Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN EKSPERIMEN KE 7

CEPAT RAMBAT GELOMBANG BUNYI DIUDARA

diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Eksperimen Fisika I

Dosen pengampu : Dr. Moh. Arifin, M.Sc

Oleh:

Yani Herliani (1506518)

Teman sekelompok:

Asri Herlianti Wulandari Putri (1507492)

LABORATORIUM FISIKA LANJUT


DEPARTEMEN PENDIDIKAN FISIKA
FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2018
Halaman Pengesahan

Laporan yang berjudul : Cepat Rambat Gelombang Bunyi Diudara

Disusun oleh : Yani Herliani

NIM : 1506518

Program studi : Pendidikan Fisika

Fakultas : FPMIPA

Mata kuliah : Eksperimen Fisika 1

Dilaksanakan pada : Senin, 5 maret 2018/ 14.40 - selesai

Bandung, 24 Maret 2018

Menyetujui oleh :

Aslab 1 Aslab 2 Aslab 3

Dosen pengampu

Dr. Moh. Arifin, M.S


A. Judul Eksperimen
Cepat rambat gelombang bunyi diudara
B. Tujuan Eksperimen
Menentukan cepat rambat bunyi diudara pada temperatur kamar dengan
menggunakan osiloskop.
C. Landasan Teori
1. Pengertian Gelombang Bunyi

Gelombang bunyi merupakan gelombang longitudinal yang terjadi


karena adanya rapatan dan regangan dalam medium gas, cair atau padat.
Gelombang bunyi dihasilkan ketika ada sebuah benda yang bergetar dan
menyebabkan gangguan kerapatan medium melalui interaksi molekul-
molekulnya yang hanya bergetar ke depan dan ke belakang disekitar posisi
keseimbangan. Didalam gas, kerapatan dan tekanan saling berkaitan. Oleh
karena itu, gelombang bunyi dalam gas seperti udara dapat dipandang
sebagai gelombang kerapatan atau gelombang tekanan. (tippler : 505).
Syarat terjadinya bunyi ada tiga, yang pertama harus ada sumber bunyi
yang merupakan benda yang bergetar. Kedua, energi yang dipindahkan
dari sumber dalam bentuk gelombang bunyi longitudinal melalui medium,
dan ketiga bunyi dideteksi oleh telinga atau alat yang menerima.

2. Gelombang bunyi harmonik

Sumber yang bergetar secara harmonik sederhana menimbulkan


sebuah gelombang bunyi yang harmonik. Sumber yang bergetar tersebut
menyebabkan molekul-molekul udara didekatnya berosilasi. Molekul-
molekul ini kemudian bertumbukan dengan molekul-molekul lain,
sehingga terjadi transfer energi dan menyebabkan molekul-molekul
lainnya berosilasi. Demikian hingga gelombang yang dirambatkan oleh
molekul sampai pada receiver.

Simpangan molekul untuk gerak harmonic dapat ditulis 𝑠(𝑥, 𝑡) =


𝑆0 𝑠𝑖𝑛(𝑘𝑥 − 𝜔𝑡) menunjukan simpangan yang sejajar dengan arah gerak
gelombang yang berarti bunyi merupakan gelombang longitudinal, dengan
𝑆0 adalah simpangan maksimum molekul gas dari posisi
kesetimbangannya dan 𝑘 merupakan bilangan gelombang (𝑘 = 2𝜋⁄𝜆),

dan 𝜔 adalah frekensi sudut (𝜔 = 2𝜋𝑓 = 2𝜋⁄𝑇). Sebagaiman sbuah


gelombang harmonic, maka laju gelombang sama dengan frekuensi kali
panjang gelombang

𝑤
(v = λf = ).
𝑘
3. Sifat-sifat Gelombang Bunyi
1) Memerlukan medium dalam perambatannya
Gelombang bunyi merupakan gelombang mekanik yang memerlukan
medium dalam perambatannya. Hal ini dapat dibuktikan dengan peristiwa
astronot yang sedang berada didalam pesawat luar angkasa yang hampa
udara, agar dapat saling berkomunikasi para astonot menggunakan
berbagai alat komunikasi seperti telpon.

