Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH


“GAGAL NAFAS”

DISUSUN OLEH
KELOMPOK 5
IFA FAZIRA
MAWADDAH NUR
NILUH PUTU AYU SRI APRILIA SUCIDIAMI
SHISIL ATRIANI PUTRI
UNI OKTAVIANINGSI

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
WIDYA NUSANTARA PALU
TAHUN
2018
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .................................................................................... i
DAFTAR ISI ................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah.............................................................................. 1
1.3 Tujuan Penulisan ............................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Gagal Nafas ..................................................................... 3
2.2 Etiologi Gagal Nafas ........................................................................ 3
2.3 Patofisiologi Gagal Nafas................................................................... 4
2.4 Manifestasi Klinis Gagal Nafas ......................................................... 4
2.5 Komplikasi .......................................................................................... 5
2.6 Pemeriksaan Penunjang .................................................................... 5
2.7 Penatalaksanaan................................................................................. 6
2.8 Patoflow Gagal Nafas......................................................................... 7
2.9 Askep Gagal Nafas ............................................................................. 7

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan ........................................................................................ 15
3.2 Saran .................................................................................................. 15

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... iii


KATA PENGANTAR
Marilah kita ucapkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
berkat rahmat serta hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan
judul “Gagal Nafas”.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini banyak terdapat
kekurangan. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran dari berbagai
belah pihak.
Akhirnya, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
berpartisipasi dalam pembuatan makalah ini. Semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi para pembaca. Aamiin.

