Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PEDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Dewasa ini tak kurang penyakit yang menyerang manusia. Banyak penyakit disekitar kita ini
sebenarnya bisa kita cegah dengan perilaku sehat. Dengan kata lain kunci untuk mencapai
kesehatan yang lebih baik adalah dengan mengembangkan strategi untuk mengabungkan pilihan
sehat dalam keseharian kita dengan berperilaku sehat. Perilaku kesehatan adalah respon
seseorang terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sehat–sakit, penyakit, dan faktor–
faktor yang mempengaruhi sehat–sakit (kesehatan) seperti lingkungan, makanan, minuman dan
pelayanan kesehatan. Dengan kata lain, perilaku kesehatan adalah semua aktivitas atau kegiatan
seseorang baik yang dapat diamati maupun yang tidak dapat diamati yang berkaitan dengan
pemeliharaan dan peningkatan kesehatan. Pemeliharaan kesehatan ini mencakup mencegah atau
melindungi diri dari penyakit dan masalah kesehatan lain, meningkatkan kesehatan dan mencari
penyembuhan apabila sakit atau terkena masalah kesehatan.(1)
Health Belief Model merupakan suatu konsep yang mengungkapkan alasan dari individu
untuk mau atau tidak mau melakukan perilaku sehat. Health Belief Model juga dapat diartikan
sebagai sebuah konstruk teoritis mengenai kepercayaan individu dalam berperilaku sehat. Health
Belief Model adalah suatu model yang digunakan untuk menggambarkan kepercayaan individu
terhadap perilaku hidup sehat, sehingga individu akan melakukan perilaku sehat, perilaku sehat
tersebut dapat berupa perilaku pencegahan maupun penggunaan fasilitas kesehatan. Health
Belief Model ini sering digunakan untuk memprediksi perilaku kesehatan preventif dan juga
respon perilaku untuk pengobatan pasien dengan penyakit akut dan kronis.
Health Belief Model dipelajari sebagai model perilaku terhadap gejala-gejala sakit yang
terdiagnosis terutama tentang kepatuhan terhadap proses pencarian penyembuhan. Apabila
individu bertindak untuk melawan atau mengobati penyakitnya, ada empat variabel kunci yakni
kerentanan yang dirasakan terhadap suatu penyakit, keseriusan yang dirasakan, manfaat yang
diterima dan rintangan yang dialami dalam tindakan melawan penyakitnya, dan hal-hal yang
memotivasi tindakan tersebut. Teori health belief model ini didasari oleh teori Kurt Lewin.
Conner: 2003 dalam bukunya menuliskan bahwa hubungan antara prinsip hidup sehat yang benar
dengan perilaku sehat ini mengikuti terminologi konsep Lewin (1951) mengenai valensi yang
menyumbangkan bahwa perilaku dapat berubah lebih atraktif atau kurang atraktif.(5)
B. TUJUAN
Tujuan dari makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui Pengertian, Struktur dan ruang lingkup mengenai Health Belief Model
2. Untuk mengetahui bagaimana penerapan penilaian Health Belief Model dalam studi kasus.

C. MANFAAT
Manfaat yang diharapkan dari hasil makalah ini adalah :
1. Sebagai praktisi dibidang kesehatan kita dapat mengerti dan memahami tentang konsep teori
Health Belief Model.
2. Sebagai praktisi dibidang kesehatan kita dapat mengerti dan memahami bagaimana penerapan
konsep Health Belief Model dalam menganalisis suatu kejadian atau pola masalah kesehatan di
masyarakat.

