Anda di halaman 1dari 3

2.

Hakim-Hakim dan Kerajaan

Dalam masa Hakim-Hakim peranan Roh Allah masihlah dalam kejadian


yang luar biasa. Di mana jika ada orang yang dihinggapi oleh Roh Allah maka
orang itu akan menjadi hakim atau menghakimi. Menghakimi di sini bukan seperti
jaman sekarang, tetapi menghakimi dan melepaskan dari penindasan. Dari situ
lah karya Allah nyata. Hakim-hakim diperkenalkan dengan kalimat “ Roh Tuhan
menghinggapi dia dan ia menghakimi “ ( Hak 3:10; 6:34,dll ). Disini pemimpin-pemimpin
umat Allah diberi Kuasa dan wewenang tidak hanya untuk menghakimi yang seperti
biasa kita kenal dalam penghakiman, tetapi untuk memimpin dan melepaskan umat dari
penindasan. Hakim di Perjanjian Lama memutuskan perkara dan melepaskan
sekaligus. Sifat menyelamatan dari pemberian Kuasa oleh Allah menjadi nyata. Dalam
kasus Simson disebutkan bahwa berkuasalah Roh TUHAN atas dia. ( Hak 14:6 dan
15:14 ).

Pengalaman yang serupa dialami oleh nabi-nabi awal. Dalam 1 Samuel 10, pada
saat Samuel mengurapi Saul menjadi raja atas umat Allah (ay 1), ia berkata, “ Roh
TUHAN atas berkuasa atasmu; engkau akan kepenuhan bersama-sama dengan
mereka dan berubah menjadi manusia lain “ (ay 6 ). Janji ini digenapkan dalam ayat 10
sewaktu Saul bernubuat di tengah-tengah para nabi. Waktu Daud diurapi, ia juga
menerima Roh Tuhan ( 1 Samuel 23:2 ).

Pertama Samuel 16:14-16 bercerita mengenai Roh Tuhan yang mundur dari saul
dan Tuhan mengirim roh jahat untuk mengganggunya ( 1 Sam 18:10 ). Bahkan 1 Rja-
raja 22:21-23 menyatakan bahwa allah dapat mengirim roh dusta dengan maksud
menyesatkan. Roh-roh ini jelas dikirimkan oleh Tuhan , meskipun tidak jelas apakah
mereka itu roh-roh baik yang dikirimkan untuk melakukan maksud jahat ataukah
mereka itu roh jahat. Bagaimanapun juga keduanya berada dalam tangan Allah dan
berbuat seturut kehendakNya. Allah yang sama yang menyelamatkan orang yang
rendah hati juga merendahkan mereka yang congkak (mzm 18:27 ).

Juga sangat menarik adalah kisah elia dan Elisa. Ketika datang saatnya bagi Elia
untuk diangkat ke sorga, Elisa meminta 2 bagian dari Roh Elia ( 2 raj 2: 9, 15 ). Roh itu
tentulah Roh Tuhan, tetapi diidentikkan dengan nabi itu dan disebut “roh Elia “ dalam
ayat 15. Lagi-lagi sulit untuk menentukan di mana roh Allah berenti bekerja dan roh
manusia sendiri mulai bekerja; manusia benar-benar bergantung pada Allah, tetapi
pada saat yang samaketergantungan ini tidak meniadakan kepribadiannya sendiri.

Roh itu aktif dalam menyampaikan amanat Allah kepada umat-Nya. Misalnya,
Roh Kuduslah yang mengajar orang Israel di padang gurun (Neh 9:20). Ketika para
pemazmur Israel memanjatkan puji-pujian mereka, hal itu dilakukan dengan Roh Tuhan
(2Sam 23:2; bd. Kis 1:16,20). Demikian pula, para nabi diilhami oleh Roh Allah untuk
memberitakan firman-Nya kepada umat itu (Bil 11:29; 1Sam 10:5-6,10; 2Taw 20:14;
24:19-20; Neh 9:30; Yes 61:1-3; Mi 3:8; Za 7:12; bd. 2Pet 1:20-21). Menurut Yehezkiel,
salah satu kunci untuk menemukan nabi palsu ialah bahwa mereka "bernubuat sesuka
hatinya" dan bukan dari Roh Allah (Yeh 13:2-3); tetapi, perhatikan, bahwa ada
kemungkinan Roh Allah menghinggapi seorang yang hubungannya tidak benar dengan
Allah agar ia menyampaikan berita yang benar tentang umat Allah (lihat cat. --> Bil
24:2).[atau --> Bil 24:2]

Dalam periode kerajaan, aspek-aspek kelembagaan mulai menonjol dan


menguasai hal-hal yang berhubungan dengan karunia Roh, dan ketergantungn pada
Roh menjadi kurangkelihatan. Kita tidak tahu apakah itu suatu sebab atau suatu akibat,
tetapi aktivitas mujizat terlihat menurun. Akan tetapi, bertentangan dengan semua,
justru dalam periode inilah kita melihat sekilas perkembangan yang paling menakjubkan
di bidang ketergantungan pribadi kepada roh yaitu kasus Daud dalam mazmur 51.
Kepenuhan roh kudus yang lebih tetapterkandung dalam permohonannya untuk tidak
mengambil Roh Kudus daripadanya ( ay 11 ). Tentu saja mengingat perkembangan
yang kemudian, hal ini merupakan kesaksian yang sangat berhraga tentang maksud
Allah berkenaan dengan iman pribadi. Lagi pula hal ini begitu luar biasa untuk zaman
itu sehingga banyak ahli percaya keadaan ini terjadi kemudian. Tetapi daud masih
harus dilihatdalam perannanya yang bersifat mewakili, seperti halnya dengan Abraham
dan Musa. Kesaksian yang belakangan ( mis Yl 2:28-29) menyiratkan bahwa pengalam
pribadi semacam ini dengan allah adalah luar biasa dan hanya dapat dialami oleh
sedikit orang, akan tetapi, kita juga harus berhati-hati untuk tidak memukul rata
seenaknya. Firman tuhan untuk membesarkan hati elia setelah pertndingannya di atas
gunung karmel – “ Aku akan meninggalkan tujuh ribu orang di Israel, yakni semua
orang yang tidak sujud menyembah baal” ( 1 Raja 19:18 )menunjukkan pengetahuan
yang bersifat pribadi yang tidak pernah di duga oleh Elia.

Kepemimpinan umat Allah pada zaman PL dikuasai oleh Roh Tuhan. Musa,
misalnya, adalah seorang yang dipenuhi Roh Allah sedemikian rupa sehingga ia ikut
merasakan perasaan Allah, menderita bersama-Nya dan menjadi marah terhadap dosa
bersama Dia( Kel 33:11;[atau --> Kel 33:11] bd. Kel 32:19). Ketika Musa dengan taat
memilih tujuh puluh tua-tua untuk membantunya memimpin bangsa Israel, Allah
mengambil Roh yang ada pada Musa dan menaruh-Nya atas mereka (Bil 11:16-17;
lihat Bil 11:12).[atau --> Bil 11:12]. Demikian pula, ketika Yosua ditugaskan untuk
menggantikan Musa sebagai pemimpin, Allah menunjukkan bahwa "roh" (yaitu Roh
Kudus) ada di dalam dirinya( Bil 27:18).[atau --> Bil 27:18]. Roh yang sama menguasai
Gideon (Hak 6:34), Daud (1Sam 16:13) dan Zerubabel (Za 4:6). Dengan kata lain, di
dalam PL syarat terpenting yang diperlukan untuk kepemimpinan adalah kehadiran Roh
Allah.