Anda di halaman 1dari 11

Terjemahan Matan Syuruthu Ash-Shalah

(Karya Syaikh Muhammad At Tamimiy rahimahullah)

Syarat-syarat sahnya sholat ada sembilan: Islam, berakal, tamyiz, mengangkat hadats,
menghilangkan dari najis, menutup aurat, masuknya waktu sholat, menghadap kiblat, dan niat.

Syarat Pertama:Islam

Lawan katanya adalah kekufuran. Adapun orang yang kafir, amalnya tertolak walaupun dia
beramal dengan amal apapun.

Dalilnya firman Allah ta’ala

‫ت أنمعنماَلدهدمم نوُلفيِ النناَلر هدمم نخاَللددوُنن‬


‫ط م‬ ‫نماَ نكاَنن للملدممشلرلكيِنن نأن يِنمعدمدروُما نمنساَلجند ا نشاَلهلديِنن نعنلىَ نأنَفدلسلهمم لباَملدكمفلر أدموُلنئل ن‬
‫ك نحبل ن‬

“Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan mesjid-mesjid Allah, sedang mereka
mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan
mereka kekal di dalam neraka.” (QS At Taubah: 17)

Dan firman Allah ta’ala,

‫نوُقنلدممنناَ إلنلىَ نماَ نعلمدلوُا لممن نعنملل فننجنعملنناَهد هننباَء نمندثوُراا‬

“Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan , lalu kami jadikan amal itu (bagaikan)
debu yang berterbangan.” (QS Al Furqan: 23)

Syarat Kedua: Berakal

Lawan kata darinya adalah gila. Orang gila terangkat darinya catatan amal sampai dia sadar.
Dalilnya hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Diangkat catatan amal atas tiga:
orang yang tidur sampai dia bangun, orang yang gila sampai dia sadarkan diri, anak kecil
sampai dia baligh.”
Syarat Ketiga: Tamyiz

Lawan katanya adalah shighar (kecil). Batasnya adalah usia tujuh tahun. Setelah lewat tujuh
tahun diperintahkan untuk sholat. Berdasarkan sabda Beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam,
“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk sholat pada saat usianya tujuh tahun dan pukullah
karena melalaikannya ketika telah berusia sepuluh tahun dan pisahkanlah tempat tidur mereka.”

Syarat Keempat: Mengangkat Hadats

Yaitu dengan berwudhu yang sudah kita kenal. Muujib (penyebab diwajibkan)nya wudhu adalah
hadats. Syarat-syarat wudhu ada sepuluh: Islam, berakal, tamyiz, niat, istishhaabul hukm yaitu
dengan tidak berniat membatalkannya sampai sempurna thaharah, terputusnya penyebab
diwajibkannya, istinja’ atau istijmar sebelumnya, sucinya air, dan mubahnya (air tersebut),
menghilangkan apa yang menghalangi sampainya air pada kulit, dan masuknya waktu bagi orang
yang hadatsnya terus menerus.

Adapun yang fardhu dalam wudhu ada enam: membasuh wajah, termasuk berkumur-kumur
dan beristinsyaq, dan batasnya memanjang dari tempat tumbuhnya rambut sampai dagu dan
melebar diantara dua daun telinga, kemudian membasuh kedua tangan sampai siku, lalu
mengusap seluruh kepala termasuk di dalamnya kedua telinga, lalu membasuh kedua kaki
sampai mata kaki, lalu melakukannya dengan tertib, dan muwaalah (bersabung satu dengan yang
lainya). Dalilnya adalah firman Allah ta’ala

‫ق نوُاممنسدحوُما بلدردؤوُلسدكمم نوُأنمردجلندكمم إلنلىَ املنكمعنبيِلن‬


‫صلَّلة فاَمغلسدلوُما دوُدجوُهندكمم نوُأنميِلديِندكمم إلنلىَ املنمنرافل ل‬
‫نيِاَ أنيَيِنهاَ النلذيِنن آنمدنوُما إلنذا قدممتدمم إلنلىَ ال ن‬

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah
mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai
dengan kedua mata kaki.” (QS Al Maidah: 6)

Dan dalil dari tertib adalah hadits, “Mulailah dengan apa yang Allah memulai darinya.”

