Anda di halaman 1dari 46

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kelainan kongenital anorektal didapatkan 1 dari tiap 5000-10000 kelahiran, sedangkan
atresia ani didapatkan 1% dari seluruh kelainan kongenital pada neonatus dan dapat
muncul sebagai penyakit tersering. Jumlah pasien dengan kasus atresia ani pada laki-laki
lebih banyak ditemukan dari pada pasien perempuan.
Insiden terjadinya atresia ani berkisar dari 1500-5000 kelahiran hidup dengan sedikit
lebih banyak terjadi pada laki-laki. 20% - 75% bayi yang menderita atresia ani juga
menderita anomali lain. Kejadian tersering pada laki-laki dan perempuan adalah anus
imperforata dengan fistula antara usus distal uretra pada laki-laki dan vestibulum vagina
pada perempuan (Alpers, 2006).
Angka kajadian kasus di Indonesia sekitar 90%. Berdasarkan dari data yang didapatkan
penulis, kasus atresia ani yang terjadi di Jawa Tengah khususnya Semarang yaitu sekitar 50%
dari tahun 2007 - 2009. Menyikapi kasus yang demikian serius akibat dari komplikasi
penyakit atresia ani, maka penulis mengangkat kasus atresia ani untuk lebih memahami
perawatan pada pasien dengan atresia ani.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan atresia Ani?
2. Apa etiologi dari atresia ani?
3. Apa saja klasifikasi dari atresia ani?
4. Bagaimana patofisiologi dari atresia ani?
5. Bagaimana WOC dari atresia ani?
6. Apa saja tanda dan gejala atresia ani?
7. Apa saja pemeriksaan penunjang dari atresia ani?
8. Bagaimana penatalaksanaan dari atresia ani?
9. Apa saja komplikasi dari atresia ani?

1
10. Apa saja isi pengkajian asuhan keperawatan pada atresia ani?
11. Apa saja diagnosa asuhan keperawatan pada atresia ani?
12. Bagaimana intervensi asuhankeperawatan pada atresia ani?

C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui definisi dari atresia ani
2. Mengetahui etiologi dari atresia ani
3. Mengetahui klasifikasi dari atresia ani
4. Mengetahui patofisiologi dari atresia ani
5. Mengetahui WOC dari atresia ani
6. Mengetahui tanda dan gejala dari atresia ani
7. Mengetahui pemeriksaan penunjang dari atresia ani
8. Mengetahui penatalaksanaan dari atresia ani
9. Mengetahui komplikasi dari atresia ani
10. Mengetahui pengkajian dari asuhan keperawatan pada atresia ani
11. Mengetahui diagnosa keperawatan dari asuhan keperawatan atresia ani
12. Mengetahui intervensi dari asuhan keperawatan atresia ani

2
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Definisi dan Anatomi


Istilah atresia berasal dari bahasa Yunani yaitu “a” yang berarti tidak ada dan trepsis
yang berarti makanan atau nutrisi. Dalam istilah kedokteran, atresia adalah suatu keadaan
tidak adanya atau tertutupnya lubang badan normal. Atresia ani adalah tidak lengkapnya
perkembangan embrionik pada distal anus atau tertutupnya anus secara abnormal (Suriadi,
2001). Sumber lain menyebutkan atresia ani adalah kondisi dimana rectal terjadi gangguan
pemisahan kloaka selama pertumbuhan dalam kandungan.
Sumber lain menyebutkan atresia ani adalah kondisi dimana rectal terjadi gangguan
pemisahan kloaka selama pertumbuhan dalam kandungan. Jadi menurut kesimpulan
penulis, atresia ani adalah kelainan congenital anus dimana anus tidakmempunyai lubang
untuk mengeluarkan feces karena terjadi gangguan pemisahan kloaka yang terjadi saat
kehamilan. Walaupun kelainan lubang anus akan mudah terbukti saat lahir, tetapi kelainan
bisa terlewatkan bila tidak ada pemeriksaan yang cermat atau pemeriksaan perineum.
Atresia Ani adalah kelainan kongenital yang dikenal sebagai anus imperforate meliputi
anus, rectum atau keduanya (Betz. Ed 3 tahun 2002).
Atresia ini atau anus imperforate adalah tidak terjadinya perforasi membran yang
memisahkan bagian entoderm mengakibatkan pembentukan lubang anus yang tidak
sempurna. Anus tampak rata atau sedikit cekung ke dalam atau kadang berbentuk anus
namun tidak berhubungan langsung dengan rectum. (sumber Purwanto. 2001 RSCM).

B. Etiologi
Etiologi secara pasti atresia ani belum diketahui, namun ada sumber mengatakan
kelainan bawaan anus disebabkan oleh gangguan pertumbuhan dan pembentukan anus
dari tonjolan embriogenik. Pada kelainan bawaan anus umumnya tidak ada kelainan
rectum, sfingter, dan otot dasar panggul. Namun demikian pada agenesis anus, sfingter

3
internal mungkin tidak memadai. Menurut penelitian beberapa ahli masih jarang terjadi
bahwa gen autosomal resesif yang menjadi penyebab atresia ani. Orang tua yang
mempunyai gen carrier penyakit ini mempunyai peluang sekitar 25% untuk diturunkan pada
anaknya saat kehamilan. 30% anak yang mempunyai sindrom genetic, kelainan kromosom
atau kelainan congenital lain juga beresiko untuk menderita atresia ani. Sedangkan kelainan
bawaan rectum terjadi karena gangguan pemisahan kloaka menjadi rectum dan sinus
urogenital sehingga biasanya disertai dengan gangguan perkembangan septum urorektal
yang memisahkannya.
 Faktor predisposisi
Atresia ani dapat terjadi disertai dengan beberapa kelainan kongenital saat lahir seperti
:
1. Sindrom (sindrom dimana terjadi abnormalitas pada vertebral, anal, jantung,
trachea, esofahus, ginjal dan kelenjar limfe).
2. Kelainan sistem pencernaan.
3. Kelainan sistem pekemihan.
4. Kelainan tulang belakang.

C. Klasifikasi
Secara fungsional, pasien atresia ani dapat dibagi menjadi 2 kelompok besar yaitu:
1. Tanpa anus tetapi dengan dekompresi adequate traktus gastrointestinalis dicapai
melalui saluran fistula eksterna.
Kelompok ini terutama melibatkan bayi perempuan dengan fistula rectovagina atau
rectofourchette yang relatif besar, dimana fistula ini sering dengan bantuan dilatasi,
maka bisa didapatkan dekompresi usus yang adequate sementara waktu.
2. Tanpa anus dan tanpa fistula traktus yang tidak adequate untuk jalan keluar tinja.
Pada kelompok ini tidak ada mekanisme apapun untuk menghasilkan dekompresi
spontan kolon, memerlukan beberapa bentuk intervensi bedah segera. Pasien bisa
diklasifikasikan lebih lanjut menjadi 3 sub kelompok anatomi yaitu :
a. Anomali rendah

