembangan ilmu fiqih
2. Untuk mengetahui tokoh-tokoh dalam perkembangan ilmu fiqih

1
Rahmat Djatnika, dkk., Perkembangan Ilmu Fiqh Di Dunia Islam, (Jakarta: Pembinaan Kelembagaan
Agama Islam,1986), hlm 39.
2
Dzajuli, Ilmu Fiqh, (Jakarta: Kencana, 2010), hlm 139.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Sejarah Perkembangan Fiqih


1. Periode Rasulullah
a. Masa Mekkah dan Madinah
Periode ini dimulai sejak diangkatnya Nabi Muhammad SAW menjadi Rasul
sampai wafatnya. Periode ini hanya berlangsung selama sekitar 23 tahun. Akan tetapi
sangat mempengaruhi perkembangan ilmu fiqih. Masa Rasulullah inilah yang
mewariskan sejumlah nash-nash hukum baik dari Al-Quran maupun As Sunnah,
mewariskan prinsip-prinsip hukum islam tersurat dalam dalil-dalil kulli maupun yang
tersirat dari semangatAl-Quran dan As-Sunnah.3
Periode Rassulullah dibagi dua masa yaitu: masa Mekkah dan masa Madinah.
Pada masa Mekkah, diarahkan untuk memperbaiki akidah, karena akidah yang benar
inilah yang menjadi pondasi dalam hidup. Oleh karena itu, dapat kita pahami apabila
Rasulullah pada masa itu memulai dakwahnya dengan mengubah keyakinan masyarakat
yang musyrik menuju masyarakat yang berakidah tauhid, membersihkan hati dan
menghiasi diri dengan akhlakul karimah. Pada masa Madinah, kaum muslimin
bertambah banyak dan terbentuklah masyarakat muslimin yang menghadapi persoalan-
persoalan baru yang membutuhkan cara pengaturan baik dalam hubungan antar individu
maupun kelompok lain di lingkungan Madinah.
b. Sumber Hukum Masa Rasulullah
1) Al Quran
Al Quran turun sesuai dengan kejadian/peristiwa dan kasus-kasus tertentu
serta menjelaskan hukum-hukumnya, memberi jawaban atas pertanyaan-
pertanyaan atau jawaban terhadap permintaan fatwa.
Contoh kasus seperti: Larangan menikahi wanita musyrik. Peristiwanya berkenaan
dengan Martsad al-Ganawi yang meminta izin kepada Nabi untuk menikahi
wanita musyrikah, maka turun ayat Al-Baqarah: 221.


Artinya: “Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman.”

3
Dzajuli, Ilmu Fiqh, (Jakarta: Kencana, 2010), hlm 140.
Adapun untuk memberi jawaban atau fatwa, misalnya dalam ayat Al
Baqarah:215:






Artinya: “Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: "Apa saja harta
yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-
orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan." dan apa saja kebaikan yang kamu
buat, Maka Sesungguhnya Allah Maha mengetahuinya.”

2) Al-Sunnah
Al-Sunnah berfungsi menjelaskan hukum-hukum yang telah ditegaskan
dalam Al-Qur’an dan juga menjadi penguat bagi hukum-hukum yang telah
ditetapkan dalam Al-Qur’an. Penjelasan Rasulullah tentang hukum ini sering
dinyatakan dalam perbuatan Rasulullah sendiri, atau dalam keputusan-
keputusannya dan kebijaksanaannya ketika menyelesaikan satu kasus, atau karena
menjawab pertanyaan hukum yang diajukan kepadanya, bahkan bisa terjadi
dengan diamnya Rasulullah dalam menghadapi perbuatan sahabat yang secara
tidak langsung menunjukkan kepada diperbolehkannya perbuatan tersebut.4
3) Ijtihad Pada Masa Rasulullah
Pada zaman Rasulullah, ternyata Ijtihad itu dilakukan oleh Rasulullah dan
juga oleh para sahabatnya untuk berijtihad. Dengan jalan meneliti segala hukum
yang ditetapkan Rasul, kita dapat menetapkan bahwa Rasul pernah menetapkan
hukum dengan ijtihad dan memberi fatwa yang bukan dengan wahyu, terutama
dalam urusan yang tidak ada sangkut pautnya dengan haram dan halal.
Didalam hal ini ijtihad Nabi adakalanya benar dan adakalanya salah. Jika
ijtihadnya salah maka segera mendapatkan teguran dari Allah dengan pembetulan
wahyu. Seperti dalam kasus Ijtihad Amar bin Yasir yang berjunub (hadast Besar)
yang kemudian berguling-guling dipasir untuk menghilangkan hadast besarnya.
Cara ini salah, kemudian Rasulullah menjelaskan bahwa orang yang berjunub
tidak menemukan air cukup dengan tayamum.

