Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTEK LAPANG

GEOGRAFI SOSIAL

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 2
DAHYAR NUGRAHA (1615142009)
MUSFIRAH (1615140008)
REZKY NUR FAJRIALITA (1615141002)
SRI IRMA LESTARI (1615142008)
SURIANTI (1615142011)

PROGRAM STUDI GEOGRAFI


JURUSAN GEOGRAFI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan
kesehatan, hikmat, dan kemudahan untuk menyelesaikan “Laporan Geografi Sosial”
ini tepat pada waktunya.
Hal yang paling mendasar yang mendorong penulis membuat laporan ini ialah
dikarenakan tugas dari mata kuliah Geografi Sosial untuk menambah wawasan serta
memperdalam pemahaman kami mengenai dampak sosial dengan adanya pabrik gula
dan pantai topejawa di Kabupaten Takalar.
Semoga laporan yang sederhana ini, dapat memberi manfaat tersendiri bagi
penulis dan para pembaca sekalian. Bila ada kekurangan dalam penyusunan laporan
ini, penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Makassar, November 2018

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Secara sederhana, geografi sosial adalah studi dan analisa geografi yang
meliputi analisa gejala manusia dengan gejala alam dan meliputi analisa
penyebarannya, interelasinya, interaksinya dalam satu ruang kajian. Beberapa contoh
kajian geografi dalam ruang lingkup geografi sosial antara lain seperti pola
pemukiman masyarakat di pinggir sungai, kepadatan penduduk di suatu wilayah
berdasarkan tinggi dari permukaan laut.

Kajian dalam geografi sosial dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan


hidup manusia di bidang sosial, politik, ekonomi dan budaya. Yang tidak kalah
penting adalah sebagai sarana mengelola sumber daya dan lingkungan. Hal ini dapat
mendorong kegiatan manusia yang lebih produktif seperti di bidang pertanian,
pemukiman, industri, kependudukan, transportasi, pariwisata, lingkungan, energi, dll.

Kabupaten Takalar adalah sebuah kabupaten di provinsi Sulawesi Selatan,


Indonesia. Ibu kotanya terletak di Pattallassang. Kab. Takalar terdiri dari sembilan
kecamatan, yaitu Pattallassang, Polonmbangkeng Selatan, Polombangkeng Utara,
Galesong, Galesong Selatan, Galesong Utara, Sanrobone, Mappakasunggu dan
Manggarabombang. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 566,51 km² dan
berpenduduk sebanyak ± 250.000 jiwa.

Dalam perjalanan praktek lapang kali ini daerah yang dikunjungi ada 2 yaitu
pabrik gula yang terletak di Desa Massamaturu Kecamatan Polongbangkeng Utara
dan pantai Topejawa.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian geografi sosial ?
2. Bagaimana dampak sosial yang ditimbulkan dengan adanya pabrik gula di
Kabupaten Takalar ?
3. Bagaimana dampak sosial yang ditimbulkan dengan adanya pantai topejawa di
Kabupaten Takalar ?

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui definisi geografi sosial


2. Untuk mengetahui dampak sosial yang ditimbulkan dengan adanya pabrik gula
di Kabupaten Takalar
3. Untuk mengetahui dampak sosial yang ditimbulkan dengan adanya pantai
topejawa di Kabupaten Takalar
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi geografi sosial