4
Rectum mempunyai jalur desenden normal melalui otot puborectalis, terdapat
sfingter internal dan eksternal yang berkembang baik dengan fungsi normal dan
tidak terdapat hubungan dengan saluran genitourinarius.
b. Anomali intermediet
Rectum berada pada atau di bawah tingkat otot puborectalis; lesung anal dan
sfingter eksternal berada pada posisi yang normal.
c. Anomali tinggi
Ujung rectum di atas otot puborectalis dan sfingter internal tidak ada. Hal ini
biasanya berhubungan dengan fistuls genitourinarius – retrouretral (pria) atau
rectovagina (perempuan). Jarak antara ujung buntu rectum sampai kulit perineum
lebih dari 1 cm.
Sedangkan menurut klasifikasi Wingspread, atresia ani dibagi menjadi 2
golongan yang dikelompokkan menurut jenis kelamin. Pada laki – laki golongan I dibagi
menjadi 4 kelainan yaitu kelainan fistel urin, atresia rectum, perineum datar dan fistel
tidak ada. Jika ada fistel urin, tampak mekonium keluar dari orifisium eksternum uretra,
mungkin terdapat fistel ke uretra maupun ke vesika urinaria. Cara praktis menentukan
letak fistel adalah dengan memasang kateter urin. Bila kateter terpasang dan urin jernih,
berarti fistel terletak uretra karena fistel tertutup kateter. Bila dengan kateter urin
mengandung mekonium maka fistel ke vesikaurinaria. Bila evakuasi feses tidak lancar,
penderita memerlukan kolostomi segera. Pada atresia rectum tindakannya sama pada
perempuan ; harus dibuat kolostomi. Jika fistel tidak ada dan udara > 1 cm dari kulit
pada invertogram, maka perlu segera dilakukan kolostomi.
Sedangkan pada perempuan golongan I dibagi menjadi 5 kelainan yaitu kelainan
kloaka, fistel vagina, fistel rektovestibular, atresia rectum dan fistel tidak ada. Pada fistel
vagina, mekonium tampak keluar dari vagina. Evakuasi feces menjadi tidak lancar
sehingga sebaiknya dilakukan kolostomi. Pada fistel vestibulum, muara fistel terdapat
divulva.
Umumnya evakuasi feses lancar selama penderita hanya minum susu. Evakuasi
mulai terhambat saat penderita mulai makan makanan padat. Kolostomi dapat

5
direncanakan bila penderita dalam keadaan optimal. Bila terdapat kloaka maka tidak
ada pemisahan antara traktus urinarius, traktus genetalis dan jalan cerna. Evakuasi feses
umumnya tidak sempurna sehingga perlu cepat dilakukan kolostomi.Pada atresia
rectum, anus tampak normal tetapi pada pemerikasaan colok dubur, jari tidak dapat
masuk lebih dari 1-2 cm. Tidak ada evakuasi mekonium sehingga perlu segera dilakukan
kolostomi. Bila tidak ada fistel, dibuat invertogram. Jika udara > 1 cm dari kulit perlu
segera dilakukan kolostomi.
Golongan II pada laki – laki dibagi 4 kelainan yaitu kelainan fistel perineum,
membran anal, stenosis anus, fistel tidak ada. Fistel perineum sama dengan pada wanita
; lubangnya terdapat anterior dari letak anus normal. Pada membran anal biasanya
tampak bayangan mekonium di bawah selaput. Bila evakuasi feses tidak ada sebaiknya
dilakukan terapi definit secepat mungkin. Pada stenosis anus, sama dengan perempuan,
tindakan definitive harus dilakukan. Bila tidak ada fistel dan udara < 1 cm dari kulit pada
invertogram, perlu juga dilakukan pembedahan.
Sedangkan golongan II pada perempuan dibagi 3 kelainan yaitu kelainan fistel
perineum, stenosis anus dan fistel tidak ada. Lubang fistel perineum biasanya terdapat
diantara vulva dan tempat letak anus normal, tetapi tanda timah anus yang buntu
menimbulkan obstipasi. Pada stenosis anus, lubang anus terletak di tempat yang
seharusnya, tetapi sangat sempit. Evakuasi feses tidal lancar sehingga biasanya harus
segera dilakukan terapi definitive. Bila tidak ada fistel dan pada invertogram udara < 1cm
dari kulit dapat segera dilakukan pembedahan definitive. Dalam hal ini evakuasi tidak ada,
sehingga perlu segera dilakukan kolostomi.

D. Patofisiologi
Kelainan ini terjadi karena kegagalan pembentukan septum urorektal secara
komplit karena gangguan pertumbuhan, fusi atau pembentukan anus dari tonjolan
embrionik.Putusnya saluran pencernaan dari atas dengan daerah dubur, sehingga bayi lahir
tanpa lubang dubur.
Gangguan organogenesis dalam kandungan penyebab atresia ani, karena ada

6
kegagalan pertumbuhan saat bayi dalam kandungan berusia 12 minggu atau tiga bulan.
Berkaitan dengan sindrom down. Atresia ani adalah suatu kelainan bawaan.
Terdapat tiga macam letak :
1. Tinggi (supralevator) : Rektum berakhir di atas M.Levator ani (m.puborektalis)
dengan jarak antara ujung buntu rectum dengan kulit perineum >1 cm. Letak
upralevator biasanya disertai dengan fistel kesaluran kencing atau saluran genital.
2. Intermediate : Rectum terletak pada m.levator ani tapi tidak
menembusnya.
3. Rendah : Rectum berakhir di bawah m.levator ani sehingga jarak antara kulit dan
ujung rectum paling jauh 1 cm.

7
E. Pathway

 Gangguan Pertumbuhan
 Pembentukan Anus Dari
Tonjolan Embrionik

ATRESIA
ANI

Vistel
Feces
Rektovagin
Tidak
al
Keluar

Feces Menumpuk Feces Masuk


Uretra

Peningkatan Reabsorbsi Sisa


Tekanan Intra Metabolisme oleh Mikroorganisme
Abdomen Tubuh Masuk Saluran
Kemih

Dysuria
Operasi: Mual, Penumpukan
 Anoplasti Muntah Sisa
 Colostomi Metabolisme

Nutrisi Kurang Gangguan


Resiko
Dari Kebutuhan Nyeri Eliminasi
Perubahan Infeksi
BAK
Defekasi
Kecemasa
n
Pengeluaran Trauma
Tidak Jaringan
Terkontrol

Nyeri
Iritasi
Mukosa
Hambatan
Rasa Nyaman
Kerusakan
Integritas
Kulit
8
F. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis yang terjadi pada atresia ani adalah kegagalan lewatnya
mekonium setelah bayi lahir, tidak ada atau stenosis kanal rectal, adanya membran anal
dan fistula eksternal pada perineum (Suriadi, 2001). Gejala lain yang nampak diketahui
adalah jika bayi tidak dapat buang air besar sampai 24 jam setelah lahir, gangguan
intestinal, pembesaran abdomen, pembuluh darah di kulit abdomen akan terlihat menonjol
(Adele,1996).
Bayi muntah – muntah pada usia 24 – 48 jam setelah lahir juga merupakan salah
satu manifestasi klinis atresia ani. Cairan muntahan akan dapat berwarna hijau karena
cairan empedu atau juga berwarna hitam kehijauan karena cairan mekonium.

G. Pemeriksaan Penunjang
Untuk memperkuat diagnosis sering diperlukan pemeriksaan penunjang sebagai
berikut :
1. Pemeriksaan radiologis
Dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya obstruksi intestinal.
2. Sinar X terhadap abdomen
Dilakukan untuk menentukan kejelasan keseluruhan bowel dan untuk mengetahui
jarak pemanjangan kantung rectum dari sfingternya.
3. USG terhadap abdomen
Digunakan untuk melihat fungsi organ internal terutama dalam system pencernaan
dan mencari adanya faktor reversible seperti obstruksi oleh karena massa tumor.
4. CT Scan
Digunakan untuk menentukan lesi.
5. Pemeriksaan fisik rectum
Kepatenan rectal dapat dilakukan colok dubur dengan menggunakan selang atau jari.

