Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN
I.1 Latar belakang
Fenomena m e n i n g k a t n ya penggunaan obat tradisional di
m a s y a r a k a t , menunjukkan adanya pergeseran minat masyarakat menuju konsep
‘Back To Nature’. T e n t u n ya m a s y a r a k a t I n d o n e s i a t e l a h m e n ya d a r i a k a n
k e a n e k a r a g a m a n h a y a t i ya n g dimilikinya, dan mulai banyak masyarakat
Indonesia menggunakan obat tradisional. WHO merekomendasi penggunaan obat
tradisional termasuk herbal dalam pemeliharaan kesehatan masyarakat, pencegahan dan
pengobatan penyakit. WHO juga mendukung upaya-upaya dalam
peningkatan keamanan dan khasiat dari obat herbal
u n t u k meminimalisir efek samping dari obat tradisional meski pun efek samping obat
tradisonal relatif lebih ringan dibandingkan dengan obat-obat kimia karena obat tradisional.
Hal ini d i k a r e n a k a n b a h a n b a k u r a m u a n t r a d i s i o n a l s a n g a t a l a m i a t a u
t i d a k b e r s i f a t sintetik .
Penggunaan obat tradisional memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat
karenaselain murah juga alami dan dianggap amandibandingkan obat sintetis
yang mahal danmenyakitkan (enggunaan obat tradisional memiliki daya tarik tersendiri
bagi masyarakatk a r e n a selain murah juga alami dan dianggap aman
d i b a n d i n g k a n o b a t s i n t e t i s ya n g mahal dan menyakitkan .
Di Indonesia banyak berbagai macam tumbuhan obat yang telah diteliti oleh para ahli
yang mana sampai sekarang tercantum pada buku-buku maupun artikel obat tradisional.
Tumbuhan obat atau yang biasa dikenal dengan obat herbal adalah sediaan obat baik berupa
obat tradisional , fitofarmaka dan farmasetika, dapat berupa simplisia ( bahan segar atau yang
dikeringkan ) ekstrak, kelompok senyawa atau senyawa murni berasal dari alam, yang
dimaksut dengan obat alami adalah obat asal tanaman.
Obat Alam atau yang biasa disebut obat herbal adalah sediaan obat baik berupa oabat
tradisional, fitofarmaka dan farmasetik, dapat berupa simplisia ( bahan segar atau yang
dikeringkan ) ekstrak , kelompok senyawa atau senyawa murni yang berasal dari alam, yang
dimaksut dengan obat alami adalah obat asal tanaman.
I.2. Perumusan Masalah
1. Apa itu Simplisia?
2. Bagaimanakah proses Penyiapan dan pembuatan simplisia?
2. Bagaimanakah mutu yang baik dari suatu simplisia ?
3. Bagaimanakah cara melihat struktur organoleptis makroskopik serta mikroskopik
simpisia ?
I.3. Tujuan Praktikum
a. Mengetahui Apa itu simplisia
b. Mengetahui cara penyiapan dan pembuatan simplisia yang baik.
b. Mengetahui mutu simplisia.
c. Mengetahui makroskopik dan mikroskopik pada simplisia
BAB II
PEMBAHASAN
II.1 Pengertian Simplisia
Simplisia adalah bahan alam yang telah dikeringkan yang digunakan untuk
pengobatan dan belum mengalami pengolahan, kecuali dinyatakan lain suhu pengeringan
tidak lebih dari 60oC (BPOM, 2014).
1 . Jenis-jenis simplisia:
a. Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tanaman utuh, bagian tanaman atau
eksudat tanaman. Yang dimaksud dengan eksudat tanaman adalah isi sel yang
secara spontan keluar dari tanaman atau yang dengan cara tertentu dikeluarkan dari
selnya, atau zat-zat nabati lainnya yang dengan cara tertent dipisahkan dari
tanamannya.
b. Simplisia hewani adalah simplisia yang berupa hewan utuh , bagian hewan atau zat-
zat
berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa zat kimia murni.
c. Simplisia mineral atau pelikan adalah simplisia yang berupa bahan pelikan atau
mineral
yang belum diolah atau telah diolah dengan cara sederhana dan belum berupa zat
kimia
murni.
Untuk menjamin keseragaman senyawa aktif, keamanan maupun kegunaannya,
maka simplisia harus memenuhi persyaratan minimal. Dan untuk memenuhi persyarata
minimal tersebut, ada beberapa faktor yang berpengaruh , antara lain adalah :
1. Bahan baku simplisia.
2. Proses pembuatan simplisia termasuk cara penyimpanan bahan baku simplisia.
3. Cara penepakan dan penyimpanan simplisia.
Proses pemanenan dan preparasi simplisia merupakan proses yang menentukan
mutu simplisia dalam berbagai artian, yaitu komposisi senyawa kandungan, kontminasi
dan stabilitas bahan. Namun demikian simplisia sebagai produk olahan, variasi senyawa
kandungan dapat di perkecil, diatur atau dikonstankan (Depkes RI, 2000).
II.2 Pembuatan Simplisia Secara Umum.
1. Bahan Baku
Tanaman obat yang menjadi sumber simplisia nabati , merupakan salah satu
faktor yang dapat mempengaruhi mutu simplisia. Sebagai sumber simplisia, tanaman
obat dapat berupa tumbuhan liar atau berupa tanaman budidaya. Tumbuhan liar
adalah tumbuhan yang tumbuh dengan sendirinya di hutan atau tempat lain, atau
tanaman yang sengaja ditanam dengan tujuan lain, misalnya sebagai tanaman hias,
tanaman pagar, tetapi bukan dengan tujuan untuk memproduksi simplisia. Tanaman
budidaya adalah tanaman yang sengaja ditanam untuk tujuan produksi simplisia.
