Anda di halaman 1dari 13

Jurnal

aintis ISSN: 1410-7783


Volume 13 Nomor 1, April 2013, 89-101

Pengaruh Penambahan Limbah Ampas Tebu


Terhadap Kuat Tekan Beton Ringan
Effect of The Addition of Bagasse Waste toLightweight Concrete
Compressive Strenght

Harmiyati
Program Studi Teknik Sipil Universitas Islam Riau
Jl.Kaharuddin Nasution 113 Pekanbaru-28284
mimipur@gmail.com

Abstrak
Ampas tebu merupakan limbah yang masih banyak belum termanfaatkan. Sementara itu kebutuhan akan
perumahan semakin lama semakin meningkat. Untuk itu diperlukan suatu inovasi baru untuk mewujudkan
hunian yang lebih ramah lingkungan dan dengan biaya yang terjangkau. Dengan mengacu pada hal tersebut
penelitian ini memakai ampas tebu sebagai pengganti sebagian semen dengan komposisi masing-masing
campuran adalah 0%; 1,25% ; 2,5% ; 5% dan 10%. Sampel yang dibuat berbentuk kubus dengan jumlah masing-
masing komposisi adalah 10 benda uji yang berbentuk kubus ukuran 15x15x15 cm. Proporsi campuran beton
(job mix design) dihitung berdasarkan SK SNI T-15-1990-03 dengan campuran 1 m3 betonnya adalah 291,7 kg
semen type I produksi PT. Semen Padang, 175 liter air, 617.6576kg pasir dari Danau Bingkuang dan
1312.5224kg kerikil dari Danau Bingkuang. Sedangkan untuk komposisi ampas tebu masing-masing didapat
2,308kg. Hasil uji kuat tekan rata-rata beton didapat pada komposisi beton tanpa campuran adalah 25,09 MPa
dan rata-rata kuat tekan optimum pada komposisi campuran 1,25% ampas tebu yaitu 21,97MPa. Nilai kuat
tekan tersebut lebih besar dari kuat tekan yang direncanakan yaitu 17,5 MPa. Pemanfaatan limbah ampas tebu ini
dalam campuran beton ringan merupakan salah satu alternative pemanfaatan limbah yang selama ini banyak
terbuang serta dapat meningkatkan efisiensi penghematan semen yang semakin lama harganya semakin
tinggi.Dan ini juga dapat menghasilka nbeton yang lebih ramah lingkungan (Eco Beton).

katakunci :ampastebu, beton, job mix design, ecobeton, kuat tekan


Abstract
Bagasse is still abundance and not fully havebeen effectively used, a lot of waste that has not been exploited.
Meanwhile, demand for housing is more and more increasing. In order to fulfill the demand we need to create
more environmental friendly residential and an affordable cost. This research is conducted to use bagasse as a
partial replacement of cement with the composition of each mixture is 0%, 1.25%, 2.5%, 5% and 10%. Cube-
concrete samples made with the amount of each composition is 10 cube-concrete specimen size 15x15x15 cm.
The proportion of concrete mixture (job mix design) is calculated based on the SK SNI T-15-1990-03 with a
mixture of 1 m3 of concrete was 291.7 kg of cement type I produced by PT. Semen Padang, 175 liters of water,
from Danau Bingkuang 617.6576 kg sand and gravel from Danau Bingkuang 1312.5224 kg. As for the
composition of bagasse 2.308 kg. The test results the average compressive strength of concrete obtained on the
composition of concrete mix is 25.09 MPa and an average compressive strength optimum mixture composition
of 1.25% bagasse is 21.97 Mpa. Compressive strength value is greater than the compressive strength of 17.5
MPa planned. Utilization of bagasse waste in lightweight concrete mix is one of the alternative in using of waste
and to improve the efficiency savings that the longer the price of cement higher. It also can produce more
environmental friendly concrete (Eco Concrete).

Keywords : bagasse, concrete, job mix design, eco concrete, compressive strength
J. Saintis, Vol.13. No.1, 2013: 89-101

