Anda di halaman 1dari 16

1.

Definisi Injeksi/parenteral

 Menurut Swarcrick, 2007, Encyclopedia Of Pharmaceutical


Tecknology, Hal: 1001
 Menurut Jenkis, 1957, The art of compounding, Hal:190
 Menurut R,Voight, Pengantar bentuk sediaan farmasi, Hal : 461
 Menurut syamsuni, Ilmu resep, Hal: 194
 Menurut Ram I. Mahato Ajit S. Narang , Dosage Forms And Drug
Delivery Second Edition, Hal:361,
 Menurut allen,2011, Ansel’s pharmaceutical dosage form and drug
delivery system, hal: 766
Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi,
suspense atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan
terlebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikkan dengan cara
merobek jaringan ke dalam kulit atau selaput lender. untuk tujuan
terpetik atau diagnostik. Serta dapat menimbulkan efek local atau
sistemik
2. Definisi Ampul
 Menurut allen, Ansel’S Pharmaceutical dosage form and drug
delivery system, Hal : 80
 Menurut R. Voight, 1994, buku pelajaran teknologi farmasi, Hal :
464
 Menurut Remington, Pharmaceutical dosage forms, manufacturing
and compounding hal 504 dan D A Dean E R vans 1 H, hall
Pharmaceutical packaging tecnology Hal: 170, 353, 392
 Menurut Swarcrick, 2007, Encyclopedia Of Pharmaceutical
Tecknology, Hal: 949
Ampul adalah sediaan dengan dosis tunggal, wadah
berbentuk silindris dari gelas, yang memiliki ujung runjing (lembing)
dan suatu dasar datar.
3. Rute-rute Injeksi

Rute penyuntikan Intrakardiak

Intratekal,intraspinal, intradural Intraarterium

Intrabursa
Intraartikular Injeksi epidural
 Tabel rute-rute injeksi :
No Injeksi Pengertian Jenis Dapus
atau tempat obat atau
injeksi contoh
1 Injeksi Subkutan Disuntikan ke -  Syamsuni, Hal :
(s.k/s.c) atau dalam 196
hipodermik jaringan di
bawah kulit
ke dalam
alveolus,
volume yang
di suntikkan
tidak lebih
dari 1 ml.
2 Injeksi Intramuskular Disuntikan ke Injeksi  Syamsuni, Hal :
(i.m) dalam atau di dalam 196
antara lapisan bentuk
jaringan atau larutan,
otot. suspensi,
atau
emulsi
3 Injeksi Intravena (i.v) Disuntikan berupa  Syamsuni, Hal :
langsung ke larutan, 196
dalam dan
pembuluh untuk
darah vena. bentuk
suspense
atau
emulsi
tidak
boleh
diberikan
melalui
rute ini
4 Injeksi Intraarterium Disuntikkan -  Syamsuni, Hal :
(i.a) ke dalam 196
pembuluh
darah arteri/
perifer/ tepi
5 Injeksi Disuntikkan -  Syamsuni, Hal :
Intrakordal/intrakardiak langsung ke 196
(i.kd) dalam otot
jantung atau
ventrikel
6 Injeksi Intratekal (i.t), Disuntikkan -  Syamsuni, Hal :
intraspinal, langsung ke 196
intrasisternal (i.s), dalam saluran
intradural (i.d), sumsum
subaraknoid tulang
belakang di
dasar otak
(antra 3-4
atau 5-6
lumbar
vertebrata)
tempat
terdapatnya
cairan
cerebrospinal.