Tanaman simplisia dapat di perkebunan yang luas, dapat diusahakan oleh petani
secara kecil-kecilan berupa tanaman tumpang sari atau Tanaman Obat Keluarga.
Tanaman Obat Keluarga adalah pemanfaatan pekarangan yang sengaja digunakan
untuk menanam tumbuhan obat.
2. Dasar Pembuatan Simplisia
a. Simplisia dibuat dengan cara pengeringan
Pembuatan simplisia dengan cara ini dilakukan dengan pengeringan cepat, tetapi
dengan suhu yang tidak terlalu tinggi. Pengeringan yang terlalu lama akan
mengakibatkan simplisia yang diperoleh ditumbuhi kapang. Pengeringan dengan suhu
yang tinggi akan mengakibatkan perubahan kimia pada kandungan senyawa aktifnya.
Untuk mencegah hal tersebut, untuk simplisia yang memerlukan perajangan perlu
diatur panjang perajangannya, sehingga diperoleh tebal irisan yang pada pengeringan
tidak mengalami kerusakan.
b. Simplisia dibuat dengan fermentasi.
Proses fermentasi dilakukan dengan seksama, agar proses tersebut tidak
berkelanjutan kearah yang tidak diinginkan.
c. Simplisia dibuat dengan proses khusus.
Pembuatan simplisia dengan penyulingan, pengentalan eksudat nabati,
penyaringan sari air dan proses khusus lainnya dilakukan dengan berpegang pada
prinsip bahwa pada simplisia yang dihasilkan harus memiliki mutu sesuai dengan
persyaratan.
d. Simplisia pada proses pembuatan memerlukan air.
Pati, talk dan sebagainya pada proses pembuatannya memerlukan air. Air yang
digunakan harus terbebas dari pencemaran serangga, kuman patogen, logam berat dan
lain-lain.
3. Tahap Penyiapan Dan Pembuatan
Pada umumya penyiapan dan pembuatan simplisia melalui tahapan sebagai berikut :
1). Simplisia Segar
Simplisia segar merupakan bahan baku yang dikumpulkan atau dipanen dari
tanaman obat. Kualitas bahan baku simplisia sangat dipengaruhi beberapa faktor yaitu
umur tanaman atau bagian tanaman pada waktu panen, bagian tanaman yang
digunakan, waktu panen dan lingkungan tempat tumbuh. Proses yang dilakukan
terhadap simplisia segar adalah sortasi basah, pencucian, penirisan dan pada simplisia
tertentu dapat dilakukan pengubahan bentuk menjadi irisan, potongan dan serutan.
a. Pengumpulan Bahan Baku
Kadar senyawa aktif dalam suatu simplisia berbeda-beda antara lain tergantung
pada :
1. Bagian tanaman yang digunakan.
2. Umur tanaman yang digunakan.
3. Waktu panen.
4. Lingkungan tempat tumbuh.
Waktu panen sangat erat hubungannya dengan pembentukan senyawa aktif di
dalam bagian tanaman yang akan dipanen. Waktu panen yang tepat pada
saat bagian tanaman tersebut mengandung senyawa aktif dalam jumlah yang
terbesar.
Senyawa aktif terbentuk secara maksimal di dalam
bagian tanaman atau tanaman pada umur tertentu. Sebagai contoh
pada tanaman Atropa belladonna, alkaloid hiosiamina mula-
mula terbentuk dalam akar. Dalam tahun pertama, pembentukan hiosiamina
berpindah pada batang yang masih hijau. Pada tahun kedua
batang mulai berlignin dan kadar hiosiamina mulai menurun sedang pada daun
kadar hiosiamina makin meningkat. Kadar alkaloid hios'amina tertinggi dicapai
I dalam pucuk tanaman pada saat tanai an berbunga dan kadar
alkaloid menurun pada saat tanaman berbualz dan niakin turun ketika buah
makin tua. Contoh lain, tanaman
Menthapiperita muda mengandung mentol banyak dalanl daunnya.
Kadar rninyak atsiri dan mentol tertinggi pada daun tanaman
ini dicapai pada saat tanaman tepat akan berbunga. Pada Cinnamornunz camphors,
kamfer akan terkumpul dalam kayu tanaman yang telah tua.
Penentuan bagian tanaman yang dikumpulkan dan waktu pengumpulan secara tepat
memerlukan penelitian. Di samping waktu panen yang
dikaitkan dengan umur, perlu diperhatikan pula saat panen dalam sehari. Contoh,
simplisia yang mengandung minyak atsiri lebih baik dipanen pada pagi hari.
Dengan demikian untuk menentukan waktu panen dalam sehari perlu
dipertimbangkan stabilitas
kimiawi dan fisik senyawa aktif dalam simplisia terhadap panas sinar matahari.
Secara garis besar, pedoman panen sebagai berikut :
1. Tanaman yang pada saat panen diambil bijinya yang telah
tua seperti kedawung (Parkia rosbbrgii), pengambilan biji ditandai dengan telah
mengeringnya buah. Sering pula pemetikan dilakukan sebelum kering
benar, yaitu sebelum buah pecah secara alami dan biji terlempar jauh, misal
jarak (Ricinus cornrnunis).
