Anda di halaman 1dari 9

Laporan Praktikum Kimia Dasar II

Kesetimbangan Kimia

I. Judul Percobaan : Kesetimbangan Kimia


II. Hari/ Tanggal percobaan dimulai : Selasa, 13 Maret 2018

Pukul 13:00 WIB

III. Hari/ Tanggal percobaan selesai : Selasa, 13 Maret 2018

Pukul 15:30 WIB

IV. Tujuan Percobaan :


Mempelajari kesetimbangan ion-ion dalam larutan.
V. Tinjauan Pustaka
Pada umumnya reaksi kimia adalah reaksi kesetimbangan dimana
perubahan energi bebasnya adalah nol, AG=0. Reaksi kesetimbangan sifatnya
mikroskopik konstan (pada sistem tertutup) pada tekanan dan temperatur
tertentu.
Keadaan kesetimbangan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor
sehingga terjadi pergeseran baik kearah reaktan maupun kearah hasil reaksi.
Faktor-faktor itu diantaranya perubahan temperatur, tekanan atau volume dan
konsentrasi.
Banyak reaksi tidak berlangsung hingga selesai tapi mendekati suatu
keadaan, dimana produk dan reaktan yang tidak terpakai kedua-duanya
terdapat dalam jumlah yang relatif tertentu banyaknya. Begitu kesetimbangan
digambarkan secara kuantitatif melalui tetapan kesetimbangan digambarkan
secara kuantitatif melalui tetapan kesetimbangan reaksi yang tergantung pada
suhu dimana reaksi berlangsung (Oxtoby, 2011).
Peristiwa adsorpsi merupakan suatu fenomena permukaan, yaitu
terjadinya perubahan konsentrasi komponen tertentu pada permukaan, antara
dua fase. Adsorpsi dapat dibedakan menjadi adsorpsi fisis (physical
adsorption) dan adsorpsi kimia (chemical adsorption). Secara umum adsorpsi
fisis mempunyai gaya itermolekular yang relatif lemah, sedangkan pada
adsorpsi kimia terjadi pembentukan ikatan kimia antara molekul adsorbat
dengan molekul yang terikat pada permukaan adsorben. Pertukaran ion adalah
suatu fenomena atau suatu proses yang melibatkan pertukaran dapat balik
antara ion-ion dalam larutan dengan ion yang terikat dalam bahan penukar ion.

1
Laporan Praktikum Kimia Dasar II
Kesetimbangan Kimia

Pada proses itu, tidak ada perubahan secara permanen dalam struktur padatan.
Mekanisme pertukaran ini didasarkan pada sifat sorptif dari tempat yang
bermuatan negatif dalam adsorben terhadap ion bermuatan positif yang terjadi
karena interaksi gaya Coulumb. Pertukaran ion dapat dikategorikan juga
sebagai proses soption seperti hanya adsorpsi, yaitu sejumlah tertentu bahan
tersebut (solute) di fase fluida secara selektif tertransfer ke dalam suatu partikel
yang tak larut. Pertukaran ion kadang disebut juga Counterion adsorption.
(Zainab dkk. 2016).
Kesetimbangan kimia adalah proses dinamis ketika reaksi ke depan
dan reaksi balik terjadi pada laju yang sama tetapi pada arah yang berlawanan.
Konsentrasi pada setiap zat tinggal tetap pada suhu konstan. Banyak reaksi
kimia tidak sampai berakhir, dan mencapai suatu titik ketika konsentrasi zat-
zat bereaksi dan prosuk tidak lagi berubah dengan berubahnya waktu. Molekul-
molekul tetap berubah dari pereaksi menjadi prosuk dan dari produk menjadi
pereaksi, tetapi tanpa perubahan netto konsentrasinya (Stephen, 2002:96).
Kebanyakan reaksi kimia berlangsung secara reversible (dua arah).
Ketika reaksi itu baru mulai. Proses reversible hanya berlangsung kearah
pembentukan prosuk, namun ketika molekul prosuk telah terbentuk maka
proses sebaiknya yaitu pembentukan molekul reaktan dari molekul produk
mulai berjalan. Kesetimbangan kimia tercapai bila kecepatan reaksi ke kiri
(pembentukan molekul reaktan) dan konsentrasi reaktan maupun konsentrasi
prosuk tidak berubah-ubah lagi (konstan) (Purwoko, 2006:169).
Keadaan kesetimbangan kimia adalah suatu keadaan dimana
konsentrasi seluruh zat tidak lagi mengalami perubahan, sebab zat-zat diruas
kanan terbentuk dan terurai kembali dengan kecepatan yang sama. Keadaan
kesetimbangan ini bersifat dinamis, artinya reaksi berlangsung dalam dua arah
dengan kecepatan yang sama. Pada keadaan kesetimbangan tidak mengalami
perubahan secara mikrokopis (perubahan dapat diamati atau diukur)
kesetimbangan kimia dibedakan atas kesetimbangan homogen dan
kesetimbangan heterogen. Pada kesetimbangan homogen semua zat yang ada
dalam kesetimbangan memiliki fase yang sama ada dalam bentuk gas, larutan.
Sedangkan kesetimbangan heterogen semua zat-zat yang ada dalam sistem

