Anda di halaman 1dari 13

MINERALOGI DAN GEOKIMIA

“MINERALOGI DAN KIMIA MINERAL”

Dosen Pengampu
Nur Asbirayani Limatahu, S.Pd,M.Si

Oleh,

Ariyati Hi. Abang


03291411094
VIII/B

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS KHAIRUN
TERNATE
2018
MINERALOGI DAN KIMIA MINERAL

A. Defenisi Mineralogi dan Kimia Mineral

Mineralogi adalah cabang dari geologi, karena mineral itu merupakan pembentukan
batuan dari kerak bumi. Ilmu kimia erat hubungannya dengan mineralogi, karena mineral
merupakan senyawa kimia. Mineral merupakan benda alam, terbentuk melalui proses
anorganik, padat, dengan susunan kimia-fisik homogen dan umumnya kristalin.

Maka pengertian yang jelas dari batasan mineral oleh beberapa ahli geologi perlu
diketahui walaupun dari kenyataannya tidak ada satupun persesuaian umum untuk definisinya
(Danisworo, 1994).

Definisi mineral menurut beberapa ahli:

1. L.G. Berry dan B. Mason, 1959

Mineral adalah suatu benda padat homogen yang terdapat di alam terbentuk secara
anorganik, mempunyai komposisi kimia pada batas-batas tertentu dan mempunyai
atom-atom yang tersusun secara teratur.

2. D.G.A Whitten dan J.R.V. Brooks, 1972

Mineral adalah suatu bahan padat yang secara struktural homogen mempunyai
komposisi kimia tertentu, dibentuk oleh proses alam yang anorganik.

3. A.W.R. Potter dan H. Robinson, 1977

Mineral adalah suatu bahan atau zat yang homogen mempunyai komposisi kimia
tertentu atau dalam batas-batas dan mempunyai sifat-sifat tetap, dibentuk di alam dan
bukan hasil suatu kehidupan.

Tetapi dari ketiga definisi tersebut mereka masih memberikan anomali atau suatu
pengecualian beberapa zat atau bahan yang disebut mineral, walaupun tidak termasuk
didalam suatu definisi. Sehingga sebenarnya dapat dibuat suatu definisi baru atau definisi
kompilasi. Dimana definisi kompilasi tidak menghilangkan suatu ketentuan umum bahwa
mineral itu mempunyai sifat sebagai: bahan alam, mempunyai sifat fisis dan kimia tetap dan
berupa unsur tunggal atau senyawa.
 Kimia mineral

Kimia mineral merupakan suatu ilmu yang dimunculkan pada awal abad ke-19,setelah
dikemukakannya “hukum komposisi tetap” oleh Proust pada tahun 1799, teori atom Dalton
pada tahun 1805, dan pengembangan metode analisis kimia kuantitatif yang akurat. Karena
ilmu kimia mineral didasarkan pada pengetahuan tentang komposisi mineral, kemungkinan
dan keterbatasan analisis kimia mineral harus diketaui dengan baik. Analisis kimia kuantitatif
bertujuan untuk mengidentifikasi unsur-unsur yang menyusun suatu substansi dan
menentukan jumlah relatif masing-masing unsur tersebut. Analisis harus lengkap .seluruh
unsur-unsur yang ada pada mineral harus ditentukan dan harus tepat.

Komposisi kimia sebagian besar mineral yang diketahui, menunjukkan suatu kisaran
tertentu mengenai penyusun dasarnya. Dalam analisis kimia, jumlah kandungan unsur dalam
suatu senyawa dinyatakan dengan persen berat dan dalam analisis yang lengkap jumlah total
persentase penyusunnya harus 100. Namun dalam prakteknya, akibat keterbatasan ketepatan,
jumlah 100 merupakan suatu kebetulan; umumnya kisaran 99,5 sampai 100,5 sudah dianggap
sebagai analisis yang baik.

Prinsip-prinsip kimia yang berhubungan dengan kimia mineral yaitu:

1. Hukum komposisi tetap

(The Law of Constant Composition) oleh Proust (1799):

“Perbandingan massa unsur-unsur dalam tiap senyawa adalah tetap”

2. Teori atom Dalton (1805)

1. Setiap unsur tersusun oleh partikel yang sangat kecil dan berbentuk

seperti bola yang disebut atom.

a) Atom dari unsur yang sama bersifat sama sedangkan dari unsur

yang berbeda bersifat berbeda pula.

b) Atom dapat berikatan secara kimiawi menjadi molekul.


