Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

Tuberkulosis (TB) sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan


yang penting di seluruh dunia. Menurut laporan World Health Organization
(WHO) tahun 2009 insidensi TB diseluruh dunia saat itu adalah 9,1 juta jiwa. Hal
ini sebanding dengan 134 orang/100.000 penduduk. Angka ini mengalami
peningkatan dengan perkiraan kasus TB pada tahun 2011 yaitu 9,3 juta jiwa.
Menurut sumber yang sama sebagian besar kasus TB terdapat di benua Asia
(55%) dan Afrika (30%). (WHO, 2014)
Dilihat dari jumlah penderita TB maka Indonesia menempati urutan ke 4
diantara negara-negara dengan penderita TB terbanyak di seluruh dunia.
Didapatkan data TB Indonesia, dimana 169.213 adalah kasus TB baru BTA
positif, 108.616 adalah kasus TB BTA negatif, 11.215 adalah kasus TB Extra
Paru, 3.709 adalah kasus TB kambuh, dan 1.978 adalah kasus pengobatan ulang
diluar kasus kambuh. (Bahar, 2007)
Tuberkulosis sebenarnya dapat menyerupai penyakit paru lainnya seperti
penumonia, penyakit paru interstitial bahkan keganasan akan tetapi dengan
anamnesis yang baik, tuberculosis dapat dengan mudah di tegakkan. Pada
dasarnya pasien dengan sistem imun yang baik biasanya terserang tuberkulosis
hanya pada satu area saja misalnya pada paru atau salah satu organ ekstra paru
sedangkan pada pasien dengan immunokompeten, tuberkulosis dapat terjadi lebih
daripada satu organ. (Bayupurnama, 2007)
WHO mendefinisikan penderita TB sebagai penderita yang terbukti secara
positif terinfeksi tuberkulosis dengan menggunakan metode diagnosa apapun. TB
paru didefinisikan sebagai TB yang menyerang parenkim paru dan berdasarkan
hasil apusan tahan asam TB dibagi menjadi sputum positif atau sputum negatif.
(WHO, 2014)

1
2

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Penyakit tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh
Mycobacterium tuberculosis. Sebagian besar kuman Mycobacterium tuberculosis
menyerang paru, tetapi dapat juga menyerang organ tubuh lainnya.(Fishman,
2008).
Klasifikasi penyakit tuberkulosis berdasarkan organ tubuh yang diserang
kuman Mycobacterium tuberculosis terdiri dari tuberkulosis paru dan tuberkulosis
ekstra paru (Depkes RI, 2008).

2.2 Kuman Tuberkulosis


Gambar berikut ini adalah Mycobacterium tuberculosis yang dilihat
dengan pewarnaan tahan asam berwarna merah. Sebagian besar bakteri ini terdiri
atas asam lemak (lipid), peptidoglikan dan arabinoman. Lipid inilah yang
menyebabkan kuman mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada
pewarnaan sehingga disebut pula sebagai Bakteri Tahan Asam (BTA).
Mycobacterium tuberculosis adalah bakteri batang tipis lurus berukuran sekitar
0,4 x 3 µm (Palomino, 2007).

Gambar 2.1 Mycobacterium tuberculosis pada pewarnaan tahan asam


3

2.3 Cara Penularan


Sumber penularan adalah melalui pasien tuberkulosis paru BTA (+). Pada
waktu batuk atau bersin, pasien menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk
droplet (percikan dahak). Kuman yang berada di dalam droplet dapat bertahan di
udara pada suhu kamar selama beberapa jam dan dapat menginfeksi individu lain
bila terhirup ke dalam saluran nafas. Kuman tuberkulosis yang masuk ke dalam
tubuh manusia melalui pernafasan dapat menyebar dari paru ke bagian tubuh
lainnya melalui sistem peredaran darah, sistem saluran limfe, saluran pernafasan,
atau penyebaran langsung ke bagian-bagian tubuh lainnya (Depkes RI, 2008).

2.4 Risiko Penularan


Risiko penularan tiap tahun (Annual Risk of Tuberculosis Infection =
ARTI) di Indonesia dianggap cukup tinggi dan bervariasi antara 1-3 %. Pada
daerah dengan ARTI sebesar 1% mempunyai arti bahwa pada tiap tahunnya
diantara 1000 penduduk, 10 orang akan terinfeksi. Sebagian besar orang yang
terinfeksi tidak akan menderita tuberkulosis, hanya sekitar 10% dari yang
terinfeksi yang akan menjadi penderita tuberkulosis (Price, 2005).

