Anda di halaman 1dari 9

KELOMPOK 1

HEALTH BELIEF MODEL

DOSEN PENGAMPU :

DISUSUN OLEH :

1.Dwi yulianingsih 1301015

AKADEMI KESEHATAN RAJEKWESI

PROGAM STUDI D III KEPERAWATAN

BOJONEGORO

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena telah melimpahkan
karunia-Nya kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan penulisan makalah Promosi
Kesehatan Health Belief Model ini tepat pada waktunya.Makalah ini di buat untuk memenuhi
tugas Mata Kuliah Promosi Kesehatan.
Penulis berharap makalah ini dapat menambah pengetahuan mahasiswa mengenai
Health Belief Model, sehingga mahasiswa memiliki bekal teori yang nantinya akan sangat
bermanfaat dalam melaksanakan praktik di lapangan.
Memang makalah ini masih jauh dari sempurna, maka penulis mengharapkan kritik dan
saran yang membangun demi menyempurnakan makalah ini.

Semarang, November 2014

Kelompok 1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Health Belief Model ini (HBM) adalah teori yang paling umum digunakan dalam
pendidikan kesehatan dan promosi kesehatan (Glanz, Rimer, & Lewis, 2002; National Cancer
Institute [NCI], 2003). Ini dikembangkan pada 1950-an sebagai cara untuk menjelaskan mengapa
program skrining medis yang ditawarkan oleh US Public Health Service, terutama untuk TBC,
tidak begitu sukses (Hoch-Baum, 1958). Konsep asli yang mendasari HBM adalah bahwa
perilaku kesehatan ditentukan oleh keyakinan pribadi atau persepsi tentang penyakit dan strategi
yang tersedia untuk mengurangi terjadinya penyakit (Hochbaum, 1958). Persepsi pribadi
dipengaruhi oleh berbagai macam faktor yang mempengaruhi perilaku kesehatan intrapersonal.

1.2 Rumusan masalah


Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalahnya adalah:
1. Pengertian health belief model
2. Konsep dalam health belief model
3. Faktor penting dalam health belief model
4. Aspek-aspek pokok perilaku kesehatan
5. Model kepercayaan kesehatan
1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan penulisan makalah ini adalah:
Menjelaskan pengertian, konsep, faktor, aspek-aspek serta model tentang “health belief model”

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Health Belief Model


Health Belief Model adalah perubahan prilaku kesehatan dan model psikologis
dikembangkan oleh M. Rosenstock pada tahun 1966 untuk mempelajari dan mempromosikan
peningkatan pelayanan kesehatan. Model ini ditindaklanjuti oleh Becker dan rekan pada 1970-an
dan 1980-an. Teori Health Belief Model didasarkan pada pemahaman bahwa seseorang akan
mengambil tindakan yang akan berhubungan dengan kesehatan. Teori ini dituangkan dalam lima
segi pemikiran dalam diri individu, yang mempengaruhi upaya yang ada dalam diri individu
untuk menentukan apa yang baik bagi dirinya, yaitu perceived susceptibility (kerentanan yang
dirasakan/ diketahui), perceived severity (bahaya/ kesakitan yang dirasakan), perceived benefit
of action (manfaat yang dirasakan dari tindakan yang diambil), perceived barrier to action
(hambatan yang dirasakan akan tindakan yang diambil), cues to action (isyarat untuk melakukan
tindakan). Hal tersebut dilakukan dengan tujuan self efficacy atau upaya diri sendiri untuk
menentukan apa yang baik bagi dirinya.