9
H. Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan Medis
a. Malformasi anorektal dieksplorasi melalui tindakan bedah yang disebut diseksi
posterosagital atau plastik anorektal posterosagital.
b. Colostomi sementara

10
BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN ATRESIA ANI

A. PENGKAJIAN

1. IDENTITAS PASIEN
Nama, Tempat Tanggal Lahir, Umur, Jenis Kelamin, Alamat, Agama, Suku Bangsa,
Pendidikan, Pekerjaan, No.RM, Tanggal Masuk RS, Diagnosa Medis.

2. RIWAYAT KESEHATAN
a. Keluhan Utama:
Distensi Abdomen
b. Riwayat Kesehatan Sekarang:
Muntah, perut kembung dan membuncit, tidak bisa buang air besar, meconium
keluar dari vagina atau meconium terdapat dalam urin.
c. Riwayat Kesehatan Dahulu:
Klien mengalami muntah-muntah setelah 24-48 jam pertama kelahiran
d. Riwayat Kesehatan Keluarga
Merupakan kelainan kongenital, bukan kelainan/penyakit menurun sehingga
belum tentu dialami oleh anggota keluarga yang lain.
e. Riwayat Kesehatan Lingkungan:
Keberhasilan lingkungan tidak mempengaruhi kejadian atresia ani.

3. POLA FUNGSI KESEHATAN


a. Pola Persepsi Terhadap Kesehatan:
Klien belum bisa mengungkapkan secara verbal tentang apa yang dirasakan dan
apa yang diinginkan.

b. Pola Aktivitas Kesehatan/Latihan:

11
Pasien belm bisa melakukan aktivitas apapun secara mandiri karena masih bayi.
AKTIFITAS 0 1 2 3 4
Mandi 
Berpakaian 
Eliminasi 
Mobilitas ditempat tidur 
Pindah 
Ambulansi 
Makan . 

Keterangan :
0 : mandiri
1 : dengan menggunakan alat bantu
2 : dengan menggunakan bantuan dari orang lain
3 : dengan bantuan orang lain dan alat bantu
4 : ketergantungan total, tidak berpartisipasi dalam beraktivitas

c. Pola Istirahat/Tidur:
Diperoleh dari keterangan sang ibu bayi atau keluarga yang lain.
d. Pola Nutrisi Metabolik:
Klien hanya minum ASI atau susu formula
e. Pola Eliminasi:
Klien tidak dapat buang air besar, dalam urin ada meconium
f. Pola Kognitif Perseptual:
Klien belum mampu berkomunikasi, berespon, dan berorientasi dengan baik
pada orang lain.

g. Pola Konsep Diri:


1) Identitas diri : belum bisa dikaji
2) Ideal diri : belum bisa dikaji

12
3) Gambaran diri : belum bisa dikaji
4) Peran diri : belum bisa dikaji
5) Harga diri : belum bisa dikaji
h. Pola Seksual Reproduksi:
klien masih bayi dan belum menikah
i. Pola Nilai dan Kepercayaan:
Belum bisa dikaji karena klien belum mengerti tentang kepercayaan.
j. Pola Peran Hubungan:
Belum bisa dikaji karena klien belum mampu berinteraksi dengan orang lain
secara mandiri.
k. Pola Koping:
Belum bisa dikaji karena klien masih bayi dan belum mampu berespon terhadap
adanya suatu masalah.

4. PEMERIKSAAN FISIK
Hasil pemeriksaan fisik yang di dapatkan pada pasien atresia ani adalah anus
tampak merah, usus melebar, kadang-kadang tampak ileus obstruksi, termometer
yang dimasukkan melalui anus tertahan oleh jaringan, pada auskultasi dengan
hiperperistaltik, tanpa meconium dalam 24 jam setelah bayi lahir, tinja dalam urin
dan vagina.
 Pemeriksaan Fisik head to toe
a. Tanda-tanda vital:
• Nadi : 110 x/mnt
• Respirasi : 32 x/mnt
• Suhu axila : 37oC
b. Kepala:
Kepala simetris, tidak ada luka/lesi, kulit kepala bersih, tidak ada
benjolan/tumor, tidak ada caput succedaniu, tidak ada chepal hematom.
c. Mata:

13
Simetris, tidak konjungtifistis, tidak ada perdarahan subkonjungtiva, tidak
ikterus, tidak nistagamus/ tidak episnatus, conjungtiva tampak agak pucat.
d. Hidung
Simetris, bersih, tidak ada luka, tidak ada secret, tidak ada pernafasan cuping
hidung, tidak ada pus dan lendir.
e. Mulut
Bibir simetris, tidak macrognatia, micrognatia, tidak macroglosus, tidak
cheilochisis.
f. Telinga
Memiliki 2 telinga yang simetris dan matur tulang kartilago berbentuk
sempurna
g. Leher
Tidak ada webbed neck.
h. Thorak
Bentuk dada simetris, silindris, tidak pigeon chest, tidak funnel shest,
pernafasan normal
i. Jantung
Tidak ada mur-mur, frekuensi jantung teratur
j. Abdomen
Simetris, teraba lien, teraba hepar, teraba ginjal, tidak termasa/tumor, tidak
terdapat perdarahan pada umbilicus
k. Getalia
Terdapat lubang uretra, tidak ada epispandia pada penis tidak ada
hipospandia pada penis, tidak ada hernia sorotalis.
l. Anus
Tidak terdapat anus, anus nampak merah, usus melebar, kadang-kadang
tampak ileus obstruksi. Thermometer yang dimasukan kedalam anus
tertahan oleh jaringan. Pada auskultasi terdengar peristaltic.

14
m. Ektrimitas atas dan bawah
Simetris, tidak fraktur, jumlah jari lengkap, telapak tangan maupun kaki dan
kukunya tampak agak pucat
n. Punggung
Tidak ada penonjolan spina gifid
o. Pemeriksaan Reflek
1) Suching +
2) Rooting +
3) Moro +
4) Grip +
5) Plantar +

B. DIAGNOSA
1. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan asupan nutrisi
2. Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan invasive
3. Nyeri berhubungan dengan pembedahan
4. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan iritasi mukosa
5. Ansietas berhubungan dengan pembedahan anoplasti/colostomy

15
C. INTERVENSI

1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d asupan nutrisi kurang
Tujuan : setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam makanan dan cairan yang masuk dalam tubuh ditingkatkan
NOC NIC
Status nutrisi : asupan makanan dan cairan (1008) Manajemen nutrisi (1100)
Yang dibuktikan oleh indikator sebagai berikut : 1. Tentukan status gizi pasien dan kemampuan untuk
Skala outcome 1 2 3 4 5 memenuhi kebutuhan gizi
Asupan makanan secara oral  2. Identifikasi adanya alergi atau intoleransi makanan
Asupan cairan secara oral  yang dimiliki pasien
Asupan cairan intravena  3. Tentukan jumlah kalori dan jenis nutrisi yang
Keterangan penilaian : dibutuhkan untuk memenuhi persyaratan gizi
1 = tidak adekuat 4. Atur diet yang diperlukan
2 = sedikit adekuat 5. Pastikan makanan yang disajikan dengan cara
3 = cukup adekuat menarik dan pada suhu yang cocok
4 = sebagian besar adekuat 6. Monitor kecenderungan terjadinya penurunan dan
5 = sepnuhnya kuat kenaikan berat badan

16
2. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasive
Tujuan : setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam tidak tampak tanda tanda infeksi pada area insisi

NOC NIC

Pemulihan pembedahan : penyembuhan (2304) Kontrol infeksi (6540)