2.5 Patogenesis Tuberkulosis


M. tuberculosis ditularkan melalui udara dalam bentuk aerosolisasi ±3000
droplet nukleus berukuran 5-10 µm yang dapat dikeluarkan pada saat batuk,
bersin bahkan saat bercakap-cakap, terutama pada pasien dengan Tuberculosis
saluran pernapasan. Droplet tersebut mengering dengan cepat, bertahan di udara
selama beberapa jam dan masuk kedalam saluran nafas. Selain melalui udara,
penularan melalui kulit dan plasenta juga dapat terjadi walaupun sangat tidak
umum. Resiko terjangkitnya M. Tuberculosis tergantung pada jumlah M.
Tuberculosis yang masih bertahan hidup di udara. Penularan secara outdoor
biasanya lebih rendah daripada diruangan tertutup dimana pertukaran udara diluar
ruangan berlangsung baik dan ekspose trehadap sinar ultraviolet jauh lebih tinggi
(Fauci, 2008).
Perjalanan penyakit tuberculosis dimulai dengan inhalasi basil tuberculosis.
Makrofag alveolar menelan basil dan seringkali menghancurkannya. Pada tahap
ini destruksi mikobakterium tergantung kepada kapasitas mikrobisidal fagosit
4

pejamu dan faktor virulensi dari mikobakterium. Mikobakterium yang bisa


terlepas dari destruksi intraseluler inisial akan menggandakan diri dan hal ini
menyebabkan penghancuran makrofag. Ketika hal ini terjadi maka monosit di
dalam darah serta sel radang lain akan tertarik ke paru-paru (tahap dua). Monosit
akan berdifrensiasi menjadi makrofag yang kemudian kembali siap untuk
mengingesti namun tidak membunuh mikobakterium (Palomino, 2007).
Dua sampai tiga minggu setelah infeksi, imunitas sel T terbentuk, melalui
antigen-spesifik sel T yang masuk, sel T berproliferasi di dalam lesi awal atau
tuberkel dan kemudian mengaktifkan makrofag untuk membunuh mikobakterium
intraseluler. Setelah fase ini pertumbuhan logaritmik awal kumam TB terhenti.
Nekrosis padat sentral pada lesi primer ini menghambat pertumbuhan
mikrobakterium ekstraseluler. Sebagai akibatnya, infeksi menjadi terhenti atau
disebut “dormant”. (Price, 2005)
Perkembangan dan penularan dapat terjadi dalam hitungan bulan atau tahun
setelah tuberculosis primer pada keadaan imunitas menurun. Focus perkijuan yang
mencair merupakan kondisi yang sempurna untuk pertumbuhan ekstraseluler bagi
M. tuberculosis. Pembentukan kavitas dapat menyebabkan ruptur dekat bronkus,
menyebabkan menyebar melalui saluran nafas ke bagian-bagian lain dan ke
lingkungan sekitar (Fauci, 2008).

2.6 Diagnosis Tuberkulosis


Diagnosis TB paru ditegakkan berdasarkan diagnosis klinis, dilanjutkan
dengan pemeriksaan fisik, laboratorium dan radiologis. (Depkes,RI, 2008)

2.6.1 Diagnosis Banding


Banyak diagnosa banding yang dapat dikemukakan karena tuberculosis dapat
menimbulkan infeksi yang sistemik yang menyerupai penyakit lainnya . Beberapa
diagnosa banding Tuberculosis Paru yang mungkin dapat dipertimbangkan antara
lain Aspergillosis, Bronchiectasis, Histoplasmosis, Abses paru, Keganasan,
Nocardiosis, dan pneumonia (bahar, 2007).

2.6.2 Diagnosis Klinis


Diagnosis klinis adalah diagnosis yang ditegakkan berdasarkan ada atau
tidaknya gejala pada pasien. Pada pasien TB paru gejala klinis utama adalah batuk
5

terus menerus dan berdahak selama 3 minggu atau lebih. Gejala tambahan yang
mungkin menyertai adalah batuk darah, sesak nafas dan rasa nyeri dada, badan
lemah, nafsu makan menurun, berat badan turun, rasa kurang enak badan
(malaise), berkeringat malam walaupun tanpa kegiatan dan demam/meriang lebih
dari sebulan (Depkes RI, 2008).