PENDAHULUAN
Salah satu masalah yang ada pada lingkungan yang dihadapi kota-kota di Indonesia saat ini
adalah mengenai persampahan. Sampah masih banyak kita lihat berserakan dimana-mana. Hal
ini tentu saja bisa berakibat buruk terhadap lingkungan. Sampah ini bisa berasal dari rumah
tangga, pasar atau kegiatan lainya.Salah satu contoh sampah yang selalu ada setiap harinya
adalah sampah dari penggilingan tebu, yang selanjutnya kita sebut dengan ampas tebu.Saat ini
ampas tebu banyak dimanfaatkan sebagai makanan unggas, pembersih lantai dan dapat pula
dibuat untuk partikel board(Timang dan Suseno, 2002).
Seperti kita ketahui, perkembangan pembangunan saat ini semakin meningkat seiring dengan
meningkatnya pertumbuhan penduduk. Hal ini tentu mempunyai efek kepada kebutuhan
rumah atau bangunan-bangunan yang semakin meningkat. Pengembangan kawasan-kawasan
hunian lebihlanjut akan memacu meningkatnya kebutuhan bahan bangunan. Bahan-
bahantersebut harus disediakan dalam jumlah besar, berasal dari alam maupun buatan.Untuk
memenuhi kebutuhan tersebut diperlukan alternatif khusus dengan memanfaatkan teknologi
dan limbah guna menghasilkan suatu produk yang dapat digunakan sebagai struktur bangunan
yang lebih ekonomis dan ramah lingkungan.

Beton
Beton dihasilkan dari sekumpulan interaksi mekanis dan kimiawi sejumlah material
pembentuknya. Beton sederhana dibentuk oleh pengerasan campuran semen, air, agregat
halus, agregat kasar (batu pecah atau kerikil), udara, dan kadang-kadang campuran tambahan
lainnya. Campuran yang masih plastis ini dicor ke dalam acuan dan dirawat untuk
mempercepat reaksi hidrasi campuran semen-air, yang menyebabkan pengerasan beton.
Bahan pembentuk ini mempunyai kekuatan tekan yang tinggi, dan ketahanan terhadap tarik
rendah, atau kira-kira kekuatan tariknya 0,1 kali kekuatan terhadap tekan (Nawi,1998).
Parameter-parameter yang paling mempengaruhi kekuatan beton adalah : kualitas semen,
proporsi semen terhadap campuran, kekuatan dan kebersihan agregat, interaksi atau adhesi
antara pasta semen dengan agregat, pencampuran yang cukup dari bahan-bahan pembentuk
beton, penempatan yang benar, penyelesaian dan pemadatan beton, perawatan beton,
teknologi pengadukan beton dan kandungan klorida tidak melebihi 0,15% dalam beton
diekspos dan 1% bagi beton yang tidak diekpsos(Mulyono,2004).
Beton ringan didapat dari pencampuran bahan-bahan agregat halus dan kasar yaitu pasir, batu
kerikil (batu apung) atau bahan semacam lainnya, dengan menambahkan secukupnya bahan
perekat semen, dan air sebagai bahan pembantu, guna keperluan reaksi kimia selama proses
pengerasan dan perawatan beton berlangsung. Agregat halus dan kasar disebut sebagai bahan
susun kasar campuran merupakan komponen utama beton. Nilai kekuatan serta daya tahan
(durability) beton merupakan fungsi dari banyak faktor, diantaranya ialah nilai banding
campuran dan mutu bahan susun, metode pelaksanaan pengecoran, pelaksanaan finishing,
temperature, dan kondisi perawatan pengerasannya. Nilai kuat tariknya hanya berkisar 9%-
15% saja dari kuat tekannya (Dipohusodo, Istimawan 1994).Menurut SNI.T-08-1991-03 kuat
tekan beton minimal adalah 17,5 MPa.Agregat yang digunakan untuk memproduksi beton
ringan merupakan agregat ringan juga. Agregat yang digunakan umumnya merupakan hasil
pembakaran shale, lempung, slates, residu slag, residu batu bara dan banyak lagi hasil
pembakaran vulkanik. Berat jenis agregat ringan sekitar 1900kg/m3 atau berdasarkan
kepentingan penggunaan strukturnya berkisar antara 1440-1850kg/m3, dengan kekuatan tekan
umur 28 hari lebih besar dari 17,2 Mpa (Mulyono, 2004).

90
Pengaruh Penambahan Limbah Ampas Tebu (Harmiyati)

Material Pembentuk Beton


Semen Portland
Semen portland dibuat dari serbuk halus mineral kristalin yang komposisi utamanya
adalah kalsium dan aluminium silikat. Penambahan air mineral ini menghasilkan suatu pasta
yang jika mengering akan mempunyai kekuatan seperti batu. Berat jenisnya berkisar antara
3,12 dan 3,16, dan berat volume satu sak semen adalah 94 lb/ft3 (Nawi, 1998).
Bahan baku pembentuk semen adalah : (Nawi, 1998)
1. Kapur (CaO) ; dari batu kapur
2. Silika (SiO2) ; dari lempung
3. Alumina (Al2O3) ; dari lempung
(dengan sedikit persentase magnesia, MgO dan terkadang sedikit alkali). Oksida besi
terkadang ditambahkan untuk mengontrol komposisinya.

