Anda di halaman 1dari 18

PRAKTIKUM FITOFARMAKA

MATERI 1

PEMBUATAN EKSTRAK RIMPANG


Kaempferia galanga

Nama : Dikna Eka Komsania


NIM : 201510410311183
Kelas : Farmasi D
Kelompok :7

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2018
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia merupakan negara yang mempunyai berbagai macam keanekaragaman
tumbuhan yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan manusia. Salah satunya adalah
kencur (Kaempferia galanga). Kencur (Kaempferia galanga) merupakan tanaman tropis
yang banyak tumbuh di berbagai daerah di Indonesia sebagai tanaman yang dipelihara.
Tanaman ini banyak digunakan sebagai ramuan obat tradisional dan sebagai bumbu
dalam masakan sehingga para petani banyak yang membudidayakan tanaman kencur
sebagai hasil pertanian yang diperdagangkan. Bagian dari kencur yang diperdagangkan
adalah buah akar yang ada di dalam tanah yang disebut rimpang kencur atau rizoma
(Barus 2009).

Rimpang kencur sudah dikenal luas di masyarakat baik sebagai bumbu makanan
atau untuk pengobatan, diantaranya adalah batuk, mual, bengkak, bisul dan jamur. Selain
itu minuman beras kencur berkhasiat untuk menambah daya tahan tubuh, menghilangkan
masuk angin, dan kelelahan, dengan dicampur minyak kelapa atau alkohol digunakan
untuk mengurut kaki keseleo atau mengencangkan urat kaki. Komponen yang terkandung
di dalamnya antara lain saponin, flavonoid, polifenol dan minyak atsiri. Tanaman ini
termasuk kelas monocotyledonae, bangsa Zingiberales, suku Zingiberaceae dan, marga
Kaempferia (Winarto 2007).

Ekstrak merupakan kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut


sehingga terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair. Ekstrak adalah
sediaan kental yang diperoleh dengan mengekstraksi senyawa aktif dari simplisia nabati
atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir
semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian
hingga memenuhi baku yang telah ditetapkan.

Mengekstraksi senyawa aktif dari simplisia nabati atau hewani dapat


menggunakan beberapa metode ekstraksi. Pada praktikum kali ini kita menggunakan
metode ekstraksi menggunakan pelarut cara dingin dengan metode maserasi.
1.2 Tujuan

Berdasarkan latar belakang diatas praktikum kali ini bertujuan agar mahasiswa dapat
mengetahui dan mampu melakukan ekstraksi rimpang kencur (Kaempferiagalanga)
dengan berbagai macam metode maserasi.

1.2 Manfaat
Berdasarkan tujuan diatas maka pada praktikum kali ini memiliki manfaat agar
mahasiswa dapat mengetahui dan mampu melakukan ekstraksi rimpang kencur
(Kaempferiagalanga) dengan berbagai macam metode maserasi.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanaman Kencur

2.1.1 Klasifikasi Tanaman

Kingdom : Plantae

Divisi : Magnoliphyta

Kelas : Liliopsida

Ordo : Zingiberales

Famili : Zingiberaceae

Subfamili : Zingiberoideae

Genus : Kaempferia

Spesies : K.galanga

Nama Binomial : Kaempferia galanga Linn (Wikipedia.com)

2.1.2 Morfologi Kencur

Kencur (Kaempferia galanga L.) merupakan tanaman tropis yang banyak


tumbuh diberbagai daerah di Indonesia sebagai tanaman yang dipelihara. Tanaman
ini banyak digunakan sebagai ramuan obat tradisional dan sebagai bumbu dalam
masakan sehingga para petani banyak yang membudidayakan tanaman kencur
sebagai hasil pertanian yang diperdagangkan. Bagian dari kencur yang
diperdagangkan adalah buah akar yang ada didalam tanah yang disebut rimpang
kencur atau rizoma (Barus, 2009).

Berdasarkan ukuran daun dan rimpangnya, dikenal 2 tipe kencur, yaitu kencur
berdaun lebar dengan ukuran rimpang besar dan kencur berdaun sempit dengan
ukuran rimpang lebih kecil (Syukur dan Hernani, 2001).