2
Laporan Praktikum Kimia Dasar II
Kesetimbangan Kimia

kesetimbangan heterogen semua zat-zat yang ada dalam sistem kesetimbangan


memiliki fase yang berbeda dalam bentuk padat-gas, padat-larutan.
Pada reaksi yang berlangsung bolak-balik, ada saat dimana laju
terbentuknya produk sama dengan laju terurainya kembali produk menjadi
reaktan. Pada keadaan ini, biasanya tidak terlihat lagi ada perubahan. Keadaan
reaksi dengan laju reaksi maju (kekanan) sama dengan laju reaksi baliknya (ke
kiri) dinamankan keadaan setimbang disebut sistem kesetimbangan. Perhatikan
reaksi berikut:

CuSO4 + 5H2O → CuSO4 + 5H2O

Laju reaksi ke kanan = laju reaksi ke kiri

Ciri-ciri kesetimbangan kimia:

 Hanya terjadi dalam wadah tertutup, pada suhu dan tekanan tetap.
 Reaksinya berlangsung terus menerus (dinamis) dalam dua arah yang
berlawanan.
 Laju reaksi maju (kekanan) sama dengan laju reaksi balik (kekiri).
 Semua komponen yang terlibat dalam reaksi tetap ada.
 Tidak terjadi perubahan yang sifatnya dapat diukur maupun diamati.

Kesetimbangan kimia bersifat dinamis

Reaksi yang berlangsung setimbang bersifat dinamis, artinya reaksi


berlangsung terus-menerus dalam dua arah yang berlawanan dan dengan laju
reaksi yang sama. Contoh kesetimbangan dinamis dalam kehidupan sehari-hari
dapat digambarkan pada proses penguapan air. Bila air dipanaskan dalam
wadah tertutup rapat, airnya lama-kelamaan akan habis berubah menjadi uap
air, tetapi belum sempat habis, uap air yang naik keatas mengalami kejenuhan
sehingga akan jatuh kembali menjadi embun. Apabila dibiarkan terus-menerus,
kecepatan menguapnya air akan sama dengan kecepatan mengembunnya uap
air menjadi air. Pada saat itu, tercapai keadaan setimbang dapat mengalami
gangguan oleh faktor-faktor tertentu yang mengakibatkan terjadi pergeseran
kesetimbangan.

3
Laporan Praktikum Kimia Dasar II
Kesetimbangan Kimia

Pergeseran kesetimbangan

Suatu sistem dalam keadaan setimbang cenderung mempertahankan


kesetimbangannya, sehingga bila ada pengaruh dari luar maka sistem tersebut
akan berubah sedemikian rupa agar segera diperoleh keadaan kesetimbangan
lagi.

Seorang kimiawan berkebangsaan Perancis, Henri Le Chatelir,


menemukan bahwa jika reaksi kimia yang setimbang menerima perubahan
keadaan (menerima aksi dari luar), reaksi terebut akan menuju pada
kesetimbangan baru dengan suatu pergeseran tertentu untuk mengatasi
perubahan yang diterima (melakukan reaksi sebagai respon terhadap
perubahan yang diterima). Hal ini disebut prinsip Le Chatelier.