Yang dibuktikan oleh indicator sebahgai berikut : 1. Tempatkan isolasi sesuai tindakan pencegahan yang
Skala outcome 1 2 3 4 5 sesuai
2. Lakukan tindakan- tindakan pencegahan yang bersifat
Eliminasi usus  universal
3. Gosok kulit pasien dengan agen anti bakteri yang
Keseimbangan elektrolit  sesuai
4. Jaga lingkungan aseptic
Integritas jaringan 
5. Pastikan penanganan aseptic
Penyembuhan luka  6. Pastikan teknik perawatan luka yang tepat
7. Kolaborasi dengan dokter terapi anti biotik yang sesuai

Keterangan Penilaian :
1 = Deviasi Berat Dari Kisaran Normal
2 = Deviasi Yang Cukup Besar Dari Kisaran Normal
3 = Deviasi Sedang Dari Kisaran Normal
4 = Deviasi Ringan Dari Kisaran Normal
5 = Tidak Ada Deviasi Dari Kisaran Normal

17
3. Nyeri akut b/d proses pembedahan/ agen cedera fisik
Tujuan : setelah mendapat perawatan selama 3 x 24 jam nyeri klien terkontrol

NOC NIC
Status kenyamanan fisik ( 2010) Manajemen nyeri (1400)
Definisi : kenyamanan fisik yang berkaitan dengan sensasi Definisi : pengurangan atau reduksi nyeri sampai pada
tubuh dan mekanisme homeostatis tingkat kenyamanan yang dapat diterima oleh pasien
Dengan skala outcome : 1. Observasi adanya petunjuk non verbal mengenai
Skala outcome 1 2 3 4 5 ketidaknyamanan terutama pada mereka yang
Posisi yang nyaman √ tidak dapat berkomunikasi secara efektif
Baju yang nyaman √ 2. Gunakan metode penilaian sesuai dengan tahapan
Intake makanan √ perkembangan yang memungkinkan untuk
Intake cairan √ memonitor perubahan dari dan akan dapat
Keterangan : membantu mengidentifikasi factor pencetus actual
1. sangat terganggu dan potensial (misalanya : catatan perkembangan,
2. banyak terganggu catatan harian)
3. cukup terganggu 3. Kurangi atau eliminasi factor – factor yang dapat
4. sedikit terganggu mencetus atau meningkatkan nyeri misalnya
5. tidak terganggu (ketakutan, kelelahan)
4. Pilih dan implementasikan tindakan yang beragam
(misalnya farmakologi, nonfarmakologi,
interpersonal) untuk memfasilitasi peurunan nyeri
sesuai dengan kebutuhan
5. Informasikan tim kesehatan lain / anggota keluarga
mengenai strategi non farmakologi yang sedang di
gunakan untuk mendorong pendekatan preventif
terkait dengan menajemen nyeri

18
Manajemen obat (2380)
Definisi : fasilitasi penggunaan dan efektifitas resep yang
aman serta penggunaan obat bebas
1. Monitor pasien mengenai efek terapeutik obat
2. Monitor efek samping obat
3. Kaji ulang pasien dan / keluarga secara berkala
mengenai jenis dan jumlah obat yang dikonsumsi
4. Kembangkan strategi bersama pasien/keluarga
untuk meningkatkan kepatuhan mengenai regimen
obat yang diresepkan
5. Konsultasi dengan professional erawatan lainnya
untuk meminimalkan jumlah dan frrkwensi obat
yang dibutuhkan agar didapatkan efek terapeutik
6. Berikan alternative mengenai jangka waktu dan
cara pengobatan mandiri untuk meminimalkan
efek gaya hidup

19
BAB IV
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN POST SIGMOIDESTOMY ec ATRESIA ANI

A. Pengkajian

1. Identitas Klien
Nama :An.M No.RM :11283xxx
Usia :3 Tahun Tgl.Masuk : 08 Maret2018
Jenis kelamin :Laki-laki Tgl.Pengkajian : 25 Maret 2018
Alamat : RT11/05Sukorejo Sumber informasi : Orang tua klien
No. telepon :- Nama klg. dekat yg bisa dihubungi: Tn. A
Status pernikahan : belum menikah
Agama :Islam Status : Ayah kandung Suku
: Madura-Jawa Alamat : RT 11/05 Sukorejo
Pasuruan
Pendidikan : Tidak terkaji (belum sekolah) No.telepon : 08233533xxx
Pekerjaan : Tidak terkaji (belum bekerja) Pendidikan :-
Lamaberkerja : Tidak terkaji (belum bekerja) Pekerjaan :Pedagang

2. Status kesehatan Saat Ini


a. Keluhan utama
Saat MRS : Operasi ProPSA
Saat Pengkajian : Anak tampak tenang, dan sesekali menangis, selasa 27 Maret rencana akan
dilakukan operasi End to EndAnastomosis
b. Lama keluhan : Badan teraba hangat sejak tadi siang
c. Kualitas keluhan : Suhu :37,5oC
d. Faktor pencetus : Atresia Ani (karena kelainan konginetal)
e. Faktor pemberat :-
f. Upaya yg. telah dilakukan : dibawa ke RSSA
g. Diagnosa medis
a. Atresia Ani ProPSA Tanggal 08 Maret2018

3. Riwayat Kesehatan Saat Ini


Orang tua klien mengatakan anaknya tidak bisa BAB sejak lahir karena tidak punya lubang anus. Anak
dilahirkan di RSUD Bangil Pasuruan dengan BB lahir 3.700 gr, dan ibu mengatakan tidak ada keluhan selama
masa kehamilan. Saat pengkajian pasca lahir didapatkan kondisi anak M yang tidak memiliki anus sehingga
dilakukan tindakan olocostomy tahun 2016 di RSUD Bangil. Kemudian anak dilakukan tindakan operasi kedua
Februari 2018 PSA di RSSA. (Posterior Sagital Anorectal). Pada
20
saat pengkajian An.A cukup aktif, namun cenderung rewel. Ibu mengatakan masih sulit makan meskipun agak
lebih baik ketika setelah dibuatkan stoma. Anak hanya mau ASI saja. An. A kadang- kadang mengeluh sakit
pada daerah anus. hari selasa 27 Maret rencana akan dilakukan operasi End to End Anastomosis
P: post PSA
Q: Ringan (cekit-cekit)
R: pada daerah anus bekas operasi PSA
S: skala nyeri 3
T: Pada saat terlalu aktif (terlalu banyak bergerak)

4. Riwayat Kesehatan Terdahulu


a. Penyakit yg pernahdialami:
a. Kecelakaan (jenis&waktu) : Tidakada
b. Operasi (jenis& waktu) : Colocostomy danPSA
c. Penyakit:
 Kronis : Tidakada
 Akut : Tidakada
d. Terakhirmasuki RS : MRSini

b. Alergi (obat, makanan, plester,dll):

Tipe Reaksi Tindakan


Belum dilakukanpemeriksaan Belum Belum dilakukanpemeriksaan
dilakukanpemeriksaan

5. Riwayat Kehamilan dan Persalinan


a. Prenatal
- Pemeriksaan ANC rutin (6kali) di puskesmas dan dibidan
- tidak ada penyulit selama kehamilan
b. Natal
- Lahir normal / spontanpervaginam
- Lahir cukupbulan
- Tidak ada penyulit selamapersalinan
- Berat badan lahir 3700gr
c. Postnatal
- Tubuh bayi tampak berwarnanormal
- Tidak ada tanda asfiksia
- Bayi menangis dan bergerakaktif
- Mekonium keluar <48 jam setelah bayilahir
d. Imunisasi