2) Mengalami pemantulan (refleksi)


Salah satu bukti dari bunyi mengalami reflerksi adalah adanya gaung.
Dalam hal ini bunyi memenuhi hukum pemantulan gelombang: sudut
datang = sudut pantul juga berlaku pada gelombang bunyi. Gaung yang
timbul akibat dari pemantulan bunyi dalam ruang tertutup terjadi karena
sebagian bunyi pantul bersamaan dengan bunyi asli sehingga bunyi asli
terdengar tidak jelas.
3) Mengalami pembiasan (refraksi)
Refraksi atau pembiasan merupakan peristiwa pembelokan arah
lintasan gelombang setelah melewati bidang batas antara dua medium
yang berbeda. Salah satu peristiwa pembiasan (refraksi) adalah bunyi petir
yang terdengar lebih keras pada malam hari dibandingkan pada siang hari.
Hal ini disebabkan karena pada pada siang hari udara lapisan atas bumi
lebih dingin daripada dilapisan bawah bumi. Cepat rambat bunyi pada
suhu dingin akan lebih kecil daripada suhu panas, maka kecepatan bunyi
pada lapisan udara diatas bagian bumi lebih kecil dari lapisan bawah
bagian bumi yang mengakibatkan medium lapisan atas bagian bumi lebih
rapat dari medium lapisan bawah bagian bumi.
4) Mengalami pelenturan (difraksi)

Difraksi merupakan peristiwa pelenturan gelombang bunyi ketika


melewati suatu celah sempit. Gelombang bunyi diudara memiliki panjang
gelombang dalam rentang sentimeter sampai bebeapa meter. Panjang
gelombang yang besar akan mudah di lenturkan. Contoh dari peristiwa
pelenturan gelombang ialah suara mesin mobil di tikungan jalan yang
terdengar meskipun mobil tersebut belum terlihat atau kita dapat
mendengar suara orang diruangan berbeda dan tertutup, meskipun ruangan
tertutup bunyi masih bisa merambat karena bunyi melewati celah-celah
sempit.

5) Mengalami perpaduan (interferensi)


Gelombang bunyi mengalami gejala perpaduan gelombang atau
interferensi, yang dibedakan menjadi dua yaitu interferensi konstruktif
atau penguatan bunyi dan interferensi destruktif atau pelemahan bunyi.

𝑑 sin 𝜃 = 𝑚𝜆, 𝑚 = 0, 1, 2, … [𝑖𝑛𝑡𝑒𝑟𝑓𝑒𝑟𝑒𝑛𝑠𝑖 𝑘𝑜𝑛𝑠𝑡𝑟𝑢𝑘𝑡𝑖𝑓]

1
𝑑 sin 𝜃 = (𝑚 + ) 𝜆, 𝑚 = 0, 1, 2, … [𝑖𝑛𝑡𝑒𝑟𝑓𝑒𝑟𝑒𝑛𝑠𝑖 𝑑𝑒𝑠𝑡𝑟𝑢𝑘𝑡𝑖𝑓]
2

dengan 𝑚 adalah orde dari pola tersebut

Contoh dari peristiwa gelombang bunyi yang mengalami interferensi,


ketika kita berada di posisi antara dua buah loud-speaker dengan frekuensi
dan amplitude yang hampir sama, maka kita akan mendengar bunyi yang
keras dan lemah secara bergantian.

4. Cepat Rambat Gelombang Bunyi di Udara


Untuk gelombang bunyi dalam fluida seperti udara, laju v diberikan
oleh :

𝐵
𝑣=√
𝜌

Dengan 𝜌 adalah rapat kesetimbangan medium dan B adalah bulk


modulus. Modulus ini berbanding lurus dengan tekanan, yang dengan
sendirinya sebanding dengan kerapatan 𝜌 dan temperature mutlak T. Rasio
𝐵
dengan demikian tak bergantung pada volume maupun pada tekanan,
𝜌

dan hanya sebanding dengan temperature mutlak T.

