Anda di halaman 1dari 7

ISSN : 2527 – 5917, Vol.

SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN FISIKA 2018


“Implementasi Pendidikan Karakter dan IPTEK untuk Generasi Millenial Indonesia dalam Menuju SDGs 2030“
11 MARET 2018
PENGEMBANGAN HANDOUT KIMIA BERBASIS INKUIRI TERBIMBING
DILENGKAPI MEDIA GRAFIS PADA MATERI IKATAN KIMIA MA

Dyah Pujiastuti
Program Magister Pendidikan Sains FKIP Universitas Sebelas Maret
dyahpujiastuti1221@gmail.com

Ashadi
Program Magister Pendidikan Sains FKIP Universitas Sebelas Maret
ashadi_uns@yahoo.com

Sri Mulyani
Program Magister Pendidikan Sains FKIP Universitas Sebelas Maret
srimulyaniuns@gmail.com

ABSTRAK

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) Proses pengembangan handout kimia berbasis
inkuiri terbimbing dilengkapi media grafis pada materi ikatan kimia, (2) Kelayakan handout kimia
berbasis inkuiri terbimbing dilengkapi media grafis yang dikembangkan pada materi ikatan kimia
berdasarkan validasi ahli, penilaian praktisi pembelajaran serta respon siswa, dan (3) Efektivitas
penggunaan handout kimia berbasis inkuiri terbimbing dilengkapi media grafis yang dikembangkan
pada materi ikatan kimia untuk meningkatkan prestasi belajar siswa . Penelitian dan pengembangan
handout menggunakan model prosedur Borg & Gall yang telah direduksi menjadi sembilan tahapan.
Hasil penelitian dan pengembangan menunjukkan: (1) proses setiap langkah pengembangan handout
kimia berbasis inkuiri terbimbing dilengkapi media grafis berdasarankan saran dari para ahli dan telah
diujicobakan kepada calon pengguna, (2) Kelayakan handout berbasis inkuiri terbimbing pada materi
ikatan kimia menurut para ahli berkualifikasi baik, praktisi pendidikan diperoleh CV ≥ 0,87 yang
menunjukkan handout layak digunakan; rata-rata angket respon siswa dan guru diperoleh penilaian
dengan kategori “sangat baik” (3) Handout kimia berbasis inkuiri terbimbing efektif meningkatkan
hasil belajar pengetahuan, sikap, dan keterampilan siswa.

Kata Kunci: Handout kimia, Inkuiri Terbimbing, Media Grafis, Ikatan Kimia, Prestasi Belajar Siswa
Proses pendidikan dalam pelaksanaannya
PENDAHULUAN terdapat proses belajar mengajar. Proses belajar
Pendidikan merupakan usaha yang secara sadar dan mengajar mengandung kegiatan antara guru dan siswa
terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan serta komunikasi timbal balik yang berlangsung dalam
proses pembelajaran agar siswa secara aktif situasi edukatif untuk mencapai tujuan pembelajaran.
mengembangkan potensi dirinya. Pendidikan yang Guru diharapkan mampu mengembangkan kapasitas
mampu mengembangkan potensi siswa merupakan belajar, kompetensi dasar dan potensi yang dimiliki
pendidikan yang mendukung pembangunan dimasa siswa secara optimal. Pembelajaran yang dilakukan
mendatang karena siswa dapat menghadapi dan harus lebih berpusat pada siswa, sehingga siswa ikut
memecahkan masalah dalam kehidupan bermasyarakat. terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Guru
Proses pendidikan pada akhirnya mempunyai tujuan diharapkan mampu membawa siswa untuk aktif dalam
untuk membentuk sikap, mengembangkan kecerdasan, berbagai bentuk belajar, berupa belajar penemuan,
serta mengembangkan keterampilan siswa sesuai belajar mandiri, belajar kelompok, serta belajar
dengan kebutuhan. memecahkan masalah.

