Anda di halaman 1dari 11

Tujuan Desa Siaga

Tujuan Umum dan Tujuan Khusus

Tujuan umum desa siaga adalah terwujudnya masyarakat desa yang sehat, peduli, dan tanggap terhadap
permasalahan kesehatan di wilayahnya.

Tujuan khususnya adalah sebagai berikut :

 Peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat desa tentang pentingnya kesehatan.


 Peningkatan kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat desa terhadap risiko dan bahaya yang
dapat menimbulkan gangguan kesehatan (bencana, wabah, kegawadaruratan dan sebagainya)

 Peningkatan kesehatan lingkungan di desa. Meningkatnya kemampuan dan kemauan masyarakat


desa untuk menolong diri sendiri di bidang kesehatan.

Ciri-Ciri Desa Siaga

1. Minimal Memiliki pos kesehatan desa yang berfungsi memberi pelayanan dasar ( dengan
sumberdaya minimal 1 tenaga kesehatan dan sarana fisik bangunan, perlengkapan & peralatan
alat komunikasi ke masyarakat & ke puskesmas )
2. Memiliki sistem gawat darurat berbasis masyarakat

3. Memiliki sistem pembiayaan kesehatan secara mandiri

4. Masyarakat berperilaku hidup bersih dan sehat

Sasaran Pengembangan

Sasaran pengembangan desa siaga adalah mempermudah strategi intervensi, sasaran ini dibedakan
menjadi tiga yaitu sebagai berikut :

1. Semua individu dan keluarga di desa yang diharapkan mampu melaksanakan hidup sehat, peduli,
dan tanggap terhadap permasalahan kesehatan di wilayah desanya
2. Pihak- pihak yang mempunyai pengaruh terhadap perubahan perilaku individu dan keluarga atau
dapat menciptakan iklim yang kondusif bagi perubahan perilaku tersebut, seperti tokoh
masyarakat termasuk tokoh agama, tokoh perempuan dan pemuda, kader serta petugas
kesehatan

3. Pihak-pihak yang diharapkan memberi dukungan memberi dukungan kebijakan, peraturan


perundang –undangan, dana, tenaga, sasaran, dll, seperti kepala desa, camat, pejabat terkait,
LSM, swasta, donatur, dan pemilik kepentingan lainnya.

Kriteria Pengembangan

Dalam pengembangan desa siaga akan meningkat dengan membagi menjadi empat kriteria.
1. Tahap bina. Tahap ini forum masyarakat desa mungkin belum aktif, tetapi telah ada forum atau
lembaga masyaratak desa yang telah berfungsi dalam bentuk apa saja misalnya kelompok
rembuk desa, kelompok pengajian, atau kelompok persekutuan do’a.
2. Tahap tambah. Pada tahap ini, forum masyarakat desa talah aktif dan anggota forum
mengembangkan UKBM sesuai kebutuhan masyarakat , selain posyandu. Demikian juga dengan
polindes dan posyandu sedikitnya sudah oada tahap madya.

3. Tahap kembang. Pada tahap ini, forum kesehatan masyarakat telah berperan secara aktif,dan
mampu mengembangkan UKBMsesuai kebutuhan dengan biaya berbasis masyarakat.Jika selama
ini pembiyaan kesehatan oleh masyarakat sempat terhenti karena kurangnya pemahaman
terhadap sistem jaminan,masyarakat didorong lagi untuk mengembangkan sistem serupa
dimulai dari sistem yang sederhana dan di butuhkan oleh masyarakat misalnya tabulin.

4. Tahap Paripurna,tahap ini,semua indikator dalam kriteria dengan siaga sudah terpenuhi.
Masyarakat sudah hidup dalam lingkungan seha tserta berperilaku hidup bersih dan sehat.

Keberhasilan Program

Indikator keberhasilan pengembangan desa siaga dapat diukur dari 4 kelompok indikator, yaitu :
indikatorinput, proses, output danoutcome (Depkes, 2009).

1. Indikator Input

 Jumlah kader desa siaga.


 Jumlah tenaga kesehatan di poskesdes.

 Tersedianya sarana (obat dan alat) sederhana.

 Tersedianya tempat pelayanan seperti posyandu.

 Tersedianya dana operasional desa siaga.

 Tersedianya data/catatan jumlah KK dan keluarganya.

 Tersedianya pemetaan keluarga lengkap dengan masalah kesehatan yang dijumpai dalam warna
yang sesuai.

