Anda di halaman 1dari 40

MAKALAH

STRATEGI PENGEHAMATAN PAJAK MELALUI BENTUK USAHA DAN


MANAJEMEN PENUTUPAN USAHA DAN STRATEGI PERPAJAKANNYA

Disusun Oleh :

Ilham Hidayat 1610313620034

Eternoly Sinamboru Kariadi 1610313620025


Norma Elida 1610313620071
Nikita Kharisma 1710313620071
Pratiwi Mahardika
Septiani Surahman 1710313620083

1710313620094

KEMENTRIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


PROGRAM STUDI S1 AKUNTANSI REGULAR B

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

BANJARMASIN
2018
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................ i

1
2

DAFTAR ISI ..................................................................................................... ii


BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ...................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .................................................................. 2
1.3 Tujuan Makalah ..................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Strategi Penghematan Pajak Melalui Bentuk Usaha ............. 4
2.1.1 Bentuk Usaha Di Indonesia .......................................... 4
2.1.2 Pemilihan Bentuk Usaha ............................................... 6
2.1.2.1 Usaha Koperasi ................................................. 17
2.1.2.2 Usaha Organisasi Nirlaba .................................. 22
2.2 Manajemen Penutupan Usaha dan Strategi Perpajakannya ... 27
2.2.1 Penyelesaian Kewajiban Perpajakan ............................. 28
2.2.2 Mengansur dan Menunda Pembayaran Pajak ................ 29
2.2.3 Penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)......... 31
2.2.3.1 Keputusan Dirjen Pajak Atas Penghapusan NPWP
2.2.3.2 Tata Cara Penghapusan NPWP ……………….. 32
2.2.3.3 Penghapusan NPWP dalam Keadan Khusus …. 33
2.2.3.4 NPWP tidak dihapuskan ………………………. 34
2.2.3.5 Pencabutan NPPKP ……………………………. 34
2.2.3.6 Keputusan Ditjen Pajak Atas NPPKP ………… 35
2.2.4 Penghentian Kegiatan Operasional dan Status Dormant 36
2.2.5 Aspek Akuntansi dan Perpajakan ……………………..39

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan ........................................................................... 41
DAFTAR PUSTAKA

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas karunia

dan berkat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Tugas makalah
3

dari mata kuliah Manajemen Perpajakan ini penulis susun dengan maksud bukti

tertulis tentang ’Strategi Penghematan Pajak Melalui Bentuk Usaha dan

Manajemen Penutupan Usaha dan Startegi Perpajakannya’’ beserta hal-hal yang

berkaitan. Kiranya makalah ini dapat memberikan manfaat kepada para pembacanya.

Tidak lupa penulis ucapkan terimakasih kepada pihak - pihak yang telah

membantu dan memberi pengarahan untuk menyelesaikan makalah ini. Makalah ini

masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu penulis mengharapkan adanya kritik dan

saran yang membangun dari para pembaca. penulis berharap akan ada yang

mengembangkan makalah ini di masa yang akan datang.

Banjarmasin, 26 September 2018

Kelompok II

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Upaya penghematan beban pajak yang akan ditanggung, perusahaan melakukan

berbagai perencanaan pajak. Selama perencanaan tidak bertentangan dengan


4

ketentuan pajak yang berlaku, hal tersebut legal untuk dilakukan. Penghematan pajak

dilakukan mulai dari tahap pemilihan bentuk usaha sampai kepada saat penutupan

perusahaan.
Strategi penghematan pajak melalui pemilihan bentuh usaha ini adalah salah

satu persoalan yang sering dihadapi oleh penanam modal atau investor baru yang

ingin punya usaha tapi bingung mau ditempatkan di mana-mana investasinya, dari

sekian banyak pilihan bentuk usaha. Investor juga harus memikirkan jenis usaha atau

portofolio investasi, apakah portofolio investasi sekuritas (seperti saham, obligasi,

reksadana), kegiatan perdagangan (commerce), kegiatan industri atau kegiatan jasa

(service) yang tujuan akhirnya adalah menentukan investasi yang memberikan

kontribusi profit paling besar, tentu akan dengan resiko investasi yang paling rendah.

Disini yang akan kita diskusikan adalah masalah pemilihan bentuk usaha yang dilihat

dari aspek perpajakannya, bukan membahas tentang jenis usaha atau investasi.
Manajemen penutupan usaha dan strategi perpajakannya adalah dimana dalam

situasi dan kondisi dimana perusahaan mengalami kerugian beruntun karena

kemunduran kegiatan usaha atau karena omzet usaha yang menurun drastis. Semua

simpul kegiatan perusahaan terhenti atau macet, ditambah kondisi usaha yang terlilit

utang sehingga cash flow perusahaan harus merekayasa ulang strategi perusahaan

dengan melakukan berbagai usaha penyelamatan agar perusahaan terhindar dari

kebangkrutan. Selain dengan melakukan rektrukturisasi keuangan (financial

reengineering) dengan mengonversikan utang menjadi modal, dan melakukan

penjadwalan ulang pembayaran utang, serta renegosiasi suku bunga pinjaman,

manajemen bisa melakukan upaya persuasif terhadap investor agar mau menyuntik

dana talangan (bridging fund) atau membeli atau mengakuisisi perusahaan tersebut.
5

Bila usaha penyelamatan tersebut juga buntu, tidak ada pilihan lain selain

menutup usaha atau melikuidasi perusahaan. Keputusan melikuidasi perusahaan

merupakan pilihan terakhir yang harus diambil pengusaha karena tindakan tersebut

selain berdampak pada berhentinya pemasukan, perusahaan juga harus menyelesaikan

kewajiban terhadap pihak ketiga, termasuk kewajiban utang pajak yang dilindungi

undang-undang. Dari pemaparan diatas maka kami akan membahas mengenai topik

pembahasan yang berjudul ‘’Strategi Penghematan Pajak Melalui Bentuk Usaha

dan Manajemen Penutupan Usaha dan Startegi Perpajakannya’’.


1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana startegi penghematan pajak melalui badan usaha?
2. Bagaimana bentuk usaha di Indonesia?
3. Bagaimana pemilihan bentuk usaha?
4. Bagaimana bentuk usaha koperasi?
5. Bagaimana bentuk usaha nirlaba (yayasan)?
6. Bagaimana manajemen penutupan usaha dan startegi perpajakannya?
7. Bagaimana proses kewajiban perpajakan?
8. Bagaiman mengansur atau menunda pembayaran pajak?
9. Bagaimana penghapusan nomor pokok wajib pajak (NPWP)?
10. Bagaimana kegiatan operasional dan status dormant?
11. Bagaimana aspek akuntansi dan perpajakan lain atas pembubaran

perusahaan?
1.3 Tujuan Makalah
1. Untuk mengetahui startegi penghematan pajak melalui badan usaha.
2. Untuk mengetahui bentuk usaha di Indonesia.
3. Untuk mengetahui pemilihan bentuk usaha.
4. Untuk mengetahui bentuk usaha koperasi.
5. Untuk mengetahui bentuk usaha nirlaba (yayasan).
6. Untuk mengetahui manajemen penutupan usaha dan startegi perpajakannya.
7. Untuk mengetahui proses kewajiban perpajakan.
8. Untuk mengetahui mengansur atau menunda pembayaran pajak.
9. Untuk mengetahui penghapusan nomor pokok wajib pajak (NPWP).
10. Untuk mengetahui kegiatan operasional dan status dormant.
11. Untuk mengetahui aspek akuntansi dan perpajakan lain atas pembubaran

perusahaan.
6

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Strategi Penghematan Pajak Melalui Bentuk Usaha

Strategi penghematan pajak melalui pemilihan bentuh usaha ini adalah salah

satu persoalan yang sering dihadapi oleh penanam modal atau investor baru yang

ingin punya usaha tapi bingung mau ditempatkan di mana-mana investasinya, dari

sekian banyak pilihan bentuk usaha. Investor juga harus memikirkan jenis usaha atau

portofolio investasi, apakah portofolio investasi sekuritas (seperti saham, obligasi,

reksadana), kegiatan perdagangan (commerce), kegiatan industri atau kegiatan jasa

(service) yang tujuan akhirnya adalah menentukan investasi yang memberikan

kontribusi profit paling besar, tentu akan dengan resiko investasi yang paling rendah.

