Anda di halaman 1dari 22

A.

LATAR BELAKANG

Jakarta sebagai Ibukota Negara Republik Indonesia sebagaimana ditetapkan

dalam Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2007 tentang Pemerintahan Provinsi Daerah

Khusus Ibukota Jakarta sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki

kedudukan, peran serta fungsi yang sangat luas dalam konteks internasional, nasional,

regional dan lokal. Di samping itu, Jakarta sendiri sebagai suatu daerah dan sebagai

suatu kota metropolis harus mampu menyelenggarakan pembangunan guna dapat

meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya sekaligus dapat menjadi cerminan citra

budaya bangsa Indonesia. Sebagai konsekuensi dari kedudukan ini maka disadari

bahwa kota Jakarta secara menerus mengalami perkembangan yang sangat dinamis

dalam bidang sosial, ekonomi dan politik. Perkembangan ini telah berpengaruh pula

kepada sistem dan struktur perekonomian, sosial dan politik yang berakibat kepada

perubahan fisik kotanya. Dari perkembangan ini telah muncul nilai-nilai baru serta

kebutuhan akan perubahan sistem dan struktur dari yang sebelumnya. 1

Seiring dengan pertumbuhan penduduk, Pemerintah dituntut untuk mampu

menyediakan berbagai kebutuhan dan sarana-sarana yang dibutuhkan. Sebagaimana

halnya di Indonesia, negara dituntut untuk berperan lebih jauh dalam melakukan

campur tangan terhadap aspek pemenuhan kebutuhan masyarakat dalam jangka

mewujudkan kesejahteraan rakyatnya. Adanya campur tangan yang dilakukan oleh

pemerintah tersebut bukan berarti bahwa masyarakat Indonesia berpangku tangan,

tanpa peran dan partisipasi sama sekali. Pemerintah sebagai pemegang otoritas

kebijakan publik yang harus memainkan peranan yang penting untuk memotivasi

1
Penjelasan Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2030
1
seluruh kegiatan dan partisipasi masyarakat, dengan melalui berbagai penyediaan

fasilitas agar berkembangnya kegiatan perekonomian sebagai lahan masyarakat dalam

pemenuhan kebutuhannya sendiri.2

Pada dasarnya semua manusia bebas, sama dan merdeka, tak seorang pun

dapat ditempatkan diluar hak milik dan tunduk pada kekuasaan politik terhadap

kekuasaan lain tanpa persetujuannya 3. Namun dengan semakin berkembangnya kota

Jakarta sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia berimplikasi kepada

perubahan pemanfaatan dan penggunaan ruang sehingga struktur dan pola ruang

Provinsi DKI Jakarta akan memerlukan penyesuaian dengan mengingat salah satu hal

utama yakni Sebagai Kota pada daerah delta dengan 13 aliran sungai dan dipengaruhi

oleh pasang surut, pengembangan Jakarta perlu memperhatikan tantangan dan

kendala daerah delta melalui pengelolaan tata air, analisa resiko bencana, dan

perbaikan ekosistem. Dengan demikian, Jakarta adalah sebuah kota Delta (delta city).

Delta city sendiri dapat diartikan sebagai sebuah kota yang berada pada mulut sungai

(muara sungai) yang umumnya beberapa kawasannya berada dibawah permukaan laut

dan dengan adanya perubahan iklim akan semakin terancam. Walaupun demikian,

keberadaan sungai dan laut menyebabkan sebuah delta city memeiliki keunggulan
4
strategis karena kemudahan transportasinya.

Dalam mengantisipasi perkembangan tersebut serta untuk menjaga

kelanggengan pemanfaatan dan penggunaan ruang secara optimum, akan diperlukan


2
I. Supardi, Lingkungan Hidup dan Kelestariannya, Bandung: Alumni, 1985, hlm. 63.

3
John Locke, The Second Treatise Of Government (Indianapolis: The Liberal Art Press Inc, 1952), at 54-
73, Dalam Satya Arinanto, Politik Hukum 1, (Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Edisi Pertama,
Jakarta: 2008), hal.3.
4
Penjelasan Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2030
2
adanya suatu perangkat perencanaan, yaitu RTRW DKI Jakarta 2030, yang dapat

mengatur, mengarahkan dan mengendalikan pembangunan kota Jakarta sesuai

dengan dinamika perkembangan tersebut serta sesuai dengan ketentuan di dalam

Undang Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang mengenai perlunya

penataan ruang yang penyelenggaraannya berdasarkan asas : 5

a. keterpaduan;

b. keserasian, keselarasan, dan keseimbangan;

c. keberlanjutan;

d. keberdayagunaan dan keberhasilgunaan;

e. keterbukaan;

f. kebersamaan dan kemitraan;

g. pelindungan kepentingan umum;

h. kepastian hukum dan keadilan; dan

i. akuntabilitas.

Sebagai suatu negara hukum modern yang dianggap mempunyai kewajiban

yang lebih luas, negara modern harus mengutamakan kepentingan seluruh

masyarakatnya.6 Dalam pembangunan di Jakarta harus memiliki suatu perencanaan

atau konsep tata ruang atau yang sering disebut master plan. Konsep tersebut

5
Ibid, Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2030

6
Sudargo Gautama, Pengertian Tentang Negara Hukum, Bandung: Alumni, 1983, hlm. 10.
3
digunakan sebagai arahan dan pedoman dalam melaksanakan pembangunan sehingga

apabila dikemudian hari terjadi permasalahan antara lain permasalahan lingkungan

hidup dapat diminimalisir.