Geografi Sosial adalah ilmu yang mempelajari tentang interaksi antara
manusia dengan lingkungan sosialnya yakni manusia lain atau kelompok manusia
yang berada disekelilingnya. Maksudnya, manusia yang dalam memenuhi kebutuhan
hidupnya, baik itu kebutuhan primer maupun kebutuhan sekunder pasti akan
memanfaatkan lingkungan yang ada di sekitarnya.
Geografi sosial erat kaitannya dengan geografi manusia yang diajarkan di
Mazhab Prancis pada awal abad ke-20. Paul Vidal De Lablace menekankan
pentingnya hubungan manusia dengan alam. Menurut Paul Vidal De Lablace ciri-ciri
geografi sosial itu adalah:
1. Kepribadian daerah itu merupakan hasil cara masyarakat mengeksploitasi sumber
daya alam.
2. Masyarakat bereaksi terhadap habitatnya.
3. Manusia mengorganisasi dirinya sendiri dan berinteraksi dengan sesamanya.
B. Dampak Limbah Industri Gula Terhadap Lingkungan
Perindustrian yang saat ini berkembang di pasaran ternyata memberikan
dampak negatif bagi masyarakat di sekitarnya. Dampak negatif tersebut ditimbulkan
oleh berbagai macam jenis pencemar yang ada. Pencemar-pencemar tesebut terbagi
menjadi beberapa pokok bahasan seperti pencemar dalam bentuk asap atau gas,
dalam bentuk padatan dan dalam bentuk cairan.
Pencemar dalam bentuk asap dan debu merugikan masyarakat dalam segi
kesehatan, baik itu bagi kesehatan paru-paru dan sistem pernafasan serta bagi indera
yang lain seperti kulit, mata dan lain sebagainya.
Menurut Ken Yeang di dalam makalah Totol Noerwasito, pencemar dalam
bentuk padatan dibagi menjadi dua yaitu abu tebu dan blotong. Abu tebu merugikan
masyarakat dalam segi pertanian. Hal ini dapat dilihat dari keberadaan abu tebu yang
menurunkan tingkat kesuburan tanah. Sedangkan menurut Herlina Fitrihidajati Hadi,
blotong adalah limbah padat hasil dari proses produksi pembuatan gula. Blotong ini
cenderung dihasilkan cukup besar dalam setiap produksi pembuatan gula. Sehingga
terjadi penumpukan di mana-mana. Penumpukan blotong pada lahan-lahan kosong
berpotensi menjadi sumber pencemaran karena dapat ikut aliran air hujan yang masuk
ke sungai di sekitar pabrik. Pencemaran air sungai dapat berupa bau yang menusuk
dan pengurangan oksigen dalam air, sedang blotong yang ditumpuk dalam keadaan
basah dapat menimbulkan bau yang menusuk dan sangat mengganggu masyarakat
sekitar.
Dalam bentuk cairan, limbah industri ini berbahaya karena merusak ekosistem
air. Untuk itu perlu diadakan nya pemanfaatan daripada limbah cair itu sendiri untuk
mengurangi dampak yang dirasakan oleh mayarakat.
 Proses Pembuatan Alkohol, Proses pembuatan alkohol secara industri
tergantung bakunya. Bahan yang mengandung gula biasanya tidak atau
sedikit saja memerlukan pengolahan pendahuluan. Tetapi bahan-bahan
yang mengandung pati atau seluloda harus dihidrolisa terlebih dahulu
menjadi gula yang dapat menjadi gula yang dapat difermentasikan. Pada
prinsipnya reaksi dalam proses pembuatan alcohol dengan fermentasi
adalah sebagai berikut : C2H5OH + CO2 C6H12OH.
 Proses fermentasi dari tetes yang meliputi sederhana banyak dikerjakan
secara industri. Pada pokoknya, proses ini meliputi pengenceran tetes,
pengembangbiakan (peragian) ragi, fermentasi dan distilasi. Tiap ton
produksi mengahasilkan lebih kurang 190 liter molase. Rata-rata molase
mengandung 50 – 55% gula yang dapat difermentasi (terutama sakhrosa
(70%), glukosa dan fluktosa (30%)). Tipa ton molase dapat menghasilakan
280 liter alkohol.
 Pada prinsipnya pembuatan alcohol dengan tetes terbagi dalam tahap–tahap
proses sebagai berikut :
1. Pengolahan Tetes
Pengolahan tetes merupakan hal yang penting dalam pembuatan
alcohol. Pengolahan ini dimaksudkan untuk mendapatkan kondisi
yangoptimumkan untuk pertumbuhan ragi dan untuk selanjutnya. Yang perlu
disesuaikan dalam pengolahan ini adalah pH, konsentrasi gula dan pemakaian
nutrisi. Tetes yan dihadapkan dari pabrik gula biasanya masih terlalu paket
(850 Brix), oleh karena itu perlu diadakan pengenceran lebih dahulu untuk