Tondo, 20 September 2018

Tim Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perawatan Intensif adalah tindakan perawatan dan tindakan medis yang
secara aktif dilakukan untuk menunjang fungsi organ vital, memperbaiki dan
mencegah kegagalan lain. Kegagalan fungsi organ vital yang dapat
menimbulkan kematian dalam waktu singkat adalah fungsi pernapasan,
kardiovaskuler dan SSP. Fungsi pernapasan adalah memasukkan oksigen dan
udara luar ke dalam darah untuk memenuhi kebutuhan O2 dan mengeluarkan
CO2 sebagai hasil metabolism. Kedua proses ini terjadi melalui paru.
Setiap perubahan atau kelainan di paru baik disebabkan oleh penyakit atau
bukan akan mempengaruhi proses pertukaran O2 dan CO2. Apabila tidak
segera di atasi, kebutuhan O2 jaringan akan tidak terpenuhi sehingga dapat
menyebabkan kegagalan fungsi organ vital lain seperti kardiovaskuler, SSP,
ginjal, hepar dan lain-lain, selanjutnya menyebabkan kematian.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, adapun rumusan masalah yaitu sebagai
berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan gagal nafas?
2. Bagaimana etiologi gagal nafas?
3. Bagaimana patofisiologi gagal nafas?
4. Apa saja manifestasi klinis dari gagal nafas?
5. Apa saja komplikasi dari gagal nafas?
6. Apa saja pemeriksaan penunjang untuk gagal nafas?
7. Bagaimana penatalaksanaan gagal nafas?
8. Bagaimana patoflow gagal nafas?
9. Bagaimana contoh askep gagal nafas?
1.3 Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, adapun tujuan penulisan yaitu sebagai
berikut :
1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan gagal nafas
2. Mengetahui etiologi gagal nafas
3. Mengetahui patofisiologi gagal nafas
4. Mengetahui manifestasi klinis dari gagal nafas
5. Mengetahui komplikasi dari gagal nafas
6. Mengetahui apa saja pemeriksaan penunjang untuk gagal nafas
7. Mengetahui penatalaksanaan gagal nafas
8. Mengetahui patoflow gagal nafas
9. Mengetahui contoh askep gagal nafas
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Gagal Nafas
Gagal Nafas merupakan kondisi ketidakmampuan sistem respirasi untuk
masuk oksigen yang cukup dan membuang karbondioksida yang disebabkan
oleh kelainan sistem pernapasan dan sistem lainnya, termasuk gangguan
sistem saraf. Keadaan ini menyebabkan terjadinya hipoksemia, hiperkapnia,
atau kombinasi keduanya. Berdasarkan tekanan parsial karbondioksida arteri
(PaCO2), gagal nafas dibagi menjadi dua tipe yaitu tipe I (Akut) dan tipe II
(Kronik). Baik pada tipe I maupun tipe II, tekanan parsial oksigen arteri
(PaO2) yang rendah. Sebaliknya PaCO2 yang normal atau rendah pada tipe I
dan meningkat pada tipe II. Gagal nafas diawali oleh stadium kompensasi
berupa upaya peningkatan nafas. Selanjutnya terjadi dekompensasi yang
ditandai dengan menurunnya upaya nafas. Diagnosis gagal nafas akut
ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang,
termasuk pulse oksimetri dan analisa gas darah. Tata laksana gagal nafas
terdiri dari tata laksana darurat dan tindakan lanjutan. Dilakukan stabilisasi
dan mencegah perburukan, dengan melanjutkan pemberian oksigen dan tata
laksana ventilasi, stabilisasi sirkulasi dan terapi penyakit primer.
2.2 Etiologi Gagal Nafas
Menurut Purwato (2009) penyebab gagal nafas dapat digolongkan sesuai
kelainan primernya dan komponen sistem pernapasan. Gagal nafas dapat
diakibatkan kelainan pada paru, jantung, dinding dada, atau otot pernapasan.
Pasien dengan gagal nafas tipe hipoksemia sering disebabkan oleh kelainan
yang mempengaruhi parenkim paru meliputi jalan nafas, ruang alveolar, dan
sirkulasi pulmoner. Perubahan hubungan anatomis dan fisiologis antara udara
di alveolus dan darah di kapiler paru dapat menyebabkan gagal nafas tipe
hipoksemia. Sedangkan gagal nafas tipe hiperkapnia sering disebabkan oleh
kelainan yang mempengaruhi komponen non-paru dari sistem pernapasan
yaitu dinding dada, otot pernafasan, atau batang otak. Penyebabnya antara lain
kelemahan otot pernafasan atau kondisi yang mempengaruhi bentuk atau
ukuran dinding dada seperti kifoskloiosis.
2.3 Patofisiologi Gagal Nafas
Mekanisme gagal nafas menggambarkan ketidakmampuan tubuh untuk
melakukan oksigenasi atau ventilasi dengan adekuat yang ditandai oleh
ketidakmampuan sistem respirasi untuk memasuk oksigen yang cukup atau
membuang karbondioksida. Pada gagal nafas terjadi peningkatan tekanan
parsial karbondioksida arteri (PaCO2) lebih besar dari 50 mmHg. Tekanan
parsial oksigen arteri (PaCO2) tidak mempengaruhi metabolisme normal
kecuali bila sudah mencapai keadaan ekstrim (>90 mmHg). Diatas kadar