Dan dalilnya muwaalah adalah hadits sohibul lum’ah dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam
bahwasanya beliau melihat seorang laki-laki yang kakinya belum terbasuh air wudhu sebesar
dirham maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya untuk mengulangi
wudhunya.
Kewajiban dalam wudhu: membaca bismillah kalau ingat.

Pembatal wudhu ada delapan: keluar sesuatu dari dua jalur (qubul dan dubur), keluar sesuatu
yang kotor/najis dari badan, hilangnya akal, menyentuh wanita dengan syahwat, menyentuh
kemaluan dengan tangan baik itu qubul atau dubur, memakan daging onta , memandikan mayit,
dan murtad -semoga Allah melindungi kita darinya-.

Syarat Kelima: Menghilangkan Najis

Menghilangkan najis dari tiga hal: badan, pakaian, dan tempat (untuk sholat). Dalilnya firman
Allah ta’ala

‫ك فن ن‬
‫طههمر‬ ‫نوُثلنيِاَبن ن‬

“Dan pakaianmu bersihkanlah” (Al Mudatstsir: 4)

Syarat Keenam: Menutup Aurat

Telah bersepakat ahlul ilmi atas rusaknya sholat dengan telanjang sedangkan dia mampu
menutupinya. Batas dari aurat laki-laki adalah dari pusar sampai lutut. Batas aurat budak
perempuan juga seperti itu. Adapun perempuan merdeka maka auratnya adalah seluruh tubuh
kecuali wajahnya di dalam sholat. Dalilnya firrman Allah ta’ala

‫نيِاَ بنلنيِ آندنم دخدذوُما لزيِننتندكمم لعنند دكهل نممسلجلد‬

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid.” (QS Al A’raf:
31)

(Setiap memasuki masjid) yaitu maksudnya setiap mau sholat.


Syarat Ketujuh: Masuknya Waktu Sholat

Dalilnya dari sunnah adalah hadits Jibril ‘alaihissalaam bahwasanya dia mengimami Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam di awal dan di akhir waktu, lalu berkata, “Hai Muhammad, sholat
itu di antara kedua waktu ini.” Dan juga firman Allah ta’ala,

‫ت نعنلىَ املدممؤلملنيِنن لكنتاَباَ ا نمموُدقوُتاَ ا‬


‫صلَّنةن نكاَنَن م‬
‫إلنن ال ن‬

“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang
beriman.” (QS An Nisa’: 103)

Yaitu diwajibkan pada waktu-waktu tertentu. Dalil tentang waktu-waktu sholat adalah firman
Allah ta’ala,

‫ق اللنميِلل نوُقدمرآنن املفنمجلر إلنن قدمرآنن املفنمجلر نكاَنن نممشدهوُداا‬ ‫أنقللم ال ن‬


‫صلَّنةن للدددلوُلك النشمم ل‬
‫س إلنلىَ نغنس ل‬

“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula
shalat) subuh . Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS Israa’: 78)

Syarat kedelapan: Menghadap kiblat

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala,

‫ث نماَ دكنتدمم فننوُيَلوُما دوُدجلوُهندكمم نش م‬


‫طنرهد‬ ‫ك نش م‬
‫طنر املنممسلجلد املنحنرالم نوُنحميِ د‬ ‫ضاَنهاَ فننوُهل نوُمجهن ن‬ ‫ك لفيِ النسنماَء فنلنندنوُلهيِننن ن‬
‫ك قلمبلنةا تنمر ن‬ ‫قنمد نَننرىَ تنقنيَل ن‬
‫ب نوُمجله ن‬

“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit , maka sungguh Kami akan
memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram.
Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.” (QS Al Baqarah: 144)

Syarat Kesembilan: Niat

Tempatnya adalah di hati. Melafalkannya adalah bid’ah. Dalilnya adalah hadits, “Sesungguhnya
setiap amal itu tergantung pada niatnya dan setiap orang akan dibalas tergantung dari apa
yang dia niatkan.”