Air
Air diperlukan pada pembuatan beton agar terjadi reaksi kimiawi dengan semen untuk
membasahi agregat dan untuk melumascampuran agar mudah pengerjaannya. Pada umumnya
air minum dapat dipakai untuk campuran beton. Air yang mengandung senyawa-senyawa
yang berbahaya, yang tercemar garam, minyak, gula, atau bahan-bahan kimia lain, bila
dipakai untuk campuran beton akan sangat menurunkan kekuatannya dan dapat juga
mengubah sifat-sifat semen. Selain itu, air yang demikian dapat mengurangi afinitas antara
agregat dengan pasta semen dan mungkin pula mempengaruhi kemudahan pengerjaan.
Karakter pasta semen merupakan hasil reaksi kimiawi antara semen dengan air, maka bukan
perbandingan jumlah air terhadap total (semen + agregat halus+ agregat kasar) material yang
menentukan, melainkan hanya perbandingan antara air dan semen pada campuran yang
menentukan. Air yang berlebihan akan menyebabkan banyaknya gelembung air setelah proses
hidrasi selesai, sedangkan air yang terlalu sedikit akan menyebabkan proses hidrasi tidak
seluruhnya selesai. Sebagai akibatnya beton yang dihasilkan akan kurang kekuatannya
(Nawi,1998).
Agregat
Agregat merupakan komponen beton yang paling berperan dalam menentukan besar-
nya. Pada beton biasanya terdapat sekitar 60% sampai 80% volume agregat (Nawi,1998).
Agregat ini harus bergradasi sedemikian rupa sehingga seluruh massa beton dapat berfungsi
sebagai benda yang utuh, homogen, dan rapat, di mana agregat yang berukuran kecil
berfungsi sebagai pengisi celah yang ada di antara agregat berukuran besar. Menurut Nawi
(1998) dua jenis agregat adalah:

1. Agregat kasar
Agregat disebut agregat kasar apabila ukurannya sudah melebihi 1/4 in. (6 mm).
Sifat agregat kasar mempengaruhi kekuatan akhir beton keras dan daya tahannya
terhadap disintegrasi beton, cuaca, dan efek-efek perusak lainnya. Agregat kasar
mineral ini harus bersih dari bahan-bahan organik, dan harus mempunyai ikatan yang
baik dengan gel semen.

2. Agregat halus
Agregat halus merupakan pengisi yang berupa pasir. Ukurannya bervariasi antara
ukuran No. 4 dan No. 100 saringan standar Amerika. Agregat halus yang baik harus
bebas bahan organik, lempung, partikel yang lebih kecil dari saringan No. 100, atau
91
J. Saintis, Vol.13. No.1, 2013: 89-101

bahan-bahan lain yang dapat merusak campuran beton. Variasi ukuran dalam suatu campuran
harus mempunyai gradasi yang baik, yang sesuai dengan standar analisis saringan dari ASTM
(American Society of Testing and Materials). Untuk beton penahan radiasi, serbuk baja halus
dan serbuk besi pecah digunakan sebagai agregathalus.

Kekuatan Tekan Beton (f’c)


Kekuatan tekan beton dinyatakan dengan beban (tegangan) maksimum yang dapat
dipikulnya. Oleh karena itu dengan bertambahnya kekuatan sifat – sifat lainnya bertambah
baik pula dan karena percobaan untuk menentukan kekuatan tekan adalah sangat mudah,
maka kekuatan tekan beton dalam industri konstruksi biasa dipakai untuk menilai serta untuk
mengendalikan mutu beton dan untuk tujuan persyaratan spesifikasi (Satwarnirat,2005).
Kekuatan tekan beton adalah muatan tekan maksimum yang dapat dipikul per satuan
luas. Kuat tekan beton diwakili oleh tegangan maksimum f’c pada saat beton mencapai usia
28 hari. Rumus untuk mencari kuat tekan beton adalah sebagai berikut:

P
f 'c  ( MPa )
A
Dimana:
A = Luas penampang benda uji
f’c = Kuat tekan benda uji beton (Mpa)
P = Beban maksimum

Menurut Mulyono (2004), ada empat bagian utama yang mempengaruhi mutu dari
kekuatan beton tersebut, yaitu (1). proporsi bahan-bahan penyusunnya, (2). metode
perancangan, (3). perawatan dan (4). keadaan pada saat pengecoran dilaksanakan, yang
terutama dipengaruhi oleh lingkungan setempat.

