Anda di halaman 1dari 9

Analisis Peran Akuntan Publik dalam Mendeteksi Fraud Terhadap

Kasus PT Sunprima Nusantara Pembiayaan

Disusun oleh :
Bella Ariandini 1506677805
Fairudz Kamila 1506677881
Rinanda Maulida Johan 1506677780
Sara Andriana 1506678083
Yolanda Marpaung 1506750365

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK
2018
Statement of Authorship
Kami yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa makalah/tugas terlampir adalah
murni hasil pekerjaan saya/kami sendiri. Tidak ada pekerjaan orang lain yang kami gunakan
tanpa menyebutkan sumbernya.
Materi ini tidak/belum pernah disajikan/digunakan sebagai bahan untuk makalah/tugas pada
mata ajaran lain kecuali kami menyatakan dengan jelas bahwa kami menyatakan dengan jelas
bahwa kami menyatakan menggunakannya.
Kami memahami bahwa tugas yang kami kumpulkan ini dapat diperbanyak dan atau
dikomunikasikan untuk tujuan mendeteksi adanya plagiarisme.
Mata ajaran : Audit Internal
Judul makalah/tugas : Analisis Kasus PT Sunprima Nusantara Pembiayaan
Tanggal : 7 Oktober 2018
Dosen : Dr. Aria Farah Mita S.E., M.S.M / Robert Porhas Tobing S.E., MBA.

Rinanda Maulida J. Bella Ariandini


1506677780 1506677805

Sara Andriana
1506678083

Fairudz Kamila. ​Yolanda Marpaung


1506677881 1506750365

1
1. Pembahasan Materi Fraud
Fraud ​adalah suatu istilah yang didefinisikan sebagai tindakan pengambilan uang
​ erupakan tindakan otorisasi
atau properti dengan bukti palsu. Secara singkat, ​fraud m
dokumen secara tidak benar yang dilakukan oleh seseorang dan berakibat pada adanya
perpindahan uang secara tidak benar pula. OJK sendiri mendefinisikan ​fraud s​ ebagai
suatu tindakan penyimpangan yang dilakukan secara sengaja untuk menguntungkan
pihak tertentu dan menyebabkan kerugian terhadap perusahaan. Tindakan ​fraud t​ elah
menjadi suatu hak yang kerap kali terjadi dalam perusahaan. Kerugian yang ditimbulkan
oleh tindakan ini juga cukup besar, sehingga perusahaan melakukan kontrol untuk
mencegah terjadinya tindakan tersebut.
Kontrol internal yang efektif menjadi tameng bagi perusahaan dalam mengatasi
hal ini. Dengan implementasi kontrol internal yang komprehensif dan monitor yang
dilakukan secara berkala, kemungkinan terjadinya ​fraud d​ apat diminimalisir. Dalam hal
ini, yang paling banyak terlibat adalah auditor internal dan eksternal. Mereka berperan
dalam menjalankan investigasi untuk menentukan cakupan dari ​fraud y​ ang dilaporkan
tersebut. Sehingga, dapat dilihat bahwa auditor internal maupun eksternal bertanggung
jawab dalam mendeteksi terjadinya ​fraud ​dan melaporkannya kepada pihak yang
berwenang.
2. Kasus PT Sunprima Nusantara Pembiayaan
SNP Finance merupakan bagian dari Columbia, toko yang menyediakan
pembelian barang secara kredit. Dalam kegiatannya SNP Finance mendapatkan dukungan
pembiayaan pembelian barang yang bersumber dari kredit perbankan. SNP Finance
sebenarnya sudah menjadi nasabah Bank Mandiri selama 20 tahun. Namun, itikad buruk
baru ditujukan perusahaan pembiayaan tersebut beberapa bulan terakhir. Saat ini,
pinjaman macet perseroan ke anak perusahaan Columbia Group tersebut mencapai Rp1,2
triliun. Menteri Keuangan Sri Mulyani sebelumnya telah menjatuhkan sanksi
administratif kepada kantor akuntan publik yang diketahui melakukan pelanggaran dalam
prosedur audit atas laporan keuangan PT Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP)
Finance tahun buku 2012 hingga 2016. Sanksi administrasi diberikan setelah memperoleh