4
Dapat disimupulkan, pada zaman Rasulullah, sumber hukum itu adalah Al-
Qur’an dan Al-Sunnah. Keduanya diwariskan kepada generasi sesudahnya, dalam
Hadist dinyatakan: “Aku tinggalkan padamu dua hal, kamu tidak akan sesat
apabila berpedoman kepada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya”.
2. Periode Al-Khulafaur Rasyidun
Periode Khulafaur Rasyidin dimulai sejak wafatnya Nabi Muhammad SAW sampai
Mu’awiyah bin Abu Suufyan memegang tampuk pemerintahan Islam pada tahun
41H/661M. Periode ini biasanya disebut periode Sahabat juga, karena kekuasaan Tasyri
dalam periode ini disamping Al-Qur’an dan Sunah juga ditandai dengan munculnya
berbagai ijtihad para sahabat. Ijtihad ini dilakukan apabila terjadi persoalan-persoalan
dibidang hukum yang tidak dijumpai secara jelas dalam nashnya.
Pada masa ini, khususnya setelah Umar bin al-Khatab menjadi kholifah( 13H/634).
Ijtihad merupakan upaya yang luas dalam memecahkan berbagai persoalan hukum yang
muncul ditengah masyarakat. Persoalan hukum pada periode ini sudah semakin
kompleks dengan semakin banyaknya pemeluk islam dari berbagai etnis dan budaya.5
Pada periode ini untuk pertama kali para fuqaha berbenturan dengan budaya, moral,
etika dan nilai-nilai kemanusiaaan dalam suatu masyarakat majemuk. Hal ini terjadi
karena daerah-daerah yang ditaklukkan Islam sudah sangat luas dan kalangan sahabat
untuk memberikan hukum dalam persoalan-persoalan baru tersebut. Dalam
menyelesaikan persoalan-persoalan baru tersebut maka para sahabat pertama kali
merujuk pada Al-qur’an, jika didalam Al-Qur’an tidak dijumpai, mereka mencari
jawabannya dalam sunah, namun jika dalam sunah juga tidak dijumpai maka mereka
menggunakan ijtihad.
3. Periode awal Pertumbuhan Fiqih
Masa awal pertumbuhan fiqh dimulai pada pertengahan abad ke-1 sampai awal
abad ke-2. Bertebarnya para sahabat ke berbagai sahabat ke berbagai daerah semenjak
masa al-Khulafaur rusyidin ( terutama sejak Usman bin Affan menduduki jabatan
khalifah, 33 H/644 M) menyebabkan munculnya berbagai fatwa dan ijtihad hukum yang
berbeda antara satu daerah dengan daerah lain, sesuai dengan situasi dan kondisi
masyarakat daerah tersebut.

