Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN KASUS

TINEA CAPITIS

Pembimbing

dr. Hj. Vita Noor’aini Atmadi Hartati, Sp.KK

Disusun oleh
Dita Tifaniadi
2013730029

STASE KULIT DAN KELAMIN


RUMAH SAKIT UMUM SAYANG CIANJUR
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya
pada penulis sehingga mampu menyelesaikan laporan kasus ini tepat pada waktunya.
Shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, serta
para pengikutnya hingga akhir zaman.
Laporan kasus ini dibuat dengan tujuan memenuhi tugas kepaniteraan stase ilmu
kulit dan kelamin serta penyusun berharap pembaca bisa mengetahui serta memahami
lebih dalam tentang pembahasan penyusun yaitu tentang dasar-dasar ilmu kedokteran
(preklinik) yang berkaitan dengan Tinea kapitis.
Penyusun mengakui masih banyak terdapat kesalahan di dalam pembuatan laporan
kasus ini sehingga laporan kasus ini masih belum sempurna. Penyusun harapkan kritik dan
saran dari pembaca untuk menambah kesempurnaan laporan ini.
Terimakasih penulis ucapkan pada pembimbing yang telah membantu penyusun
hingga penyusun dapat menyelesaikan pembuatan laporan kasus serta membantu dalam
kelancaran pembuatan laporan kasus.
Penyusun berharap semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi penyusun khususnya
serta bagi pembaca pada umumnya.

Cianjur, Agustus 2018

Penyusun
BAB I
STATUS PASIEN

1.1 IDENTITAS PASIEN


Nama : An. N
No.CM : 8235xx
Usia : 6 tahun
Tanggal lahir : 14 Desember 2012
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Babakan ngenes Rt/Rw 01/02 Kabupaten Cianjur

1.2 ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan di Poli Kulit RSUD Sayang Cianjur pada tanggal 01 Agustus 2018.
Keluhan Utama
Timbul bercak putih pada kulit kepala yang dirasakan sejak 4 bulan SMRS

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke poliklinik kulit dan kelamin RSUD Sayang Cianjur dengan
keluhan timbul bercak putih pada kulit kepala yang dirasakan sejak 4 bulan
SMRS, awalnya keluhan bercak pada kulit kepala berwarna merah dan hanya
terdapat satu saja, namun semakin lama bercak menjadi putih disertai dengan
adanya sisik halus, dan semakin meluas serta bertambah banyak, pasien
merasakan gatal dan sering digaruk, orangtua pasien mengatakan rambut mudah
patah dan rapuh, dan kulit kepala didapatkan adanya kebotakan pada area bercak
putih disertai sisik tersebut.

Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien belum pernah mengalami keluhan seperti ini sebelumnya.
Sebelumnya pasien pernah mengeluhkan bercak putih pada pipi sebelah kiri pada
tahun lalu, namun sudah diobati dan sudah sembuh.

Riwayat Penyakit Keluarga


Keluarga pasien tidak ada yang memiliki keluhan seperti ini.

2
Riwayat Pengobatan
Pasien sebelumnya belum pernah berobat atas keluhannya saat ini, dan saat ini
pasien tidak sedang mengkonsumsi obat-obatan apapun.

Riwayat Alergi
Pasien tidak memiliki alergi terhadap makanan, obat-obatan, debu maupun cuaca.

Riwayat Psikososial
Pasien sehari-hari senang bermain dengan teman-temannya, pasien dalam sehari-
hari tidak menggunakan tutup kepala , tidak berkerudung, dan menurut orangtua
pasien rutin mencuci rambut dengan shampo dalam tiga kali sehari.

1.3 PEMERIKSAAN FISIK


Keadaan Umum : Tampak Sakit Ringan
Kesadaran : Compos Mentis
Tanda Vital
- Tekanan Darah : tidak dilakukan
- Nadi : 80 x / menit
- Suhu : 36,7º C
- Pernafasan : 20 x / menit
- Berat Badan : 16 kg
- Tinggi Badan : Tidak dilakukan

1.4 STATUS GENERALIS


1. Kepala
- Rambut : Berwarna hitam, distribusi tidak merata, mudah
tercabut
- Mata : Konjungtiva Anemis (-/-) Sklera Ikterik (-/-)
- Hidung : Deviasi Septum Nasi (-), Sekret (-)
- Telinga : Tidak ada kelainan bentuk, Serumen (-)
- Mulut : Bibir kering (-), Mukosa Faring Hiperemis (-)
Tonsil T1/T1, Karies Dentis (-)
- Kulit Kepala : Terdapat bercak putih dengan skuama halus
(status dermatologis)
- Kulit Wajah : Tidak terdapat lesi