2. Tanaman yang pada saat panen diambil buahnya, waktu pengambilan sering
dihubungkan dengan tingkat kemasakan, yang ditandai dengan terjadinya
perubahan pada buah seperti perubahan tingkat kekerasan misal labu merah
(Cucurbita n~oscllata). Perubahan warna, misalnya asam (Tarnarindus indica),
kadar air buah, misalnya belimbing wuluh (Averrhoa belimbi), jeruk nipis (Citrui
aurantifolia) perubahan bentuk buah, misalnya mentimun (Cucurnis sativus),
pare (Mornordica charantia).
3. Tanaman yang pada saat panen diambil daun pucuknya pengambilan dilakukan
pada saat tanaman mengalami perubahan pertumbuhan dari
vegetatif ke generatif. Pada saat itu penumpukan senyawa aktif dalam
kondisi tinggi, sehingga mempunyai mutu yang terbaik. Contoh tanaman yang
diambil daun pucuk ialah kumis kucing (Orthosiphon starnineus).
4. Tanaman yang pada saat panen diambil daun yang telah tua, daun yang diambil
dipilih yang telah membuka sempurna dan terletak di bagian cabang atau batang
yang
menerima sinar matahari sempurna. Pada daun tersebut terjadi kegiatan asimilasi
yang
sempurna. Contoh panenan ini misal sembung (Blumea balsamifera).
5. Tanaman yang pada saat panen diambil kulit batang,
pengambilan dilakukan pada saat tanaman telah cukup umur. Agar pada saat
pengambilan tidak mengganggu pertumbuhan, sebaiknya dilakukan pada
musim yang menguntungkan pertumbuhan antara lain menjelang musim kemarau.
6. Tanaman yang pada
saat panen diambil umbi lapis, pengambilan dilakukan pada saat umbi
mencapai besar maksimum dan pertumbuhan pada bagian di atas tanah berhenti
misalnya bawang merah (Allium cepa).
7. Tanaman yang pada saat panen diambil rimpangnya, pengambilan
dilakukan pada musim kering dengan tanda-tanda mengeringnya bagian atas
tanaman. Dalam keadaan ini rimpang dalam keadaan besar maksimum.
Panen dapat dilakukan dengan tangan, menggunakan alat atau
menggunakan mesin. Dalam ha1 ini keterampilan pemetik diperlukan, agar
diperoleh simplisia yang benar, tidak tercampur dengan bagian lain dan tidak
merusak tanaman induk. Alat atau mesin yang digunakan untuk memetik perlu
dipilih yang sesuai. Alat yang terbuat dari logam sebaiknya tidak
digunakan bila diperkirakan akan merusak senyawa aktif siniplisia seperti fenol,
glikosida dan sebagainya.
b. Sortasi Basah
Sortasi basah dilakukan untuk memisahkan kotoran-kotoran atau bahan-
bahan asing lainnya dari bahan simplisia.
Misalnya pada simplisia yang dibuat dari akar suatu tanaman obat, bahan-
bahan asing seperti tanah, kerikil, rumput, batang, daun, akar yang
telah rusak, serta pengotoran lainnya harus dibuang. Tanah
mengandung bermacam-macam
mikroba dalam jurnlah yang tinggi, oleh karena itu pembersihan
simplisia dari tanah yang terikut dapat mengurangi jumlah mikroba awal.
c. Pencucian
Pencucian dilakukan untuk menghilangkan tanah dan pengotoran lainnya
yang melekat pada bahan simplisia. Pencucian dilakukan dengan air bersih,
misalnya air dari mata air, air sumur atau air PAM. Bahan simplisia yang
mengandung zat yang mudah larut di dalam air yang mengalir, pencucian agar
dilakukan dalam waktu yang sesingkat mungkin. Menurut
Frazier (1978), pencucian sayur-sayuran satu kali dapat menghilangkan 25%
dari jumlah mikroba awal, jika dilakukan pencucian sebanyak tiga kali, jumlah
mikroba yang tertinggal hanya 42% dari jumlah mikroba awal. Pencucian tidak
dapat membersihkan simplisia dari semua mikroba
karena air pencucian yang digunakan biasanya mengandung juga sejumlah
mikroba. Cara sortasi dan pencucian sangat mempengaruhi jenis dan jumlah
rnikroba awal simplisia. Misalnya jika air yang
digunakan untuk pencucian kotor, maka jumlah mikroba pada
permukaan bahan simplisia dapat bertambah dan air yang
terdapat pada permukaan bahan tersebut dapat menipercepat
pertumbuhan mikroba. Bakteri yang umumnya terdapat dalam air adalah Pseudo
monas,
Proteus,Micrococcus, Bacillus,Streptococcus, Enterobacter dan Escherishia. Pad
a simplisia akar, batang atau buah dapat pula
dilakukan pengupasan kulit luarnya untuk
mengurangi jumlah mikroba awal karena sebagian besar jumlah mikroba biasany
a terdapatpada permukaan bahan simplisia. Bahan yang telah dikupas tersebut
mungkin tidak memerlukan pencucian jika cara pengupasannya dilakukan dengan
tepat dan bersih.
d. Penirisan
Penirisan ditujukan untuk mengurangi jumlah air yang masih menempel
pada simplisia dan mencegah pembusukan. Penirisan dilakukan sesegera mungkin
setelah pencucian. Selama penirisan, bahan bisa dibolak balik untuk mempercepat
berkurangnya jumlah air pada bahan.
e. Perajangan
Beberapa jenis bahan simplisia perlu mengalami proses perajangan.
Perajangan
bahan simplisia dilakukan untuk mempermudah proses pengeringan, pengepakan d
an penggilingan. Tanaman yang baru diambil jangan langsung dirajang tetapi
dijemur dalam keadaan utuh selama 1 hari. Perajangan dapat
dilakukan dengan pisau,
dengan alat mesin perajang khusus sehingga diperoleh irisan tipis atau potongan
dengan ukuran yang dikehendaki.