 Tersedianya data/catatan (jumlah bayi diimunisasi, jumlah penderita gizi kurang, jumlah
penderita TB, malaria dan lain-lain).

2. Indikator proses

 Frekuensi pertemuan forum masyarakat desa (bulanan, 2 bulanan dan sebagainya).


 Berfungsi/tidaknya kader desa siaga.

 Berfungsi/tidaknya poskesdes.

 Berfungsi/tidaknya UKBM/posyandu yang ada.

 Berfungsi/tidaknya sistem penanggulangan penyakit/masalah kesehatan berbasis masyarakat.


 Ada/tidaknya kegiatan kunjungan rumah untuk kadarzi dan PHBS.

 Ada/tidaknya kegiatan rujukan penderita ke poskesdes dari masyarakat.

3. Indikator Output

 Jumlah persalinan dalam keluarga yang dilayani.


 Jumlah kunjungan neonates (KN2).

 Jumlah BBLR yang dirujuk.

 Jumlah bayi dan anak balita BB tidak naik ditangani.

 Jumlah balita gakin umur 6-24 bulan yang mendapat M P-AS I.

 Jumlah balita yang mendapat imunisasi.

 Jumlah pelayanan gawat darurat dan KLB dalam tempo 24 jam.

 Jumlah keluarga yang punya jamban.

 Jumlah keluarga yang dibina sadar gizi.

 Jumlah keluarga menggunakan garam beryodium.

 Adanya data kesehatan lingkungan.

 Jumlah kasus kesakitan dan kematian akibat penyakit menular tertentu yang menjadi masalah
setempat.

 Adanya peningkatan kualitas UKBM yang dibina.

4. Indikator outcome

 Meningkatnya jumlah penduduk yang sembuh/membaik dari sakitnya.


 Bertambahnya jumlah penduduk yang melaksanakan PHBS.

 Berkurangnya jumlah ibu melahirkan yang meninggal dunia.

 Berkurangnya jumlah balita dengan gizi buruk.

Pendahuluan

Interaksi antara dokter dan pasien mengandung 2 sisi: pertama yaitu sisi sosial, yang
mengakibatkan terjadinya tindakan sosial, yang akan munculkan masalah norma dan etika.
Contoh: masalah privacy pasien yang harus dijaga dan dilindungi oleh dokter. Sisi kedua yaitu
sisi hukum, yang mengakibatkan timbulnya hak dan kewajiban.

Hak dan kewajiban sebagai akibat dari hubungan hukum antara dokter pasien, apabila terjadi
permasalahan hukum, maka diperlukan bukti bahwa masing-maing pihak sudah menjalankan
kewajibannya atau tidak menjalankan kewajibannya, hal itu dibuktikan dengan catatan yang
dibuat oleh dokter dalam bentuk tulisan/laporan atau catatan yang disebut sebagai Rekam Medis
(RM).

Rekam Medik

Rekam medis didefinisikan:

Rekaman dalam bentuk tulisan atau gambaran aktivitas pelayanan yang diberikan oleh pemberi
pelayanan medik/kesehatan kepada seorang pasien. (Ikatan Dokter Indonesia)

Berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan,
tindakan dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien (Permenkes No
269/Menkes/Per/III /2008 Tentang Rekam Medis pasal 1 ay (1))

 A chronological written account of a patient's examination and treatment that includes


the patient's medical history and complaints, the physician's physical findings, the results of
diagnostic tests and procedures, and medications and therapeutic procedures. (The American
Heritage Medical Dictionary)

RM memiliki sejarah yang panjang, sudah berawal dari manusia prasejarah, dimana ditemukan
rekaman kuno tentang tindakan pelayanan yang dilakukan oleh para tabib yang pada jamannya
merangkap sebagai pimpinan spiritual. Bukti temuan lain: lukisan di gua di Spanyol yang
menggambarkan amputasi jari, pahatan di kuil Yunani pada 1100 SM yang menggambarkan
tehnik pengobatan.

Bukti lain ditemukannya informasi cara pengobatan dalam bentuk hieroglyph (tulisan
masyarakat Mesir kuno berupa kombinasi elemen logograf dan alfabet) pada gulungan-gulungan
papyrus.

Pada awalnya data-data tersebut hanya sebagai catatan penyakit biasa, pada masa masehi para
tabib Yunani kuno seperti Hypocrates secara sistematis mencatat tahapan riwayat penyakit
pasiennya dan mulai mengumpulkan kelompok-kelompok jenis penyakit secara sangat
sederhana.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi menimbulkan evolusi rekam medis, dari sekedar
catatan data medis pasien, menjadi data base untuk sistem informasi kesehatan. Pada era
tehnologi digitalisasi, rekam medis dilakukan dengan basis komputer.