Ampas tebu
Tebu (Saccharum officinarum) adalah tanaman yang ditanam untuk bahan baku gula.
Tanaman ini hanya dapat tumbuh di daerah beriklim tropis. Tanaman ini termasuk jenis
rumput-rumputan. Umur tanaman sejak ditanam sampai bisa dipanen mencapai kurang lebih 1
tahun.
Ampas tebu atau lazimnya disebut bagasse, adalah hasil samping dari proses ekstraksi
(pemerahan) cairan tebu merupakan campuran serat yang kuat dengan jaringan parenchyma
yang lembut, yang mempunyai tingkat higroskopis yang tinggi. Dari satu pabrik dihasilkan
ampas tebu sekitar 35 – 40% dari berat tebu yang digiling (Penebar Swadaya, 2000).
Berdasarkan data dari Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) ampas tebu yang
dihasilkan sebanyak 32% dari berat tebu giling, diperkirakan sebanyak 40 % dari ampas tebu
tersebut belum dimanfaatkan.Khusus untuk ampas tebu yang dihasilkan dari penjual air tebu
di Pekanbaru, diketahui bahwa dalam 1 hari dari 1 orang penjual air tebu dihasilkan lebih
kurang 21 kg ampas tebu. Rata-rata ampas tebu tersebut tidak dimanfaatkan.

92
Pengaruh Penambahan Limbah Ampas Tebu (Harmiyati)

Tabel 1. Struktur Ampas Tebu (Lacey,1980)


Komponen (%) Berat Kering

Cellulosa 26– 43
Hemicellulosa 17 – 23
Pentosans 20 – 33
Lignin 13 – 22

METODE PENELITIAN
Tempat penelitian dilakukan di Laboratorium Teknik Sipil Fakultas Teknik
Universitas Islam Riau. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Semen Portland
Type I, Agregat, Air, Ampas Tebuyang diambil secara acak dari penggilingan tebu oleh para
penjual air tebu di kota Pekanbaru. Pada umumnya tebu yang dipakai oleh para penjual air
tebu di Pekanbaru adalah berasal dari daerah Bukit Tinggi. Bagian dari ampas tebu yang akan
dipakai adalah bagian terdalam dari ampas tebu. Hal ini dikarenakan untuk memudahkan
prosespencacahan. Ampas tebu terlebih dahulu dicacah untuk memudahkan proses
penghalusan yang menggunakan alat blender.
Setelah halus dan lolos uji saringan no. 16, ampas tebu langsung dimasukkan ke dalam
plastik kedap udara. Sebagai standar perlakuan ampas tebu berdasarkan jumlah kadar air yang
terkandung dalamnya. Untuk mendapatkan kadar air, ampas tebu yang sudah halus ini di oven
sampai dengan suhu 600C selama 24 jam sampai berat konstan.Sehingga untuk perlakuan
ampas tebu berikutnya harus mempunyai kadar air yang sama.Waktupenyimpananampastebu
yang sudahhalusinisebelumdicampurkedalamadukanbetonadalah 2 hari

.
Gambar 1. AmpasTebu yang sudah dihaluskan

93
J. Saintis, Vol.13. No.1, 2013: 89-101

Gambar 2. Alat Tes Kuat Tekan Beton

Dalam metode penelitian menggunakan metode eksperimen di Laboratorium yaitu


dilakukan pembuatan beton yang direncanakan untuk kuat tekan 17,5 MPa.
Untukbetonringandibuatkomposisicampuran sesuai dengan mix design yang telah dihitung
berdasarkan SK. SNI. T-15-1990-03. Pengujian yang dilakukan yaitu pengujian pendahuluan
dan pengujian lanjutan.

1. Pengujian Pendahuluan
Tahap penelitian pendahuluan ini dilakukan beberapa uji karakteristik fisis agregat
yang terdiri dari : kadar air, specific gravity, analisa saringan, kekerasan, bobot isi,
kadar butir lolos saringan no. 200, kadar organik, mix design.Pengujian
pendahuluan dilakukan untuk menguji karakteristik dari material dasar yang
digunakan dalam pembuatan beton.Beton ringan akan dibuat 10 benda uji
berbentuk kubusukuran 15x15x15 cm untuk umur 28 hari. Sedangkan untuk beton
dengan campuran Ampas Tebu akan dibuat masing-masing 10 benda uji dimana
akan dilakukan penambahan masing-masing unsur dengan variasi 1,25% ; 2,5% ;
5% ; dan10% dari berat semen.
2. Pengujian lanjutan
Pengujian lanjutan disini adalah pengujian kuat tekan beton yang dilakukan pada
benda uji kubus dengan umur beton 28 hari. Slump test yang digunakan mengacu
pada ASTM C-143. Tujuan pengukuran slump adalah untuk menentukan besarnya
nilai slump pada campuran beton yang masih segar. Tahapan selanjutnya adalah
pengujian kuat tekan beton yang mengacu pada standar ASTM C-39-86.
Pengujian dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kuat tekan hancur dari
benda uji. Pengujian kuat tekan dilakukan pada saat beton berumur 28 hari.
Kapasitas alat tekan yang digunakan sebesar 200 ton. Teknik penekanan
dilakukan perlahan-lahan sampai beton menjadi retak, yang ditandai dengan jarum
penunjuk kuat tekan pada mesin tekan yang tidak dapat bergerak naik.