𝛾 𝑅𝑇
𝑣=√
𝑀

Dalam persamaan ini, T merupakan temperature mutlak yang diukur


dalam kelvin (K), yang dihubungkan dengan temperature Celcius 𝑡𝑐 oleh :
𝑇 = 𝑡𝑐 + 273.
5. Pola Lissajous

Lissajous merupakan sebuah penampakan pada layar osiloskop yang


mencitrakan atau perbandingan beda fase, frekuensi dan amplitudo dua
gelombang imputan pada probe osiloskop. Bentuk gelombang yang
dihasilkan dalam mengukur beda fase yang menggunakan pola XY disebut
sebagai pola Lissajous. Dengan melihat bentuk pola Lissajous kita bisa
menentukan beda fasa antara dua sinyal. Juga dapat ditentukan
perbandingan frekuensi. Gambar di bawah ini memperlihatkan beberapa
pola Lissajous dengan perbandingan frekuensi dan beda fasa yang
berbeda-beda:
6. Menentukan Cepat Rambat Gelombang Bunyi di Udara dengan
Menggunakan Osiloskop.
Menggunakan konsep yang sama pada interferensi celah ganda
(percobaan young) maka dapat ditentukan apabila dua sinyal input
sinusoidal menunjukan 𝑦1 = 𝑎1 𝑠𝑖𝑛(𝜔𝑡 − 𝛼1 ) dan 𝑦2 = 𝑎2 𝑠𝑖𝑛(𝜔𝑡 − 𝛼2 ).
Dihubungkan ke input 1 dan input 2 dari osiloskop dan di set sebagai plate
Y dan plate X, kedua sinyal tersebut dapat disuperposisikan (add)
sehingga hasil superposisinya akan tampak di layar tampilan. Secara
matematik superposisi dari kedua gelombang tersebut ialah
𝑦1 𝑦2
+ = sin(𝜔𝑡 − 𝑎1 ) + 𝑠𝑖𝑛(𝜔𝑡 − 𝑎2 )
𝑎1 𝑎2
atau
𝑦1 2 𝑦2 2 𝑦1 𝑦2
𝑠𝑖𝑛2 (𝛼1 − 𝛼2 ) = ( ) + ( ) − 2 cos(𝛼1 − 𝛼2 ) … … … … (1)
𝑎1 𝑎2 𝑎1 𝑎2

Jika beda fase dari kedua gelombang ∆= 𝛼1 − 𝛼2 diset menjadi kelipatan


genap dari π, ∆= ±2𝑛𝜋 maka persamaan (1) dapat disederhanakan
menjadi:

𝑠𝑖𝑛2 (𝛼1 − 𝛼2 ) = 𝑠𝑖𝑛2 (2𝑛𝜋) = 0


𝑦1 2 𝑦2 2 𝑦1 𝑦2
( ) +( ) −2 cos(𝛼1 − 𝛼2 ) = 0
𝑎1 𝑎2 𝑎1 𝑎2
𝑦1 2 𝑦2 2 𝑦1 𝑦2
( ) +( ) −2 =0
𝑎1 𝑎2 𝑎1 𝑎2
𝑎1
𝑦1 = 𝑦2 … … … … (2)
𝑎2

Persamaan tersebut merupakan persamaan garis lurus. Bila perbedaan


fasenya merupakan kelipatan bilangan ganjil dari π maka persamaan (1)
akan menjadi :

𝑎1
𝑦1 = − 𝑦 … … … … … … … … … (3)
𝑎2 2
Juga merupakan persamaan garis lurus tapi kemiringan garisnya
negatif dari kemiringan garis pada persamaan (2).
Salah satu sinyal dari dua sinyal listrik yaitu sinyal dari audio
generator dihubungkan ke speaker (transmitter sinyal) dan secara paralel
juga dihubungkan ke salah satu input dari osiloskop yang disebut sinyal x
pada osiloskop. Mikrofon bertindak sebagai receiver sinyal yang berasal
dari speaker dihubungkan ke osiloskop yang disebut sinyal y pada
osiloskop. Transmitter akan memancarkan gelombang bunyi dengan
frekuensi tepat seperti yang diatur pada audio generator. Gelombang bunyi
akan merambat di udara dan akan ditangkap oleh receiver yang
ditempatkan di depan transmitter pada jarak tertentu. Beda fase antara dua
sinyal tersebut yaitu sinyal x dan sinyal y yang bergantung pada panjang
lintasan yang ditempuh bunyi di udara antara transmitter dan receiver.
Jika panjang lintasannya merupakan kelipatan dari panjang gelombang
bunyi nλ, maka layar tampilan osiloskop akan menunjukan gambar garis
dengan kemiringan positif. Jika panjang lintsannya merupakan kelipatan
2𝑛+1
dari ( ) 𝜆, maka layar tampilan osiloskop akan menunjukkan gambar
2