21
- Hepatitis B1

22
- BCG
- OPV -O

6. Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan


a. Pertumbuhan
- Berat lahir : 3700gr
- Panjangbadanlahir : 48cm
- Lingkarkepala lahir : 30cm
- Berat badansaatini : 10kg
- Panjang badansaatini : 78 cm
- Lingkar Lengan atas saat ini : 18cm
- BBI : 10,2kg
Kesimpulan : Pertumbuhan anak normal (sesuai usia), status gizi kurang
b. Perkembangan
- Klien sudah bisa mengambar dan menunjukkan suatuobjek
- Klien bisa menjawabpertanyaan
- Klien bisa memberikan respon pada orang lain saat diberi stimulasi (tersenyum, tertawa, mengoceh)
Kesimpulan : Perkembangan sesuai umur / normal

7. Riwayat Keluarga
Ayah klien mempunyai riwayat penyakit hipertensi sejak +/- 7 tahun lalu
Dalam keluarga klien tidak ada yang memiliki riwayat penyakit diabetes mellitus, Hepatitis B, Stroke, PJK, dll

GENOGRAM

Keterangan :

: laki- laki

: perempuan

: meninggal
: tinggalserumah

:pasien

23
8. Riwayat Lingkungan
Jenis Rumah Pekerjaan
 Kebersihan Bersih, minimal polusi air, udara Belum bekerja
 Bahayakecelakaan Aman, jauh dari jalan raya Belum bekerja
 Polusi Minimal polusi udara, air, suara Belum bekerja
 Ventilasi Cukup, 1 ruangan 1 ventilasi Belum bekerja
 Pencahayaan Baik, cahaya masuk setiap ruangan Belum bekerja

9. Pola Aktifitas-Latihan
Rumah Rumah Sakit
 Makan/minum
0 0
 Mandi 0 0
 Berpakaian/berdandan 0 0
 Toileting 0 0
 Mobilitas di tempattidur 0 0
 Berpindah 0 0
 Berjalan 0 0
 Naik tangga 0 0
Pemberian Skor: 0 = mandiri, 1 = alat bantu, 2 = dibantu 1 orang, 3 = dibantu >1 orang, 4 = tidak
mampu

10. Pola NutrisiMetabolik


Rumah RumahSakit
a. Jenisdiit/makanan ASI, Nasi,Lauk,dll Diet TETP A (Biasa),ASI
b. Frekuensi/pola hari menyusu > 8kali hari menyusu > 8kali
c. Porsiygdihabiskan menyusu -/+20menit menyusu -/+ 20menit
d. Komposisi menu ASI susuformula,nasi ASI dan dietTETP
e. Pantangan Tidakada Tidakada
f. Napsu makan Baik Baik
g. Fluktuasi BB 6bln.terakhir Meningkat1300gr Meningkat 1300gr
h. Jenis minuman ASI dan susuformula ASI dan susuformula
i. Frekuensi/polaminum hari menyusu >8kali hari menyusu > 8kali
j. Gelas yg dihabiskan menyusu -/+20menit menyusu -/+ 20menit
k. Sukarmenelan(padat/cair) Tidakada Tidak ada
l. Pemakaian gigipalsu(area) Tidakada Tidak ada

24
m. Riw. masalah penyembuhan luka Tidakada Tidakada

11. PolaEliminasi
Rumah RumahSakit

a. BAB:
a. Frekuensi/pola - tidak tentu
b. Konsistensi - encer
c. Warna&bau - kuning
d. Kesulitan tidakBABlangsung tidak bisaspontan
e. Upayamengatasi pakaistoma terpasang stoma dan post
PSA
b. BAK:
a. Frekuensi/pola 5-4 kaliper hari 5-4 kali perhari
b. Konsistensi Cair Cair
c. Warna&bau Coklat tua –Kuningpekat Kuning pekat - kuning
d. Kesulitan tidak ada tidakada
- Upayamengatasi tidak ada tidak ada

12. Pola Tidur-Istirahat


Rumah RumahSakit
a. Tidursiang:Lamanya 2-3jam 2-3jam
- Jam…s/d… 12.00-15.00 12.00 - 15.00
a. Kenyamananstlh.tidur Nyaman Nyaman
b. Tidurmalam:Lamanya 12-15jam 12-15jam
- Jam…s/d… 19.00-05.00;07.00-09.00 19.00-05.00 ;07.00-09.00
a. Kenyamananstlh.tidur Nyaman Nyaman
b. Kebiasaansblm.tidur Minumsusu Minumsusu
c. Kesulitan Kadangrewel Kadang rewel
d. Upayamengatasi Tidakada Tidakada

13. Pola Kebersihan Diri


Rumah Rumah Sakit
a. Mandi:Frekuensi 2 kali/ hari 2 kali /hari
a. Penggunaansabun dengansabun(diseka) dengan sabun(diseka)
b. Keramas:Frekuensi 1kali/hari 1 kali/ hari
a. Penggunaanshampoo denganshampoo denganshampoo
c. Gososokgigi:Frekuensi tidakgosokgigi tidak gosokgigi
a. Penggunaanodol tidakgosokgigi tidak gosokgigi

25
 Gantibaju:Frekuensi 2 kali / hari 2 kali / hari
 Memotong kuku:Frekuensi 1 minggu / 1x 1 minggu / 1x
 Kesulitan tidak ada tidak ada
 Upaya ygdilakukan tidak ada tidak ada

14. Pola Toleransi-KopingStres


1. Pengambilankeputusan: ()sendiri (v) dibantu orang lain, sebutkan, orang tuaklien
2. Masalah utama terkait dengan perawatan di RS atau penyakit (biaya, perawatan diri, dll): tidak ada
3. Yang biasa dilakukan apabila stress/mengalami masalah: orang tua klien bercerita pada anggota
keluarga,berdoa
4. Harapan setelah menjalani perawatan: orang tua berharap anak dapat segera membaik
kondisinya dan pulang kerumah
5. Perubahan yang dirasa setelah sakit: tidakterkaji

15. KonsepDiri
1. Gambaran diri: tidakterkaji
2. Ideal diri: tidakterkaji
3. Harga diri: tidakterkaji
4. Peran: tidakterkaji
5. Identitas diri : Klien adalah seorang anak, usia 2 bulan, berjenis kelaminlaki-laki

16. Pola Peran &Hubungan


1. Peran dalam keluarga : sebagaianak
2. Sistem pendukung:suami/istri/anak/tetangga/teman/saudara/tidak ada/lain-lain, sebutkan: orang
tuaklien
3. Kesulitandalamkeluarga: ( ) Hub. denganorangtua ( ) Hub.dengan pasangan ( )
Hub. dengansanak saudara ( ) Hub.dengananak
(v)Lain-lainsebutkan, tidakada
4. Masalah tentang peran/hubungan dengan keluarga selama perawatan di RS: tidakada
5. Upaya yg dilakukan untuk mengatasi: tidakada

17. Pola Komunikasi


1. Bicara: (v)Normal ( )Bahasa utama:indonesia
( ) Tidakjelas(Mengoceh ( ) Bahasa daerah:jawa/madura
( )Bicara berputar-putar ( ) Rentang perhatian: Baik ( )
Mampu mengerti pembicaraanoranglain () Afek: baik
2. Tempattinggal:

26
( )Sendiri
( )Kos/asrama
(v ) Bersama orang lain, yaitu: bersama orang tua

3. Kehidupankeluarga
a. Adat istiadat yg dianut:Jawa
b. Pantangan & agama yg dianut:Islam
c. Penghasilankeluarga: ( ) <Rp.250.000 (v ) Rp. 1 juta – 1.5juta
( ) Rp. 250.000 – 500.000 ( )Rp. 1.5 juta – 2juta
( ) Rp. 500.000 –1juta ( ) > 2juta
18. Pola Seksualitas
1. Masalah dalam hubungan seksual selama sakit: (v )tidak ada ( ) ada
2. Upaya yang dilakukan pasangan (orang tua):
(v)Perhatian (v) Sentuhan ( ) lain-lain, seperti,...........................................................