7 Injeksi Intraartikular Disuntikkan suspense  Syamsuni, Hal :


ke dalam atau 196
cairan sendi larutan
didalam dalam
rongga sendi air.
8 Injeksi Subkonjungtiva Disuntikkan Berupa  Syamsuni, Hal :
ke dalam suspense 196
selaput lender atau
di bawah larutan
mata.
9 Injeksi Intrabursa Disuntikkan larutan  Syamsuni, Hal :
ke dalam suspense 196
subcromillis dalam
atau bursa air.
olecranon
10 Injeksi Intraperitoneal Disuntikkan -  Syamsuni, Hal :
(i.p) langsung ke 196
dalam rongga
perut.
11 Injeksi Peridural (p.d), Disuntikkan -  Syamsuni, Hal :
ekstradural, epidural ke dalam 196
ruang
epidural,
terletak di
atas
durameter,
lapisan
penutup
terluar dari
otak dan
sumsum
tulang
belakang.

4. Keuntungan Sediaan Injeksi


 Menurut Syamsuni, 2006, Ilmu Resep, Hal : 228
 Menurut Voight, R, 1995, Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, Hal :
461
 Menurut Swarbick , 2007, Encyclopedia Of Pharmaceutical,
Hal:1003
 Menurut Jones, 2008, Pharmaceutical Dosage Form and Design,
Hal:166-167
Keuntungan :
 Berguna untuk pasien yang tidak bisa menggunakan obat
secara oral
 Berguna untuk obat yang memerlukan aksi onset yang cepat
(terutama IV)
 Dapat digunakan untuk obat yang rusak jika terkena cairan
lambung, merangsang jika masuk ke cairan lambung atau tidak
absorbsi baik oleh cairan lambung
 Kemurnian dan takaran zat khasiat lebih terjamin
5. Kekurangan Sediaan Injeksi
 Menurut Syamsuni, 2006, Ilmu Resep, Hal : 228
 Menurut Voight, R, 1995, Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, Hal :
461
 Menurut Swarbick , 2007, Encyclopedia Of Pharmaceutical,
Hal:1003
 Menurut Jones, 2008, Pharmaceutical Dosage Form and Design,
Hal:166-167
Kerugian :
 Karena bekerja cepat, jika terjadi kekeliruan sukar dilarutkan
pencegahan.
 Cara pemberian lebih sukar, harus memakai tenaga khusus.
 Kemungkinan terjadinya infeksi pada bekas suntikan.
 Secara ekonomis lebih mahal dibandingkan dengan sediaan
yang digunakan per oral.
 Memungkinkan terjadinya penyempitan pembuluh darah
 Resiko cedera pada jarum suntik dan paparan patogen melalui
darah dan petugas kesehatan
6. Komposisi Injeksi
 Menurut Syamsuni, 2006. Ilmu Resep. Hal : 198
 Menurut Banker, 2002, Modern Pharmaceutics, hal: 393
Kelas Contoh Konsentrasi
(%)
Antimikroba Benzalkonium chloride 0,01
Benyl alcohol 1-2
Chlorobutanol 0,25-0,5
Metadresol 0,1-0,3
Butyl p-hydroxy benzoate 0,015
Metyl p- hydroxyl benzoate 0,1-0,2
Propyl p-hydroxbenzoate 0,2
Phenol 0,25-0,5
Thimerosal 0,01
Antioksidan Ascorbic acid 0,01-0,05
Cystene 0,1-0,5
Manothioglycerol 0,1-1,0
Tacopheds 0,05-0,5
Sodium bisulfite 0,1-1,0
Sodium metabisulfite 0,1-1,0
Buffer Acetates 1-2
Citrates 1-5
Phospathes 0,8-2,0
Penggembur Lactosa 1-8
Manitol 1-10
Sorbitol 1-10
Glycine 1-2
Agen chelating Salts of 0,01-0,05
ethylenediaminetetraacetic
acid
Pengawet / Sukrosa 2-5
pelindung Glukosa 2-5
Laktosa 2-5
Maltosa 2-5
Trehalose 2-5
Human serum albumin 0,1-1,0
Agen pelarut Etil alcohol 1-50
Glycerin 1-50
Polyethylene glycol 1-50
Propilen glikol 1-50
Lecithin 0,5-2,0
Surfaktan Polyoxyethylen 0,1-0,5
Sorbitan monoleat 0,05-0,25
agen penyesuai Dekstrose 4-5
tonisitas Sodium chloride 0,5-0,9
Bahan Obat / Zat - -
berkhasiat