mendapatkan kadar gula yang optimum (120 Brix untuk pembibitan dan 240
Brix pada fermentasi). Pengaturan pH diatur dengan penambahan asam sulfat
hingga dicapai pH 4 – 5. Meskipun tetes cukup mengandung zat sumber
nitrogen namun seperti ammonium sulfat atau ammonium fosfat.
2. Sterilisasikan tetes
Untuk mencegah adanya mikroba kontamin hidup pembibitan maupun
selama fermentasi, tetes dipasteurisasikan dengan pemanasan memakai uap
pada suhu sekitar 750C, kemudian diingikan selama 1 jam sampai suhu 300C.
Tetes yang telah banyak sedikit sterisl ini siap dipaki untuk kebutuhan dalam
pembibitan atau fermentasikan.
3. Pengembangbiakan (Pembibitan) ragi
Proses ini dimaksudkan untuk memperbanyak sel – sel ragi supaya
sejumlah sel ragi banyak sebelum digunakan dalam fermentasi alcohol. Ragi
yang digunakan pada fermentasi alcohol sel ragi ini tidak dapat dilakukan
secara langsung, tetapi harus dilakukan secara bertahap dengan maksud untuk
adaptasi dengan lingkungan. Mula – mula dilakukan dalam jumlah kecil pada
skala laboratorium, kemudian dikembangkan lebih lanjut dalam tangki induk
pembibitan. Tangki-tangki tersebut dilengkapi dengan cooler dengan aerobic
dengan erasi udara. Tangkitangki tersebut dilengkapi dengan cooler dengan
maksud untuk pengaturan suhu 28 – 300 selama diinkubasi.
4. Fermentasi
Fermentasi dilakukan dalam tangki fermentasi. Tetes tebu yang pHnya
telah diatur (4,8), kemudian masuk ke tangki pembibitan dan fermentasi. Pada
tangki tersebut tetes tebu diberi ragi yang mengandung bakteri (Sacharomyces
Cereviceae). Untuk terjadinya fermentasi alcohol, maka dibutuhkan kondisi
anaerob hingga diharapkan sel ragi dapat melakukan peragian yang akan
mengubah tetes yang mengandung gula menjadi alcohol.
Pada proses fermentasi diperlukan pendinginan untuk menjada temperature
tetap pada ± 300C selama proses fermentasi yang berlangsung selama 30 – 40
jam. Gas CO2 yang terjadi dalam tangki fermentasi ditampung menjadi satu
untuk kemudian direcovery. Alcohol yang ikut aliran gas CO2 dipisahkan
dengan jalan ditangkap oleh air yaitu adanya water scrubber yang diletakkan
diatas tangki. Pada akhir fermentasi, kadar alcohol berkisar antara 8 – 10%
volume. Hasil fermentasi ini dialirkan ke bak penampung, kemudian dipompa
ke bagian distilasi. Cairan hasil fermentasi disebut bir (“beer”).
Produk hasil fermentasi mengandung alkohol yang rendah, disebut bir
(beer) dan sebab itu perlu di naikkan konsentrasinya dengan jalan distilasi
bertingkat. Beer mengandung 8 – 10% alkohol. Maksud dan proses distilasi
adalah untuk memisahkan etanol dari campuran etanol air. Untuk larutan yang
terdiri dari komponen-komponen yang berbeda nyata suhu didihnya, distilasi
merupakan cara yang paling mudah dioperasikan dan juga merupakan cara
pemisahan yang secara thermal adalah efisien. Pada tekanan atmosfir, air
mendidih pada 1000C dan etanol mendidih pada sekitar 770C. perbedaan
dalam titik didih inilah yang memungkinkan pemisahan campuran etanol air.
C. Wisata Pantai Tope Jawa
Kabupaten Takalar memiliki potensi Ekowisata Bahari yang cukup menarik
bagi turis lokal maupun mancanegara. Panjang Garis Pantai di Kabupaten Takalar
sekitar 74 Km. Dari panjang garis pantai tersebut, terdapat 3 (tiga) Obyek wisata
Pesisir dikabupaten Takalar (Pantai Topejawa, Pantai Galumbaya dan Pantai
Ujungkassi) Permandian Alam Topejawa yang panjangnya sekitar 800 meter banyak
dikunjungi karena suasana berenang di laut yang menyenangkan, selain itu panorama
alamnya yang memukau. Selain itu ada juga Objek Wisata Terumbu Karang di
Kepulauan Tanakeke yang terdiri atas Pulau Tanakeke, Bauluang, Satanga, dan
Dayang-dayangan menyimpan perpaduan objek wisata alam yaitu agrowisata,
berburu/atraksi menangkap ikan, pantai dan penyelam (Anonim, 2010). Daerah Tope
Jawa merupakan salah satu kawasan wisata di Kabupaten Takalar dengan tipe pantai
berpasir, menampakkan adanya abrasi pada beberapa bagian bangunan pelindung dan
pada kantung-kantung pasir yang diletakkan di depan pantai.
BAB III
PEMBAHASAN

