Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN

Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Cholelithiasis


Di Ruang Nilam

Oleh :

JULYANTO PUTRA ADMAJA


NIM : PO.62.20.1.16.148

POLTEKKES KEMENKES PALANGKA RAYA


DIV KEPERAWATAN REGULER 3
TAHUN 2018
A. Pengertian

Kolelitiasis adalah inflamasi akut atau kronis dari kandung empedu, biasanya

berhubungand engan batu empedu yang tersangkut pada duktus kistik, menyebabkan distensi

kandung empedu. (Doenges, Marilynn, E., 2010)

Kolelitiasis adalah (kalkulus atau kalkuli, batu empedu) biasanya terbentuk dalam

kandung empedu dari unsur-unsur padat yang membentuk cairan empedu. Batu empedu

memiliki ukuran, bentuk dan komposisi yang sangat bervariasi. (Smeltzer, Suzanne, C. 2010)

B. Etiologi

Batu-batu (kalkuli) dibuat oleh kolesterol, kalsium bilirubinat, atau campuran,

disebabkan oleh perubahan pada komposisi empedu. Batu empedu dapat terjdi pada duktus

koledukus, duktus hepatika, dan duktus pankreas. Kristal dapat juga terbentuk pada

submukosa kandung empedu menyebabkan penyebaran inflamasi. Sering diderita pada usia

di atas 40 tahun, banyak terjadi pada wanita. (Doenges, Marilynn, E. 1999)

C. Tanda Dan Gejala

1. Aktifitas atau istirahat

Gejala : kelemahan

Tanda : gelisah

2. Sirkulasi

Tanda : takikardi, berkeringat

3. Eliminasi

Gejala : perubahan warnaa urin dan feses

Tanda : distensi abdomen, teraba massa pada kuadran kanan atas, urin gelap, pekat, feses

warna tanah liat, steaforea.

4. Makanan / cairan
Gejala : anoreksia, mual atau muntah, regurgitasi berulang, nyeri epigastrium, tidak dapat

makan, flatus, dispepsia

Tanda : kegemukan, adanya penurunan berat badan

5. Nyeri / kenyamanan

Gejala : nyeri abdomen atas berat, dapat menyebar ke punggung atau bahu kanan, kolik

epigastrium tengah sehubungan dengan makan.

Tanda : nyeri lepas, otot tegang atau kaku bila kuadaran kanan atas ditekan

6. Pernafasan

Tanda : peningkatan frekuensi pernafasan, nafas pendek, dangkal.

7. Keamanan

Tanda : demam, menggigil, ikterik, berkeringat dan gatal, perdarahan (kekurangan

vitaminK)

D. Patofisiologi

Ada dua tipe utama batu empedu : batu yang tersusun dari pigmen dan batu yang

tersusun dari kolesterol.

1. Batu pigmen : kemungkinan akan terbentuk bila pigmen yang tak terkonjugasi dalam

empedu mengadakan presipitasi (pengendapan) sehingga terjadi batu-batu ini tidak dapat

dilarutkan dan harus dikeluarkan dengan jalan operasi.

2. Batu kolesterol : kolesterol sebagai pembentuk empedu bersifat tidak larut dalam air,

kelarutannya tergantung pada asam empedu dan lesitin (fosfolipid) dalam empedu. Pasien

penderita batu empedu akan terjadi penurunan sintesis asam empedu dan peningkatan

sintesis kolesterol dalam hati, keadaan ini mengakibatkan supersaturasi getah empedu

yang jenuh oleh kolesterol yang kemudian keluar dari getah empedu, mengendap dan
membentuk batu dan menjadi iritan yang menyebabkan peradangan dalam kandung

empedu.

E. PATHWAY
F. Pemeriksaan Penunjang

1. Pemeriksaan sinar X-Abdomen

2. Ultrasonografi (USG)

3. Pemeriksaan pencitraan radionukleida atau koleskintografi

4. Kolesistogragi

5. Kolanlopankreatogragi retrogad endoskopik CERCP : Endoscopic Retrograde

Cholangiopancreatography) : pemeriksaan ini meliputi insersi endoskop serat-optik yang

fleksibel ke dalam esofagus hingga mencapai duodenum pars desendens.