Rukun sholat ada empat belas: Berdiri jika mampu, kemudian takbiratul ihram, membaca Al
Fatihah, ruku’ dan berdiri darinya, sujud atas tujuh anggota badan, dan bangkit darinya, duduk di
antara dua sujud, thuma’ninah pada seluruh rukun, dan tertib, lalu tasyahud akhir, duduk
tasyahud akhir, kemudian sholawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan dua salam.

Rukun pertama: Berdiri jika mampu

Dalilya firman Allah ta’ala,

‫طىَ نوُدقوُدموُما لللل نقاَنَللتيِنن‬


‫صلَّنلة املدوُمس ن‬ ‫ظوُما نعنلىَ ال ن‬
‫صلننوُا ل‬
‫ت وُال ن‬ ‫نحاَفل د‬

“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa . Berdirilah untuk Allah
(dalam shalatmu) dengan khusyu’.” (QS Al Baqarah: 238)

Rukun kedua: Takbiratul Ihram

Dalilnya adalah hadits, “Awalnya adalah takbiratul ihram dan akhirnya adalah salam.”

Yang dilakukan setelah takbiratul ihram adalah membaca doa istiftah. Hukumnya adalah sunnah.
Bacaannya adalah {Subhaanakallahumma wabihamdik, watabaarakasmuk, wata’aala jadduk,
walaa ilaaha ghairuk}

Adapun makna {subhaanakallaahumma} yaitu saya mensucikanMu dengan pensucian yang


sesuai kemuliaanMu. Makna {wabihamdika} yaitu pujian atasMu. Makna {watabaarakasmuk}
yaitu tekeberkahan tercapai dengan mengingatmu. Makna {wata’aala jadduk} yaitu sangat besar
keagunganMu. Makna {walaa ilaaha ghairuk} yaitu tidak ada yang berhak untuk di sembah di
bumi dan di langit selain Engkau ya Allah. (Kemudian membaca){A’uudzubillaahi minasy
syaithaanirrajiim. Maknanya {a’uudzu} yaitu saya berlindung, bersandar dan berpegang teguh
kepadaMu ya Allah. {minasy syaithaanirrajiim} yaitu makhluk yang disingkirkan dan dijauhi
dari rahmat Allah, tidak membahayakanku pada urusan agama dan duniaku.

[Rukun Ketiga: Al Fatihah]

Bacaan Al-Fatihah merupakan rukun dalam setiap rakaat seperti dalam hadis:

‫ل صلَّة لمن لم يِقرأ بفاَتحة الكتاَب‬

“Tidak ada sholat bagi yang tidak membaca Al-Fatihah”.

Al-Fatihah adalah merupakan induknya Al-Qur’an.


[Makna Bacaan Al Fatihah:]

‫بسم ا الرحمن الرحيِم‬

Memohon keberkahan dan pertolongan.

‫الحمد ل‬

Alhamdu merupakan pujian. Alif dan lam disini menunjukkan istighraaq (mencangkup semua)
bentuk puji-pujian. Adapun sekedar keindahan semata seperti kecantikan maka pujian atasnya
disebut madh (pujian semata) bukan hamd (yang disertai pengagungan dan syukur).

‫رب العاَلميِن‬

Rabb (Tuhan) adalah yang berhak disembah, Dia adalah pencipta, pemberi rezeki, raja, yang
melakukan sesuatu atas keinginanNya, yang memelihara semua ciptaanNya dengan berbagai
macam kenikmatan.

Al ‘alamin, semua yang selain Allah disebut alam. Dia adalah rabb seluruh alam.

‫الرحمن‬

Ar Rahman merupakan rahmat yang umum yang meliputi seluruh makhluk.

