Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN PENDAHULUAN

EMERGENCY TRAUMA FRAKTUR PELVIS


DI RUANG AGD 118 RSUD DR.SOETOMO SURABAYA

Oleh :
INTAN AYU AGUSTIN
P27820715013

KEMENTRIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN SURABAYA
JURUSAN KEPERAWATAN
PRODI D IV KEPERAWATAN GAWAT DARURAT
2018-2019
LAPORAN PENDAHULUAN EMERGENCY TRUMA FRAKTUR PELVIS

A. Latar Belakang
Fraktur pelvis berkekuatan tinggi merupakan cedera yang membahayakan
jiwa. Perdarahan luas sehubungan dengan fraktur pelvis relatif umum namun
terutama lazim dengan fraktur berkekuatan tinggi. Kira-kira 15–30% pasien
dengan cedera pelvis berkekuatan tinggi tidak stabil secara hemodinamik, yang
mungkin secara langsung dihubungkan dengan hilangnya darah dari cedera pelvis.
Perdarahan merupakan penyebab utama kematian pada pasien dengan fraktur
pelvis, dengan keseluruhan angka kematian antara 6-35% pada fraktur pelvis
berkekuatan-tinggi rangkaian besar (chris jack, 2009).
Karena trauma multipel biasanya terjadi pada pasien dengan fraktur pelvis,
hipotensi yang terjadi belum tentu berasal dari fraktur pelvis yang terjadi. Pasien
dengan fraktur pelvis mempunyai 4 daerah potensial perdarahan hebat, yaitu
permukaan tulang yang fraktur, trauma pada arteri di pelvis, trauma pada plexus
venosus pelvis, sumber dari luar pelvis.

B. Anatomi Pelvis

Pelvis adalah daerah batang tubuh yang berada di sebelah dorsokaudal


terhadap abdomen dan merupakan daerah peralihan dari batang tubuh ke
extremitas inferior. Pelvis bersendi dengan vertebra lumbalis ke-5 di bagian atas
dan dengan caput femoris kanan dan kiri pada acetabulum yang sesuai. Pelvis
dibatasi oleh dinding yang dibentuk oleh tulang, ligamentum, dan otot. Kavitas
pelvis yang berbentuk seperti corong, memberi tempat kepada vesicaurinaria, alat
kelamin pelvic, rectum, pembuluh darah dan limfe, dan saraf (Syaifuddin, 2014).

Pelvis merupakan struktur mirip-cincin yang terbentuk dari tiga tulang yaitu
sacrum dan dua tulang innominata, yang masing-masing terdiri dari ilium,
ischium dan pubis. Tulang-tulang innominata menyatu dengan sacrum di bagian
posterior pada dua persendian sacroiliaca di bagian anterior, tulang-tulang ini
bersatu pada simfisis pubis. Simfisis bertindak sebagai penopang sepanjang
memikul beban berat badan untuk mempertahankan struktur cincin pelvis.
Kerangka pelvis terdiri dari: dua os coxae yang masing-masing dibentuk oleh
tiga tulang : os ilii, os ischii, dan os pubis, os sacrum (Syaifuddin, 2014).

1. Os sacrum terdiri dari lima vertebrae rudimenter yang bersatu membentuk


tulang berbentuk baji yang cekung kearah anterior. Pinggir atas atau basis
ossis sacri bersendi dengan vertebra lumbalis V. Pinggir inferior yang sempit
bersendi dengan os coceygis. Di lateral, os sacrum bersendi dengan kedua os
coxae membentuk articulation sacroiliaca. Pinggir anterior dan atas vertebra
sacralis pertama menonjol ke depan sebagai batas posterior apertura pelvis
superior, disebut promontorium os sacrum, yang merupakan bagian penting
bagi ahli kandungan untuk menentukan ukuran pelvis. Foramina vertebralia
bersama-sama membentuk canalis sacralis. Canalis sacralis berisi radix
anterior dan posterior nervi lumbales, sacrales, dan coccygeus filum terminale
dan lemak fibrosa. Os coccygis berartikulasi dengan sacrum di superior.
Tulang ini terdiri dari empat vertebra rudimenter yang bersatu membentuk
tulang segitiga kecil yang basisnya bersendi dengan ujung bawah sacrum.
Vertebra koksigeus hanya terdiri atas korpus, namun vertebra pertama
mempunyai processus transverses rudimenter dan cornu coccygeum. Kornu
adalah sisa pedikulus dan processus articularis superior yang menonjol ke atas
untuk bersendi dengan kornu sakral. Saat dewasa tulang innominata menyatu
selurunya pada asetabulum.
2. Ilium. Batas atas tulang ini adalah Krista iliaka. Krista iliaka berjalan ke
belakang dari spina iliaka anterior superior menuju spina iliaka posterior
superior. Di bawah tonjolan tulang ini terdapat spina inferiornya. Permukaan
aurikularis ilium disebut permukaan glutealis karena disitulah pelekatan m.
gluteus. Linea glutealis inferior, anterior, dan posterior membatasi pelekatan
glutei ke tulang. Permukaan dalam ilium halus dan berongga membentuk
fosailiaka. Fosailiaka merupakan tempat melekatnya m. iliakus. Permukaan
aurikularis ilium berartikulasi dengan sacrum pada sendi sakro iliaka (sendi
sinovial). Ligamentum sakro iliaka posterior, interoseus, dan anterior
memperkuat sendi sakro iliaka. Linea iliopektinealis berjalan di sebelah
anterior permukaan dalam ilium dari permukaan aurikularis menuju pubis.
3. Iskium. Iskium terdiri dari spina di bagian posterior yang membatasi insisura
iskiadika mayor (atas) dan minor (bawah). Tuberositas iskia adalah penebalan
bagian bawah korpus iskium yang menyangga berat badan saat duduk. Ramus
iskium menonjol ke depan dari tuberositas ini dan bertemu serta menyatu
dengan ramus pubis inferior.
4. Pubis, terdiri dari korpus serta rami pubis superior dan inferior. Tulang ini
berartikulasi dengan tulang pubis di tiap sisi simfisis pubis. Permukaan
superior dari korpus memiliki krista pubikum dan tuberkulum pubikum.
(Syaifuddin, 2014 dan Rabe, 2003)
Foramen obturatorium merupakan lubang besar yang dibatasi oleh rami pubis
dan iskium. Tiga tulang dan tiga persendian tersebut menjadikan cincin pelvis
stabil oleh struktur ligamentosa, yang terkuat dan paling penting adalah
ligamentum-ligamentum sacroiliaca posterior. Ligamentum-ligamentum ini
terbuat dari serat oblik pendek yang melintang dari tonjolan posterior sacrum
sampai ke spina iliaca posterior superior (SIPS) dan spina iliaca posterior inferior
(SIPI) seperti halnya serat longitudinal yang lebih panjang melintang dari sacrum
lateral sampai ke spina iliaca posterior superior (SIPS) dan bergabung dengan
ligamentum sacrotuberale (Rabe, 2003).