B. Nilai, Manfaat dan Kebutuhan terhadap Mineral
Perlu diketahui bahwa mineral juga terdapat dalam jaringan, sehingga mineral sangat
berperan dalam kehidupan. Misalnya yaitu tembaga yang terdapat dalam bulu burung, dalam
darah siput, vanadium dalam darah, iodium dalam kelenjar tiroid, seng dalam abu sayuran.
Selain itu, kekurangan mineral dapat menimbulkan adanya penyakit defisiensi, misalnya
penyakit gondok disebabkan kekurangan iodium, anemi karena kekurangan zat besi maupun
tembaga.

1. Fungsi mineral
Mineral esensiel mempunyai fungsi (bisa salah satu atau seluruhnya) yaitu:
a. Sebagai penyusun kerangka tubuh.
b. Mempertahankan, mengatur sifat fisik dari sistim koloid. Misalnya viskositas, difusi,
tekanan osmose.
c. Mengatur keseimbangan asam-basa.
d. Sebagai komponen enzim ataupun aktivator enzim

Kalsium dan fosfor merupakan mineral utama penyususn kerangka tubuh seperti tulang
dan gigi. Mineral tersebut dapat memberikan kekuatan dan kekerasan pada kerangka jika
dalam jumlah yang normal. Adapula pada suatu organisme yang melibatkan kegiatan ion,
salah satu contohnya adalah ion kalsium yang dilibatkan dalam pembentukan gel dari
protoplasma. Protoplasma merupakan contoh organisme yag dapat membentuk gel karena
bersifat koloid. Jadi ion kalsium dalam pembentukan gel tersebut akan meningkatkan
tegangan antar muka lapisan pertikel. Viskositas sistim koloid dipengaruhi oleh konsentrasi
ion kalsium, natrium dan kalium.

Selain itu, mineral-mineral lain juga memiliki peran sebagai komponen dari enzim
maupun aktivator enzim. Sehingga selain fungsi yang ada, mineral juga berfungsi dalam
pengaturan proses yang terjadi dalam tubuh.