tersebut, hiperkapnia dapat menyebabkan depresi susunan saraf pusat dan
henti nafas. Untuk pasien dengan kadar PaCO2 rendah, konsekuensi yang
lebih berbahaya adalah gagal nafas baik akut maupun kronik. Hipoksemi akut
terutama disertai curah jantung yang rendah sering berhubungan dengan
hipoksia jaringan dan resiko henti jantung.
2.4 Manifestasi Klinis Gagal Nafas
Gagal nafas akut terjadi bila dengan peningkatan upaya nafas dan laju
nafas, tidak dapat mempertahankan oksigenasi adekuat atau bila oksigenasi
tetap buruk. Dasar patofisiologi gagal nafas menentukan gambaran klinisnya.
Pasien gagal nafas yang masih mempunyai kemampuan bernafas normal akan
tampak sesak dan gelisah. Sebaiknya, pasien yang telah menurun kemampuan
pusat pernafasannya akan tampak tenang atau bahkan mengantuk. Peningkatan
upaya dan laju nafas serta akan berkurang bila gagal nafas memburuk, bahkan
dapat terhenti nafas.
Gagal nafas diawali oleh stadium kompensasi. Pada kadar ini ditemukan
peningkatan upaya nafas yang ditandai dengan adanya distres pernafasan (
pemakaian otot pernafasan tambahan , retraksi, takipnea). Peningakatan upaya
nafas terjadi dalam usaha mempertahankan aliran udara walaupun paru
menurun.
2.5 Komplikasi
1. Hipoksia jaringan
2. Asidosis respiratorik kronis : kondisi medis dimana paru-paru tidak dapat
mengeluarkan semua karbondioksida yang dihasilkan dalam tubuh. Hal ini
mengakibatkan gangguan keseimbangan asam basa dan membuat cairan
tubuh lebih asam, terutama darah.
3. Henti napas
4. Henti jantung
2.6 Pemeriksaan Penunjang
1. Analisa Gas Darah Arteri : Pemeriksaan gas darah arteri penting untuk
menentukan adanya asidosis respiratorik dan alkalosis respiratorik, serta
untuk mengetahui apakah klien mengalami asidosis metabolik, alkalosis
metabolik, atau keduanya pada klien yang sudah lama mengalami gagal
napas. Selain itu, pemeriksaan ini juga sangat penting untuk mengetahui
oksigenasi serta evaluasi kemajuan terapi atau pengobatan yang diberikan
terhadap klien.
2. Radiologi : Berdasarkan pada foto thoraks PA/AP dan lateral serta
fluoroskopi akan banyak data yang diperoleh seperti terjadinya
hiperinflasi, pneumothoraks, efusi pleura, hidropneumothoraks, sembab
paru, dan tumor paru.
3. Pengukuran Fungsi Paru : Penggunaan spirometer dapat membuat kita
mengetahui ada tidaknya gangguan obstruksi dan restriksi paru. Nilai
normal atau FEV1 > 83% prediksi. Ada obstruksi bila FEV1 < 70% dan
FEV1/FVC lebih rendah dari nilai normal. Jika FEV1 normal, tetapi
FEV1/FVC sama atau lebih besar dari nilai normal, keadaan ini
menunjukkan ada restriksi.
4. Elektrokardiogram (EKG) : Adanya hipertensi pulmonal dapat dilihat pada
EKG yang ditandai dengan perubahan gelombang P meninggi di sadapan
II, III dan aVF, serta jantung yang mengalami hipertrofi ventrikel kanan.
Iskemia dan aritmia jantung sering dijumpai pada gangguan ventilasi dan
oksigenasi.
5. Pemeriksaan Sputum : Yang perlu diperhatikan ialah warna, bau, dan
kekentalan. Jika perlu lakukan kultur dan uji kepekaan terhadap kuman
pen yebab. Jika dijumpai ada garisgaris darah pada sputum (blood streaked
), kemungkinan disebabkan oleh bronkhitis, bronkhiektasis, pneumonia,
TB paru, dan keganasan. Sputum yang berwarna merah jambu dan berbuih
( pink frothy), kemungkinan disebabkan edema paru. Untuk sputum yang
mengandung banyak sekali darah ( grossy bloody), lebih sering merupakan
tanda dari TB paru atau adanya keganasan paru.
2.7 Penatalaksanaan
1. Non Farmakologi
a. Bernapas dalam dengan bibir di kerutkan ke depan jika tidak di lakukan
intubasi dan ventilasi mekanis, cara ini di lakukan untuk membantu
memelihara patensi jalan napas.
b. Aktivitas sesuai kemampuan.
c. Pembatasan cairan pada gagal jantung.
2. Farmakologi
a. Terapi oksigen untuk meningkatkan oksigenasi dan menaikan PaO2
b. Ventilasi mekanis dengan pemasangan pipa endotrakea atau trakeostomi
jika perlu untuk memberikan oksigenasi yang adekuat dan membalikkan
keadaan asidosis.
c. Ventilasi frekuensi tinggi jika kondisi pasien tidak bereaksi terhadap
terapi yang diberikan. Tindakan ini di lakukan untuk memaksa jalan napas
terbuka, meningkatkan oksigenasi, dan mencegah kolaps alveoli paru.
d. Pemberian antibiotik untuk mengatasi infeksi.
e. Pemberian bronkodilator untuk mempertahankan patensi jalan napas.
f. Pemberian kortikosteroid untuk mengurangi inflamasi.
g. Pembatasan cairan pada kor pulmonaleuntuk mengurangi volume dan
beban kerja jantung.
h. Pemberian preparat inotropik positif untuk meningkatkan curah jantung.
i. Pemberian vasopresor untuk mempertahankan tekanan darah.
2.8 Patoflow Gagal Nafas