Gambar 1. Pandangan posterior (A) dan anterior (B) dari ligamentum pelvis.

Ligamentum sacroiliaca anterior jauh kurang kuat dibandingkan dengan


ligamentum sacroiliaca posterior. Ligamentum sacrotuberale adalah sebuah
jalinan kuat yang melintang dari sacrum posterolateral dan aspek dorsal spina
iliaca posterior sampai ke tuber ischiadicum. Ligamentum ini, bersama dengan
ligamentum sacroiliaca posterior, memberikan stabilitas vertikal pada pelvis.
Ligamentum sacrospinosum melintang dari batas lateral sacrum dan coccygeus
sampai ke ligamentum sacrotuberale dan masuk ke spina ischiadica. Ligamentum
iliolumbale melintang dari processus transversus lumbalis keempat dan kelima
sampai ke crista iliaca posterior; ligamentum lumbosacrale melintang dari
processus transversus lumbalis ke lima sampai ke ala ossis sacri (Syaifuddin,
2014).

Gambar 2. Aspek internal pelvis yang memperlihatkan pembuluh darah mayor yang terletak pada dinding
dalam pelvis.
Arteri iliaca communis terbagi, menjadi arteri iliaca externa, memyang
terdapat pada pelvis anterior diatas pinggiran pelvis. Arteri iliaca interna terletak
diatas pinggiran pelvis. Arteri tersebut mengalir ke anterior dan dalam dekat
dengan sendi sacroliliaca. Cabang posterior arteri iliaca interna termasuk arteri
iliolumbalis, arteri glutea superior dan arteri sacralis lateralis. Arteri glutea
superior berjalan ke sekeliling menuju bentuk panggul lebih besar, yang terletak
secara langsung diatas tulang. Cabang anterior arteri iliaca interna termasuk arteri
obturatoria, arteri umbilicalis, arteri vesicalis, arteri pudenda, arteri glutea
inferior, arteri rectalis dan arteri hemoroidalis. Arteri pudenda dan obturatoria
secara anatomis berhubungan dengan rami pubis dan dapat cedera dengan fraktur
atau perlukaan pada struktur ini. Arteri-arteri ini dan juga vena-vena yang
menyertainya seluruhnya dapat cedera selama adanya disrupsi pelvis. Arteri
iliaca externa memperdarahu otot dan tulang paha, kulit genetalia externa, dan
dinding abdomen bagian luar (Rabe, 2003).

Pemahaman tentang anatomi pelvis akan membantu untuk mengenali pola


fraktur mana yang lebih mungkin menyebabkan kerusakan langsung terhadap
pembuluh darah mayor dan mengakibatkan perdarahan retroperitoneal signifikan.

Dinding pelvis dapat dibedakan atas dinding ventral, dua dinding lateral,
dinding dorsal, dan sebuah dasar pelvis

1. Dinding pelvis ventral pertama-tama dibentuk oleh kedua corpus ossis pubis
dan ramus ossis pubis serta symphisis pubica.
2. Dinding-dinding pelvis lateral memiliki kerangka tulang yang dibentuk oleh
bagian-bagian os coxae. Musculus obturator internus menutupi hampir seluruh
dinding-dinding ini. Medial terhadap musculus obturator internus terdapat
nervus obturatorius dan pembuluh obturatoria, dan cabang lain dari pembuluh
iliaca interna. Masing-masing musculus obturator internus meninggalkan
pelvis melalui foramen ischiadicum minus dan melekat pada femur (os
femoris).
3. Dinding pelvis dorsal dibentuk oleh sacrum, bagian-bagian os ischii yang
berdekatan, dan articulation sacroiliaca serta ligamenta sacroiliaca. Musculus
piriformis melapisi dinding ini di sebelah lateral. Masing-masing musculus
piriformis meninggalkan pelvis minor melalui foramen ischiadicum
(sciaticum) majus. Medial terhadap musculus piriformis terdapat saraf-saraf
dari plexus sacralis dan pembuluh iliaca interna serta cabangnya.
4. Dasar pelvis dibentuk oleh diaphragma pelvis yang dibentuk oleh musculus
levator ani dan musculus coccygeus serta fascia-fascia yang menutupi
permukaan cranial dan permukaan kaudal otot tersebut.
Diaphragma pelvis terbentang antara os pubis di sebelah ventral, dan os
coccyges di sebelah dorsal, dan dari dinding-dinding pelvis lateral yang satu ke
dinding-dinding pelvis lateral di seberangnya. Karena itu, diaphragma pelvis
menyerupai sebuah corong yang tergantung pada tempat perlekatan tadi (Rabe,
2003).

Berikut perbedaan bentuk panggul pria dan wanita

Pria Wanita
Dinding pelvis spurium tajam / curam, Dinding pelvis spurium dangkal,
SIAS menghadap ke medial SIAS menghadap ke ventra
Apertura pelvis superior berbentuk heart- Apertura pelvis superior berbentuk
shaped, lengkung, dengan promontorium oval.
os sacrum menonjol ke anterior.
Pelvis verum merupakan segmen panjang Pelvis verum merupakan segmen
suatu kerucut pendek. pendek suatu kerucut panjang.
Rongga panggul lebih kecil 0,5-1,5 cm Pada wanita, ukuran-ukuran
dibandingkan wanita. diameter rongga panggul lebih besar
(perbedaan sampai sebesar 0.5-1.5
cm).
Apertura pelvis inferior berbentuk Apertura pelvis inferior berbentuk
lonjong dan kecil. bundar, diameter lebih besar.
Angulus subpubicus merupakan sudut Angulus subpubicus adalah sudut
tajam / kecil. lebar / besar.
Kelenjar prostat, vesikulaseminalis, Organ genetalia yang berada di
penis, testis. cavum pelvis yaitu ovarium, tuba
uteri falopii, uterus, mons veneris,
labia mayor kanan dan kiri, labia
minora kanan dan kiri diatas bertemu
menbentuk klitoris, O.U.E
(orivisium uretra externum)
dibawahnya terdapat orivisium
vagina (lubang vagina).
Gambar 3. Sumber: https://image.slidesharecdn.com/anatomipelvis-160127041740/95/anatomi-pelvis-4-638.jpg?
cb=1453868572

C. Klasifikasi Trauma Pelvis


1. Klaifikasi Tile
Menurut Tile (1988) ia membagi fraktur pelvis ke dalam cidera yang stabil,
cidera yang secara rotasi tak stabil dan cidera yang secara rotasi dan vertikal tak
stabil.
a Tipe A/stabil
Tipe A/stabil ini temasuk avulse dan fraktur pada cincin pelvis dengan sedikit
atau tanpa pergeseran,

b Tipe B/ rotasi tak stabil


Tipe B/ rotasi tak stabil yaitu secara rotasi tidak stabil tapi secara vertikal
stabil. Daya rotasi luar yang mengena pada satu sisi pelvis dapat merusak
dan membuka simfisis biasa disebut fraktur open book atau daya rotasi
internal yaitu tekanan lateral yang dapat menyebabkan fraktur pada rami
iskiopubik pada salah satu atau kedua sisi juga disertai cidera posterior tetapi
tida ada pembukaan simfisis.

c Tipe C/ secara rotasi dan vertikal tak stabil


Tipe C yaitu secara rotasi dan vertical tak stabil, terdapat kerusakan pada
ligament posterior yang keras dengan cidera pada salah satu atau kedua sisi
dan pergeseran vertical pada salah satu sisi pelvis, mungkin juga terdapat
fraktur acetabulum.