BAB II
TEORI HEALTH BELIEF MODEL

A. Konsep Health Belief Model


Health Belief Model dikembangkan pertama kali pada tahun 1950 oleh seorang
psikologis sosial di layanan kesehatan Publik Amerika Serikat yaitu dimulai dengan adanya
kegagalan pada program pencegahan dan penyembuhan penyakit (Hocbaum 1958, Rosenstok
1960-1974).Tapi, psikolog sosial di Amerika Serikat ini mendapati masalah dengan sedikitnya
orang yang berpartisipasi dalam program pencegahan dan deteksi penyakit. Irwin Rosenstock
(1974) adalah tokoh yang mencetuskan health belief model untuk pertama kali bersama Godfrey
Hochbaum (1958). Mereka mengembangkannya dengan mengemukaan kerentanan yang
dirasakan untuk penyakit TBC. Stephen Kegels (1963) menunjukkan hal yang serupa mengenai
kerentanan yang dirasakan untuk masalah gigi yang parah dan perhatian untuk mengunjungi
dokter gigi menjadi tindakan prefentif sebagai salah satu solusi masalah gigi.
Model kepercayaan kesehatan adalah sebuah bentuk perilaku dimana seseorang
memberikan penilaian dan penjabaran terhadap kesehatan dari segi sosio-psikologis. Sedangkan
perilaku adalah respon individu terhadap suatu stimulus atau suatu tindakan yang dapat diamati
dan mempunyai frekuensi spesifik, durasi dan tujuan baik disadari maupun tidak. Perilaku
merupakan kumpulan berbagai faktor yang saling berinteraksi. Sering tidak disadari bahwa
interaksi tersebut amat kompleks sehingga kadang-kadang seseorang tidak sempat memikirkan
penyebab menerapkan perilaku tertentu.
Health Belief Model ini merupakan model kognitif yang artinya perilaku individu
dipengaruhi proses kognitif dalam dirinya. Proses kognitif ini dipengaruhi oleh beberapa faktor
seperti penelitian sebelumnya yaitu variabel demografi, karakteristik sosiopsikologis, dan
variabel struktural. Variabel demografi meliputi kelas, usia, jenis kelamin. Karakteristik
sosisopsikologis meliputi, kepribadian, teman sebaya (peers), dan tekanan kelompok. Variabel
struktural yaitu pengetahuan dan pengalaman tentang masalah.
Pada awal dibentuknya, model ini hanya memiliki empat komponen dasar, kemudian
seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, model ini pun dikembangkan dengan
ditambahkan beberapa faktor pendukung lainnya. Health Belief Model mengandung konsep
utama yaitu memprediksikan mengapa seseorang melakukan tindakan tertentu untuk menjaga,
melindungi dan mengendalikan kondisi sakit. Komponen Health belief model, diantaranya:
1. Perceived susceptibility (kerentanan yang dirasakan)
Hal ini mengacu pada persepsi subyektif seseorang menyangkut risiko dari kondisi
kesehatannya. Di dalam kasus penyakit secara medis, dimensi tersebut meliputi penerimaan
terhadap hasil diagnosa, perkiraan pribadi terhadap adanya resusceptibilily (timbul kepekaan
kembali), dan susceptibilily (kepekaan) terhadap penyakit secara umum.
Menurut Conner & Norman (2003) Perceived Susceptibility juga mempengaruhi munculnya
perilaku sehat. Ketika seseorang mengetahui bahwa dirinya berisiko terkena suatu penyakit,
maka terbentuk keyakinan bahwa dirinya memang berisiko. Oleh karena itu, ia akan berusaha
melakukan hal-hal yang dianggapnya mampu mengurangi potensi risiko tersebut. Semakin tinggi
risiko yang diyakini seseorang, semakin tinggi pula kecenderungannya untuk berperilaku sehat
dengan harapan mengurangi risiko tersebut. Sayangnya, ini juga berlaku sebaliknya. Ketika
seseorang merasa tidak berisiko terkena penyakit, ia juga cenderung berperilaku tidak sehat
(Hayden, 2014). Meski demikian, pernyataan tersebut bukan hukum mutlak, Terkadang
keyakinan akan risiko penyakit tidak berimplikasi pada perilaku sehat maupun tidak sehat.

2. Perceived severity (keseriuasan yang dirasa)


Persepsi mengenai keseriusan suatu penyakit, meliputi kegiatan evaluasi terhadap
konsekuensi klinis dan medis (sebagai contoh, kematian, cacat, dan sakit) dan konsekuensi sosial
yang mungkin terjadi (seperti efek pada pekerjaan, kehidupan keluarga, dan hubungan sosial).
Banyak ahli yang menggabungkan kedua komponen diatas sebagai ancaman yang dirasakan
(perceived threat). Hal ini berarti perceived severity berprinsip pada persepsi keparahan yang
akan diterima individu.