Ada hal yang cukup menarik dalam perkembangan rekam medis, awalnya informasi rekam
medis hanya digunakan untuk keperluan yang terbatas pada pelayanan dokter dari waktu
kewaktu, lalu berkembang menjadi alat komunikasi antar dokter dan juga dengan tenaga
kesehatan lainnya, agar terjamin kesinambungan informasi medis pasien sehingga pengelolaan
pasien dapat lebih komprehensif.

Dalam perkembangannya rekam medis dijadikan sebagai data untuk menentukan kebijakan
kesehatan, kemudian rekam medis menjadi alat bukti hukum. Bagaimanapun perkembangan
dalam penyelenggaraan rekam medis, yang tetap harus dipahami adalah, bahwa rekam medis
adalah dokumen penting dalam pelayanan kesehatan perorangan.

Mengapa perlu dibuatkan rekam medis:

Keharusan membuat rekam medis bagi rumah sakit diawali melalui

Kepmenkes no.031/Birhup/1972, bahwa semua rumah sakit diharuskan mengerjakan medical


recording dan reporting dan hospital statistic.

Kepmenkes no.034/Birhup/1972 tentang Perencanaan dan Pemeliharaan Rumah Sakit

SK IDI no.315/PB/A.4/1988 tentang rekam medis yang menekankan bahwa praktek profesi
kedokteran harus melaksanakan rekam medis, tidak saja untuk dokter yang bekerja di rumah
sakit, tetapi juga untuk dokter praktek pribadi.

Kepmenkes no. 749a/Menkes/Per/XII/1989 tentang Rekam Medis/Medical Record: kewajiban


bagi tenaga kesehatan untuk melaksanakan rekam medis.

Undang-Undang Nomor 29/2004 tentang Praktek Kedokteran: setiap praktek dokter wajib
membuat rekam medis, diatur dalam Pasal 46.

Permenkes no 369 tahun 2008 tentang Rekam Medis

Penyelenggaraanan rekam medis adalah untuk mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang
optimal melalui peningkatan mutu pelayanan kesehatan. Untuk peningkatan mutu pelayanan
kesehatan harus disertai dengan sarana penunjang yang memadai, antara lain melalui
penyelenggaraan rekam medis pada setiap sarana pelayanan kesehatan.

Dengan demikian, catatan rekam medis merupakan hak pasien yang perlu disediakan terutama
untuk kepentingan pelayanan yang optimal.

Menurut Sofwan Dahlan latar belakang perlunya dibuat rekam medis adalah untuk
mendokumentasikan semua kejadian yang berkaitan dengan kesehatan pasien serta menyediakan
media komunikasi di antara tenaga kesehatan bagi kepentingan perawatan penyakitnya yang
sekarang maupun yang akan datang (2000 : 73).
Sanksi atas pelanggaraan penyelenggaraan rekam medis adalah sebagai berikut :

Pasal 17 Permenkes no 369 tahun 2008 tentang Rekam Medis menyatakan: pelanggaran terhadap
ketentuan-ketentuan dalam peraturan ini dapat dikenakan sanksi administratif mulai dari teguran
lisan sampai pencabutan surat ijin;

Pasal 79 huruf b UU Praktek Kedokteran: dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu)
tahun atau denda paling banyak Rp. 50.000.000,- (Lima puluh juta rupiah), setiap dokter atau
dokter gigi yang dengan sengaja tidak membuat rekam medis sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 46 ayat (1).

Kepemilikan Rekam Medik

Kepemilikan rekam medis seringkali menjadi permasalahan baik bagi pasien/keluarga pasien dan
lawyer pasien disatu pihak dan rumah sakit/sarana pelayanan kesehatan dipihak lain.
Permasalahan timbul pada pemahaman tentang kepemilikan RM, menurut Permenkes no
269/2008 tentang Rekam Medis, Pasal 12 ay (1) bahwa berkas rekam medis milik sarana
pelayanan kesehatan, sementara ayat (2): Isi rekam medik merupakan milik pasien.

Masing-masing pihak merasa berhak memiliki rekam medis, dengan pemikiran bahwa antara
berkas dan isinya tidak bisa dipisahkan. Untuk mengatasi hal tersebut, banyak pihak yang
mencari jalan tengah dengan memberikan foto kopi atau salinan rekam medis kepada pihak
keluarga sementara rekam medis yang asli tetap disimpan dan menjadi milik sarana pelayanan
kesehatan.