Kencur digolongkan sebagai tanaman jenis empon-empon yang mempunyai


daging buah yang lunak dan tidak berserat. Kencur merupakan terna kecil yang
tumbuh subur didaerah dataran atau pegunungan yang tanahnya gembur dan
tidakterlalu banyak air. Rimpang kencur mempunyai aroma yang spesifik. Daging
buah kencur berwarna putih dan kulit luarnya berwarna coklat.jumlah helaian daun
kencur tidak lebih dari 2-3 lembar dengan susunan berhadapan. Bunganya tersusun
setengah duduk dengan mahkota bunga berjumlah antara 4-12 buah, bibir bunga
berwarna lembayung dengan warna putih lebih dominant. Kencur tumbuh dan
berkembang pada musim tertentu, yaitu pada musim penghujan kencur dapat
ditanam dalam pot atau dikebun yang cukup sinar matahari, tidak terlalu basah dan
di tempat terbuka (Thomas, 1989).

2.1.3 Kandungan Senyawa

Kencur banyak digunakan sebagai bahan baku obat tradisional (jamu),


fitofarmaka industry kosmetika, penyedap makanan dan minuman, rempah, serta
bahan campuran saus rokok pada industry rokok kretek, bahkan dapat
dimanfaatkan sebagai bioinsektisida. Secara empiric kencur digunakan sebagai
penambah nafsu makan, ekspektoran, obat batuk, disentri,tonikum, infeksi bakteri,
masuk angina, sakit perut .

Rimpang kencur mengandung minyak atsiri sekitar 2-4% yang terdiri


dari 3,7,7-trimetil-bisiklo-[4,1,0]-hept-3-ena, etil sinamat, etil para metoksi sinamat
(EPMS), para metoksi stirena, n-penta dekana, borneal, dan kamfen . Rimpang
kencur berkhasiat sebagai obat batuk, obat lambung, obat mual, obat bengkak, dan
obat bisul (Depkes RI, 2001).

2.1.4 Kandungan Kimia

Kandungan kimia tanaman kencur yaitu etil sinamat, etil p-metoksisinamat, p-


metoksistiren, karen, borneol, dan parafi n. Kandungan minyak atsiri kencur adalah
α-pinena, kampena, δ-3- carene, α-pelandrena, limonene, p-simena $$ 4-
isopropiltoluena, 7,8-epoksitrisiklo dodekana, 5-metiltrisiklo undek-2-en-4- one, 2-
asam propenoat,3-(4-metoksifenil)- ,etilester, dapat digunakan sebagai pelangsing.
Etilester mempunyai nama trivial etil p-metoksi sinamat. Etil sinamat dan etil p-
metoksi sinamat (EPMS) dari minyak atsiri kencur banyak digunakan didalam
industri kosmetika dan dimanfaatkan dalam bidang farmasi sebagai obat asma dan
anti jamur (Assaat, 2011).
2.2 Ekstraksi

2.2.1 Pengertian

Ekstraksi adalah proses atau metode penarikan komponen/zat aktif suatu


simplisia dengan menggunakan pelarut tertentu yang dapat melarutkan salah satu
komponennya saja dengan menggunakan prinsip like dissolve like. Kaidah like
dissolve like berarti suatu senyawa akan larut pada pelarut yang sama derajat
kepolarannya, senyawa polar larut pada pelarut polar dan senyawa non polar larut
pada senyawa non polar (Ansel, 1989).

Ekstraksi suatu senyawa dalam tumbuhan dapat dilakukan dengan maserasi,


perkolasi, sokhletasi dan destilasi uap. Metode maserasi secara umum digunakan
untuk ekstraksi bagian-bagian tumbuhan seperti buah, bunga, daun, kulit batang,
dan akar (Lenny, 2006).

2.2.2 Metode Ekstraksi

Tujuan utama dari ekstraksi adalah untuk mendapatkan atau memisahkan


sebanyak mungkin zat-zat yang memiliki khasiat pengobatan. Zat aktif yang
terdapat dalam simplisia tersebut dapat digolongkan ke dalam golongan minyak
atsiri, alkaloid, flavonoid dan lain-lain (Depkes RI, 2000).