Disini yang akan kita diskusikan adalah masalah pemilihan bentuk usaha yang dilihat

dari aspek perpajakannya, bukan membahas tentang jenis usaha atau investasi.

2.1.1 Bentuk Usaha di Indonesia

Tingkat keuntungan bisa sama di antara beberapa bentuk usaha namun

besarnya pajak yang ditanggung bisa berbeda. Selain mempertimbangkan aspek

pengembangan usaha (business development) dalam jangka panjang. Apalah

artinya keuntungan yang diperoleh dalam jangka pendek dengan meminimalkan


7

jumlah pajak, tetapi terbentur pada batasan ruang gerak pengembangan pasar dan

luasan usahanya kedepan dan jaringan bisnis yang sempit. Bila kita bicara tentang

kepercayaan mitra bank (bank dan supplier) terhadap badan usaha yang umumnya

lebih senang bekerjasama dengan bisnis yang berbadan hukum. Ketika bicara

mengenai masalah permodalan, pihak bank cenderung memilih bekerja sama

dengan badan usaha PT ketimbang usaha perseorangan, karena perhitungan resiko

manajemennya lebih tinggi pada usaha perseorangan.

Dalam peraturan perpajakan, banyak celah hukum yang dapat kita

manfaatkan untuk meminimalkan beban pajak tanoa harus berhadapan langsung

dengan aparat pajak dalam pemeriksaan dan penyidikan pajak, yaitu dengan cara

merapikan tx management dan tx planning perusahaan. Tujuan perencanaan pajak

yang baik adalah memberikan keuntungan sebesar-besarnya kepada investor agar

return on investment yang diperoleh semakin tinggi. Strategi perencanaan pajak

dapat dimulai sejak awal berbisnis dengan melakukan setting up bentuk usaha

yang akan dipilih investor.

Entitas hukum bisnis di Indonesia yang diakui Undang-Undang Perpajakan

adalah:

1. Perseroan Terbatas (PT), Koperasi, dan Yayasan.


2. Persekutuan (Firma, CV, Kongsi)
3. Perseroan.

Dilihat dari aspek legalitasnya, Perseroan Terbatas (PT), Koperasi, dan

Yayasan adalah entitas berbadan hukum (karena ada pengesahan pemerintahan

yakni Menteri Kehakiman/ Menteri Hukum dan HAM atas akte pendirian dan

anggaran dasarnya); sedangkan Persekutuan (Firma, CV, Kongsi) dan Perseroan


8

tidak berbadan hukum. Beberapa faktor yang harus dipertimbangkan dalam

pemilihan bentuk usaha (Zain, 2003: 97):

1. Bagaimana hubungan antara tarif pajak penghasilan orang pribadi dan

tarif pajak penghasilan wajib pajak badan, termasuk ketentuan khusus

yang mengatur hal tersebut.


2. Pengenaan pajak penghasilan secara berganda, baik atas laba bruto

usaha, maupun penghasilan dan pembagian keuntungan (dividen)

kepada para pemegang saham.


3. Kesempatan untuk menunda pembayaran pajak pada tarif penghasilan

lebih kecil/besar apabila dibandingkan dengan kesempatan yang

teradapat pada tariff pajak penghasilan dan akumulasi penghasilan

perusahaan.
4. Adanya ketentuan mengenai kerugian hasil usaha netto (kompensasi

kerugian) dan kredit investasi yang berlaku bagi bentuk usaha tertentu.
5. Kemungkinan pengajuan perlakuan khusus terhadap pajak atas

akumulasi laba pajak atas penghasilan personal, holding company dan

seterusnya.
6. Liberalisasi ketentuan yang menurut fringe benefit dan payment in

kind.
2.1.2 Pemilihan Bentuk Usaha
Memilih bentuk usaha yang tepat merupakan hal pertama yang harus

diperhatikan oleh investor/pengusaha, selain untuk menentukan bentuk usaha apa

yang dapat memberikan kontribusi profit paling besar dengan tingkat risiko yang

paling rendah, beban pajak yang kecil dan mempertimbangkan kelangsungan

usaha dalam jangka panjang. Pemilihan Bentuk Usaha Orang Pribadi dan Badan.
9

Pilihan bentuk badan usaha yang tersedia secara umum adalah berbentuk

Perseroan Terbatas (PT), Perseroan Kommanditer (CV) atau Perorangan (Pribadi).


1. Perseroan Terbatas (PT)
Perseroan Terbatas, yang selanjutnya disebut Perseroan, adalah badan

hukum yang merupakan yang merupakan persekutuan modal yang

didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan

modal dasar yang seluruhnya bebagi dalam saham, dan memenuhi

persyaratan yang ditetapkan dalam Undang-Undang serta peraturan

pelaksanaannya.
Perseroan Terbuka (Tbk.) adalah Perseroan Publik atau Perseroan yang

melakukan penawaran umum saham sesuai dengan ketentuan Undang-

Undang di bidang padar modal.


Perseroan Terbatas adalah salah satu bentuk badan hukum entitas bisnis

yang banyak digunakan di Indonesia, yang didirikan dengan paying

hukum Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan

Terbatas. Untuk mendirikan sebuah perusahaan berbentuk PT,

berdasarkan akte notaris yang didaftarkan di Kepaniteraan Pengadilan

Negeri dan diumumkan dalam Tambahan Berita Negara RI, diperlukan

adanya pengesahan dari Kementerian Hukum dan HAM. Pasal 97

Undang-Undang tersebut secara eksplisit membedakan PT dengan

badan hukum lainnya, pada PT tanggung jawab perusahaan dibebankan

kepada direksi bukan pemegang saham. Direksi adalah organ perseroan

yang berwenang dan bertanggung jawab penuh atas pengurusan

Perseroan untuk kepentingan Perseroan. Jadi selama pemegang saham

tidak merangkap sebagai pengurus perusahaan, maka tidak dapat


10

dimintai tanggungjawabnya terhadap tindakan operasional perusahaan

oleh pihak mana pun. Tanggung jawab pemegang saham terbatas pada

nilai saham yang diambilnya.


Dalam menjalankan hak dan kewajiban sesuai dengan ketentuan

Undang-Undang Perpajakan, dalam hal badan, wajib pajak diwakili

oleh perngurus yang bertanggungjawab secara pribadi dan atau secara

renteng atas pembayaran pajak terutang, kecuali apabila dapat

membuktikan dan meyakinkan Direktur Jenderal Pajak bahwa mereka,

dalam kedudukannya, benar-benar tidak mungkin untuk dibebani

tanggung jawab atas pajak yang terutang tersebut. Mengenai tanggung

jawab rentang ini dijelaskan lebih lanjut dalam Surat Edaran Dirjen

Pajak No. 02/PJ.47/1990 dengan merujuk kepada ketentuan Pasal 32

ayat 2 Undang-Undang No. 6 Tahun 1983 yang telah diubah terakhir

kalinya dengan Undang-Undang No. 28 Tahun 2007 dan Undang-

Undang No. 16 Tahun 2009 tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara

Perpajakan.
Dalam ketentuan perpajakan, sesuai pasal 17 Undang-Undang Nomor 7

Tahun 1983 yang telah diubah terakhir kali dengan Undang-Undang

Nomor 36 Tahun 2009 tentang Pajak Penghasilan, pengenaan pajak PT

dikenakan pada level net income sebelum pembagian dividen perusahaan

kepada pemegang saham. Ilustrasi perhitungan pajak Perseroan PT dapat kita

lihat berikut ini:

Income Tahun 2015 Rp 60.000.0000.000


COGS Rp 58.800.000.000
Gross Income Rp 1.200.000.000
11

Operating Expenses Rp 500.000.000


Net Income Before Tax Rp 700.000.000
Corporate Tax (PPh Badan) 25% Rp 175.000.000
Net Income After Tax Rp 525.000.000

Pada saat penghasilan tersebut ditransfer ke pemegang saham sebagai

dividen, maka atas pembagian tersebut akan dikenakan pajak lagi sebesar

10% (PPh Final untuk WPOP), sebagai berikut:

Net Income Before Tax Rp 700.000.000


Corporate Tax (PPh Badan) 25% Rp 175.000.000
Net Income After Tax Rp 525.000.000
Pajak Atas Dividen 10% (PPh Rp 52.000.000

Final)
Return yang diterima pemegang Rp 472.500.000

saham
% Beban Pajak (Total Tax/Net (Rp 175.000.000+ Rp 52.500.000):

Income) Rp 700.000.000 x 100% = 32,5%

Dengan demikian, secara total investor WPOP akan terbebani pajak

keuntungan yang diperoleh dari badan usaha PT tersebut sebesar

32,5%.
2. Usaha Persekutuan (CV, Firma, Kongsi)
Literatur hukum ada 3 (tiga) macam perkumpulan bukan badan hukum

atau tidak termasuk kategori badan, hukum, yaitu Persekutuan Perdata,

Firma dan CV. Pendirian sebuah Firma (Fa), walaupun didirikan

dengan akte notaris, didaftarkan di Kepaniteraan Pengadilan Negeri

dan diumumkan dalam Tambahan Berita Negara RI, tidak diperlukan

adanya pengesahan dari Kementerian Hukum dan HAM. Demikian


12

pula halnya dengan pendirian sebuah CV, karena pada dasarnya CV

merupakan firma dengan bentuk usaha.


Oleh karena belum ada Undang-Undang yang mengatur masalah

Firma, CV, dan Persekutuan Perdata, maka untuk persekutuan tersebut

kita kembali kepada Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD)

dan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang mengatur masalah

tersebut. Misalnya menenai pendirian Persekutuan (Firma atau CV)

yang diatur dalam pasal 1618 dan 1320 KUHP dan juga terdapat dalam

pasal 22 KUHD.
Perbedaan antara persekutuan dengan PT terletak pada tanggung jawab

peseroannya (shareholder). Pasal 18 dan 19 buku 1 KUHD mengatur

tanggung jawab renteng pemilik/ pesero terhadap semua operasional

atau tuntutan dari pihak lain apabila terjadi suatu perkara.


Apabila CV mempunyai banyak utang sehingga jatuh pailit dan apabila

harta benda CV tidak mencukupi untuk pelunasan utang-utangnya,

maka harta benda pribadi pesero pengurus dapat

dipertanggungjawabkan untuk melunasi utang perusahaan. Sebaliknya

harta benda para Persero Commanditaris (Sleeping Partner) tidak dapat

diganggu gugat.
Pengaturan pajak CV diatur dalam pasal 6 dan pasal 4 ayat 3 huruf I

Undang-Undang PPh. Berbeda dengan PT, pengenaan pajak CV hanya

dikenakan sekali pada level net income Perseroan. Ketika

didistribusikan kepada pemegang saham tidak dikenakan pajak dividen

lagi. Pasal 4 ayat 3 huruf i Undang-Undang No. 7 Tahun 1983 yang

telah diubah terakhir akhir kalinya dengan Undang-Undang No. 38


13

tentang Pajak Penghasilan, menegaskan yang dikecualikan dari objek

pajak yakni bagian laba yang dterima atau diperoleh anggota dari

perseroan komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham-saham,

persekutuan, perkumpulan, firma, dan kongsi, termasuk pemegang unit

penyertaan kontrak investasi kolektif.


Untuk kepentingan pengenaan pajak badan-badan, sebagaimana disebut

dalam ketentuan tersebut yang merupakan himpunan para anggotanya,

dikenai pajak sebagai satu kesatuan, yaitu pada tingkat badan tersebut.

Oleh karena itu bagian laba yang diterima oleh para anggota badan

tersebut bukan lagi merupakan objek pajak.


Dengan asumsi yang sama seperti contoh pada tabel berikut ini, maka

ilustrasi perhitungan pajak Firma/CV dapat kita lihat sebagai berikut:

Income Tahun 2015 Rp 60.000.000.000


COGS Rp 58.000.000.000
Gross Income Rp 1.200.000.000
Operating Expenses Rp 500.000.000
Net Income Before Tax Rp 700.000.000
Corporate Tax (PPh Badan) 25% Rp 175.000.000
Net Income After Tax Rp 525.000.000

Pada saat penghasilan tersebut ditransfer ke pemegang saham sebagai

dividen, maka atas pembagian tersebut tidak akan dikenai pajak lagi sebagai

berikut:

Net Income Before Tax Rp 700.000.000


Corporate Tax (PPh Badan) 25% Rp 175.000.000
Net Income After Tax Rp 525.000.000
Pajak Atas Dividen 0% Rp 0
Return yang diterima share holder Rp 525.000.000
% Beban Pajak (Total Tax/Net (Rp 175.000.000: 700.000.000) x
14

Income) 100% = 25%

3. Usaha Perseorangan
Mayoritas pendudukan Indonesia menjalankan bisnis secara

perserorangan, tidak mau terikat dengan badan usaha yang lebih

formal, tanpa akte notaries dan bersikap fleksibel terhadap kewajiban

yang harus dipenuhi, namun tetap memiliki NPWP untuk memenuhi

kewajiban perpajakannya. Bentuk badan usaha perseorangan dapat

berupa wartel, salon, rumah makan, usaha dagang (UD), waralaba, dan

masih banyak lagi.


Ada beberapa perbedaan dalam menghitung pajak usaha antara pajak

perseorangan dengan pajak Perseroan, antara lain:


- Dalam perhitungan pajak perseorangan, ada beberapa faktor

pengurang seperti Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) dan biaya

jabatan, yang dalam perhitungan pajak Perseorangan faktor tersebut

tidak ada dalam ketentuannya.


- Terdapat pembedaan tax rate dan lapisan kena pajak (taxable

income bracket) antara PPh Perseorangan dengan pajak penghasilan

badan, di mana PPh Perseorangan menggunakan tariff progresif

dari lapisan tarif 5% hingga tarif maksimum 30%, sedangkan Pajak

Penghasilan Badan menggunakan tarif tunggal 25% (tarif 25%

berlaku sejak awal tahun 2010, sedangkan tahun 2009 tarif 28%).

Lapisan Penghasilan PPh pasal 21 Tarif Pajak

Perseorangan (UU PPh No. 36 Tahun 2008)


0 sampai Rp 50.000.000 5%
15

Diatas Rp 50.000.000 s.d Rp 250.000.000 15%


Diatas Rp 250.000.0000 s.d Rp 500.000.000 25%
Diatas Rp 500.000.000 30%

Secara sederhana beban pajak yang harus ditanggung investor WPOP

dengan mengenakan pajak dengan tarif progresif seperti terlihat pada

tabel di atas.