2. Makro mineral
Mineral dikatakan sebagai kelompok makro mineral, yaitu jika memiliki jumlah
mineral yang lebih dari 0,01% berat tubuh.
a. Kalsium dan fosfor
Peranan kalsium dan fosfor saling berkaitan. Jumlah kalsium dan fosfor
sebanyak 70% dari total abu. 99 % kalsium dan 88 % fosfor terdapat dalam
tulang dan gigi. Tulang memiliki sel yang terkandung di dalamnya, dan sel
tersebut memiliki fungsi masing-masing yang bersangkutan dengan mineral.
Sehingga kalsum dalam tulang terjadi sepanjang hidup manusia.
b. Natrium, kalium, dan klorida
Natrium, kalium, dan klorida terdapat dalam cairan tubuh dan jaringan lunak.
Natrium dan klorida lebih banyak terdapat dalam cairan ekstraseluler,
sedangkan kalium dalam cairan intraseluler. Dimana ketiga unsur tersebut
secara bersama memiliki fungsi dalam mengatur tekanan osmose dan
keseimbangan asam-basa.
c. Magnesium dan sulfur
Magnesium terdapat dalam tulang, jaringan lunak, dan cairan ekstraseluleir.
Magnesium juga memiliki peranan sebagai aktivator enzim, misalnya enzim
yang tergolong dalam enzim kinase, mutase, ATP ase, kholin esterase, alkali
fosfatase, enolase, isositrat dehidrogenase, deoksiribonuklease. Selain sebagai
aktivator enzim, magnesium juga merupakan komponen dari enzim arginase.
Sulfur pada umumnya terdapat sebagai komponen senyawa organik. Misalnya
asam amino sistin dan metionin, hormon (glutation, insulin), vitamin biotin dan
tiamin serta asam lipoat. Sulfur terdapat dalam jaringan pengikat, kuku, rambut
maupun kulit.
3. Mikro mineral
Mineral dikatan sebagai mikro mineral jika jumlahnya kurang dari 0,01 % berat
tubuh.
a. Mangan
Mangan sebagian besar terdapat dalam tulang dan sebagian kecilnya terdapat
dalam hati,otot, dan kulit. Mangan memiliki peran yang sangat penting dalam
metabolisme karbohidrat.
b. Zat besi
Zat besi dalam tubuh sebagian besar terdapat dalam hemoglobin, sedangkan 30%
terdapat dalam hati, limfa, sum-sum tulang belakang, dalam plasma yang
umumnya sebagai protein transferin dan sebagai komponene enzim yang
memiliki peran pada proses reaksi oksidasi reduksi di dalam sel.
c. Tembaga
Tembaga dalam tubuh disimpan dalam hati, otak, sumsum tulang belakang,
limfa, jantung dan ginjal. Peran penting tembaga yaitu dalam pembentukan
hemoglobin.
d. Iodium
lodium dalam tubuh sekitar 70-80% terdapat dalam kelenjar tiroid. Sisanya
terdapat dalam otot, ovarium, dan mata. Iodium juga merupakan salah satu
komponen hormon tiroksin dan tri iodo tironin. Hormon tiroksin berfungsi untuk
mengatur berbagai metabolisme seperti metabolisme vitamin, karbohidrat, lemak
maupun protein.
e. Seng
Sebagian besar seng tredapat pada jaringan seperti hati, otot, organ kelamin laki-
laki, tulang, jaringan epidermis dan darah. Seng dapat dipakai untuk
pertumbuhan yang normal, pembentukan bulu pada unggas. Selain itu dapat pula
dipakai untuk mencegah penyakit parakeratosis pada babi.
f. Kobalt, molibdenum dan selenium
Kobalt merupakan komponen vitamin B12, yang berperan untuk
mempertahankan aktivitas mikroflora dalam usus. Molibdenum merupakan
komponen enzim xantin oksidase. Enzim tersebut dapat mengkatalisis oksidasi
senyawa purin. Selenium merupakan kelumit mineral yang ikut berperanan
dalam pembentukan koenzim Q, bertindak sebagai anti oksidan yang tidak
spesifik, berpengaruh pada absorbsi dan retensi vitamin E dan trigliserida. Enzim
glutaton peroksidase mengandung 0,34 % selenium, juga terdapat dalam enzim
asam format dehidrogenas serta glisin reduktase.
g. Flourida, timah putih, vanadium
Flourida di dalam tubuh terdapat dalam tulang dan gigi. Ion flourida
mempunyai kemampuan untuk mencegah penyakit gigi berlubang. Timah
putih di dalam tubuh berperanan sebagai katalis untuk reaksi oksidasi-reduksi.
Vanadium diketahui ikut berperanan dalam klasifikasi tulang dan gigi serta
dipakai untuk mencegah penyakit gigi berlubang. Vanadium dapat menghambat
sintesis kholesterol.
h. Kromium, silikat, nikel
Kromium bervalensi tiga diketahui mempunyai peranan yang penting dalam
metabolisme karbohidrat, terutama pada metabolisme glukosa dan kerja hormon
insulin. Kromium juga diduga berperan dapat menggantikan insulin untuk
menurunkan gula darah. Kromium juga diketahui berperanan dalam metabolisme
lemak dan protein. Silikat diperlukan untuk pertumbuhan yang normal dan
pembentukan kerangka. Nikel memiliki fungsi yaitu mengaktifkan beberapa
enzim seperti arginase, tirosinase, asetil koenzim A sintetase, deoksiribonukleas.
Nikel juga mempertahankan kestabilan DNA dan RNA dari pengaruh panas
yang mengakibatkan denaturasi.

4. Mineral dalam Bahan Pangan


Mineral dalam bahan pangan dapat berada dalam bentuk:
a. Terikat dengan senyawa organic
b. Sebagai garam
c. Ion bebas
 Mineral yang terdapat dalam bahan pangan dapat berasal dari:
a. Alami ada di dalam bahan pangan. Untuk pangan nabati berasal dari tanah, air
ataupun pupuk, sedangkan untuk pangan hewani dapat bersal dari pakan
ataupun minumnya
b. Mineral yang sengaja ditambahkan dalam bahan. Penambahan tersebut karena
program fortifikasi maupun karena proses. Sebagai contoh fortifikasi iodium
dalam garam, penambahan garam kalsium dalam pembuatan tahu.
c. Kontaminan, yaitu yang berasal dari air, udara, alat-alat yang dipakai untuk
pengolahan, pupuk, bahan kimia untuk memberantas hama dan penyakit, bahan
pengepak maupun zat radio aktif.
 Bahan pangan umumnya dikelompokkan menjadi lima, yaitu:
a. Susu dan hasil olahannya
b. Kelompok daging
c. Kelompok sayuran dan buah-buahan
d. Kelompok bijian
e. Makanan lain

C. Teknik Analisis Kimia

Analisis kimia mineral (dan batuan) diperoleh dari beberapa macam teknik analisis.
Sebelum tahun 1947 analisis kuantitatif mineral diperoleh dengan teknik analisis “basah”,
yang mana mineral dilarutkan dalam larutan tertentu. Penentuan unsur-unsur dalam larutan
biasanya dipakai satu atau lebih teknik-teknik berikut:

(1) ukur warna (colorimetry)


(2) analisis volumetri (titrimetri)

(3) analisis gravimetri.

