Anda di halaman 1dari 11

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian


Penelitian ini menggunakan metode penelitian pengembangan (development
research) yang bertujuan untuk menghasilkan bahan ajar fisika berbasis
pendekatan saintifik dalam bentuk LKPD pada pada tema cahaya dan alat optik.
Model pengembangan yang digunakan adalah model pengembangan Rowntree,
yaitu model pengembangan yang berorietasi pada menghasilkan produk, yakni
bahan ajar.
Model pengembangan ini terdiri atas tiga tahap, yaitu: (1) tahap
perencanaan, (2) tahap pengembangan, (3) tahap evaluasi. Tahap perencanaan
yaitu analisis kebutuhan dan perumusan tujuan pembelajaran. Pada tahap
pengembangan, dilakukan pengembangan topik, penyusunan draft, dan produksi
prototipe. Pada tahap evaluasi, peneliti menggunaan model evaluasi formatif
Tessmer yang dilakukan melalui lima tahapan, yaitu: (1) self evaluation; (2)
expert review; (3) one-to-one; (4) small group; (5) field test. Pada penelitian ini
peneliti hanya melakukan tahap evaluasi sampai pada tahap small group saja
sesuai dengan tujuan penelitian.

3.2 Subjek Penelitian


Subjek penelitian adalah sesuatu yang diteliti baik orang, benda, ataupun
lembaga (organisasi). Subjek penelitian pada dasarnya adalah yang akan dikenai
kesimpulan hasil penelitian (Arikunto, 2013). Pada penelitian ini subjek
penelitiannya adalah materi cahaya dan alat optik kelas VIII SMP.

3.3 Waktu dan Tempat Penelitian Pengembangan


Penelitian ini dilaksanakan dengan tahap perencanaan dan pengembangan
pada Januari 2016 – Februari 2016 kemudian tahap evaluasi pada Maret 2016 di
SMP Negeri 1 Indralaya Utara.

18
3.4 Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian pengembangan ini dilakukan melalui tiga tahap, yaitu:
3.4.1 Tahap Perencanaan
Pada tahap ini dilakukan dua langkah, yaitu sebagai berikut.
a. Analisis Kebutuhan
Pada penelitian ini peneliti mengawali tahap perencanaan dengan
melakukan analisis kebutuhan. Peneliti menentukan tempat penelitian
yaitu di SMP Negeri 1 Indralaya Utara. Kemudian peneliti melakukan
wawancara informal dengan siswa dan guru. Proses wawancara
dilakukan dengan bertanya secara langsung kepada beberapa siswa dan
guru mengenai proses pembelajaran IPA dan bahan ajar yang tersedia di
sekolah untuk menunjang proses belajar tersebut. Hasil dari analisis
kebutuhan didapatkan bahwa: (1) kurikulum yang digunakan SMP
Negeri 1 Indralaya Utara adalah kurikulum 2013; (2) materi fisika dirasa
sulit bagi siswa karena proses pembelajaran yang kurang menekankan
pada proses ilmiah; (3) bahan ajar yang digunakan masih belum lengkap,
yaitu hanya terdapat buku paket yang dipinjamkan sementara saat
pembelajaran berlangsung. Dari analisis kebutuhan peneliti menentukan
bahwa bahan ajar yang akan dikembangkan berupa Lembar Kerja
Peserta Didik (LKPD) berbasis pendekatan saintifik dengan materi yang
disajikan yaitu cahaya dan alat optik.
b. Perumusan Tujuan Pembelajaran
Perumusan tujuan pembelajaran bertujuan untuk menentukan
kompetensi yang harus dimiliki siswa setelah mempelajari bahan ajar.
Pada tahap ini peneliti menyusun rumusan tujuan pembelajaran dengan
mengacu pada silabus kurikulum 2013. Berdasarkan silabus, peneliti
melihat kompetensi dasar dan indikator sesuai materi cahaya dan alat
optik. Dari kompetensi dasar dan indikator tersebutlah peneliti
menyusun tujuan pembelajaran yang berguna untuk menentukan
kompetensi yang harus dimiliki siswa.