Income Tahun 2015 Rp 60.000.0000.000


COGS Rp 58.800.000.000
Gross Income Rp 1.200.000.000
Operating Expenses Rp 500.000.000
Net Income Before Tax Rp 700.000.000
PTKP (Kawin 3 Anak atau K/3) Rp 72.000.000
Taxable Income Rp 628.000.000
Tax: PPh Pasal 29 Rp 127.000.000
*) 54.000.000 + (4*4.500.000) = Rp 72.000.000

Pada saat penghasilan tersebut ditransfer ke pemegang saham sebagai

dividen maka atas pembagian tersebut tidak akan dikenakan pajak lagi,

sebagai berikut:

Net Income Before Tax Rp 700.000.000


Tax: PPh Pasal 21 Rp 127.000.000
Income After Tax Rp 573.000.000
Pajak Atas Dividen 0% Rp 0
Return yang diterima share Rp 554.720.000

holder
% Beban Pajak (Total Tax/Net Rp 127.280.000: 700.000.000 x

Income) 100% = 1,79%


Perhitungan PPh Pasal 21:

Penghasilan Kena Pajak 628.000.000

PPh Pasal 21:

5% x Rp 50.000.000 2.500.000
16

15% x Rp 200.000.000 30.000.000

25% x Rp 378.000.000 94.500.000

Total PPh Pasal 21 Rp 127.000.000

Secara komparatif, beban pajak yang harus ditanggung investor dari ketiga

entitas bisnis tersebut adalah:

PT Persekutuan Perseorangan

(Fa/CV)
Net Income Rp 700.000.000 Rp 700.000.000 Rp 700.000.000
Beban Rp 227.500.000 Rp 175.000.000 Rp 127.000.000

Pajak (Rp)
Beban 32,5% 25% 1,79%

Pajak (%)

Dari analisis diatas, ada beberapa hal penting yang perlu kita catat:

1. Beban pajak yang ditanggung investor melalui persekutuan

ternyata, lebih kecil daripada usaha berbentuk PT.


2. Bisnis perseorangan tersebut bisa memberikan tingkat efisiensi

pajak yang jauh lebih besar dari pada bentuk badan usaha lainnya.

Namun kita tidak boleh tergesa-gesa mengambil keputusan atas

dasar pertimbangan ini semata, harus memperhatikan

pertimbangan lain.
3. Pemilihan salah satu entitas bisnis dapat dijadikan referensi

dalam pengambilan keputusan oleh para investor untuk

meminimalkan beban pajak. Namun demikian faktor pajak bukan


17

satu-satunya pertimbangan dalam pengambilan keputusan bisnis.

Masih banyak variabel lain yang harus diperhatikan investor.


4. Investor konvesional lebih sering mengandalkan institusi (naluri)

bisnisnya daripada perhitungan di atas kertas. Dalam

pengambilan keputusan, mereka hanya bermodalkan pengalaman

(learning curve yang tinggi) yang sangat berharga. Sehingga

dengan keyakinan penuh menjalankan usaha dengan kiat dan alur

pemikiran mereka yang sederhana, tetapi realitas dan terbukti bisa

berhasil. Pengelolaan bisnis modern dilakukan secara

professional dan tidak bisa mengandalkan instuisi semata, karena

yang terakhir ini hanya dilakukan oleh pelaku bisnis kawakan.


5. Diantara sederatan pertimbangan dalam proses pengambilan

keputusan bisnis modern, harus juga diakomodasi masalah

permodalan, advis manajemen resiko, lingkungan hidup,

tanggung jawab persero bila terjadi klaim pihak ketiga, business

dan market development, serta hak dan kewajiban lainnya yang

timbul dari pemilihan bentuk usaha tersebut.


2.1.2.1 Usaha Koperasi
Koperasi adalah badan usaha yang mengorganisasi pemanfaatan dan

pendayagunaan sumber daya ekonomi para anggotanya atas dasar

prinsip-prinsip koperasi dan kaidah usaha ekonomi untuk

meningkatkan taraf hidup anggota pada khususnya dan masyarakat

daerah kerja pada umumnya, dengan demikian koperasi merupakan

gerakan ekonomi rakyat dan sokoguru perekonomian nasional (PSAK

No. 27). (IAI, SAK Per 1 Juli 2009).


18

Koperasi adalah salah satu bentuk badan hukum entitas bisnis yang

cukup banyak digunakan di Indonesia, yang didirikan dengan payung

hukum UU No. 25 tahun 1992 Tentang Perkoperasian. Dasar pendirian

sebuah perusahaan dengan bentuk koperasi adalah pada akte notaris

yang didaftarkan di Kepaniteraan Pengadilan Negeri dan diumumkan

dalam Tambahan Berita Negara RI serta disahkan oleh Kementrian

Hukum dan HAM. Dalam koperasi, tanggung jawab perusahaan

dibebankan kepada pengurus, bukan kepada anggota koperasi.

Pengurus koperasi adalah organ koperasi yang berwenang dan

bertanggung jawab penuh atas pengurus koperasi dan untuk

kepentingan koperasi.
Beberapa jenis koperasi :
1. Koperasi Konsumen (misalnya koperasi warung serba ada atau

supermarket)
2. Koperasi Produsen (misalnya koperasi jasa konsultasi)
3. Koperasi Simpan Pinjam
4. Koperasi Pemasaran
Perlakuan Perpajakan Koperasi:
Sebagaimana pada bentuk badan usaha lainnya, pada prinsipnya

koperasi dapat melakukan kegiatan di hampir semua bidang usaha,

sehingga atas penghasilan koperasi yang disebut sisa hasil usaha (SHU)

merupakan objek pajak penghasilan yang dikenai tarif PPh Badan,

dengan tarif tunggal 28% (tahun 2009), dan tarif 25% (tahun 2010 dan

seterusnya).
Insentif Pajak Bagi Koperasi:
Pada dasarnya, apa pun insentif pajak yang diberikan kepada badan

usaha (PT, firma, CV) juga berlaku bagi koperasi.


19

Beberapa fasilitas insentif pajak penghasilan dan yang dikecualikan

dari pajak dalam UU PPh No. 36 Tahun 2008 yang berlaku bagi

koperasi, antara lain :


a. Yang dikecualikan dari objek pajak adalah harta hibahan dan

bantuan atau sumbangan kepada koperasi, sepanjang tidak ada

hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan

di antara pihak-pihak yang bersangkutan (Pasal 4 ayat 3 huruf a UU

PPh No. 36 Tahun 2008).


b. Sisa hasil usaha (SHU) yang dibayarkan oleh koperasi kepada

anggotanya, tidak dipotong PPh Pasal 23 (Pasal 23 ayat 4 huruf UU

PPh No. 36 Tahun 2008).


c. Dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh dari

penyertaan modal pada badan usaha yang didirikan dan bertempat

kedudukan di Indonesia dengan syarat dividen tersebut berasal dari

cadangan laba yang ditahan.


Pasal 4 ayat 3 huruf f UU PPh No. 36 Tahun 2008 :
Yang dikecualikan dari objek pajak adalah :
Dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh perseroan

terbatas sebagai wajib pajak dalam negeri, koperasi, badan usaha

milik negara, atau badan usaha milik daerah, dari penyertaan modal

pada badan usaha yang didirikan dan bertempat kedudukan di

Indonesia dengan syarat :

1. Dividen tersebut berasal dari cadangan laba ditahan; dan


2. Bagi Perseroan terbatas, badan usaha milik negara, dan badan

usaha milik daerah yang menerima dividen, kepemilikan saham


20

pada badan yang memberikan dividen paling rendah 25% (dua

puluh lima persen) dari jumlah modal yang disetor.


d. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 15 tahun 2009 PPh tentang

bunga simpanan yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggota

koperasi perorangan. Besarnya Pajak Penghasilan (final) adalah :


1. 0% (nol persen) untuk penghasilan berupa bunga simpanan

sampai dengan Rp 240 ribu per bulan; atau


2. 10% (sepuluh persen) dari jumlah bruto bunga untuk penghasilan

berupa bunga simpanan lebih dari Rp 240 ribu per bulan.


e. Tarif baru bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).
Insentif ini khusus untuk UMKM berbadan hukum yang memiliki

omzet di bawah Rp 4,8 miliar per tahun atau Rp 400 juta per bulan,

Diberi insentif pemotongan tarif PPh sebesar 50% dari tarif pajak

normal sebesar 25% oleh pemerintah.


f. Peraturan Pemerintah No. 1 Tahun 2007 dan No. 62 Tahun 2008

Tentang Fasilitas Pajak Penghasilan Untuk Penanaman Modal Di

Bidang-Bidang Usaha tertentu Dan Atau Di Daerah-Daerah

Tertentu.