garis dengan kemiringan negatif. Dengan demikian perbedaan panjang


𝜆
lintasan antara dua garis lurus yang berurutan pada osiloskop ialah ( ).
2

D. Alat Dan Bahan Eksperimen


No Alat dan Bahan Jumlah Spesifikasi

1. Osiloskop dual trace 1 set

2. Audio generator 1 buah

3. Mikrophone 1 buah

4. Amplifier 1 buah

5. Speaker 1 buah

6. Kabel penghubung Secukupnya

7. Penggaris 1 buah Ketidakpastian ± 0,05


E. Prosedur Eksperimen
1. Merangkai alat seperti skema berikut.

2. Mengatur osiloskop pada mode xy dan atur frekuensi audio generator


antara 2,5-5 KHz.
3. Mengatur amplitudo dari sinyal input sinusoidal sedemikian hingga
pada layar tampilan osiloskop nampak gambar elips.
4. Memasangkan speaker pada dudukannya dan letakkan pada rel dengan
posisi tetap.
5. Memasangkan mikrophone pada dudukannya (mount) dan letakkan
pada rel sedemikian hingga kedudukan mikrophone terhadap speaker
dapat diubah-ubah.
6. Menggerakkan mikrophone kearah speaker sambil memperhatikan
layar tampilan osiloskop sampai layar tampilan menunjukkan gambar
garis lurus (miring kiri atau miring kanan).
7. Mengukur jarak antara mikrophone dan speaker.
8. Mengulangi langkah ke6 dan ke-7 untuk memperoleh beberapa data.
9. Mengubah frekuensi audiogenerator pada harga lainnya, lalu ulangi
langkah ke-6 sampai ke-8.
10. Menabulasi data eksperimen kedalam data tabel eksperimen.
11. Merapikan kembali alat dan bahan.
F. Identifikasi Variable
Variabel bebas : Jarak
Variabel terikat : Cepat Rambat Gelombang
Variabel terkontrol : Frekuensi
G. Data Hasil Eksperimen

Miring kanan-miring kiri

1.) Untuk frekuensi (f) = 2,5 KHz


No (L1 ± 0,05)cm (L2 ±0,05)cm

1 6,5 14,9

2 14,9 22,4

3 22,4 29,4

4 29,4 36,8

5 36,8 42,3

2.) Untuk frekuensi (f) = 3,5 KHz


No (L1 ± 0,05)cm (L2 ±0,05)cm

1 0,7 7,5

2 7,5 13

3 13 17,5

4 17,5 22,4

5 22,4 27,8

3.) Untuk frekuensi (f) = 5 KHz


No (L1 ± 0,05)cm (L2 ±0,05)cm

1 8 11,8

2 11,8 15,7

3 15,7 19,1

4 19,1 22,2
5 22,2 25,9

H. Pengolahan Data
a) Metode Statistika
1.) Untuk frekuensi (f) = 2,5 KHz
(L1 ± (L2 ± |𝑣 |𝑣
No. 0,05) 0,05) ∆L (m) 𝜆 = 2∆L (m) 𝑣 = 𝜆𝑓 ( 𝑚⁄𝑠)
− 𝑣̅ | − 𝑣̅ |2
m m
1. 0.065 0.149 0.084 0.168 420 62 3844

2. 0.149 0.224 0.075 0.15 375 17 289

3. 0.224 0.294 0.07 0.14 350 -8 64

4. 0.294 0.368 0.074 0.148 370 12 144

5. 0.368 0.423 0.055 0.11 275 -83 6889

∑𝑣 1790 ∑ = 11230

̅
𝒗 358

∑ |𝑣 − v̅|2
Δ𝑣 = √
n−1

11230
Δ𝑣 = √
5−1

12000
Δ𝑣 = √
4

Δ𝑣 = 52.98 𝑚⁄𝑠

Maka
Cepat Rambat Bunyi dengan f = 2,5 KHz adalah :
̅ ± ∆𝒗 ) = ( 𝟑𝟓𝟖 ± 𝟓𝟐. 𝟗𝟖 ) 𝒎⁄𝒔
𝒗 = (𝒗
Kesalahan presisi
∆𝑣 𝟓𝟐. 𝟗𝟖
𝑥 100% = 𝑥 100% = 14.79 %
𝑣 358
Kesalahan akurasi
|𝑣𝑙𝑖𝑡𝑒𝑟𝑎𝑡𝑢𝑟 −𝑣𝑝𝑒𝑟𝑐𝑜𝑏𝑎𝑎𝑛 | |347−358|
𝑥 100% = 𝑥100% = 3.17 %
𝑣𝑙𝑖𝑡𝑒𝑟𝑎𝑡𝑢𝑟 347

