Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK KIMIA

PERCOBAAN 2

EKSTRAKSI MINYAK ATSIRI SEREH DENGAN DISTILASI UAP

Nama : Fahdly Awaluddin


NIM : 105117017
Kelompok :1
Hari/Tanggal Percobaan : Rabu/31 Oktober 2018
Hari/Tanggal Pengumpulan : Rabu/ 14 Oktober 2018
Asisten :

LABORATORIUM KIMIA ORGANIK


PROGRAM STUDI KIMIA
FAKULTAS SAINS DAN KOMPUTER
UNIVERSITAS PERTAMINA
2018
I. TUJUAN PERCOBAAN

Dalam Percobaan Rekristalisasi naftalena ini, ada pun tujuan :

1. Melakukan uji KLT pada minyak atsiri


2. Menghitung hasil rendemen minyak pada sereh
3. Merangkai peralatan distilasi uap

II. TEORI DASAR

Tanaman sereh Jawa tumbuh pada berbagai tanah yang memiliki kesuburan cukup.
Tanah jenis geluh pasiran pada ketinggian 180-450 m di atas permukaan laut, iklim lembab
dengan curah hujan teratur menghasilkan minyak yang berkualitas tinggi. Hasil minyak sereh
yang paling tinggi diperoleh dari tanaman yang ditanam pada tanah geluh pasiran dengan pH
6,00 hingga 6,50, Sedangkan tanah dengan pH lebih rendah tidak cocok untuk tanaman sereh
(Sastrohamidjojo, 2004).
Kandungan kimia yang terdapat di dalam tanaman sereh antara lain, sitronelal, geraniol,
sitronelol dan sisa hasil destilasi mengandung sekitar 2 % nitrogen yang dapat digunakan
sebagai pupuk (Sastrohamidjojo, 2004). Termasuk suku rumput rumputan, di budayakan untuk
di ambil daunnya sebagai bumbu masak,atau disuling di ambil minyaknya (Harris, 1990).
Minyak atsiri adalah zat berbau yang terkandung dalam tanaman. Minyak ini disebut
juga minyak menguap, minyak eteris, minyak esensial karena pada suhu biasa (suhu kamar)
mudah menguap di udara terbuka. Istilah esential dipakai karena minyak atsiri mewakili bau
dari tanaman asalnya. Dalam keadaan segar dan murni tanpa pencemaran, minyak atsiri
umumnya tidak berwarna. Namun, pada penyimpanan lama minyak atsiri dapat teroksidasi dan
membentuk resin serta warnanya berubah menjadi lebih tua (Gunawan, 2010).
Minyak atsiri, minyak mudah menguap atau minyak terbang merupakan campuran dari
senyawa yang berwujud cairan atau padatan yang memiliki komposisi maupun titik didih yang
beragam. Penyulingan dapat di defenisikan sebagai proses pemisahan komponen-komponen
suatu campuran yang terdiri dari atas dua cairan atau lebih berdasarkan perbedaan tekanan uap
mereka atau berdasarkan perbedaan titik didih komponen-komponen senyawa tersebut
(Sastrohamidjojo, 2004).
Minyak atsiri dihasilkan dari bagian jaringan tanaman tertentu seperti akar, batang,
kulit, daun, bunga, buah, atau biji. Sifat minyak atsiri yang menonjol antara lain mudah
menguap pada suhu kamar, mempunyai rasa getir, berbau wangi sesuai dengan aroma tanaman
yang menghasilkannya, dan umumnya larut dalam pelarut organik (Lutony, 2002).
Distilasi Uap Adalah teknik pemisahan zat cair yang tidak larut dalam air dan titik
didihnya cukup tinggi. Distilasi uap dapat menguapkan senyawa-senyawa ini dengan suhu
mendekati 100 °C dalam tekanan atmosfer dengan menggunakan uap atau air mendidih. Sifat
yang fundamental dari distilasi uap adalah dapat mendistilasi campuran senyawa di bawah titik
didih dari masing-masing senyawa campurannya. Selain itu distilasi uap dapat digunakan untuk
campuran yang tidak larut dalam air di semua temperatur, tapi dapat didistilasi dengan air.
Aplikasi dari distilasi uap adalah untuk mengekstrak beberapa produk alam seperti minyak
eucalyptus dari eucalyptus, minyak sitrus dari lemon atau jeruk, dan untuk ekstraksi minyak
parfum dari tumbuhan. Prinsip kerja dari destilasi uap yaitu memisahkan suatu campuran yang
memiliki titik didih yang tinggi dengan cara mengalirkan uap kedalamnya. Dimana senyawa
yang memiliki titik didih yang tinggi sebelum mencapai titik didihnya dimurnikan dengan
menggunakan uap atau air mendidih
III. ALAT DAN BAHAN