305
ISSN : 2527 – 5917, Vol.3

SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN FISIKA 2018


“Implementasi Pendidikan Karakter dan IPTEK untuk Generasi Millenial Indonesia dalam Menuju SDGs 2030“
11 MARET 2018
Proses pembelajaran yang utuh secara tidak lesu, tidak cakap dalam berfikir dan sebagian besar
langsung menentukan keberhasilan belajar siswa. pasti mengantuk. Hal ini sesuai dengan hasil angket
Strategi guru dalam mengajarkan mata pelajaran kimia yang disebar ke siswa bahwa mereka lebih menyukai
tergantung cara pandang guru terhadap pelajaran proses pembelajaran yang dibimbing langsung oleh
tersebut. Persepsi guru yang sempit akan berdampak guru dan menginginkan bahan ajar yang banyak gambar
pada proses pembelajaran kimia. Keberhasilan belajar dan warna agar lebih menarik dan memberikan efek
siswa di sekolah salah satunya dipengaruhi oleh bahan semangat tersendiri kepada siswa.
ajar. Keberadaan bahan ajar sangat penting dalam Sehingga berdasarkan data tersebut dapat
menunjang keberhasilan pembelajaran. Bahan ajar diketahui bahwa siswa MA Darul Huda Ponorogo ini
menjembatani, memadukan antara pengalaman dan membutuhkan bahan ajar yang sederhana semisal
pengetahuan. Bahan ajar yang berorientasi literasi sains handout, akan tetapi handout yang ada saat ini harus
hendaknya memberikan peluang kepada siswa untuk dikembangkan sesuai dengan kondisi mereka yakni
dapat mengembangkan keterampilan proses, handout yang bisa melibatkan guru dan siswa dalam
kemampuan berinkuiri, kemampuan berpikir, dan proses pembelajaran kimia. Sehingga metode yang
kemampuan literasi sains. Bahan ajar sains dipelajari tepat untuk diterapkan di dalam proses pembelajaran
peserta didik agar peserta didik menguasai sains dan siswa MA Darul Huda Ponorogo ini yaitu pembelajaran
kemampuan berikut. Pertama, peserta didik menguasai yang berbasis inkuiri terbimbing.
produk sains, seperti konsep-konsep. Kedua, peserta Suryani dan Agung (2012) menyatakan bahwa
didik dapat menggunakan metode ilmiah untuk pembelajaran inkuiri bertujuan untuk memberikan cara
memecahkan masalah sains. Ketiga, peserta didik bagi siswa untuk membangun kecakapan-kecakapan
memiliki nilai yang berkaitan dengan masalah sikap intelektual (kecakapan berpikir) terkait dengan proses-
setelah terbiasa mempelajari dan menguasai produk proses berpikir reflektif. Jika berpikir menjadi tujuan
dan proses sains (Toharudin, 2011). Bahan ajar kimia utama dari pendidikan, maka harus ditemukan cara-cara
diantaranya adalah modul, handout, LKS, dan lain untuk membantu individu untuk membangun
sebagainya. kemampuan itu. Pada pembelajaran inkuiri siswa akan
Berdasarkan hasil angket dan wawancara yang dihadapkan pada suatu permasalahan yang harus
diberikan kepada dua guru kimia MA Darul Huda diamati, dipelajari, dan dicermati, sehingga dibutuhkan
Ponorogo dapat diketahui beberapa hal diantaranya bahan ajar sebagai penunjangnya. Bahan ajar harus
yakni bahwa di MA Darul Huda Ponorogo siswanya dikembangkan sesuai kurikulum yang berlaku.
belum memiliki buku pegangan ataupun bahan ajar Metode Inkuiri adalah cara penyampaian bahan
apapun, hanya gurunya saja yang memiliki modul pengajaran dengan memberi kesempatan kepada siswa
pegangan. Data lain yang diperoleh dari hasil angket untuk belajar mengembangkan potensi intelektualnya
bahwa siswa-siswa di MA Darul Huda Ponorogo ini dalam jalinan kegiatan yang disusunnya sendiri untuk
tidak hanya mengikuti sekolah pagi saja, akan tetapi menemukan sesuatu sebagai jawaban yang meyakinkan
mereka juga mengikuti sekolah sore dan malam. Hal ini terhadap permasalahan yang dihadapkan kepadanya
dikarenakan mereka tinggal di lingkungan pondok melalui proses pelacakan data dan informasi serta
pesantren yang memiliki aktivitas pondok yang padat, pemikiran yang logis, kritis dan sistematis (Slameto,
sehingga mereka membutuhkan bahan ajar yang 2010).
sederhana dan mudah dipelajari ditengah aktivitas Hanafiah et al (2009) menguraikan macam-
mereka yang padat seperti handout, ringkasan materi macam metode inkuiri, yaitu: 1) inkuiri bebas; 2)
dan sebagainya. Disisi lain guru belum pernah mencoba inkuiri terbimbing; dan 3) inkuiri termodifikasi.
membuatkan handout atau sejenisnya sesuai dengan Diantara tingkatan dari metode inkuiri, inkuiri
yang mereka butuhkan. terbimbing merupakan metode yang cocok diterapkan
Selain hal itu dari hasil wawancara juga pada siswa yang belum terbiasa/kurang berpengalaman
diketahui bahwa tipe siswa yang ada di MA Darul Huda mengikuti pembelajaran dengan metode inkuiri.
Ponorogo ini adalah anak yang masih membutuhkan Berdasarkan angket analisis kebutuhan guru diperoleh
bimbingan dalam proses pembelajaran, mereka informasi bahwa guru sangat jarang menggunakan
bukanlah anak yang memiliki tipe pembelajar mandiri. metode inkuiri dalam pembelajaran kimia, selain itu
Mereka masih sangat membutuhkan bimbingan guru siswa juga membutuhkan bimbingan dari guru dalam
dalam setiap proses pembelajaran. Hal ini dapat dilihat proses pembelajaran, sehingga peneliti memutuskan
dari sikap anak saat berada didalam kelas, saat diminta untuk menerapkan metode inkuiri terbimbing.
untuk belajar secara mandiri mereka terlihat malas, Penelitian dari Brickman et al. (2009) menunjukkan
306
ISSN : 2527 – 5917, Vol.3

SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN FISIKA 2018


“Implementasi Pendidikan Karakter dan IPTEK untuk Generasi Millenial Indonesia dalam Menuju SDGs 2030“
11 MARET 2018
bahwa pembelajaran menggunakan model inkuiri hasil yang maksimal. Namun disini dapat diketahui
mempunyai hasil yang signifikan dalam mempelajari bahwa materi ikatan kimia adalah salah satu materi
konsep dan keterampilan proses sains dibandingkan yang sangat penting yang wajib diberikan kepada siswa
dengan model konvensional. Selain itu menurut Bilgin karena materi ini merupakan penunjang atau
(2009) siswa yang belajar dengan guided inquiry pendukung sekaligus mendasari materi-materi kimia
memiliki pemahaman konsep materi yang lebih baik yang lain.
dan memiliki sikap yang lebih positif. Bedasarkan pertimbangan tersebut maka dapat
Metode inkuiri terbimbing yaitu pendekatan disimpukan bahwa siswa MA Darul Huda Ponorogo
inkuiri dimana guru membimbing siswa melakukan menginginkan bahan ajar yang sederhana semisal
kegiatan dengan memberi pertanyaan awal dan handout, dan masih memerlukan guru untuk
mengarahkan pada suatu diskusi. Guru mempunyai membimbing proses pembelajaran kimia di kelas.
peran aktif dalam menentukan permasalahan dan tahap- Sedangkan solusi dari permasalahan siswa yang sering
tahap pemecahannya. Dengan pendekatan ini siswa mengantuk didalam kelas karena suasana pembelajaran
belajar lebih beorientasi pada bimbingan dan petunjuk yang kurang menarik maka handout tersebut akan
dari guru hingga siswa dapat memahami konsep-konsep dilengkapi dengan gambar yang berwarna sesuai
pelajaran. Pada pendekatan ini siswa akan dihadapkan dengan yang mereka inginkan. Gambar yang berwarna
pada tugas-tugas yang relevan untuk diselesaikan baik disini termasuk salah satu media grafis. Menurut
melalui diskusi kelompok maupun secara individual Sudjana dan Rivai (2005:68) mendefinisikan media
agar mampu menyelesaikan masalah dan menarik suatu grafis sebagai media yang mengkombinasikan fakta
kesimpulan secara mandiri. Oleh karena itu handout dan gagasan secara jelas dan kuat melalui suatu
disini dikembangkan dengan basis inkuiri terbimbing kombinasi pengungkapan kata-kata dan gambar-
agar siswa aktif dalam penemuan tanpa mengalami gambar. Sedangkan menurut Rohani (1997:20) media
kesulitan dengan tetap mendapat panduan dari guru. grafis adalah semua media yang mengandung grafis
Berdasarkan hasil angket yang diberikan kepada yang dapat digunakan untuk menyampaikan informasi
siswa juga diketahui bahwa materi yang dianggap susah dan pengetahuan secara efektif kepada orang yang
oleh sebagian besar mereka adalah materi ikatan kimia, melihatnya
dari angket yang diberikan kepada kelas XI sejumlah Sehingga dari data tersebut diatas perlu
28 siswa, terdapat 53,57 % siswa menganggap bahwa dilakukan penelitian dengan judul Pengembangan
materi ikatan kimia adalah materi yang dianggap sulit. Handout Kimia Berbasis Inkuiri Terbimbing
Kesulitan siswa yakni dalam membedakan antara unsur Dilengkapi Media Grafis pada materi Ikatan Kimia
logam dan unsur non logam serta menentukan struktur Siswa Kelas X MA.
lewis sehingga berdampak pada ketidaktahuan
menentukan jenis ikatan yang terbentuk. Berdasarkan METODE PENELITIAN
Laporan Pengolahan Ujian Nasional Tahun Pelajaran Model pengembangan yang digunakan dalam
2011/2012 dan 2012/2013 di MA Darul Huda pengembangan handout kimia berbasis inkuiri
Ponorogo, prosentase penguasaan materi Ikatan Kimia terbimbing ini adalah research and development atau
sebenarnya sudah tergolong memuaskan. Hal ini dapat penelitian pengembangan. Produk yang dikembangkan
dilihat pada tahun pelajaran 2011/2012 rata-rata berupa handout kimia berbasis inkuiri terbimbing
sekolah sebesar 100,00 %, rata-rata kota/kabupaten dilengkapi media grafis pada materi ikatan kimia.
sebesar 97,17 %, rata-rata propinsi sebesar 97,63 % dan Langkah-langkah pada penelitian ini merupakan
rata-rata nasional sebesar 93,13 %. Hal ini juga dapat reduksi dari sepuluh langkah penelitian dan
dilihat pada tahun pelajaran 2012/2013 rata-rata pengembangan yang dikembangkan oleh Borg & Gall
sekolah sebesar 95,12 %, rata-rata kota/kabupaten (2003). Kesepuluh langkah tersebut adalah: 1)
sebesar 90,84 %, rata-rata propinsi sebesar 87,66 % dan Penelitian dan pengumpulan data (research and
rata-rata nasional sebesar 71,78 %. Akan tetapi setelah information collecting), 2) Perencanaan (planning), 3)
dilihat dari tipe soal yang diberikan pada kedua tahun Pengembangan draf awal (develop preliminary from
ajaran tersebut dapat diketahui bahwa tipe soal yang product), 4) Uji coba lapangan awal (preliminary field
diberikan masih dalam tingkat C1 (Ingatan) dan C2 testing), 5) Revisi hasil uji coba (main product
(Pemahaman), belum sampai pada tahap C3 revision), 6) Uji coba lapangan utama (main field
(Penerapan), C4 (Analisis), C5 (Sintesis) dan C6 testing), 7) Penyempurnaan produk hasil uji coba
(Evaluasi). Sehingga siswa cenderung mampu untuk lapangan (operating product revision), 8) Uji lapangan
mengerjakan tipe soal-soal tersebut dan mendapatkan operasional (operational field testing), 9)
307
ISSN : 2527 – 5917, Vol.3

SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN FISIKA 2018


“Implementasi Pendidikan Karakter dan IPTEK untuk Generasi Millenial Indonesia dalam Menuju SDGs 2030“
11 MARET 2018
Penyempurnaan dan produk akhir (final product pendidikan berdasarkan kriteria kelayakan isi, bahasa,
revision), 10) Desiminasi dan implementasi penyajian, dan kegrafisan.
(dissemination and implementation). Dalam penelitian Data hasil penilaian validator ahli dan validator
dan pengembangan handout kimia berbasis inkuiri praktisi pendidikan terhadap kelayakan handout
terbimbing ini hanya sampai langkah ke sembilan dari berbasis inkuiri terbimbing dapat disimpulkan bahwa
langkah penelitian dan pengembangan Borg dan Gall semua aspek dalam handout tersebut telah dinyatakan
yaitu pada langkah penyempurnaan dan produk akhir. valid atau telah layak digunakan dengan revisi.
Langkah ke sepuluh tidak dilakukan karena pada Validasi yang digunakan adalah menurut Aiken
langkah ini membutuhkan waktu yang lama dan biaya (1984). Dengan jumlah raters 5 dan 4 kategori,
yang cukup besar. masing-masing aspek dikatakan valid jika mempunyai
Sampel pada penelitian ini adalah siswa kelas X koefisien validitas sama dengan atau lebih dari 0,87.
MA Darul Huda Ponorogo, MA Al Mawaddah Seluruh aspek pada handout tersebut mempunyai nilai
Ponorogo dan MA Al Islam Ponorogo. Pada uji coba sama dengan atau lebih dari 0,87 dengan melalui
lapangan awal, produk diuji cobakan pada 8 siswa yang tahapan revisi yang diberikan ahli media, materi,
berasal dari siswa kelas XI MA Darul Huda Ponorogo. bahasa, dan praktisi pendidikan. Kelayakan ini juga
Pada uji coba lapangan utama diuji cobakan pada 31 memperjelas bahwa handout yang dikembangkan telah
siswa yang berasal dari kelas X MA Darul Huda sesuai dengan kompetensi inti dan kompetensi dasar
Ponorogo. Pada uji lapangan operasional diujicobakan yang digunakan pada MA dengan mengacu pada
pada 95 siswa yang berasal dari kelas X MA Darul kurikulum 2013 untuk materi ikatan kimia.
Huda Ponorogo, MA Al Mawaddah dan MA Al Islam Hasil angket penilaian dan kelayakan handout kimia
Ponorogo. berbasis inkuiri terbimbing yang diperoleh saat uji
Instrumen yang digunakan dalam penelitian lapangan awal, uji lapangan utama, dan uji lapangan
pengembangan ini yaitu angket, soal tes, lembar operasional oleh responden guru sebagaimana tertera
validasi, dan lembar observasi. Pengolahan data dalam dalam tabel. Hasil angket kelayakan handout pada uji
penelitian ini dilakukan dengan menggunakan analisis lapangan awal, uji lapangan utama dan uji lapangan
deskriptif, meliputi analisis kelayakan dan analisis data operasional oleh responden siswa dan guru
prestasi belajar. Metode pengumpulan data dalam sebagaimana tertera dalam Tabel 1 dan Tabel 2.
penelitian ini adalah dengan teknik angket untuk
mengetahui kelayakan handout dari ahli materi dan ahli Tabel 1. Hasil Penilaian Kelayakan Handout Kimia
media serta respon siswa dan guru, teknik observasi berbasis inkuiri terbimbing Oleh Guru pada Semua
untuk mengetahui keterlaksanaan tahapan inkuiri Uji Lapangan
terbimbing, penilaian hasil belajar keterampilan dan No. Uji ∑ Rata- Kategori
sikap, dan teknik tes untuk penilaian hasil belajar Lapangan Respon rata
pengetahuan den skor
Pada tahap pengembangan draf awal handout 1. Awal 1 65 Cukup
diperbaiki/direvisi berdasarkan saran/masukan dari para 2. Utama 2 66 Cukup
ahli. Sebelum diujicobakan handout yang 3. Operasional 4 84,2 Sangat
dikembangkan divalidasi oleh ahli materi, ahli media, Baik
ahli bahasa, ahli pembelajaran, dan praktisi pendidikan
dengan menggunakan formula Aiken.. Validator Tabel 2. Hasil Penilaian Kelayakan Handout Kimia
kelayakan handout berbasis inkuiri terbimbing pada berbasis inkuiri terbimbing Oleh Siswa pada Semua
penelitian ini adalah: (1) Prof. Sulistyo Saputro, M.Si, Uji Lapangan
Ph.D, (2) Dr. M. Masykuri, M.Si, (3) Miranti No. Uji ∑ Rata- Kategori
Sudarmaji, M.Pd, (4) Drs. Rinto Tjatur, dan (5) Lailatus Lapangan Responden rata
Sa’adah S.Si. Kriteria yang digunakan adalah jika CV ≥ skor
0,87 maka handout valid dan dapat dilanjutkan 1. Awal 8 61,125 Baik
analisisnya. 2. Utama 31 61,48 Baik
3. Operasional 95 61,85 Sangat
HASIL DAN PEMBAHASAN Baik
Handout kimia berbasis inkuiri terbimbing
yang telah dikembangkan kemudian divalidasi oleh
ahli materi, ahli media, ahli pembelajaran dan praktisi
308
ISSN : 2527 – 5917, Vol.3

SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN FISIKA 2018


“Implementasi Pendidikan Karakter dan IPTEK untuk Generasi Millenial Indonesia dalam Menuju SDGs 2030“
11 MARET 2018
Berdasarkan Tabel 1 dan Tabel 2 diketahui Nilai rata-rata
Sekolah
bahwa rata-rata skor penilaian kelayakan handout Ketrampilan Sikap
berbasis inkuiri terbimbing mengalami peningkatan MA Darul Huda
pada setiap uji coba baik oleh siswa maupun oleh guru. Ponorogo
Siswa maupun guru menerima handout kimia a.Kelas kontrol 2,62 2,75
berbasis inkuiri terbimbing dengan respon yang baik. b. Kelas 3,30 3,16
Siswa merasa senang dengan adanya handout karena eksperimen
selama ini siswa belum mempunyai buku pegangan Keterangan: Rentang skor 1-4
kimia, khususnya kimia dengan materi ikatan kimia.
Handout ini menarik bagi siswa karena materi yang Untuk mengetahui apakah perbedaan rata-rata skor
diberikan dapat menjadi bekal bagi siswa untuk hasil belajar pengetahuan, ketrampilan dan sikap dari
membantu dengan mudah memahami materi ikatan kelas control dan kelas eksperimen berbeda secara
kimia yang harapannya dapat meningkatkan hasil signifikan, maka dilakukan uji statistik yaitu
belajar siswa pada materi ikatan kimia. Selain itu independent sample t test. Penggunaan uji t ini
handout ini juga sudah dilengkapi dengan gambar- memerlukan uji prasyarat yang harus dipenuhi yaitu uji
gambar (media grafis), karena dengan handout yang normalitas dan homogenitas.
dilengkapi gambar-gambar yang berwarna tentunya Hasil uji statistik tersebut menunjukkan bahwa
dapat menjadikan tampilan handout lebih menarik dan ada perbedaan hasil belajar pengetahuan, ketrampilan
memberikan efek semangat tersendiri kepada siswa. dan sikap antara kelas kontrol dan kelas eksperimen.
Data hasil rata-rata pretest dan posttest dan N-gain Hasil Uji t ditnjukkan pada Tabel 5.
score diperoleh dalam Tabel 3.
Tabel 5. Hasil uji t nilai hasil belajar kelas kontrol
Tabel 3. Rerata hasil pretest, posttest, dan N-gain dan kelas eskperimen
score pada uji lapangan utama Hasil Jenis Uji Nilai Sig. (2-
No Sekolah Rerata Rerata N- Belajar tailed)
Pretest Postest gain MA Darul
score Huda
1. MA Darul Ponorogo
Huda Pengetahu Independe 0,000
Ponorogo an nt sample t H0 ditolak
a. Kelas 29,742 76,968 0,675 Ketrampila Independe 0,000
control n nt sample t H0 ditolak
b. Kelas 31,710 85,710 0,792 Sikap Independe 0,000
eksperimen nt sample t H0 ditolak