Ada tiga faktor yang dapat mengubah kesetimbangan kimia, antara lain:

1. Pengaruh perubahan konsentrasi terhadap kesetimbangan


Perhatikan reaksi pembentukan gas amonia berikut:
N2(g) + 3H2(g) → 2NH3 H= -92 KJ
Aksi yang diberikan Arah pergeseran
N2 ditambah Ke kanan (produk bertambah)
N2 dikurangi Ke kiri (produk berubah menjadi reaktan
H2 ditambah Ke kanan (produk bertambah)
H2 dikurangi Ke kiri (produk berubah menjadi reaktan)
NH3 ditambah Ke kiri (produk berubah menjadi reaktan)
NH3 dikurangi Ke kanan (produk bertambah)
Jika konsentrasi salah satu zat ditambah, maka sistem akan
bergeser dari arah zat tersebut.
Jika konsentrasi salah satu zat dikurangi, maka sistem akan
bergeser ke arah zat tersebut.
2. Pengaruh perubahan suhu terhadap kesetimbangan
Secara kualitatif pengaruh suhu dalam keadaan kesetimbangan
kimia terkait langsung dengan jenis reaksi eksoterm atau reaksi
endoterm. Reaksi eksothermis adalah reaksi bersifat spontan, tidak
memerlukan energi melainkan suatu menghasilkan energi atau kalor

4
Laporan Praktikum Kimia Dasar II
Kesetimbangan Kimia

untuk bisa bereaksi (H positif). Sistem kesetimbangan yang bersifat


eksotermis ke arah kanan dan endothermis ke arah kiri.
Jika suhu dinaikkan, maka reaksi akan bergeser kekiri yaitu
reaksi yang bersifat endhothermis. Sebaliknya bila suhu reaksi
diturunkan maka reaksi yang akan bergeser ke kanan yaitu reaksi yang
bersifat eksothermis. Menaikkan suhu, sama artinya kita meningkatkan
kalor atau menambah energi ke dalam sistem, kondisi ini memaksa
kalor yang diterima sistem akan dipergunaan, oleh sebab itu reaksi
semakin bergerak menuju arah reaksi endoterm. Begitu juga
sebaliknya.
3. Pengaruh perubahan tekanan atau volume terhadap kesetimbangan
Pada proses Haber reaksi terjadi dalam ruangan tertutup dan
semua spesi adalah gas. Sehingga perubahan tekanan dan volume harga
berpengaruh pada sistem kesetimbangan antara fase gas dengan gas.
Sedang sistem kesetimbangan yang melibatkan fase cair atau padat,
perubahan tekanan dan volume dianggap tidak ada.
Menurut hukum gas ideal, bahwa tekanan berbanding lurus
dengan jumlah mol gas dan berbanding terbalik dengan volum. Jika
tekanan diperbesar maka jumlah mol juga bertambah dan volume akan
mengecil makan kesetimbangan akan bergeser ke arah reaksi yang
jumah molnya lebih kecil. Begitu juga sebaliknya jika tekanan
diperkecil maka jumlah mol juga akan kecil, dan voume akan besar
maka kesetimbangan akan bergeser kearah reaksi yang jumlah molnya
lebih besar. Perhatikan reaksi berikut:
N2(g) + 3H2(g) → 2NH3(g) H=-92 KJ
Jika tekanan diperbesar (volume mengecil) maka
kesetimbangan akan bergeser ke arah kanan, sebab jumlah molnya
lebih kecil yaitu 2 mol.
Jika tekanan dikurangi (volume bertambah) maka
kesetimbangan akan bergeser ke kiri, karena jumlah molnya lebih besar
yaitu 4 mol.

5
Laporan Praktikum Kimia Dasar II
Kesetimbangan Kimia

Dengan meningkatkan tekanan akan mengurangi volume


ruangan pada campuran yang setimbang menyebabkan reaksinya
bergeser ke sisi yang mengandung jumlah molekul gas yang paling
banyak. Sementara untuk reaksinya yang tidak mengalami perubahan
jumlah molekul gas (mol reaktan = mol produk), faktor tekanan dan
volume tidak mempengaruhi kesetimbangan kimia.