Salah satu bentuk pemanfaatan yang terkait tata ruang yaitu pemanfaatan

daratan yang berupa penggunaan lahan pertanahan untuk pembangunan masyarakat.

Tata guna lahan pertanhan terdiri dari tata guna sebagai suatu keadaan mengenai

penggunaan tanah dan tata guna tanah sebagai suatu rangkaian kegiatan. 7 Namun

seiring berjalannya waktu erjadi penyalahgunaan lahan yang tidak sesuai dengan

peruntukkannya sehingga mengakibatkan permasalahan lingkungan oleh karena itu

diperlukan kebijakan berupa norma hukum yang dapat mengatur perbuatan manusia.

Teori hukum dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu teori hukum statis dan teori

hukum dinamis. Pembedaan ini tergantung pada penekanan pandangan apakah pada

perbuatan manusia yang diatur norma (the human bahvior regulated by norms) atau

pada norma yang mengatur perbuatan manusia (norm regulating human behavior).

Dalam teori statis, suatu norma adalah valid dan hal ini berarti kita mengasumsikan

bahwa indivudu yang perbuatannya diatur oleh norma harus berbuat sesuai dengan

yang ditentukan norma, yang berdasarkan nilai isinya merupakan suatu bukti yang

menjamin validitasnya. Sedangkan teori dinamis obyeknya adalah aktivitas proses

pembutan dan pelaksanaan hukum. 8

7
Hasni, Hukum Penataan Ruang dan Penatagunaan Tanah dalam Konteks UUPA-UUPR-UUPLH,
Depok: PT. RajaGrafindo Persada, 2008, hlm. 28.
8
Hans Kelsen, General Theory Of Law and State (New York: Rusell & Rusell, 1961), at 110-161, dalam
Satya Arinanto, Politik Hukum 2, Part Two (Program Pascasarjana, Fakultas Hukum Universitas
Indonesia, Jakarta: 2008), hal 4.
4
Perubahan kebijakan penataan ruang di Provinsi DKI Jakarta berdampak pada

kondisi pemanfaatan ruang yang telah ada sebelumnya berdasarkan Peraturan Daerah

Nomor 6 Tahun 1999 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Daerah Khusus Ibukota

Jakarta Tahun 1999-2010 disesuaikan dengan Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2012

tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2030. Sehingga sebenarnya ”Siapa yang akan

melakukan pemerintahan dan pada kepentingan siapa saja seharusnya pemerintah

lebih responsif ketika orang tidak setuju dan memiliki pilihan-pilihan yang berbeda.

Apakah satu jawabannya yaitu mayoritas orang? 9. Oleh karena itu, konsep penataan

ruang harus berusaha menjamin adanya kelangsungan pembangunan yang

berkelanjutan yang menjadi dasar upaya pengelolaan dan pemanfaatan serta

pemeliharaan ruang di Provinsi DKI Jakarta. Dengan penataan ruang yang baik maka

pembangunan di Provinsi DKI Jakarta sehingga penting bagi kehidupan masyarakat

Jakarta. Menurut Raharjo Adisasmita, adapun fungsi wilayah diantaranya fungsi tempat

tinggal, fungsi tempat pekerjaan, fungsi lalu lintas (transportasi), fungsi rekreasi. 10

Dalam tata ruang, sering kali menimbulkan suatu permasalahan bagi Jakarta

sebagai Ibukota Negara Indonesia. Meskipun telah terdapat aturan yang mengatur

mengenai tata ruang, pada kenyataannya banyak masalah yang masih timbul. Hal ini

ditegaskan dalam penulisan karya ilmiah mengenai ketentuan kebijakan tata ruang.

Permasalahan yang khusus dibahas mengenai pengaturan kebijakan tata ruang,

melalui karya ilmiah ini yang berjudul “POLITIK HUKUM PERENCANAAN PENATAAN

9
Arend Lijphart, Democracies: Pattern of Majoritarian and Consensus Government in Twenty-One
Centuries (New Haven, Yale University Pres, 1984), at 1-45 and 187-222, dalam Satya Arinanto, Politik
Hukum 1, (Program Pascasarjana, Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta: 2008), hal.28.
10
Raharjo Adisasmita, Pembangunan Pedesaan dan Perkotaan, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2006, hlm.
170.
5
RUANG DI PROVINSI DKI JAKARTA BERDASARKAN PERATURAN DAERAH

NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH 2030”.

B. Permasalahan

Dalam makalah ini, penulis mengangkat beberapa pokok permasalahan,antara

lain :

1. Bagaimana perkembangan kebijakan tata ruang di Provinsi DKI Jakarta ditinjau dari

politik hukum?
2. Bagaimana bentuk pengakuan hak masyarakat yang telah memiliki izin

pemanfaatan ruang sebelum Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2012 tentang

Rencana Tata Ruang Wilayah 2030?