3. Perceived benefits (manfaat yang dirasakan).


Perceived Benefits adalah kepercayaan terhadap keuntungan dari metode yang disarankan
untuk mengurangi risiko penyakit. Ini tergantung pada kepercayaan seseorang terhadap
efektivitas dari berbagai upaya yang tersedia dalam mengurangi risiko penyakit, atau
keuntungan-keuntungan yang dirasakan (perceived benefit) dalam mengambil upaya-upaya
kesehatan tersebut. Ketika seorang memperlihatkan suatu kepercayaan terhadap adanya
kepekaan (susceptibility) dan keseriusan (seriousness), sering tidak diharapkan untuk menerima
apapun upaya kesehatan yang direkomendasikan kecuali jika upaya tersebut dirasa manjur dan
cocok.
Perceived benefits secara ringkas berarti persepsi keuntungan yang memiliki hubungan
positif dengan perilaku sehat. Individu yang sadar akan keuntungan deteksi dini penyakit akan
terus melakukan perilaku sehat seperti medical check up rutin. Contoh lain adalah kalau tidak
merokok, dia tidak akan terkena kanker.

4. Perceived barriers (hambatan yang dirasakan untuk berubah)


Perceived barriers secara singkat berarti persepsi hambatan atau persepsi menurunnya
kenyamanan saat meninggalkan perilaku tidak sehat. Aspek-aspek negatif yang potensial dalam
suatu upaya kesehatan (seperti: ketidakpastian, efek samping), atau penghalang yang dirasakan
(seperti: khawatir tidak cocok, tidak senang, gugup), yang mungkin berperan sebagai halangan
untuk merekomendasikan suatu perilaku.

5. Cues to action
Cues to action adalah faktor mempercepat tindakan yang membuat seseorang merasa
butuh mengambil tindakan atau melakukan tindakan nyata untuk melakukan perilaku sehat.
Untuk mendapatkan tingkat penerimaan yang benar tentang kerentanan, kegawatan dan
keuntungan tindakan, maka diperlukan isyarat-isyarat yang berupa faktor-faktor eksternal
maupun internal, misalnya pesan-pesan pada media massa, nasihat atau anjuran kawan atau
anggota keluarga lain, aspek sosiodemografis misalnya tingkat pendidikan, lingkungan tempat
tinggal, pengasuhan dan pengawasan orang tua, pergaulan dengan teman, agama, suku, keadaan
ekonomi, sosial, dan budaya. Cues to action merupakan elemen tambahan dari elemen dasar
Health Belief Model.

6. Self Efficacy
Pada tahun 1988, self-efficacy ditambahkan dengan empat keyakinan asli dari Health
Belief Model (Rosenstock, Strecher, & Becker, 1988). Biasanya, seseorang tidak akan mencoba
melakukan sesuatu perubahan baru sampai mereka menyadari bahwa mereka bisa melakukan
perubahan tersebut. Hal ini senada dengan pendapat Rotter (1966) dan Wallston mengenai teori
self-efficacy oleh Bandura yang penting sebagai kontrol dari faktor-faktor perilaku sehat. Self
efficacy dalam istilah umum adalah kepercayaan diri seseorang dalam menjalankan tugas
tertentu. Self Efficacy adalah kepercayaan seseorang mengenai kemampuannya untuk
mempersuasi keadaan atau merasa percaya diri dengan perilaku sehat yang dilakukan. Self
efficcay dibagi menjadi dua yaitu outcome expectancy seperti menerima respon yang baik dan
outcome value seperti menerima nilai sosial.

7. Modifying Factors
Variasi dari model ini merupakan nilai yang dirasakan serta intervensi yang ditentukan
sebagai keyakinan utama. Kontruksi dari faktor mediasi kemudian menjadi penghubung berbagai
jenis persepsi dengan perilaku kesehatan di masyarakat. Faktor lain yang juga mempengaruhi
persepsi antara lain:
a. Variabel demografi : Umur, jenis kelamin, ras, pekerjaan.
b. Variabel sosio-psikologi: Status sosial ekonomi, kepribadian, strategi coping.
c. Variabel Struktur : Kelas Social, akses ke pelayanan kesehatan, dll.
d. Persepsi efikasi : penilaian diri dalam hal kemampuan untuk berhasil mengadopsi perilaku yang
diinginkan
e. Isyarat untuk tindakan : Pengaruh ekternal dalam mempromosikan perilaku yang diinginkan,
termasuk informasi yang diberikan atau dicari, komunikasi persuasif, dan pengalaman pribadi.
f. Motivasi kesehatan : individu terdorong untuk tetap pada keadaan sehat.
g. Kontrol Perasaan : ukuran tingkat self-efficacy.
h. Ancaman : termasuk bahaya yang muncul tanpa melakukan tindakan kesehatan.