A. Pabrik Gula
Pabrik Gula (PG) Takalar PTPN XIV beroperasi di Polongbangkeng sejak
tahun 1982. Sebelumnya beropersi dengan nama PTP XXIV-XXV. PG Takalar PTPN
XIV adalah peralihan dari PT Madu baru, yaitu sebuah perusahaan
Hamengkubuwono yang sebelumnya telah berdiri dan membebaskan sebagian tanah
petani sejak tahun 1978. Namun pada tahun 1980 PT Madu Baru mundur dari
rencana pengolahan perkebunan tebu setelah terjerat kasus penyelewengan dana
pembebasan tanah , sehingga digantikan oleh PTPN XIV berdasarkan SK Bupati
Takalar tahun 1980.
Pabrik Gula Takalar yang belokasi di Pa’rappunganta, Kecamatan
Polongbangkeng Utara, adalah salah satu industri gula yang ada di Kabupaten
Takalar dan merupakan industri terbesar di daerah Sulawesi Selatan saat ini. Telah
membuka masa giling untuk mengolah hasil kebun yang dimilikinya. Seperti
biasanya seperti tahun-tahun sebelumnya bahwa proses ini selalu diawali dengan
beragam kegiatan dan juga bakti sosial terhadap warga sekitar pabrik.
Sebagai proyek pemerintah perusahaan ini tidak semata-mata mencari
keuntungan untuk Negara, tetapi juga mencipatakan kesejahteraan masyarakat di
sekitarnya. Sesudah tahun 1975 Pabrik Gula Takalar berhasil melibatkan petani
pemilik tanah sebagai petani tebu dengan memperkenalkan dan mengembangkan
sistem usaha Tebu Rakyat Intensivikasi (TRI), petani yang menggarap tanah dan
menanam tebu di tanah sendiri. Meskipun sangat lamban tetapi pada akhirnya pada
tahun 1991 Pabrik Gula Takalar berhasil memperoleh keuntungan Rp.
1.145.211.164,-. Pada tahun berikutnya meningkat hingga 28 persen, dan menjadi
salah satu unggulan pendapatan Pemeritah Daerah . Akan tetapi mengapa kini petani
terus bergolak menentang Pabrik Gula Takalar, kini meningkat lagi dengan menolak
bekerja sama dan memperpanjang kontraknya kepada perkebunan tebu Pabrik Gula
Takalar. Penelitian ini bertujuan untuk mengemukakan sejarah perkebunan pabrik
gula di Takalar, sebagai bagian dari dari Sejarah Pedesaan.
B. Pantai Tope Jawa
Pantai Topejawa yang terletak di Desa Topejawa, Kecamatan Mangara
Bombang, Kabupaten Takalar Provisinsi Sulawesi Selatan. Tempat wisata ini cocok
bagi anda yang ingin bersantai bersama keluarga pada hari raya atau weekend, Bila
Anda dari Kota Makassar, jarak pantai tersebut hanya memakan waktu 2,5 jam jika
menggunakan roda empat, dan 2 jam dengan roda dua. Setiba di pantai Topejawa,
anda Anda akan disuguhi pemandangan yang sangat indah. Panjang pantai hampir
sama dengan pantai Kuta, plus hamparan pasir putih yang hampir mencapai 5 km.
Sedangkan di dalamnya terdapat berbagai fasilitas yang cukup memanjakan para