Alat Jumlah Bahan Jumlah


Neraca Analitik 1 buah Sereh Secukupnya
Labu distilasi uap 1 buah Air 1000 mL
Labu bundar 1 buah n-heksana
Corong pisah 1 buah Eluen (n-heksan dan etil asetat) 10 mL
Cawan penguapan 1 buah
Gelas ukur 1 buah
Gelas piala kecil 1 buah
Plat KLT 5cm x 3cm 1 buah
Hot plate 1 buah
Gelas kimia 100 mL 1 buah
Statif 1 buah
Penjepit 3 buah

IV. CARA KERJA

4.1 distilasi
• ditimbang 20 gram
potongan • dimasukan dalam labu distilasi
sereh

• diletakan diatas labu bundar 500 mL


labu
• di isikan air 300 mL(panas)
distilasi
uap

• disusun
rangkaian • diapanaskan T=200◦C
distilator • selama 2 jam dari air mendidih

• ditampung
• diektraksi dengan corong pisah pelarut n-heksan (50-50 mL distilat )
distilat • duplo

• diambil
• diuapkan n-heksan dengan distilasi sederhana,hindari keringnya labu bundar
Fasa n-
heksan • disisakan 5-10 mL

• dipindahkan darilabu bundar


• ke cawan penguapan
• sebelumnya menimbang cawan penguapan kering
Residu
• n-heksan diuapkan dengan hotplate (panas <100◦C) hingga sisa minyak sereh

• ditimbang dan dicatat masanya


• dipindahkan dalam vial
minyak • ditutup rapat dan diberi label
sereh • selesai

4.2 uji KLT


kertas • dilakukan uji KLT
KLT
minya
k • ditotolkan pada suatu plat KLT
sereh • di letakan dalam larutan Eluen (n-heksan : etil asetat)
perco
baan
V. DATA PENGAMATAN

Table 5.1 Data hasil praktikum


Tahap Data Pengamatan
Daun sereh yang terkena uap Daun sereh menjadi bewarna tua
Air di dalam labu bundar Menjadi bewarna agak kuning-coklat
Pemanasan 3 jam Distilat terkumpul dalam erlenmenyer
Distilat + larutan n-heksana Terbentuk 2 fasa , n-heksan diatas dan air
dibawah
Fasa n-heksan diuapkan n-heksan menguap, meninggalkan minyat
atsiri
Minyat atsiri ditotolkan pada KLT lalu Setelah disinari UV terlihat noda nya
dicelupkan pada eluen

Table 5.2 data kuantitas hasil praktikum

Zat Massa(gram)
Masa daun sereh 29,4814
Massa botol vial(M2) 9,5502
Massa botol vial + massa 9,6027
minyak atsiri (M1)
Massa minyak atsiri 0,0525
M1-M2

Gambar 1 penyinaran KLT yang telah ditotolkan minyak atsiri hasil percobaan(spl) dan minyak atsiri standar(std) yang telah
di celupkan eluen
Gambar 2 hasil gambar 1 di tandai pensil

Gambar 3 pengukuran noda KLT

VI. PEMBAHASAN

4.1 perhitungan
Data

Berat sampel awal daun sereh: 29,9814 gram Warna Awal: Tidak berwarna

Volume awal : ± 300 mL air Bau : Sereh menyengat

Bentuk awal : potongan daun sereh kering ±1cm2

Bentuk setelah ekstraksi dalam corong pisah : terbentuk 2 fase dimana fase atas adalah
fase minyak (organik/n-heksan) dan fase bawah adalah air