5
Di Irak, Ibnu Mas’ud muncul sebagai fuqaha yang menjawab berbagai persoalan
hukum yang dihadapinya disana. Dalam hal ini, sistem sosial masyarakat Irak jauh
berbeda dengan masyarakat Hedzjaz atau Hijaz (Mekkah dan Madinah).
Ibnu Mas’ud mengikuti pola yang telah ditempuh Umar bin al-Khattab, yaitu lebih
berorientasi pada kepentingan dan kemaslahatan umat tanpa terlalu terikat dengan
makna harfiah teks-teks suci. Sikap ini diambil Umar bin al-Khattab dan Ibnu Mas’ud,
karena situasi dan kondisi masyarakat ketika itu tidak sama dengan saat teks suci
diturunkan. Atas dasar ini, penggunaan nalarI(analisis) dalam berijtihad lebih dominan.
Dari perkembangan ini, muncul madrasah atau aliran ra’yu (akal) ahlulhadist dan
ahlurra’yi.
3. Periode Keemasan (Masa Abbasiyah/ Pembukuan Ilmu Fiqih)
Periode keemasan dimulai dari awal abad ke-2 sampai pada pertengahan abad ke-4
H. Dalam periode sejarah peradaban Islam, periode ini termasuk dalam periode
kemajuan Islam pertama (700-1000).
Dinasti Abbasiyah (132 H/ 750M- 656 H/1258 M) yang naik kepemerintahan
menggantikan Dinasti Umayyah meiliki tradisi keilmuan yang kuat, sehingga perhatian
para penguasa Abbasiyyah terhadap berbagai bidang ilmu sangat besar. Kemudian
Khlifah Harun ar-Rasyid jga meminta kepada Imam Abu Yusuf untuk menyusun buku
yang mengatur masalah administrasi, keuangan, ketataegaraan dan pertahanan.
Pada awal periode keemasan ini, pertentangan antara ahlulhaidis dan ahlurra’yi
sangat tajam., sehingga menimbulkan semangat berijtihad bagi masing-masing aliran.
Semangat para fuqaha melakukan ijtihad dalam periode ini juga mengawali munculnya
madzhab-mazhab fiqh, yaitu mazhab Hanafi, Mazhab Maliki, Mazhab Syafi’i, Mazhab
Hambali. Pertentangan kedua aliran ini baru mereda setelah murid-murid kelompok
ahlurrra’yi berupa membatasi, mensistematisasi, dan menyusun kaidah ra’yu yang
dapat digunakan untuk mengistinbatkan hukum. Atas dasar upaya ini, maka aliran
ahlulhadist dapat menerima pengertian ra’yu yang dimaksudkan ahlurra’yi, sekaligus
menerima ra’yu sebagai salah satu cara dalam mengistimbatkan hukum.
4. Periode Tahrir, Takhrij, dan tarjih dalam Mazhab Fiqh
Periode ini dimulai dari pertengahan abad ke-4 sampai pertengahan abad ke-7.
Tahrir, Tahrij, dan Tarjih adalah upaya yang dilakukan ulama masing-masing mazhab
dalam mengomentari, memperjelas, dan mengulas pendapat para imam mereka. Periode
ini ditandai dengan melemahnya semangat semangat ijtihad dikalangan ulama fiqh.
Ulama fiqh lebih banyak berpegang pada hasil ijtihad yang telah dilakukan oleh imam
mazhab mereka masing-masing, sehingga mujtahid mustaqill (mujtahid mandiri) tidak
ada lagi.
Mustafa Ahmad az-Zarqa mengatakan, bahwa dalam periode ini untuk pertama
kali muncul pernyataan bahwa pintu ijtihad telah tertutup. Menurutnya, paling ada tiga
faktor yang mendorong munulnya pernyataan tersebut yaitu:
a. Dorongan para penguasa kepada para hakim (qadi) untuk menyelesaikan perkara di
pengadilan dengan merujuk pada salah satu mazhab fiqih yang disetujui khalifah
saja.
b. Munculnya sikap at-taasub al-mazhabi yang berakibat pada sifat kejumudan dan
(kebekuan berpikir) dan taqlid di kalangan murid imam mazhab.
c. Munculnya gerakan pembukuan pendapat masing-masing mazhab yang
memudahkan orang untuk memilih pendapat mazhabnya dan menjadikan buku
sebagai rujukan bagi masing-masing mazhab, sehingga aktivitas ijtihad terhenti.
5. Periode Kemunduran
Periode ini dimulai dari pertengahan abad ke-4 H sampai akhir abad 13 H yaitu
waktu pemerintahan Turki Usmani memakai kitab undang-undang yang dinamai
Majalah Al-Ahkam Al-Adliyah. Dalam undang-undang tersebut materi fiqh disusun
dengan sistematis dalam satu kitab Undang-Undang Hukum Perdata.