Katalisator

Untuk mempercepat proses kesetimbangan kimia, sering


dipergunakan zat tambahan lain yatu katalisator. Dalam sistem kesetimbangan,
katalisator tidak mempengaruhi letak kesetimbangan, katalisator hanya
berperan mempercepat reaksi yang berlangsung, mempercepat terjadinya
keadaan setimbang, pada akhir reaksi katalisator akan terbentuk kembali.
Katalis tidak dapat menggeer kesetimbangan kimia. Perhatikan reaksi dibawah
ini:

N2(g) + 3H2(g) → 2NH3(g)

Adakah pengaruh jika suatu reaksi yang sudah dalam keadaan


setimbang ditambahkan katalis kedalamnya. Katalis akan mempercepat laju
pembentukan NH3, tetapi juga akan sekaligus mempercepat laju penguraian
menjadi gas N2 dan gas H2. Pengaruh ini sama kuatnya. Katalisator dalam dunia
industri umumnya logam, namun dalam makhluk hidup katalisator didapat dari
dalam tubuhnya yang dikenal dengan biokatalisator atau enzim.

VI. Alat dan Bahan


 Alat
1. Tabung Reaksi 4 buah
2. Pipet tetes 5 buah
3. Gelas kimia 50 ml 4 buah
4. Pipet ukur 5 ml 1 buah
 Bahan
1. FeCl3 0,1 M 5 tetes
2. K2CrO7 0,1 M 1 ml

6
Laporan Praktikum Kimia Dasar II
Kesetimbangan Kimia

3. NH4OH 0,5 M 2 ml
4. NaH2PO4 1 butir kecil
5. KSCN 0,002 M dan 1 M 5 ml dan 3 tetes
6. NaOH 0,5 M secukupnya
7. NaNO3 0,1 M 1 ml
8. Pb(NO3)2 0,2 M 2 ml
9. NH4Cl 0,5 M 1 ml
10. H2SO4 pekat dan 2 M 1 ml dan 5 tetes
11. MgCl2 0,2 M 2 ml
12. FeSO4 jenuh 5 tetes
13. Etanol secukupnya
14. HCl 0,5 ml secukupnya
VII. Cara Keja :
1. Kesetimbangan Besi (III) Tiosinat (Rodanida)

5 ml KSCN 0,002 M

 Dimasukkan kedalam gelas kimia


 Ditambahkan 2 tetes FeCl3 0,1 M
 Dikocok sampai merata

Tabung 1 Tabung 2 Tabung 3 Tabung 4

 Disimpan sbg. −ditambahkan −ditambahkan −ditambahkan


pembanding 3 tetes KSCN 1 M 3 tetes FeCl3 0,1 M 1 butir kecil
Larutan Fe(SCN)3 Larutan berwarna Larutan berwarna NaH2PO4
Berwarna jingga merah tua jingga Endapan Fe(PO4)
Berwarna putih
kekuningan

7
Laporan Praktikum Kimia Dasar II
Kesetimbangan Kimia

2. Kesetimbangan natrium dikromat

1 ml K2CrO7 0,1 M 1 ml K2CrO7 0,1 M

 Dimasukkan ke dalam tabung −dimasukkan ke dalam tabung


reaksi 1 reaksi 2
 Disimpan sebagai pembanding −ditambahkan tetes demi tetes
NaOH 0,5 M sampai terjadi
perubahan (hitung jumlah tetesan)

Kuning (Na2CrO7)
−ditambahkan tetesan HCl 0,5 M
sejumlah tetesan NaOH
Dibandingkan Merah Jingga (Na2Cr2O7)

3. 1 ml larutan MgCl2 0,2 M 1 ml larutan MgCl2 0,2 M

 Ditambahkan 1 ml −Ditambahkan 1 ml
NH4OH 0,5 M NH4OH 0,5 M
Endapan putih Mg(OH)3 −Ditambahkan 1 ml
NH4Cl
Dibandingkan Endapan larut

4. 1 ml larutan NaNO3

 Ditambahkan 5 tetes H2SO4


 Ditambahkan 5 tetes FeSO4 jenuh
 Diteteskan melalui dinding tabung 1 ml H2SO4 pekat
Cincin coklat [Fe(NO)]2+

8
Laporan Praktikum Kimia Dasar II
Kesetimbangan Kimia

5. 2 ml Pb(NO3)2 0,5 M

 Dimasukkan kedalam tabung reaksi


 Ditambahkan 5 tetes H2SO4 0,1 M
 Ditambahkan 5 tetes etanol sampai terbentuk endapan
Endapan PbSO4
 Dipanaskan endapan sampai larut kembali
 Dibiarkan sampai dingin
Endapan putih PbSO4

Anda mungkin juga menyukai