Ρn-heksasa = 0,66 gram/cm3

Zat Massa(gram)
Masa daun sereh 29,9814
Massa botol vial(M2) 9,5502
Massa botol vial + massa 9,6027
minyak atsiri (M1)
Massa minyak atsiri 0,0525
M1-M2
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑚𝑖𝑛𝑦𝑎𝑘 𝑎𝑡𝑠𝑖𝑟𝑖 0,0525
% Rendemen (w/w) = x 100% = X 100 % = 0,1751 %
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 29,9814

Perhitungan Rf

𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑔𝑒𝑟𝑎𝑘 𝑧𝑎𝑡 𝑡𝑒𝑟𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 2,7 𝑐𝑚


Rfstandar = = = 0,675
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑔𝑒𝑟𝑎𝑘 𝑒𝑙𝑢𝑒𝑛 4 𝑐𝑚

𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑔𝑒𝑟𝑎𝑘 𝑧𝑎𝑡 𝑡𝑒𝑟𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 3,3 𝑐𝑚


Rfsample = = = 0,825
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑔𝑒𝑟𝑎𝑘 𝑒𝑙𝑢𝑒𝑛 4 𝑐𝑚

Rfstandar−Rfsample 0,675−0,825
% galat = | | 𝑥 100% = | | x 100% = 22,22 %
Rfstandar 0,675

4.2 pembahasan

Pada percobaan 2 (Ekstaksi Minyak Atsiri sereh dengan Distilasi Uap) kali ini
dilakukan ekstraksi minyak atsiri dari daun sereh (Cymbopogon winteranius) menggunakan
cara destilasi uap air dan identifikasi minyak atsiri hasil distilasi menggunakan kromatografi
lapis tipis (KLT). Cara destilasi merupakan cara yang populer untuk memproduksi minyak
atsiri.
Sebelum daun sereh tersebut akan di suling atau di destilasi, daun sereh dipotong-
potong terlebih dahulu menjadi potongan-potongan kecil. Proses pemotongan ini bertujuan
untuk memudahkan penguapan minyak atsiri dari daun sereh, Besar ukuran partikel hasil
pemotongan bervariasai, tergantung dari jenis bahan itu sendiri.Selama proses pemotongan
akan terjadi penguapan komponen minyak bertitik didih rendah, dan jika dibiarkan beberapa
menit akan terjadi penyusutan bahan.Akibat penguapan minyak. Kelemahan bahan yang
dipotong/dicacah karena jumlah total minyak berkurang, akibat penguapan selama proses
pemotongan dan komposisi minyak akan berubah, dan akan mempengaruhi bau.
Pada pemisahan minyak digunakan pelarut air karena air memiliki sifat
kepolaran yang berbeda dengan minyak atsiri sehingga minyak atsiri akan mudah dipisahkan
dari destilat. Air dan minyak atsiri tidak saling melarutkan, selain itu titik didih air lebih kecil
dari minyak atsiri sehingga uap air akan mendorong minyak sereh untuk lepas dari pori-pori
sereh dan menghasilkan destilat.Proses tersebut dilakukan terhadap minyak atsiri yang tidak
larut dalam air.
Rangkaian distilasi disususn seperti gambar dibawah :