Faktor-faktor yang menyebabkan kemunduran :
a. Kemunduran di bidang politik, misalnya terpecahnya dunia Islam menjadi beberapa
wilyah kecil yang masing-masing keamiran hanya sibuk saling berebut kekuasaan,
saling memfitnah, dan berperang sesama muslim yang mengakibatkan
ketidakamanan dan ketidaktenteraman masyarakat muslim.
b. Dengan dianutnya pendapat mazhab tanpa pikiran yang kritis serta dianggapnya
sebagai sesuatu yang mutlak benar, menyebabkan orang tidak mau meneliti kembali
pendapat-pendapat tersebut.
c. Dengan banyaknya kitab-kitab fiqh,para ulama dengan mudah bisa menemukan
jawaban-jawaban terhadap masalah-masalah yang dihadapi.
d. Dengan jatuhnya Cordoba sebagai pusat kebudayaan Islam di Barat tahun 1213 M
dan kemudian jatuhnya Baghdad sebagai pusat kebudayaan Islam di Timur tahun
1258 M, maka berhentilah denyut jantung kebudayaan Islam baik di Barat maupun
Timur.
B. Tokoh-Tokoh Yang Berperan Penting Dalam Ilmu Fiqih
Ada beberapa tokoh pemikir-pemikir besar dalam perkembangan ilmu fiqh
diantaranya adalah:
1. Imam Abu Hanifah (80-150 H / 696-767 M)
Beliau dilahirkan di Kufah tahun 80 H. Nama beliau adalah Nu’man bin Tsabit.
Beliau lebih dikenal dengan sebutan Abu Hanifah. Pada waktu kecil, beliau menghafal
Al Quran, kemudian berguru kepada Imam Ashim salah seorang Imam Qiroah Sab’ah.
Keluarganya adalah keluarga pedagang, oleh karena itu tidaklah mengherankan apabila
Nu’man pun menjadi seorang pedagang. Guru-guruAbu Hanifah yang terkenal
diantaranya al-syabi dan Hammad bin Abi Sulayman di Kufah, Hasan Basri di Basrah,
Atha bin Rabbah di Mekkah, Sulayman, dan Salmi di Madinah.
Dalam kunjungannya ke Madinah, Abu Hanifah bertemu dengan Muhammad Bagir
dari Syi’ah dan putra Imam Bagir yaitu Ja’far Al-Shiddiq. Yang menonjol dari Imam
Abu Hanifah ialah:
a. Sangat rasional, memntingkan maslahat, dan manfaat
b. Lebih mudah dipahami daripada mazhab yang lain
c. Lebih liberal sikapnya terhadap dzimis.
Imam Abu Hanifah meninggal pada bulan Rajab tahun 150 H. Beliau meninggal
dalam keadaan shalat. Meskipun Abu Hanifah seorang ulama besar, beliau tidak merasa
memonopoli kebenaran. Hal ini terbukti pernyataannya:
“Saya mengambil pendapat ini, karena pendapat ini benar, tapi mengandung
kemungkinan salah. Dan saya tidak mengambil pendapat itu, karrna pendapat itu
salah, tapi mengandung kemungkinan benar.”
Kitab yang langsung dinisbahkan kepada Abu Hanifah adalah Fiqh Al-Akbar, Al-
A’lim wal Muta’alim, dan Musnad. Sedangkan buku-buku lainnya banyak ditulis oleh
muridnya yaitu Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan Asyaibani. Abu Yusuf kemudian
menjadi ketua Mahkamah Agung zaman khalifah Harun Ar-Rasyid. Muhammad bin
Hasan Asyaibani menyusun kitab-kitab Al-Mabsuth, Al-Jam’i al Kabir, Al-Siyar al-
Kabir, al-Siyar al-Asyghar, dan al- Ziyyadat.
2. Imam Malik (93-179H/711-795 M)
Imam Malik dilahirkan di Madinah. Nama lengkap beliau adalah Malik bin Anas
bin ‘Amar. Beliau menggali ilmu di Madinah yang saat itu merupakan pusat pendidikan,
kakeknya dan pamannya merupakan seorang ahli Hadits. Malik bin Anas adalah orang
yang saleh, sangat sabar, ikhlas dalam berbuat, mempunyai daya ingat dan hafalan yang
kuat, serta kokoh dalam pendiriannya. Beliau ahli dalam perihal fiqh dan Hadits.
Diantara guru-guru Imam Malik adalah Ibn Hurmuz, Yahya Ibn Sa’ad al-Anshari, dan
Ibn Syihaab Azhuri. 6
Dalam hal mengajar, Imam Malik sangat menjaga diri agar tidak salah dalam
memberi fatwa. Sehingga di berbagai masalah yang ditanyakan, sering beliau menjawab
la adri (saya tidak tahu) karena belum yakin betul akan kebenaran jawabannya. Imam
Malik, meskipun dikelompokkan kepada Ahlu Al-Hadits, bukan berarti beliau