7. Syarat-syarat Injeksi
 Menurut Syamsuni, 2006. Ilmu Resep. Hal : 226-227
 Menurut voight 1995, Pengantar bentuk sediaan Farmasi, Hal:
462
 Menurut Jenkis, 1957, Scoville The Art Of Compounding, Hal : 190
Syarat-syarat Injeksi :
 Harus aman dipakai, tidak boleh menyebabkan iritasi jaringan
atau efek toksik.
 Harus steril
 Jika obat suntik berupa larutan, maka harus jernih, bebas dari
partikel- partikel padat, kecuali yang berbentuk suspense.
 Sedapat mungkin isohidris, yaitu mempunyai PH=7,4 agar
tidak terasa sakit dan penyerapannya optimal.
 Sedapat mungkin isotonis, yaitu mempunyai tekanan osmosis
sama dengan tekanan osmosis darah atau cairan tubuh, agar
tidak terasa sakit dan tidak menimbulkan hemolisis.
 Persesuasian dari kandungan bahan obat yang dinyatakan
dan yang nyata nyata terdapat, tidak ada penurunan kerja
selama penyimpanan melalui perusakan secara kimia dari
obat dan sebagainya
 Penggunaan wadah yang cocok, yang tidak hanya
menginginkan suatu pengambilan steril, melainkan juga
menolak antraksi antara bahan obat dan materi dinding
8. Cara pengisian Ampul
 Menurut, Voight, R, 1995, Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, Hal :
469.
 Menurut Lachman, The theory of farmacy industrial, Hal :671
 Menurut Jenkis, 1957,The art of compounding, Hal:206-209
 Menurut lachman, 1994, Teori dan praktek farmasi industry,
Hal:143,147-149
Pengisian ampul juga dibutuhkan sebuah jarum
hipodermik yang panjang karena kecilnya lubang jarum dimasukan
kedalam ampul tepat dibawah leher ampul tetapi tidak cukup jauh
sampai tercelup sampai kedalam larutan ketika masuk kedalam
ampul.
9. Cara Penyegelan Ampul
 Menurut, Voight, R, 1995, Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, Hal :
469.
 Menurut Lachman, The theory of farmacy industrial, Hal :671
 Menurut Jenkis, 1957,The art of compounding, Hal:206-209
 Menurut lachman, 1994, Teori dan praktek farmasi industry,
Hal:143,147-149
Penyegelan ampul :
Disegel secara perlahan dan mrerata melintas diujung ampul
dalam titik api selama 3 menit sampai glass meleleh bersama dan
menyegel yang terbuka. Metode yan lain adalah dengan menarik
keluar lelehan gelas jangan secara, proses khusus/batang kaca
untuk membentuk pipa kapiler
10. Tipe-tipe gelas dan pewadahan ampul
 Menurut Swarbrick, 2007, encyclopedia of pharmaceutical
technology, Hal:1276
 Menurut lachman “teori dan praktek farmasi industri hal: 1308
 Menurut Banker, 2002, Moderen pharmaceutics, Hal :4588
 Menurut Howard C. Ansel, 2011, Pengantar bentuk sediaan
farmasi, Hal: 181
 Menurut Voight, R.,1995,Buku pelajaran teknologi farmasi, Hal 464
Tipe-tipe gelas :
 Gelas tipe I
Memiliki kualitas yang tinggi, terdiri dari borosilikat
(silicon oksida) sehingga bahan kimia tetap tahan terhadap
kondisi asam dan basa yang ekstrim. Jenis kaca I, meskipun
lebih mahal, lebih disukai untuk sebagian besar parenteral
produk. Seringkali, bahkan kaca tipe I harus permukaan
diobati dengan agen seperti amonium sulfat atau silika
dioksida untuk menghilangkan lindi permukaan
 Gelas tipe II
Gelas tipe II, terbuat dari soda-kapur kaca tetapi
diperlakukan dengan sodium sulfat atau sulfat untuk
menetralisir alkali oksida permukaan. Gelas tipe III adalah
gelas soda-lime yang tidak diolah. Tipe II kaca/gelas
umumnya digunakan untuk suntikan bervolume besar dan
untuk produk volume kecil jika tingkat pH larutan kurang dari
7.0.
 Gelas tipe III
Tersusun dari soda abu. Digunakan untuk larutan
berminyak dan serbuk kering jenis gelas tipe III dapat
digunakan untuk larutan berminyak dan bentuk kering.
 Wadah-wadah NP
Dibuat dari gelas soda-kapur serba guna dan dapat
digunakan untuk mengemas formulasi non-parenteral dan
dimaksudkan untuk penggunaan oral dan topical.
Pewadahan Ampul :