2.) Untuk frekuensi (f) = 3,5 KHz


(L1 ± |𝑣 |𝑣
(L2 ±
No. 0,05) ∆L (m) 𝜆 = 2∆L (m) 𝑣 = 𝜆𝑓 ( 𝑚⁄𝑠)
0,05) m − 𝑣̅ | − 𝑣̅ |2
m
1. 0.007 0.075 0.068 0.136 476 96.6 9331.56

2. 0.075 0.13 0.055 0.11 385 5.6 31.36

3. 0.13 0.175 0.045 0.09 315 -64.4 4147.36

4. 0.175 0.224 0.049 0.098 343 -36.4 1324.96

5. 0.224 0.278 0.054 0.108 378 -1.4 1.96

∑𝑣 1897 ∑ = 14837.2

̅
𝒗 379.4

∑ |𝑣 − v̅|2
Δ𝑣 = √
n−1

14837.2
Δ𝑣 = √
5−1

14837.2
Δ𝑣 = √
4

Δ𝑣 = 60.90 𝑚⁄𝑠

Maka
Cepat Rambat Bunyi dengan f = 2,5 KHz adalah :
̅ ± ∆𝒗 ) = ( 𝟑𝟕𝟗. 𝟒 ± 𝟔𝟎. 𝟗𝟎 ) 𝒎⁄𝒔
𝒗 = (𝒗
Kesalahan presisi
∆𝑣 𝟔𝟎. 𝟗𝟎
𝑥 100% = 𝑥 100% = 16.05 %
𝑣 𝟑𝟕𝟗. 𝟒
Kesalahan akurasi
|𝑣𝑙𝑖𝑡𝑒𝑟𝑎𝑡𝑢𝑟 −𝑣𝑝𝑒𝑟𝑐𝑜𝑏𝑎𝑎𝑛 | |347−379.4|
𝑥 100% = 𝑥100% = 9.34 %
𝑣𝑙𝑖𝑡𝑒𝑟𝑎𝑡𝑢𝑟 347

3.) Untuk frekuensi (f) = 5 KHz


|𝑣 |𝑣
(L1 ± (L2 ±
No. ∆L (m) 𝜆 = 2∆L (m) 𝑣 = 𝜆𝑓 ( 𝑚⁄𝑠)
0,05) m 0,05) m − 𝑣̅ | − 𝑣̅ |2

1. 0.08 0.118 0.038 0.076 380 22 484

2. 0.118 0.157 0.039 0.078 390 32 1024

3. 0.157 0.191 0.034 0.068 340 -18 324

4. 0.191 0.222 0.031 0.062 310 -48 2304

5. 0.222 0.259 0.037 0.074 370 12 144

∑𝑣 1790 ∑ = 4280

̅
𝒗 358

∑ |𝑣 − v̅|2
Δ𝑣 = √
n−1

4280
Δ𝑣 = √
5−1

4280
Δ𝑣 = √
4

Δ𝑣 = 32.71 𝑚⁄𝑠

Maka
Cepat Rambat Bunyi dengan f = 2,5 KHz adalah :
̅ ± ∆𝒗 ) = ( 𝟑𝟓𝟖 ± 𝟑𝟐. 𝟕𝟏 ) 𝒎⁄𝒔
𝒗 = (𝒗
Kesalahan presisi
∆𝑣 𝟑𝟐. 𝟕𝟏
𝑥 100% = 𝑥 100% = 9.14 %
𝑣 𝟑𝟓𝟖
Kesalahan akurasi
|𝑣𝑙𝑖𝑡𝑒𝑟𝑎𝑡𝑢𝑟 −𝑣𝑝𝑒𝑟𝑐𝑜𝑏𝑎𝑎𝑛 | |347−358|
𝑥 100% = 𝑥100% = 3.17 %
𝑣𝑙𝑖𝑡𝑒𝑟𝑎𝑡𝑢𝑟 347

b) Metode Grafik

1/f (1/Hz) 𝜆 (m)