Berdasarkan kriteria Hake (1998), kenaikan Pembelajaran menggunakan handout kimia


hasil belajar pada kelas kontrol pada uji lapangan di berbasis inkuiri terbimbing memberikan dampak positif
MA Darul Huda Ponorogo mempunyai kategori terhadap hasil belajar siswa ditinjau dari 3 aspek, yaitu
“sedang”. Sedangkan kenaikan hasil belajar pada kelas pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Hal ini dapat
eksperimen mempunyai kategori “tinggi”. Perbedaan n- dilihat dari peningkatan rata-rata hasil belajar siswa
gain kelas kontrol dan eksperimen tersebut dengan nilai sig < 0,05. Hal ini membuktikan bahwa
menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran terdapat perbedaan yang signifikan antara kelas kontrol
menggunakan handout kimia berbasis inkuiri dan kelas eksperimen.
terbimbing pada materi ikatan kimia mampu Kenaikan hasil belajar tersebut karena
meningkatkan prestasi hasil belajar pengetahuan. penggunaan model inkuiri terbimbing yang terintegrasi
Kenaikan prestasi hasil belajar juga dalam handout ini. Model ini mengkombinasikan antara
ditunjukkan pada aspek sikap dan keterampilan seperti keunggulan pembelajaran kooperatif dan pembelajaran
diperlihatkan pada Tabel 4. dengan bimbingan seorang guru. Hal ini sesuai dengan
yang dikemukakan Uzezi (2017) dalam jurnalnya yang
Tabel 4. Nilai rata-rata hasil belajar siswa pada Uji menjelaskan bahwa pembelajaran dengan
Lapangan Utama menggunakan metode eksperimen inkuiri terbimbing