94
Pengaruh Penambahan Limbah Ampas Tebu (Harmiyati)

Dengan membagi beban maksimum terhadap luas penampang tertekan dari benda uji
akan diperoleh tegangan maksimum. Tegangan maksimum inilah yang merupakan kekuatan
tekan karakteristik dari benda uji beton.

HASIL DAN PEMBAHASAN


HasilPemeriksaanAgregatKasar
Agregat kasar pada penelitian ini, menggunakan kerikil alami dari Danau Bingkuang Kab.
Kampar. Hasil pemeriksaan saringan dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar3. Hasil plotting Analisis Saringan Agregat Kasar

Dari Gambar3 dapat dijelaskan bahwa agregat kasar yang lolos 100% pada saringan
No. 1 ½” (38 mm) dan tertahan pada saringan No. 3/4” (19 mm). Hal ini menunjukkan bahwa
ukuran agregat kasar maksimum adalah 38 mm. Pada SK SNI T-15-1990-03 ukuran agregat
maksimum pada tabel perkiraan kebutuhan air permeter kubik beton adalah maksimum 40
mm, maka ditetapkan ukuran agregat kasar maksimum adalah 40 mm. Agregat kasar tersebut
memenuhi syarat dan dapat dipergunakan untuk campuran beton.

Hasil Pemeriksaan Agregat Halus


Agregat halus pada penelitian ini, menggunakan pasir dari Danau Bingkuang Kab.
Kampar. Hasil pemeriksaan saringan dapat dilihat pada Gambar 4.

95
J. Saintis, Vol.13. No.1, 2013: 89-101

Gambar 4. Hasil Plotting Analisis Saringan Agregat Halus

Dari Gambar4 dapat dilihat bahwa agregat tersebut termasuk pada daerah gradasi No. 3
atau pada zona 3 dan memenuhi ketentuan SK SNI T-15-1990-03. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa agregat halus yang digunakan memenuhi syarat dan dapat dipergunakan
untuk campuran beton.

Hasil PemeriksaanKadar Lumpur


Pemeriksaan kadar lumpur atau bahan dalam agregat yang lolos saringan No. 200
(0,075 mm), sebagai acuan dan pegangan dalam pelaksanaan pengujian.
Hasilpemeriksaanyang didapat bahwa agregat halus dan agrega tkasar mengandung kadar
lumpur masih amandigunakan untuk campuran adukan beton, dimana yang diisyaratkan SK
SNI T-15-1990-03 untuk kadar lumpur agregat halus < 5% dan untuk agregat kasar < 1%,
sehingga material-material yang digunakan dalam penelitian ini tidak perlu dicuci. Adapun
pengaruh dari kadar lumpur ini adalah semakin tinggi kadar lumpur yang terkandung di dalam
agregat semakin kecil kuat tekan beton yang dihasilkan.

Hasil Pemeriksaan Kadar Air


Pemeriksaan kadar air bertujuan untuk memperoleh persentase dari kadar air yang
dikandung dalam agregat halus dan agregat kasar. Dari hasiltersebutterlihatbahwa agregat
halus dan agregat kasar memenuhi syarat SK SNI T-15-1990-03.