3
2. Leher
- Pembesaran KGB : Tidak ada pembesaran KGB
- Pembesaran Tiroid : Tidak ada pembesaran Kelenjar Tiroid
- Kulit Leher : Tidak terdapat lesi
3. Thoraks
- Paru
 Inspeksi : Bentuk & Gerakan Dada Simetris
 Palpasi : Vokal Fremitus (+/+), Nyeri Tekan (-/-)
 Perkusi : Sonor di semua lapang paru
 Auskultasi : Vesikuler (+/+), Ronki (-/-), Wheezing (-/-)
- Jantung
 Inspeksi : Ictus Cordis Tidak Nampak
 Palpasi : Ictus Cordis Teraba
 Perkusi : Tidak dilakukan
 Auskultasi : BJ I&II, Regular, Murmur (-), Gallop (-)
- Kulit : Tidak terdapat lesi
4. Abdomen
- Inspeksi : Datar. Skar (-), Lesi Kulit (-).
- Auskultasi : Bising usus (+). Dalam batas normal
- Perkusi : Timpani seluruh kuadran abdomen
- Palpasi : Nyeri tekan (-), Hepatosplenomegali (-)
- Kulit : Tidak terdapat lesi
5. Ekstremitas
- Atas : Akral Hangat (+/+), Sianosis (-/-) Deformitas (-/-)
- Bawah : Akral Hangat (+/+), Sianosis (-/-) Deformitas (-/-)
- Kulit : Tak tampak lesi, dan macula
1.5 STATUS DERMATOLOGIKUS
Distribusi Regional
Regio Scalp
Lesi Multiple, sebagian konfluens, difus, 3cm-8cm, lesi timbul, susunan
anular
Efloresensi Skuama putih, ekskoriasi

4
1.6 DOKUMENTASI

1.7 PEMERIKSAAN PENUNJANG


Dilakukan pengambilan sampel kerokan kulit lalu dilakukan pemeriksaan mikroskopis
dengan larutan KOH 10% dan ditemukan adanya hifa panjang.

5
1.8 RESUME
Seorang anak perempuan berusia 6 tahun datang ke poli kulit dan kelamin RSUD
Sayang Cianjur dengan keluhan timbul bercak putih disertai sisik yang dirasakan sudah 4
bulan SMRS, keluhan awalnya timbul bercak berwarna merah hanya satu pada kulit
kepala, namun semakin lama bercak menjadi putih disertai dengan adanya sisik halus,
dan semakin meluas serta bertambah banyak, pasien merasakan gatal dan sering digaruk,
orangtua pasien mengatakan rambut mudah patah dan rapuh, dan kulit kepala didapatkan
adanya kebotakan pada area bercak putih disertai sisik tersebut. Pada tahun lalu (2017)
pasien pernah mengeluhkan adanya bercak putih pada pipi kiri namun keluhan sudah
diobati dan sembuh. Pasien sehari-hari senang bermain dengan teman-temannya, pasien
dalam sehari-hari tidak menggunakan tutup kepala , tidak berkerudung, dan menurut
orangtua pasien rutin mencuci rambut dengan shampo dalam tiga kali sehari.

Dermatologikus :
- Distribusi: Regional
- Regio: Scalp
- Lesi: Multiple, sebagian konfluens, difus, 3cm-8cm, lesi timbul, susunan anular
- Efloresensi: Skuama, ekskoriasi
Pemeriksaan Penunjang yang dilakukan pada pasien ini adalah pemeriksaan sampel
kerokan kulit dengan KOH 10% dan kemudian dilakukan pemeriksaan mikroskopis dan
ditemukan adanya hifa panjang.

1.9 DIAGNOSIS
Diagnosis Kerja
Tinea Capitis

1.10 PENATALAKSANAAN
1. Non Medikamentosa
Edukasi
- Bila gatal, jangan digaruk karena garukan dapat menyebabkan infeksi.
- Menjaga kebersihan rambut.
- Memberitahu pasien dan keluarga bahwa pasien dapat menularkan penyakitnya
pada anggota keluarga, sehingga untuk pencegahan menggunakan shampo anti
fungal.

6
2. Medikamentosa
- Ketokonazole 2% shampo 3x dalam seminggu (diberikan dalam 2 minggu)
- Griseofulvin 400mg (dibagi dalam 3 kali pemberian sehar)i 3 x 1 (selama 6
minggu)
- Cetirizine 1 x 1

1.11 PROGNOSIS
- Quo ad Vitam : Bonam
- Quo ad Sanationam : Bonam
- Quo ad Functionam : Bonam

7
BAB II
ANALISA KASUS

Temuan Kasus Tinjauan Teori

Pada pasien ditemukan adanya lesi bersisik, Tinea kapitis adalah kelainan pada kulit dan
awalnya berwanra kemerahan,namun saat ini rambut kepala yang disebbabkan oleh spesies
bercak berwana putih dan adanya kebotakan. dermatofita. kelainan ini dapat ditandai dengan
lesi bersisik, kemerah-merahan, alopesia.
Anak N usia 6 tahun, awalnya lesi berwarna Gray Patch
kemerahan kemudian menjadi bercak berwarna Gejala klinis terutama disebabkan oleh M.
putih(pucat) dan bersisik, rambut pasien mudah Audouinii dan M. Ferrigineum yang sering
patah, dan terdapat alopesia setempat. ditemukan pada anak-anak. Penyakit timbul
akibat invasi rambut ektothrix. Lesi bermula dari
papul eritematosa yang kecil disekitar rambut,
kemudian papul akan melebar dan membentuk
bercak yang menjadi pucat dan bersisik
mengelilingi batang rambut dan akhirnya
menyebar secara sentrifugal yang melibatkan
folikel rambut disekitarnya. Keluhan penderita
adalah rasa gatal, warna rambut menjadi abu-abu
dan tidak berkilau. Rambut mudah patah dan
terlepas dari akarnya sehingga mudah dicabut
dengan pinset tanpa rasa nyeri yag menyebabkan
alopesia setempat.