Menurut Depkes RI (2000), ada beberapa metode ekstraksi yang sering


digunakan antara lain yaitu:
a. Cara dingin
1. Maserasi
Maserasi adalah penyarian simplisia dengan cara perendaman
menggunakan pelarut disertai sesekali pengadukan pada temperatur kamar.
Maserasi yang dilakukan pengadukan secara terus menerus disebut maserasi
kinetik sedangkan yang dilakukan panambahan ulang pelarut setelah
dilakukan penyaringan terhadap maserat pertama dan seterusnya disebut
remaserasi.
Modifikasi Maserasi dibagi menjadi, diantaranya:
1) Konvensional
Salah satu contoh ekstraksi maserasi konvensional adalah
soxhlet. Soxhlet adalah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru
yang umumnya dilakukan dengan alat khusus sehingga terjadi ekstraksi
kontinu dengan jumlah plarut relatif konstan dengan adanya pendingin
balik. Metode konvensional pada umumnya menggunakan pelarut
organik dalam jumlah besar, selain itu membutuhkan waktu yang relatif
lama seperti maserasi pada umunya yaitu selama 2x24 jam, waktu yang
lama dianggap tidak efektif, karena menggunakan energi dalam jumlah
besar dengan kandungan dalam bahan yang rusak karena pemanasan
yang lama (Depkes RI., 2000).
2) Kinetik
Berdasarkan penelitian Fauzana (2010), maserasi sederhana
didefinisikan sebagai metode ekstraksi dimana sampel direndam
menggunakan pelarut dalam kurun waktu tertentu dengan atau tanpa
pengadukan pada suhu ruang. Kinetika maserasi dan maserasi dengan
tekanan tidak jauh berbeda dengan maserasi sederhana. Titik perbedaan
kinetika maserasi terletak pada dilakukannya pengadukan berkecepatan
konstan. Metode maserasi yang digunakan dalam penelitian sebelumnya
cenderung mengarah pada kinetika maserasi karena menggunakan
pengadukan yang konstan, yakni 200 rpm dan waktu selama 4 jam.
3) Ultrasonik
Maserasi ultrasonik merupakan metode maserasi yang
dimodifikasi dengan menggunakan bantuan sinyal dengan frekuensi
tinggi. Wadah yang berisi serbuk sampel ditempatkan dalam wadah
ultrasonik. Hal ini dilakukan untuk memberikan tekanan mekanik
pada sel hingga menghasilkan rongga pada sampel. Kerusakan sel
dapat menyebabkan peningkatan kelarutan senyawa dalam pelarut dan
meningkatkan hasil ekstraksi (Mukhriani, 2014).
Getaran uktrasonik (> 20.000 Hertz) memberikan efek pada
proses ekstrak dengan prinsip meningkatkan permeabilitas dinding
sel, menimbulkan gelembung spontan sebagai stress dinamik serta
menimbulkan fraksi interfase. Hasil ekstraksi tergantung pada
frekuensi getaran, kapasitas alat dan lama proses ultrasonik (Depkes
RI., 2000).
2. Perkolasi
Perkolasi adalah proses penyarian simplisia menggunakan alat
perkolator dengan pelarut yang selalu baru sampai terjadi penyarian
sempurna yang umumnya dilakukan pada temperatur kamar. Proses
perkolasi terdiri dari tahap pengembangan bahan, tahap maserasi antara,
tahap perkolasi sebenarnya (penetesan/penampungan ekstrak) terus menerus
sampai diperoleh perkolat.
b. Cara panas
1) Infundasi
Infundasi adalah proses penyarian dengan menggunakan pelarut air
pada temperatur 90°C selama 15 menit. Universitas Sumatera Utara 8
Refluks Refluks adalah proses penyarian simplisia pada temperatur titik
didihnya menggunakan alat dengan pendingin balik dalam waktu tertentu
dimana pelarut akan terkondensasi menuju pendingin dan kembali ke labu.
2) Refluks
Refluks adalah ekstraksi dengan pelarut pada temperatur tititk
didihnya, selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relatif
konstan dengan adanya pendingin balik.
3) Sokletasi
Sokletasi adalah ekstraksi dengan menggunakan pelarut yang pada
umumnya dilakukan dengan alat khusus sehingga terjadi ekstraksi kontinu
dan jumlah pelarut relatif konstan dengan adanya pendingin balik.
4) Dekok
Dekok adalah infus pada waktu yang lebih lama dan temperatur sampai
titik didih air, yakni 30 menit pada suhu 90-1000 C.
5) Digesti
Digesti adalah maserasi kinetik (dengan pengadukan kontinu) pada
temperatur yang lebih tinggi dari temperatur ruangan, yaitu secara umum
dilakukan pada temperatur 40-500 C.
BAB III