19. Pola Nilai &Kepercayaan


1. Apakah Tuhan, agama, kepercayaan penting untuk Anda,Ya/Tidak
2. Kegiatan agama/kepercayaan yg dilakukan dirumah (jenis & frekuensi): tidakterkaji
3. Kegiatan agama/kepercayaan tidak dapat dilakukan di RS: tidakterkaji
4. Harapan klien terhadap perawat untuk melaksanakan ibadahnya: tidakterkaji

20. PemeriksaanFisik
1. Keadaan Umum:Cukup
- Kesadaran: Composmentis
- Tanda-tanda vital: - Tekanan darah:tidak terkaji - Suhu:37,5oC
- Nadi :112x/menit -RR: 24x/menit
- Tinggi badan: 56cm Berat Badan: 10kg

2. Kepala &Leher
a. Kepala:
- Bentuk :normochepali
- Massa: tidak ada
- Distribusi rambut :merata
- Warna kulit kepala : putihbersih
- Keluhan : tidak adakeluhan

b. Mata:
- Bentuk:simetris

27
- Konjungtiva: tidakanemis
- Pupil : ( v ) reaksiterhadap cahaya (v)isokor ()miosis ()pinpoint ()midriasis
- Sklera :ikterik
- Fungsi penglihatan : ( v)baik ( )kabur
- Penggunaan alat bantu : ()ya ( v )tidak

c. Hidung:
- Bentuk :Simetris
- Sekret: tidakada
- Pembengkakan: tidakda
- Nyeri tekan: tidakada
- Pendarahan: tidakada
- Sinus: tidak ada nyeri tekan pada sinus paranasal

d. Mulut & tenggorokan:


- Warna bibir: pink, tidak adasianosis
- Mukosa:lembab
- Ulkus:tidakada.
- Lesi: tidakada.
- Massa: tidakada.
- Warna lidah:pink
- Perdarahan gusi: tidak ada.
- Kariesada.
- Gangguan bicara:tidak

e. Telinga:
- Bentuk:simetris
- Lesi tidakada.
- Massa: tidakada.
- Nyeri: tidakada.
- Nyeri tekan: tidakada.

f. Leher:
- Kekakuan: tidakada.
- Benjolan / massa : tidakada..
- Vena junggulris: tidak ada distensi venajugularis
- Nyeri: tidakada.

28
- Nyeri tekan: tidakada.
- Keterbatasan gerak: : bisa mengangkat kepala 30o saat tengkurap, bisa miring kanan dankiri
- Keluhan lain: tidakada

3. Thorak &Dada:
- Jantung
- Inspeksi: Pulsasi ictus cordis tidakterlihat
- Palpasi: Puslasi ictus cordis teraba di ICS 5 mid claviculasinistra
- Perkusi: terdengar dullness pada batas-batas jantung, batas jantung atas : ICS 2 mid sternal,
batas jantung kanan : ICS 2 parasternal kanan, batas jantung kiri : ICS 5 mid claviculasinistra

- Auskultasi: S1 S2 normal, tidak ada suara jantung tambahan, murmur (-), gallop(-)

- Paru
- Inspeksi:Bentuk dada normal, retraksi dinding dada minimal, tidak ada penggunaan otot bantu
nafas
- Palpasi:pengembangan dadasimetris
- Perkusi:resonan
-- --
- Auskultasi: suara vesikuler, tidak ada ronchii- -
--
--
wheez-in-g

4. Payudara & Ketiak


- Benjolan / massa: tidak ada.
- Bengkak: tidak ada..
- Nyeri: tidak ada.
- Nyeri tekan: tidak ada.
- Kesimetrisan : tidak ada.

5. Punggung & Tulang Belakang


- Tidak ada kelainan tulang punggung
- tidak ada lesi / luka, tidak ada massa
6. Abdomen
- Inspeksi :perut tampak datar,terpasang kantong pada perut sebelah kiri,produksinya
±200 cc/ hari. Keadaan stoma baik dan tampak merah
- Palpasi : tidak ada nyeritekan
- Perkusi : tidak dilakukan
- Auskultasi : Bising usus16x/menit
7. Genetalia &Anus
Terdapat insisi diantara skrotum dan tulang ekor, terdapat cairan putih keruh agak kekuningan yang
keluar dari sela-sela hecting insisi post PSA, terkadang An.A mengeluh sakit pada anus
29
8. Ekstermitas ( kekuatan otot, kontraktur, deformitas, edema, luka, nyeri/ nyeri tekan,pergerakan)

30
- Atas: tidak terdapat kontraktur, edema, luka pada ekstremitas atas, terpasang IV line (plug) pada
tangankiri

- Bawah: tidak terdapat kontraktur, edema, luka pada ekstremitasbawah

9. Sistem Neorologi (SSP : I –XII, reflek,motorik,sensorik)


- Sucking reflex :(+)
- Palmar garsp reflex :(+)
- Tonic neck reflex :(+)
- Rooting reflex :(+)
- Moro reflex(+)
- Babinski reflex(+)

10. Kulit &Kuku


- Kulit (warna, lesi, turgor, jaringan, parut, suhu, tkstur,diaphoresis)
Warna kulit bersih, jaundice minimal, lesi kemerahan bintik-bintik pada area kepala, dan lecet pada
area glutea, turgor kulit baik, suhu teraba hangat, tidak ada diaphoresis
- Kuku: (warna, lesi, bentuk, pengisian kapiler)
Belum dipotong, CRT<2detik

21. Hasil Pemeriksaan Penunjang (Laboratorium, USG, Rontgen, MRI)


Terlampir.

22. Terapi (Medis, Rehabmedik,nutrisi)


- IV : ampicilin3x300
- IV : antrain3x150
- IV : Ranit2x10
- IVFD : C 1 :4 1000cc/24 jam
23. Perencanaan Pulang
a. Tujuan pulang: Rumah
b. Transportasi pulang: Kendaraanpribadi
c. Dukungan keluarga: Orangtua
d. Antisipasi bantuan biaya setelah pulang:Umum
e. Antisipasi masalah perawatan diri setalah pulang: ASI, kontrolteratur
f. Pengobatan:-
g. Rawat jalan ke: polianak
h. Hal-hal yang perlu diperhatikan di rumah: ASI, kontrolteratur
i. Keterangan lain: Tidak ada

31
B. Analisis Data

DATA FOKUS

Data subjektif Data objektif


1. Ibu klien mengatakan anaknya sulit 1. Bb klien 10 kg
makan 2. Status gizi kurang ( BBI 10,2 kg)
2. Ibu klien mengatakan anaknya hanya 3. Nampak cairan putih agak keruh
mau minum asi saja kekuningan yang keluar dari sela
3. Ibu klien mengatakan badan anaknya sela hekting insisi post PSA bulan lalu
teraba hangat sejak tadi siang 4. Nadi : 112 x/mnt,SB : 37,5 C
4. Klien terkadang mengeluh sakit pada 5. Skala nyeri 3
anus 6. Klien tampak rewel
7. peristaltik usus 16 x /mnt
8. konistenensi feses encer
9. tampak terpasang stoma pada
abdomen