‫الرحيِم‬

Ar Rahim merupakan rahmat yang khusus untuk orang-orang yang beriman. Dalilnya adalah
firman Allah ta’ala:

َ‫وُكاَن باَلمؤمنيِن رحيِما‬

“Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (Al-Ahzab: 43)

‫ماَلك يِوُم الدبن‬

Yaitu hari pembalasan dan perhitungan. Hari pembalasan atas segala amal. Jika amalnya baik,
maka baik pula balasannya. Namun, jika buruk amalnya, maka akan mendapat balasan yang
buruk. Dalilnya dalah firman Allah:

‫وُماَ أدراك ماَ يِوُم الديِن ثم ماَ أدراك ماَ يِوُم الديِن يِوُم ل تملك نَفس لنفس شيِئاَ وُالمر يِوُمئذ ل‬
“Tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari
pembalasan itu? (Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong satu
sama lainnya. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah.” (Al-Infithor: 17-19)

Dan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

ِ‫الكيِس من دان نَفسه وُعمل لماَ بعد الموُت وُالعاَجز من اتبع نَفسه هوُاهاَ وُتمنىَ علىَ ا الماَنَي‬

“Orang yang pandai ialah siapa saja yang menundukkan hawa nafsunya dan beramal untuk
hari setelah kematian (hari akhirat). Sedangkan orang yang lemah (bodoh) ialah siapa saja
yang senantiasa mengikuti hawa nafsunya dan banyak berangan-angan kepada Allah (tapi
tanpa beramal).”

‫ايِاَك نَعبد‬

Bermakna kami tidak beribadah kepada selainMu. Ini adalah bntuk perjanjian antara hamba
dengan Rabbnya untuk tidak menyembah kecuali hanya kepadaNya.

‫وُايِاَك نَستعيِن‬

Adalah perjanjian antara hamba dan RabbNya untuk tidak meminta pertolongan kepada siapapun
selain Allah.

‫اهدنَاَ الصراط المستقيِم‬

Ihdina bermakna beri kami petunjuk, taufiq, dan keistiqomahan.

As shiroot bermakna Islam. Ada yang mengartikan Rasulullah atau Al-Qur’an. Ketiga penafsiran
tersebuat semua benar.

Al mustaqiim adalah sesuatu yang tidak ada kebengkokan padanya.

‫صراط الذيِن أنَعمت عليِهم‬

Yaitu adalah jalan orang-orang yang Allah beri nikmat. Dalilnya adalah firman Allah:

َ‫وُمن يِطع ا وُالرسوُل فأوُلئك مع الذيِن أنَعم ا عليِهم من النبيِيِن وُالصديِقيِن وُالشهداء وُالصاَلحيِن وُحسن أوُلئك رفيِقا‬

“Dan barang siapa yang menaati Allah dan RasulNya, mereka itu akan bersama-sama dengan
orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin (yang
membenarkan para nabi), orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih. Dan mereka
itulah sebaik-baik teman dekat.” (An-Nisa: 69)
‫غيِر المغضوُب عليِهم‬

Yaitu Yahudi, mereka memiliki ilmu, namun tidak beramal dengan ilmunya. -Kita meminta
pertolongan kepada Allah untuk menjauhkan kita dari jalan mereka-.

‫وُل الضاَليِن‬

Yaitu kaum Nashara, mereka menyembah Allah di atas kebodohan dan kesesatan. -Kita meminta
pertolongan kepada Allah untuk menjauhkan kita dari jalan mereka.-

Dan dalil orang-orang yang sesat, adalah firman Allah dalam surat Al-Kahfi:

َ‫قل هل نَنبئكم باَلخسريِن أعماَل الذيِن ضل سعيِهم فيِ الحيِاَة الدنَيِاَ وُهم يِحسبوُن أنَهم يِحسنوُن صنعا‬

“Katakanlah: “apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling
merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan
dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (Al-Kahfi:
103-104)

Dan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

:‫هلل اليِهوُد وُالنصاَرىَ؟ قاَل‬،‫ يِاَ رسوُل ا‬:‫هلل قاَلوُا‬،‫هلل حتىَ لوُ دخلوُا جحر ضب لدخلتموُه‬،‫لتتبعن سنن من كاَن قبلكم حذوُ القذة باَلقذة‬
‫فمن؟ أخرجاَه‬

“Sungguh kalian akan mengikuti (meniru) tradisi umat-umat sebelum kalian sejengkal demi
sejengkal sampai kalaupun mereka masuk ke dalam liang biawak niscaya kalian akan masuk ke
dalamnya pula.“ para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, orang-orang Yahudi dan
Nasranikah?” beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “siapa lagi?”