PROSEDUR KERJA

3.1 Alat dan Bahan

A. Bahan
1. Ekstrak rimpang kencur
2. Etanol 96%
3. Cab-o-sil
B. Alat

1. Wadah maserasi (botol kaca)


2. Labu erlenmeyer
3. Beaker glass
4. Batang pengaduk
5. Corong buchner
6. Kertas saring
7. Rotavapor
8. Sudip
9. Botol selai
10. Loyang
11. Mortir dan stamper
3.2 Prosedur Pembuatan ekstrak kering rimpang Kaempferia galanga

A. Metode Maserasi
1. Ditimbang 400g serbuk rimpang kencur, dimasukkan dalam bejana maserasi.
2. Ditambahkan 1000ml etanol 96%, aduk sampai serbuk terbasahi.
3. Hasil nomor 2 ditambahkan 600ml etanol 96%, aduk sampai homogen, tutup
bagian mulut bejana dengan alumunium, dan diamkan selama 24jam.
4. Hasil maserasi nomor 2 disaring. Tamping filtrat dan lakukan kembali maserasi
dengan 1200ml etanol 96% pada residu selama 24jam.
5. Disaring hasil maserasi nomor 3. Tamping filtrat dan lakukan kembali maserasi
dengan 1200ml etanol pada residu selama 24jam.
6. Disaring kembali maserasi nomor 4. Kumpulkan semua filtrat menjadi satu.
7. Kalibrasi labu pada rotavapor (berisi ektrak), berikan tanda pada volume 400mL.
8. Filtrat yang terkumpul dilakukan pemkatan dengan rotavapor yaitu penguapan
dengan penurunan tekanan hingga volume terisisa ± 400ml (tanda kalibrasi) dan
pindahkan hasilnya kedalam Loyang. Ratakan ekstrak pada loyang.
9. Ditambahkan cab-o-sil sebanyak 5% dari esktrak (20g) dengan ditaburkan sedikit
demi sedikit secara merata. Kemudian diamkan selama semalam (sampai kering).
10. Homogenkan dan simpan pada wadah tertutup (botol selai)
11. Berikan label identitas pada wadah.

B. Metode Maserasi Kinetika


1. Ditimbang 400g serbuk rimpang kencur, dimasukkan dalam bejana maserasi.
2. Ditambahkan 1000ml etanol 96%, aduk sampai serbuk terbasahi.
3. Hasil nomor 2 ditambahkan 600ml etanol 96%, aduk sampai homogen, tutup
bagian mulut bejana dengan alumunium, lakukan pengadukan pada kecepatan
tertentu (semua serbuk simplisia teraduk) selama 2jam. (catat kecepatan yang
digunakan).
4. Hasil maserasi nomor 2 disaring. Tamping filtrat dan lakukan kembali maserasi
kinetika dengan 1200ml etanol 96% pada residu selama 2 jam pada kecepatan
yang sama (perlakuan).
5. Disaring hasil maserasi nomor 3. Tamping filtrat dan lakukan kembali maserasi
kinetika dengan 1200ml etanol pada residu selama 2 jam pada kecepatan yang
sama (perlakuan nomor 3).
6. Disaring kembali maserasi nomor 4. Kumpulkan semua filtrate menjadi satu.
7. Kalibrasi labu rotavapor (berisi ekstrak), berikan tanda pada volume 400mL.
8. Filtrat yang terkumpul dilakukan pemkatan dengan rotavapor yaitu penguapan
dengan penurunan tekanan hingga volume terisisa ± 400ml (tanda kalibrasi) dan
pindahkan hasilnya kedalam Loyang. Ratakan ekstrak pada loyang.
9. Ditambahkan cab-o-sil sebanyak 5% dari esktrak (20g) dengan ditaburkan sedikit
demi sedikit secara merata. Kemudian diamkan selama semalam (sampai kering).
10. Homogenkan dan simpan pada wadah tertutup (botol selai)
11. Berikan label identitas pada wadah.