2. Klasifikasi Young dan Burgess


Klasifikasi Young-Burgess membagi disrupsi pelvis kedalam cedera-
cedera kompresi anterior-posterior (APC), kompresi lateral (LC), shear vertikal
(VS), dan mekanisme kombinasi (CM). Kategori APC dan LC lebih lanjut
disubklasifikasi dari tipe I – III berdasarkan pada meningkatnya perburukan
cedera yang dihasilkan oleh peningkatan tekanan besar.
a Cedera APC
Cedera APC disebabkan oleh tubrukan anterior terhadap pelvis, sering
mendorong ke arah diastase simfisis pubis. Ada cedera “open book” yang
mengganggu ligamentum sacroiliaca anterior seperti halnya ligamentum
sacrospinale ipsilateral dan ligamentum sacrotuberale. Cedera APC
dipertimbangkan menjadi penanda radiografi yang baik untuk cabang-cabang
pembuluh darah iliaca interna, yang berada dalam penjajaran dekat dengan
persendian sacroiliaca anterior.
1) Tipe APCI (diastasis simfisis <2,5 cm dengan sisi posterior yang intak)
cedera yang stabil.
2) Tipe APCII (Diastasis simfisis >2,5 cm dengan terbukanya SI joint tapi
tidak terdapat instabilitas vertikal).
3) Tipe APCIII (Disrupsi komplit dari anterior dan posterior pelvis dengan
kemungkinan adanya pergeseran vertikal).
b Cedera LC
Cedera LC sebagai akibat dari benturan lateral pada pelvis yang memutar
pelvis pada sisi benturan ke arah midline. Ligamentum sacrotuberale dan
ligamentum sacrospinale, serta pembuluh darah iliaca interna, memendek dan
tidak terkena gaya tarik. Disrupsi pembuluh darah besar bernama (misal, arteri
iliaca interna, arteri glutea superior) relatif luar biasa dengan cedera LC;
ketika hal ini terjadi, diduga sebagai akibat dari laserasi fragmen fraktur.
dibedakan dari pemindahan vertikal hemipelvis. Perpindahan hemipelvis
mungkin dibarengi dengan cedera vaskuler lokal yang parah.
1) Tipe LCI (impaksi sakral dengan fraktur ramus pubis sisi yang sama
(ipsilateral)—cedera yang stabil.
2) Tipe LCII (impaksi sakral dengan fraktur iliac wing ipsilateral atau
terbukanya SI joint posterior dan fraktur ramus pubis)
3) Tipe LCIII (sama dengan tipe AII dengan tambahan cedera rotasional
eksterna dengan SI joint kontralateral dan fraktur ramus pubis)

c Cedera VS
Cedera VS dibedakan dari pemindahan vertikal hemipelvis. Perpindahan
hemipelvis mungkin dibarengi dengan cedera vaskuler lokal yang parah.
dCedera CM
Pola cedera CM meliputi fraktur pelvis berkekuatan tinggi yang ditimbulkan oleh
kombinasi dua vektor tekanan terpisah.
(Frakes dan Evan, 2004)

D. Mekanisme Injury yang Menyebabkan Trauma Pelvis


Pada saat seseorang mengalami kecelakaan, hantaman, jatuh dari ketinggian,
dsb secara langsung akan menekan tulang pelvis. Tulang tidak mampu meredam
energi yang terlalu besar sehingga terjadi fraktur. Karena fraktur terbentuk, terjadi
pergeseran fragmen tulang sehingga merusak jaringan, otot, vaskuler disekitar
pelvis.
Trauma langsung bisa menembus kulit sehingga mengalami perlukaan maka
terjadi pelepasan mediator inflamasi lalu terjadilah vasodilatasi yang
mengakibatkan peningkatan aliran darah dan permeabelitas kapiler lalu terjadilah
kebocoran interstisial dan terbentuk oedema. Oedema ini akan menekan pembuluh
darah sehingga terjadilah inefektif perfusi jaringan perifer. Penekanan pembuluh
darah perifer menyebabkan pelepasan mediator nyeri (histamine, prostaglandine,
dan bradikinin) yang ditangkap oleh reseptor nyeri perifer lalu terjadi implus ke
otak yang menyebabkan persepsi nyeri oleh penderita. Perlukaan tadi juga
mengakibatkan kerusakan integritas kulit sehingga pertahanan primer tubuh
terhadap infeksi rusak yang dapat menyebabkan port de entry kuman resiko syok
sepsis.
Pada saat trauma langsung pada pelvis juga mengakibatkan deformitas yang
menyebabkan hambatan mobilitas tubuh. Trauma langsung pada pelvis juga
menyebabkan gangguan pada arteri dan vena disekitar sehingga terjadilah
perdarahan yang tidak terkontrol yang mengakibatkan kehilangan volume cairan
dan elektrolit sehingga terjadilah resiko syok hipovolemic.
Jika fraktur parah, tubuh tidak mampu menahan beban energi dari luar, maka
dilakukanlah prosedur pembedahan. Sebelum prsedur pembedahan terkadang
pasien kurang terpapar informasi terkait pembedahan yang akan dilakukan
sehingga pasien mengalami kecemasan.

E. Manifestasi Klinis
1. Fraktur pelvis sering merupkana bagian dari salh satu traumamultiple yang
dapat mengenai organ-organ lain dalam panggul. Keluhan berupa gejala
pembengkakan, deformitas serta perdarahan subkutan sekitar panggul. Pasien
datang dalam keadaan anemidan syok karena perdarahan yang hebat. Terdapat
gangguan fungsi anggota gerak bawah.
2. Pada cedera tipe A pasien tidak mengalami syok berat tetapi merasa nyeri bila
berusaha berjalan. Terdapat nyeri tekan lokal tetapi jarang terdapat kerusakan
pada visera pelvis.
3. Pada tipe cedera B dan C pasien mengalami syok berat, sangat nyeri dan tak
dapat berdiri, pasien mungkin juga tidak dapat kencing. Mungkin terdapat darah
di meatus eksternus. Nyeri tekan dapat bersifat lokal tetapi sering meluas.