Sejak tahun 1960 sebagian besar analisis telah dilakukan dengan teknik instrumental
seperti spektroskop serapan atom, analisis flouresen sinar X, analisis electron microprobe,
dan spektroskop emisi optis. Masing-masing teknik ini memiliki preparasi sampel yang
khusus dan memiliki keterbatasan deteksi dan kisaran kesalahan sedang – baik. Hasil analisis
biasanya ditampilkan dalam bentuk tabel persen berat dari unsur-unsur atau oksida dalam
mineral yang dianalisis. Teknik analisis basah memberikan determinasi secara kuantitatif
variasi kondisi oksidasi suatu kation (seperti Fe2+ dengan Fe3+) dan juga untuk determinasi
kandungan H2O dari mineral-mineral hidrous. Metode instrumen umumnya tidak dapat
memberikan informasi seperti kondisi oksidasi atau kehadiran H2O.

 Dalam analisis kimia mineral dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu analisis
kimia kualitatif dan analisis kimia kuantitatif. Analisis kualitatif menyangkut deteksi
dan identifikasi seluruh komposisi dari suatu senyawa. Analisis kuantitatif meliputi
penentuan persen berat (atau parts per million [ppm]) unsur-unsur dalam suatu
senyawa. Dengan demikian kedua analisis ini akan menjawab pertanyaan “Apa yang
dikandung dan berapa besar jumlahnya?”. Analisis kualitatif awal umumnya sangat
membantu dalam memutuskan metode apa yang akan dipakai untuk analisis
kuantitatif.

 Analisis kimia basah

Cara ini biasanya dilakukan di laboratorium kimia. Setelah sampel digerus menjadi bubuk,
langkah pertama yang dilakukan adalah menguraikan sampel. Biasanya pada tahap ini
digunakan satu dari beberapa larutan asam, seperti asam klorida (HCl), asam sulfat (H2SO4),
atau asam florida (HF), atau campuran dari larutan asam tersebut. Jika sampel sudah dalam
bentuk larutan, langkah selanjutnya adalah colorimetry, volumetri atau gravimetri untuk
menentukan unsur-unsur yang diinginkan.

Kisaran konsentrasi unsur-unsur berdasarkan teknik analisis ini adalah:


Metode Konsentrai unsur dalam sampel

Gravimetri rendah – 100%


Volumetri rendah – 100%
Colorimetri ppm – rendah

Keuntungan menggunakan cara basah adalah reaksi dapat terjadi dengan cepat dan relatif
mudah untuk dikerjakan.

 Analisis serapan atom (AAS)

AAS (atomic absorption spectroscopy) ini dapat dimasukkan dalam analisis kimia cara basah
karena sampel asli yang akan dianalisis secara sempurna terlarutkan dalam suatu larutan
sebelum dilakukan analisis. Cara ini didasarkan atas pengamatan panjang gelombang yang
dipancarkan suatu unsur atau serapan suatu panjang gelombang oleh suatu unsur. Dalam
perkembangannya yang terakhir alat ini dilengkapi oleh inductively coupled plasma (ICP)
danmetode ICP-mass spectrometric (ICP-MS). Sumber energi yang digunakan pada teknik
ini adalah lampu katoda dengan energi berkisar antara cahaya tampak sampai ultraviolet dari
spektrum elektromagnetik. Sampel dalam bentuk larutan dipanas-kan, dengan anggapan
atom-atom akan bebas dari ikatan kimianya. Pada sampel panas dilewatkan sinar katoda,
akan terjadi penyerapan energi yang akan terekam dalam spektrometer.