2.6.3 Pemeriksaan Fisik


Pemeriksaan pertama pada keadaan umum pasien mungkin ditemukan
konjungtiva mata atau kulit yang pucat karena anemia, suhu demam (subfebris),
badan kurus atau berat badan menurun. Pada pemeriksaan fisik pasien sering tidak
menunjukkan suatu kelainan terutama pada kasus-kasus dini atau yang sudah
terinfiltrasi secara asimtomatik. Temuan pemeriksaan fisis cukup terbatas pada TB
paru. Terkadang abnormalitas tidak ditemukan pada pemeriksaan thorax. Bunyhi
ronkhi biasa ditemukan terutama karena peningkatan produksi sputum. Bunyi
wheezing juga terkadang ditemukan akibat obstruksi parsial bronkus dan bunyi
amphoric klasik pada kavitas. Terkadang bunyi pernafasan terdengar redup yang
berarti menunjukkan ada proses abnormalitas yang cukup parah sebagai
komplikasi dari infeksi tuberculosis.(Palomino,2007)
Pada TB paru lanjut dengan fibrosis yang luas sering ditemukan atrofi dan
retraksi otot-otot interkostal. Bila TB mengenai pleura, sering terbentuk efusi
pleura sehingga paru yang sakit akan terlihat tertinggal dalam pernapasan, perkusi
memberikan suara pekak, auskultasi memberikan suara yang lemah sampai tidak
terdengar sama sekali. Dalam penampilan klinis TB sering asimtomatik dan
penyakit baru dicurigai dengan didapatkannya kelainan radiologis dada pada
pemeriksaan rutin atau uji tuberkulin yang positif (Bahar, 2007).

2.6.4 Pemeriksaan Radiologis


Pada saat ini pemeriksaan radiologis dada merupakan cara yang praktis
untuk menemukan lesi TB. Lokasi lesi TB umumnya di daerah apex paru tetapi
dapat juga mengenai lobus bawah atau daerah hilus menyerupai tumor paru. Pada
awal penyakit saat lesi masih menyerupai sarang-sarang pneumonia, gambaran
radiologinya berupa bercak-bercak seperti awan dan dengan batas-batas yang
6

tidak tegas. Bila lesi sudah diliputi jaringan ikat maka bayangan terlihat berupa
bulatan dengan batas yang tegas dan disebut tuberkuloma (Depkes RI, 2008).
Pada kalsifikasi bayangannya tampak sebagai bercak-bercak padat dengan
densitas tinggi. Pada atelektasis terlihat seperti fibrosis yang luas dengan
penciutan yang dapat terjadi pada sebagian atau satu lobus maupun pada satu
bagian paru. Gambaran tuberkulosa milier terlihat berupa bercak-bercak halus
yang umumnya tersebar merata pada seluruh lapangan paru. Pada TB yang sudah
lanjut, foto dada sering didapatkan bermacam-macam bayangan sekaligus seperti
infiltrat, garis-garis fibrotik, kalsifikasi, kavitas maupun atelektasis dan emfisema
(Bahar, 2007).
Sebagaimana gambar Tuberkulosis paru yang sudah lanjut pada foto rontgen
dada di bawah ini (Bayupurnama, 2007) :

Gambar 2.2 Gambar kiri terdapat gambaran kavitas serta bercak berawan pada
lapangan paru kanan atas dan tuberkulosis yang sudah lanjut
7

2.6.5 Pemeriksaan Bakteriologis

A. Sputum
Tuberkulosis paru pada orang dewasa dapat ditegakkan dengan
ditemukannya BTA positif pada pemeriksaan dahak secara mikroskopis.
Hasil pemeriksaan dinyatakan positif apabila sedikitnya dua dari tiga
pemeriksaan dahak SPS (Sewaktu-Pagi-Sewaktu) BTA hasilnya positif
(Depkes RI, 2008).
Bila hanya 1 spesimen yang positif perlu diadakan pemeriksaan lebih
lanjut yaitu foto rontgen dada atau pemeriksaan spesimen SPS diulang. 1).
Kalau hasil rontgen mendukung tuberkulosis, maka penderita didiagnosis
sebagai penderita TB BTA positif. 2). Kalau hasil rontgen tidak
mendukung TB, maka pemeriksaan dahak SPS diulangi. (Depkes, 2008)
Bila ketiga spesimen dahak negatif, diberikan antibiotik spektrum luas
(misalnya, Kotrimoksasol atau Amoksisilin) selama 1-2 minggu. Bila tidak
ada perubahan, namun gejala klinis mencurigakan TB, ulangi pemeriksaan
dahak SPS. 1). Kalau hasil SPS positif, didiagnosis sebagai penderita
tuberkulosis BTA positif. 2). Kalau hasil SPS tetap negatif, lakukan
pemeriksaan foto rontgen dada, untuk mendukung diagnosis TB.