Kegiatan Usaha Koperasi yang Mendapatkan Perlakuan Khusus:

Ada beberapa kegiatan usaha koperasi yang mendapat perlakuan

khusus:

1. Koperasi yang menanamkan modalnya di bidang-bidang usaha

tertentu dan atau di daerah-daerah tertentu (mendapatkan fasilitas

pajak penghasilan untuk penanaman modal, sebagaimana diatur


21

dalam Peraturan Pemerintah No. 1 Tahun 2007 dan No. 62 Tahun

2008).
2. Pembebasan bea masuk dan tidak dipungut Pajak Pertambahan Nilai

serta Pajak Penjualan atas impor kendaraan bermotor jenis sedan

untuk dipergunakan dalam usaha pertaksian oleh Koperasi

Pengemudi Taksi. PPN dan PPn BM yang ditanggung pemerintah

berlaku sepanjang kendaraan tersebut digunakan dalam usaha

pertaksian sekurang-kurangnya selama lima tahun sejak tanggal

dikeluarkannya STNK (Keputusan Presiden RI Nomor 30 Tahun

1986 dan Nomor 28 Tahun 1987 Jo. Keputusan Presiden Nomor 74

Tahun 1995).
3. Pondok Boro yang dibebaskan dari pengenaan Pajak Pertambahan

Nilai adalah bangunan sederhana, berupa bangunan bertingkat atau

tidak bertingkat, yang dibangun dan dibiayai oleh perorangan atau

koperasi buruh atau koperasi karyawan yang diperuntukkan bagi para

buruh tidak tetap atau para pekerja sektor informal berpenghasilan

rendah dengan biaya sewa yang disepakati, yang tidak

dipindahtangankan dalam jangka waktu 5 (lima) tahun sejak

diperoleh (Peraturan Menkeu No .

36/PMK.03/2007.jo.No.80/PMK.03/2008 danNo.31/PMK.03/2011).
Dalam ketentuan perpajakan, sesuai pasal 17 UU No. 7 Tahun 1983

yang telah diubah terakhir kali dengan UU No. 36 Tahun 2008

tentang Pajak Penghasilan, pajak koperasi dikenakan pada level net


22

income sebelum pembagian SHU perusahaan kepada anggota

koperasi.

Ilustrasi perhitungan pajak koperasi dapat kita lihat dalam tabel berikut ini :

Income Tahun 2013 Rp 60.000.000.000


COGS Rp 58.800.000.000
Gross Income Rp 1.200.000.000
Operating Expenses Rp 500.000.000
Net Income before tax Rp 700.000.000
Corporate Tax (PPh badan) 25% Rp 175.000.000
Net Income after tax Rp 525.000.000

2.1.2.2 Usaha Organisasi Nirlaba (Yayasan)

Karakteristik organisasi atau lembaga nirlaba berbeda dengan organisasi

bisnis. Perbedaan utama terletak pada cara organisasi memperoleh sumber

daya yang dibutuhkan untuk melakukan berbagai aktivitas operasinya.

Organisasi nirlaba memperoleh sumber daya dari sumbangan para anggota

dan para penyumbang lain yang tidak mengharapkan imbalan apapun dari

organisasi tersebut (IAI,SAK Per 1 Juli 2009).

Yayasan adalah salah satu bentuk badan hukum entitas bisnis yang cukup

banyak digunakan di Indonesia, yang didirikan dengan payung hukum UU

No. 16 tahun 2001 Tentang Yayasan. Pendirian sebuah perusahaan dengan

bentuk Yayasan, didasarkan pada akte notaris yang didaftarkan di

Kepaniteraan Pengadilan Negeri dan diumumkan dalam Tambahan Berita

Negara RI, serta diperlukan adanya pengesahan dari Kementrian Hukum dan
23

HAM. Dalam Yayasan, tanggung jawab perusahaan dibebankan kepada

Pengurus. Pengurus yayasan adalah organ yayasan yang berwenang dan

bertanggung jawab penuh atas pengurusan perusahaan untuk kepentingan dan

tujuan yayasan. Bahkan setiap pengurus bertanggung jawab penuh secara

pribadi apabila yang bersangkutan dalam menjalankan tidak sesuai dengan

anggaran dasar sehingga mengakibatkan kerugian yayasan atau pihak ketiga

(pasal 35 ayat 3).

Ada beberapa macam jenis yayasan, di antaranya:

1. Yayasan Pendidikan (dari TK hingga universitas)

2. Yayasan Keagamaan dan Sosial (Misalnya: Yayasan mesjid dan Yayasan

Panti Asuhan Yatim Piatu)

3. Yayasan Kesehatan (Misalnya: poliklinik dan rumah sakit)

4. Yayasan bidang penelitian dan pengembangan (misalnya yayasan lembaga

konsumen)

Perlakuan Perpajakan Yayasan:

Sebagaimana pada bentuk badan usaha lainnya, pada prinsipnya yayasan

dapat melakukan kegiatan di hampir semua bidang usaha, sehingga atas

penghasilan yayasan yang disebut dengan juga dengan Sisa Hasil Usaha

(SHU) merupakan objek pajak penghasilan yang dikenai tarif PPh Badan,

dengan tarif tunggal 28% (Th 2009) dan tarif 25% (Th 2010 dan seterusnya).

Pengakuan penghasilan maupun biaya pada yayasan sama dengan badan

usaha lainnya.
24

Namun demikian ada beberapa kegiatan usaha yayasan yang mendapat

perlakuan khusus seperti diuraikan berikut ini:

Kegiatan Usaha Yayasan yang Mendapatkan Perlakuan Khusus

1. Mendapat fasilitas pembebasan bea masuk dan cukai dengan mengajukan

permohonan untuk dapat ditetapkan sebagai badan atau lembaga yang

mendapatkan fasilitas pembebasan bea masuk berdasarkan Keputusan

Menteri Keuangan Nomor 144/KMK.05/1997 tentang Pembebasan Bea

Masuk Dan Cukai Atas Impor Barang Kiriman Hadiah Untuk Keperluan

Ibadah Umum, Amal, Sosial dan Kebudayaan (Peraturan Menteri Keuangan

Nomor 22/PMK.04/2006, sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir

dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 67/PMK.04/2006). Dalam hal

ini Yayasan dapat mengajukan permohonan untuk memperoleh fasilitas

tersebut setiap saat dibutuhkan.

2. Dikecualikan dari kewajiban pembayaran atau pemungutan Pajak

Penghasilan atau penghasilan dari pengalihan hak atas tanah dan atau

bangunan, yakni orang pribadi yang melakukan pengalihan tanah dan atau

banguna dengan cara hibah dengan keluarga sedarah dalam garis keturunan

lurus satu derajat, badan keagamaan, badan pendidikan, badan sosial,

termasuk yayasan, koperasi atau orang pribadi yang menjalan usaha mikro

dan kecil, sepanjang hibah tersebut tidak ada hubungannya dengan usaha,
25

pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan, antara pihak pihak yang

bersangkutan (PER/30/PJ/2009 dan SE-48/PJ./2009).

3. Yayasan keagamaan dan sosial lainnya

Sesuai dengan Pasal 2 UU Pajak Penghasilan, yayasan tetap digolongkan

sebagai subjek pajak penghasilan. Objek pajaknya terbagi dua, sesuai

orientasi bidang usaha yayasan. Bila yayasan bermotif mencari keuntungan

(misalnya yayasan universitas), maka penerimaanya merupakan objek pajak

penghasilan, namum sebaliknya bila penerimaan yayasan bukan bermotif

mencari keuntungan (misalnya sumbangan untuk panti asuhan dan yatim

piatu), maka atas penerimaan tersebut tidak terutang PPh.

Sebagaimana badan usaha lainnya, yayasan juga harus melaksanakan

kewajiban pemotongan Pajak Penghasilan dalam hal yayasan tersebut

melakukan transaksi pembayaran berbagai jasa, seperti sewa, dividen, royalti,

dan gaji karyawan.