6. Kolangiografi transhepatik perkutan : penyuntikan bahan kontras langsung ke dalam

percabangan bilier.

7. Darah lengkap : lekositosis sedang

8. Bilirubin dan amilase serum meningkat

9. Enzim hati serum –AST (SGOT), ALT (SGPT), LDH meningkat

10. Kadar protrombin : menurun

11. CT-scan

G. Penatalaksanaan

1. Penatalaksanaan non bedah

a. Penatalaksanaan pendukung dan diet

80% dari pasien inflamasi akut kandung empedu sembuh dengan istirahat, cairan

infus, pengisapan nasogastrik, analgesik dan antibiotik. Diit yang dianjurkan adalah

tinggi protein dan karbohidrat.


b. Farmakoterapi

Asam ursodeoksikolat (urdafalk) dan kenodeoksikolat (chenodial, chenofalk).

Fungsinya untuk menghambat sintesis kolesterol dalam hati dan sekresinya dan tidak

desaturasi getah empedu.

c. Pengangkatan batu empedu tanpa pembedahan

Pengangkatan batu empedu : menginfuskan bahan pelarut (monooktanoin atau metil

tertier butil eter (MTBE) ke dalam kandung empedu.

Pengangkatan non bedah : dengan lewat saluran T-tube dan dengan alat jaring untuk

memegang dan menarik keluar batuyang terjepit dalam duktus koleduktus.

d. Extracorporal shock-wave lithotripsy (ESWL) : gelombang kejut berulang yang

diarahkan kepada batu empedu yang gelombangnya dihasilkan dalam media cairan

oleh percikan listrik.

Efek samping : petekia kulit dan hematuria mikroskopis

2. Penatalaksanaan bedah

a. Kolesistektomi : paling sering digunakan atau dilakukan : kandung empedu diangkat

setelah arteri dan duktus sistikus diligasi.

b. Minikolesistektomi : mengeluarkan kandung empedu lewat luka insisi selebar 4 cm.

c. Kolesistektomi laparoskopik (endoskopik) : lewat luka insisi kecil melalui dinding

abdomen pada umbilikus.

d. Koledokostomi : insisi lewat duktus koledokus untuk mengeluarkian batu empedu.


KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
Pengkajian adalah fase pertama proses keperawatan .
Data yang dikumpulkan meliputi :

1. Identitas
Kolelitiasis merupakan batu pada kandung empedu yang banyak terjadi pada individu yang
berusia di atas 40 tahun dan semakin meningkat pada usia 75 tahun. Dan wanita mempunyai
resiko 3 kali lipat untuk terkena kolelitiasis dibandingkan dengan pria.

2. Riwayat Kesehatan

 Keluhan utama

Merupakan keluhan yang paling utama yang dirasakan oleh klien saat pengkajian. Biasanya
keluhan utama yang klien rasakan adalah nyeri abdomen pada kuadran kanan atas, dan mual
muntah.

 Riwayat kesehatan sekarang

Merupakan pengembangan diri dari keluhan utama melalui metode PQRST, paliatif atau
provokatif (P) yaitu focus utama keluhan klien, quality atau kualitas (Q) yaitu bagaimana
nyeri/gatal dirasakan oleh klien, regional (R) yaitu nyeri/gatal menjalar kemana, Safety
(S) yaitu posisi yang bagaimana yang dapat mengurangi nyeri/gatal atau klien merasa
nyaman dan Time (T) yaitu sejak kapan klien merasakan nyeri/gatal tersebut.

Klien sering mengalami nyeri di ulu hati yang menjalar ke punggung , dan bertambah berat
setelah makan disertai dengan mual dan muntah.

 Riwayat penyakit dahulu

Perlu dikaji apakah klien pernah menderita penyakit sama atau pernah di riwayat sebelumnya.
Klien memiliki Body Mass Index (BMI) tinggi, mempunyai resiko lebih tinggi untuk terjadi
kolelitiasis. Ini karenakan dengan tingginya BMI maka kadar kolesterol dalam kandung empedu
pun tinggi.