0.0004 0.1432

0.00029 0.1084

0.0002 0.0716

I. Analisis Data
Berdasarkan pengolahan data yang telah dilakukan dari hasil eksperimen
dengan menggunakan metode statistika menyatakan bahwa cepat rambat
bunyi di udara dengan pemberian frekuensi sebesar 2.5 KHz adalah
̅ ± ∆𝒗 ) = ( 𝟑𝟓𝟖 ± 𝟓𝟐. 𝟗𝟖 ) 𝒎⁄𝒔, dengan kesalahan presisi 14.79 %
𝒗 = (𝒗
dan kesalahan akurasi 3.17%. Ketika diberikan frekuensi 3.5 KHz didapatkan
cepat rambat bunyi di udara sebesar 𝒗 = (𝒗 ̅ ± ∆𝒗 ) = ( 𝟑𝟕𝟗. 𝟒 ±
𝟔𝟎. 𝟗𝟎 ) 𝒎⁄𝒔, dengan kesalahan presisi 16.05 % dan kesalahan akurasi
9.34%. Sedangkan jika diberikan frekuensi 5KHz didapatkan cepat rambat
bunyi di udara sebesar 𝒗 = (𝒗 ̅ ± ∆𝒗 ) = ( 𝟑𝟓𝟖 ± 𝟑𝟐. 𝟕𝟏 ) 𝒎⁄𝒔, dengan
kesalahan presisi 9.14% dan kesalahan akurasi 3.17%.
Dengan menggunakan metode grafik diperoleh cepat rambat bunyi di
udara sebesar
Berdasarakan literature diketahui bahwa cepat rambat gelombang bunyi di
udara pada suhu ± 25°C adalah 347 𝑚⁄𝑠. Hasil yang diperoleh dengan
menggunakan metode statistic dan metode grafik diatas menunjukan adanya
perbedaan dengan literature. Hal ini disebaban oleh beberapa faktor
diantaranya:
1. Perubahan temperatur yang bisa saja terjadi ketika pengamat sedang
melakukan percobaan.
2. Suasana saat melakukan pengamatan yang bising sehingga mempengaruhi
proses penerimaan bunyi oleh receiver.
3. Receiver sangat sensitif terhadap suara yang berada disekitarnya (selain
speaker),Tampilan garis miring di osiloskop tidak benar-benar tampak
jelas.
4. Kondisi udara yang bergerak yang mempengaruhi kecepatan rambat bunyi,
apabila angin searah dengan arah rambat bunyi maka kecepatan bunyi
akan semakin besar dan sebaliknya.
5. Kesalahan saat mengukur jarak antara receiver dan speaker oleh
pengamat.
J. Tugas Akhir
1. Berdasarkan data yang diperoleh tentukanlah cepat rambat bunyi
diudara pada temperature yang anda ukur !
Jawab :
a. Metode Statistika
1.) Untuk frekuensi (f) = 2,5 KHz
(L1 ± (L2 ± |𝑣 |𝑣
No. 0,05) 0,05) ∆L (m) 𝜆 = 2∆L (m) 𝑣 = 𝜆𝑓 ( 𝑚⁄𝑠)
− 𝑣̅ | − 𝑣̅ |2
m m
1. 0.065 0.149 0.084 0.168 420 62 3844

2. 0.149 0.224 0.075 0.15 375 17 289

3. 0.224 0.294 0.07 0.14 350 -8 64

4. 0.294 0.368 0.074 0.148 370 12 144

5. 0.368 0.423 0.055 0.11 275 -83 6889

∑𝑣 1790 ∑ = 11230

̅
𝒗 358

∑ |𝑣 − v̅|2
Δ𝑣 = √
n−1

11230
Δ𝑣 = √
5−1
12000
Δ𝑣 = √
4

Δ𝑣 = 52.98 𝑚⁄𝑠

Maka
Cepat Rambat Bunyi dengan f = 2,5 KHz adalah :
̅ ± ∆𝒗 ) = ( 𝟑𝟓𝟖 ± 𝟓𝟐. 𝟗𝟖 ) 𝒎⁄𝒔
𝒗 = (𝒗
Kesalahan presisi
∆𝑣 𝟓𝟐. 𝟗𝟖
𝑥 100% = 𝑥 100% = 14.79 %
𝑣 358
Kesalahan akurasi
|𝑣𝑙𝑖𝑡𝑒𝑟𝑎𝑡𝑢𝑟 −𝑣𝑝𝑒𝑟𝑐𝑜𝑏𝑎𝑎𝑛 | |347−358|
𝑥 100% = 𝑥100% = 3.17 %
𝑣𝑙𝑖𝑡𝑒𝑟𝑎𝑡𝑢𝑟 347