4. Peraturan Dirjen Pajak No. PER 44/PJ./2009 dan Peraturan Menkeu No.

80/PMK.03/2009 tentang pelaksanaan pengakuan Sisa Lebih yang diterima

atau diperoleh badan atau lembaga nirlaba yang bergerak dalam bidang

pendidikan dan atau bidang penelitian dan pengembangan yang dikecualikan

dari objek pajak penghasilan. Yayasan pendidikan diperkenankan untuk

mengakui dana pembangunan gedung dan prasarana pendidikan yang berasal

dari Sisa Lebih.


26

Sisa Lebih adalah selisih dari seluruh penerimaan yang merupakan Objek

Pajak Penghasilan, selain penghasilan yang dikenakan Pajak Penghasilan

tersendiri, dikurangi pengeluaran untuk biaya operasional sehari-hari badan

atau lembaga nirlaba.

Badan atau lembaga nirlaba wajib menyampaikan pemberitahuan mengenai

rencan fisik sederhana dan rencana biaya pembangunan dan pengadaan

sarana dan prasarana kegiatan pendidikan atau penelitian dan pengembangan

kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak tempat wajib pajak terdaftar dengan

tindasan kepada instansi yang membidanginya. Pemberitahuan disampaikan

bersamaan dengan penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak

Penghasilan tahun pajak diperolehnya sisa lebih tersebut atau paling lama

sebelum pembangunan dan pengadaan sarana dan prasarana kegiatan

pendidikan dan atau penelitian penelitian dan pengembangan dimulai, dalam

jangka waktu 4 (empat) tahun sejak diperolehnya sisa lebih tersebut.

Apabila setelah lewat dari jangka waktu 4 (empat) tahun, badan atau lembaga

nirlaba tidak menggunakan atau terdapat sisa lebih yang tidak digunakan

untuk pembangunan dan pengadaan saran dan prasarana kegiatan pendidikan

dan atau penelitian dan pengembangan dimaksud, maka sisa lebih tersebut

diakui sebagai Penghasilan dan dikenakan Pajak Penghasilan pada tahun

pajak berlakunya.

2.2 Manajemen Penutupan Usaha dan Strategi Perpajakannya


27

Manajemen penutupan usaha dan strategi perpajakannya adalah dimana dalam

situasi dan kondisi dimana perusahaan mengalami kerugian beruntun karena

kemunduran kegiatan usaha atau karena omzet usaha yang menurun drastis. Semua

simpul kegiatan perusahaan terhenti atau macet, ditambah kondisi usaha yang terlilit

utang sehingga cash flow perusahaan harus merekayasa ulang strategi perusahaan

dengan melakukan berbagai usaha penyelamatan agar perusahaan terhindar dari

kebangkrutan. Selain dengan melakukan rektrukturisasi keuangan (financial

reengineering) dengan mengonversikan utang menjadi modal, dan melakukan

penjadwalan ulang pembayaran utang, serta renegosiasi suku bunga pinjaman,

manajemen bisa melakukan upaya persuasif terhadap investor agar mau menyuntik

dana talangan (bridging fund) atau membeli atau mengakuisisi perusahaan tersebut.

Bila usaha penyelamatan tersebut juga buntu, tidak ada pilihan lain selain

menutup usaha atau melikuidasi perusahaan. Keputusan melikuidasi perusahaan

merupakan pilihan terakhir yang harus diambil pengusaha karena tindakan tersebut

selain berdampak pada berhentinya pemasukan, perusahaan juga harus menyelesaikan

kewajiban terhadap pihak ketiga, termasuk kewajiban utang pajak yang dilindungi

undang-undang.

2.2.1 Penyelesaian Kewajiban Perpajakan

Negara mempunyai hak mendahului (hak preferensi) pembayaran utang

pajak atas barang-barang milik penanggung pajak yang akan dilelang. Pembayaran

kepada kreditur lain diselesaikan setelah utang pajak dilunasi. Dalam hal Wajib
28

Pajak dinyatakan pailit, bubar atau dilikuidasi, maka kurator, likuidator, atau orang

atau badan yang ditugasi untuk melakukan pemberesan, dilarang membagikan

harta wajib pajak dalam pailit, pembubaran, atau likuidasi kepada pemegang

saham atau kreditur lainnya sebelum menggunakan harta tersebut untuk membayar

utang pajak wajib pajak tersebut (Pasal 21 Ayat 1 dan (3a) UU KUP No. 28 Tahun

2007).

Saat penutupan usaha tidak bisa lagi dihindari oleh pengusaha, dan legalisasi

dari pihak yang berwenang seperti notaris dan pihak-pihak berwenang lainnya

telah didapatkan , maka penutupan usaha idealnya ditindaklanjuti dengan

pengajuan permohonan penghapusan NPWP dan penghapusan NPPKP (Nomor

Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak). Hal ini disebabkan karena penghapusan

NPWP atau pencabutan NPPKP tidak dapat terjadi secara otomatis karena alasan

perusahaan tidak beroperasi lagi.

Seringkali, Wajib pajak membiarkan kondisi tersebut menggantung

walaupun mereka khawatir juga bila perusahaan sewaktu-waktu di datangi orang

pajak untuk pemeriksaan. Sebaiknya penyelesaian masalah ini tidak ditunda-tunda,

karena penundaan tersebut hanya solusi semu, karena saat gilirannya tiba wajib

pajak akan semakin terpuruk dengan timbulnya akumulasi sanksi perpajakan.

NPWP tidak dapat dihapus bila wajib pajak masih memiliki utang pajak.

Lalu apa yang harus dilakukan oleh wajib pajak yang cash flow-nya tidak

memungkinkan untuk membayar utang pajak sekaligus? Solusinya adalah

mengangsur atau menunda pembayaran pajak.

2.2.2 Mengansur atau Menunda Pembayaran Pajak


29

Wajib pajak dapat mengajukan permohonan secara tertulis untuk

mengangsur atau menunda pembayaran pajak dalam Surat Tagihan Pajak, Surat

Ketetapan Pajak Kurang Bayar, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan,

dan Surat Keputusan Pembetulan, Surat Keputusan Keberatan, Putusan Banding,

serta Putusan Peninjauan Kembali, yang menyebabkan jumlah pajak terutang

bertambah, serta Pajak Penghasilan Pasal 29, kepada Direktur Jenderal Pajak

(Peraturan Menteri Keuangan No. 184/PMK.03/2010).

Tata cara Pengangsuran dan Penundaan Pembayaran Pajak:

1. Permohonan harus diajukan paling lama 9 (sembilan) hari kerja sebelum

saat jatuh tempo pembayaran utang pajak terakhir, dengan disertai alasan

dan jumlah pembayaran yang dimohonkan untuk diangsur atau ditunda.


2. Apabila batas waktu 9 (sembilan) hari kerja tidak dapat dipenuhi oleh

wajib pajak karena keadaan diluar kekuasaannya, permohonan wajib

pajak masih dapat dipertimbangkan oleh Direktur Jenderal Pajak,

sepanjang wajib pajak dapat membuktikan kebenaran keadaan diluar

kekuasaannya tersebut. Selanjutnya:


a. Direktur Jenderal Pajak menerbitkan surat keputusan atas

permohonan berupa menerima seluruhnya, menerima sebagian, atau;


b. Menolak, paling lama 7 (tujuh) hari setelah tanggal diterimanya

permohonan.
30

3. Apabila jangka waktu tersebut telah lewat dan Dirjen Pajak tidak

memberi suatu keputusan, maka permohonan wajib pajak dianggap

diterima.
4. Surat Keputusan yang menerima seluruhnya atau sebagian, dengan

jangka waktu masa angsuran atau penundaan tidak melebihi 12 (dua

belas) bulan dengan mempertimbangkan kesulitan likuiditas atau

keadaan di luar kekuasaan wajib pajak.


5. Terhadap utang pajak yang telah diterbitkan surat keputusannya,

sebagaimana dimaksud pada butir 1 dan 2 di atas tidak dapat lagi

diajukan permohonannya untuk mengangsur atau menunda pembayaran.