C. Pembahasan

Indonesia sebagai sebuah negara yang berekembang tentunya mengalami

suatu proses perubahan yang sangat penting. Pemerintah tentunya memiliki tujuan

yang hendak dicapainya, yang mana tidak berbeda dengan organisasi pada umumnya

terutama dalam hal kegiatan yang akan diimplementasikan dalam rangka mencapai

tujuan, yakni dituangkan dalam bentuk rencana-rencana. 11 Wilayah Provinsi DKI Jakarta

terdiri dari 4 (empat) wilayah Kota Administrasi meliputi Kota Administrasi Jakarta

Pusat, Kota Administrasi Jakarta Selatan, Kota Administrasi Jakarta Barat, Kota

Administrasi Jakarta Utara, dan Kota Administrasi Jakarta Timur serta 1 (satu)
11
Ridwan, HR, Hukum Administrasi Negara, Yogyakarta: UII-Press, 2003, hlm. 142.
6
Kabupaten Administrasi yakni Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu. Mengingat

wilayah Kota dan Kabupaten di Provinsi DKI Jakarta bukan daerah otonom tetapi

merupakan wilayah administratif, maka RTRW DKI Jakarta 2030 meliputi Rencana Tata

Ruang Provinsi dan Rencana Tata Ruang Kota Administrasi dan Kabupaten

Administrasi yang ditetapkan dalam satu Peraturan Daerah. RTRW DKI Jakarta 2030

ini, merupakan rencana umum tata ruang, dimana selanjutnya perlu disusun Rencana

rinci tata ruang yaitu rencana detail tata ruang untuk tingkat kecamatan sebagai

operasionalisasi rencana umum tata ruang dan sebagai dasar penetapan peraturan

zonasi. Peraturan zonasi sendiri, merupakan ketentuan yang mengatur persyaratan

pemanfaatan ruang dan ketentuan pengendalian disusun untuk setiap blok/zona

peruntukan yang penetapan zona dalam rencana rinci tata ruang. 12

Menurut Pasal 1 butir 1 Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang

Penataan Ruang (UUPR), dikatakan bahwa:

“Ruang adalah wadah yang meliputi raung darat, ruang laut dan ruang udara

termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia

dan makhluk lain hidup melakukan kegiatan dan memelihara kelangsungan

hidupnya.”

Berdasarkan pengertian diatas menunjukkan bahwa ruang sebagai wadah

memiliki arti yang luas, yang mencakup tiga dimensi, yakni: darat, laut dan udara yang

disorot baik secara horizontal maupun vertikal. Dengan demikian, Penataan Ruang

(PR) juga menjangkau ketiga dimensi itu secara vertikal maupun horizontal dengan

12
Penjelasan Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2030.
7
berbagai aspek yang terkait dengannya, seperti: ekonomi, ekologi, sosial, dan budaya

serta berbagai kepentingan di dalamnya. 13

Sedangkan menurut D.A. Tisnaamidjaja, ruang adalah wujud fisik wilayah

dalam dimensi geografis dan geometris yang merupakan wadah bagi manusia dalam

melaksanakan kegiatan kehidupannya dalam suatu kualitas hidup yang layak. 14 Ruang

sebagai tempat untuk melangsungkan kehidupan manusia dan merupakan sumber

daya alam yang merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa khususnya bagi masyarakat

Kota Jakarta yang memiliki ruang yang luas dan tidak terbatas pada daratan saja

melainkan termasuk wilayah perairan yakni di kawasan Kabupaten Administrasi

Kepulauan Seribu. Sehingga dapat dikatakan bahwa ruang wilayah di Provinsi DKI

Jakarta merupakan aset yang harus dimanfaatkan dan dinikmati oleh masyarakat

Provinsi DKI Jakarta secara baik dengan mempertimbangkan faktor ekonomi, sosial,

budaya, pertahanan dan keamanan, serta kelestarian lingkungan hidup untuk

mendorong pembangunan Jakarta yang baik, serasi dan seimbang.

Dalam penyelenggaraan tata ruang, rencana tata ruang yang berkualitas

merupakan prasyarat agar terselenggaranya penataan ruang. Akan tetapi, rencana tata

ruang tersebut harus diimbangi dengan pengendalian pemanfaatan ruang yang tegas

dan konsisten untuk menjamin agar pemanfaatan ruang atau lahan dapat tetap sesuai

dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan. Terkait pengendalian, terdapat 3

perangkat utama yang harus disiapkan, yakni:

13
A.M. Yunus Wahid,“Pengantar Hukum Tata Ruang”, Jakarta: Kencana, 2014, hlm. 2.

14
D.A. Tisnaamidjaja, dalam Asep Warlan Yusuf, Pranata Pembangunan, Bandung: Universitas
Parahyangan, 1997, hlm.6.
8
1. Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)

Fungsi dari RDTR adalah sebagai dokumen operasionalisasi rencana tata

ruang wilayah. Penyediaan RDTR dilaksanakan dengan memperhatikan beberapa

prinsip dasar. Pertama, rencana detail tata ruang harus langsung dapat diterapkan,

sehingga kedalam rencana dan skala petanya benar-benar memadai. Kedua,

rencana detail tata ruang harus memiliki kekuatan hukum yang mengikat untuk itu

harus diamanatkan dalam Peraturan Daerah dan secara tegas dinyatakan sebagai

bagian tak terpisahkan dari rencana tata ruang wilayah.

2. Peraturan Zonasi

Peraturan zonasi merupakan dokumen turunan dari RDTR yang berisi

ketentuan yang harus diterapkan pada setiap zona peruntukan. Peraturan zonasi

tersebut bersama dengan RDTR menjadi bagian ketentuan perizinan pemanfaatan

ruang yang harus dipatuhi oleh pemanfaatan ruang.

3. Mekanisme Insentif-Disinsentif

Pemberian Insentif kepada pemanfaatan ruang dimaksudkan untuk

mendorong pemanfaatan ruang yang sesuai dengan rencana tata ruang.