2.) Untuk frekuensi (f) = 3,5 KHz


(L1 ± |𝑣 |𝑣
(L2 ±
No. 0,05) ∆L (m) 𝜆 = 2∆L (m) 𝑣 = 𝜆𝑓 ( 𝑚⁄𝑠)
0,05) m − 𝑣̅ | − 𝑣̅ |2
m
1. 0.007 0.075 0.068 0.136 476 96.6 9331.56

2. 0.075 0.13 0.055 0.11 385 5.6 31.36

3. 0.13 0.175 0.045 0.09 315 -64.4 4147.36

4. 0.175 0.224 0.049 0.098 343 -36.4 1324.96

5. 0.224 0.278 0.054 0.108 378 -1.4 1.96

∑𝑣 1897 ∑ = 14837.2

̅
𝒗 379.4

∑ |𝑣 − v̅|2
Δ𝑣 = √
n−1

14837.2
Δ𝑣 = √
5−1
14837.2
Δ𝑣 = √
4

Δ𝑣 = 60.90 𝑚⁄𝑠

Maka
Cepat Rambat Bunyi dengan f = 2,5 KHz adalah :
̅ ± ∆𝒗 ) = ( 𝟑𝟕𝟗. 𝟒 ± 𝟔𝟎. 𝟗𝟎 ) 𝒎⁄𝒔
𝒗 = (𝒗
Kesalahan presisi
∆𝑣 𝟔𝟎. 𝟗𝟎
𝑥 100% = 𝑥 100% = 16.05 %
𝑣 𝟑𝟕𝟗. 𝟒
Kesalahan akurasi
|𝑣𝑙𝑖𝑡𝑒𝑟𝑎𝑡𝑢𝑟 −𝑣𝑝𝑒𝑟𝑐𝑜𝑏𝑎𝑎𝑛 | |347−379.4|
𝑥 100% = 𝑥100% = 9.34 %
𝑣𝑙𝑖𝑡𝑒𝑟𝑎𝑡𝑢𝑟 347

3.) Untuk frekuensi (f) = 5 KHz


|𝑣 |𝑣
(L1 ± (L2 ±
No. ∆L (m) 𝜆 = 2∆L (m) 𝑣 = 𝜆𝑓 ( 𝑚⁄𝑠)
0,05) m 0,05) m − 𝑣̅ | − 𝑣̅ |2

1. 0.08 0.118 0.038 0.076 380 22 484

2. 0.118 0.157 0.039 0.078 390 32 1024

3. 0.157 0.191 0.034 0.068 340 -18 324

4. 0.191 0.222 0.031 0.062 310 -48 2304

5. 0.222 0.259 0.037 0.074 370 12 144

∑𝑣 1790 ∑ = 4280

̅
𝒗 358

∑ |𝑣 − v̅|2
Δ𝑣 = √
n−1

4280
Δ𝑣 = √
5−1
4280
Δ𝑣 = √
4

Δ𝑣 = 32.71 𝑚⁄𝑠

Maka
Cepat Rambat Bunyi dengan f = 2,5 KHz adalah :
̅ ± ∆𝒗 ) = ( 𝟑𝟓𝟖 ± 𝟑𝟐. 𝟕𝟏 ) 𝒎⁄𝒔
𝒗 = (𝒗
Kesalahan presisi
∆𝑣 𝟑𝟐. 𝟕𝟏
𝑥 100% = 𝑥 100% = 9.14 %
𝑣 𝟑𝟓𝟖
Kesalahan akurasi
|𝑣𝑙𝑖𝑡𝑒𝑟𝑎𝑡𝑢𝑟 −𝑣𝑝𝑒𝑟𝑐𝑜𝑏𝑎𝑎𝑛 | |347−358|
𝑥 100% = 𝑥100% = 3.17 %
𝑣𝑙𝑖𝑡𝑒𝑟𝑎𝑡𝑢𝑟 347

b. Metode Grafik

1/f (1/Hz) 𝜆 (m)