2.9 Askep Gagal Nafas


1. Pengkajian
a. Anamnesis
Keluhan utama yang sering muncul adalah gejala sesak nafas atau
peningkatan frekuensi nafas. Secara umum perlu dikaji tentang
gambaran secara menyeluruh apakah klien tampak takut, mengalami
sianosis, dan apakah tampak mengalami kesukaran bernafas.
Perlu diperhatikan juga apakah klien berubah menjadi sensitif dan
cepat marah (iritability), tanpak binggung (confusion), atau
mengantuk (somnolent). Yang tak kalah penting ialah kemampuan
orientasi klien terhadap tempat dan waktu. Hal ini perlu diperhatikan
karena gangguan funngsi paru akut dan berat sering direfeksikan
dalam bentuk perubahan status mental. Selain itu, gangguan keadaan
sering pula dihubungkan dengan hipoksemia, hiperkapnea, dan
asidemia karena gas beracun. Selain itu kaji riwayat penyakit masa
lalu, riwayat penyakit keluarga, lingkungan serta habits/ kebiasaan.

b. Pemeriksaan Fisik
1) B1 (Breathing)
a) Inspeksi
Kesulitan bernafas tampak dalam perubahan irama dan frekuensi
pernafasan. Keadaan normal frekuensi pernafasan 16-20x/menit
dengan amplitude yang cukup besar. Jika seseorang bernafas
lambat dan dangkal, itu menunjukan adanya depresi pusat
pernafasan. Penyakit akut paru sering menunjukan frekuensi
pernafasan > 20x/menit atau karena penyakit sistemik seperti
sepsis, perdarahan, syok, dan gangguan metabolic seperti diabetes
militus.
b) Palpasi
Perawat harus memerhatikan pelebaran ICS dan penurunan taktil
fremitus yang menjadi penyebab utama gagal nafas.
c) Perkusi
Perkusi yang dilakukan dengan saksama dan cermat dapat
ditemukan daerah redup sampai daerah dengan daerah nafas
melemah yang disebabkkan oleh penebalan pleura, efusi pleura
yang cukup banyak, dan hipersonor, bila ditemukan
pneumothoraks atau emfisema paru.
d) Auskultasi
Auskultasi untuk menilai apakah ada bunyi nafas tambahan seperti
wheezing dan ronki serta untuk menentukan dengan tepat lokasi
yang didapat dari kelainan yang ada.
b. B2 (Blood)
Monitor dampak gagal nafas pada status kardovaskuler meliputi
keadaan hemodinamik seperti nadi, tekanan darah dan CRT.
c. B3 (Brain)
Pengkajian perubahan status mental penting dilakukan perawat
karena merupakan gejala sekunder yang terjadi akibat gangguan
pertukaran gas. Diperlukan pemeriksaan GCS untuk menentukan
tiingkat kesadaran.
d. B4 (Bladder)
Pengukuran volume output urin perlu dilakukan karena berkaitan
dengan intake cairan. Oleh karena itu, perlu memonitor adanya
oliguria, karena hal tersebut merupakan tanda awal dari syok.
e. B5 (Boowel)
Pengkajian terhadap status nutrisi klien meliputi jumlah, frekuensi
dan kesulitan-kesulitan dalam memenuhi kebutuhanya. Pada klien
sesak nafas potensial terjadi kekurangan pemenuhan nutrisi, hal ini
terjadi karena laju metabolisme, serta kecemasan yang dialami
klien.
f. B6 (Bone)
Dikaji adanya edema ekstermitas, tremor, tanda-tanda infeksi pada
ekstermitas, turgon kulit, kelembaban, pengelupasan atau bersik
pada dermis/integument.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Gangguan pertukaran gas yang berhubungan dengan gangguan aliran
udara ke alveoli atau kebagian utama paru
b. Ketidak efektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan
peningkatan produksi secret/mucus, keterbatasan gerakan dada, nyeri,
kelemahan dan kelelahan.
c. Ketidak efektifan pola nafas berhubungan dengan kelelahan,
penurunan ekspansi paru, pengesetan ventilator yang tidak tepat.
d. Pemenuhan kebutuhan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan intake yang tidak adekuat
3. Intevensi
a. Diagnose 1:
Gangguan pertukaran gas yang berhubungan dengan gangguan aliran
udara ke alveoli atau kebagian utama paru
Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan dalam waktu 1x24 jam
pertukaran gas membaik.
Kriteria evaluasi :
1) Frekuensi napas 18-20/menit
2) Frekuensi nadi 75-100/menit
3) Warna kulit normal, tidak ada dipnea, dan gas darah arteri (GDA)
dalam batas normal.
4) Dapat mendemonstrasikan batuk efektif
5) Hasil analisa gas darah normal :
PH (7,35 – 7,45)
PO2 (80 – 100 mmHg)
PCO2 ( 35 – 45 mmHg)