Hasil Perencanaan Campuran Beton


Perencanaan campuran beton bertujuan untuk mengetahui proporsi campuran antara
semen, air, agregat halus dan agregat kasar.Kuat tekan beton direncanakan sebesar 17,5 Mpa,
dengan FAS 0,6. Hasil perencanaan campuran beton dapat dilihat pada Tabel2 berikut ini :

96
Pengaruh Penambahan Limbah Ampas Tebu (Harmiyati)

Tabel 2. Proporsi Campuran Beton


Proporsi
Campuran Semen Air Agregat Halus ( Agregat kasar
( kg ) ( ltr ) kg ) ( kg )

tiap 1 m3 291.7 175 617.6576 1312.5224

tiap 1 zak semen 50 30 105.87 224.98

tiap komposisi campuran 1 0.60 2.12 4.50

Dari Tabel 2 dapat dilihat dimana pemakaian semen, air, pasir dan kerikil dalam tiap
3
m , untuk proposi campuran beton 50 kg, pemakaian pasir, kerikil dan air berkurang seiring
bertambahnya persenta sejumlah semen. Dari data tersebut diatas juga dapat dihitung
komposisi campuran perencanaan beton untuk 50 sampel benda uji kubus 15x15x15cm
dengan faktor aman 25%, yaitu semen sebanyak 59,241 kg, air sebanyak 36,9 liter,agregat
halus sebanyak 130,3 kg, agregat kasar sebanyak 276,85 kg, ampas tebu sebanyak 2,308 kg.

Hasil Uji Kuat Tekan Beton


Pengujian kuat tekan beton dilakukan setelah benda uji kubus berumur 28 hari.
Pengujian kuat tekan beton ini dilakukan untuk mendapatkan kuat tekan masing-masing
benda uji kubus.Pada awal penelitian dilakukan pembuatan beton dengan campuran Ampas
Tebu dibuat masing-masing 10 benda uji dimana akan dilakukan penambahan masing-masing
unsur dengan variasi 1,25% ; 2,5% ; 5% ; dan 10% dari berat semen. Namun setelah umur 28
hari beton yang memenuhi syarat untuk dilakukan pengujian hanya pada variasi campuran
1,25% ; 2,5% dan 5%. Hal ini dikarenakan pada variasi campuran 10% beberapa benda uji
sudah mengalami kehancuran sehingga tidak memungkinkan lagi untuk dilakukan uji kuat
tekan betonnya. Untukhasilhasil uji kuat tekan beton rata-rata dengan berbagai variasi
komposisi ampas tebu dapat dilihat pada gambar 5 dan gambar 6.

Tabel 3 Pengujian Kuat Tekan Beton Tanpa Campuran

No Kuat Tekan Kubus (f’ck) Kuat Tekan


Berat (gr) Beban (kN) Silinder ( f’c)
Uji Kg/cm2 Mpa Mpa
1 8355 752 340,91 34,09 28,30
2 8205 635 287,87 28,79 23,89
3 8345 600 272,00 27,20 22,58
4 8322 666 301,92 30,19 25,06
5 8350 615 278,80 27,88 23,14
6 8446 735 333,20 33,32 27,66
7 8467 670 303,73 30,37 25,21
8 8280 630 285,60 28,56 23,70
9 8372 745 337,73 33,77 28,03
10 7215 620 281,07 28,11 23,33
Rata-rata 302,29 30.22 25,09

97
J. Saintis, Vol.13. No.1, 2013: 89-101

Tabel 4 Pengujian Kuat Tekan Beton + 5 % Ampas Tebu


Kuat Tekan Kuat Tekan
No
Berat (gr) Beban (kN) Silinder ( f’c)
Uji Kg/cm2 N/mm2 Mpa
1 7565 310 140,53 14,05 11,66
2 8118 405 183,60 18,36 15,24
3 7961 300 136,00 13,60 11,29
4 8005 415 188,13 18,81 15,62
5 7996 320 145,07 14,51 12,04
6 7935 400 181,33 18,13 15,05
7 7985 385 174,53 17,45 14,49
8 7918 435 197,20 19,72 16,37
9 7953 480 217,60 21,76 18,06
10 7951 484 219,41 21,94 18,21
Rata-rata 178,35 17,83 14,80

Tabel 5 Pengujian Kuat Tekan Beton + 2,5 % Ampas Tebu


Kuat Tekan Kuat Tekan
No
Berat (gr) Beban (kN) Silinder ( f’c)
Uji Kg/cm2 N/mm2
Mpa
1 8325 585 265,20 26,52 22,01
2 8335 555 251,60 25,16 20,88
3 8300 480 217,60 21,76 18,06
4 8460 520 235,73 23,57 19,57
5 8428 545 247,07 24,71 20,51
6 8285 555 251,60 25,16 20,88
7 8150 600 272,00 27,20 22,58
8 8310 505 228,93 22,89 19,00
9 8425 625 283,33 28,33 23,52
10 8187 575 260,67 26,07 21,64
Rata-rata 251,38 25,13 20,86