Black dot
Gejala yang timbul disebabkan oleh T. tonsurans
dan T. violaceum. Lokasi arthrospores berada
didalam batang rambut yang membuat rambut
menjadi lebih rapuh. Pada permulaan penyakit,
gambaran klinis menyerupai kelainan yang
disebabkan oleh genus Microsporum. Rambut

8
yang terinfeksi akan patah tepat pada muara
folikel dan yang tertinggal adalah ujung rambut
yang penuh dengan spora. Ujung rambut didalam
folikel akan muncul gambaran “black dot” pada
pemeriksaan klinis. Pada skala yang luas dengan
rambut rontok yang minimal dan peradangan
dapat menyerupai dermatitis seboroik atau
psoriasis. Pada infeksi black dot sering terjadi
inflamasi dimana peradangan terjadi dari
folikulitis ke kerion. Pada beberapa kasus tinea
kapitis black dot juga dapat ditemukan gangguan
pada kuku dan rambut yang hilang.

Kerion
Kerion merupakan jenis tinea kapitis yang bersifat
inflamasi dan merupakan tinea kapitis dengan
peradangan yang berat. Hal ini disebabkan oleh
organisme zoofilik seperti T. verrucosum dan T.
mentogrophyte atau dermatofit geophilik semeprti
M. Gypseum. Reaksi peradangan berupa
pembengkakan yang menyerupai sarang lebah
dengan serbukan sel radang yang padat
disekitarnya sehingga pada kulit kepala tampak
bisul-bisul kecil yang berkelompok dan kadang-
kadang ditutupi sisik-sisik tebal. Kelainan ini
dapat menimbulkan jaringan parut (sikatriks) dan
berakibat alopesia yang menetap. Jaringan parut
yang menonjol kadang-kadang dapat terbentuk.
Tinea kapitis anthropophilik dapat tiba-tiba
menjadi inflamasi dan berkembang menjadi
kerion akibat hipersensitivitas yang tinggi.
Pada laporan kasus ini didapatkan kekurangan Penularan ;
data untuk menggali pencetus terjadinya tinea Tinea kapitis sering terjadi di
daerah pedesaan dan tranmisi
kapitis yang mana tidak ditanyakan lingkungan
meningkat dengan higienitas yang

9
sekitar pasien dan higenitasnya, tidak ditanyakan buruk, kepadatan penduduk dan status
terhadap 3 cara penularan dermatofita yaitu dapat sosial ekonomi yang rendah.3,5
Kejadian pada orang dewasa biasanya
menularkan melalui manusia ke manusia, hewan
Ada tiga cara penularan dermatofita
ke manusia, dan tanah ke manusia.
yaitu :
 Infeksi antropofilik yang menyebar dari
satu anak ke anak yang lain dapat hadir
sebagai kasus sporadis. Terjadi
penyebaran melalui kontak langsung
atau melalui penyebaran udara dari
spora dan penyebaran tidak langsung
yaitu terkontaminasi dari benda-benda
seperti sisir , sikat , topi dan lain
sebagainya.
 Infeksi menyebar dari hewan ke anak (
infeksi zoofilik ) melalui kontak
langsung maupun dengan lingkungan
disekitar hewan yang terinfeksi seperti
karpet, pakaian, furnitur dan lain
sebagainya.

 Infeksi menyebar dari tanah ke manusia


( infeksi geofilik ) namun jarang terjadi.

Ditemukan hifa panjang pada pemeriksaan KOH Pemeriksaan KOH 10%


10% Pemeriksaan langsung sediaan basah dilakukan
dengan mikroskop, mula-mula dengan
pembesaran 10x10, kemudian pembesaran 10x45.
Sediaan diambil dari kulit kepala dengan cara
kerokan pada lesi yang diambil menggunakan
blunt solid scalpel atau dengan menggunakan
sikat.
Ditemukan adanya hifa panjang

10
Non-Medikamentosa Non-Medikamentosa
- Bila gatal, jangan digaruk karena
Tinea kapitis dapat menularkan melalui manusia
garukan dapat menyebabkan infeksi.
ke manusia, hewan ke manusia dan tanah ke
- Menjaga kebersihan rambut.
manusia, dan meningkat pada pasien dengan
- Memberitahu pasien dan keluarga
hiegenitas yang buruk. Sehingga perlu diberikan
bahwa pasien dapat menularkan
edukasi pada pasien dan keluarga mengenai hal
penyakitnya pada anggota keluarga,
ini.
sehingga untuk pencegahan
menggunakan shampo anti fungal.
Tatalaksana Medikamentosa :

Medikamentosa
1) Ketokonazole 2% shampo 3x
dalam seminggu (diberikan
dalam 2 minggu)
2) Griseofulvin 400mg (dibagi
dalam 3 kali pemberian sehar)i
3 x 1 (selama 6 minggu)
3) Cetirizine 1 x 1

Prognosis : Prognosis penyakit ini baik dengan


- Quo ad Vitam : diagnosis dan terapi yang tepat asalkan
Bonam kelembapan dan kebersihan kulit selalu dijaga.
- Quo ad Sanationam :
Bonam
- Quo ad Functionam :
Bonam

11
BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

4.1 Definisi

Tinea kapitis adalah suatu infeksi pada kulit kepala dan rambut yang
disebabkan oleh spesies dermatofita.1-3 Dermatofita merupakan golongan jamur
yang menyebabkan dermatifitosis yang mempunyai sifat mencerna keratin. 1