309
ISSN : 2527 – 5917, Vol.3

SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN FISIKA 2018


“Implementasi Pendidikan Karakter dan IPTEK untuk Generasi Millenial Indonesia dalam Menuju SDGs 2030“
11 MARET 2018
dapat meningkatkan prestasi akademik siswa ahli handout, validator handout dan telah diuji
dibandingkan dengan metode konvensional cobakan kepada pengguna handout pada uji coba
Ciri khas pada tipe inkuiri terbimbing ini awal, uji lapangan dan uji operasional.
adalah setiap siswa secara individual belajar materi 2. Handout kimia berbasis inkuiri terbimbing pada
yang telah disiapkan oleh guru. materi ikatan kimia berdasarkan hasil penilaian
Dalam uji lapangan utama ini keterlaksanaan oleh ahli materi, media, dan bahasa serta
sintaks ikuiri terbimbing diamati oleh seorang guru beberapa praktisi pembelajaran, dapat dinyatakan
sebagai observer pembelajaran. Guru tersebut mengisi sangat layak secara aspek isi, kebahasaan, sajian,
lembar observasi pembelajaran dengan hasil tertera dan kegrafisan dengan skala Aiken V ≥ 0,87 serta
pada Tabel 6. mempunyai kategeori “sangat baik” berdasarkan
hasil respon siswa dan guru sebagai pengguna di
Tabel 6. Hasil observasi Keterlaksanaan Sintaks lapangan pada uji coba terbatas, uji lapangan dan
inkuiri terbimbing dalam Pembelajaran uji operasional.
menggunakan handout kimia berbasis inkuiri 3. Handout kimia berbasis inkuiri terbimbing efektif
terbimbing untuk meningkatkan hasil belajar siswa baik
Pertemuan Ke- pengetahuan, sikap dan keterampilan pada materi
No. Sekolah
1 2 3 ikatan kimia, yang ditunjukkan perbedaan hasil
MA Darul Huda 20 20 24 belajar yang signifikan yaitu kelas eksperimen
1.
Ponorogo mempunyai prestasi belajar lebih tinggi
dibandingkan kelas kontrol.
Hasil observasi menunjukkan bahwa
keterlaksanan sintaks pada pertemuan pertama dan Saran
kedua mempunyai nilai yang sama dan pada pertemuan 1. Saran untuk Guru
ketiga mengalami peningkatan. Hal ini disebabkan Sebelum menerapakan handout kimia berbasis
kekurang siapan guru dan siswa dalam melaksanakan inkuiri terbimbing dalam pembelajaran hendaknya
pembelajaran dengan metode inkuiri terbimbing. Siswa guru memahami karakteristik siswa dan membuat
belum terbiasa dengan pembelajaran berbasis inkuiri pembelajaran lebih kondusif agar proses
terbimbing. Keterlaksanaan sintaks inkuiri terbimbing pembelajaran berjalan dengan lebih efektif.
menunjukkan peningkatan pada hari ke tiga, hal ini 2. Saran untuk Peneliti Lain
dipengaruhi oleh kesiapan guru sendiri dalam menuntun Handout hasil pengembangan hanya terbatas
siswa setapak demi setapak untuk menemukan suatu pada materi ikatan kimia, maka dari itu diperlukan
konsep dalam materi ikatan kimia sesuai dengan sintaks pengembangan handout kimia pada materi
inkuiri terbimbing. berikutnya dengan mempertimbangkan kebutuhan
Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh siswa dan sekolah.
Sofyan (2010) bahwa dalam usaha menemukan suatu
konsep siswa memerlukan bimbingan bahkan DAFTAR PUSTAKA
memerlukan pertolongan guru setapak demi setapak. Aiken, L. 1985. Three Coefficient for Analyzing The
Siswa memerlukan bantuan untuk mengembangkan Reliability and Validity of Ratings. Educational
kemampuannya memahami pengetahuan baru. and Psychological Measurement, 45, 131-142
Walaupun siswa harus berusaha mengatasi kesulitan- Bilgin, Ibrahim. 2009. The Effect of Guided Inquiry
kesulitan yang dihadapi tetapi pertolongan guru tetap Instruction Incorporating A cooperative
Learning Approach on University Students
diperlukan.
Achievement of Acid and Base concept and
Attitude Toward Guided Inquiry Instruction.
PENUTUP Turkey: Scientific Research and Essay, 4 (10),
pp. 1038-1046. ISSN 1992-2248 © 2009
Kesimpulan Academic Journals
Berdasarkan hasil analisis data dan Borg, W.R & Gall, M.D., 2003. Educational Research
pembahasan yang telah dilakukan dapat disimpulkan: : An Introduction. New York : Longman
Brickman P, Gormally C, Norris A, & Brittan H. 2009.
1. Hasil setiap langkah pengembangan handout
Effects of Inquiry-based Learning on Students’
kimia berbasis inkuiri terbimbing adalah Science Literacy Skills and Confidence.
tersusunnya handout kimia yang telah direvisi International Journal for the Scholarship of
berdasarkan saran dan masukkan dari konsultan Teaching and Learning. 3(2) (July 2009)
310
ISSN : 2527 – 5917, Vol.3

SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN FISIKA 2018


“Implementasi Pendidikan Karakter dan IPTEK untuk Generasi Millenial Indonesia dalam Menuju SDGs 2030“
11 MARET 2018
Hake, R.R. 1998. Interactive-Engagement Versus
Traditional Methods: A Six-Thousand-Student
Survey of Mechanics Test Data for Introductory
Physics Couses. American Journal of Physics,
66: 64-74.
Hanafiah, Nanang, dan Cucu, Suhana. 2009. Konsep
Strategi Pembelajaran. PT Refika Aditama
Rohani, A. 1997. Media Instruksional Edukatif. Jakarta:
Rineka Cipta
Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-faktor Yang
Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta. Edisi
Revisi
Sofyan, A. dan Agung, L. (2010). Proses Pembelajaran
Inovatif dalam Kelas, Metode, Landasan Teori,
Praktis, dan Penerapannya. Jakarta: Prestasi
Pustaka
Sudjana, N dan Rivai, A. 2005. Media Pengajaran.
Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Suryani, N dan Agung, L. (2012). Strategi Belajar
Mengajar. Yogyakarta: Ombak
Toharudin. (2011). Membangun Literasi Sains Peserta
Didik. Bandung: Humaniora
Uzezi, J.G. 2017. Effectiveness of Guided-Inquiry
Laboratory Exsperiments on Senior Secondary
Schools Students Academic Achievement in
Volumetric Analysis. American Journal of
Educational Research. 5 (7). 717-724

311