 Analisis fluoresen sinar X (XRF)

Analisis ini juga dikenal dengan spektrografi emisi sinar X, yang banyak digunakan untuk
laboratorium penelitian yang mempelajari kimia substansi anorganik. Di samping untuk
laboratorium penelitian analisis ini juga digunakan untuk keperluan industri, seperti: industri
tambang (untuk kontrol kualitas hasil yang akan dipasarkan), industri kaca dan keramik,
pabrik logam dan bahan baku logam, dan dalam perlindungan lingkungan dan pengawasan
pulusi. Pada analisis ini sampel digerus menjadi bubuk dan ditekan dalam bentuk pelet
bundar. Pelet ini nantinya akan ditembak dengan sinar X. Spektrum emisi sinar X yang
dihasilkan merupakan ciri-ciri tiap-tiap unsur yang terkandung dalam sampel. Analisis ini
dapat digunakan untuk penentuan sebagian besar unsur, dan juga sangat sensitif untuk
penentuan secara tepat beberapa unsur jejak (seperti Y, Zr, Sr, Rb dalam kisaran ppm).
 XRD

X-ray diffraction merupakan salah satu metoda karakterisasi material yang paling tua dan
paling sering digunakan hingga sekarang. Teknik ini digunakan untuk mengidentifikasi fasa
kristalin dalam material dengan cara menentukan parameter struktur kisi serta untuk
mendapatkan ukuran partikel. Pada batuan sedimen, biasanya metode ini dapat digunakan
untuk menunjukkan komposisi mineral penyusun batuan sedimen berdasarkan strukturnya
kristalnya. Dalam analisis mineral batuan sedimen, biasanya metode ini digunakan pada
mineral lempung.

 Electron probe microanalysis

Metode ini didasarkan atas prinsip yang sama dengan analisis fluoresen sinar X, kecuali
energi yang dipakai bukan tabung sinar X tetap digantikan oleh sinar elektron. Disebut
mikroanalisis karena dapat menganalisis baik kualitatif maupun kuantitatif material dalam
jumlah yang sangat sedikit. Sampel yang dianalisis biasanya berbentuk sayatan yang sudah
dikilapkan (polished section atau polished thin section) dari suatu mineral, batuan atau
material padat yang lain. Volume minimum yang dapat dianalisis dengan metode ini sekitar
10 sampai 20 fim3, yang dalam satuan berat sekitar 10-11 gram (untuk material silikat).

 Analisis spektrografik optis

Spektrograif emisi optik didasarkan pada kenyataan bahwa atom suatu unsur dapat
menghasilkan energi. Ketika energi ini terdispersi, dengan menggunakan prisma dapat
direkam sebagai suatu spektrum. Jumlah garis dan intensitas garis dalam spektrum yang
terekam ditentukan oleh konfigurasi atom. Analisis kuantitatif dengan teknik ini memerlukan
pengukuran terhadap ketajaman dari garis-garis spektral yang terekam dalam fotograf.

D. Penamaan dan Penggolongan Mineral


Klasifikasi mineral adalah berdasarkan senyawa kimia yang utama, seperti oxida, sulfida,
silikat, karbonat, fosfat, dan sebagainya. Hal ini adalah baik karena mineral pada umumnya
mengandung suatu senyawa kimia yang utama. Akan tetapi, penamaan mineral tidak sesuai
didasarkan pada logika senyawa kimia tersebut.
Nama mineral pada umumnya didasarkan pada sifat fisis atau kimiawi, nama tempat
diketemukannya, dan nama seorang tokoh atau seorang ahli mineral. Beberapa contoh dari
penamaan mineral adalah sebagai berikut:
- Albite (NaAlSi3O8) berasal dari bahasa latin, albis (putih), yaitu berdasarkan
warnanya.
- Rhondonite (Mn SiO3) bersasal dari bahasa yunani, Rhodon (rose=merah muda), yaitu
berdasarkan warnanya.
- Chromite (Fe Cr2O4) karena adanya chromium dalam jumlah besar.
- Magnetite (Fe3O4) karena adanya sifat magnetik.
- Franklinite (Zn Fe2O4) berdasarkan suatu lokasi dimana mineral tersebut ditemukan
pertama kalinya, yaitu di Franklin, New Jersey, Amerika Serikat.
- Silimanite (Al2SiO5) berdasarkan nama seorang guru besar, yaitu Prof. Benyamin
Silliman dari Universitas Yale (1794-1864), Amerika.