menggunakan Hadits sja dalam menetapkan hukum. Sebab beliau juga menggunakan
Mafhum Mukhalafah, Dzari’ah, dan terutama al-Maslahah.
Karya besar yang dinisbahkan beliau adalah al-Muwatha’ yang merupakan kitab
Hadits sekaligus kitab fiqh. selain itu fatwa-fatwanya dikumpulkan oleh murid-
muridnya seperti Ibnu Qosim dan Sahmun yang dibukukan menjadi kitab al-
7
Mudawanahal Kubra yang merupakan kitab standar dalam Mazhab Maliki.
3. Imam al-Syafi’I (150-204 H/767 -822 M)
Beliau adalah Muhammad bin Idris bin Usman bin Syafi’i, lahir di Gaza salah satu
kota di Palestina pada tahun 150 H dan wafat di Mesir pada tahun 204 H atau 822 M.
Ibunya berasal dari Suku al-Azdi di Yaman. Ayahnya meninggal saat beliau masih bayi,
sehingga beliau dibesarkan dalam keadaan fakir dan yatim. Kecerdasan beliau sudah
nampak sejak kecil, terlihat dalam umur kurang dari sepuluh tahun beliau telah hagal
Al-Quran. Selain itu beliau juga belajar bahasa dan sastra arab di kabilah Hudzail
sampai hafal sepuluh ribu bait syair-syair Arab.
Beliau juga berguru pada ulama-ulama besar di zamannya. Di Mekkah beliau
berguru kepada Sufyan bin Uyainah dan kepada Muslim bin Khalid. Sedangkan di
Madinah beliau berguru kepada Imam Malik. Namun sebelum bertemu Imam Malik
beliau telah membaca dan menghafal kitab al-Muwatha. Imam Syafi’i merupakan murid
kesayangan Imam Malik dan beliau berguru padanya selama tujuh tahun. Selain itu,
6
Dzajuli, IlmuFiqh, (Jakarta: Kencana, 2010), hlm 128.
7
Ibid,hlm 129.
beliau juga berguru kepada Muhammad bin Hasan Asyaibani. Dari sini beliau mendapat
8
pelajaran fiqh Imam Abu Hanifah selama dua tahun.
Salah satu fatwa-fatwa beliau yang terkenal adalah Qaul Jadid di Mesir dan Qaul
Qadim di Baghdad. Bagi imam Syafi’i ibadah harus membawa kepuasan dalam hati.
Oleh karena itu dibutuhkan kehati-hatian. Karena itu, konsep ikhtiyat dalam beribadah
mewarnai corak pemikiran beliau. Beberapa kitab-kitab yang beliau karang adalah kitab
Al-Risalah, yang berisi pokok0pokok pemikiran Imam Syafi’i dalam menetapkan
hukum, dan juga kitab Al-Ummm, yang berisi masalah-masalah fiqh yang dibahas
berdasarkan pokok-pokok pikiran beliau yang terdapat dalam Al-Risalah.
4. Imam Ahmad Hanbali (164-241 H)
Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Ahmad bin Muhammad bin Hambal bin
Hilal Al-Syaibani. Beliau dilahirkan di Baghdad pada bulan Rabi’ul awal tahun 164 H
dan wafat pada tahun 241 H. Sejak kecil beliau sudah menghafal Al-Qur’an, mendalami
bahasa Arab, belajar Hadits atsar sahabat dan tabi’in serta sejarah Nabi, dan para
sahabat. Beliau lebih banyak mencurahkan perhatiannya kepada Hadits daripada fiqh.
Ini terlihat dari beberapa kota yang beliau kunjungi untuk belajar Hadits diantaranya
Baghdad, Basrah, Kufah, Mekkah, Madinah, dan Yaman. Namun bukan berarti beliau
tidak memakai fiqih. Imam Ahmad belajar fiqih dari Abu Yusuf yang merupakan
muridnya Abu Hanifah dan mulai berguru pada Imam Syafi’i sejak 795 M. 9
Imam Ahmad terkenal sekali sebagai ulama yang tidak percaya adanya Ijma’,
dengan ucapannya yang terkenal : “Siapa yang menyatakan terdapat Ijma, maka dia
adalah pendusta”. Menurut Dr. Abu Zahra ijma yang ditentang oleh Imam Ahmad disini
adalah Ijma’ sesudah masa sahabat. Adapun Ijma’ dimasa sahabat diakui
keberadaannya.
Imam Ahmad bin Hanbal banyak mempelajari dan meriwayatkan Hadits. Kitab
yang dinisbahkan beliau adalah kitab Musnad, walaupun demikian, beliau tidak menulis
kitab-kitabnya sendiri. Kitab Musnad tersebut disusun dan dikumpulkan oleh putranya
yang bernama Abdullah. Selain itu dalam masalah fiqh, beliau tidak mencatatnya. Fiqh
Imam Ahmad ditulis oleh murid-muridnya seperti Abdullah bin Ahmad, Abu Bakar al