0.0004 0.1432

0.00029 0.1084

0.0002 0.0716

2. Bandingkanlah harga cepat rambat bunyi yang anda ukur dengan harga
harga referensi pada temperature yang sama, bila hasilnya berbeda
cukup jauh lakukan analisis factor-faktor yang menyebabkannya !
Jawab :
Berdasarakan literature diketahui bahwa cepat rambat gelombang
bunyi di udara pada suhu ± 25°C adalah 347 𝑚⁄𝑠. Hasil yang
diperoleh dengan menggunakan metode statistic dan metode grafik
diatas menunjukan adanya perbedaan dengan literature. Hal ini
disebaban oleh beberapa faktor diantaranya:
a. Perubahan temperatur yang bisa saja terjadi ketika pengamat
sedang melakukan percobaan.
b. Suasana saat melakukan pengamatan yang bising sehingga
mempengaruhi proses penerimaan bunyi oleh receiver.
c. Receiver sangat sensitif terhadap suara yang berada
disekitarnya (selain speaker),Tampilan garis miring di
osiloskop tidak benar-benar tampak jelas.
d. Kondisi udara yang bergerak yang mempengaruhi kecepatan
rambat bunyi, apabila angin searah dengan arah rambat bunyi
maka kecepatan bunyi akan semakin besar dan sebaliknya.
e. Kesalahan saat mengukur jarak antara receiver dan speaker
oleh pengamat.
K. Kesimpulan Dan Saran
Kesimpulan :
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa besar
cepat rambat bunyi di udara dengan suhu ruangan menggunakan metode
statistika ialah:
a. Frekuensi (f) = 2.5 KHz
̅ ± ∆𝒗 ) = ( 𝟑𝟓𝟖 ± 𝟓𝟐. 𝟗𝟖 ) 𝒎⁄𝒔
𝒗 = (𝒗
Kesalahan presisi = 14.79 %
Kesalahan akurasi = 3.17 %
b. Frekuensi (f) = 3.5 KHz
̅ ± ∆𝒗 ) = ( 𝟑𝟕𝟗. 𝟒 ± 𝟔𝟎. 𝟗𝟎 ) 𝒎⁄𝒔
𝒗 = (𝒗
Kesalahan presisi = 16.05%
Kesalahan akurasi = 9.34 %
c. Frekuensi (f) = 5 KHz
̅ ± ∆𝒗 ) = ( 𝟑𝟓𝟖 ± 𝟑𝟐. 𝟕𝟏 ) 𝒎⁄𝒔
𝒗 = (𝒗
Kesalahan presisi = 9.14%

Kesalahan akurasi = 3.17 %

Menggunakan metoda grafik Microcal Origin

Cepat rambat gelombang bunyi diudara:

̅ ± ∆𝒗 ) = (𝟑𝟓𝟎, 𝟗𝟓 ± 𝟏𝟏, 𝟒𝟔) 𝒎⁄𝒔


𝒗 = (𝒗
Kesalahan presisi = 3,26%
L. Diskusi

Hasil yang diperoleh dengan menggunakan metode statistic dan metode grafik
diatas menunjukan adanya perbedaan dengan literature. Diketahui berdasarakan
literature bahwa cepat rambat gelombang bunyi di udara pada suhu ± 25°C adalah
347 𝑚⁄𝑠. Perbedaan ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya:

a. Perubahan temperatur yang bisa saja terjadi ketika pengamat sedang


melakukan percobaan.
b. Suasana saat melakukan pengamatan yang bising sehingga mempengaruhi
proses penerimaan bunyi oleh receiver.
c. Receiver sangat sensitif terhadap suara yang berada disekitarnya (selain
speaker),Tampilan garis miring di osiloskop tidak benar-benar tampak
jelas.
d. Kondisi udara yang bergerak yang mempengaruhi kecepatan rambat bunyi,
apabila angin searah dengan arah rambat bunyi maka kecepatan bunyi
akan semakin besar dan sebaliknya.
e. Kesalahan saat mengukur jarak antara receiver dan speaker oleh
pengamat.
DAFTAR PUSTAKA
Paul A., Tipler. 1998. Fisika Untuk Sains dan Teknik, jilid 2. Alih bahasa:
Babang Soegijono. Jakarta: Erlangga.
Petunjuk Praktikum Eksperimen Fisika 1, Laboratorium Fisika Lanjut,
Departemen Pendidikan Fisika, Universitas Pendidikan Indonesia
Ramalis, Taufik Ramlan. 2003. Common Text Book Gelombang dan Optik.
Bandung: JICA – Universitas Pendidikan Indonesia.
Lampiran

Osiloskop Audio Generator

Microphone Speaker