Mengacu pada ayat (3) jelas disebutkan bahwa yang dimaksud dengan isi rekam medis bisa
menjadi milik pasien adalah dalam bentuk ringkasan isi rekam medis, dan bukan fotokopi atau
salinan rekam medis.

Untuk bisa memahami hal tersebut, maka harus dimengerti dahulu arti kata isi yang
dimaksudkan pada Peraturan Menteri Kesehatan tersebut. Kata isi adalah
sebuah homonim (adalah jenis-jenis kata yang memiliki pelafalan dan tulisan yang sama tetapi
memiliki makna yang berbeda, yang memiliki makna tergantung konteks kalimat yang
mengikutinya). Kata isi memiliki 4 arti:

Isi berarti sesuatu yang ada (termuat, terkandung, dan sebagainya) di dalam suatu benda dan
sebagainya: isi gudang itu pupuk dan alat-alat pertanian

Isi berarti besarnya suatu ruangan; volume: isi kaleng itu 20 liter

Isi berarti apa yang tertulis di dalamnya (tentang buku, surat, dan sebagainya)

Isi berarti inti atau bagian yang pokok dari suatu wejangan (pidato,pembicaraan, dan sebagainya)
Yang dimaksud dengan isi rekam medik pada Peraturan Menteri Kesehatan diatas adalah
pengertian isi seperti pada poin c yaitu isi yang berarti apa yang tertulis di dalamnya (tentang
catatan medis yang berada dalam rekam medis). Dengan memahami kata isi tersebut, maka :

Yang menjadi milik sarana pelayanan kesehatan adalah berkas yang berisi lembar catatan dan
dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang
telah diberikan kepada pasien (Permenkes no 269/2008 tentang Rekam Medis Ps 1 ayat (1)),
yaitu berkasnya atau bendanya.

Yang menjadi milik pasien adalah isi rekam medisnya: yaitu catatan medisnya saja dan bukan
lembaran-lembaran yang berisi catatan medis yang berada dalam berkas rekam medis. Jika
pasien atau keluarganya meminta rekam medis maka yang dapat diberikan oleh sarana pelayanan
kesehatan adalah isi rekam medis berupa ringkasan isi rekam medis, dan bukan fotokopi dari
lembaran-lembaran catatan medis pasien.

Kerahasiaan Rekam Medis.

Rahasia kedokteran adalah: data dan informasi tentang kesehatan seseorang yang diperoleh
tenaga kesehatan pada waktu menjalankan pekerjaan atau profesinya. (Permenkes No 36/2012
tentang Rahasia Kedeokteran). Dokter dan/atau tenaga kesehatan lainnya wajib untuk
menyimpan rahasia kedokteran pasien, berdasarkan:

PP no. 10 / 1966 tentang Wajib Simpan Rahasia Kedokteran. Pada penjelasan: Setiap orang harus
dapat meminta pertolongan kedokteran dengan perasaan aman dan bebas. Ia harus dapat
menceritakan dengan hati terbuka segala keluhan yang mengganggunya, balk bersifat jasmaniah
maupun rohaniah, dengan keyakinan bahwa hak itu berguna untuk menyembuhkan dirinya. Ia
tidak boleh merasa khawatir bahwa segala sesuatu mengenai keadaannya akan disampaikan
kepada orang lain, baik oleh dokter maupun oleh petugas kedokteran yang bekerja sama dengan
dokter tersebut.

Permenkes No 269/2008 tentang Rekam Medis Pasal 10 ay (1): identitas, diagnosa, riwayat
penyakit, riwayat pemeriksaan dan riwayat pengobatan pasien harus dijaga kerahasiaannya oleh
dokter/dokter gigi, tenaga kesehatan tertentu, petugas pengelola dan pimpinan sarana pelayanan
kesehatan.

Permenkes No 36/2012 tentang Rahasia Kedeokteran Pasal 4 ayat (1): Semua pihak yang terlibat
dalam pelayanan kedokteran dan/atau menggunakan data dan informasi tentang pasien wajib
menyimpan rahasia kedokteran.