8
Dzajuli, IlmuFiqh, (Jakarta: Kencana, 2010), hlm 130.
9
Ibid,hlm 132.
Asdom, Abdul Malik, dan lain-lain. Murid-muridnya inilah yang menulis risalah-risalah
dan melaksanakannya berdasarkan fiqh yang diterima dari Imam Ahmad. 10

10
Dzajuli, IlmuFiqh, (Jakarta: Kencana, 2010), hlm 133.
BAB III
PENUTUP

1. Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa hukum islam atau fiqh
akan selalu berkembang dari zaman ke zaman. Baik dari zaman Rasulullah,
sahabat, dan sampai sekarang. Ayat-ayat hukum pada umumnya berupa prinsip-
prinsip yang harus dikembangkan lebih lanjut. Disaat Rasulullah masih hidup,
tugas untuk mengembangkan dan menafsirkan ayat terletak pada diri beliau melalui
sunnahnya. Namun seteleh beliau wafat ilmu fiqh masih terus berkembang pada
zaman sahabat, mujtahid, dan sampai sekarang. Meskipun pernah mengalami
kemunduran beberapa abad yang lalu. Diantara tokoh-tokoh yang berperan penting
dalam ilmu fiqh adalah Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam
Hanbali yang biasa dikenal dengan Imam empat mazhab. Selain itu dapat
disimpulkan bahwa dalam mengatasi masalah yang ada yaitu dengan
mempergunakan Al qur’an dan Assunnah. Jika suatu masalah tidak terdapat dalam
keduanya maka menggunakan ijtihad para mujtahid yang sesuai dengan kaidah Al
qur’an dan Assunnah.

2. Saran
Dalam penulisan makalah ini, kami menyadari bahwa masih terdapat
kekurangan-kekurangan yang perlu disempurnakan. Oleh karena itu kami
mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca yang kami
harapkan untuk perbaikan makalah kami kedepannya.