Prediksi dari model tersebut merupakan kemungkinan yang dilakukan individu untuk
mengambil tindakan kesehatan yang direkomendasikan (seperti pencegahan dan pengobatan)
Gambar 1. Health Belief Model oleh Rosenstock, Becker (1988)

B. Faktor esensial dalam Health Belief Model


Analisis terhadap berbagai faktor yang mempengaruhi partisipasi masyarakat pada
program tersebut kemudian dikembangkan sebagai model perilaku. Health Belief
Model didasarkan atas 3 faktor esensial :
1. Kesiapan individu untuk merubah perilaku dalam rangka menghindari suatu penyakit atau
memperkecil risiko kesehatan.
2. Adanya dorongan dalam lingkungan individu yang membuatnya merubah perilaku.
3. Perilaku itu sendiri.
Ketiga faktor diatas dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang berhubungan dengan
kepribadian dan lingkungan individu, serta pengalaman berhubungan dengan sarana & petugas
kesehatan.
Kesiapan individu dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti persepsi tentang kerentanan
terhadap penyakit, potensi ancaman, motivasi untuk memperkecil kerentanan terhadap penyakit,
potensi ancaman, dan adanya kepercayaan bahwa perubahan perilaku akan memberikan
keuntungan.
Faktor yang mempengaruhi perubahan perilaku adalah perilaku itu sendiri yang dipengaruhi
oleh karakteristik individu, penilaian individu terhadap perubahan yang di tawarkan, interaksi
dengan petugas kesehatan yang merekomen-dasikan perubahan perilaku, dan pengalaman
mencoba merubah perilaku yang serupa.

C. Kelebihan dan Kekurangan Health Belief Model


1. Kelebihan Health Belief Model
1.1 Mampu mengidentifikasi sebab perilaku sehat dan tidak sehat yang berbeda antar individu
1.2 Dasar untuk menyusun intervensi perilaku sehat yang berlaku untuk perorangan
1.3 Health Belief Model bersifat mudah dan sederhana dalam menjelaskan perilaku sehat.
2. Kekurangan Health Belif Model
a. Tidak ada acuan yang jelas tentang bagaimana mengoperasionalisasikan konstruk-konstruk
dalam Health Belief Model
b. Beragamnya operasionalisasi peneliti tentang Health Belief Model melemahkan posisinya
sebagai model psikologi yang koheren
c. Hanya sedikit studi yang menggunakan Health Belief Model untuk memahami perilaku yang
berhubungan dengan masa lalu
d. Komponen dalam Health Belief Model tidak bisa menjelaskan hubungan antara efek struktur
sosial dengan perilaku sehat.
e. Health Belief Model mulanya dianggap kurang komperhensif untuk menjelaskan bagaimana
hubungan antara health belief dengan tahapan psikologis dalam pembuatan keputusan dan
tindakan
f. Penerapan Health Belief Model terbatas pada kelompok tertentu, sulit digeneralisasi.(5)

3. Ruang Lingkup dan Aplikasi


Health Belief Model telah diterapkan pada berbagai perilaku kesehatan dan populasi
subjek. Tiga bidang yang luas dapat diidentifikasi (Conner & Norman, 1996):
a. Perilaku kesehatan preventif, yang meliputi promosi kesehatan (misalnya diet, olahraga) dan
kesehatan berisiko (misalnya merokok) perilaku serta vaksinasi dan praktik kontrasepsi.
b. Perilaku peran Sakit, yang mengacu pada kepatuhan terhadap rejimen medis direkomendasikan,
biasanya setelah diagnosis profesional penyakit.
c. Klinik digunakan, yang meliputi kunjungan ke dokter untuk berbagai alasan.
BAB III
STUDI KASUS DAN PEMBAHASAN

A. STUDI KASUS
Abstrak
Pengetahuan dan Persepsi Ibu yang Menolak
Pemberian Imunisasi Dasar Balita
Dewi Wulandari , Meidiana Dwidiyanti
1 2