C. Metode Maserasi Ultrasonika


1. Ditimbang 50g serbuk rimpang kencur, dimasukkan dalam bejana maserasi
(Erlenmeyer 250ml).
2. Ulangi perlakuan nomor 1 sebanyak 7kali.
3. Ditambahkan 200ml etanol 96% pada masing-masing bejana maserasi (8
erlenmeyer), aduk sampai serbuk terbasahi.
4. Hasil nomor 3 tutup bagian mulut bejana dengan alumunium, masukkan dalam
bejana ultrasonik, dan getarkan selama 15menit.
5. Hasil maserasi pada nomor 4 disaring (8 erlenmeyer). Tampung filtrat dan
lakukan kembali maserasi dengan getaran ultrasonik dengan 200ml etanol 96%
pada masing-masing residu (8 erlenmeyer) selama 15menit. (Perlakuan nomor 4).
6. Hasil maserasi pada nomor 5 disaring. Tamping filtrat dan lakukan kembali
maserasi dengan getaran ultrasonik dengan 200ml etanol 96% pada masing-
masing residu (8 erlenmeyer) selama 15 menit (perlakuan nomor 4).
7. Disaring kembali maserasi nomor 6. Kumpulkan semua filtrat menjadi satu.
8. Kalibrasi labu rotavapor (berisi ekstrak), berikan tanda pada volume 400mL.
9. Filtrat yang terkumpul dilakukan pemekatan dengan rotavapor yaitu penguapan
dengan penurunan tekanan hingga volume tersisa ± 400mL (tanda kalibrasi) dan
pindahkan hasilnya kedalam Loyang. Ratakan ekstrak pada Loyang.
10. Ditambahkan cab-o-sil sebanyak 5% dari ekstrak (20g) dengan ditaburkan sedikit
demi sedikit secara merata. Kemudian diamkan selama semalam (sampai kering).
11. Homogenkan dan simpan pada wadah tertutup (botol selai).
12. Berikan label identitas pada wadah.
3.3 Bagan Alir

A. Metode Maserasi

Ditimbang 400 g serbuk rimpang kencur, dimasukan dalam bejana


maserasi

Ditambahkan 1000 ml etanol 96% aduk hingga seluruh serbuk


terbasahi

Residu ditambahkan 600 ml etanol 96%, dan di diamkan selama 24


jam

Hasil maserasi di saring, tampung filtrat, dan dilakukan kembali maserasi dengan 1200
ml etanol 96% selama 24 jam

Disaring hasil maserasi, tampung filtrat, dan dialkukan kembali maserasi dengan
1200 ml etanol 96% selama 24 jam

Disaring kembali maserasi no. 4. Kumpulkan semua filtrat


menjadi satu

Kaliberasi labu pada rotavapor (berisi ekstrak), berikan tanda pada


volume 400 ml

Filtrat dipekatkan dengan rotavapor hingga volume tersisa 400 ml (tanda


kaliberasi). Kemudian hasilnya dipindahkan kedalam loyang dan diratakan

Ditambahkan cab-o-sil sebanyak 5% dari ekstrak 20 g dengan ditaburkan sedikit


demi sedikit secara merata. Kemudian diamkan selama semalam (sampai kering)

Homogenkan dan simpan pada wadah tertutup (botol


selai)

Berikan label identitas pada


wadah
B. Metode Maserasi Kinetik

Ditimbang 400 g serbuk rimpang kencur, dimasukan dalam bejana


maserasi

Ditambahkan 1000 ml etanol 96% aduk hingga seluruh serbuk


terbasahi

Residu ditambahkan 600 ml etanol 96%, tutup mulut bejana dan


lakukan) selama 2 jam

Hasil maserasi disaring. Tampung filtrat dan dilakukan kembali maserasi


dengan 1200 ml etanol 96% pada residu selama 2 jam pada kecepatan yang
sama

Hasil maserasi disaring. Tampung filtrat dan lakukan kembali maserasi dengan
1200 ml etanol 96% pada residu selama 2 jam pada kecepatan yang sama

Disaring kembali dan dikumpulkan semua filtrat menjadi


satu

Kaliberasi labu pada rotavapor (berisi ekstrak), berikan tanda pada volume
400 ml