F. Penilaian untuk Fraktur Pelvis


Penilaian paling praktis untuk penilaian trauma pada kondisi gawat darurat
dan paling sederhana adalah GCS dan RTS. Keduanya dapat dikerjakan oleh
dokter dan perawat, dan dapat digunakan untuk menentukan tatalaksana dan
memantau perubahan klinis. Namun, sulit untuk menilai GCS pada pasien
terintubasi atau paralisis. Metode kombinasi mengusahakan cara terbaik karena
membutuhkan data yang banyak. Untuk tujuan penelitian, pembelajaran dan
kontrol kualitas, TRISS dapat diterapkan karena dpat memperkirakan probabilitas
kelangsungan hidup dan telah banyak digunakan daripada sistem penilaian lain
dan dinilai cukup efektif karena memasukkan penilaian anatomis, fisiologis, usia,
dan mekanisme cedera. ASCOT dikatakan lebih baik daripada TRISS, namun
perhitungannya kompleks (Carolina, 2015).
1. Penilaian menggunakan GCS
Sistem ini merupakan system penilaian fisiologis pertama dan diperkenalkan
pada tahun 1974 oleh Teasdale dan Jennett. Nilai membuka mata, respons
verbal, dan motorik dijumlah nilai berkisar antara 3 dan 15. Perhitungan GCS
cepat dan sederhana, dan pengulangan perhitungan dapat menginformasikan
perkembangan atau perburukan pasien. GCS adalah metode yang diakui untuk
cedera
kepala. Cedera kepala yang dapat disebabkan oleh gangguan anatomi atau
fisiologi tubuh yang lainnya. GCS diklasifikasikan menjadi 3 yaitu ringan
(GCS 13-15), sedang (GCS 9-12), atau berat (GCS 3-8). Nilai rendah
menggambarkan cedera yang lebih berat dan memiliki risiko mortalitas yang
lebih tinggi.

2. Penilaian menggunakan RTS


Sistem ini paling banyak digunakan sebagai sistem penilaian fisiologis. Sistem
ini menggabungkan nilai GCS dengan laju respirasi dan tekanan darah sistolik.
RTS lebih sensitif daripada TS. Berikut penghitungan TS:
Terdapat dua tipe, untuk triase dan penelitian. RTS triase digunakan sebagai
instrumen tenaga kesehatan pra-rumah sakit untuk membantu memutuskan apakah
pasien trauma harus dibawa ke fasilitas pelayanan primer atau ke pusat trauma.
Untuk tenaga kesehatan rumah sakit, RTS membantu memutuskan tingkat respons
yang diaktifkan. RTS ≤11 berhubungan dengan mortalitas 30% dan harus segera
dibawa ke pusat trauma. RTS penelitian berbeda dari triase dalam hal penggunaan
faktor pemberat dan didesain untuk pengumpulan data retrospektif dibandingkan
penilaian prospektif. Faktor pemberat tersebut berupa komponen respirasi
dikalikan dengan koefisien 0,2908, tekanan darah sistolik dikalikan 0,7326, dan
GCS dikalikan 0,9368. Koefisien diperoleh dari regresi logistik data MTOS
(Major Trauma Outcome Study), dan jika dijumlahkan memberikan nilai berkisar
dari 0 hingga 7,8408, nilai rendah menunjukkan cedera lebih berat.
3. Penilaian menggunakan TRISS
Sistem penilaian kombinasi digunakan untuk mengatasi kelemahan sistem
anatomis dan fisiologis. Nilai trauma dan nilai keparahan cedera digabung
dalam metodologi TRISS (Trauma Score-Injury Severity Score) yang
dikembangkan pada tahun 1987 oleh Champion, dkk. Sistem ini
menggabungkan usia, ISS, mekanisme cedera, dan komponen RTS penelitian
untuk menghitung kemungkinan hidup (Ps/Probability of survival). Ps hanya
gambaran statistik dan bukan prediksi dampak yang akurat, namun dapat
memberikan dasar perhitungan probabilitas hidup.
4. Penilaian menggunakan ASCOT
ASCOT adalah sistem penilaian kombinasi yang menggunakan GCS, AIS,
usia, tekanan darah sistolik, dan laju respirasi untuk memperkirakan
probabilitas hidup. ASCOT diperkenalkan oleh Champion, dkk. pada tahun
1996 untuk mengurangi kelemahan TRISS. ASCOT menggunakan AP
menggantikan ISS dan menggolongkan usia ke dalam bilangan desimal.
ASCOT tampaknya dapat memberikan prediksi kematian yang lebih baik
daripada TRISS, tetapi memiliki kompleksitas perhitungan lebih besar.
5. Penilaian menggunakan KTS
Di negara berkembang KTS paling banyak digunakan. KTS merupakan
penyerdehanaan ISS dan RTS, serta mirip dengan TRIS. KTS dapat digunakan
pada dewasa dan anak-anak. KTS dan RTS dapat memperkiraan kematian.
Cedera berat <11, cedera sedang 11-13, dan cedera ringan 14-16.
Sistem penilaian diatas dapat digunakan untuk prioritaskan masalah apa yang
akan kita berikan tindakan terlebih dahulu untuk mempertahankan kelangsungan
hidup pasien.

G. Komplikasi
1. Komplikasi awal
a. Shock Hipovolemik/traumatik
Fraktur (ekstremitas, vertebra, pelvis, femur) → perdarahan kehilangan
cairan ekstrasel ke jaringan yang rusak → shock hipovolemi.
b. Emboli lemak
c. Tromboemboli vena
Berhubungan dengan penurunan aktivitas/kontraksi otot/bedrest.
d. Infeksi
Fraktur terbuka: kontaminasi infeksi sehingga perlu monitor tanda infeksi
dan terapi antibiotik.
e. Sindrom kompartemen

2. Komplikasi lambat
a. Delayed union
Proses penyembuhan fraktur sangat lambat dari yang diharapkan biasanya
lebih dari 4 bulan. Proses ini berhubungan dengan proses infeksi.
Distraksi/tarikan bagian fragmen tulang.

b. Non union
Proses penyembuhan gagal meskipun sudah diberi pengobatan. Hal ini
disebabkan oleh fibrous union atau pseudoarthrosis.
c. Mal union
Proses penyembuhan terjadi tetapi tidak memuaskan (ada perubahan
bentuk).
d. Nekrosis avaskuler di tulang
Karena suplai darah menurun sehingga menurunkan fungsi tulang.

H. Penatalaksanaan
1. Rekognisi
Menyangkut diagnosa fraktur pada tempat kejadian kecelakaan dan kemudian
di rumah sakit.
a. Riwayat kecelakaan
b. Parah tidaknya luka
c. Diskripsi kejadian oleh pasien
d. Menentukan kemungkinan tulang yang patah
e. Krepitus

2. Reduksi
Reposisi fragmen fraktur sedekat mungkin dengan letak normalnya. Reduksi
terbagi menjadi dua yaitu:
a. Reduksi tertutup: untuk mensejajarkan tulang secara manual dengan traksi
atau gips
b. Reduksi terbuka: dengan metode insisi dibuat dan diluruskan melalui
pembedahan, biasanya melalui internal fiksasi dengan alat misalnya; pin,
plat yang langsung kedalam medula tulang.