 Riwayat kesehatan keluarga

Mengkaji ada atau tidaknya keluarga klien pernah menderita penyakit kolelitiasis. Penyakit
kolelitiasis tidak menurun, karena penyakit ini menyerang sekelompok manusia yang memiliki
pola makan dan gaya hidup yang tidak sehat. Tapi orang dengan riwayat keluarga kolelitiasis
mempunyai resiko lebih besar dibanding dengan tanpa riwayat keluarga.
 Riwayat psikososial

Pola pikir sangat sederhana karena ketidaktahuan informasi dan mempercayakan sepenuhnya
dengan rumah sakit. Klien pasrah terhadap tindakan yang dilakukan oleh rumah sakit asal cepat
sembuh. Persepsi diri baik, klien merasa nyaman, nyeri tidak timbul sehubungan telah dilakukan
tindakan cholesistektomi.

 Riwayat lingkungan

Lingkungan tidak berpengaruh terhadap penyakit kolelitiasis. Karena kolelitiasis dipengaruhi


oleh pola makan dan gaya hidup yang tidak baik.

B. Pemeriksaan fisik

1. Keadaan Umum

Pada hasil pemeriksaan fisik abdomen didapatkan :

1. Inspeksi : datar, eritem (-), sikatrik (-)


2. Auskultasi : peristaltik (+)
3. Perkusi : timpani
4. Palpasi : supel, nyeri tekan (+) regio kuadran kanan atas, hepar-lien tidak teraba, massa (-
)
5. Sistem endokrin

Mengkaji tentang keadaan abdomen dan kantung empedu. Biasanya pada penyakit ini kantung
empedu dapat terlihat dan teraba oleh tangan karena terjadi pembengkakan pada kandung
empedu.

C. Pola aktivitas

1. Nutrisi

Dikaji tentang porsi makan, nafsu makan

1. Aktivitas

Dikaji tentang aktivitas sehari-hari, kesulitan melakukan aktivitas dan anjuran bedrest

1. Aspek Psikologis

Kaji tentang emosi, Pengetahuan terhadap penyakit, dan suasana hati.


1. Aspek penunjang
a. Hasil pemeriksaan Laboratorium (bilirubin,amylase serum meningkat).
b. Obat-obatan satu terapi sesuai dengan anjuran dokter.

D. Analisa Data
Data Etiologi Masalah Keperawatan
DS : Pasien mengeluh nyeri di Sumbatan empedu / koleltiasis Nyeri
daerah ulu hati
DO : nyeri tekan di epigastrium
Aliran balik cairan empedu ke
hepar

Proses radang di sekitar


hepatobilier

Infeksi

Nyeri
DS : - Penurunan peristaltik karena Penurunan volume cairan
DO : pasien lemah, mata efek kolelitiasis
cowong, turgor kulit buruk
Makanan tertahan di dalam
lambung

Peningkatan rasa mual

Mual / muntah

Penurunan volume cairan


DS : Pasien mengatakan Penurunan peristaltik karena Nutrisi kurang dari kebutuhan
perutnya tidak enak karena efek kolelitiasis tubuh
mual muntah
DO : Distensi abdomen Makanan tertahan di dalam
lambung

Peningkatan rasa mual

Mual / muntah

Peubahan nutrisi kurang dari


kebutuhan tubuh
E. Diagnosa Keperawatan

1. Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi, obstruksi (spasme duktus)

2. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan melalui

penghisapan gaster berlebihan, muntah, distensi dan hipermotilitas gaster.

3. Resiko tinggi perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual

atau muntah, dispepsia, nyeri


F.INTERVENSI
Diagnosa 1

Intervensi Rasional
 Observasi dan catat lokasi,  Membantu membedakan
beratnya (skala 0-10) dan karakter penyebab nyeri dan memberikan
nyeri (menetap, hilang timbul, informasi tentang
kolik). kemajuan/perbaikan penyakit,
 Tingkatkan tirah baring, biarkan terjadinya komplikasi, dan
pasien melakukan posisi yang keefektifan intervensi.
nyaman.
 Kolaborasi : Pertahankan status  Meningkatkan istirahat,
puasa, masukan / pertahankan memusatkan kembali perhatian,
penghisapan NG sesuai indikasi. dapat meningkatkan koping.
 Kolaborasi : Berikan obat sesuai  Tirah baring pada posisi fowler
indikasi; antikolinergik. rendah menurunkan tekanan
intraabdomen.
 Membuang secret gaster yang
merangsang pengeluaran
kolesistokinin dan kontraksi
kandung empedu.
 Menghilangkan reflex
spasme/kontraksi otot halus dan
membantu dalam manajemen
nyeri