Sebaliknya, penerapan perangkat disinsentif dimaksudkan untuk mencegah

pemanfaatan ruang yang menyimpang dari ketentuan rencana tata ruang. 15

Saat ini, suatu rencana tidak dapat dihilangkan dalam hukum administrasi,

dimana rencana dapat dijumpai dalam berbagai bidang kegiatan pemerintah, misalnya

15
Sitnala Arsyad dan Ernan Rustiadi, Penyelamatan Tanah, Air dan Lingkungan.Jakarta: Yayasan Obor
Indonesia, 2008, hlm. 41-42.
9
dalam hal pengaturan mengenai tata ruang. Menurut Saul M. Katz, terdapat alasan atau

dasar dari diadakannya suatu perencanaan yaitu diantaranya :

1. Dengan adanya suatu perencanaan diharapkan terdapat suatu pengarahan

kegiatan, adanya pedoman bagi pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang ditujukan

kepada pencapaian suatu perkiraan.

2. Dengan perencanaan diharapkan agar terdapat suatu perkiraan terhadap hal-hal

dalam masa pelaksanaan yang akan dilalui. Perkiraan tidak hanya dilakukan

mengenai potensi-potensi dan prospek-prospek perkembangan, tetapi juga

mengenai hambatan-hambatan dan resiko-resiko yang mungkin dihadapi, dengan

perencanaan mengusahakan agar ketidakpastian dapat diatasi sedikit mungkin.

3. Dengan perencanaan dilakukan penyusunan skala prioritas dengan memilih urutan

yang dilihat dari segi pentingnya suatu tujuan, sasaran maupun kegiatan usahanya.

4. Perencanaan memberikan kesempatan untuk memilih berbagai alternative tentang

cara atau kesempatan untuk memilih kombinai terbaik.

5. Dengan adanya rencana, maka akan ada suatu alat pengukur atau standar untuk

mengadakan pengawasan atau evaluasi.16

Lalu apa yang menjadi kaitannya antara hukum tata ruang dengan politik

hukum? Pada kenyataanya, politik dan hukum memiliki hubungan yang sangatlah erat.

Politik hukum memiliki tempat yang utama dalam hal berbicara mengenai

penyelenggaraan negara (pemerintahan) baik dalam tingkat pusat maupun daerah. Dan

untuk memahami politik hukum, yang dimaksud politik menurut Miriam Budiardjo adalah
16
Asep Warlan Yusuf, Pranata Pembangunan, Bandung: Universitas Parahyangan, 1997, hlm.34.
10
bermacam-macam kegiatan (seseorang, sekelompok orang, lembagalembaga politik)

dalam suatu sistem politik (atau negara) yang menyangkut proses menentukan tujuan-

tujuan dari sistem itu. pengambilan keputusan (decision making) mengenai apakah

yang menjadi tujuan dari sistem politik itu menyangkut seleksi antara beberapa

alternatif dan penyusunan skala prioritas dari tujuan yang dipilih”. 17

Sedangkan menurut Mochtar Kusumaatmadja, politik hukum itu adalah

kebijakan hukum dan perundang-undangan, dalam rangka pembaharuan hukum.

Mochtar mengatakan bahwa di Indonesia undang-undang merupakan cara pengaturan

hukum yang utama pembaharuan hukum terutama melalui perundangundangan.

Proses pembentukan perundang-undangan harus dapat menampung semua hal yang

mempunyai hubungannya yang erat (relevant) dengan bidang atau masalah yang

hendak diatur dengan undang-undang. Yang mana apabila perundang-undangan itu

hendak merupakan suatu pengaturan hukum yang efektif. Melihat efektifnya suatu

produk perundang-undangan dalam penerapannya memerlukan perhatian akan

lembaga dan prosedur-prosedur yang diperlukan dalam pelaksanaannya”. 18,

Sebenarnya ini dilakukan dengan begitu saja setuju memasuki satu masyarakat politik

yang merupakan perjanjian atau kebutuhan-kebutuhan diantara individu-individu yang

masuk dalam atau membuat persemakmuran. 19

Dalam konteks politik hukum, dengan majemuknya masyarakat yang ada di

Jakarta, seharusnya tingkat perkembangan masyarakat memiliki pengaruh yang

17
Bintan Regen Saragih, “Politik Hukum”, Bandung: CV. Utomo, 2006, hlm. 6.

18
Op.cit., Bintan Regen Saragih, hlm. 22.

19
John Locke,Op cit, hal 5
11
penting dalam penentuan politik hukum di Jakarta. Politik hukum pada masyarakat yang

relatif heterogen di bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya cenderung berbeda

dengan politik hukum pada masyarakat yang majemuk. Pada Masyarakat yang

majemuk, suatu politik hukum yang serba menyamakan (uniformitas) dapat


20
menimbulkan masalah politik, ekonomi, maupun sosial. Oleh karena itu politik hukum

seperti halnya politik perundang-undangan harus mencakup seluruh elemen yang

terdapat pada masyarakat yang majemuk tersebut.

Sehingga dapat dikatakan bahwa politik hukum dalam hal penataan ruang

mempunyai keterkaitan dalam pembangunan di Provinsi DKI Jakarta kaitannya

sangatlah erat. Pelaksanaan suatu pembangunan Jakarta tentunya harus

memperhatikan tata ruang agar terlaksananya tertib dalam pembangunan suatu daerah

tersebut sehingga supaya terlaksananya tertib tata ruang, harus adanya penerapan

politik hukum sebagai kebijakan pemerintah dalam menentukan arahan dalam

pelakasanaan tata ruang untuk pembangunan daerah. Kebijakan-kebijakan pemerintah

ini dituangkan baik kedalam peraturan daerah maupun kedalam peraturan lainnya yang

bersifat mengikat dan berimplikasi kepada keberadaaan izin pemanfaatan ruang yang

telah ada sebelumnya berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 1999 tentang

Rencana Tata Ruang Wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta Tahun 1999-2010.