Dan hadits kedua:

‫هلل وُستفترق هذه المة علىَ ثلَّثا وُسبعيِن‬،‫هلل وُافترقت النصاَرىَ علىَ اثنيِن وُسبعيِن فرقة‬،‫افترقت اليِهوُد علىَ لإحدىَ وُسبعيِن فرقة‬
ِ‫ من كاَن علىَ مثل ماَ أنَاَ عليِه وُأصحاَبي‬:‫ من هيِ يِاَ رسوُل ا؟ قاَل‬:َ‫هلل قلنا‬،‫هلل كلهاَ فيِ الناَر لإل وُاحدة‬،‫فرقة‬

“Yahudi telah berpecah-belah menjadi 71 golongan, dan Nashara telah berpecah belah menjadi
72 golongan. Dan akan berpecah belah umat ini menjadi 73 golongan, semuanya di neraka
kecuali satu. Para sahabat berkata: “Wahai Rasulullah siapa mereka itu?” beliau berkata:
“Mereka adalah yang berada di atas jalanku dan para sahabatku.”

[Rukun Sholat Berikutnya]


Ruku’, bangkit dari ruku’, sujud dengan tujuh anggota badan, bangkit dari sujud, duduk diantara
dua sujud. Dalilnya adalah firman Allah: “Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu,
sujudlah kamu.” (QS Al-Hajj: 77). Dan juga dalam hadits: “Aku diperintahkan sujud di atas
tujuh anggota badan.”

Dan thuma’ninah dalam seluruh perbuatan, dan tertib antara rukun-rukun tersebut, dan dalilnya
adalah hadits mengenai seorang laki-laki yang buruk shalatnya, diriwayatkan oleh Abu Hurairah:
“Suatu hari kami duduk bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika datang seorang laki-
laki yang kemudian shalat dan (setelah itu) kemudian memberi salam kepada Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam. Lalu Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: Kembali dan shalatlah
karena sesungguhnya engkau belum shalat. Hal itu terjadi tiga kali, kemudian orang itu berkata,
Demi Yang Mengutusmu dengan haq, aku tidak dapat melakukan yang lebih baik dari ini, maka
ajarkanlah kepadaku.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Jika engkau berdiri
untuk shalat, maka bertakbirlah, kemudian bacalah yang mudah bagimu dari Al-Qur’an,
kemudian ruku’lah hingga engkau thuma’ninah dalam keadaan ruku’, kemudian angkatlah
hingga engkau beridri lurus, kemudian sujudlah hingga engkau thuma’ninah dalam keadaan
sujud, kemudian angkatlah hingga engkau thuma’ninah dalam keadaan duduk, dan kerjakanlah
yang demikian itu dalam shalatmu seluruhnya.”

Dan tasyahud akhir adalah rukun yang termasuk faridhah, sebagaimana di dalam hadits yang
diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud, sebelum tasyahud diwajibkan bagi kami, kami mengatakan:
Assalaamu ‘ala Allahi min ibadihi, assalaamu ‘ala Jibril wa Mikail. Maka Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam berkata: “Jangan katakan ‘assalaamu ‘ala Allahi’ karena sesungguhnya Allah
adalah As-Salaam. Namun katakanlah: “Attahiyaatu Lillahi was Salawatu wat Thayyibaat. As-
Salamu ‘alaika ayyuhan Nabi wa rahmatullahi wabarakatuh. As-Salamu ‘alaina wa ‘ala
ibaadillahi shalihin. Asyhadu an Laa ilaaha Illa Allah wa Asyhadu anna Muhammadan abduhu
wa Rasuuluhu.

Makna (‫ )التحيِاَت‬adalah segalah penghormatan hanya milik Allah, yang memiliki dan berhak
mendapatkannya, seperti ketundukan, ruku’, sujud, tetap dan terus-menerus (mendiami suatu
tempat). Segala sesuatu yang karenanya Rabb semesta alam diagungkan, maka itu adalah milik
Allah semata. Maka barangsiapa yang mengarahkan bagian mana saja dari pengagungan kepada
selain Allah, dia adalah musryikin kafir.