Semakin tipis bahan yang akan dikeringkan, semakin cepat penguapan
air, sehingga mempercepat waktu pengeringan.
Akan tetapi irisan yang terlalu tipis juga dapat menyebabkan
berkurangnya atau hilangnya zat berkhasiat yang mudah menguap. Sehingga
mempengaruhi komposisi bau dan rasa yang diinginkan. Oleh karena itu
bahan simplisia seperti temulawak, temu giring, jahe, kencur
dan bahan sejenis lainnya dihindari perajangan yang terlalu tipis untuk
mencegah berkurangnya kadar minyak atsiri. Selama perajangan seharusnya
jumlah mikroba tidak bertambah.
Penjemuran sebelum perajangan diperlukan untuk mengurangi
pewarnaan akibat reaksi antara bahan dan logam pisau.
Pengeringan dilakukan dengan sinar matahari selama satu hari.
2). Simplisia kering
Bahan tanaman obat jarang digunakan dalam keadaan segar karena cenderung
mudah rusak sehingga tidak dapat disimpan lama. Agar bahan dapat disimpan dalam
waktu lama dan awet, maka perlu disimpan dalam bentuk kering. Oleh karena itu perlu
dilakukan proses pengeringan, sortasi kering, pembuatan serbuk (bila perlu) dan
pengemasan yang baik.
a. Pengeringan
Tujuan pengeringan ialah untuk mendapatkan simplisia yang tidak
mudah rusak,sehingga dapat disimpan dalam waktu yang lebih lama. Dengan
mengurangi kadar air dan menghentikan reaksi enzimatik akan dicegah penurunan
mutu atau perusakan simplisia. Air yang masih tersisa dalam simplisia pada kadar
tertentu dapat merupakan media pertumbuhan kapang dan jasad renik lainnya. Enzim
tertentu dalam sel,masih dapat bekerja,menguraikan senyawa aktif sesaat setelah sel
mati dan selama bahan simplisia tersebut masih mengandung kadar air tertentu. Pada
tumbuhan yang masih hidup pertumbuhan kapang dan reaksi enzimatik yang merusak
itu tidak terjadi karena adanya keseimbangan antara proses-proses metabolisme, yakni
proses sintesis, transformasi dan penggunaan isi sel. Keseimbangan ini hilang segera
setelah sel tumbuhan mati. Sebelum tahun 1950, sebelum bahan dikeringkan, terhadap
bahan simplisia tersebut lebih dahulu dilakukan proses stabilisasi yaitu proses untuk
menghentikan reaksi enzimatik. Cara yang lazim dilakukan pada saat itu, merendam
bahan simplisia dengan etanol 70 % atau dengan mengaliri uap panas. Dari hasil
penelitian selanjutnya diketahui bahwa reaksi enzimatik tidak
berlangsung bila kadar air dalam simplisia kurang dari 10%.
Pengeringan simplisia dilakukan dengan menggunakan sinar matahari
atau menggunakan suatu alat pengering. Hal-ha1 yang perlu diperhatikan selama
proses pengeringan adalah suhu pengeringan, kelembaban udara, aliran udara, Waktu
pengeringan dan luas permukaan bahan. Pada pengeringan bahan simplisia
tidak dianjurkan rnenggunakan alat dari plastik. Selama proses pengeringan bahan
simplisia, faktor-faktor tersebut harus diperhatikan sehingga diperoleh simplisia kering
yang tidak mudah mengalami kerusakan selama penyimpanan. Cara pengeringan yang
salah dapat mengakibatkan terjadinya "Face hardening", yakni bagian luar bahan
sudah kering sedangkan bagian dalamnya masih basah. Hal ini dapat disebabkan oleh
irisan bahan simplisia yang terlalu tebal, suhu pengeringan yang terlalu tinggi, atau
oleh suatu keadaan lain yang menyebabkan penguapan air permukaan bahan jauh lebih
cepat daripada difusi air dari dalam ke permukaan tersebut, sehingga permukaan bahan
menjadi keras dan menghambat pengeringan selanjutnya. "Face hardening" dapat
mengakibatkan kerusakan atau kebusukan di bagian dalarn bahan yang dikeringkan.
Suhu pengeringan tergantung kepada bahan simplisia dan cara pengeringannya.
Bahan simplisia dapat dikeringkan pada suhu 300 sampai 90°C, tetapi suhu yang
terbaik adalah tidak melebihi 60°C. Bahan simplisia yang mengandung senyawa aktif
yang tidak tahan panas atau mudah menguap harus dikeringkan pada suhu serendah
mungkin, misalnya 300 sampai 450 C, atau dengan cara pengeringan vakum yaitu
dengan mengurangi tekanan udara di dalam ruang atau lemari pengeringan, sehingga
tekanan kira-kira 5 mm Hg. Kelembaban juga tergantung pada bahan simplisia,cara
pengeringan, dan tahap tahap selama pengeringan. Kelembaban akan menurun selama
berlangsungnya proses pengeringan. Berbagai cara pengeringan telah dikenal dan
digunakan orang. Pada dasarnya dikenal dua cara pengeringan yaitu pengeringan
secara alamiah dan buatan.
1. Pengeringan Alamiah.
Tergantung dari senyawa aktif yang dikandung dalam bagian tanaman yang
dikeringkan, dapat dilakukan dua cara pengeringan :
a. Dengan panas sinar matahari langsung. Cara ini dilakitkan untuk
mengeringkan bagian tanaman yang relatif keras seperti kayu, kulit kayu,
biji dan sebagainya, dan rnengandung senyawa aktif yang relatif stabil.