4.2 Epidemiologi

Tinea kapitis merupakan penyakit yang sudah dianggap sebagai masalah


kesehatan yang serius pada beberapa dekade dan sering muncul pada anak- anak
usia antara 3 sampai 14 tahun.3,5 Namun pada orang dewasa jarang terjadi, hal ini
terjadi akibat perubahan pada pH kulit kepala dan peningkatan asam lemak yang
berguna sebagai proteksi atau sebagai jamurstatik.4,5,7
Tinea kapitis sering terjadi di daerah pedesaan dan tranmisi meningkat dengan
higienitas yang buruk, kepadatan penduduk dan status sosial ekonomi yang
rendah.3,5 Kejadian pada orang dewasa biasanya lebih sering terjadi pada wanita
dibandingkan laki-laki, pada orang dengan imunitas yang rendah, dan pada orang
yang berkulit hitam dibandingkan kulit putih.4,7 Ada tiga cara penularan
dermatofita yaitu : 4
 Infeksi antropofilik yang menyebar dari satu anak ke anak yang lain dapat hadir
sebagai kasus sporadis. Terjadi penyebaran melalui kontak langsung atau melalui
penyebaran udara dari spora dan penyebaran tidak langsung yaitu terkontaminasi
dari benda-benda seperti sisir , sikat , topi dan lain sebagainya.
 Infeksi menyebar dari hewan ke anak ( infeksi zoofilik ) melalui kontak langsung
maupun dengan lingkungan disekitar hewan yang terinfeksi seperti karpet, pakaian,
furnitur dan lain sebagainya.

 Infeksi menyebar dari tanah ke manusia ( infeksi geofilik ) namun jarang terjadi.

4.3 Etiologi

Tinea kapitis terjadi akibat dermatofita spesies Microsporum dan


Trichophyton.1-3 Setiap negara dan daerah memiliki perbedaan pada spesies
penyebab tinea kapitis misalnya di amerika serikat dan Eropa Barat 90 % kasus
tinea kapitis yang disebabkan oleh T. tonsurans dan jarang disebabkan M. Canis,

12
sedangkan di Eropa Timur dan Selatan serta Afrika Utara disebabkan oleh T.
violaceum.7 Di inggris kasus terbanyak disebabkan oleh infeksi M.canis yang di
dapatkan dari kucing.7 Spesies penyebab terjadinya tinea kapitis gray patch adalah
microsporum dan trikofiton. Pada tinea kapitis black dot terutama disebabkan oleh
Tricophyton tonsurans, T. violaceum dan T. mentagrophytes. Penyebab utama
tinea kapitis kerion adalah Microsporum canis, M. gypseum, T. tonsurans, dan T.
violaceum. Sedangkan pada tinea favus disebabkan oleh spesies T. schoenleinii,
T. violaceum, dan M. Gypseum.8

4.4 Klasifikasi 9

2.4.1 Infeksi Ektothrix

Invasi terjadi pada batang rambut luar. Hifa fragmen ke arthroconidia ,


menyebabkan kerusakan kutikula. Infeksi ini disebabkan oleh Microsporum
spp. (M. audouinii dan M. canis)

2.4.2 Infeksi Endothrix

Infeksi terjadi di dalam batang rambut tanpa kerusakan kutikula.


Arthroconidia ditemukan dalam batang rambut. Infeksi ini disebabkan oleh
Trichophyton spp. (T. tonsurans di Amerika Utara , T. violaceum di Eropa ,
Asia , sebagian Afrika).

 "Black Dot " Tinea capitis


 Merupakan varian endothrix yang menyerupai dermatitis
seboroik.

 Kerion
 Merupakan varian endothrix dengan plak inflamasi.

 Favus
 Merupakan varian endothrix dengan arthroconidia dalam
batang rambut. Sangat jarang di Eropa Barat dan Amerika Utara . Di
beberapa bagian dunia (Timur Tengah, Afrika Selatan) masih
endemik .

13
Gambar 4.1 Gambaran Ektothrix dan Endothrix 3

4.5 Patogenesis

Infeksi dermatofita melibatkan 3 step utama yaitu : 3


1. Perlekatan pada keratinosit
Jamur superfisial harus melewati berbagai rintangan untuk bisa
melekat pada jaringan keratin diantaranya sinar ultraviolet, suhu,
kelembaban, kompetisi dengan flora normal dan sphingosin yang
diproduksi oleh keratinosit serta asam lemak yang diproduksi oleh
glandulasebasea juga bersifat fungistatik
2. Penetrasi melewati dan di antara sel

Setelah terjadi perlekatan, spora berkembang dan menembus


stratum korneum dengan kecepatan yang lebih cepat daripada proses
desquamasi. Penetrasi juga dibantu oleh sekresi proteinase, lipase dan
enzim mucinolitik, yang juga menyediakan nutrisi untuk jamur. Trauma
dan maserasi juga membantu memfasilitasi penetrasi jamur kejaringan.
Pertahanan baru muncul ketika begitu jamur mencapai lapisan terdalam
dari epidermis.

3. Pembentukan respon penjamu


Derajat inflamasi dipengaruhi oleh status imun pasien dan
organisme yang terlibat. Reaksi hipersensitivitas tipe IV, atau Delayed
Type Hipersensitivity (DHT) memainkan peran yang sangat penting dalam
melawan dermatofita. Pada pasien yang belum pernah terinfeksi
dermatofita sebelumnya, infeksi primer menyebabkan inflamasi minimal
dan trichopitin tes hasilnya negative.infeksi menghasilkan sedikit eritema

14
dan skuama yang dihasilkan oleh peningkatan pergantian keratinosit.
Antigen dermatofita diproses oleh sel langerhans epidermis dan
dipresentasikan dalam limfosit T di nodus limfe. Limfosit T melakukan
proliferasi dan bermigrasi ketempat yang terinfeksi untuk menyerang
jamur. Pada saat ini, lesi tiba-tiba menjadi inflamasi, dan barier epidermal
menjadi permeable terhadap transferin dan sel-sel yang bermigrasi. Segera
jamur hilang dan lesi secara spontan menjadi sembuh.