3. Retensi
Menyatakan metode-metode yang dilaksanakan untuk mempertahankan
fragmen-fragmen tersebut selama penyembuhan (gips/traksi)

4. Rehabilitasi
Langsung dimulai segera dan sudah dilaksanakan bersamaan dengan
pengobatan fraktur karena sering kali pengaruh cedera dan program pengobatan
hasilnya kurang sempurna (latihan gerak dengan kruck).

Untuk penanganan fraktur, sebagai berikut:


a) Fraktur tipe A
Hanya membutuhkan istirahat total di tempat tidur, dikombinasi denagn
traksi tungkai bawah kurang lebih 4-6 minggu.
b) Fraktur tipe B
Apabila cidera open book kurang dari 2,5cm biasanya dapat diterapi dengan
bed rest total dengan pemasangan korset elastic bermanfaat untuk
mengembalikan ke posisi semula. Apabila lebih dari 2,5 cm dapat dicoba
dengan membaringkan pasien miring dan menekan ala ossis ilii. Selain itu
juga dapat dilakukan fiksasi internal apabila fiksasi eksternal tidak berhasil
dilakukan.
c) Fraktur tipe C
Merupakan fraktur yang paling berbahaya dan paling sulit diterapi. Pasien
harus bedrest total kurang lebih selama 10 minggu. Operasi berbahaya
dilakukan karena bisa terjadi perdarahan masif dan infeksi. Pemakaian traksi
kerangka dan fiksasi luar mungkin lebih aman
I. Pemeriksaan Diagnosis
1. Pemeriksaan rontgen: menentukan lokasi/luasnya fraktur/trauma
2. Kreatinin: trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk ginjal
3. Hitung darah lengkap: Ht mungkin meningkat (hemokonsentrasi) atau menurun
(perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada trauma multiple).
Peningkatan jumlah SDP adalah respons stress normal setelah trauma.
4. CT scan merupakan pemeriksaan diagnostic yang perlu dilakukan untuk
mengkaji injuri intrra abdomen Angiografi, pielografi intravena dan
pemeriksaan lain dapat dilakukan untuk mengkaji derajat trauma pada organ
yang berbeda.