2.2 Konsep dalam Health Belief Model:


1. Perceived Susceptibility (persepsi kerentanan)
Sebuah pemikiran (keyakinan) mengenai perubahan atau kerentanan karena kondisi yang akan
dialami. Penerapan: menjelaskan bahwa populasi (masyarakat) memiliki resiko, tingkat resiko
bisa tinggi, sedang, atau rendah berdasarkan kepada kecenderungan perilaku tidak sehat,
meningkatkan persepsi kerentanan (Perceived susceptibility) jika memang masyarakat memiliki
keyakinan atau presepsi yang rendah.
2. Perceived Severity (persepsi keparahan/kegawatan)
Sebuah pemikiran (keyakinan) tentang bagaimana seriusnya sebuah kondisi. Penerepan: akibat
yang sepesifik dari resiko dan kondisi tersebut.
3. Perceived Benefit (persepsi keuntungan/manfaat)
Sebuah pemikiran (keyakinan) mengenai keberhasilan dari pelaksanaan sebuah tindakan
(anjuran) untuk mengurangi resiko atau dampak serius. Penerapan: Menjelaskan mengenai
bagaimana tindakan yang harus dilakukan, bagaimana caranya, dimana, dan kapan tindakan itu
dilakuakan. Klarifikasi manfaat/keuntungan yang didapatkan apakah sesuai dengan yang
diharapkan.
4. Perceived Barrier (persepsi hambatan/halangan)
Sebuah pemikiran (keyakianan) mengenai harga atau nilai yang harus dibayar saat menjalankan
anjuran (faktor penghalang). Penerapan: Indentifikasi berbagai faktor penghambat dan kurangi
berbagai faktor penghambat melalui upaya penentraman , pemberian dorongan, dan bimbingan.
5. Cues to action (isyarat tindakan)
Strategi untuk mengaktifkan kesiagaan (kesiapan). Penerapan: Berikan informasi, dukung
kesadaran, dan pengingatan agar lebih cenderung untuk menerima anjuran.
6. Self efficacy (kemajuran/keberhasilan diri)
Kepercayaan diri mengenai kemampuan untuk melakukan tindakan. Penerapan: Berikan
pelatihan, panduan dalam melakukan tindakan.
2.3 faktor penting dalam Health Belief Model, yaitu :
1. Kesiapan individu untuk merubah perilaku dalam rangka menghindari suatu penyakit atau
memperkecil risiko kesehatan.
2. Adanya dorongan dalam lingkungan individu yang membuatnya merubah perilaku.
3. Perilaku itu sendiri.
Ketiga faktor di atas dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti persepsi tentang kerentanan terhadap
penyakit, potensi ancaman, motivasi untuk memperkecil kerentanan terhadap penyakit, adanya
kepercayaan bahwa perubahan perilaku dapat memberikan keuntungan, penilaian individu
terhadap perubahan yang ditawarkan, interaksi dengan petugas kesehatan yang
merekomendasikan perubahan perilaku, dan pengalaman mencoba perilaku yang serupa.

2.4 Aspek-aspek pokok perilaku kesehatan menurut Rosenstock:


a) Ancaman
• Persepsi tentang kerentanan diri terhadap penyakit (atau kesediaan menerima diagnosa
penyakit).
• Persepsi tentang keparahan penyakit / kondisi kesehatannya.
b) Harapan
• Persepsi tentang keuntungan suatu tindakan
• Persepsi tentang hambatan-hambatan untuk melakukan tindakan itu.
c) Pencetus tindakan:
• Media (media masa seperti Televisi, radio, dll)
• Pengaruh orang lain
• Hal-hal yang mengingatkan (reminders)
d) Faktor-faktor Sosio-demografi
•pendidikan,umur,jeniskelamin/gender,sukubangsa
e) Penilaian diri (Persepsi tentang kesanggupan diri untuk melakukan tindakan itu)
Ancaman suatu penyakit dipersepsikan secara berbeda oleh setiap individu. Contoh:
kanker. Ada yang takut tertular penyakit itu, tapi ada juga yang menganggap penyakit itu tidak
begitu parah, ataupun individu itu merasa tidak akan tertular olehnya karena diantara anggota
keluarganya tidak ada riwayat penyakit kanker. Keputusan untuk mengambil tindakan/upaya
penanggulangan atau pencegahan penyakit itu tergantung dari persepsi individu tentang
keuntungan dari tindakan tersebut baginya, besar/kecilnya hambatan untuk melaksanakan
tindakan itu serta pandangan individu tentang kemampuan diri sendiri. Persepsi tentang ancaman
penyakit dan upaya penanggulangannya dipengaruhi oleh latar belakang sosio-demografi si
individu. Untuk menguatkan keputusan bertindak, diperlukan faktor pencetus (berita dari media,
ajakan orang yang dikenal atau ada yang mengingatkan). Jika faktor pencetus itu cukup kuat dan
individu merasa siap, barulah individu itu benar-benar melaksanakan tindakan yang dianjurkan
guna menanggulangi atau mencegah penyakit tersebut.