19
3.4.2 Tahap Pengembangan
Tahap pengembangan terdiri atas tiga langkah yakni,
a. Pengembangan Topik
Setelah menentukan materi yang akan disajikan didalam bahan ajar,
peneliti membuat analisis konsep dan garis besar isi lembar kerja peserta
didik (GBILKPD). Penyusunan analisis konsep dilakukan dengan
menganalisis materi, menetukan konsep-konsep yang berkaitan dengan
materi, mengkategorikan hubungan antar konsep, dan menentukan
contoh dan non contoh dari konsep. Sementara GBILKPA disusun
sesuai dengan indikator. GBILKPD menyajikan indikator, tujuan
pembelajaran, pokok-pokok materi, penilaian dan referensi. Setelah
menganalisis konsep dan menyusun garis besar isi lembar kerja peserta
didik, peneliti mengumpulkan beberapa referensi materi yang akan
disajikan dalam bahan ajar.
b. Penyusunan Draf
Penyusunan draf dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah
pembelajaran dengan pendekatan saintifik. Pada tahap ini peneliti
membuat lembar draft yang berisi mengenai ketersediaan langkah-
langkah pendekatan saintifik pada bahan ajar sesuai dengan indikator.
Setelah menyusun draft tersebut, peneliti menentukan komponen-
komponen yang disajikan dalam bahan ajar mulai dari identitas bahan
ajar sampai dengan penutup.
c. Produksi Prototipe
Produksi prototipe dilakukan dengan cara menyusun draft yang telah
dibuat, menyusun materi sesuai dengan GBILKPD, kemudian
mengembangkan LKPD tersebut sesuai dengan basis yang digunakan
yaitu pendekatan saintifik.

20
3.4.3 Tahap Evaluasi
Tahap evaluasi dilakukan dengan mengikuti prosedur evaluasi Tessmer.
a. Self Evaluation
Pada tahap ini peneliti mengoreksi bahan ajar yang dikembangkan
tersebut sesuai dengan kriteria penilaian kelayakan bahan ajar, yaitu dari
segi isi, bahasa, dan desain. Peneliti mengoreksi bahan ajar tersebut
dengan bantuan dari dosen pembimbing. Hasil dari tahap self evaluation
didapatkan bahan ajar yang sudah baik menurut peneliti sendiri dan
dosen pembimbing, sehingga bahan ajar sudah dapat dikatakan prototipe
1 yang akan dilanjutkan ke tahap expert review.
b. Expert Review
Prototipe 1 kemudian dievaluasi ke dalam tahap expert review yang
mana prototipe 1 tersebut diberikan kepada para ahli untuk divalidasi.
Pada tahap ini uji validasai yang dilakukan adalah uji validasi isi
(content), bahasa dan desian. Uji validasi ini menggunakan lembar
validasi yang menyajikan pernyataan dengan skala likert dan kolom
saran. Uji validasi ini bertujuan untuk melihat tingkat kevalidan bahan
ajar berdasarkan penilaian validator ahli. Pada akhir lembar validasi,
validator diminta untuk memberikan komentar dan saran yang bertujuan
sebagai acuan peneliti untuk merevisi prototipe 1.
c. One-to-one Evaluation
Tahap one-to-one dilakukan untuk mengetahui bagaimana bahan ajar
yang dikembangkan dari sudut pandang siswa. Pada tahap ini peneliti
meminta tiga orang siswa dengan tingkat kemampuan tinggi, sedang dan
rendah untuk mengidentifikasi bahan ajar yang telah dikembangkan.
Pada tahap ini siswa belajar dengan menggunakan prototipe 1. Setelah
proses pembelajaran selesai, siswa diminta untuk mengisi lembar angket
yang bertujuan untuk mengetahui tingkat kepraktisan bahan ajar yang
dikembangkan. Pada lembar angket ini juga siswa dapat memberikan
komentar dan saran mengenai bahan ajar tersebut. Hasil dari komentar