Pengeringan dengan sinar matahari yang banyak dipraktekkan di Indonesia
merupakan suatu cara yang mudah dan murah, yang dilakukan dengan
cara membiarkan bagian yang telah dipotong-potong di udara terbuka di
atas tampah-tampah tanpa kondisi yang terkontrol sepertl suhu, kelembaban
dan aliran udara. Dengan cara ini kecepatan pengeringan sangat tergantung
kepada keadaan iklim, sehingga cara ini hanya baik dilakukan di daerah yang
udaranya panas atau kelembabannya rendah, serta tidak turun hujan. Hujan
atau cuaca yang mendung dapat memperpanjang waktu pengeringan sehingga
memberi kesempatan pada kapang atau mikroba lainnya untuk tumbuh
sebelum simplisia tersebut kering. F'IDC (Food Technology Development
Center IPB) telah merancang dan membuat suatu alat pengering dengan
menggunakan sinar matahari, sinar matahari tersebut ditampung pada
permukaan yang gelap dengan sudut kemiringan tertentu. Panas ini kemudian
dialirkan keatas rak-rak pengering yang diberi atap tembus cahaya di atasnya
sehingga rnencegah bahan menjadi basah jika tiba-tiba turun hujan. Alat ini
telah digunakan untuk mengeringkan singkong yang telah dirajang dengan
demikian dapat pula digunakan untuk mengeringkan simplisia.
b. Dengan diangin-anginkan dan tidak dipanaskan dengan sinar matahari
langsung. Cara ini terutama digunakan untuk mengeringkan bagian
tanaman yang lunak seperti bunga, daun, dan sebagainya dan mengandung
senyawa aktif mudah menguap.
2. Pengeringan Buatan
Kerugian yang mungkin terjadi jika melakukan pengeringan dengan sinar
matahari dapat diatasi jika melakukan pengeringan buatan, yaitu dengan
menggunakan suatu alat atau mesin pengering yang suhu kelembaban, tekanan
dan aliran udaranya dapat diatur. Prinsip pengeringan buatan adalah sebagai
berikut: “udara dipanaskan oleh suatu sumber panas seperti lampu, kompor,
mesin disel atau listrik, udara panas dialirkan dengan kipas ke dalam ruangan
atau lemari yang berisi bahan yang akan dikeringkan yang telah disebarkan di
atas rak-rak pengering”. Dengan prinsip ini dapat diciptakan suatu alat
pengering yang sederhana, praktis dan murah dengan hasil yang cukup baik.
Dengan menggunakan pengeringan buatan dapat diperoleh simplisia
dengan mutu yang lebih baik karena pengeringan akan lebih merata dan
waktu pengeringan akan lebih cepat, tanpa dipengaruhi oleh keadaan cuaca.
Sebagai contoh misalnya jika kita membutuhkan waktu 2 sampai 3 hari untuk
penjemuran dengan sinar matahari sehingga diperoleh simplisia kering
dengan kadar air 10% sampai 12%, dengan menggunakan suatu alat pengering
dapat diperoleh simplisia dengan kadar air yang sama dalam waktu 6 sampai
8 jam.
Daya tahan suatu simplisia selama penyimpanan sangat tergantung pada
jenis simplisia, kadar airnya dan cara penyimpanannya. Beberapa simplisia
yang dapat tahan lama dalam penyimpanan jika kadar airnya diturunkan 4
sampai 8%, sedangkan simplisia lainnya rnungkin masih dapat tahan selama
penyimpanan dengan kadar air 10 sampai 12%.
b. Sortasi Kering
Sortasi setelah pengeringan sebenarnya merupakan tahap akhir
pembuatan simplisia. Tujuan sortasi untuk memisahkan benda-benda asing seperti
bagian-bagian tanaman yang tidak diinginkan dan pengotoran-pengotoran lain yang
masih ada dan tertinggal pada sirnplisia kering. Proses ini dilakukan sebelum sirnplisia
dibungkus untuk kernudian disimpan. Seperti halnya pada sortasi awal, sortasi disini
dapat dilakukan dengan atau secara mekanik. Pada simplisia bentuk rimpang sering
jurnlah akar yang melekat pada rimpang terlampau besar dan harus dibuang. Demikian
pula adanya partikel-partikel pasir, besi dan benda-benda tanah lain yang tertinggal
harus dibuang sebelum simplisia dibungkus.
c. Pembuatan serbuk simplisia
Simplisia kering dapat diserbuk dengan derajat kehalusan yang diinginkan.
Pada umumnya, bahan-bahan yang keras seperti kayu, kulit kayu, biji, akar, dibuat
serbuk terlebih dahulu sebelum diekstraksi. Pengecilan ukuran partikel (pembuatan
serbuk) ini bertujuan memperluar permukaan kontak antara penyari dan permukaan
simplisia sehingga meningkatkan efektifitas proses ekstraksi senyawa aktif dari
simplisia. Namun, ukuran serbuk tidak boleh terlalu halus karena dapat menyulitkan
proses ekstraksi.
c. Pengemasan
Pengemasan bertujuan simplisia pada saat pengangkutan, distribusi dan
penyimpanan dari faktor eksternal seperti suhu, kelembaban, cahaya matahari,
pencemaran mikroba dan gangguan dari serangga tertentu. Oleh karena itu, bahan
pengemas harus kedap air, kedap udara dan dapat menghindari bahan dari faktor
eksternal tersebut. Persyaratan bahan pengemas yang baik adalah :
1) bersifat inert atau netral sehingga tidak bereaksi dengan simplisia yang dapat
menyebabkan perubahan organoleptis, kadar air dan kandungan zat aktif.