ASUHAN KEPERAWATAN FRAKTUR PELVIS

1. Pengkajian
A. Primary Survey
Primary survey dilakukan melalui beberapa tahapan (Gilbert, 2009):
1. General Impressions
a. Memeriksa kondisi yang mengancam nyawa secara umum
b. memenentukan keluhan utama atau mekanisme cidera
c. menentukan status mental dan orientasi (waktu, tempat, orang)
2. Airway dengan kontrol servikal
Tindakan pertama kali yang harus dilakukan adalah memeriksa
responsivitas pasien dengan mengajak pasien berbicara untuk memastikan
ada atau tidaknya sumbatan jalan nafas. Seorang pasien yang dapat
berbicara dengan jelas maka jalan nafas pasien terbuka. Pasien yang tidak
sadar mungkin memerlukan bantuan airway dan ventilasi. Tulang
belakang leher harus dilindungi selama intubasi endotrakeal jika dicurigai
terjadi cedera pada kepala, leher atau dada. Obstruksi jalan nafas paling
sering disebabkan oleh obstruksi lidah pada kondisi pasien tidak sadar.
Yang perlu diperhatikan dalam pengkajian airway pada pasien antara
lain:
 Kaji kepatenan jalan nafas pasien. Apakah pasien dapat berbicara atau
bernafas dengan bebas?
 Tanda-tanda terjadinya obstruksi jalan nafas pada pasien antara lain:
 Adanya snoring atau gurgling
 Stridor atau suara napas tidak normal
 Agitasi (hipoksia)
 Penggunaan otot bantu pernafasan / paradoxical chest movements
 Sianosis
 Look dan listen bukti adanya masalah pada saluran napas bagian atas
dan potensial penyebab obstruksi :
 Muntahan
 Perdarahan
 Gigi lepas atau hilang
 Gigi palsu
 Trauma wajah
 Jika terjadi obstruksi jalan nafas, maka pastikan jalan nafas pasien
terbuka.
 Lindungi tulang belakang dari gerakan yang tidak perlu pada pasien
yang berisiko untuk mengalami cedera tulang belakang.
 Gunakan berbagai alat bantu untuk mempatenkan jalan nafas pasien
sesuai indikasi :
 Chin lift/jaw thrust
 Lakukan suction (jika tersedia)
 Oropharyngeal airway/nasopharyngeal airway, Laryngeal Mask
Airway
 Lakukan intubasi
3. Breathing dan Ventilasi-Oksigenasi
Pengkajian pada pernafasan dilakukan untuk menilai kepatenan jalan
nafas dan keadekuatan pernafasan pada pasien. Jika pernafasan pada pasien
tidak memadai, maka langkah-langkah yang harus dipertimbangkan adalah:
dekompresi dan drainase tension pneumothorax/haemothorax, closure of
open chest injury dan ventilasi buatan (Wilkinson & Skinner, 2000).
Yang perlu diperhatikan dalam pengkajian breathing pada pasien
antara lain :
 Look, listen dan feel; lakukan penilaian terhadap ventilasi dan
oksigenasi pasien.
 Inspeksi dari tingkat pernapasan sangat penting. Apakah ada tanda-
tanda sebagai berikut : cyanosis, penetrating injury, flail chest,
sucking chest wounds, dan penggunaan otot bantu pernafasan.
 Palpasi untuk adanya : pergeseran trakea, fraktur ruling iga,
subcutaneous emphysema, perkusi berguna untuk diagnosis
haemothorax dan pneumotoraks.
 Auskultasi untuk adanya : suara abnormal pada dada.
 Buka dada pasien dan observasi pergerakan dinding dada pasien jika
perlu.
 Tentukan laju dan tingkat kedalaman nafas pasien; kaji lebih lanjut
mengenai karakter dan kualitas pernafasan pasien.
 Penilaian kembali status mental pasien.
 Dapatkan bacaan pulse oksimetri jika diperlukan
 Pemberian intervensi untuk ventilasi yang tidak adekuat dan / atau
oksigenasi:
 Pemberian terapi oksigen
 Bag-Valve Masker
 Intubasi (endotrakeal atau nasal dengan konfirmasi penempatan yang
benar), jika diindikasikan
 Catatan: defibrilasi tidak boleh ditunda untuk advanced airway
procedures
 Kaji adanya masalah pernapasan yang mengancam jiwa lainnya dan
berikan terapi sesuai kebutuhan.
4. Circulation Dengan Kontrol Perdarahan
Langkah-langkah dalam pengkajian terhadap status sirkulasi pasien,
antara lain :
 Cek nadi dan mulai lakukan CPR jika diperlukan.
 CPR harus terus dilakukan sampai defibrilasi siap untuk digunakan.
 Kontrol perdarahan yang dapat mengancam kehidupan dengan
pemberian penekanan secara langsung.
 Palpasi nadi radial jika diperlukan:
 Menentukan ada atau tidaknya
 Menilai kualitas secara umum (kuat/lemah)
 Identifikasi rate (lambat, normal, atau cepat)
 Regularity
 Kaji kulit untuk melihat adanya tanda-tanda hipoperfusi atau hipoksia
(capillary refill).
 Lakukan treatment terhadap hipoperfusi
5. Disability
Pada primary survey, disability dikaji dengan menggunakan skala AVPU :
 A - alert, yaitu merespon suara dengan tepat, misalnya mematuhi
perintah yang diberikan
 V - vocalises, mungkin tidak sesuai atau mengeluarkan suara yang tidak
bias dimengerti
 P - responds to pain only (harus dinilai semua keempat tungkai jika
ekstremitas awal yang digunakan untuk mengkaji gagal untuk
merespon)
 U - unresponsive to pain, jika pasien tidak merespon baik stimulus nyeri
maupun stimulus verbal.
6. Exposure/Environment
Menanggalkan pakaian pasien dan memeriksa cedera pada pasien. Jika
pasien diduga memiliki cedera leher atau tulang belakang, imobilisasi in-
line penting untuk dilakukan. Lakukan log roll ketika melakukan
pemeriksaan pada punggung pasien. Yang perlu diperhatikan dalam
melakukan pemeriksaan pada pasien adalah mengekspos pasien hanya
selama pemeriksaan eksternal. Setelah semua pemeriksaan telah selesai
dilakukan, tutup pasien dengan selimut hangat dan jaga privasi pasien,
kecuali jika diperlukan pemeriksaan ulang.
Dalam situasi yang diduga telah terjadi mekanisme trauma yang
mengancam jiwa, maka Rapid Trauma Assessment harus segera dilakukan:
 Lakukan pemeriksaan kepala, leher, dan ekstremitas pada pasien
 Perlakukan setiap temuan luka baru yang dapat mengancam nyawa
pasien luka dan mulai melakukan transportasi pada pasien yang
berpotensi tidak stabil atau kritis.
B. Secondary Survey
1. Anamnesa
a. Identitas Klien
Meliputi nama, jenis kelamin, umur, alamat, agama, bahasa, status
perkawinan, pendidikan, pekerjaan, no registrasi, tanggal MRS,
diagnosa medis.
b. Keluhan Utama
Pada umumnya keluhan utama pada fraktur adalah nyeri. Nyeri bisa
akut maupun kronik, tergantung lamanya serangan.
c. Riwayat Penyakit Sekarang
Pada umumnya pasien mengeluh nyeri saat bergerak, adanya deformitas
atau gerakan abnormal setelah terjadi trauma langsung yang mengenai
tulang.
d. Riwayat Penyakit Dahulu
Apakah pasien pernah mengalami fraktur sebelumnya, apakah klien
mempunyai penyakit tulang seperti osteoporosis, kanker tulang, atau
penyakit penyerta lainnya. Penyakit tulang merupakan faktor resiko
terjadinya fratur pelvis klien dengan kecelakaan.
e. Riwayat Penyakit Keluarga
Apakah keluarga ada yang mengalami hal serupa dengan pasien, dan
apakah keluarga memiliki penyakit tulang / penyakit lainnya yang
diturunkan.
f. Riwayat Psikososial
Merupakan respon emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya dan
peran klien dalam keluarga dan masyarakat serta respon dan
pengaruhnya dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam keluarga maupun
masyarakat.
g. Riwayat AMPLE
A : Alergi (adakah alergi pada pasien, seperti obat-obatan, plester,
makanan)
M: Medikasi/obat-obatan (obat-obatan yang diminum seperti sedang
menjalani pengobatan hipertensi, kencing manis, jantung, dosis, atau
penyalahgunaan obat
P : Pertinent medical history (riwayat medis pasien seperti penyakit
yang pernah diderita, obatnya apa, berapa dosisnya, penggunaan obat-
obatan herbal)
L: Last meal (obat atau makanan yang baru saja dikonsumsi,
dikonsumsi berapa jam sebelum kejadian, selain itu juga periode
menstruasi termasuk dalam komponen ini)
E: Events, hal-hal yang bersangkutan dengan sebab cedera (kejadian
yang
menyebabkan adanya keluhan utama)
(Emergency Nursing Association, 2007)
2. Pemeriksaan fisik
Meliputi inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi pada :
a. Kulit Kepala
b. Wajah
c. Vertebra Servikalis dan Leher
d. Thoraks
e. Abdomen
1) Inspeksi : abdomen bagian depan dan belakang untuk melihat adanya
trauma tajam atau tumpul serta lihat apakah ada perdarahan
2) Auskultasi : auskultasi apabila adanya penurunan bising usus
3) Palpasi : untuk mengetahui adanya nyeri tekan, defans muskuler,
nyeri lepas yang jelas
4) Perkusi : untuk mengetahui adanya nyeri ketok, timpani akibat
dilatasi lambung akut atau redup bila ada hemoperitoneum.
5) Bila ragu akan adanya perdarahan intra abdominal dapat dilakukan
pemeriksaan DPL (diagnostic peritoneal lavage)
f. Pelvis
Cedera pelvis yang berat akan tampak pada pemeriksaan fisik, yaitu
pelvis menjadi tidak stabil. Pada cidera berat, kemungkinan penderita
akan masuk dalam keadaan syok yang harus segera diatasi. Bila ada
indikasi pasang PASG/ gurita untuk mengontrol perdarahan dari fraktur
pelvis.
Pelvis dan perineum diperiksa akan adanya luka, laserasi , ruam,
lesi, edema, atau kontusio, hematoma, dan perdarahan uretra. Colok
dubur harus dilakukan sebelum memasang kateter uretra. Harus diteliti
akan kemungkinan adanya darah dari lumen rectum, prostat letak tinggi,
adanya fraktur pelvis, utuh tidaknya rectum dan tonus musculo sfinkter
ani. Pada wanita, pemeriksaan colok vagina dapat menentukan adanya
darah dalam vagina atau laserasi, jika terdapat perdarahan vagina
dicatat, karakter dan jumlah kehilangan darah harus dilaporkan (pada
tampon yang penuh memegang 20 sampai 30 mL darah). Juga harus
dilakuakn tes kehamilan pada semua wanita usia subur. Permasalahan
yang ada adalah ketika terjadi kerusakan uretra pada wanita, walaupun
jarang dapat terjadi pada fraktur pelvis dan straddle injury. Bila terjadi,
kelainan ini sulit dikenali, jika pasien hamil, denyut jantung janin
(pertama kali mendengar dengan Doppler ultrasonografi pada sekitar 10
sampai 12 kehamilan minggu) yang dinilai untuk frekuensi, lokasi, dan
tempat. Pasien dengan keluhan kemih harus ditanya tentang rasa sakit
atau terbakar dengan buang air kecil, frekuensi, hematuria, kencing
berkurang, sebuah sampel urin harus diperoleh untuk analisis.
g. Ekstremitas
Pemeriksaan dilakukan dengan look-feel-move. Pada saat inspeksi,
jangan lupa untuk memeriksa adanya luka dekat daerah fraktur terbuka,
pada saat palpasi jangan lupa untuk memeriksa denyut nadidistal dari
fraktur dan jangan dipaksakan untuk bergerak apabila sudah jelas
mengalmi fraktur.
C. Focused Assessment
Focused assessment adalah tahap pengkajian pada area keperawatan yang
dilakukan setelah primary dan secondary survey. Pengkajian ini dilakukan
untuk melengkapi data secondary sesuai masalh yang ditemukan atau tempat
dimana injury ditemukan. Yang paling banyak dilakukan dalam tahapan ini
adalah beberapa pemeriksaan penunjang diagnostik atau bahkan dilakukan
pemeriksaan ulang dengan tujuan segera dapat dilakukan tindakan definitif