21
dan saran siswa akan dijadikan dasar untuk merevisi prototipe 1
sehingga menghasilkan prototipe 2.
d. Small Group Evaluation
Setelah prototipe 1 diujicobakan pada tahap expert review dan one-to-
one evaluation, prototipe 1 direvisi sesuai saran yang diberikan oleh
validator dan siswa sehingga menghasilkan prototipe 2. Kemudian
prototipe 2 diujicobakan pada tahap small group evaluation yang terdiri
atas sembilan orang siswa, yang dibagi ke dalam tiga kelompok, masing-
masing kelompok terdiri atas tiga orang. Pada tahap ini, siswa diminta
untuk belajar dengan menggunakan prototipe 2. Pada akhir proses
pembelajaran, siswa diminta untuk mengisi lembar angket tanggapan
penggunaan prototipe 2. Instrumen angket yang diberikan ini sama
dengan instrumen angket pada tahap one-to-one evaluation. Angket
tanggapan siswa ini bertujuan untuk melihat bagaimana tingkat
kepraktisan dari bahan ajar yang dikembangkan. Selama proses
pembelajaran pada tahap small group evaluation, proses pembelajaran
yang berlangsung diobservasi oleh observer. Observasi ini dilakukan
bertujuan untuk melihat bagaimana aktivitas siswa selama proses
pembelajaran dengan menggunakan prototipe 2. Selanjutnya hasil dari
observasi dan hasil data angket tanggapan siswa ini akan dijadikan acuan
untuk merevisi prototipe 2 sehingga menjadi prototipe 3 yang
merupakan produk akhir dari penelitian. Secara rinci, alur penelitian
pengembangan bahan ajar IPA (Fisika) berbasis pendekatan saintifik
pada tema cahaya dan alat optik kelas VIII SMP ini disajikan pada
Gambar 3.1.

22
Analisis Kebutuhan Perumusan Tujuan Pembelajaran Tahap
Perencanaan

Penyusunan Draft Pengembangan Topik


Tahap
Pegembangan
Produksi Prototipe

Prototipe 1

Tidak Tahap
Expert Review Valid Evaluasi

Self Evaluation Valid


Valid
dan
Praktis
Praktis
One-to-one
Tidak
Praktis
Tidak Praktis

Small Group Prototipe 2


Praktis

Lembar Kerja Peserta Didik IPA (Fisika)

Gambar 3.4. Model Pengembangan Lembar Kerja Peserta Didik IPA (Fisika)

23
3.5 Teknik Pengumpulan Data
Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini
adalah:
3.5.1 Walkthrough
Teknik Walkthrough adalah validasi data yang melibatkan beberapa ahli
untuk mengevaluasi produk sebagai dasar untuk merevisi prototipe 1. Lembar
validasi digunakan sebagai tanggapan dan saran dari para ahli. Instrumen yang
digunakan berupa lembar validasi berisi beberapa pernyataan dengan lima pilihan
jawaban, yaitu sangat tidak baik (1), tidak baik (2), cukup (3), baik (4) dan sangat
baik (5) (Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas, 2008). Data yang
diperoleh dari para ahli digunakan untuk merevisi prototipe 1 sampai menjadi
prototipe 2.
Uji validitas untuk bahan ajar ini meliputi validasi isi (content), bahasa dan
desain. Validasi isi (content) mencakup beberapa aspek yaitu: kesesuaian isi
dengan kompetensi dasar dan indikator pencapaian; kesesuaian isi dengan
perkembangan siswa; kesesuaian isi dengan kebutuhan akan bahan ajar;
kebenaran substansi materi pembelajaran; dan manfaat bahan ajar untuk
penambahan wawasan. Validasi bahasa mencakup beberapa indikator yakni:
keterbacaan; kejelasan informasi; kesesuaian kaidah dengan bahasa Indonesia;
dan penggunaan bahasa secara efektif dan efisien. Sedangkan untuk validasi
desain mencakup aspek-aspek seperti: kejelasan tujuan pembelajaran yang ingin
dicapai; urutan penyajian; pemberian motivasi; kelengkapan informasi;
penggunaan font; tata letak; ilustrasi gambar dan foto; dan desain tampilan.
Adapun kisi-kisi instrumen validasi untuk bahan ajar tersebut dapat dilihat pada
Lampiran 5.

