Anda di halaman 1dari 5

Laporan Penent.Kadar Vit.

PENETAPAN KADAR VITAMIN C

A. Tujuan
Tujuan dari percobaan ini adalah agar mahasiswa mampu menetapkan kadar vitamin
C (asam askorbat) secara iodimetri.

B. Landasan Teori
Vitamin C atau asam askorbat merupakan salah satu vitamin yang dibutuhkan oleh
tubuh manusia. Kekurangan vitamin C telah dikenal sebagai penyakit sariawan dengan gejala
seperti gusi berdarah, sakit lidah, nyeri otot dan sendi, berat badan berkurang, lesu, dan lain-
lain. Vitamin C mempunyai peranan yang penting bagi tubuh manusia seperti dalam sintesis
kolagen, pembentukan carnitine, terlibat dalam metabolisme kolesterol menjadi asam empedu
dan juga berperan dalam pembentukan neurotransmitter norepinefrin. Vitamin C memiliki
sifat sebagai antioksidan yang dapat melindungi molekul-molekul yang sangat diperlukan
oleh tubuh, seperti protein, lipid, karbohidrat, dan asam nukleat dari kerusakan oleh radikal
bebas dan reaktif oksigen spesies. Vitamin C juga dibutuhkan untuk memelihara kehamilan,
mengatur kontrol kapiler darah, secara memadai, mencegah hemoroid, mengurangi resiko
diabetes dan lain-lain (Helmi, 2007).
Vitamin C atau L-asam askorbat merupakan senyawa bersifat asam dengan rumus
empiris C6H8O6 (berat molekul = 176,12 g/mol). Kegunaan Vitamin C adalah sebagai
antioksidan dan berfungsi penting dalam pembentukan kolagen, membantu penyerapan zat
besi, serta membantu memelihara pembuluh kapiler, tulang, dan gigi. Konsumsi dosis normal
vitamin C 60 – 90 mg/hari. Vitamin C banyak terkandung pada buah dan sayuran segar.
Vitamin C berperan sebagai antioksidan yang kuat yang dapat melindungi sel dari
agen-agen penyebab kanker, dan secara khusus mampu meningkatkan daya serap tubuh atas
kalsium (mineral untuk pertumbuhan gigi dan tulang) serta zat besi dari bahan makanan lain
vitamin C merupakan vitamin yang larut dalam air dan esensial untuk biosintesis kolagen.
Dalam larutan, kadar bahan yang terlarut (solut) dinyatakan dengan konsentrasi.
Istilah ini berarti banyaknya massa yang terlarut dihitung sebagai berat (gram) tiap satuan
volume (mililiter) atau tiap satuan larutan, sehingga satuan kadar seperti ini adalah
gram/mililiter. Cara ini disebut dengan cara berat/volume atau b/v. Disamping cara ini, ada
cara yang menyatakan kadar dengan gram zat terlarut tiap gram pelarut atau tiap gram larutan
yang disebut dengan cara berat/berat atau b/b. Secara matematis, perhitungan kadar suatu
senyawa yang ditetapkan secara volumetri dapat menggunakan rumus-rumus umum berikut.
Jika sampelnya padat (sampel ditara dengan timbangan analitik) maka rumus untuk
menghitung kadar adalah sebagai berikut:
Kadar (% b/b) = x 100%
Jika sampelnya cair (sampel diambil secara kuantitatif misal dengan menggunakan pipet
volum) maka rumus untuk menghitung kadar adalah sebagai berikut:
Kadar (% b/v) = x 100%
Berat ekivalen (BE) sama dengan berat molekul sampel dibagi dengan valensinya (Rohman,
2007).

C. Alat dan Bahan


 Alat
Alat-alat yang dipakai pada percobaan ini adalah
1. Statif
2. Klem
3. Buret 50 mL
4. Erlenmeyer 250 mL
5. Labu takar 1000 mL
6. Gelas piala
7. Gelas ukur 50 mL
8. Pipet tetes
9. Timbangan
 Bahan
Bahan-bahan yang dipakai pada percobaan ini adalah
1. Akuades
2. Larutan Iodium 0,1N
3. Asam sulfat encer
4. Larutan kanji 0,5%
D. Prosedur Kerja

Vitamin C
4000 mg

- dilarutkan dalam 100 ml air dan 25 ml asam sulfat encer


- ditirasi dengan iodium 0,1 N menggunakan indikator kanji
- dihitung kadar vitamin C-nya

Kadar Vitamin C = 0,066%

E. Hasil Pengamatan
Hasil pegamatan dalam penentuan kadar vitamin C adalah sebagai berikut
Diketahui : - Volume I2 = 0,3 ml
- Normalitas I2 = 0,1N
- Berat ekivalen = 8,806 mg
- Berat sampel = 0,4 gram = 400 mg
Ditanya/ penyelesaian:
Kadar Vitamin C = x 100%
= x 100%
= 0,066%