2
pengaduan dari OJK. Kantor akuntan publik tersebut, yakni Akuntan Publik Marlinna,
Akuntan Publik Merliyana Syamsul, dan Kantor Akuntan Publik (KAP) Satrio Bing, Eny
& Rekan (Deloitte Indonesia).
PT Bank Mandiri Tbk. telah menurunkan tim audit investigatif untuk menelusuri
duduk perkara hingga bank terbesar tersebut terancam merugi hingga Rp 1,4 triliun
akibat pembobolan oleh SNP Finance. Modus yang dilakukan SNP Finance adalah
pengajuan kredit fiktif untuk biaya modal kerja. Selain Bank Mandiri, SNP Finance juga
melakukan modus yang sama terhadap beberapa bank dengan total uang yang dibawa
kabur senilai Rp 14 triliun. Perusahaan mengajukan fasilitas kredit modal kerja kepada
sejumlah bank untuk memodali kegiatan usahanya. Namun, status kreditnya macet.
Berdasarkan hasil penyelidikan, perusahaan diduga memalsukan dokumen, penggelapan,
penipuan. Pada 14 Mei 2018, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga telah dijatuhi sanksi
Pembekuan Kegiatan Usaha (PKU). Juru Bicara OJK Sekar Putih Djarot menyebut jika
perusahaan tidak dapat memenuhi ketentuan hingga berakhirnya jangka waktu PKU,
maka sesuai dengan ketentuan POJK 29, izin usahanya akan dicabut.
3. Pelanggaran yang dilakukan PT Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP Finance)
SNP Finance yang sudah selama belasan tahun menjadi debitur Bank Mandiri,
hingga beberapa bulan sebelum kasus terjadi, memiliki catatan yang baik dengan kualitas
kreditnya yang lancar. Hal ini menjadi pendukung utama bagi banyak bank untuk
kemudian ikut memberikan pembiayaan kepada SNP Finance sehingga pada saat kasus
terbongkar, 14 bank menjadi korban ​fraud y​ ang dilakukan SNP Finance. Dalam hal ini,
Bank Mandiri melihat permasalahan yang berkaitan dengan SNP Finance dan beberapa
perbankan saat ini bukan semata-mata disebabkan oleh ketidak hati-hatian perbankan
dalam penyaluran kredit, mengingat saat ini regulator telah menetapkan rambu-rambu
yang sangat ketat bagi perbankan dalam penyaluran kredit.
Pelanggaran yang dilakukan SNP FInance salah satunya adalah adanya itikad
tidak baik dari pengurus SNP Finance untuk menghindari kewajiban mereka, dilihat dari
bukti di mana SNP Finance langsung mengajukan Penundaan Kewajiban Pembayaran

3
Utang (PKPU) setelah kualitas kreditnya menurun. Hal ini dianggap sebagai tindakan
memanfaatkan celah dari ketentuan hukum mengenai kepailitan.
Selain itu, KAP Satrio Bing, Eny & Rekan (Deloitte Indonesia) mengaku bahwa
SNP Finance menerbitkan ​Medium Term Notes (MTN) menggunakan laporan audit atas
laporan keuangan SNP dari KAP Satrio Bing, Eny & Rekan sebagai rujukan tanpa
pemberitahuan dan persetujuan KAP terkait, sedangkan SNP Finance juga menggunakan
rujukan laporan audit tahun 2016 untuk penerbitan MTN yang dilakukan pada tahun 2017
dan 2018 di mana pada kedua tahun tersebut laporan audit dari KAP SBE Deloitte
Indonesia tidak terbit. Padahal, sesuai surat perikatan audit, jika SNP Finance akan
mencantumkan nama KAP SBE Deloitte Indonesia dalam dokumen apa pun, harus
dengan pemberitahuan dan persetujuan dari KAP tersebut.
Namun tentunya, pelanggaran utama yang dilakukan SNP Finance adalah
rekayasa laporan keuangan perusahaan yang mencoreng prinsip kewajaran dalam
penyusunan laporan keuangan. Perusahaan juga ditemukan bahwa tidak pernah dilakukan
rekonsiliasi antar bank yang diikuti dengan sistem dan proses yang tidak sempurna.
Bukan hanya dari SNP Finance, terdapat juga beberapa pelanggaran yang
dilakukan oleh KAP yang melakukan audit ​general ​terhadap SNP Finance yaitu KAP
Satrio Bing, Eny & Rekan (Deloitte Indonesia). Pusat Pembinaan Profesi Keuangan
(PPPK) telah melakukan analisis pokok permasalahan dan menyimpulkan bahwa terdapat
indikasi pelanggaran terhadap standar profesi akuntan. Hasil pemeriksaan menyimpulkan
bahwa Akuntan Publik Marlinna dan Merliyana Syamsul belum sepenuhnya mematuhi
Standar Audit-Standar Profesional Akuntan Publik dalam pelaksanaan audit umum atas
laporan keuangan SNP Finance. Hal-hal yang belum sepenuhnya terpenuhi adalah
pemahaman pengendalian sistem informasi terkait data nasabah dan akurasi jurnal
piutang pembiayaan, pemerolehan bukti audit yang cukup dan tepat atas akun Piutang
Pembiayaan Konsumen.
Selain itu, belum adanya kewajaran asersi keterjadian dan asersi pisah batas akun
pendapatan pembiayaan, pelaksanaan prosedur yang memadai terkait proses deteksi
risiko kecurangan serta respons atas risiko kecurangan, dan skeptisisme profesional