3.5.2 Angket
Pada penelitian ini, angket digunakan untuk mengetahui pendapat peserta
didik terhadap kepraktisan penggunaan bahan ajar fisika berbasis pendekatan
saintifik. Teknik pengumpulan data angket dilakukan saat one-to-one dan small
group yang bertujuan untuk mengumpulkan data berupa tanggapan-tanggapan

24
siswa yang juga digunakan sebagai acuan untuk merevisi produk. Angket tersebut
dibuat dengan menyajikan beberapa pernyataan dengan skala likert dan kolom
saran. Pernyataan yang disajikan sesuai dengan aspek-aspek yang akan dinilai
mengenai bahan ajar. Aspek-aspek tersebut terdiri atas: manfaat bahan ajar untuk
menambah wawasan, kejelasan informasi yang terdapat dalam bahan ajar;
pemberian motivasi; kejelasan petunjuk penggunaan bahan ajar; pemanfaatan
bahasa secara efektif dan efisien; penggunaan jenis dan ukuran huruf; tata letak;
ilustrasi dan desain tampilan. Adapun kisi-kisi intrumen angket tanggapan siswa
terhadap penggunaan bahan ajar dapat dilihat pada Lampiran 5.

3.5.3 Observasi
Observasi ialah metode atau cara-cara menganalisis dan mengadakan
pencatatan secara sistematis mengenai tingkah laku dengan melihat atau
mengamati individu atau kelompok secara langsung (Purwanto, 2013). Cara atau
metode observasi pada umumnya ditandai oleh pengamatan tentang apa yang
benar-benar dilakukan oleh individu dan pencatatan-pencatatan secara objektif
mengenai apa yang diamati. Pada penelitian ini observasi dilakukan pada small
group evaluation. Hasil observasi dicatat oleh observer pada lembar observasi
yang telah disediakan. Lembar observasi disajikan dalam bentuk skala Likert.
Pada lembar observasi tersebut menyajikan beberapa indikator yang terdiri
aktivitas siswa selama proses pembelajaran dengan menggunakan bahan ajar.
Adapun kisi-kisi instrumen observasi yang dipersiapkan peneliti pada Lampiran 5.

3.6 Teknik Analisis Data


3.6.1 Analisis Data Walkthrough
Hasil validasi ahli dianalisis secara deskriptif bertujuan sebagai masukan
untuk merevisi bahan ajar. Masukan tersebut disajikan pada lembar validasi.
Lembar validasi tersebut diberikan kepada para ahli dalam bentuk skala likert.
Skala likert yang digunakan dibuat dalam bentuk checklist dengan lima kategori
jawaban, yaitu sangat baik (5), baik (4), cukup (3), tidak baik (2), dan sangat tidak
baik (1).

25
Hasil validasi dari validator disajikan dalam bentuk tabel. Selanjutnya dicari
rerata skor dengan menggunakan rumus:
∑𝑛𝑖=1 𝑉1
𝑅=
𝑛
Keterangan: R = rerata hasil penilaian dari validator
Vi = skor hasil penilaian validator ke-i
n = banyak validator

Selanjutnya rerata yang didapatkan akan menyatakan kevalidan dari bahan


ajar tersebut. Selain mengolah data hasil penilaian validator, peneliti juga
memperoleh data berupa komentar dan saran yang selanjutnya dianalisis secara
deskriptif sebagai masukan dan acuan bagi peneliti untuk merevisi bahan ajar,
sehingga menghasilkan produk yang layak untuk diujicobakan.

3.6.2 Analisis Data Angket


Hasil data yang diperoleh melalui angket pada saat uji one-to-one dan small
group evaluation dianalisis dengan menggunakan skala likert. Data hasil angket
disajikan dalam bentuk tabel, kemudian peneliti menghitung presentasenya
dengan menggunakan rumus berikut:
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑗𝑎𝑤𝑎𝑏𝑎𝑛 𝑚𝑎𝑠𝑖𝑛𝑔 − 𝑚𝑎𝑠𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑡𝑒𝑚
𝑃𝑟𝑒𝑠𝑒𝑛𝑡𝑎𝑠𝑒 = 𝑥 100%
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ s𝑘𝑜𝑟 𝑖𝑑𝑒𝑎𝑙 𝑖𝑡𝑒𝑚
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑖𝑑𝑒𝑎𝑙 𝑖𝑡𝑒𝑚 = 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑢𝑚 𝑥 𝑏𝑎𝑛𝑦𝑎𝑘 𝑟𝑒𝑠𝑝𝑜𝑛𝑑𝑒𝑛
Nilai praktikalitas yang diperoleh kemudian disesuaikan dengan kriteria
praktikalitas seperti terlihat pada Tabel 3.1. Pada tahap ini juga peneliti menerima
beberapa komentar dan saran dari siswa yang dicantumkan pada lembar angket.
Saran tersebut juga dijadikan acuan bagi peneliti untuk memperbaiki bahan ajar
yang dikembangkan sehingga menghasilkan bahan ajar yang layak dan mudah
untuk digunakan.