F. Pembahasan
Vitamin merupakan senyawa organik kompleks yang esensial untuk pertumbuhan dan
fungsi biologis yang lain bagi mahluk hidup. Berhubung vitamin tidak disintesa dalam tubuh
maka vitamin harus ada dalam makanan yang dikonsumsi. Vitamin C telah banyak dikenal
berkaitan dengan perlindungan terhadap flu. Buah yang kaya akan vitamin C merupakan
antioksidan kuat yang dapat melindungi DNA selular dari kerusakan akibat oksidasi. Vitamin
C atau asam askorbat mempunyai berat molekul 178 dengan rumus molekul C6H8O6. Dalam
bentuk kristal tidak berwarna, titik cair 190-192oC, bersifat larut dalam air sedikit larut dalam
aseton atau alcohol yang mempunyai berat molekul rendah.
Vitamin C sukar larut dalam chloroform, ether, dan benzene. Pada pH rendah vitamin C lebih
stabil daripada pH tinggi. Vitamin C mudah teroksidasi, lebih-lebih apabila terdapat
katalisator Fe, Cu, enzim askorbat oksidase, sinar, temperatur yang tinggi. Askorbat
ditemukan dalam banyak buah-buahan dan sayuran (75). Buah-buahan dan jus jeruk, kaya
sumber terutama vitamin C. Di banyak negara berkembang, pasokan vitamin C sering
ditentukan oleh faktor musiman (misalnya ketersediaan air, waktu, dan tenaga kerja untuk
orang itu pengelolaan taman rumah tangga dan musim panen singkat banyak buah-buahan).
Praktikum analisa kuantitatif vitamin C dalam sampel dilakukan dengan
menggunakan metode titrasi iodimetri (titrasi langsung). Hal ini berdasarkan bahwa sifat
vitamin C dapat bereaksi dengan iodin. Penentuan ini dilakukan dengan menggunakan larutan
I2 0,1 N sebagai titran. Sampel yang dipergunakan saat praktikum adalah minuman penyegar
untuk panas dalam dengan kemasan yang banyak dijual di pasaran dengan merk dagang adem
sari. Dalam kemasan minuman disebutkan bahwa dalam minuman tersebut kaya akan vitamin
C.
Vitamin C atau asam bersifat larut dalam air dan sedikit larut dalam aseton atau
alkohol yang mempunyai berat molekul rendah. Akan tetapi vitamin C sukar larut dalam
pelarut organic yang pada umumnya dapat melarutkan lemak.
Titrasi iodimetri dilakukan dengan menggunakan larutan kanji sebagai indikator. Seperti
yang sudah diketahui bahwa prinsip dari titrasi iodimetri adalah reduksi analat oleh I2
menjadi I-. Iod merupakan oksidator yang tidak terlalu kuat, sehingga hanya zat-zat yang
merupakan reduktor yang cukup kuat yang dapat dititrasi. Sehingga penerapannya tidak
terlalu luas, salah satu penerapan titrasi dengan metode iodimetri adalah pada penentuan
bilangan iod minyak dan lemak juga vitamin C.
Sample yang ditimbang saat praktikum adalah 0,4 g. Sample ditimbang langsung dan
diencerkan dengan menggunakan aquadest sampai tanda batas. Setelah itu, sampel dikocok
sampai homogen dan dimasukan dalam erlenmeyer, kemudian ditambahkan larutan kanji
0,5% sebagai indikator sebanyak 3 tetes. Setelah itu dititrasi dengan menggunakan I2 0,1 N.
Proses titrasi dilakukan sampai larutan dalam erlenmeyer berubah warna menjadi biru, warna
biru yang dihasilkan merupakan iod-amilum yang menandakan bahwa proses titrasi telah
mencapai titik akhir. Akan tetapi, pada praktikum yang telah dilakukan, tidak terbentuk
warna biru yang menandakan titik akhir titrasi. Warna yang tampak adalah warna hitam
setelah dititrasi beberapa tetes I2. Hal ini disebabkan pada kesalahan dalam pembuatan
indikator kanji.
Berdasarkan hasil praktikum, volume titrasi pada sampel adem sari adalah0,3 ml.
Sehingga berdasarkan perhitungan menggunakan rumus maka kadar vitamin C dalam sampel
adem sari adalah 0,066%.

F. Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, diperoleh kesimpulan bahwa kadar
vitamin C pada adem sari sebesar 0,066%.

Daftar Pustaka

Pratama, A., Darjat, Setiawan I. 2007. ‘Aplikasi Lab View sebagai Pengukur Kadar Vitamin C dalam
Larutan Menggunakan metode Titrasi Iodimetri’. Jurnal. Jurusan teknik elektro Universitas
Diponegoro.

Arifin, H., Delvita, V., Almahdi A. 2007. ‘Pengaruh Pemberian Vitamin C terhadap Fetus pada Mencit
Diabetes’. Jurnal Sains dan Teknologi Farmasi Volume 12 No. 1 halaman: 32-40.
Akreditasi Dikti Depdiknas RI No. 49/DIKTI/Kep/2003. ISSN: 1410-0177.

Rachmawati, R., Defiani,M., Suriani, N. ‘Pengaruh Suhu dan Lama Penyimpanan terhadap Kandungan
Vitamin C pada Cabai Rawit Putih (Capsicum frustences)’. Jurnal Biologi Volume 2
halaman:36– 40. Yogyakarta.

Rohman, Abdul. 2007. Kimia Analisis Farmasi. Digi Art Yogya. Pustaka Pelajar: Yogyakarta.