2) dapat mencegah kerusakan karena faktor mekanis dan fisiologis 3) mudah
digunakan, relatif ringan dan harga relatif murah.
d. Penyimpanan Dan Pengepakan
Sirnplisia dapat rusak, mundur atau berubah mutunya karena berbagai faktor luar
dan dalam, antara lain :
1. Cahaya : Sinar dari panjang gelombang tertentu dapat menimbulkan perubahan
kimia
pada simplisia, misalnya isomerisasi, polimerisasi, rasemisasi dan sebagainya.
2. Oksigen udara : Senyawa tertentu dalam simplisia dapat mengalami
perubahan kimiawi
oleh pengaruh oksigen udara terjadi oksidasi dan perubahan ini dapat berpengaruh
pada bentuk simplisia, misalnya, yang semula cair dapat berubah menjadi kental
atau padat, berbutir-butir dan sebagainya.
3. Reaksi kimia intern : perubahan kimiawi dalam simplisia yang dapat disebabkan
oleh reaksi
kimia intern, misalnya oleh enzim, polimerisasi, oto-oksidasi dan sebagainya.
4. Dehidrasi : Apabila kelembaban luar lebih rendah dari simplisia,
maka simplisia
secara perlahan-lahan akan kehilangan sebagian airnya sehingga rnakin
lama makin mengecil (kisut).
5. Penyerapan air :Simplisia yang higroskopik, misalnya agar-agar, bila disimpan
dalam
wadah yang terbuka akan menyerap lengas udara sehingga menjadi kempal basah atau
mencair.
6. Pengotoran : Pengotoran pada simplisia dapat disebabkan oleh
berbagai sumber, misalnya debu atau pasir, ekskresi hewan, bahan-bahan asing
(misalnya minyak yang tertumpah) dan fragmen wadah (karung goni).
7. Serangga : Serangga dapat menitnbulkan kerusakan dan pengotoran
pada simplisia, baik oleh bentuk ulatnya maupin oleh bentuk dewasanya.
Pengotoran tidak hanya berupa kotoran serangga, tetapi juga sisa-sisa metamorfosa
seperti cangkang telur, bekas kepompong, anyaman benang bungkus kepompong,
bekas kulit serangga dan sebagainya.
8. Kapang : Bila kadar air dalam simplisia terlalu tinggi, maka
simplisia dapat
berkapang. Kerusakan yang timbul tidak hanya terbatas pada jaringan simplisia,
tetapi juga akan merusak susunan kimia zat yang dikandung dan malahan
dari kapangnya dapat mengeluarkan toksin yang dapat mengganggu kesehatan.
B. METODOLOGI DAN PARAMTER STANDARISASI SIMPLISIA
Ada tiga Parameter standarisasi simplisia sebagai bahan baku yang diperlukan dalam
analisa mutu siplisia , yaitu :
1. Pengujian Pendahuluan ( Kebenaran Simplisia ) :
a. Pengujian Organoleptik
b. Pengujian Makroskopik
c. Pengujian Mikroskopik
2. Parameter Non Spesifik :
a. Penetapan kadar air dengan destilasi
b. Penetapan susut pengeringan
c. Penetapan kadar abu
d. Penetapan kadar abu yang tidak larut dalam asam
e. Penetapan kadar sari yang larut dalam air
f. Penetapan kadar sari yang larut dalam etanol
g. Uji cemaran mikroba
3. Parameter Spesifik :
a. Identifikasi kimia terhadap senyawa yang disari
Pengujian Pendahuluan ( Kebenaran simplisia )
1. Uji Organoleptik
Dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kekhususan bau dan rasa simplisia yang
diuji.
2. Uji Makroskopik
Dilakukan dengan menggunakan kaca pembesar atau tanpa alat, untuk mencari
kekhususan morfologi, ukuran dan warna simplisia yang diuji.
3. Uji Mikroskopik
Dilakukan dengan menggunakan mikroskop yang derajat pembesarannya disesuaikan
dengan keperluan. Simplisia yang diuji dapat berupa sayatan maupun serbuk. Tujuannya
adalah untuk mencari unsur-unsur anatomi jaringan yang khas. Dari pengujian ini akan
diketahui jenis simplisia berdasarkan fragmen pengenal yang spesifik bagi masing-
masing simplisia. Serbuk yang diperiksa adalah serbuk yang homogen dengan derajat
kehalusan 4/18 yang dipersyaratkan oleh MMI. Ada 4 cara pengamatan menggunakan
mikroskop yaitu :
1. MIKROSKOPIK 1
Menggunakan medium air atau gliserin. Digunakan untuk mendeteksi hablur lepas,
butir pati, butir tepung sari, serabut, sel batu, rambut penutup, rambut kelenjar lepas
serta beberapa jenis jaringan khas lainnya.
2. MIKROSKOPIK 2
Serbuk terlebih dahulu dididihkan dalam larutan kloral hidra. Butir pati akan larut
akan larut dan jaringan yang berisi klorofil menjadi jernih sehingga pengamatan
dapat lebih jelas. Akan tampak sel-sel epidermis , mesofil, rongga minyak, parenkim,
hablur, sistolit dll.
3. MIKROSKOPIK 3
 Diakukan pewarnaan terhadap serbuk. Sebaiknya dilakukan setelah serbuk
dijernihkan dengan chloral hidrat, namun dalam hal-hal tertentu boleh langsung
menambahkan pereaksi tanpa didahului penjernihan jaringan.