98
Pengaruh Penambahan Limbah Ampas Tebu (Harmiyati)

Tabel 6 Pengujian Kuat Tekan Beton + 1,25 % Ampas Tebu


Kuat Tekan Kuat Tekan
No
Berat (gr) Beban (kN) Silinder ( f’c)
Uji Kg/cm2 N/mm2
Mpa
1 8200 555 251,60 25,16 20,88
2 8284 605 274,27 27,43 22,76
3 8130 520 235,73 23,57 19,57
4 8100 560 253,87 25,39 21,07
5 8275 600 272,00 27,20 22,58
6 8295 580 262,93 26,29 21,82
7 8140 600 272,00 27,20 22,58
8 8200 640 290,13 29,01 24,08
9 8100 640 290,13 29,01 24,08
10 8335 640 290,13 29,01 20,32
Rata-rata 269,28 26,92 21,97

Gambar 5. Hubungan Kuat Tekan Beton Rata-rata Variasi Tiap Jenis Campuran

Dari gambar 5 secara umum dapat dilihat bahwa kua ttekan beton menurun dengan adanya
penambahan masing-masing komposisicampuran ampas tebu. Hasil kuat tekan beton terbesar
didapat pada komposisi 0% atau tanpa campuran ampas tebu yaitu 25,09Mpa lebih besar dari
yang direncanakan yaitu 17,5 MPa, terjadi peningkatan kuat tekan beton sebesar43,37 %.
Dengan penambahan variasi campuran ampas tebu kuat tekan beton terbesar adalah
21,97MPa lebih besar dari yang direncanakan 17,5 MPa yaitu pada komposisi campuran
1,25%, terjadi peningkatan kuat tekan beton sebesar25,54 %. Hal ini disebabkan ampas tebu
merupakan campuran serat yang kuat dengan jaringan parenchyma yang lembut, yang
mempunyai tingkat higroskopis yang tinggi.

Model HubunganAntaraKuattekan Beton dengan Variasi Jenis Campuran


Analisis regresi linier sederhana dilakukan untuk memperoleh suatu model regresi
yang menggambarkan hubungan antara satu variabel bebas (komposisi campuran) dan satu
variabel terikat (kuat tekan beton). Selanjutnya dalam penelitian ini yang menjadi variabel

99
J. Saintis, Vol.13. No.1, 2013: 89-101

bebas (X) adalah komposisi campuran, sedangkanvariabel terikat (Y) adalah kuat tekan beton.
Hasil analisis regresi disajikan pada gambar 6.

Gambar 6. Model Regresi Kuat Tekan Beton Rata-rata Variasi Tiap Jenis Campuran

Model regresi pada gambar 6 adalah model regresi non linier yaitu model regresi poly
nomial orde 2. Dari gambar tersebut di atas dapat dijelaskan bahwa tidak terdapat nilai
optimum kuat tekan beton pada berbagai komposisi campuran. Hal ini dikarenakan semakin
besar penambahan komposisi campuran semakin kecil kuat tekan beton yang dihasilkan. Pada
beton dengan komposisi campuran ampas tebu didapat koefisien determinasi R2 adalah 0,917.
Angka ini mendekati nilai 1, sehingga juga memiliki keterkaitan yang kuat antara komposisi
campuran ampas tebu dengan kuat tekan beton. Koefisien tersebut memperlihatkan bahwa
pengaruh komposisi campuran ampas tebu dengan kuat tekan beton sebesar 91,7%.
Dari hasil tersebut menunjukkan nilai R2yang didapat mendekati satu, ini membuktikan
bahwa beton yang dihasilkan mempunyai mutu yang bagus, dimana hasil uji kuat tekan pada
masing-masing komposisi campuran lebih besar dari kuat tekan yang direncanakan yaitu 17,5
Mpa.Hal inimenunjukkanbahwa beton yang dihasilkan jauh lebih baik dari mutu beton yang
direncanakan K 175. Perbedaan yang cukup jauh ini berdasarkan data dan analisa yang ada
disebabkan oleh komposisi campuran yang direncanakan (job mix design) berdasarkan SNI T-
15-1990-03 adalah 1 : 2 : 4,5 lebih besar dari komposisi untuk mutu beton K 175 berdasar
analisa BOW campuran standarnya adalah 1 : 3 : 5 dan mutu beton K 225 yaitu 1 : 2 : 3.
Selain itu material dalam hal ini adalah agregat yang digunakanbukan agregat untuk beton
ringan yang umumnya merupakan hasil pembakaran shale, lempung, slates, residu slag, residu
batu bara dan banyak lagi hasil pembakaran vulkanik, melainkan agregat untuk beton normal
yaitu pasir sebagai agregat halus dan kerikil sebagai agregat kasar.
Perawatan beton juga merupakan salah satu hal yang mempengaruhi mutu dari kekuatan
beton tersebut. Dalam hal ini perawatan yang dilakukan adalah menaruh beton segar dalam
air, sesuai dengan persyaratan dari SK SNI T-15-1990-03. Perawatan ini dilakukan setelah
beton mengeras agar proses hidrasi selanjutnya tidak mengalami gangguan. Jika hal ini
terjadi, beton akan mengalami keretakan karena kehilangan air yang begitu cepat. Perawatan
ini tidak hanya dimaksudkan untuk mendapatkan kekuatan tekan beton yang tinggi tapi juga
dimaksudkan untuk memperbaiki mutu dari keawetan beton, kedapan terhadap air, ketahanan
terhadap aus, serta stabilitas dari dimensi struktur.
100
Pengaruh Penambahan Limbah Ampas Tebu (Harmiyati)