Kewajiban menyimpan rahasia tersebut berlaku selamanya, walaupun pasien telah meninggal
dunia (Permenkes no 36/2012 tentang Rahasia Kedokteran Pasal 4 ayat (3))

Kerahasiaan tersebut hanya boleh dibuka dalam hal:


Untuk kepentingan kesehatan pasien

Memenuhi permintaaan aparatur penegak hukum dalam hal penegakkan hukum atas perintah
pengadilan

Permintaan dan/atau persetujuan pasien sendiri

Permintaan institusi/lembaga berdasarkan ketentuan peraturan periundang-undangan

Kepentingan penelitian pendidikan dan audit medis sepanjang tidak menyebutkan identitas
pasien

Pembukaan rekam medis berupa penjelasan tentang isi rekam medis (Pasal 11 ayat (1)) dan
bukan dengan memberikan berkas rekam medis.

Siapa yang boleh memberikan penjelasan tersebut?

Hanya oleh dokter yang merawat pasien dengan ijin tertulis dari pasien atau sesuai dengan
peraturan perundangan.

Pimpinan sarana pelayanan kesehatan dapat menjelaskan kepada pemohon baik langsung atau
tertulis tanpa persetujuan dari pasien berdasarkan peraturan perundang-undangan.

Pemberian Informasi untuk Kepentingan Kesehatan Pasien

Pemberian informasi medis pasien kepada pihak lain adalah sama dengan membuka rahasia
kedokteran, pemberian informasi untuk kepentingan kesehatan pasien biasanya berhubungan
dengan klaim pasien atas pembiayaan kesehatan pasien kepada pihak asuransi kesehatan
(Permenkes no 36/2012 tentang Rahasia Kedokteran Pasal 6 ayat (1) buruf b).

Pemberian informasi berupa penulisan diagnosa dan tindakan pada formulir klaim asuransi
berarti sudah membuka rahasia kedokteran pasien kepada pihak asuransi.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sehubungan dengan penulisan diagnosa pada klain
asuransi pasien.

Penulisan diagnosa dan tindakan yang dilakukan termasuk informasi pasien yang harus dijaga
kerahasiaannya (Pasal 10 ayat (1)), dokter yang merawat pasien dapat menyampaikan diagnosa
kepada pihak asuransi setelah pasien memberikan permintaan ada/atau persetujuan (Pasal 10 ayat
(2) huruf c ) dan permintaan dan atau persetujuan tersebut dalam bentuk tertulis (Pasal 11 ayat
(1)).
Asuransi dan pasien sangat berkepentingan dengan diagnosa pasien, karena berhubungan dengan
klaim pasien apakah dapat dibayarkan atau tidak oleh pihak asuransi, dihubungkan dengan
pengecualian dan ketentuan besaran premi yang dibayarnya.

Permasalahannya, apakah pasien tahu bahwa penyakit pasien adalah rahasia bagi orang lain,
kalau hanya penyakit biasa dan umum bagi kebanyakan orang mungkin tidak masalah, tetapi
bagaimana jika penyakit tersebut bukan penyakit biasa, memalukan dan aib bagi dirinya atau
keluarga seperti HIV-AIDS ?

Sejauh mana pasien tahu bahwa tidak semua penyakit bisa di klaimkan ke pihak asuransi, karena
ada beberapa penyakit yang dikecualikan.

Sering kali pihak asuransi menyerahkan formulir untuk diisi oleh dokter tanpa menyerahkan
permintaan dan/atau persetujuan pasien, karena pihak asuransi sudah mempunyai perjanjian baku
berupa persetujuan atau surat kuasa (dari pasien kepada pihak asuransi) untuk meminta diagnosa
ke pihak dokter/rumah sakit.

Apakah dengan surat kuasa tersebut sudah cukup dan bisa dianggap sebagai permintaan dan/atau
persetujuan pasien? Untuk itu perlu dipahami apa yang dimaksud sebagai surat kuasa.

Surat kuasa adalah pemberian kuasa atau wewenang terhadap seseorang yang dapat dipercaya
agar yang bersangkutan dapat bertindak mewakili orang yang memberi kuasa karena, orang yang
memberi kuasa tidak dapat melaksanakan sendiri (Suparjati, dkk). Pasal 1813 KUHPerdata
pemberian kuasa akan berakhir: diantaranya karena penarikan kembali kuasa penerima kuasa;
dan meninggalnya pasien yang pernah memberikan kuasa tersebut

Kelemahan pada surat kuasa pasien kepada asuransi, terutama untuk pasien yang sudah lama
tidak datang berobat, karena dokter/rumah sakit tidak pernah mengetahui apakah surat kuasa
tersebut telah ditarik kembali atau bahkan pasien telah meninggal.

Apa yang sebaiknya dilakukan oleh dokter/rumah sakit menghadapi permintaan penulisan
diagnosa penyakit pasien pada formulir klaim asuransi?