4
dalam perencanaan dan pelaksanaan audit. Serta sistem pengendalian mutu yang dimiliki
oleh KAP mengandung kelemahan karena belum dapat melakukan pencegahan yang
tepat atas ancaman kedekatan, salah satunya adalah pengujian yang dilakukan terhadap
SNP Finance tidak sampai pada dokumen dasar.
4. Langkah yang diambil Regulator
Pada 18 Mei 2018, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengeluarkan siaran pers
terkait pembekuan kegiatan usaha kepada SNP Finance. SNP Finance sendiri telah
diberikan peringatan pertama hingga peringatan ketiga karena tidak memenuhi ketentuan
Pasal 53 POJK 29/2104 yang menyatakan bahwa “Perusahaan Pembiayaan dalam
melakukan kegiatan usahanya dilarang menggunakan informasi yang tidak benar yang
dapat merugikan kepentingan debitur, kreditur, dan pemangku kepentingan, termasuk
OJK”. Pasca dikeluarkannya peringatan tersebut, PEFINDO, selaku lembaga
pemeringkat menarik peringkat SNP Finance dan surat utang yang diterbitkan. Sanksi ini
dikeluarkan karena perusahaan belum menyampaikan keterbukaan informasi kepada
seluruh kreditur dan pemegang ​Medium Term Notes ​(MTN) sampai dengan berakhirnya
batas waktu sanksi peringatan ketiga. Seperti yang kita ketahui, perusahaan mengajukan
penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) mencapai Rp 4,07 Triliun, yang terdiri
dari pinjaman perbankan senilai Rp 2,2 Triliun dan ​medium term notes s​ enilai Rp 1,85
Triliun​. ​Perusahaan ini juga telah gagal bayar bunga MTN V Tahap II senilai Rp 5,25
Miliar dan bunga MTN III Seri B senilai Rp 1,5 Miliar, di mana keduanya jatuh tempo
pada 9 dan 14 Mei 2018.
Dengan dibekukannya kegiatan usaha SNP Finance, perusahaan ini dilarang
melakukan kegiatan usaha pembiayaan dan apabila melanggar akan dicabut izin
usahanya. OJK juga mengambil langkah-langkah pengawasan (​mandatory supervisory
actions)​ dengan melarang perusahaan mengambil keputusan dan atau melakukan
tindakan yang dapat memperburuk kondisi keuangan perusahaan, antara lain:
a. Menggunakan dana keuangan perusahaan dan/atau melakukan transaksi yang tidak
wajar
b. Menambah penerbitan surat utang dalam bentuk apapun termasuk MTN

5
c. Mengambil tindakan dan/atau perbuatan hukum yang memperburuk kondisi
perusahaan
d. Melakukan pergantian pengurus perusahaan tanpa persetujuan OJK
Sementara itu, KAP Satrio, Bing, Eny dan Rekan (Deloitte) dinilai telah lalai
dalam melakukan pelaksanaan auditnya, dimana PT SNP terindikasi telah menyajikan
laporan keuangan yang secara signifikan tidak sesuai dengan kondisi keuangan yang
sebenarnya namun mendapat opini Wajar Tanpa Pengecualian dari Deloitte. Maka pada 1
Oktober 2018, OJK mengenakan sanksi administratif berupa pembatalan pendaftaran
kepada Akuntan Publik (AP) Marlinna dan Merliyana Syamsul, serta KAP Satrio, Bing,
Eny dan Rekan. OJK mengenakan sanksi tersebut dengan pertimbangan bahwa Deloitte:
a. Telah memberikan opini yang tidak mencerminkan kondisi perusahaan yang
sebenarnya
b. Besarnya kerugian industri jasa keuangan dan masyarakat yang ditimbulkan atas
opini kedua AP tersebut terhadap laporan keuangan PT SNP
c. Menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap sektor jasa keuangan akibat dari
kualitas penyajian laporan keuangan tahunan audit oleh akuntan publik
Pengenaan sanksi terhadap AP dan KAP oleh OJK mengingat laporan audit
tersebut digunakan oleh SNP untuk mendapatkan kredit dari bank dan menerbitkan MTN
yang berpotensi gagal bayar atau menjadi kredit bermasalah. Setelah mengenakan sanksi
ini pada SNP dan Deloitte, OJK secara aktif melakukan pemantauan terhadap SNP
Finance lewat tim audit internal bank yang melakukan investigasi. OJK terus melakukan
upaya yang sistematis guna menciptakan stabilitas industri ​multifinance ​yang kuat dan
dipercaya masyarakat.
5. Kesimpulan
Dalam ISA 200 (​Overall Objective of the Independent Auditor and the Conduct of
an Audit), d​ ijelaskan bahwa “auditor eksternal bertanggung jawab untuk memberikan
reasonable assurance bahwa laporan keuangan yang diaudit bebas dari salah saji
material, baik disebabkan oleh kesalahan atau penipuan.” Namun, dalam kasus PT SNP
ini terlihat bahwa akuntan publik tidak mencerminkan hal tersebut dan telah melakukan