26
Tabel 3.1. Kategori Hasil One-to-one dan Small Group
Persentase (%) Kategori
81 - 100 Sangat Kuat
61 - 80 Kuat
41 - 60 Cukup
21 - 40 Lemah
0 – 20 Sangat Lemah
(Riduwan, 2012)

3.6.3 Analisis Data Observasi


Data hasil observasi disajikan dalam bentuk tabel. Hasil observasi dihitung
dengan menggunakan rumus berikut:
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑗𝑎𝑤𝑎𝑏𝑎𝑛 𝑚𝑎𝑠𝑖𝑛𝑔 − 𝑚𝑎𝑠𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑡𝑒𝑚
𝑃𝑟𝑒𝑠𝑒𝑛𝑡𝑎𝑠𝑒 = 𝑥 100%
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ s𝑘𝑜𝑟 𝑖𝑑𝑒𝑎𝑙 𝑖𝑡𝑒𝑚
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑖𝑑𝑒𝑎𝑙 𝑖𝑡𝑒𝑚 = 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑢𝑚 𝑥 𝑏𝑎𝑛𝑦𝑎𝑘 𝑟𝑒𝑠𝑝𝑜𝑛𝑑𝑒𝑛
Hasil observasi digunakan untuk mengetahui aktivitas siswa selama proses
pembelajaran dengan menggunakan bahan ajar yang dikembangkan.

3.7 Kriteria Keberhasilan


Penelitian pengembangan didefinisikan sebagai suatu pengkajian sistematis
terhadap pendesainan, pengembangan dan pengevaluasian program, proses dan
produk pembelajaran yang harus memenuhi kriteria validitas, praktikalitas dan
efektifitas. Pada penelitian yang dilakukan peneliti ini, hanya meninjau sampai
kriteria validitas dan praktikalitasnya saja dikarenakan pengembangan produk
hanya sampai tahap uji kelompok kecil (small group).

3.7.1 Validitas
Validitas merupakan syarat yang terpenting dalam suatu alat evaluasi
(Purwanto, 2013). Validitas adalah derajat yang menunjukkan di mana suatu tes
mengukur apa yang hendak diukur (Sukardi, 2012). Validitas bertujuan untuk
menentukan tingkat kevalidan suatu bahan ajar. Kevalidan bahan ajar bertujuan

27
untuk menyatakan kelayakan bahan ajar tersebut dari segi isi, bahasa, dan desain.
Menurut Purwanto, suatu teknik evaluasi dikatakan mempunyai validitas yang
tinggi (disebut valid) jika teknik evaluasi atau tes itu dapat mengukur apa yang
sebenarnya akan diukur. Menurut Arikunto (2013), validitas sebuah tes dapat
diketahui dari hasil pemikiran dan dari hasil pengemalaman. Kevalidan bahan ajar
dapat diperoleh dari hasil validasi yang berupa saran dan komentar dari para ahli
pada tahap expert review.

3.7.2 Praktikalitas
Kepraktisan adalah perihal (yang bersifat, berciri) praktis, yaitu hal yang
menyenangkan dan memudahkan. Tingkat kepraktisan bahan ajar bertujuan untuk
melihat penggunaan bahan ajar menurut siswa. Suatu bahan ajar dikatakan
mempunyai kepraktisan yang baik jika kemungkinan untuk menggunakan bahan
ajar itu besar. Pada penelitian ini, kepraktisan dapat dilihat melalui kemampuan
siswa untuk memahami materi yang disajikan dalam bahan ajar yang
dikembangkan oleh peneliti. Kepraktisan bahan ajar dinilai pada saat uji coba
kelompok kecil.

28