Diagnosa 2

Risiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan muntah, distensi, dan
hipermotilitas gaster.
Intervensi Rasional
 Pertahankan masukan dan haluaran  Memberikan informasi tentang status
cairan/volume sirkulasi dan kebutuhan
akurat, perhatikan haluaran kurang penggantian.
dari masukan, peningkatan berat
 Muntah berkepanjangn, aspirasi gaster,
jenis urine. Kaji membrane dan pembatasan pemasukan oral dapat
mukosa/kulit, nadi perifer, dan menimbulkan deficit natrium, kalium
dan klorida.
pengisian kapiler.
 Menurunkan sekresi dan motilitas
gaster.

 Awasi tanda / gejala  Menurunkan mual dan mencegah


muntah.
peningkatan/berlanjutnya  Mempertahankan volume sirkulasi dan
mual/muntah, kram abdomen, memperbaiki ketidakseimbangan.
kelemahan, kejang, kejang ringan,
kecepatan jantung tak teratur,
parestesia, hipoaktif atau tak adanya
bising usus, depresi pernapasan.
 Kolaborasi : Pertahankan pasien
puasa sesuai keperluan.
 Kolaborasi : Berikan antimetik.
Kolaborasi : Berikan cairan IV,
elektrolit, dan vitamin K.

Diagnosa 3

Risiko tinggi perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh, berhubungan dengan memaksa diri
atau pembatasan berat badan sesuai aturan; mual/muntah.

Intervensi Rasional
 Kaji distensi abdomen, sering  Tanda non-verbal
ketidaknyamanan berhubungan
bertahak, berhati-hati, menolak
dengan gangguan pencernaan,
bergerak. nyeri gas.
 Perkirakan/hitung pemasukan
 Mengidentifikasi kekurangan /
kalori juga komentar tentang
kebutuhan nutrisi. Berfokus pada
napsu makan sampai minimal.
masalah membuat suasana
negative dan mempengaruhi
 Berikan suasana menyenangkan
masukan.
pada saat makan, hilangkan
rangsangan berbau.
 Untuk meningkatkan napsu
makan/menurunkan mual.
 Kolaborasi : Konsul dengan ahli
diet/tim pendukung nutrisi
 Berguna dalam membuat
sesuai indikasi.
kebutuhan nutrisi individual
melalui rute yang paling tepat.
 Tambahkan diet sesuai toleransi,
biasanya rendah lemak, tinggi
serat, batasi makanan penghasil  Memenuhi kebutuhan nutrisi dan
gas dan makanan/makanan meminimalkan rangsangan pada
tinggi lemak. kandungan empedu.
DAFTAR PUSTAKA

 http://hesa-andessa.blogspot.com/2011/01/asuhan-keperawatan-kolelitiasis.html

 Andessa, 2011, Asuhan Keperawatan Kolelitiasis, diakses tanggal 4 Oktober 2011 pukul
12.00 WIB. http://hesa-andessa.blogspot.com/2011/01/asuhan-keperawatan-
kolelitiasis.html

 Anonim, 2009, Asuhan Keperawatan pada kolelitiasis, diakses pada tanggal 1 Oktober
2011 pukul 10.00 WIB <http://keperawatankita.wordpress.com/2009/02/11/kolelitiasis-
definisi-serta-askepnya/>

 Anonim, 2009, Asuhan Keperawatan pasien kolelitiasis, diakses tanggal 2 Oktober 2011
pukul 10.30 WIB <perawatpskiatri.blogspot.com/2009/04/asuhan-keperawatan-pasien-
dengan.html>

Anda mungkin juga menyukai