Penggolongan atau klasifikasi mineral yang biasa digunakan adalah klasifikasi dari Dana,
yang didasarkan pada kemiripan komposisi kimia dan struktur kristalnya (Warmada dan
anastisari, 2004 dalam Klien, 1993), yaitu:

- Unsur murni (native element), golongan ini memiliki ciri-ciri hanya memiliki satu
unsur kimia, sifat dalam umumnya mudah ditempa dan/atau dapat dipintal, seperti
emas, perak, tembaga, arsenik, bismuth, belerang, intan, dan grafit.
- Mineral sulfida atau sulfosalt, merupakan kombinasi antara logam atau semi-logam
dengan belerang (S), misalnya galena (PbS), pirit (FeS2), proustit (Ag3AsS3), dll.
- Oksida dan hidroksida, merupakan kombinasi antara oksigen atau hidroksil/air dengan
satu atau lebih macam logam, misalnya magnetit (Fe3O4), goethit (FeOOH).
- Haloid, golongan ini dicirikan dengan adanya dominasi dari ion halogenida yang
elektronegatif, seperti Cl, Br, F, dan I. Contoh mineralnya: halit (NaCl), silvit (KCl),
dan fluorit (CaF2).
- Nitrat, karbonat dan borat, merupakan kombinasi antara logam/semi logam dengan
anion komplek, CO3 atau nitrat, NO3 atau borat (BO3). Contohnya: kalsit (CaCO3),
niter (NaNO3), dan borak (Na2B4O5(OH)4 ·8H2O).
- Sulfat, kromat, molibdat, dan tungstat, dicirikan oleh kombinasi logam dengan anion
sulfat, kromat, molibdat, dan tungstat. Contohnya: barit (BaSO4), wolframit
((FeMn)WO4)
- Fosfat, arsenat, dan vanadat, contohnya apatit (CaF(PO4)3), vanadinit (Pb5Cl(PO4)3)
- Silikat, merupakan mineral yang jumlah meliputi 25% dari keseluruhan mineral yang
dikenal atau 40% dari mineral yang umum dijumpai. Kelompok mineral ini
mengandung ikatan antara Si dan O. Contohnya: kuarsa (SiO2), zeolit-
Na(Na6[(AlO2)6(SiO2)30]·24H2O).

Mineral adalah bagian anorganik, yang dalam tubuh jumlahnya kurang lebih 4%.
jumlahnya dalam tubuh kurang lebih 4 %. Mineral dikelompokkan menjadi beberapa
kelompok (Elisa, UGM) :

- Mineral esensiel

Yang termasuk dalam kelompok mineral esensiel untuk makro elemen adalah kalsium
(Cu), magnesium (Mg), natrium (Na), kalium (K), fosfor (P), khlorin (Cl) dan sulfur
(S). Untuk elemen kelumit atau mikro mineral adalah mangan (Mn), zat besi (Fe),
tembaga (Cu), iodium (I), seng (Zn), flourin (F), vanadium (Va), kobalt (Co),
molibdenum (Mo), selenium (Se), kromium (Cr), timah putih (Sn), nikel (ni) dan
silikat (Si).

- Mineral kemungkinan esensiel

Unsur yang tergolong kelompok ini yaitu arsen (As), barium (Ba), bromin (Br),
kadmium (Cd), dan strontium (Sr).

- Mineral non esensiel

Unsur di dalamnya yaitu alumunium (Al), antimon (Sb), bismut (Bi), boron (B),
germanium (Ge), aurum (Au), timah hitam (Pb), air raksa (Hg), rubidium (Rb), perak
(Ag), dan titanium(Ti).

- Mineral yang berpotensi toksik

a. Tembaga (Cu), molibdenum (Mo), selenium (Se)


b. Arsen (As), cadmium
c. Timah hitam (Pb) dan air raksa (Hg)
DAFTAR PUSTAKA

Elisa. (n.d.). Jurnal Manfaat Mineral. Retrieved februari 16, 2018, from http;//www.google.c
o.id/jurnal+manfaat+mineral.
Khusrizal. 2012. KARAKTERISTIK MINERALOGI TANAH PESISIR PANTAI ACEH UTARA
YANG TERPENGARUH TSUNAMI. Bogor: Bionatura-Jurnal Ilmu-ilmu Hayati dan
Fisik. Vol.14,No.1.
Lelono, E.B., Isnawati, 2007, Peranan Iptek Nuklir Dalam Eksplorasi Hidrokarbon, Jakarta,
JFN, Vol.1 No.2, November 2007.

Warmada,I.W., & Titisari, A. D. (2004). Agromineralogi (Mineralogi untuk Ilmu Pertanian).


Yogyakarta: Fakultas Teknik UGM.