Makna (‫ )وُالصلوُات‬adalah seluruh doa, dan dikatakan juga maknanya adalah shalat lima waktu.
(At Thayyibat), Allah adalah Dzat yang indah/baik, yang tidak menerima amalan baik perkataan
maupun perbuatan kecuali yang baik.
(‫ ) السلَّم عليِك أيِهاَ النبيِ وُ رحمة ا وُ بركاَته‬artinya engkau mendoakan Nabi atas keselamatan, rahmat
dan berkah. Yang didoakan baginya maka tidak boleh berdoa kepadanya bersamaan dengan
Allah.

(‫ )السلَّم عليِناَ وُ علىَ عباَد ا الصاَلحيِن‬berarti engkau mengirimakn salam atas dirimu dan atas setiap
hamba yang shalih di langit dan di bumi. Dan salam adalah doa. Orang-orang shalih didoakan,
bukan berdoa kepada mereka bersama berdoa kepada Allah.

(‫ )أشهد أن ل إله إل ا وُ حده ل شريِك له‬engkau bersaksi dengan persaksian penuh keyakinan bahwa
tidak ada yang berhak diibadahi di langit dan di bumi kecuali Allah. Dan engkau bersaksi bahwa
Muhammad adalah Rasul Allah. Beliau adalah hamba yang tidak boleh diibadahi, dan rasul yang
tidak boleh didustakan. Melainkan beliau harus diitaati dan diikuti. Allah memuliakannya dengan
ubudiyyah dan risalah. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala: “Maha suci Allah yang telah
menurunkan Al-Furqaan (Al Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan
kepada seluruh alam.“ (QS Al Furqan: 1)

(‫ )اللهم صل علىَ محمد وُ علىَ آل محمد كماَ صليِت علىَ إبراهيِم إنَك حميِد مجيِد‬artinya Ya Allah limpahkanlah
shalawat atas Muhammad dan atas keluarga Muhammad sebagaimana Engkau limpahkan
shalawat atas Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Sholawat dari
Allah maksudnya adalah pujian-Nya kepada hamba-Nya di mala’il a’la (tempat yang tinggi),
sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahih-nya dari Abul ‘Aliyah yang
berkata: “Shalawat dari Allah maksudnya adalah pujian-Nya kepada hamba-Nya di malail a’la”.
Dikatakan juga bahwa maknanya adalah berarti rahmat. Namun pengertian pertama lebih benar.
Adapun shalawat dari malaikat, maka ia berarti memohon ampunan. Dan dari manusia, ia berarti
doa. Adapun ucapan wabaarik dan yang setelahnya maka hal tersebut hukumnya sunnah dari
perkataan dan perbuatan.

Kewajiban-kewajiban shalat ada delapan: Seluruh takbir kecuali takbiratul ihram, perkataan
‫ سبحاَن ربيِ العظيِم‬dalam ruku’, perkataan ‫سمع ا لمن حمده‬bagi imam dan yang shalat sendirian,
perkataan ‫ربناَ وُ لك الحمد‬bagi setiap orang, perkataan َ‫سبحاَن ربيِ العلى‬dalam sujud, perkataan ‫رب‬
ِ‫اغفر لي‬di antara dua sujud, tasyahud awal, duduk pada tasyahud awal.

[Definisi Rukun dan Wajib]

Rukun adalah hal-hal yang jika terlewat baik karena lupa atau sengaja maka batal shalatnya
karena meninggalkannya. Adapun kewajiban adalah hal-hal yang jika terlewat dengan sengaja
maka shalatnya batal karena meninggalkannya. Namun jika terlewat karena lupa, maka diganti
dengan sujud sahwi di akhir shalat. Wallahu a’lam.

[Diterjemahkan oleh peserta halaqah bahasa Arab: Hamdan Latif, Muh. Dian, Umar Syarif.
Dimurajaah oleh Abu Zakariya Sutrisno. Riyadh, 9 Mei 2015]