Namun sebelum berbicara lebih lanjut terhadap implikasi tersebut, pertama kali

kita lihat konstitusi negara Republik Indonesia. Sebenarnya apakah konstitusi itu? Pada

awalnya konstitusi sebuah negara adalah dokumen atau teks tertulis yang

menggambarkan kekuasaan-kekuasaan parlemen, pemerintah, pengadilan, dan


20
Satya Arinanto, Kumpulan Materi Transparasi Kuliah Politik Hukum, (Program Pascasarjana, Fakultas
Hukum Universitas Indonesia, Jakarta: 2008)
12
institusi nasional lainnya yang penting. Sebagian lainnya berisikan hak-hak fundamental

seperti hak kebebasan berbicara dan hak mendapatkan pengadilan yang jujur. 21 Selain

itu, konstitusionalisme lebih terkait dengan organisasi struktur politik untuk mencegah

penggunaan kekuasaan atoritatif baik secara individual, grup atau partai politik 22.

Negara kita bukanlah negara liberal yang dimana dalam konstitusi liberal ,

kekuasaan seharusnya didistribusikan diantara tiga unsur pemerintahan: legislatif,

yudikatif, dan eksekutif dimana unsur masing-masing saling cek satu sama lain

sehingga kekuasaan dapat dijauhkan.23 ”Separation of power” ini sebenarnya sudah

banyak dipraktikkan oleh kerajaan-kerajaan di nusantara dengan memisahkan antara

lembaga atau pejabat-pejabat yang menjadi pelaksana pemerintahan (eksekutif),

mengadili (hakim), dan yang memberi pertimbangan pembuatan aturan dan keputusan

kepada raja, walaupun semua lembaga atau pejabat tersebut kedudukannya berada di

bawah raja. Hal ini sulit diterapkan di Indonesia karena majemuknya masyarakat

Indonesia dan adanya rezim yang otoriter selama ini di Indonesia sehingga ketiga unsur

tersebut hanya formalitas semata dalam menjalankan fungsinya termasuk penciptaan

institusi-institusi24 untuk mengamankan hasil-hasil optimal Pareto (situasi-situasi dimana

tak satu pun pelaku-pelakunya peduli memaksimumkan manfaat atau kegunaan

21
Eric Barendt, An Introduction to Constitusional La, (Oxford: Oxford University Press, 1998), at 1-85,
hal. 107, dalam Satya Arinanto, Politik Hukum 1, (Program Pascasarjana, Fakultas Hukum Universitas
Indonesia, Jakarta: 2008), hal .107.
22
Ibid, hal.110.
23
Eric Barendt, Op Cit, hal 110
24
Geofrey Lindell, ed. Future Directions in Australian Constitutional Law, (Canberra: Federation Press,
1994) at. 1-46 dalam Satya Arinanto, Politik Hukum 3, Program Pascasarjana, Fakultas Hukum
Universitas Indonesia, Jakarta: 2008), hal 172.
13
individunya sendiri.Pengakuan yuridis terhadap suatu masyarakat hukum adat

mempunyai arti penting.25

Oleh karena itu seharusnya dalam perumusan kebijakan berupa Peraturan

Daerah, beragam doktrin yang tidak mampu dibenarkan memudahkan konstitusi

menghadapi isu-isu legal yang sulit. Seperti doktrin ”pertanyaan-pertanyaan politik”

serta ”kasus dan kontroversi”, kematangan dan ”standing” adalah semua ”alat untuk

memutuskan bukan untuk memutuskan”.26 Mereka yang menempatkan aturan pada

kasus-kasus tertentu, harus menerangkan dan menafsirkan aturan itu. Jika hukum

beroposisi pada konstitusi, pengadilan harus memutuskan kasus yang benar pada

hukum. Inilah inti dasar kewajiban yudisial 27.

Menurut Donald. P. Kommers, The Governing system created by the basic law

needs to be placed in a wider context of understansing” 28. Hal ini berarti sejalan dengan

konsep penyusunan Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2012 tentang Rencana Tata

Ruang Wilayah 2030 karena mendasari pada ketentuan Pasal 14 Undang-Undang

Nomor 12 Tahun 2011 tentang Penyusunan Peraturan Perundang-undangan yakni

materi muatan Peraturan Daerah Provinsi berisi materi muatan dalam rangka dalam
25
Pasal 51 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2003 Tentang Mahkamah Konstitusi, masyarakat adat
dapat menjadi Pemohon dalam perkara konstitusional.Sebagai konsekuensinya, suatu komunitas adat
yang tidak atau belum memiliki legalitas akan menghadapi kendala dalam membela hak-haknya yang
memang sudah sering terjadi baik oleh aparatur Negara maupun oleh oleh pihak ketiga lainnya.
26
John Elster and Rune Stagstad, eds, Constitutionslism and Democracy, Gags Rules or Politics of
Omission (Cambridge: Cambridge University Press, 1997), at 19-353, dalam Satya Arinanto, Politik
Hukum 1, (Program Pascasarjana, Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta: 2008), hal 194
27
William H. Rehnquist, The Supreme Court: How It Was, How It Is (New York: William Morrow, 1989), at
99-114 dalam Satya Arinanto, Politik Hukum 3, (Program Pascasarjana, Fakultas Hukum Universitas
Indonesia, Jakarta: 2008),hal 16.
28
Donald P. Kommers, “German Constitusionalism: A Prolegomenon,’ Emory Law Journal (Vol. 40, no. 3,
Summer 1991), at 837-873, dalam Satya Arinanto, Politik Hukum 1, (Program Pascasarjana, Fakultas
Hukum Universitas Indonesia, Jakarta: 2008), hal 538

14
rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan serta menampung

kondisi khusus daerah dan/atau penjabaran lebih lanjut peraturan perundang-undangan

yang lebih tinggi yakni didasarkan pada amanat dari ketentuan Pasal 23 ayat (6)

Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.

Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah

2030 dibentuk dalam rangka menjawab tantangan perkembangan zaman dan teknologi

sebagaimana kota-kota besar lain di dunia Provinsi DKI Jakarta yang sekaligus sebagai

Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia juga menghadapi tantangan global,

khususnya pemanasan global (global warming) dan perubahan iklim (climate change)

sehingga diperlukan aksi adaptasi maupun aksi mitigasi yang dituangkan dalam

penataan ruang.29 Sehingga dalam penyusunan Peraturan Daerah tersebut pemerintah

juga melibatkan masyarakat. Peran masyarakat dalam penataan ruang antara lain,

melalui 30:

a. Partisipasi dalam penyusunan rencana tata ruang;

b. Partisipasi dalam pemanfaatan ruang; dan

c. Partisipasi dalam pengendalian pemanfaatan ruang.

Hal ini seperti ciri penting dari doktrin Kelsen yaitu bahwa negara dipandang

sebagai sistem perilaku manusia dan tatanan keharusan manusia. Hukum adalah

tatanan normatif perilaku manusia yang didukung dengan kekuatan yang ”membuat

29
Konsideran Menimbang huruf c Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah 2030
30
Ketentuan Pasal 66 ayat (2) Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang
15
penggunaan kekuatan monopoli komunitas”. 31 Sehingga sudah tepat jika perumusan

kebijakan, pelaksanaan dan pengendalian pemanfaatan ruang dilakukan dengan

melibatkan unsur masyarakat dan walaupun dalam perumusan kebijakan penataan

ruang kekuatan monopoli komunitas juga masih melakukan intervensi terutama para

pengusaha properti.

Pada dasarnya tata tertib hukum tak hanya merupakan total hukum, tetapi

memasukkan doktrin, prinsip, dan standar,sehingga semuanya diterima sebagai ”legal”

dan beroperasi dengan mempengaruhi aplikasi aturan. 32 Hal ini tentunya dapat

digunakan ketika kekuasaan diberikan untuk melaksanakan Undang-undang yang

dispesifikasikan, misalnya memberikan pengecualian dari operasi Undang-Undang

sejalan dengan kekuasaan umum untuk membuat regulasi. 33

Pada dasarnya hukum diangkat ”diatas” politik, yaitu politik positif dilakukan

merepresentasikan standar yang disetujui publik, diaslikan dengan tradisi atau dengan

proses konstitusi, sudah hilang dari kontroversi aturan. Otorita untuk menafsirkan tradisi

legal harus dibuat tertutup dari perjuangan akan kekuasaan dan tidak ternoda dengan

pengaruh politik.34 Hal ini berarti setiap Peraturan Daerah mengenai penataan ruang

31
Hans Kelsen, General Theory Of Law and State (New York: Rusell & Rusell, 1961), at 110-161, dalam
Satya Arinanto, Politik Hukum 2, Part Two (Program Pascasarjana, Fakultas Hukum Universitas
Indonesia, Jakarta: 2008), hal 66.
32
R.M.W. Dias, Jurisprudence (London: Butterworths, 1985) at 358-374 dalam Satya Arinanto, Politik
Hukum 2, (Program Pascasarjana, Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta: 2008), hal 67
33
M.P. Jain, Administrative Law Of Malaysia and Singapore ,(Kuala Lumpur: Malayan Law Jurnal Pte.
Ltd, 1989), at 38-74. Hukum Adinistrative of Malaysia dan Singapore, dalam Satya Arinanto, Politik Hukum 3,
(Program Pascasarjana, Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta: 2008), hal.47

34
Phillippe Nonet and Phillip Selznick, Law and Society in Transition: Toward Responsive Law (New York:
Herper & Row, 1978), at 29-113 dalam Satya Arinanto, Politik Hukum 2, (Program Pascasarjana, Fakultas
Hukum Universitas Indonesia, Jakarta: 2008), hal 101
16
harus bebas dari pengaruh politik karena hal-hal yang termasuk hak masyarakat yang

telah memiliki perizinan pemanfaatan ruang sebelum diberlakukannya Peraturan

Daerah mengenai penataan ruang yang baru.

Meskipun UUD 1945 pra-amandemen dinilai banyak pihak bertentangan

dengan teori konstitusi modern, ketika Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya di

tahun 1945, diciptakan negara Republik modern berdasarkan prinsip demokratis dan

dimulai dengan penciptaan prinsip-prinsip demokratis. 35 Namun, rumusan UUD 1945

terlalu sederhana dan multitafsir untuk mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara.

UUD 1945 yang terlalu sederhana dan multi tafsir kemudian menjadi sumber inspirasi

rezim Orde Baru dalam memasung kehidupan hukum dan demokrasi.