Rencana Intervensi Rasional

1) Pantau status pernapasan tiap 4 jam, hasil GDA, intake, dan


output. Untuk mengidentifikasi indikasi ke arah kemajuan.
2) Tempatkan klien pada posisi semifowler. Posisi tegak
memungkinkan ekspansi paru lebih baik.
3) Berikan terapi intravena sesuai anjuran. Untuk memungkinkan
rehidrasi yang cepat dan dapat mengkaji keadaan vaskuler untuk
pemberian obat-obat darurat.
4) Berikan oksigen melalui kanula nasal 4 L/menit selanjutnya
sesuaikan dengan hasil PaO2. Pemberian oksigen mengurangi
beban otot-otot pernapasan.
5) Kolaborasi dengan tim medis dalam memberikan pengobatan yang
telah tepat serta amati bila ada tanda-tanda toksisitas. Pengobatan
untuk mengembalikan kondisi bronkhus seperti kondisi
sebelumnya.
b. Diagnosa 2:
Ketidak efektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan
peningkatan produksi secret/mucus, keterbatasan gerakan dada, nyeri,
kelemahan dan kelelahan.
Tujuan: Dalam waktu 1x24 jam setelah diberikan intervensi kebersihan
jalan napas kembali efektif, klien akan memperlihatkan kemampuan
meningkatkan dan mempertahankan keefektifan jalan nafas.
Kriteria hasil :
1) Tidak ada suara napas tambahan dan wheezing/ronchi (-)
2) Pernapasan klien normal (16-20x/menit) tanpa ada penggunaan
otot bantu napas.
3) Dapat medemonstrasikan batuk efektif
4) Dapat menyatakan strategi untuk menurunkan kekentalan sekresi

Rencana Intervensi Rasional

1) Kaji warna, kekentalan, dan jumlah sputum Karakteristik sputum


dapat menunjukkan berat ringannya obstruksi
2) Atur posisi semifowler Meningkatkan ekspansi dada
3) Ajarkan cara batuk efektif Batuk yang terkontrol dan efektif dapat
memudahkan pengeluaran sekret yang melekat dijalan napas
4) Kolaborasi pembetian obat
c. Diagnosa 3:

Ketidak efektifan pola nafas berhubungan dengan kelelahan,


penurunan ekspansi paru, pengesetan ventilator yang tidak tepat.

Tujuan: setelah dilakukan asukan keperawatan 1x24 jam klien akan


mempertahankan pola nafas yang efektif.

Kriteria hasil :

1) Nafas sesuai dengan irama ventilator


2) Volume nafas adekuat
3) Tidak nampak adanya cheynes stoke, biot, bradipnea,
hiper/hipoventilasi.
4) Pernapasan klien normal (16-20x/menit) tanpa ada penggunaan
otot bantu napas.

Rencana Intervensi Rasional

1) Kaji RR, auskultasi bunyi napas sebagai sumber data adanya


pewrubahan sebelum dan sesudah perawatan diberikan
2) Beri posisi high fowler atau semi-fowler Rasional :
mengembangkan ekspansi paru
3) Dorong anak untuk latihan napas dalam dan batuk efektif.
membantu membersihkan mucus dari paru dan napas dalam
memperbaiki oksigenasi
4) Lakukan fisioterapi membantu pengeluaransekresi, menmingkatkan
ekspansi paru.
5) Berikan oksigen sesuai program memperbaiki oksigenasi dan
mengurangi sekresi
6) Monitor peningkatan dan pengeluaran sputum sebagai indikasi
adanya kegagalan pada paru.
7) Berikan bronchodilator sesuai indikasi otot pernapasan menjadi
relaks dan steroid mengurangi inlamasi
d. Diagnosa 4:
Pemenuhan kebutuhan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan intake yang tidak adekuat
Tujuan: setelah diberikan asuhan keperwatan 1x24 jam terjadi
penurunan distress GI, tidak terjadi anoreksia/intake adekuat.