6
pelanggaran berat. Dalam hal ini AP dari KAP Satrio, Bing, Eny dan Rekan dan
menyatakan opini Wajar Tanpa Pengecualian. Namun demikian, berdasarkan hasil
pemeriksaan OJK, PT SNP terindikasi telah menyajikan Laporan Keuangan yang secara
signifikan tidak sesuai dengan kondisi keuangan yang sebenarnya sehingga menyebabkan
kerugian banyak pihak.
Hal tersebut melanggar POJK Nomor 13/POJK.03/2017 Tentang Penggunaan
Jasa Akuntan Publik Dan Kantor Akuntan Publik, antara lain dengan pertimbangan: telah
memberikan opini yang tidak mencerminkan kondisi perusahaan yang sebenarnya,
besarnya kerugian industri jasa keuangan dan masyarakat yang ditimbulkan atas opini
kedua AP tersebut terhadap LKTA PT SNP, dan menurunnya kepercayaan masyarakat
terhadap sektor jasa keuangan akibat dari kualitas penyajian LKTA oleh akuntan publik.
Akibat hal ini OJK memberikan sanksi administratif berupa pembatalan
pendaftaran kepada Akuntan Publik Marlinna, Akuntan Publik Merliyana Syamsul dan
Kantor Akuntan Publik Satrio Bing Eny dan Rekan dalam mengaudit sektor perbankan,
pasar modal dan IKNB ​selama satu tahun berlaku tanggal 16 September 2018 hingga 15
September 2019. Selain itu, KAP Satrio Bing Eny dan Rekan dikenakan sanksi berupa
rekomendasi untuk membuat kebijakan dan prosedur dalam sistem pengendalian mutu
KAP terkait ancaman kedekatan anggota tim perikatan senior sebagaimana disebutkan di
atas. KAP juga diwajibkan mengimplementasikan kebijakan dan prosedur dimaksud dan
melaporkan pelaksanaannya paling lambat 2 Februari 2019. Maka dari itu, perlu
diperhatikan kembali bagi AP untuk ​mematuhi Standar Audit-Standar Profesional
Akuntan Publik dalam pelaksanaan audit umum atas laporan keuangan dan
mengedepankan profesional skeptisme.

7
Daftar Pustaka

“Siaran Pers OJK Bekukan Kegiatan Usaha PT Sunprima Nusantara Pembiayaan.” ​Siaran Pers​,
www.ojk.go.id/id/berita-dan-kegiatan/siaran-pers/Pages/Siaran-Pers-OJK-Bekukan-Kegiata
n-Usaha-PT-Sunprima-Nusantara-Pembiayaan.aspx.

“Siaran Pers OJK Kenakan Sanksi terhadap Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik
Auditor PT Sunprima Nusantara Pembiayaan”, ​Siaran Pers,
https://www.ojk.go.id/id/berita-dan-kegiatan/siaran-pers/Pages/Siaran-Pers-OJK-Kenak
an-Sanksi-terhadap-Akuntan-Publik-dan-Kantor-Akuntan-Publik-Auditor-PT-Sunprima-
Nusantara-Pembiayaan.aspx​.

https://www.hukumonline.com/berita/baca/lt5bb38917257f0/belajar-dari-kasus-pt-snp-berimb
as-pencabutan-izin-akuntan-publik​ diakses pada 6 Oktober 2018 pukul 16.25 WIB

https://bisnis.tempo.co/read/1131969/ojk-beri-sanksi-akuntan-dan-kantor-akuntan-publik-audi
tor-pt-snp​ diakses pada 6 Oktober 2018 pukul 16.30 WIB

https://www.liputan6.com/bisnis/read/3653257/begini-awal-mula-kasus-snp-finance-yang-rug
ikan-14-bank​ diakses pada 6 Oktober 2018 pukul 16.30 WIB

https://www.cnbcindonesia.com/market/20180802101243-17-26563/ada-apa-dengan-deloitte-
dan-snp-finance-ini-penjelasannya​ diakses pada 6 Oktober 2018 pukul 22.37 WIB

https://keuangan.kontan.co.id/news/kasus-snp-finance-sri-mulyani-resmi-jatuhkan-sanksi-ke-
deloitte-indonesia​ diakses pada 6 Oktober 2018 pukul 22.40 WIB

https://www.hukumonline.com/berita/baca/lt5829aca28a189/perbankan-digerogoti-fraud-dari-
dalam​ diakses pada 7 Oktober 2018 pukul 16.56 WIB