Sehingga dapat disimpulkan bahwa apabila mutu beton yang dihasilkan diawal
komposisi tanpa campuran sudah baik, maka untuk penambahan komposisi campuran bahan
organic dalam hal ini ampas tebu menunjukan hasil yang baik pula.Hal ini tentu saja
menunjukkan hal yang positif bagi pemanfaatan limbah ampas tebu yang terbuang.
Pemanfaatan limbah ampas tebu ini dalam campuran beton ringan merupakan salah satu
alternative pemanfaatan limbah yang selama ini banyak terbuang serta dapat meningkatkan
efisiensi penghematan semen yang semakin lama harganya semakin tinggi. Dan ini juga dapat
menghasilkan beton yang lebih ramah lingkungan (Eco Beton). Namun yang perlu
diperhatikan adalah penambahan campuran bahan tersebut tidak boleh lebih dari 2,5 %
pengurangannya dari volume semen. Hal ini dikarenakan semakin bertambahnya komposisi
campuran ampas tebu akan membuat kuat tekan beton semakin berkurang.

SIMPULAN
Berdasarkan hasil pengujian dan analisa data kuat tekan beton dengan beberapa variasi
komposisi ampas tebu maka dapat diambil beberapa kesimpulanyaitu :
1. Kua ttekan rata-rata pada betont tanpa campuran didapat adalah 25,09 MPa
jauh lebih besar dari yang direncanakan yaitu 17,5 MPa. Hal ini menunjukkan bahwa beton
menunjukan mutu yang sangat baik.
2. Kuat tekan terbesar di dapat pada komposisi campuran 1,25 % ampas tebu
yaitu sebesar 21,97 MPa. Walaupun nilai ini lebih kecil dari kuat tekan beton tanpa tambahan
ampas tebu, namun masih memenuhi nilai kuat tekan beton rencana yaitu sebesar 17,5 MPa.
3. Berdasarkan hasil uji kuat tekan beton rata-rata, komposisi yang masih
memenuhi persyaratan untuk kuat tekan beton rencana adalah pada komposisi campuran
1,25% AT dan 2,5% AT.
4. Penggunaan bahan ampas tebu ini memberikan pengaruh terhadap kuat tekan
beton, dimana mempunyai kecenderungan semakin besar komposisi ampas tebu yang
diberikan semakin kecil kuat tekan yang dihasilkan.

DAFTAR PUSTAKA
Departemen Pekerjaan Umum, 1979.Peraturan Beton Bertulang Indonesia 1971, Jakarta.
Departemen Pekerjaan Umum, 1991. Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal
(SK SNI T-15-1990-03), Yayasan LPMB, Bandung.
Dipohusodo, I., 1996.Struktur Beton Bertulang, PT. Gramedia, Jakarta.
Ghozi, M., 2001. Pemanfaatan Abu Ampas Tebu Untuk Campuran Semen Pada Beton, Tesis,
Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya
Lacey, J., 1980. The Microbiology of The Bagasse of Sugar Cane - Proc. of XVII Congress
of ISSCT.
Mulyono, T., 2004.Teknologi Beton, CV. Andi Offset, Yogyakarta.
Nawi. G.E., 1998. Beton Bertulang Suatu Pendekatan Dasar, PT. Refika Aditama, Bandung.
Penebar Swadaya, 2000. Pembudidayaan Tebu di Lahan Sawah dan Tegalan, Penebar
Swadaya, Jakarta.
Timang, D.W dan Suseno, R.,2002. Penggunaan Abu Ampas Tebu Untuk Pembuatan Beton
Dengan Analisa Faktorial Desain, Skripsi, Universitas Kristen Petra, Jakarta.
Tjokrodimuljo, K.,1996. Teknologi Beton, Nafiri, Yogyakarta.

101