 Pereaksi yang biasa digunakan misalnya floroglusin-asam klorida akan
menimbulkan warna merah pada sel yang berisi lignin ( sel batu, serabut dan
xilem ).
4. MIKROSKOPIK 4
Dilakukan terhadap serbuk yang telah diabukan. Uji ini khusus ditujukan untuk
mendeteksi ada tidaknya kerangka silika pada tanaman yang banyak mengandung
silika seperti familia Poaceae / Gramineae dan Equisetaceae.

4. Parameter Non-Spesifik
1. Penetapan Kadar Air ( MMI )
Kandungan air yang berlebihan pada bahan / sediaan obat tradisional akan
mempercepat pertumbuhan mikroba dan juga dapat mempermudah terjadinya hidrolisa
terhadap kandungan kimianya sehingga dapat mengakibatkan penurunan mutu dari obat
tradisional. Oleh karena itu batas kandungan air pada suatu simplisia sebaiknya
dicantumkan dalam suatu uraian yang menyangkut persyaratan dari suatu simplisia.
Tujuan dari penetapan kadar air adalah utuk mengetahui batasan maksimal atau
rentang tentang besarnya kandungan air dalam bahan. Hal ini terkait dengan kemurnian
dan adanya kontaminan dalam simplisia tersebut. Dengan demikian, penghilangan kadar
air hingga jumlah tertentu berguna untuk memperpanjang daya tahan bahan selama
penyimpanan. Simplisia dinilai cukup aman bila mempunyai kadar air kurang dari 10%.
Penetapan kadar air dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu ;

a. Metode Titrimetri
Metode ini berdasarkan atas reaksi secara kuantitatif air dengan larutan anhidrat
belerang dioksida dan iodium dengan adanya dapar yang bereaksi dengan ion hydrogen.
Kelemahan metode ini adalah stoikiometri reaksi tidak tepat dan reprodusibilitas
bergantung pada beberapa faktor seperti kadar relatif komponen pereaksi, sifat pelarut
inert yang digunakan untuk melarutkan zat dan teknik yang digunakan pada penetapan
tertentu. Metode ini juga perlu pengamatan titik akhir titrasi yang bersifat relatif dan
diperlukan sistem yang terbebas dari kelembaban udara ( Anonim, 1995 ).
Zat yang akan diperiksa dimasukkan kedalam labu melalui pipa pengalir nitrogen atau
melalui pipa samping yang dapat disumbat. Pengadukan dilakukan dengan mengalirkan
gas nitrogen yang telah dikeringkan atau dengan pengaduk magnit. Penunjuk titik akhir
terdiri dari batere kering 1,5 volt atau 2 volt yang dihubungkan dengan tahanan variable
lebih kurang 2.000 ohm. Tahanan diatur sedemikian sehingga arus utama yang cocok
yang melalui elektroda platina berhubungan secara seri dengan mikroammeter. Setiap
kali penambahan pereaksi Karl Fishcer, penunjuk mikroammeter akan menyimpang
tetapi segera kembali ke kedudukan semula. Pada titik akhir, penyimpangan akan tetap
selama waktu yang lebih lama. Pada zat-zat yang melepaskan air secara perlahan-lahan,
umumnya dilakukan titrasi tidak langsung.
b. Metode Azeotropi ( Destilasi Toluena ).
Metode ini efektif untuk penetapan kadar air karena terjadi penyulingan berulang ulang
kali di dalam labu dan menggunakan pendingin balik untuk mencegah adanya
penguapan berlebih. Sistem yang digunakan tertutup dan tidak dipengaruhi oleh
kelembaban ( Anonim, 1995 ).
Kadar air (V/B) = Vol. Air yang terukur / bobot awal simplisia x 100%.
c. Metode Gravimetri.
Dengan menghitung susut pngeringan hingga tercapai bobot tetap ( Anonim, 1995 ).
2 Penetapan Susut Pengeringan ( MMI )
Susut pngeringan adalah kadar bagian yang menguap suatu zat.kecuali dinyatakan lain ,
suhu peetapan adalah 105°C , keringkan pada suhu penetapan hingga bobot tetap. Jika suhu
lebur zat lebih rendah dari suhu penetapan, pengeringan dilakukan pada suhu antara 5°C dan
10°C dibawah suhu leburnya selama 1 jam sampai 2 jam, kemudian pada suhu penetapan
selama waktu yang ditentukan atau hingga bobot tetap.
Susut pengeringan = (bobot awal – bobot akhir) / bobot awal x 100% Untuk simplisia yang
tidak mengandung minyak atsiridan sisa pelarut organik menguap, susut pengeringan
diidentikkan dengan kadar air, yaitu kandungan air karena simplisia berada di atmoster dan
ligkungan terbuka sehingga dipengaruhi oleh kelembaban lingkungan penyimpanan.
3 Penetapan Kadar Abu (MMI)
Penetapan kadar abu merupakan cara untuk mengetahui sisa yang tidak menguap dari suatu
simplisia pada pembakaran. Pada penetapan kadar abu total, abu dapat berasal dari bagian
jaringan tanaman sendiri atau dari pengotoran lain misalnya pasir atau tanah.
4. Penetapan Kadar Abu yang tidak larut Asam (MMI)
Ditujukan untuk mengetahui jumlah pengotoran yang berasal dari pasir atau tanah silikat.
5. Penetapan Kadar Sari yang larut dalam air (MMI)
Pengujian ini dimaksutkan untuk mengetahui jumlah senyawa yang dapat tersari dengan air
dari suatu simplisia.
6. Penetapan Kadar Sari yang larut dalam etanol (MMI)
Pengujian ini dimaksutkan untuk mengetahui jumlah senyawa yang dapat tersari dengan
etanol dari suatu simplisia.