Dermatofit ectothrix merupakan bentuk infeksi pada perifolikel stratum


korneum, kemudian menyebar ke sekitar dan ke dalam batang rambut dari
pertengahan hingga akhir anagen rambut sebelum masuk ke folikel untuk
menembus korteks rambut.3,6 Arthroconidia kemudian mencapai korteks rambut
sehingga pada pemeriksaan mikroskopis pada sediaan rambut yang diambil akan
ditemukan arthroconidia dan dapat juga ditemukan hifa intrapilari. Invasi rambut
oleh dermatofita , terutama M. audouinii ( anak ke anak , melalui tukang cukur ,
topi , kursi teater ) , M. canis ( muda hewan peliharaan ke anak dan kemudian
anak ke anak ) , atau T. tonsurans.3,6
Patogenesis pada arthroconidia endothrix sama seperti ectothrix yaitu awalnya
menyerang stratum korneum dari kulit kepala, yang dapat diikuti oleh infeksi pada
batang rambut namun arthroconidia tetap didalam batang rambut, menggantikan
keratin intrapilari dan meninggalkan korteks yang intak.3,6 Hal ini yang
menyebabkan rambut menjadi sangat rapuh dan pada permukaan kulit kepala akan
ditemukan folikel yang hilang, meninggalkan titik hitam kecil “black dot” serta
inflamasi yang parah yang ditemukan pada semua kasus.3,6

4.6 Manifestasi klinis

Tinea kapitis dapat hadir dengan beberapa gejala klinis, tergantung jenis
organisme, jenis invasi pada rambut, tingkat resistensi dan respon inflamasi.6
Manifestasi klinis tinea kapitis pada tiap negara bervariasi dari rambut kusam,
rambut patah dengan skala ringan sampai berat, nyeri, inflamasi.6 Kelainan pada
tinea kapitis dapat ditandai dengan lesi bersisik, kemerah-merahan, alopesia dan
kadang terjadi gambaran yang lebih berat yang disebut kerion, limfadenopati
servical dan oksipital.1,6
 Non-inflamasi atau gray patch1,3,6

Gejala klinis terutama disebabkan oleh M. Audouinii dan M.


Ferrigineum yang sering ditemukan pada anak-anak. Penyakit timbul akibat
invasi rambut ektothrix. Lesi bermula dari papul eritematosa yang kecil

15
disekitar rambut, kemudian papul akan melebar dan membentuk bercak yang
menjadi pucat dan bersisik mengelilingi batang rambut dan akhirnya
menyebar secara sentrifugal yang melibatkan folikel rambut disekitarnya.
Keluhan penderita adalah rasa gatal, warna rambut menjadi abu-abu dan tidak
berkilau. Rambut mudah patah dan terlepas dari akarnya sehingga mudah
dicabut dengan pinset tanpa rasa nyeri yag menyebabkan alopesia setempat.

Gambar 4.2 Tinea Kapitis “Gray Patch” 3,7

 Black dot 1,3,6

Gejala yang timbul disebabkan oleh T. tonsurans dan T. violaceum.


Lokasi arthrospores berada didalam batang rambut yang membuat rambut
menjadi lebih rapuh. Pada permulaan penyakit, gambaran klinis menyerupai
kelainan yang disebabkan oleh genus Microsporum. Rambut yang terinfeksi
akan patah tepat pada muara folikel dan yang tertinggal adalah ujung rambut
yang penuh dengan spora. Ujung rambut didalam folikel akan muncul
gambaran “black dot” pada pemeriksaan klinis. Pada skala yang luas dengan
rambut rontok yang minimal dan peradangan dapat menyerupai dermatitis
seboroik atau psoriasis. Pada infeksi black dot sering terjadi inflamasi dimana
peradangan terjadi dari folikulitis ke kerion. Pada beberapa kasus tinea kapitis
black dot juga dapat ditemukan gangguan pada kuku dan rambut yang hilang.

16
Gambar 4.3 Tinea Kapitis “Black Dot” 3,7

 Kerion 1,3,6,8

Kerion merupakan jenis tinea kapitis yang bersifat inflamasi dan


merupakan tinea kapitis dengan peradangan yang berat. Hal ini disebabkan
oleh organisme zoofilik seperti T. verrucosum dan T. mentogrophyte atau
dermatofit geophilik semeprti M. Gypseum. Reaksi peradangan berupa
pembengkakan yang menyerupai sarang lebah dengan serbukan sel radang
yang padat disekitarnya sehingga pada kulit kepala tampak bisul-bisul kecil
yang berkelompok dan kadang-kadang ditutupi sisik-sisik tebal. Kelainan ini
dapat menimbulkan jaringan parut (sikatriks) dan berakibat alopesia yang
menetap. Jaringan parut yang menonjol kadang-kadang dapat terbentuk. Tinea
kapitis anthropophilik dapat tiba-tiba menjadi inflamasi dan berkembang
menjadi kerion akibat hipersensitivitas yang tinggi.