Wadah dosis tunggal umumnya disebut


ampul,tertutup rapat dengan melebur wadah gelas dalam
kodisi aseptis, wadah gelas dibuat mempunyai leher agar
dapat degan mudah dipisahkan dari bagian badan wadah
tanpa terjadi serpihan-serpihan gelas,sesudah dibuka,isi
ampul dapat dihisap ke dalam alat suntik dengan jarum
hipodermik.sekali dibuka,ampul tidak dapat ditutup kembali
dan digunakan lagi untuk suatu waktu kemudian,karena
sterilitas isinya tidak dapat dipertanggung jawabkan lagi.

11. Evaluasi Ampul


 Menurut Lachman, teori dan praktek farmasi industry, Hal : 1354-
1358
 Menurut Farmakope Indonesia Edisi IV, Hal :
 Menurut Ditjen Pom, 1979, Farmakope Indonesia Edisi III, Hal: 19
Evaluasi ampul :
1. Uji kebocoran
Uji kebocoran dimaksudkan untuk mendeteksi ampul
yang belum ditutup dengan sempurna,sehingga ampul-ampul
tersebut dapat dibuang ampul yang ditutup ujungnya
kelihatannya tidak sempurna penutupnya dibandingkan dengan
ampul yang ditutup dengan segel tarik.Disamping itu retak kecil
bias terjadi sekitar segel tersebut atau pada dasar ampul
sebagian hasil dari penanganannnya yang kutang sempurna.
2. Uji kejernihan
Pemeriksaan visual terhadap suatu wadah produk
biasanya dilakukan oleh seorang yang memeriksa wadah bersih
dari luar dibawah penerangan yang cahaya yang baik,terhalang
terhadap refleksi kedalam matanya dan berlatar belakang hitam
dan putih dengan rangkaian isi dijalnkan dengan suatu aksi
memutar.
Partikel yang bergerak lebih mudah dilihat dari pada
partikel yang diam.tetapi harus berhati-hati untuk mencegah
masuknya gelembung udara yang sulit diberikan partikel-partikel
debu.untuk melihat mbalik partikel yang berat mumgkin perlu
untk m embalik wadah pada tahap akhir pemeriksaannya.
3. Uji Pirogen
Adanya zat pirogen dalam preparasi parenteral
ditentukan oleh suati visi biologis kualitatif berdasarkan respon
demam pada kelinci-kelinci sebagai binatang percobaan karena
kelinci menggunakan respon fisiologi terhadap pirogen yang
serupa dengan respon manusia.jika suatu zat disuntikan
kedalam vena kelinci.kenaikan tempratur terjadi dalam waktu 3
jam.
4. Uji sterilisasi
Semuanya produk yang diuji steril-steril harus melewati uji
sterilitas setelah mengalami suatu proses sterilitas efektif.
5. Uji keseragaman bobot
Sediaan yang sebelum digunakan sebagai injeksi
dilarutkan terlebih dahulu, harus memenuhi syarat keseragaman
bobot berikut : hilangkan 10 wadah, cuci bagian luar wadah,
cuci wadah dengan air, keringkan. Timbang satu persatu dalam
keadaan terbuka, kluarkan isi wadah, cuci wadah dengan air
kemudian dengan etanol (95%) p , keringkan pada suhu 105°C
hingga bobot tetap, dinginkan, timbang satu persatu, bobot isi
wadah yang tidak boleh menyimpang lebih dari batas yang
tertera pada daftar berikut, kecuali satu wadah yang boleh
menyimpang tidak lebih dari 2 kali batas yang tertera.
6. Keseragaman volume
Volume isi netto tiap wadah harus sedikit berlebih dari
volume yang ditetapkan. Kelebihan volume yang dianjurkan
tertera dalam daftar dibawah ini :