Kepastian hukum tentang penghapusan NPWP dan pencabutan NPPKP

diatur dalam Undang-Undang Perpajakan karena penutupan perusahaan

merupakan suatu hal yang diperkenankan oleh ketentuan perpajakan, khususnya

Pasal 2 ayat (6) Tahun 1983 yang telah dirubah terakhir dengan UU No. 16

Tahun 2009 tentang KUP, Peraturan Menteri Keuangan Nomor 20/PMK.03/2008

dan Keputusan Dirjen Pajak No. 161/PJ/2001 Jo PER 160/PJ./2007.

2.2.3 Penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)

1. Diajukan permohonan penghapusan NPWP antara lain oleh:


a. Wajib pajak dan atau ahli warisnya karena wajib pajak sudah tidak

memenuhi persyaratan subjektif dan atau objektif sesuai dengan

ketentuan undang-undang perpajakan.


b. Wajib pajak badan dalam rangka likuiu pembubaran karena

penghentian atau penggabungan usaha.


c. Wajib pajak bentuk usaha tetap yang menghentikan kegiatan usahanya

di Indonesia.
31

2. Dianggap perlu oleh Direktur Jenderal Pajak untuk menghapuskan NPWP

dari wajib pajak yang sudah tidak memenuhi persyaratan subjektif dan

atau objektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan

perpajakan.
2.2.3.1 Keputusan Dirjen Pajak Atas Permohonan Penghapusan NPWP
1. Direktur Jenderal Pajak, setelah melakukan pemeriksaan, harus

memberikan keputusan atas permohonan penghapusan NPWP

dalam jangka waktu 6 (enam) bulan untuk wajib pajak orang

pribadi dan 12 (dua belas) bulan untuk wajib pajak badan, sejak

tanggal permohonan wajib pajak diterima secara lengkap.


2. Apabila jangka waktu tersebut telah lewat dan Direktur Jenderal

Pajak tidak memberikan suatu keputusan, permohonan

penghapusan NPWP dianggap dikabulkan.


3. Dalam permohonan wajib pajak dianggap dikabulkan, Direktur

Jenderal Pajak harus menerbitkan surat keputusan penghapusan

NPWP dalam rangka waktu paling lama 1 (satu) bulan setelah itu.
2.2.3.2 Tata Cara Penghapusan NPWP
1. Wajib pajak mengajukan Permohonan Penghapusan NPWP

secara tertulis dengan menggunakan formulir yang telah

ditentukan. Pemohonan ditunjukan ke KPP (Kantor Pelayan

Pajak Pratama) dimana wajib pajak telah terdaftar.


2. Permohonan tersebut harus dilampiri dengan dokumen

pendukung penghapusan NPWP, diantaranya:


a. RUPS pembubaran perusahaan khusus untuk wajib pajak

badan atau paling tidak surat keputusan pembubaran dari

pemilik usaha.
32

b. SPT (Surat Pemberitahuan) PPh Tahun Pajak terakhir yang

belum disampaikan.
c. Jenis-jenis dokumen yang harus dilampirkan pada

permohonan penghapusan NPWP, ini tergantung kebijakan

dan masing-masing Kantor Pelayanan Pajak.


3. Permohonan penghapusan NPWP yang telah dilengkapi dengan

dokumen pendukung yang telah ditentukan (antara lain Negara

Likuidasi Perusahaan) akan ditindaklanjuti dengan suatu

pemeriksaan pajak.
4. Dalam jangka waktu 6 (enam) bulan sejak permohonan dari wajib

pajak orang pribadi diterima dengan lengkap, Dirjen Pajak harus

memberikan waktu pemberian keputusannya 6 (enam) bulan atau

dengan kata lain mencapai 12 (dua belas) bulan.


5. Dalam hal Dirjen Pajak tidak memberikan keputusan dalam

jangka waktu yang telah ditentukan, maka permohonan

penghapusan NPWP dianggap dikabulkan. Kemudian dalam

waktu 1 (satu) bulan setelah jangka waktu pemberian keputusan

terakhir, Dirjen Pajak harus menerbitkan surat keputusan

penghapusan NPWP.
2.2.3.3 Penghapusan NPWP dalam Keadaan Khusus
Penghapusan NPWP dalam kondisi utang pajak belum dilunasi hanya

dapat terjadi jika berdasarkan pemeriksaan diketahui bahwa:


1. Utang pajak tidak dapat ditagih lagi kepada wajib pajak karena

sudah tidak adanya harta kekayaan.


2. Wajib pajak meninggal dunia dengan tidak meninggalkan warisan

dan tidak mempunyai ahli waris tidak dapat ditentukan.


3. Hak Negara untuk melakukan penagihan sudah kadaluwarsa.
33

2.2.3.4. NPWP Tidak Dapat Dihapuskan

NPWP tidak dapat dihapuskan jika hasil pemeriksaan

menginformasikan bahwa wajib pajak masih memiliki utang pajak dan

negara masih berhak menagih.

2.2.3.5 Pencabutan Nomor Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak

(NPPKP)
Terdapat 2 (dua) cara pencabutan NPPKP:
1. Pencabutan NPPKP berdasarkan permohonan wajib pajak.
2. Pencabutan NPPKP dapat dilakukan secara jabatan oleh Dirjen

Pajak.

Tata cara pencabutan NPPKP:

1. Wajib pajak mengajukan permohonan pencabutan NPPKP secara

tertulis dengan menggunakan formulir yang telah ditentukan oleh

KPP setempat, yang selanjutnya akan ditindaklanjuti dengan

pemeriksaan pajak.
2. Dalam jangka waktu 6 (enam) bulan sejak tanggal permohonan

diterima secara lengkap, Dirjen Pajak harus memberikan

keputusan.
3. Bila jangka waktu untuk memberikan keputusan telah lewat,

maka pencabutan NPPKP dianggap dikabulkan.


4. Surat keputusan mengenai Pencabutan Pengukuhan Pengusaha

Kena Pajak harus diterbitkan dalam jangka waktu paling lama 1

(satu) bulan setelah jangka waktu pemberian keputusan berakhir.


34

Penghapusan NPWP atau pencabutan NPPKP tidak menghilangkan

kewajiban perpajakan.

2.2.3.6 Keputusan Dirjen Pajak Atas Permohonan Pencabutan

Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak


1. Direktur Jenderal Pajak, karena jabatan atau atas permohonan

wajib pajak dapat melakukan Pencabutan Pengukuhan Pengusaha

Kena Pajak.
2. Atas permohonan wajib pajak untuk melakukan Pencabutan

Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak, Direktut Jenderal Pajak

setelah melakukan pemeriksaan harus memberikan keputusan

dalam jangka waktu 6 (enam) bulan sejak tanggal permohonan

diterima secara lengkap.


3. Apabila jangka waktu telah lewat dan Direktur Jenderal Pajak

tidak member keputusan, maka permohonan Pencabutan

Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak dianggap dikabulkan dan

surat keputusan mengenai Pencabutan Pengukuhan Pengusaha

Kena Pajak harus diterbitkan dalam jangka waktu paling lama 1

(satu) bulan setelah itu.

2.2.4 Penghentian Kegiatan Operasional dan Status Dormant

Cara lain pembubaran perusahaan adalah dengan tidak langsung

melikuidasinya, melainkan dengan tahapan penghentian kegiatan operasional

usaha dan menkondisikan perusahaan menjadi perusahaan yang tidur dan tidak

aktif (dormant). Hal ini dapat dilakukan jika perusahaan masih berharap akan
35

mendapatkan proyek baru. Setelah itu jika perusahaan memang nantinya benar-

benar akan menutup usahanya, maka berangsur-angsur persyaratan legal

pembubaran perusahaan dilakukan.

Dalam rangka efisiensi usaha, pada masa dormant perusahaan dapat

meamngkas biaya-biaya operasional, seperti menurunkan biaya gaji pegawai

dengan mem-PHK-kan sebagian karyawannya (dengan mempertahankan beberapa

person incharge yang menangani kewajiban perpajakan), menurunkan biaya sewa

gedung dengan cara memindahkan sementara lokasi usaha ke tempat yang lebih

murah, dan sebagainya. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa selama masa

dormant perusahaan tetap harus melaksanakan kewajiban perpajakan, baik masa

maupun tahunan (meskipun nihil), karena kewajiban pajak subjektifnya belum

berakhir.