D. Reassessment
Mengkaji ulang untuk melengkapi primary survey

Komponen Pertimbangan
Airway Pastikan bahwa peralatan airway : Oro Pharyngeal Airway,
Laryngeal Mask Airway , maupun Endotracheal Tube (salah
satu dari peralatan airway) tetap efektif untuk menjamin
kelancaran jalan napas. Pertimbangkan penggunaaan peralatan
dengan manfaat yang optimal dengan risiko yang minimal.
Breathing Pastikan oksigenasi sesuai dengan kebutuhan pasien :
 Pemeriksaan definitive rongga dada dengan rontgen foto
thoraks, untuk meyakinkan ada tidaknya masalah seperti
Tension pneumothoraks, hematotoraks atau trauma pelvis
yang bisa mengakibatkan gangguan oksigenasi tidak adekuat
 Penggunaan ventilator mekanik
Circulation Pastikan bahwa dukungan sirkulasi menjamin perfusi jaringan
khususnya organ vital tetap terjaga, hemodinamik tetap
termonitor serta menjamin tidak terjadi over hidrasi pada saat
penanganan resusitasicairan.
 Pemasangan cateter vena central
 Pemeriksaan analisa gas darah
 Balance cairan
 Pemasangan kateter urin (jika memungkinkan)
Disability Setelah pemeriksaan GCS pada primary survey, perlu didukung
dengan :
 Pemeriksaan spesifik neurologic yang lain seperti reflex
patologis, deficit neurologi, pemeriksaan persepsi sensori
dan pemeriksaan yang lainnya.
 CT scan kepala, atau MRI
Exposure Konfirmasi hasil data primary survey dengan
 Rontgen foto paada daerah yang mungkin dicurigai trauma
atau fraktu
 USG abdomen atau pelvis
2. Diagnosa

Pada kejadian trauma pelvis hebat biasanya seluruh asuhan keperawatan


dilakukan dalam waktu singkat sehingga pendokumentasian dilakukan pada akhir
setelah melakukan tindakan dan evaluasi terhadap pasien.
Berikut NANDA NON NIC klien dengan trauma pelvis ringan:

Diagnosa NOC NIC


Resiko Kekurangan Keseimbangan cairan Pencegahan pendarahan
Volume Cairan b.d
Indikator: Aktivitas:
perdarahan
- Tekanan darah : DBH a. Monitor kemungkinan
- Tekanan arteri rata-rata :
terjadinya perdarahan pada pasien
DBN
b. Catat kadar HB dan Ht setelah
- Tekanan vena sentral :
pasien mengalami kehilangan banyak
DBH
- Kesimbangan intake & darah
output c. Pantau gejala dan tanda
- Rasa haus abnormal (-)
timbulnya perdarahan yang
- Perubahan suara napas
berkelanjutan (cek sekresi pasien baik
(-)
- Elektrolit serum : DBN yang terlihat maupun yang tidak
- Hemoglobin : DBN
disadari perawat)
- Hematokrit : DBN
d. Pantau factor koagulasi,
Kontrol Resiko termasuk protrombin (Pt), waktu paruh
Indikator: tromboplastin (PTT), fibrinogen,
- Pantau faktor resiko degradasi fibrin, dan kadar platelet
lingkungan dalam darah)
- Pantau faktor resiko
e. Pantau tanda-tanda vital,
prilaku personal
osmotic, termasuk TD
- Atur strategi kontrol
f. Atur pasien agar pasien tetap
resiko sesuai kebutuhan
- Gunakan sistem bed rest juka masih ada indikasi
pendukung personal pendarahan
untuk mengontrol resiko. g. Atur kepatenan/ kualitas produk
- Pantau perubahan status
/ alat yang berhubungan dengan
kesehatan.
perdarahan
h. Lindungai pasien dari hal-hal
yang menimbulkan trauma dan bias
menimbulkan perdarahan
Pengurangan pendarahan
Aktivitas:
a. Identifikasi etiologi perdarahan
b. Monitor pasien secara ketat akan
perdarahan
c. Monitor jumlah dan karakter
(nature) kehilangan darah pasien
d. Catat kadar Hb/Ht sebelum dan
setelah kehilanga darah sebagai indikasi
e. Monitor TD dan paameter
hemodinamik, jika tersedia (contoh:
tekanan vena sentral dan kapiler
paru/tekanan arteri temporalis)
f. Monitor status/keadaan cairan
termasuk intake dan output
g. Kaji koagulasi, termasuk
prothrombin time (PT), partial
thomboplastin time (PTT), fibrinogen,
degradasi fibrin/split products, dan
jumlah platelet jika diperlukan
Pengontrolan perdarahan
Aktivitas:
- Mengenal penyebab perdarahan
- Monitor jumlah dan sifat darah yang
hilang
- Catat nilai hemoglobin / hematokrit
sebelum dan sesudah kehilangan darah
sesuai indikasi
- Evaluasi respon psikologi pasien
terhadap perdarahan dan persepsi
terhadap peristiwa yang terjadi
- Monitor tanda dan gejala perdarahan
persisten
- Monitor fungsi neurologi
Manajemen Cairan
Aktivitas:
- Monitor status hidrasi (seperti
:kelebapan mukosa membrane, nadi)
- Monitor TTV
- Monitor respon pasien untuk
meresepkan terapi elektrolit
- Konsultasi dengan dokter, jika gejala
dan tanda kehilangan cairan makin
buruk
- Kaji ketersediaan produk darah untuk
trsanfusi
- Berikan resusitasi cairan IV

Nyeri Akut b.d Kontrol nyeri Manajemen nyeri


Cidera Pelvic Indikator: Aktivitas:
- Menggunakan buku
- Lakukan penilaian nyeri secara
harian untuk memantau
komprehensif dimulai dari lokasi,
gejala dari waktu ke
karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas,
waktu
- Menggunakan langkah- intensitas dan penyebab.

langkah pencegahan - Kaji ketidaknyamanan secara

gejala nyeri nonverbal, terutama untuk pasien yang


- Menggunakan langkah- tidak bisa mengkomunikasikannya
langkah bantuan non secara efektif
analgesik - Pastikan pasien mendapatkan
- Menggunakan analgesik
perawatan dengan analgesic
seperti yang
- Tentukan dampak nyeri terhadap
direkomendasikan
- Mengenali gejala nyeri kehidupan sehari-hari (tidur, nafsu
- Laporan nyeri dikontrol makan, aktivitas, kesadaran, mood,