12. Jelaskan tentang pemilihan bahan dalam formulasi sediaan


parenteral dosis tunggal! Apakah sediaan perlu pendaparan atau
tidak, jelaskan alasannya!
Jawab :

Sediaan tidak perlu pendapar, karena di FI Edisi III dijelaskan


bahwa, Persyaratan infus : Kecuali dinyatakan lain, infuse tidak
diperbolehkan mengandung bakterisida dan zat dapar, larutan untuk
infuse intra vena harus jernih dan bebas partikel.

13. Jika dekstrosa 40% akan diformulasi menjadi suatu sediaan IV


dosis tunggal bolus, jelaskan tentang :
1. Cara pemberian yang dapat ditempuh untuk mengatasi
penyimpangan besar dari tonisitas dan osmolaritasnya!
2. Proses sterilisasi dan wadah gelas tipe apa yang digunakan?

Jawab :

a. Cara pemberian yang dapat ditempuh yaitu:


Harus diberikan melalui vena sentral dan hanya setelah
dilakukan dilusi yang tepat. Kecepatan infus pada orang sehat
adalah 0,5 g/kg/jam untuk tanpa menimbulkan glukosuria . 2,3
kecepatan maksimum pemberian infus dekstrosa tidak melebihi
0,8 g/kg/jam. (martindale edisi 36)
b. Proses sterilisasi dan wadah gelas tipe apa yang digunakan ?
 Menurut syamsuni 2006 (ilmu resep: 185-186)
 Proses sterilisasi dengan pemanasan secara kering
o Sediaan yang akan disterilkan dimasukkan kedalam
wadah,kemudian ditutup kedap,atau ditutup
sementara untuk mencegah pencemaran.jika volu,e
dalam tiap wadah tidak lebih dari 30 ml,panaskan
pada suhu 150℃ selama 1 jam. Jika volume dalam
tiap wadah lebih dari 30 ml,waktu sterilisasi
diperpanjang hingga seliruh isi tiap wadah berada
pada suhu 150℃ selama 1 jam. Wadah yang tertutup
sementara kemudian ditutup-kedap menurut cara
aseptic.
 Menurut lachman , 1989, teori dan praktek farmasi industri
edisi III, Hal: 1308-1309

Besar diberikan oleh tipe I,dan yang paling kecil oleh gelas
NP (non-parenteral). Tetapi harus dicatat bahwa dalam tipe-tipe
ini,seperti juga tipe II dan III,ada suatu kisaran komposisi.daya
tahan kimia dari gelas mempengaruhi pemilihan tipe yang akan
digunakan untuk berbagai produk. Pada table 22-4 memberikan
ringkasan dengan penggolongan umum dari produk yang
digunakan dengan keempat tipe gelas tersebut tipe gelas I
diperuntukan bagi produk steril umumnya,tetapi tipe II Dan III biasa
digunakan bila produk tersebut mempunyai pembawa bukan air
atau waktu jontak dengan pembawa air singkat,seperti halnya
serbuk kering yang dibentuk kembali sebelum digunakan,atau jika
kereaktifan gelas tersebut dan produk telah ditetepkan. Untuk
peertimbangan hubungan timbale balik dengan gelas dan
produk,pembaca diacu keperpustakaan yang dipublikasi.