Keuntungan yang dapat diperoleh dari dormant adalah perusahaan tidak

perlu melakukan proses likuidasi (seperti pada PT) dalam rangka penutupan usaha

serta menghadapi pemeriksaan pajak dalam rangka penutupan NPWP perusahaan.

Disamping itu apabila perusahaan mendapatkan proyek baru lagi maka perusahaan

tidak perlu mengajukan permohonan NPWP baru atas perusahaan baru.

Dengan cara dormant, pemeriksaan pajak terkait dengan permohonan

penghapusan NPWP/NPPKP perusahaan cenderung dapat dikelola dengan baik,

mengingat dalam kondisi dormant, tidak banyak kewajiban yang dilakukan oleh

perusahaan sehingga tax exposure dapat ditekan seminimal mungkin. Dalam


36

kasus-kasus tertentu, masa dormant dapat diterapkan selama masa daluwarsa

penetapan pajak (berdasarkan UU KUP yang sekarang berlaku adalah 5 tahun)

untuk mengatasi tax exposure temuan pemeriksaan pajak yang massif apabila

pihak otoritas perpajakan memeriksa keseluruhan tahun yang masih terbuka (all

open years) untuk pemeriksaan. Sebagai contoh, apabila pada tahun 2017 suatu

perusahaan ingin melakukan penutupan usaha, maka ketika perusahaan tersebut

mengajukan penghapusan NPWP dan NPPKP, konsekuensinya adalah

pemeriksaan oleh pemeriksa pajak. Tahun yang masih terbuka untuk pemeriksaan

pajak adalah tahun 2013 s.d. 2017. Jika perusahaan merasa bahwa dokumen-

dokumen tahun 2013 sudah tidak lengkap karena sebagian sudah hilang sehingga

dikhawatirkan akan menimbulkan tax exposure yang tinggi, maka perusahaan

dapat menunda penutupan usaha sampai tahun 2018 dengan cara menjadikan

perusahaan dormant. Maka ketika perusahaan diperiksa pada tahun 2018, maka

pemeriksa pajak sudah tidak bisa memeriksa untuk tahun 2013.

Jikapun ada temuan, dipastikan jumlahnya tidak material karena secara

subtantif perusahaan tidak lagi memiliki kegiatan operasional usaha dan mungkin

telah tidak lagi memiliki pegawai sehingga kemungkinan risiko pajak yang

ditemukan hanya berupa keterlambatan lapor SPT saja. Berdasarkan Pasal 7 ayat

(1) UU KUP yang berlaku, di mana apabila SPT tidak disampaikan dalam jangka

waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) atau batas waktu

perpanjangan penyampaian SPT sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (4),

maka dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar:


37

1. Rp 500.000,00 (lima ratus ribu rupiah) untuk SPT Masa PPN ;


2. Rp 100.000,00 (seratus ribu rupiah) untuk SPT Masa lainnya (seperti PPh

Pasal 4(2), 15 21/26,dan 23/26);


3. Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah) untuk SPT Tahunan Pajak Penghasilan

Wajib Pajak Badan; dan


4. Rp 100.000,00 (seratus ribu rupiah) untuk SPT Tahunan Pajak Penghasilan

Orang Pribadi.

Pada dasarnya, perusahaan dengan status dormant dapat terbebas dari

pengenaan sanksi poin a sampai dengan c karena dalam Pasal 7 ayat (2) huruf e

UU KUP disebutkan bahwa, “pengenaan sanksi administrasi berupa denda

sebagaimana disebutkan di atas tidak dilakukan terhadap Wajib Pajak badan

yang tidak melakukan kegiatan usaha lagi tetapi belum dibubarkan sesuai

dengan ketentuan yang berlaku”.

Ketentuan tersebut juga diperkuat oleh Pasal 17 ayat (2) huruf e PMK

Nomor 243 Tahun 2014 tentang Surat Pemberitahuan (SPT) di mana bunyinya

persis sama dengan Pasal 7 ayat (2) huruf e UU KUP. Akan tetapi, kenyataan di

lapangan justru berbicara lain. Pada kebanyakan kasus, pemeriksaan pajak untuk

penghapusan NPWP, Surat Tagihan Pajak (STP) untuk menagih denda tersebut

seringkali diterbitkan. Atas penerbitan STP tersebut, perusahaan dapat

mengajukan permohonan untuk membatalkan STP sesuai dengan Pasal 36 ayat

(1) huruf c UU KUP, tetapi sebaiknya perlu ada analisis dari perusahaan terkait

perbandingan biaya antara menerima STP dan mengajukan permohonan

pembatalan STP. Bisa jadi karena jumlahnya yang kurang signifikan, banyak
38

perusahaan menerima STP tersebut atau dengan kata lain tidak keberatan untuk

melunasi denda tersebut agar penghapusan NPWP/NPPKP perusahaan dapat

berjalan lancer.

2.2.6 Aspek Akuntansi dan Perpajakan Lain Atas Pembayaran Perusahaan

Perlu diperhatikan pula bahwa dalam kedua kondisi pembubaran perusahaan,

beberapa aspek akuntansi dan perpajakan yang tidak dapat dihindari dan harus

dikelola dengan baik, diantaranya adalah:

1. Pemutusan hubungan kerja (PHK) manajemen dan karyawan yang

berakibat pembayarannpesangon tetap merupakan obyek pemotongan PPh

Pasal 21;
2. Pembubaran perusahaan mungkin berakibat terhapusnya piutang

perusahaan kepada pihak debitur (baik sebagian atau keseluruhan) dan

sebaliknya mungkin sebagian atau seluruh utang perusahaan kepada pihak

kreditur juga terhapus;


3. Mungkin terjadi pengalihan kontrak (novasi) yang berpotensi

menyebabkan pengalihan utang-piutang; atau


4. Dimungkinkan pengembalian sejumlah dana kepada pemegang saham

baik yang besarannya lebih kecil, sama dengan, atau lebih besar dari nilai

penyertaannya dulu kepada perusahaan; dan


5. Kerumitan pelaksanaan kewajiban perpajakan khususnya atas pemotongan

PPh dan PPN atas pembayaran jasa professional terkait dengan asistensi

pembubaran perusahaan , seperti imbalan jasa untuk notaris, legal counsel,

likuidator, konsultan hukum dan pajak, sementara perusahaan telah

dibubarkan.
39

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Pemilihan bentuk usaha ternyata berpengaruh terhadap aspek PPh yang

dihadapi oleh seorang investor. Kajian dari 3 (tiga) pilihan usaha perorangan, badan

usaha yang modalnya tidak terbagi atas saham seperti CV, Firma atau PT ternyata

menunjukan bahwa pilihan bentuk usaha yang tidak terbagi atas saham memiliki

keuntungan pajak tersendiri. Jadi pajak bukanlah satu-satunya alasan dalam

pemilihan bentuk usaha, namun pemilihan bentuk usaha yang tepat dapat

memberikan penghematan pajak. Sehingga dalam melakukan penghematan tersebut

bisa dengan cara perencanaan pajak agar kewajiban perpajakan dapat dilakukan oleh

wajib pajak dengan baik.

Proses penutupan perusahaan dapat terjadi secara langsung maupun bertahap.

Dengan cara langsung (likuidasi), perusahaan harus melewati serangkaian tahap,

sedangkan pada cara bertahap, perusahaan menghentikan operasinya secara

sementara dan menunggu jika akan diperoleh proyek baru. Konsekuensi perpajakan

atas penutupan perusahaan adalah dihapuskannya NPWP serta NPPKP milik


40

perusahaan. Sebelum dihapuskan, fiskus akan melakukan pemeriksaan atas kewajiban

perusahaan yang masih tersisa (jika ada).

Anda mungkin juga menyukai