7. Uji Cemaran Mikroba
a. Uji Aflatoksin
Uji ini bertujuan untuk mengetahui cemaran aflatoksin yang dihasilkan oleh
jamur Aspergillus flavus.
b. Uji Angka Lempeng Total
Untuk mengetahui jumlah mikroba/bakteri dalam sample. Batasan angka lempengan total
yang ditetapkan oleh Kementrian Kesehatan yaitu 10°C FU/gram.
c. Uji Angka Kapang
Untuk mengetahui adanya cemaran kapang, batasan angka lempeng total yang ditetapkan
oleh Kemenkes yaitu 104 CFU/gram.
5. Parameter Spesifik ( Pengujian Secara Kimia ).
Parameter ini digunakan untuk mengetahui identitas kimia dari simplisia. Uji kandungan
kimia simplisia digunakan untuk menetapkan kandungan senyawa tertentu dari simplisia.
Biasanya dilakukan dengan analisa kromatografi lapis tipis (KLT). Sebelum dilakukan KLT
perlu dilakukan preparasi dengan penyarian senyawa kimia aktif dari simplisia yang masih
kasar.
Identifikasi kimia terhadap senyawa tersari
Kandungan kimia simplisia nabati pada umumnya dapat dikelompokkan sebagai berikut :
minyak atsiri, karotenoid, steroid, triterpenoid, alkaloid, asam lemak, senyawa fenolik ( fenol-
fenol asam fenolat, fenil propanolol, flavonoid, antrakuinon, antosianin, xanton) asam organik,
glikosida, saponin, tani, karbohidrat dan lain-lain. Simplisia yang diuji adalah simplisia tunggal
yang berupa rajangan serbuk, ekstrak atau dalam bentuk sediaan. Mula-mula serbuk simplisia
disari dengan larutan penyari yang berbeda-beda polaritasnya berturut-turut pelarut non polar,
pelarut kurang polar. Masing-masing pelarut secara selektif akan memisahkan kelompok
kandungan kimia tersebut. Pelarut yang bersifat non polar seperti eter minyak tanah (petroleum
eter) atau heksan. Pelarut kurang polar seperti eter, clhoroform dll. Pelarut yang polar seperti
etanol, air atau campuran keduanya dengan berbagai perbandingan, umumnya dipakai etanol air
70%. Penyarian dilakukan dengan cara pengocokan berkali-kali sehingga hasil pengocokan
terakhir bila diuapkan tidak meninggalkan sisa, atau dengan alat soxhlet. Untuk cara pengocokan
dianjurkan untuk melakukan perendaman awal dengan cairan penyari selama satu malam.
Penggunaan alat soxhlet hanya dianjurkan untuk penyariankandungan kimia yang telah diketahui
stabil. Penggunaan eter sebagai cairan penyari tidak dianjurkan mengingat sifatnya yang mudah
terbakar.
Dengan cara diatas akan diperoleh 3 macam sari yaitu :
1. Sari dalam eter minyak tanah atau heksana
Sari ini mengandung zat-zat kimia yang larut dalam minyak misalnya minyak atsiri, lemak
dan asam lemak tinggi, steroid, dan triterpenoid, kerotenoid. Selain kelompok tersebut
diatas, kemungkinan terkandung pada klorofil dan resin yang disebut senyawa pengotor.
2. Sari dalam eter atau kloroform
Sari ini mengandung zat-zat kimia sebagi berikut :
a. Alkaloid
b. Senyawa fenolik : * fenol-fenol
* asam fenolat
* fenil propanoid
* flavonoid
* antrakuinon
* xanton dan stilben
c. Komponen minyak atsiri tertentu
d. Asam lemak.
3. Sari dalam etanol-air
Sari ini mengandung zat-zat kimia sebagai berikut :
a. Garam alkaloid, alkaloid basa kuartener, amina teroksidasi.
b. Antosianin
c. Glikosida
d. Saponin
e. Tanin
f. Karbohidrat
BAB III
PENUTUP
III.2 Kesimpulan
Simplisia adalah bahan alam yang telah dikeringkan yang digunakan untuk
pengobatan dan belum mengalami pengolahan, kecuali dinyatakan lain suhu pengeringan
tidak lebih dari 60oC. Jenis-jenis simplisia yaitu simplisia nabati, simplisia hewani dan
simplisia mineral.
Penyiapan simplisia melalui tahapan sebagai berikut :
1. Simplisia Segar
a. Sortasi basah
b. Pencucian
c. Penirisan
d. Perajangan
e. Pengeringan
2. Simplisia Kering
a. Sortasi Kering
b. Pembuatan serbuk simplisia
c. Pengemasan
d. Penyimpanan Dan Pengepakan
III.2 Saran
Kami sebagai penyusun sadar bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan karena
memiliki keterbatasan-keterbatasan yang tidak dapat dipungkiri, untuk itu diharapkan kritik dan
saran yang membangun dari para pembaca.
DAFTAR PUSTAKA

1. Anonim, 1985, Cara Pembuatan Simplisia, Departemen Kesehatan Republik


Indonesia, Jakarta.
2. Anonim, !995, Farmakope Indonesia edisi IV, Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, Jakarta.
3. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1987, Analisis Obat
Tradisional, Jakarta, Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan.
4. Harborne, J.B., 1987, Metode Fitokimia, Penuntun cara modern menganalisa
tumbuhan, Bandung ITB.
5. Mukherjee, P.K., 2002, Quality Control of Herbal Drugs, an approach to
evaluation ouf botanicals. New Delhi, Business Horizons.