Gambar 1 rangkain distilasi

Sereh yang di distilasi sebanyak 29,9814 gram, dicuci dan dipotong kecil-kecil untuk
memperluas permukaan sereh yang akan di distilasi. Dimasukkan dalam labu distilasi uap dan
ditambah pelarut pada labu bundar yaitu air ±300 ml. hotplate dinyalakan dan ditunggu sampai
wadah penampung hasil distilasi (labu erlenmenyer) terisi . Pada pelarut digunakan air karena
titik didih air rendah. Destilasi dilakukan pada suhu 100˚C (suhu air mendidih) dan selama
kurang lebih 3 jam.
Pada proses destilasi, saat pemanasan cairan ditambahkan minyak silicon untuk
mencegah pendidihan yang mendadak (bumping), panas terserap/tersimpan dalam cairan
minyak silicon, dan agar pemanasan merata pada labu bundar.
Cara penyulingan dalam metode ini menggunakan uap air (hidrodestilasi) ini
memisahkan minyak atsiri dari tanaman aromatik (sereh) dengan jalan memasukkannya ke
dalam labu distilasi , kemudian ditambahkan sejumlah air pada labu bundar dan dididihkan,
atau uap panas dialirkan ke dalam alat penyuling tersebut. Campuran uap yang terdiri dari uap
air dan uap minyak selanjutnya akan mengalir menuju kondensor untuk dicairkan kembali
dengan sistem pendinginan dari luar(menggunakan sirkulasi air yang dipompa). Kondensat
yang keluar dari kondensor ditampung dalam labu erlenmenyer.
Pemanasan awal berfungsi agar air terserap kedalam pori-pori sereh yang dapat
mengeluarkan minyak atsiri karena adanya tekanan uap. Setelah dipanasakan hasil distilat
tertampung pada labu erlenmenyer, distilat masih berupa campuran fasa minyak atsiri dan air,
oleh karena itu perlu dipisahkan, pemisahan dilakukan dengan cara menambahakn n-hekasana
sehingga fasa non-polar(minyak atsiri) akan terikat oleh n-heksan, sehingga batas fasa semakin
jelas, ekstraksi atau pemisahan dilakukan di di dalam corong pisah, fasa air aka nada dibawah
dan fasa minyak atsiri akan berada diatas, fasa air di keluarkan terlebih dahulu, lalu dibuang,
selanjutnya fasa minyak atsiri ditampung, pada cawan penguapan, minyak pada cawan
penguapan kemudian diletakan pada hotplate, dan di set pada suhu 68◦C, agar n-heksana
menguap dan meninggalkan minyak atsiri.
Pengujian minyak atsiri menggunakan metode kromatografi lapis tipis (KLT)
menggunaka n-heksana : etil asetat sebagai Eluen, dan digunakan Minyak atsiri standar
sebagai pembanding minyak atsiri hasil percobaan. Minyak atsiri hasil percobaan dan
pembanding ditotolkan 5 totolan pada KLT kemudian dimasukkan dalam gelas ukur yang telah
di isikan Eluen. Tunggu sampai fase gerak naik. Setelah mencapai batas, ambil dengan pinset,
angin-anginnya sebentar supaya eluen kering, lalu di uji dibawah sinau UV 366, maka akan
terlihat jarak noda dari minyak atsiri hasil percobaan dan minyak atsiri standar.

VII. KESIMPULAN

1. ekstraksi minyak atsiri pada sereh telah dilakukan dengan distilasi uap dan pemisahan
fasa
2. uji minyak atsiri telah dilakukan dengan metode KLT, dengan nilai Rfstandar = 0,675
dan Rfsample = 0,825 , sehingga galat Rf sebesar 22,22 %
3. persen rendemen(berar sereh : berat minyak atsiri) diperoleh sebesar 0,1751 %
DAFTAR PUSTAKA :

Gunawan, D dan Mulyani, S., 2010, Ilmu Obat Alam (Farmakognosi) Jilid 1, Penebar
Swadaya, Jakarta.
Lutony, T.L, dan Yeyet Rahmayati. (2002). Produksi dan Perdagangan Minyak Atsiri.
Jakarta: Penerbit Penebar Swadaya. Hal 1, 22, 65, 105, 109, 112-113, 32 -33.
Harris, R., 1990. Tanaman Minyak Atsiri. Penebar Swadaya, Jakarta.
Sastrohamidjojo, H. (2004), Kimia Minyak Atsiri. Penerbit Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta. Hal.1, 3, 66 – 67.
Yusti,M R, (2018), Laporan Praktikum Fitokimia : Percobaan Ke 4 Isolasi Dan Identifikasi
Minyak Atsiri Dari Daun Sereh ( Cymbopogon Winterinus). Yogyakarta :
Laboratorium Fitokimia Akademi Farmasi Indonesia.
Yati, A, Distilasi Uap dan Distilasi Vacum.
https://www.academia.edu/22215638/Distilasi_uap_dan_destilasi_vakum, diakses pada
tanggal; 11 November 2018 jam 23:22

LAMPIRAN

Anda mungkin juga menyukai