Gambar 4.4 Kerion pada Kulit Kepala 3

17
 Favus 3,6,8

Favus merupakan gejala tinea yang jarang, gejala di sebabkan T.


schoenleinii. Organisme dapat mempengaruhi kulit dan kuku juga hal ini di
tandai dengan warna krusta kekuningan yang dikenal sebagai skutula disekitar
rambut. Skutula memiliki berbau yang khas yaitu berbau tikus “moussy odor”
dan rambut secara ekstensif akan hilang menjadi alopesia dan atrofi.

Gambar 4.5 Tinea Kapitis Favus 3,9

4.7 Diagnosis Banding1


Dermatitis Seboroik

Peradangan yang erat dengan keativan glandula sebasea yang aktif


pada bayi dan insiden puncak pada usia 18-40 tahun. Manifestasi pada
dermatitis seboroik didapatkan eritema, skuama yang berminyak dan
kekuningan dengan batas tidak tegas, rambut rontok mulai dari verteks dan
frontal. Krusta tebal dapat berbau tidak sedap dan meluas ke dahi, glabela,
telinga postaurikular,leher, daerah supraorbital, liang telinga luar, lipatan
nasolabial, sternal,payudara,interskapular, umbilikus, lipat paha dan
anogenital

Dermatitis Atopik

Dermatitis atopik merupakan peradangan kulit kronis dan residif, yang


umumnya terjadi selama masa anak-anak yang berhubungan dengan
peningkatan kadar IgE dalam serum dan faktor genetik dimana dipengaruhi
oleh kromosom 5q31-33. Manifestasi klinis di dapatkan pruritus hilang timbul
sepanjang hari namun hebat pada malam hari, sehingga penderita akan
menggaruk dan timbul berupa papul, likenifikasi, eritema, erosi, ekskoriasi,

18
eksudasi,krusta. Predileksi pada anak biasanya di muka dan pipi sedangkan
dewasa pada lipat siku, lipat lutut, samping leher dan sekitar mata.

Psoriasis
Psoriasis adalah penyakit yang penyebabnya autoimunm bersifat
kronik dan residif, di tandai dengan adanya bercak-bercak eritema berbatas
tegas dengan skuama yang kasar, berlapis-lapis dan trasparan disertai
fenomena tetesan lilin, auspitz dan kobner. Penyakit ini mengenai semua umur
namun umumnya pada dewasa dan pria lebih banyak dibandingkan wanita.
Predileksi psoriasis adalah skalp, ekstremitas bagian ekstensor terutama siku
serta lutut serta lumbosacral.
Alopesia Areata

Etiologi alopesia areata sampai sekarang belum diketahui namun


sering dihubungkan dengan infeksi fokal, kelainan endokrin dan stres
emosional. Gejala klinis terdapat bercak berbentuk bulat atau lonjong dan
terjadi kerontokan rambut pada kulit kepala, alis, janggut, dan bulu mata. Pada
tepi daerah yang botak ada rambut yang terputus, bila dicabut terlihat bulbus
yang atrofi. Pada pemeriksaan histopatologi ditemukan rambut banyak dalam
fase anagen, folikel rambut terdapat berbagai ukuran, tetapi lebih kecil dan
tidak matang, bulbus rambut didalam dermis dan dikelilingi oleh infiltrasi
limfosit.

Pseudopelade Brocq
Pseudepelade brocq memiliki manifestasi yaitu kebotakan yang
disertai kerusakan folikel rambut sehingga tampak sebagai bercak parut
multipel yang bulat, lonjong atau tidak teratur dengan ukuran numular dan
berwarna merah muda dengan permukaan yang berkilat. Pada pemeriksaan
histopatologi didapatkan reaksi inflamasi disekitar folikel dan perivaskular,
atrofi epidermis, dan fibrosis tampak pada dermis.

4.8 Diagnosis

Diagnosis tinea capitis ditegakkan berdasarkan pada hasil gejala klinis dan
hasil tes laboratorium. Tes laboratorium yang dapat digunakan yaitu :

19
Lampu Wood1,6,9

Filter sinar ultraviolet (Wood) memunculkan fluoresensi hijau dari


beberapa jamur dermatofita , terutama spesies Microsporum. Lampu Wood
adalah prosedur screening yang berguna untuk mengambil spesimen dari
Infeksi Microsporum. Pada grey patch ringworm dapat dilihat fluoresensi hijau
kekuning-kuningan pada rambut yang sakit melampaui batas-batas grey patch.
Pemeriksaan KOH1,6,9

Pemeriksaan langsung sediaan basah dilakukan dengan mikroskop,


mula-mula dengan pembesaran 10x10, kemudian pembesaran 10x45. Sediaan
diambil dari kulit kepala dengan cara kerokan pada lesi yang diambil
menggunakan blunt solid scalpel atau dengan menggunakan sikat.

Pengambilan sampel terdiri rambut sampai akar rambut serta skuama.


Setelah sampel diambil kemudian sampel diletakkan di atas gelas alas,
kemuadian ditambahkan 1-2 tetes larutan KOH. Konsentrasi larutan KOH
untuk sediaan rambut adalah 10% dan untuk kulit 20%. Setelah sediaan
dicampurkan dengan KOH, ditunggu 15-20 menit untuk melarutkan jaringan.
Untuk mempercepat pelarutan makan dapat dilakukan pemanasan sediaan
basah di atas api kecil. Pada saat mulai keluar uap dari sediaan tersebut,
pemanasan sudah cukup. Biala terjadi penguapan, maka akan terbentuk kristal
KOH, sehingga tujuan yang diinginkan tidak tercapai. Untuk melihat elemen
jamur lebih nyata dapat ditambahkan zat warna pada sediaan KOH misalnya
tinta Parker super-chroom blue black.