1Politeknik Kesehatan Bhakti Mulia


2Universitas Diponegoro

Imunisasi merupakan salah satu upaya kesehatan masyarakat yang sangat penting karena
dapat melindungi balita dari berbagai macam penyakit. Namun, ternyata tidak semua lapisan
masyarakat bersedia menerima program imunisasi ini dengan baik, diantaranya beberapa ibu
diDesa Godog yang juga merupakan Istri – istri dari tokoh agama setempat yang memiliki
pengaruh cukup besar. Terdapat 14 orang dari 146 balita (9,59%) tidak mendapatkan imunisasi
dasar di Dukuh Tulakan Desa Godog. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui
pengetahuan dan persepsi ibu mengenai imunisasi dasar balita yang meliputi pengertian,
tujuan, manfaat, jenis dan asal bahan-bahan vaksin. Penelitian ini menggunakan desain
kualitatif dengan pendekatan fenomenologis dilakukan terhadap 6 responden dengan cara
melakukan Focuss group Discussion (FGD) dalam pengumpuan datanya. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa ibu – ibu tersebut memahami imunisasi dasar4 balita sebagai memasukkan
kuman penyakit ke dalam tubuh anak yang sehat, Imunisasi tidak bermanfaa, bahkan berbahaya
bagi kesehatan anak. Macam-macam imunisasi dasar yang mereka ketahui adalah Hepatitis,
Polio, Campak dan BCG. Meurut mereka, penyakit – penyakit tidak harus dicegah dengan
imunisasi, melainkan dengan mengkonsumsi bahan-bahan alami dan menghindari bahan-bahan
kimia buatan. Mereka menolak imunisasi karena meragukan kehalalan vaksin.(4)
Kata kunci : pengetahuan, persepsi, ibu, menolak, imunisasi dasar

B. PEMBAHASAN STUDI KASUS DARI TINJAUAN TEORI HEALTH BELIEF MODEL

1. Perceived Seriousness (Keseriusan yang dirasa) :


Persepsi ibu-ibu tentang penyakit yang dapat di cegah dengan imunisasi dasar adalah
penyakit yang berbahaya bagi balita mereka. Namun menurut mereka, cara pencegahannya tidak
harus dengan dilakukan imunisasi, melainkan dengan bahan-bahan alamiah.
Penelitian Smith, et al yang mengungkapkan bahwa dibandingkan dengan orang tua yang
tidak tertunda atau tidak menolak vaksin, orang tua yang tertunda dan menolak vaksin secara
signifikan lebih kecil kemungkinannya untuk percaya bahwa vaksin diperlukan untuk
melindungi kesehatan anak-anak. Kerentanan yang dirasakan rendah terhadap suatu penyakit
dapat disebabkan karena minimnya pengetahuan tentang bahaya penyakit tersebut.

2. Perceived Susceptibility (keseriusan yang dirasakan) :


. Hasil penelitian menyebutkan bahwa responden atau ibu meyakini bahwa imunisasi
adalah memasukkan kuman, virus , bahan kimia atau penyebab penyakit ke dalam tubuh
anaknya. Bahan-bahan vaksin berasal dari bahan haram seperti ginjal kera, janin yang
digugurkan, sel babi yang justru berbahaya apabila dimasukkan ke dalam tubuh anaknya.
Keseriusan yang dirasakan seseorang berbeda, bergantung pada pengetahuan medisnya
tentang penyakit, dapat tidaknya penyakit tersebut menyerangnya dan kemampuan tubuhnya
dalam menghadapi penyakit tersebut. Artikel review yang dilakukan Abdallah Salamatu, dkk.
(2016) di Nigeria menjelaskan bahwa sebelum orang tua memiliki informasi yang lengkap
tentang imunisasi, mereka akan merasa bahwa vaksin tersebut akan menyebabkan komplikasi
kebutaan, kecacatan fisik bahkan kecacatan mental pada anak-anak.
3. Perceive Benefits :
Ibu yang menolak imunisasi dasar beranggapan bahwa imunisasi yang memiliki
kandungan bahan kimia dan bahan haram, tidak memiliki manfaat, tidak aman dan semakin
berbahaya bagi kesehatan tubuh anak-anak mereka.
Seseorang akan cenderung untuk menerapkan perilaku sehat ketika ia merasa perilaku
tersebut bermanfaat untuk menurunkan kasus penyakit.