pengunjung seperti kolam renang. Kolam renangnya dibagi menjadi tiga, ada untuk
anak-anak, orang dewasa laki-laki dan kolam renang dewasa Perempuan. Luas per
kolang renangnya pun cukup besar yakni 20x30 meter. Selain itu, juga dilengkapi
dengan aula sebanyak tiga buah yang dapat digunakan untuk acara meeting, famili
gatering dan sosialisasi, Gasebo sebanyak 50 buah, Serta mushallah, toilet perempuan
dan laki-laki. Tiket masuknya juga cukup terjangkau Rp.25.000 untuk dewasa,
Rp.10.000 untuk anak-anak. Tak hanya itu, didalamnya juga terdapat fasilitas hotel
dengan jumlah kamar sebanyak 64 buah, dengan harga perkamar senilai Rp275.000
plus bebas memasuki semua wahana yang telah disediakan. Bukan hanya itu, tempat
wisata pantai Topeja terdapat waterboom dengan ketinggian 12 meter, yang khusus
didatangkan dari Jakarta. Selain wahana permainan, anda tak perlu takut untuk
kelaparan karena didalamnya juga dilengkapi kantin dengan berbagai jenis makanan
khas Sulawesi Selatan yang harganyapun cukup murah. General Manager area tempat
pariwisata pantai Topejawa, H. Hasanuddin mengatakan, selama dibukanya tempat
wisata tersebut sudah banyak pengunjung dari luar kota maupun lokal yang datang ke
sini. "Sejak dibuka Desember 2017 lalu, banyak yang sudah berkunjung. Bahkan
bukan hanya dari Sulawesi Selatan, tetapi juga dari berbagai kota di Indonesia sudah
datang ke temap pariwisata ini, ujar H.Hasanuddin. Hasanuddin mengaku, bahwa ide
untuk membangun tempat pariwisata tersebut mengalir begitu saja. Menurutnya
Pemerintah daerah khususnya Kabupaten Takalar sangat memberikan dukungan
positif.
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Pabrik Gula Takalar yang belokasi di Pa’rappunganta, Kecamatan
Polongbangkeng Utara, adalah salah satu industri gula yang ada di Kabupaten
Takalar dan merupakan industri terbesar di daerah Sulawesi Selatan saat ini.
Telah membuka masa giling untuk mengolah hasil kebun yang dimilikinya.
Seperti biasanya seperti tahun-tahun sebelumnya bahwa proses ini selalu
diawali dengan beragam kegiatan dan juga bakti sosial terhadap warga sekitar
pabrik.
2. Pantai Topejawa yang terletak di Desa Topejawa, Kecamatan Mangara
Bombang, Kabupaten Takalar Provisinsi Sulawesi Selatan. Tempat wisata ini
cocok bagi anda yang ingin bersantai bersama keluarga pada hari raya atau
weekend. Dengan adanya pantai ini semakin besar pula interaksi dan interelasi
masyarakat sekitar dengan pengunjung pantai ini.
B. Saran
Dengan adanya laporan ini diharapkan dapat menjadi media pembelajaran
bagi penulis maupun pembaca serta dapa mengaplikasikan ilmunya di masyarakat.