Evolusi konstitusi merupakan isu penting yang perlu dijawab karena prosedur

yang diikuti dalam mengadopsi konstitusi dapat menentukan tingkat legitimasi yang

perlu disenangi konstitusi dan ketetapan konstitusi yang ada perlu dimasukkan di

konstitusi-konstitusi yang baru36. Dahulu sering kita mendengar kritik tentang

dominannya posisi Pemerintah (eksekutif) terhadap legislatif (DPR) dalam mekanisme

hubungan antar kelembagaan negara berdasarkan UUD 1945. DPR tunduk pada

keinginan pemerintah alias ‘stempel kekuasaan’ Banyak kekosongan dalam pengaturan

prinsip HAM pada UUD 1945 pra-amandemen, karena pada dasarnya negara

Rechstaat, sebuah negara berdasarkan hukum, adalah rumah ideal bagi HAM, hanya

35
J. Soedjati Djiwandono, “Democratic Experiment in Indonesia: Between Achievements and
Expectations, The Indonesian Quartely (Vol.XV, No.4, 1987), at 661-669, dalam Satya Arinanto Politik
Hukum 2, Part Two, (Program Pascasarjana, Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta: 2008), hal.
155.
36
Clive Napier, Africa’s Constitutionals Renaissance? Stocktakingin the ’90s, Africa Dialogue (Monograph
Series No.1, 200) at 77-94 dalam Satya Arinanto, Politik Hukum 3, (Program Pascasarjana, Fakultas
Hukum Universitas Indonesia, Jakarta: 2008), hal.222
17
didalam Rechtstaat maka HAM menjamin seperti kemerdekaan Rechstaat, due proses

of law, judicial review, yaitu kelangsungan/survive. 37

Selama orde baru memang dianggap sebagai era kediktatoran personal oleh

Soeharto dimana masyarakat di daerah bahkan masyarakat adat tidak dapat

berkembang karena dianggap akan menimbulkan kembali sistem monarki di Indonesia.

Bahkan tidak jarang pula musuh-musuh politiknya diberangus dan beliau akan

melakukan apa saja untuk memastikan bahwa militer disusupi dan dikontrol oleh kaki

tangan dan kroni-kroninya untuk mencegah atau menjaga cengkraman kekuasaan

diktatornya dari lawan-lawan politiknya. Selain itu, hukum (Peraturan Perundang-

Undangan) juga digunakan sebagai alat penguasa untuk mengontrol masyarakat (Law

as a tool of Social Engineering). Menurut Pound, Rule atau aturan adalah pengajaran

hukum yang melekat pada konsekuensi legal yang terinci secara definitif. Definisi

tersebut masih cukup akurat untuk definisi saat ini karena memasukan pernyataan-

peryataan doktrin common law serta statutory law, regulasi administratif, ordonansi,

keputusan diktator dan dalil umum lainnya.38

Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah

2030 juga diharapkan sebagai peraturan yang dibentuk dengan prinsip-prinsip

partisipatif kolaboratif antara masyarakat dan pemerintah sehingga penggantian

terhadap Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 1999 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah

37
Todung Mulya Lubis, In Search of Human Rights: Legal Political Dilemmas og Indonesia’s New Order,
1966-1990, (S.J.D. Dissertation at Boalt Hall Law School University of Californis Berkeley, 1990), at 84-
153, dalam Satya Arinanto Politik Hukum 2, Part Three, (Program Pascasarjana, Fakultas Hukum
Universitas Indonesia, Jakarta: 2008),hal. 169
38
Stewart Macaulay, Lawrence M Friedman, John Stookey,eds, Law and Society: Readings on the Sosial
Study Of Law (New York: W.W. Norton & Company, 1995) at 689-701, dalam Satya Arinanto, Politik
Hukum 3, (Program Pascasarjana, Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta: 2008), hal.295.
18
Daerah Khusus Ibukota Jakarta Tahun 1999-2010 menciptakan kondisi yang lebih

demokratis serta meminimalisir perbedaan perubahan peruntukan yang telah ada

sebelumnya dan telah memiliki izin pemanfaatan ruang. Hal ini mengingatkan pada

awal tahun 2000, Indonesia menghadapi tantangan penting yang salah satunya

menekankan bahwa Pemerintah perlu menciptakan sistem politik yang stabil dan efektif

yang berbasis prinsip demokratis dan mampu mencegah kembalinya militer untuk

kekuasaan politik.39 Guillermo Donnel mengatakan bahwa seluruh perubahan dari

Otoriter ke rejim demokratis mungkin tidak terdiri atas satu tapi dua transisi: pertama

mengarah pada “tahapan Pemerintahan Demokratis, dan yang kedua “konsolidasi

demokrasi” atau pada “fungsinisasi efektif dari rejim demokratis”. 40

Dengan menempatkan peran serta masyarakat dalam proses perencanaan tata

ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemafaatan ruang sebagai hak

sebagaimana diatur dalam Pasal 226 huruf a Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2012

tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2030 41, berarti Jakarta tengah bersiap dan

mengantisipasi untuk menghadapi tantangan penting yang salah satunya menekankan

bahwa Pemerintah perlu menciptakan sistem politik yang stabil dan efektif. 42 Sehingga

dengan berkembangnya kehidupan di Jakarta maka sejalan dengan pada dasarnya


39
Peter J. Burns, The Leiden Legacy: Concepts of Law in Indonesia (Jakarta: PT Pradnya Paramita,
1999) at 135-222 and 279-308 dalam Satya Arinanto, Politik Hukum 2, Part Three, (Program
Pascasarjana, Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta: 2008),hal.271.
40
Timothy Scully dan Alejandro Ferreiro Y, Chile Recovers Its Democratic Past: Democratization by
Installment, (Jurnal of Legislation Vol. 18 No.2, 1992), at 317-329. ChilliMemulihkan Masa Lalu
Demokrasinya: Demokratisasi dengan Pentahapan, , p.113. dalam Satya Arinanto, Politik Hukum 3,
(Program Pascasarjana, Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta: 2008), hal.121
41
Ketentuan Pasal 226 huruf a Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah 2030
42
Harold Crouch, Indonesia: Democratization and the threat of Disintregation, southest Asian Affairs 2000
(Singapore: Institute of Southest Asian Studies, 2000), dalam Satya Arinanto, Politik hokum 2, (Program
Pascasarjana, Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Edisi Pertama, Jakarta:2008), hal.372.
19
sebagian besar kehidupan sosial-ekonomi rakyat semakin berkembang. Keadaan ini

juga menciptakan kebutuhan akan legislasi. Hukum diperlukan untuk mengambil

tindakan apapun yang mempengaruhi orang badan apapun, properti atau hak apapun. 43