32
II. ANALISA DATA
Data Etiologi Masalah Keperawatan
DS : Atresia ani Ketidakseimbangan nurisi kurang
- ibu klien mengatakan dari kebutuhan tubuh
anaknya sulit makan Tindakan sigmoidostomy
- Ibu klien mengatakan
anaknya hanya mau
minum asi saja Trauma jaringan usus

DO :
Gangguan penyerapan
- BB 10 kg
makanan di usus
- Status gizi kurang (BBI
ketikmampuan mencerna
10,2 kg)
makanan
- peristaltik usus 16 x /mnt
- konsistensi feses encer
Asupan nutrisi kurang

DS :

- Ibu klien mengatakan


badan anaknya teraba
hangat sejak tadi siang
Resiko Infeksi
DO:
Atresia Ani
- Nampak cairan putih
agak keruh kekuningan Tindakan sigmoidostomy
yang keluar dari sela sela
hekting insisi post PSA
bulan lalu Perawatan inadekuat
- Nadi : 112 x/mnt,SB :
37,5 C
- tampak terpasang stoma
pada abdomen

33
DS : Atresia ani Nyeri Akut
-Klien terkadang mengeluh
Tindakan sigmoidostomy
sakit pada anus
DO :
Trauma pada jaringan

- Nadi : 112 x/mnt,SB :


37,5 C
- Skala nyeri 3
- Klien tampak rewel

III. PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Ketidak seimbangan nurisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d asupan nutrisi kurang

2. Resiko infeksi b/d tindakan inpasiv


3. Nyeri b/d proses pembedahan

34
C. Intervensi
1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d asupan nutrisi kurang
Tujuan : setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 x 24 jam makanan dan cairan yang masuk dalam tubuh ditingkatkan
NOC NIC
Status nutrisi : asupan makanan dan cairan (1008) Manajemen nutrisi (1100)
Yang dibuktikan oleh indikator sebagai berikut : 1. Tentukan status gizi pasien dan kemampuan
Skala outcome 1 2 3 4 5 untuk memenuhi kebutuhan gizi
Asupan makanan secara oral  2. Identifikasi adanya alergi atau intoleransi
Asupan cairan secara oral  makanan yang dimiliki pasien
Asupan cairan intravena 
3. Tentukan jumlah kalori dan jenis nutrisi yang
dibutuhkan untuk memenuhi persyaratan gizi
Keterangan penilaian :
1 = tidak adekuat 4. Atur diet yang diperlukan
2 = sedikit adekuat 5. Pastikan makanan yang disajikan dengan cara
3 = cukup adekuat menarik dan pada suhu yang cocok
4 = sebagian besar adekuat 6. Monitor kecenderungan terjadinya penurunan
5 = sepnuhnya kuat dan kenaikan berat badan

35
2. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasive
Tujuan : setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam tidak tampak tanda tanda infeksi pada area insisi

NOC NIC

Pemulihan pembedahan : penyembuhan (2304) Kontrol infeksi (6540)


Yang dibuktikan oleh indicator sebahgai berikut : 1. Tempatkan isolasi sesuai tindakan pencegahan yang
Skala outcome 1 2 3 4 5 sesuai
2. Lakukan tindakan- tindakan pencegahan yang bersifat
Eliminasi usus 
universal
Keseimbangan elektrolit  3. Gosok kulit pasien dengan agen anti bakteri yang sesuai
4. Jaga lingkungan aseptic
Integritas jaringan  5. Pastikan penanganan aseptic
Penyembuhan luka  6. Pastikan teknik perawatan luka yang tepat
7. Kolaborasi dengan dokter terapi anti biotik yang sesuai

Keterangan Penilaian :
1 = Deviasi Berat Dari Kisaran Normal
2 = Deviasi Yang Cukup Besar Dari Kisaran Normal
3 = Deviasi Sedang Dari Kisaran Normal
4 = Deviasi Ringan Dari Kisaran Normal
5 = Tidak Ada Deviasi Dari Kisaran Normal

36
3. Nyeri akut b/d proses pembedahan/ agen cedera fisik
Tujuan : setelah mendapat perawatan selama 3 x 24 jam nyeri klien terkontrol

NOC NIC
Status kenyamanan fisik 2010 Manajemen nyeri 1400
Definisi : kenyamanan fisik yang berkaitan dengan sensasi Definisi : pengurangan atau reduksi nyeri sampai pada
tubuh dan mekanisme homeostatis tingkat kenyamanan yang dapat diterima oleh pasien
Dengan skala outcome : 1. Observasi adanya petunjuk non verbal mengenai
Skala outcome 1 2 3 4 5 ketidaknyamanan terutama pada mereka yang tidak
Posisi yang nyaman √ dapat berkomunikasi secara efektif
Baju yang nyaman √ 2. Gunakan metode penilaian sesuai dengan tahapan
Intake makanan √
perkembangan yang memungkinkan untuk
Intake cairan √
memonitor perubahan dari dan akan dapat
Keterangan :
1. sangat terganggu membantu mengidentifikasi factor pencetus actual
2. banyak terganggu dan potensial (misalanya : catatan perkembangan,
3. cukup terganggu catatan harian)
4. sedikit terganggu 3. Kurangi atau eliminasi factor – factor yang dapat
5. tidak terganggu mencetus atau meningkatkan nyeri misalnya
(ketakutan, kelelahan)
4. Pilih dan implementasikan tindakan yang beragam
(misalnya farmakologi, nonfarmakologi, interpersonal)
untuk memfasilitasi peurunan nyeri sesuai dengan
kebutuhan
5. Informasikan tim kesehatan lain / anggota keluarga

37
mengenai strategi non farmakologi yang sedang di
gunakan untuk mendorong pendekatan preventif
terkait dengan menajemen nyeri

Manajemen obat 2380


Definisi : fasilitasi penggunaan dan efektifitas resep yang
aman serta penggunaan obat bebas
1. Monitor pasien mengenai efek terapeutik obat
2. Monitor efek samping obat
3. Kaji ulang pasien dan / keluarga secara berkala
mengenai jenis dan jumlah obat yang dikonsumsi
4. Kembangkan strategi bersama pasien/keluarga untuk
meningkatkan kepatuhan mengenai regimen obat
yang diresepkan
5. Konsultasi dengan professional erawatan lainnya
untuk meminimalkan jumlah dan frrkwensi obat yang
dibutuhkan agar didapatkan efek terapeutik
6. Berikan alternative mengenai jangka waktu dan cara
pengobatan mandiri untuk meminimalkan efek gaya
hidup

38
D. Implementasi

Hari/Tanggal Jam Diagnosis Implementasi Tanda


Keperawatan Tangan
25 12.00 Ketidakseimbangan Manajemen nutrisi (1100)
November WIB nutrisi kurang dari 1. Menentukan status gizi pasien dan kemampuan untuk
2018 kebutuhan memenuhi kebutuhan gizi,
Status gizi saat ini :
TB : 78 cm
BB : 10 Kg
Status gizi nomal :
BB : 14,2 Kg
TB : 96 cm
2. Mengidentifikasi adanya alergi atau intoleransi makanan
yang dimiliki pasien dengan keluarga hasil keluarga
mengatakan Pasien tidak memilikergi makanan.
3. Mentukan jumlah kalori dan jenis nutrisi yang dibutuhkan
untuk memenuhi persyaratan gizi
Kebutuhan Kalori usia 3 tahun = 1000 + (100 x 3) = 1300
setara dengan

a. 2 putih telur (kuning telur tidak saya makan) dan susu


skim. Total 200 kalori
b. Kacang . Total 100 kalori.
c. 4 sendok nasi merah, dada ayam bakar, cah brokoli,
pepes tahu, dan buah jeruk. Total 700 kalori.