Tingkat nyeri hubungan sosial, performance kerja dan


Indikator: melakukan tanggung jawab sehari-hari)
- Klien melaporkan nyeri
- Kontrol faktor lingkungan yang dapat
yang dirasakan telah
menimbulkan ketidaknyamanan pada
berkurang atau
pasien (suhu ruangan, pencahayaan,
menghilang
- Panjangnya episode keributan)

nyeri berkurang - Pertimbangkan tipe dan sumber nyeri


- Klien tidak lagi ketika memilih metoda mengurangi
mengekpresikan wajah nyeri
nyeri - Menyediakan analgesic yang
- Klien tidak merasa
dibutuhkan dalam mengatasi nyeri
gelisah lagi
- TTV dalm batas normal - Gunakan pendekatan dari berbagai
- Nafsu makan klien disiplin ilmu dalam manajemen nyeri
diharapkan meningkat. - Monitor kepuasan pasien terhadap
manajemen nyeri ynag diberikan dalam
interval yang ditetapkan.
Pemberian analgesic
Aktivitas:
- Menentukan lokasi , karakteristik,
mutu, dan intensitas nyeri sebelum
mengobati pasien
- Periksa order/pesanan medis untuk
obat, dosis, dan frekuensi yang
ditentukan analgesik
- Cek riwayat alergi obat
- Tentukan analgesik yang cocok, rute
pemberian dan dosis optimal.
- Tentukan jenis analgesik yang
digunakan (narkotik, non narkotik atau
NSAID) berdasarkan tipe dan tingkat
nyeri.
- Monitor TTV sebelum dan sesudah
pemberian obat narkotik dengan dosis
pertama atau jika ada catatan luar biasa.
- Cek pemberian analgesik selama 24
jam untuk mencegah terjadinya puncak
nyeri tanpa rasa sakit, terutama dengan
nyeri yang menjengkelkan
- Dokumentasikan respon pasien tentang
analgesik, catat efek yang merugikan
- Kolaborasikan dengan dokter jika
terjadi perubahan obat, dosis, rute
pemberian, atau interval, serta membuat
rekomendasi spesifik berdasar pada
prinsip equianalgesic.

Resiko tinggi Kontrol Risiko Kontrol Infeksi


infeksi b.d luka
Indikator: Aktivitas :
terbuka
 Mengetahui faktor risiko a. Bersikan lingkungan secara tepat
 Memonitor faktor risiko setelah digunakan oleh pasien
lingkungan b. Ganti peralatan pasien setiap selesai
 Mengembangkan strategi
pengendalian risiko yang tindakan
c. Ajarkan cuci tangan untuk menjaga
efektif
 Menghindari paparan kesehatan individu
d. Anjurkan pengunjung untuk mencuci
ancaman kesehatan
 Memantau perubahan tangan sebelum dan setelah
status kesehatan meninggalkan ruangan pasien
e. Cuci tangan sebelum dan sesudah
kontak dengan pasien
Kontrol Risiko : Proses f. Lakukan universal precautions
Infeksi g. Gunakan sarung tangan steril
h. Lakukan perawatan aseptic pada semua
Indikator:
jalur IV
 Mencari validasi risiko i. Lakukan teknik perawatan luka yang
infeksi yang dirasakan tepat
 Memonitor lingkungan j. Tingkatkan asupan nutrisi
untuk faktor yang terkait k. Anjurkan asupan cairan
l. Anjurkan istirahat
dengan risiko infeksi m. Berikan terapi antibiotik
 Mempertahankan
lingkungan yang bersih Infection Protection
 Menggunakan Aktivitas :
kewaspadaan universal a. Monitor tanda dan gejala infeksi
 Memantau perubahan sistemik dan lokal
status kesehatan umum b. Monitor kerentanan terhadap infeksi
c. Monitor angka granulosit, WBC dan
hasil yang berbeda
d. Partahankan teknik aspesis pada pasien
yang beresiko
e. Berikan perawatan kulit yang tepat pada
area edematous
f. Inspeksi kulit dan membran mukosa
terhadap kemerahan, panas, atau
drainase
g. Ispeksi kondisi luka
h. Dukungan masukkan nutrisi yang cukup
i. Dukungan masukan cairan
j. Dukungan istirahat
k. Instruksikan pasien untuk minum
antibiotik sesuai resep

Perawatan luka
Aktivitas :
a. Monitor karakteristik luka meliputi
drainase, warna, ukuran dan bau
b. Bersihkan luka dengan NaCl (normal
saline)
c. Pertahankan teknik steril dalam
perawatan luka
d. Inspeksi luka setiap melakukan
pergantian dreesing
e. Bandingkan dan laporkan adanya
perubahan pada luka secara reguler
f. Atur posisi untuk mencegah tekanan
pada daerah luka
g. Tingkatkan intake cairan
h. Ajarkan pada pasien/anggota keluarga
tentang prosedur perawatan luka
i. Ajarkan pada pasien/anggota keluarga
tentang tanda dan gejala infeksi
j. Dokumentasikan lokasi luka, ukuran, dan
penampakannya.

3. Implementasi
Merupakan serangkain kegiatan yang dilakukan untuk membantu klien dari
masalah status kesehatan yang dihadapi ke status kesehatan yang lebih baik yang
menggambarkan kriteria hasil yang diharapkan.

4. Evaluasi
Tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang menandakan
seberapa jauh diagnose keperawatan rencana tindakan, dan pelaksanaanya sudah
berhasil dicapai. Perawat dapat memonitor segala sesuatu yang terjadi selama
tahap pengkjaian, diagnose, perencanaan, dan pelaksanaan tindakan.
DAFTAR PUSTAKA

Chris, Jack. 2009. Assessment and Management of Trauma. University of Southern


California: Division of Trauma and Surgical Critical Care.
Emergency Nurses Association (2007). Sheehy`s manual of emergency care 6th
edition. St. Louis Missouri : Elsevier Mosby.
Frakes dan Evan. 2004. Major Pelvic Fractures. Journal of Critical Care Nurse
Gilbert, Gregory., D’Souza, Peter., Pletz, Barbara. (2009). Patient assessment routine
medical care primary and secondary survey. San Mateo County EMS Agency.
Musliha. (2010). Keperawatan Gawat Darurat. Yogyakarta : Nuha Medika.
Muttaqin, Arif. (2008). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem
Muskuloskeletal. Jakarta : EGC.
Purwadianto, Agus, dkk. (2000). Kedaruratan Medik. Jakarta Barat : Binarupa
Aksara.

Rabe, Thomas. 2003. Buku Saku Ilmu Kandungan. Jakarta: Hipokrates

Salim, Carolina. 2015. Sistem Penilaian Trauma. CDK-232/ vol. 42 no. 9, th,2015

Syaifuddin. 2014. Anatomi Fisiologi Ed. 4. Jakarta: EGC

Thomas, Mark A. (2011). Terapi dan rehabilitasi Fraktur. Jakarta : EGC.