Permenkes No 269/2008 tentang Rekam Medis, informasi medis bisa dibuka berdasarkan
permintaan ada/atau persetujuan pasien, secara tertulis ditujukan kepada dokter yang (pernah)
merawat, jadi perlu ada permintaan khusus dari pasien/keluarga pasien kepada dokter untuk
memberikan infomasi medis pasien kepada pihak asuransi (pihak yang boleh menerima infomasi
medis), walaupun pihak asuransi memberikan surat kuasa (dari pasien).

Mengapa harus ada permintaan khusus? Apakah surat kuasa tersebut tidak cukup? Surat
permintaan tersebut diperlukan karena Dokter/rumah sakit tidak pernah mengetahui dengan
pasti, apakah surat kuasa tersebut masih berlaku atau tidak.
Penulisan Diagnosa pada Pasien yang Sudah Meninggal.

Apabila pasien sudah meninggal, apakah keluarga pasien bisa meminta kepada dokter untuk
menuliskan diagnosa penyakit pada formulir klaim asuransinya ?

Permenkes No 269/2008 tentang Rekam Medis, tidak mengatur secara jelas tentang hal tersebut,
tetapi kalau melihat pada Pasal 12 ayat (4): ringkasan rekam medis sebagaimana disebutkan pada
ayat (3) dapat diberikan, dicatat, atau dikopi oleh pasien atau orang yang diberi kuasa atau atas
persetujuan tertulis pasien atau keluarga pasien yang berhak untuk itu, maka bisa disimpulkan:
keluarga pasien yang mempunyai hak, dapat meminta kepada dokter/rumah sakit.

Permenkes no 36/ 2012 tentang Rahasia Kedokteran. Pasal 6 ayat (5): dalam hal pasien tidak
cakap untuk memberikan persetujuan, maka persetujuan dapat diberikan oleh keluarga terdekat
atau pengampunya.

Seperti apa pasien yang dianggap tidak cakap? Seseorang adalah tidak cakap apabila ia pada
umumnya berdasarkan ketentuan undang-undang tidak mampu membuat sendiri persetujuan-
persetujuan yang akibat-akibat hukum yang sempurna. (R. Setiawan, 1999, Pokok-Pokok Hukum
Perikatan, Putra Abardin, Bandung, 61)

Pasal 1330 KUHPerdata: yang tak cakap untuk membuat persetujuan adalah;

anak yang belum dewasa;

orang yang ditaruh di bawah pengampuan;

perempuan yang telah kawin dalam hal-hal yang ditentukan undang-undang dan pada

umumnya semua orang yang oleh undang-undang dilarang untuk membuat persetujuan tertentu.

Jadi orang yang tidak cakap menurut hukum: orang yang tidak mampu menjadi subjek hukum
dalam kehidupannya dikarenakan: orang yang belum dewasa; menderita sakit ingatan; orang
yang dibawah pengampuan. Orang yang sudah meninggal bukan lagi sebagai subjej hukum.

Kalau kembali kepada pengertian isi rekam medis diatas, secara tatabahasa kata Isi memiliki arti
kelas nomina/kata benda: yaitu kelas kata yang menyatakan nama dari seseorang, tempat, atau
semua benda dan segala yang dibendakan. Nomina dibagi dua: kata benda konkret, yaitu benda
yang dapat dikenal oleh panca indera (buku), serta kata benda abstrak yaitu benda yang hanya
dapat dikenal dengan pikiran, (missal: cinta).

Isi rekam medis termasuk ke dalam catatan medis yang dibendakan (kata benda yang abstrak).
Sebagai yang dibendakan, maka isi rekam medis dapat "diwariskan" kepada ahli waris.
Jadi keluarga pasien sebagai ahli waris mendapatkan hak atas isi rekam medis (Pasal 584
KUHPerdata), karena klaim asuransi adalah warisan bagi keluarga pasien, mengacu kepada Pasal
584 KUHPerdata: dalam hal peralihan hak milik atas suatu benda dari seorang kepada orang lain
disyaratkan bahwa seseorang yang akan mengalihkan itu haruslah orang yang berwenang untuk
menguasai bendanya, maka keluarga pasien sebagai ahli waris, dapat meminta kepada
dokter/rumah sakit untuk membuka rahasia kedokteran dengan menuliskan diagnosa penyakit
pasien pada formulir klaim asuransi, tentunya dengan persetujuan ahli waris lainnya (sesuai akta
waris).