Kultur1,6,9

Medium kultur yang digunakan untuk jamur dermatofit adalah


sabouraud dextrose agar. Pemeriksaan dengan pembiakan diperlukan untuk
menyokong pemeriksaan langsung sediaan basah dan untuk menentukan
spesies jamu. Pemeriksaan ini dilakukan dengan menanamkan bahan klinis
pada media buatan yaitu sabouraud dextros agar. Antibiotik seperti
kloramfenikol dan cycloheximide ditambahkan ke media untuk mencegah
pertumbuhan dari bakteri atau jamur kontaminan. Kerokan yang diambil pada
lesi di kulit kepala dengan menggunakan sikat kemudian di ratakan di
permukaan media kultur. Kebanyakan dermatofit tumbuh pada suhu 26oC dan
diperlukan waktu tumbuh setelah 2 minggu untuk dilakukan pemeriksaan.

20
1
4.9 Tatalaksana

Prinsip managemen untuk tinea kapitis yaitu terdiri dari pengobaan sistemik,
pengobatan topikal dan tindakan preventif.6 Tujuan pengobatan adalah untuk
mencapai klinis dan kesembuhan secepat mungkin serta mencegah penyebaran.2,4
Terapi Topikal 1,2,5,6

Pengobatan topikal antijamur tidak dianjurkan untuk terapi tunggal dalam


pengobatan tinea kapitis. Namun hal ini mungkin dapat mengurangi penularan kepada
orang lain dengan menurunkan pertumbuhan spora jamur. Selenium sulfida, shampo
ketokonazol dan shampo povidone iodine digunakan seminggu 2-3 kali, untuk
mengurangi spora jamur dan infeksivitas. Pada saat menggunakan shampo sebaiknya
didiamkan selama 5 menit sebelum dibilas. Penggunaan obat-obat topikal
konvensional yang digunakan misalnya asam salisilat 2-4%, asam benzoat 6-12%,
sulfur 4-6%, vioform 3%, asam undesilenat 2-5% dan zat warna (hijau brilian 1%
dalam cat Castellani) dikenal banyak ibat topikal baru. Obat-obat baru ini diantaranya
tolnaftat 2%, tolsiklat, haloprogin, derivat-derivat imidazol, siklopiroksolamin dan
naftifine masing-masing 1%.

Terapi Oral

Obat antimitotik digunakan untuk penetrasi folikel rambut.6 Gold standar


terapi oral untuk tinea kapitis pada empat dekade adalah griseofulvin.6 Obat baru
yang dapat digunakan untuk alternatif terapi tinea kapitis adalah flukonazole,
ketokonazole,itrakonazole, dan terbinafine.6

Griseofulvin

Griseofulvin bersama dengan terbinafine pada pasien yang lebih tua dari 4 tahun
adalah perawatan sistemik untuk tinea capitis disetujui oleh US Food dan Administrasi
Obat. Yang sebelumnya direkomendasikan dosis pediatrik adalah 10-20 mg / kg / hari
dibagi dosis untuk 6-8 minggu diambil dengan makanan berlemak untuk memfasilitasi
penyerapan. Namun, tingkat kegagalan yang tinggi dengan ini rejimen menghasilkan
rekomendasi dosis saat ini griseofulvin 20–25 mg / kg / hari dari mikrokait bentuk, dan
15 mg / kg / hari dalam dosis terbagi dari ultramicrosize formulir untuk 8 minggu.
Meskipun rekomendasi saat ini tidak didasarkan pada hasil dari kontrolnuji coba,

2
pengalaman klinis kolektif menunjukkannya efikasi terapeutik tinggi. Kekurangan
griseofulvin termasuk kepatuhan yang buruk terkait dengan lama perawatan dan rasanya
yang pahit dalam bentuk cair. Sisi yang sama efek termasuk fotosensitifitas, sakit
kepala, dan gastrointestinal upset. Griseofulvin juga merupakan inducer kuatenzim
sitokrom P450.

Terbinafine

Dosis 3–6 mg / kg / hari terbinafine dapat menyembuhkan Trichophyton tinea


capitis dalam 2–4 minggu; Namun, 4-8 minggu pengobatan mungkin diperlukan untuk
pemberantasan Microsporum. Dua percobaan acak mengkonfirmasi peningkatan efikasi
terbinafine (5-8 mg / kg / hari) dalam pengobatan T. tonsurans infeksi dengan tingkat
kesembuhan yang jauh lebih tinggi dibandingkan untuk menurunkan dosis griseofulvin
(10-20 mg / kg / hari). Namun, bahkan pada rentang dosis yang lebih rendah ini,
griseofulvin menunjukkan tingkat penyembuhan yang lebih tinggi untuk M. canis
infection.70 Selanjutnya, tidak jelas bahwa terbinafine (5-8 mg / kg / hari) memiliki
manfaat terapeutik dalam proses pengawetan tinea capitis atas rejimen dosis tinggi
griseofulvin (20–25 mg / kg / hari). Terbinafine dapat menyebabkan gangguan
gastrointestinal. Seperti itrakonazol, ada laporan tentang gagal hati pada pasien yang
menggunakan terbinafine. Terbinafine memiliki efek penghambatan pada CYP 2D6
bagian dari sistem sitokrom P450. Sementara lebih sedikit obat dimetabolisme melalui
CYP 2D6 ini subset sebagai dari melalui CYP 3A4 bagian yang terhambat oleh
traconazole dan ketoconazole, interaksi pentingmasih ada dengan β-blocker dan
antidepresan trisiklik.