Filtrat yang terkumpul dipekatkan dengan rotavapor hingga volume tersisa


400 ml (tanda kaliberasi). Kemudian hasilnya dipindahkan kedalam loyang
dan diratakan

Ditambahkan cab-o-sil sebanyak 5% dari ekstrak 20 g dengan


ditaburkan sedikit demi sedikit secara merata. Kemudian diamkan
selama semalam (sampai kering)

Homogenkan dan simpan pada wadah tertutup (botol


selai)

Berikan label identitas pada


wadah
C. Metode Maserasi Ultrasonika

Ditimbang 50 g serbuk rimpang kencur, dimasukkan dalam bejana maserasi (erlenmeyer


250 ml)

Ulangi perlakuan no. 1 sebanyak 7 kali.

Ditambahkan 200 ml etanol 96% pada masing-masing bejana maserasi (8 erlenmeyer), aduk
sampai serbuk terbasahi

Tutup bagian mulut bejana dengan alumunium, masukkan dalam bejana ultrasonik, dan
digetarkan selama 15 menit

Hasil maserasi disaring (8 erlenmeyer). Tampung filtrat dan lakukan kembali maserasi
dengan getaran ultrasonik dengan 200 ml etanol 96% pada masing-masing residu selama 15
menit

Hasil maserasi disaring. Tampung filtrat dan lakukan kembali maserasi dengan getaran
ultrasonik dengan 200 ml etanol 96% pada masing-masing residu selama 15 menit

Disaring kembali dan dikumpulkan semua filtrat menjadi satu

Kaliberasi labu pada rotavapor (berisi ekstrak), berikan tanda pada volume 400
ml

Filtrat yang terkumpul dipekatkan dengan rotavapor hingga volume tersisa 400
ml (tanda kaliberasi). Kemudian hasilnya dipindahkan kedalam loyang dan
diratakan

Ditambahkan cab-o-sil sebanyak 5% dari ekstrak 20 g dengan ditaburkan


sedikit demi sedikit secara merata. Kemudian diamkan selama semalam
(sampai kering)

Homogenkan dan simpan pada wadah tertutup (botol


selai)

Berikan label identitas pada


wadah
BAB IV

HASIL
BAB V

PEMBAHASAN
DAFTAR PUSTAKA

Barus R,2009. Amidasi p-metoksisinnamat yang Diisolasi dari kencur (Kaempferia galangal.
L). Sumatra Utara: Program Pascasarjana USU.

Winarto, W. P., 2007, Tanaman Obat Indonesia Untuk Pengobatan Herbal, 152- 153, Jakarta,
Karyasari Herba Media.

Syukur, C., dan Hernani, 2001, Budidaya Tanaman Obat Komersial, Penebar Swadaya,
Jakarta, 65.

Thomas, A. N. S., 1989, Tanaman Obat Tradisional, Kanisius, Yogyakarta.

Depkes RI. Profil kesehatan Indonesia 2001.Menuju Indonesia sehat 2010. Jakarta:
Departemen Kesehatan RI. 2002:20

Assaat LD. 2011. Fraksionasi senyawa aktif minyak atsiri kencur (Kaemferia galanga L.)
sebagai pelangsing [disertasi]. Bogor: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam, Institut Pertanian Bogor.

Ansel, H.C., 1989, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, diterjemahkan oleh Farida Ibrahim,
Asmanizar, Iis Aisyah, Edisi keempat, 255-271, 607-608, 700, Jakarta, UI Press.

Lenny, S., 2006, Senyawa Flavanoida, Fenilpropanida dan Alkaloida, Karya Ilmiah
Departemen Kimia Fakultas MIPA Universitas Sumatera Utara.

Ditjen POM, Depkes RI , 2000, Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat,
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta, 9-11,16.
Fauzana D.L., 2010, Perbandingan Metode Maserasi, Remaserasi, Perkolasi, dan Reperkolasi
Terhadap Rendemen Ekstrak Temulawak (Curcuma 35 xanthorrhiza Roxb.),
Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Skripsi.

Mukhriani, 2014, Ekstraksi, Pemisahan Senyawa, dan Identifikasi Senyawa Aktf, Jurnal
Kesehatan, 7(2): 361-367.