4. Perceive Barrier:
Para ibu yang menolak imunisasi tidak memahami dengan baik tujuan dan manfaat dari
program imunisasi karena pengetahuan tentang imunisasi yang masih kurang. Sebagian
beranggapan bahwa program imunisasi erat hubungannya dengan program komersial / urusan
bisnis orang barat. Kemudian adanya perasaan takut menggunakan bahan vaksin yang haram.
Penelitian yang dilakukan Deswiyanti (2014) menyebutkan hambatan lain yang
diungkapkan ibu yang tidak lengkap mengimunisasikan anaknya yaitu anak sakit. Pengetahuan
ibu yang terbatas tentang dapat tidaknya anak yang sakit
diimunisasi dan ketakutan ibu bahwa vaksinasi akan menyebabkan anak yang sedang sakit
tersebut akan semakin parah sakitnya ketika diimunisasi.

5. Cues of Action :
Adanya pengaruh dari tokoh masyarakat setempat yang juga menolak pemberian vaksin
pada anaknya. Isu–Isu yang tidak diketahui sumbernya yang mengatakan bahwa imunisasi
berasal dari bahan kimia berbahaya dan bahan yang tidak halal, meskipun Komisi fatwa MUI
sendiri telah mengeluarkan fatwa tentang imunisasi.

6. Self Efficacy :
Lebih memilih pengobatan dan pencegahan dengan menggunakan bahan – bahan alamiah
lebih baik daripada imunisasi, seperti menggunakan jinten hitam, madu, dll. Bila merasa belum
sembuh dengan obat-obat alamiah baru akan mengambil tindakan berobat ke dokter.

7. Modifying Factors :
Dalam penelitian ini ada beberapa faktor yang dapat dianggap mempengaruhi komponen
Health Belief Model antara lain Pengetahuan ibu terhadap program imunisasi masih sangat
kurang dibuktikan dengan masih kurang pahamnya para ibu terhadap tujuan dan manfaat
imunisasi. Peranan tokoh agama yang tinggal dikawasan pesantren di daerah tersebut memiliki
peranan yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat setempat termasuk dalam masalah
kesehatan.

C. KESIMPULAN
Menurut model kepercayaan kesehatan kemungkinan individu akan melakukan tindakan
pencegahan tergantung secara langsung pada hasil dari dua keyakinan atau penilaian kesehatan
yaitu ancaman yang dirasakan dari sakit dan pertimbangan tentang keuntungan dan kerugian.
Penilaian pertama adalah ancaman yang dirasakan terhadap resiko yang akan muncul. Hal ini
mengacu pada sejauh mana seseorang berpikir penyakit atau kesakitan betul-betul merupakan
ancaman bagi dirinya.
Penilaian kedua yang dibuat adalah antara keuntungan dan kerugian dari perilaku dalam usaha
untuk memutuskan tindakan pencegahan atau tidak yang berkaitan dengan dunia medis.
Penilaian ketiga yaitu petunjuk berperilaku sehat. Hal ini berupa berbagai informasi dari luar
atau nasihat mengenai permasalahan kesehatan, misalnya dari tokoh agama / tokoh masyarakat
yang dijadikan panutan di daerah setempat atau dari berbagai program penyuluhan dan sumber
informasi lainnya.

BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

1. Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Ilmu Perilaku Kesehatan. Rineka Cipta.


2. Hayden, Joanna Aboyoun. (2014). Introduction to Health Behavior Theory, Second Edition.
Burlington: Jones and Bartlett.
3. Kementrian Kesehatan RI.2014. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013.www.depkes.go.id
4. Wulandari, Dewi. Dkk. 2017. Pengetahuan dan Persepsi Ibu yang Menolak Pemberian Imunisasi
Dasar Balita. Indonesian Journal On Medical Science – Volume 4 No.1 – Januari 2017.
Ijmsbm.org
5. Conner, M and Norman, P. (2003). Predictiong Health Behaviour, Research and Practice with
Social Cognition Model. Buckingham: Open Univeristy Press
6. Ary, Desmiyanti. Dkk. 2014. Pemanfaatan Imunisasi di Kelurahan Pampang Kecamatan
Panakkukang Kota Makassar (Pendekatan Health Belief Model).
7. Magaji, Abdallah Salamatu. Dkk. 2016. Health Belief Model As Framework For Exploring The
Non-Use Of Immunization Information By Parents Of Under Five Children.
8. Hidayat, A.A.A. 2008.PengantarIlmuKeperawatanAnak 1. Jakarta: SalembaMedika.