Itrakonazole
Pada dosis 5 mg / kg / hari untuk 2–4 minggu, itraconazole efektif memusnahkan
tinea capitis yang disebabkan oleh Microsporum atau Trichophyton. Terapi pulsa pada 5
mg / kg / hari selama 1 minggu dari masing-masing bulan untuk satu hingga tiga siklus
juga efektif. Mungkin efek samping itrakonazol termasuk gastrointestinal, diare dengan
formulasi cair, dan edema perifer, terutama ketika digunakan bersama dengan calcium
channel blockers. Itraconazole lebih baik diserap di hadapan makanan, yang
menghasilkan sekresi asam lambung dan pH lambung bawah. Di atas sebaliknya, antasid
3
seperti H2 blocker dapat menurun penyerapan itrakonazol dengan meningkatkan
lambung pH. Seperti halnya flukonazol, hepatotoksisitas dengan itrakonazol terjadi pada
tingkat yang lebih rendah dibandingkan dengan ketoconazole. Itraconazole juga jarang
dikaitkan dengan kongestif gagal jantung. Itraconazole adalah penghambat CYP 3A4
subset dari sitokrom P450 sistem.
Fluconazole

Tersedia sebagai tablet dan acairan yang menyenangkan, flukonazol dengan dosis
6 mg /kg / hari selama 20 hari efektif dalam menyembuhkan tinea capitis. Alternatifnya,
flukonazol dapat diberikan sebagai denyut nadi, sekali seminggu, rejimen dengan 6 mg /
kg / hari untuk 8-12 minggu.71 Penyerapan flukonazol tidak terpengaruh oleh pH
lambung, dan efek samping gastrointestinal lebih sedikit umum. Hepatitis telah
dilaporkan tetapi itu terjadi kurang sering dibandingkan dengan ketoconazole.35
Flukonazol adalah penghambat potensial enzim sitokrom P450, khususnya CYP 2C9
dan 2C19. Karena kebanyakan obat-obatan dimetabolisme oleh sitokrom P450 sistem
melalui subset CYP 3A4, flukonazol memiliki lebih sedikit potensi untuk berinteraksi
dengan obat daripada sistemik lainnya imidazoles.

Terapi Adjuvan

Selenium sulfida (1% dan 2,5%), seng pyrithione (1% dan 2%), povidone iodine (2,5%),
dan ketoconazole (2%) adalah sediaan sampo yang membantu memberantas dermatofita
dari kulit kepala anak-anak. Penggunaan adjungtif dari shampo ini direkomendasikan 2-
4 kali seminggu selama 2-4 minggu.72 Penggunaan sampo ketokonazol 2% atau
selenium sulfida 2,5% tiga kali seminggu oleh semua anggota rumah tangga juga
mengurangi transmisi dengan mengurangi penumpahan spora.

Glukokortikoid oral dapat mengurangi kejadian jaringan parut yang terkait


dengan varietas inflamasi yang nyata tinea capitis. Meski tidak ada yang konsisten bukti
untuk tingkat penyembuhan yang lebih baik dengan penggunaan glukokortikoid oral,
mereka muncul untuk menghilangkan rasa sakit dan bengkak terkait dengan infeksi.
Regimen prednison yang biasa adalah 1-2 mg / kg setiap pagi selama minggu pertama

4
terapi.

5
DAFTAR PUSTAKA

1. Unandar Budimulja. Mikosis: dalam Prof.Dr. dr. Adhi Djuanda, dkk Ilmu
Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi 5. Jakarta : FKUI. 2008; p.92-99
2. E.M Higgins, dkk. Guideline for The Management of Tinea Capitis.British
Journal of Dermatology. 2000; 143:53-58
3. Superficial Fungal infection :Dermatophytosis, Onychomycosis, Tinea Nigra,
Piedra. Dalam : Freedberg IM, Eisen AZ, Wolff K, Austen KF, Goldsmith LA,
Katz SI, dkk. Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine 8th ed. Volume 1
& 2. New York Mc Graw Hill, 2012 : p 2278-2297
4. Health Protection Agency. Tinea Capitis in The United Kingdom: A report
on its diagnosis, management and prevention. London : Health Protection
Agency, March 2007
5. N rebollo, dkk. Tinea Capitis. Review Article. Actas Dermosifiliogr.
2008;99:91-100
6. Maha A, Dayel, Iqbal Bukhari. Tinea Capitis. The Gulf Journal of Dermatology
and Venereology.Vol.1. No.1. 2004
7. Robin Graham-Brown, Tony Burns. Dermatologi. Edisi 8. Jakarta : Erlangga.
2005 ; p. 35
8. Prof.Dr.R.S.Siregar. Penyakit Kulit Jamur. Edisi 2. Jakarta : EGC.2004; p.24
9. Klaus Wolff, Richard Allen Johnson, dkk. Fitzpatrick’s Color Atlas &
Synopsis of Cinival Dermatology 5th ed.New York Mc Graw Hill. 2007
10. Brendan P. Kelly. Superficial Fungal Infections : Pediatrics in Review.
American Academy of Pediatrics. 2012;33;e22