UUD 1945 sendiri memuat berbagai ketentuan yang masih harus diatur lebih

lanjut dalam undang-undang organik tanpa disertai arahan atau pedoman tertentu,

artinya segala sesuatunya diserahkan sepenuhnya kepada pembentuk undang-undang,

sehingga akibatnya dapat terjadi berbagai undang-undang organik dengan objek dan

sumber UUD yang sama, tetapi prinsip-prinsip pengaturan berbeda. Memang

perundang-undangan dapat memberikan eksekutif kekuasaan untuk memodifikasi

perundang-undangan yang sama sendiri melalui pendelegasian legislasi terhadap

legislator itu sendiri.44

Pada dasarnya legislator tidak dapat mendelegasikan fungsi legislatif dasarnya

yang fungsinya seharusnya dilepaskan oleh legislator sendiri, dan legislasi seharusnya

memuat kebijakan atau standar untuk panduan pendelegasi dalam membuat legislasi 45

berdasarkan konstitusi. Interpretasi konstitusi sangat sensitif pada teori tentang proses

legislatif dan ini adalah teori politik kontroversial dan tidak memberikan pijakan pasti

untuk mengambil keputusan-keputusan judicial, mereka yang percaya bahwa legislator

mewaspadai kemampuan/keinginan populer dan yang menghargai demokrasi populer

43
M.P. Jain, Op Cit, hal.19.
44
Peter M Brody, The First Amandement, Governmental Cencorship, and Sponsored Research, (The
Journal Of College and University Law (vol.19. No.3 Winter 1998). At 199-215.
(Amandemen Pertama, Pensensoran Pemerintahan, dan Sponsor Penelitian, “Jurnal Hukum Universitas
dan Perguruan Hal 133.
45
Du Xichuan dan Zhang Linyuan, China Legal System: A General Survey, (Beijing: New World Press,
1990), at 26-40, dalam Satya Arinanto, Politik Hukum 3, (Program Pascasarjana, Fakultas Hukum
Universitas Indonesia, Jakarta: 2008), hal 59.
20
cenderung meletakkan ukuran pada indikasi mengenai bagaimana mayoritas legislatur

mungkin menjawab pertanyaan interpretif46 dari norma-norma dalam konstitusi.

Melalui Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang

Wilayah 2030 ini, diharapkan tidak lagi mengucilkan kelompok minoritas dan

meniadakan kemajemukan di Indonesia. 47

D. Kesimpulan

Ruang diperuntukkan sebagai salah satu tempat untuk melangsungkan

kehidupan manusia. Dengan mengikuti perkambangan, Pemerintah Provinsi DKI

Jakarta terus menerus melakukan rencana dalam pengaturan terhadap tata ruang.

Dengan maksud perencanaan tata ruang untuk menyerasikan berbagai kegiatan

sektor pembangunan sehingga dalam memanfaatkan lahan dan ruang dapat

dilakukan secara optimal, efisien, dan serasi. Serta tujuan untuk mengarahkan

struktur dan lokasi serta berhubungan fungsonalnya yang serasi dan seimbang

dalam rangka pemanfaatan sumber daya manusia. Sehingga tercapainya hasil

pembangunan yang optimal dan efisien bagi peningkatan kualitas manusia dan

kualitas lingkungan hidup serta berkelanjutan.

Politik merupakan suatu tujuan yang hendak dicapai dengan rencana-

rencana yang telah diatur untuk dijadikan sebagai patokan mencapai tujuan itu

sendiri. politik hukum dalam hal penataan ruang mempunyai keterkaitan dalam

46
Richard A Posner, The Problem Of Jurisprudence, (Cambridge: Harvard University Press, 1990) at 247-
309, Masalah Yurisprudensi, Bagaimana Memutuskan Kasus Konstitusi dan Undang-Undang hal. 316,
dalam Satya Arinanto, Politik Hukum 3, (Program Pascasarjana, Fakultas Hukum Universitas Indonesia,
Jakarta: 2008), hal.279
47
Ibid, hal 39
21
pembangunan nasional kaitannya sangatlah erat. Pelaksanaan suatu pembangunan

nasional tentunya harus memperhatikan tata ruang negara agar terlaksananya tertib

dalam pembangunan negara tersebut sehingga supaya terlaksananya tertib tata

ruang di sini, harus adanya penerapan politik hukum sebagai kebijakan pemerintah

dalam menentukan arahan dalam pelakasanaan tata ruang untuk pembangunan

negara. Kebijakan-kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ini dituangkan baik

kedalam Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang

Wilayah 2030 yang bersifat mengikat namun dalam perumusannya tidak

meninggalkan masyarakat Jakarta untuk ikut berperan serta yakni pada proses

perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemafaatan ruang

sebagai hak sebagaimana diatur dalam Pasal 226 huruf a Peraturan Daerah Nomor

1 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah 2030.

22