Anda di halaman 1dari 3

Trigger case

Posyandu lansia di desa X dengan jumlah keseluruhan lansia sebanyak 35 orang (15 laki-laki dan
20 perempuan). Di posyandu ini banyak ditemukan masalah kesehatan seperti hipertensi pada
sebagian besar lansia. Kondisi hipertensi yang dialami oleh lansia ini kebanyakan oleh konsumsi
obat antihipertensi yang tida teratur. Banyak dari mereka yang tidak didampingi oleh anak nya
dalam mengkonsumsi obatnya sehingga terkadang lupa atau bahkan malas untuk minum.
Kebanyakan lansia juga jarang pergi ke posyandu untuk melakukan kontrol
Analisis Situasi
1. Diagnosis masalah
Fase 1: Diagnosis Sosial
Berdasarkan data yang di dapatkan pada bulan oktober di panti werdha X
ditemukan sebagian besar masalah kesehatan yang dialami lansia adalah hipertensi. Peran
dari anak kurang sehingga pengawasan dalam meminum obat juga kurang dan lansia
jarang ada yang mau kontrol. Pemeriksaan rutin di desa X berjalan setiap bulan.
Fase 2: Diagnosis Epidemiologi
a. Umur
Penderita hipertensi di posyandu lansia di desa X adalah:
Usia 65 tahun: 15 orang
Usia 68 tahun: 10 orang
Usia 70 tahun: 5 orang
Usia 76 tahun: 5 orang
b. Jenis Kelamin
Penderita hipertensu di posyandu lansia di desa X adalah:
Laki-laki: 7 orang
Perempuan: 10 siswa
c. Morbiditas
Dari hasil survei ditemukan bahwa setiap kali pemeriksaan rutin sebulan sekali,
tekana darah lansia masih tinggi.
d. Tanda dan gejala
Lansia yang mengalami hipertensi menunjukkan tanda nyeri kepala dan sulit
melakukan aktivitasnya ketika hipertensi nya kambuh.
e. Penanggulangan
Pihak posyandu telah mengimbau kepada para lansia maupun wali dari lansia tersebut
agar memperhatian konsumsi obatnya serta di perhatikan juga jenis makanan yang
dikonsumsi oleh lansia tersebut. Seharusnya menghindari makanan-makanan yang
memicu tekanan darah tinggi. Selain itu, lansia dihimbau agar selalu rutin kontrol
setiap bulan di posyandu.
f. Mortalitas
Tidak ditemukannya lansia yang meninggal akibat hipertensi.
Fase 3: Diagnosis Perilaku Dan Lingkugan
a. Perilaku kesehatan dan masalah lingkungan (fisik dan psikososial)
Menurut hasil observasi pada lingkungan posyandu di desa X, posyandu tersebut
memiliki lingkungan yang bersih, tidak ada sampah berserakan, dan ruangan dalam
posyandu pun bersih.
b. Indikator perilaku:
1. Pemanfaatan pelayanan kesehatan yang ada
Kepatuhan lansia dalam minum obat dan berobat ke posyandu kurang
2. Upaya preventif
Tindakan pencegahan yaitu terdapat himbauan dari posyandu agar lansia teratur
mengonkomsi obat dan rutin kontrol ke posyandu.
3. Upaya pemeliharaan kesehatan sendiri
Rendahnya kesadaran lansia dalam pentingnya konsumsi obat antihipertensi dan
kontrol setiap bulan.
Fase 4: Diagnosis Pendidikan Organisasional
a. Faktor predisposisi
Rendahnya kesadaran lansia dalam pentingnya konsumsi obat antihipertensi dan
kontrol setiap bulan
b. Faktor pemungkin
Rendahnya perhatian lansia terhadap pentingnya konsumsi obat antihipertensi dan
pentingnya periksa setiap bulan untuk mnegetahui progress kesehatannya.
c. Faktor penguat
Belum adanya pendidikan kesehatan mengenai pentingnya mengontrol hipertensi
pada lansia
Fase 5: Diagnosis Administratif dan Kebijakan
Dalam menangani permasalahan ini, program Kesehatan dari posyandu harus
kembali dijalankan secara optimal dan melakukan kerjasama dengan pihak lain seperti
puskemas untuk memberikan edukasi tentang pentingnya mengontrol hipertensi pada
posyandu di desa X. Selain itu perlu diadakan pendidikan kesehatan kepada keluarga
mengenai pentingnya mengkonsumsi obat antihipertensi dan kontrol setiap bulan untuk
mencegah keparahan dari hipertensi tersebut. Namun, yang menjadi hambatan dalam
program ini adalah kurangnya kesadaran serta pengetahuan lansia dan keluarga mengenai
hal tersebut.
2. Menetapkan Prioritas Masalah
Masalah yang perlu ditangani terlebih dahulu untuk menangani hipertensi di
posyandu desa X adalah meningkatkan kesadaran tentang pentingnya konsumsi obat anti
hipertensi dengan memberikan edukasi kepada lansia dan keluarga tentang pentingnya
konsumsi obat anti hipertensi serta pentingnya melakukan check-up kesehatan.