2.5 Model Kepercayaan kesehatan oleh Becker (1974, 1979) :

1. Percaya bahwa mereka rentan terhadap masalah kesehatan tertentu


Bagaimana menyadarkan masyarakat tersebut bilamana dirinya dapat mengalami diare
setiap saat. Oleh karena adanya lingkungan dengan sanitasi yang buruk dan perilaku yang buruk
terhadap kesehatan, seperti cakupan jamban yang rendah serta sumber air bersih yang
dikonsumsi berpotensi tercemar oleh kuman. Tidak adanya WC memungkinkan adanya lalat
sebagai vektor penyebab terjadinya penularan ke manusia yang sehat lainnya. Sumber air yang
digunakan dari sumur pinggir sungai/menggali lubang pasir di pinggir sungai sangat
membahayakan bilamana ada penderita cholera yang BAB disungai tersebut.
2. Menganggap masalah ini serius
Terjadinya diare bukan saja dapat menyebabkan kesakitan tetapi juga bahaya kematian.
Terutama akibat dehidasi berat oleh diare. Penyakit ini setiap tahunnya merupakan pembunuh no
1 atau no 2 di Indonesia.
3. Meyakini efektifitas tujuan pengobatan dan pencegahan
Model pengobatan dini dapat mencegah ke tahapan diare berat dengan dehidasi hebat,
sehingga tidak perlu dirujuk ke RS. Pencegahan merupakan upaya terbaik dan murah melalui
kebiasaan perilaku hidup bersih dan sehat terutama sumber air yang steril, penggunaan WC dan
kebiasaan cuci tangan dengan sabun. Dimaksudkan memutuskan penularan penyakit diare.
4. Tidak mahal
Biaya yang tidak mahal karena hanya dengan merubah kebiasaan buruk dimasyarakat.
Jika dibandingkan dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk kesembuhan ditambah dengan
hilangnya produktifitas (waktu kerja).
5. Menerima anjuran untuk mengambil tindakan kesehatan
Melaksanakan anjuran oleh petugas kesehatan merupakan tujuan dari perubahan
perilaku.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kesimpulan
Health Belief Model (HBM) akan sangat berguna jika diaplikasikan kepada model
perilaku yang awal mulanya dijelaskan oleh teori model HBM yaitu kepada upaya-upaya yang
bersifat preventif. Teori HBM akan kurang bermanfaat jika digunakan pada perilaku yang
berkaitan dengan efek jangka waktu lama, komplek, dan berkaitan dengan masalah sosial,
sehingga masalahnya sangat kompleks sehingga tidak cocok dijelasakan oleh teori HBM.
Walupun begitu, tetap Keuntungan dari model ini merupakan cara yang sederhana untuk
menggambarkan pengaruh keyakinan (belief) seseorang tentang kesehatan terhadap tindakan
untuk melindungi atau memperbaiki kesehatannya. Sudah lebih dari tiga dekade penelitian
menunjukan dukungan perubahan pada keyakinan menyebabkan perubahan pada perilaku
kesehatan yang berkontribusi terhadap perbaikan status kesehatan. Perubahan pada pengetahuan
(dari tidak tahu menjadi tahu) dan keyakinan akan selalu menjadi bagian dari program promosi
kesehatan. dan Health Belief Model dapat menjadi titik acuan atau panduan dalam memberikan
pesan untuk memperbaiki pengetahuan (knowledge) dan keyakinan (belief) khususnya
memberikan pesan yang didisain untuk promosi kesehatan yang dipublikasikan melalui media
masa.

3.2 Saran
Bagi kita tenaga kesehatan sangat penting bagi kita untuk mengetahui Health Belief
Model sepeti untuk memberikan promosi kesehatan bagi klien, keluarga, dan masyarakat yang
kita layani.Karena dengan model ini kita dapat memberikan promosi yang tepat.

DAFTAR PUSTAKA

1. Maggie davies and Wendy Macdowall. 2006. Understanding Public Health: Health
Promotion Theory. England: London School of Hygiene & tropical medicine. Available at :
http://www.openup.co.uk (diakses 2013)

2. National Institutes of Health. Theories of Health Behavior. United States of America.


Available at : http://oc.nci.nih.gov (diakses 2013)

3. http://smartsholehah93.wordpress.com/2012/12/25/mengembangkan-gaya-hidup-sehat-
dengan-pendekatan-health-belief-model
Diposting 14th December 2015 oleh Dwi yulia