Kriteria evaluasi:

1) Adanya perbaikan nutrisi / intake


2) Dapat mendemonstrasikan intake makanan yang adekuat untuk
memenuhi kebutuhan tubuh.
3) Intake makanan meningkat, tidak ada penurunan BB lebih lanjut,
menyatakan perasaan sejahtera.

Rencana Intervensi Rasional

1) Berikan porsi makan kecil tapi sering 5 – 6 kali sehari dengan


makanan yang disukainya.
2) Makanan kecil tapi sering menyediakan energi yang dibutuhkan ,
lambung tidak terlalu penuh, sehingga memberikan kesempatan
untuk penyerapan makanan.
3) Makanan yang disukai mendorong anak untuk makan dan
meningkatkan intake.
4) Berikan perawatan mulut tiap 4 jam. Pertahankan kesegaran
ruangan. Bau yang tidak menyenangkan dapat mempengaruhi
nafsu makan.
5) Rujuk kepada ahli diet untuk membantu memilih makanan yang
dapat memenuhi kebutuhan gizi. Ahli diet adalah spesialisasi
dalam ilmu gizi yang dapat membantu klien memilih makanan
yang dapat memenuhi kebutuhan kalori dan kebutuhan gizi sesuai
dengan keadaan sakitnya, usia, tinggi, dan berat badan klien.
4. Pelaksanaan /Implementasi
Pelaksanaan tindakan keperawatan gagal nafas didasarkan pada
rencana yang telah ditentukan dengan prinsip :
a. DRABCD (dengger, respon, airway, breathing, circulation, disability)
b. Mempertahankan ventilasi yang adekuat.
c. Menjaga bersihan jalan nafas
d. Mengatasi perubahan proses keluarga dan antisipasi berduka/ cemas.
5. Evaluasi
Setelah tindakan keperawatan dilaksanakan evaluasi proses dan
hasil mengacu pada kriteria evaluasi yang telah ditentukan pada masing-
masing diagnosa keperawatan sehingga :
a. Masalah teratasi atau tujuan tercapai (intervensi di hentikan)
b. Masalah teratasi atau tercapai sebagian (intervensi dilanjutkan)
c. Masalah tidak teratasi / tujuan tidak tercapai (perlu dilakukan
pengkajian ulang & intervensi dirubah).
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Gagal Nafas merupakan kondisi ketidakmampuan sistem respirasi
untuk masuk oksigen yang cukup dan membuang karbondioksida yang
disebabkan oleh kelainan sistem pernapasan dan sistem lainnya, termasuk
gangguan sistem saraf.
Menurut Purwato (2009) penyebab gagal nafas dapat digolongkan sesuai
kelainan primernya dan komponen sistem pernapasan. Gagal nafas dapat
diakibatkan kelainan pada paru, jantung, dinding dada, atau otot pernapasan.
Mekanisme gagal nafas menggambarkan ketidakmampuan tubuh untuk
melakukan oksigenasi atau ventilasi dengan adekuat yang ditandai oleh
ketidakmampuan sistem respirasi untuk memasuk oksigen yang cukup atau
membuang karbondioksida.
3.2 Saran
Penulis mengetahui dalam makalah ini masih banyak terdapat kesalahan,
oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari para
pembaca. Dan semoga penyusunan makalah selanjutnya, bisa lebih baik lagi
dari sebelumnya.
DAFTAR PUSTAKA
http://jurnal.unsyiah.ac.id/JKS/article/view/3286
https://dokumen.tips/documents/makalah-gagal-nafas-kelompok.html
https://dokumen.tips/download/link/pathway-gagal-nafas-5616b5e00939b
https://edoc.site/queue/laporan-pendahuluan-gagal-nafas-pdf-free.html
https://edoc.site/queue/laporan-pendahuluan-gagal-nafas-revisi-pdf-free.html