39
d. 2 putih telur. Karena 1 putih telur mengandung 100
kalori, total 200 kalori.
e. Wortel : 100 kalori
4. Mengatur diet yang diperlukan
Hasil diit yang diperlukan untuk pasien yaitu Diit TKTP.
5. Memastikan makanan yang disajikan dengan cara
menarik dan pada suhu yang cocok
Menyediakan makanan hangat, bukan panas untuk
disajikan untuk anak.
6. Memonitor kecenderungan terjadinya penurunan
dankenaikan berat badan
BB saat ini yaitu10 Kg, setelah ditimbang BB tetap 10 Kg,
tidak ada penurunan dan kenaikan berat badan

25 12.00 Risiko infeksi Kontrol infeksi (6540)


nopember WIB 1. Menempatkan isolasi sesuai tindakan pencegahan yang
2018 sesuai
2. Melakukan tindakan- tindakan pencegahan yang bersifat
universal
3. Menggosok kulit pasien dengan agen anti bakteri yang
sesuai
4. Menjaga lingkungan aseptic
5. Memastikan penanganan aseptic
6. Memastikan teknik perawatan luka yang tepat
7. Kolaborasi dengan dokter terapi anti biotik yang sesuai

40
25 12.00 Nyeri akut Manajemen nyeri
nopember WIB 1. mengobservasi adanya petunjuk non verbal mengenai
2018 ketidaknyamanan terutama pada mereka yang tidak dapat
berkomunikasi secara efektif
2. melakukan penilaian dan monitoring rasa nyeri skala awal 3
saat ini 1
3. mengurangi factor pencetus nyeri dengan bercerita untuk
menghilangkan ketakutan
4. melakukan terapi non farmakologis untuk menghilangkan
nyeri dengan masase halus dan lembut sekitar area luka
operasi ---- skala nyeri sebelum 3 saat ini menjadi 1
5. melaukan komunikasi dan edukasi kepada pasien dan
kelaurga pasien tentang penanganan nyeri non farmakologis
seperti kompres hangat kering sekitar luka operasi ataukah
masase lembut dan ringan pada daerah sekitar operasi
manajemen obat
1. melakukan Monitoring pasien mengenai efek terapeutik
obat : pasien tidak kesakitan
2. melakukan Monitor efek samping obat tidak terdapat mual,
muntah, alergi
3. melakukan pengkajian kepada keluarga pasien mengenai
jenis obat dan jumlah obat yang di onsumsi. Keluarga
mampu memahami cara pemakaian dan nama obat yang di
konsumsi oleh anak mereka.
4. Berdiskusi dengan kelaurga pasien tentang perawatan
kolostomi dan jadwal pengontrolan
5. Melakukan kolaborasi engan dokter dan ahli farmasi

41
mengenai jumlah obat yang diberikan serta dosis sesuai
dengan berat badan.
6. Melakukan kontrak waktu dengan pkeluarga pasien tentang
penggantian kolostomi dan perawatan sendiri di rumah

42
E. Evaluasi

Tanggal / Jam Diagnosis Keperawatan Evaluasi


Ketidakseimbangan S : Ibu mengatakan bab tidak terlalu encer, warna kuning.
Nutrisi kurang dari Ibu mengatakan anak habis 2 sendok makan untuk makanan yang diberikan di
Kebutuhan Tubuh rumah sakit
O:
Indikator Skor Hasil Skor Target Skor Pengkajian
Asupan makanan secara oral 3 4 2
Asupan cairan secara oral 3 4 2
Asupan cairan intravena 3 4 3
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
Resiko infeksi S :-
O:
Indikator Skor hasil Skor target Skor pengkajian

Eliminasi usus 5 5 3

Keseimbangan elektrolit 5 5 3

Integritas jaringan 5 5 3

Penyembuhan luka 5 5 3

A : Masalah teratasi
P: Lanjutkan intervensi

43
Nyeri akut S: -
O:
Indikator Skor Hasil Skor Target Skor Pengkajian
Posisi yang nyaman 4 4 1
Baju yang nyaman 4 4 2
Intake makanan 4 4 2
Intake cairan 4 4 2
A : masalah nyeri akut teratasi sebagaian
P : Intervensi dilanjutkan

44
BAB IV
KESIMPULAN

A. Kesimpulan
Atresia ani Merupakan defek kongenital dimana lubang anus hilang atau
tersumbat.Anus merupakan lubang menuju rektum dimana kotoran meninggalkan
tubuh yang mana penyebabnya masih belum diketahui secara pasti . salah satu
tanda yang dapat dicurigai ketika seorang anak menderita atresia ani yaitu tidak
keluarnya meconium 24 jam pertama saat bayi baru lahir.
Penatalaksanaan pada atresia nai tergantung klasifikasinya . Untuk atresia
ani yang lebih tinggi perlu adanya tindakan kolostomi terlebih dahulu kemudian
dilanjutkan tindakan PSARP. Keberhasilan penatalaksanaan atresia ani dinilai dari
fungsinya secara jangka panjang, meliputi anatomisnya, fungsi fisiologisnya, bentuk
kosmetik serta antisipasi trauma psikis. Untuk menangani secara tepat, harus
ditentukankan ketinggian akhiran rektum yang dapat ditentukan dengan berbagai
cara antara lain dengan pemeriksaan fisik, radiologis dan USG. Komplikasi yang
terjadi pasca operasi banyak disebabkan oleh karena kegagalan menentukan letak
kolostomi, persiapan operasi yang tidak adekuat, keterbatasan pengetahuan
anatomi, serta ketrampilan operator yang kurang serta perawatan post operasi
yang buruk. Dari berbagai klasifikasi penatalaksanaannya berbeda tergantung pada
letak ketinggian akhiran rektum dan ada tidaknya fistula.
Ada beberapa komplilkasi yang kemungkinan dapat terjadi pada pasien post
kolostomi salah satunya yang terjadi pada An H yaitu prolaps pada stoma yang dpat terjadi
dikarenakan beberapa hal yaitu seperti peristaltik usus meningkat, fixasi usus tidak
sempurna, mesocolon yang panjang, tekanan intra abdominal tinggi, dinding abdomen tipis
dan tonusnya yang lemah serta kemungkinan omentum yang pendek dan tipis. Untuk itu
prntingnya pendidikan kesehatan kepada pasien dan keluarga pasien dengan stoma untuk
mencegah komplikasi yang terjadi.

45
DAFTAR PUSTAKA

Bulechek Gloria M dkk , 2013 . Nursing Outcomes Classifications Edisi Kelima . United Kingdom .
Elsevier Global Rights

Herdman T Heather. 2015. Nanda International Inc. Diagnosis Keperawatan : Definisi dan
klasifikasi 2015-2017 . Jakarta . EGC

Manjoer , Arief dkk . 2008 . Kapita Selecta Kedokteran. Jakarta . Media Aesculapius

Moorhead Sue dkk , 2013 . Nursing Outcomes Classifications Edisi Kelima . United Kingdom .
Elsevier

Suriadi , 2008 . Asuhan Keperawatan Pada anak , Jakarta , fajar Interpratama

De Jong, Sjamsuhidajat. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC

Zainul Arifin , 2011 , Gambaran jenis Atresia Ani pada pada penderita atresia ani di RSUP H.
Adam Malik Medan tahun 2008 – 2010 , Medan . USU Repository

Yuliansyah Jeri ,2012 , Hubungan tingkat pengetahuan orang tua dalam perawatan kolostomi
pada anak dengan komplikasi kolostomi , Medan . USU Repository

46