a. Bila hasil rontgen mendukung TB, didiagnosis sebagai penderita TB


BTA negatif rontgen positif
b. Bila hasil rontgen tidak mendukung TB, penderita tersebut bukan
TB. (PDPI, 2011)
8

Diagnosis TB paru sesuai alur yang dibuat oleh Depkes RI (2008), sebagaimana
bisa dilihat di bawah ini :

Tersangka Penderita TB (suspek TB)

Periksa Dahak Sewaktu, Pagi,

Sewaktu (SPS)
Hasil BTA Hasil BTA Hasil BTA
+++ +-- ---
++-

Periksa Rontgen Beri Antibiotik


Dada Spektrum Luas

Hasil Hasil Tidak


Mendukung Mendukung Tidak Ada Ada
TB TB Perbaikan Perbaikan

Ulangi Periksa Dahak


SPS

Penderita Hasil BTA Hasil BTA


Tuberkulosis BTA +++ ---
Positif ++-

Periksa Rontgen Dada

Hasil Hasil
Mendukun Rontgen
g TB Negatif

TB BTA Bukan
Negatif TBC,
Rontgen Penyakit
Positif Lain

Gambar 2.3 Alur Diagnosis TB paru


9

Kriteria pasien TB paru yaitu pasien dengan sputum BTA positif adalah
pasien yang pada pemeriksaan sputumnya secara mikroskopis ditemukan
BTA, sekurang kurangnya pada 2 kali pemeriksaan/1 sediaan sputumnya
positif disertai kelainan radiologis yang sesuai dengan gambaran TB aktif /
1 sediaan sputumnya positif disertai biakan yang positif dan pasien dengan
sputum BTA negatif adalah pasien yang pemeriksaan mikroskopis
sputumnya tidak ditemukan BTA, tetapi pada biakannya positif (Bahar,
2007).

B. Darah
Pada saat TB baru mulai (aktif) akan didapatkan jumlah leukosit yang
sedikit meninggi dengan pergeseran hitung jenis ke kiri. Jumlah limfosit
masih di bawah normal. Laju endap darah (LED) mulai meningkat.
(Depkes RI, 2008).

C. Tes Tuberkulin
Pemeriksaan ini masih banyak dipakai untuk membantu menegakkan
diagnosis TB terutama pada anak-anak (balita). Sedangkan pada dewasa
tes tuberkulin hanya untuk menyatakan apakah seorang individu sedang
atau pernah mengalami infeksi Mycobacterium tuberculosis atau
Mycobacterium patogen lainnya (Fauci, 2008).

2.7 Komplikasi Tuberkulosis


Pada pasien tuberkulosis dapat terjadi beberapa komplikasi, baik sebelum
pengobatan atau dalam masa pengobatan maupun setelah selesai pengobatan.
Beberapa komplikasi yang mungkin timbul yaitu batuk darah, pneumotoraks,
luluh paru, gagal napas, gagal jantung, efusi pleura (PDPI,2011).

2.8 Tipe Penderita Tuberkulosis


Berdasarkan PDPI tahun 2011, tipe penderita tuberkulosis berdasarkan
riwayat pengobatan sebelumnya dibagi menjadi:
10

a. Kasus Baru
Adalah pasien yang belum pernah mendapat pengobatan dengan OAT atau
sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan

b. Kasus Kambuh (relaps)


Adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan
tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap,
kemudian kembali lagi berobat dengan hasil pemeriksaan dahak BTA
positif atau biakan positif. Bila BTA negatif atau biakan negatif tetapi
gambaran radiologi dicurigai lesi aktif / perburukan dan terdapat gejala
klinis maka harus dipikirkan beberapa kemungkinan:
 Lesi nontuberkulosis (pneumonia, bronkiektasis, jamur, keganasan dll)
 TB paru kambuh yang ditentukan oleh dokter spesialis yang
berkompeten menangani kasus tuberkulosis

c. Kasus defaulted atau drop out


Adalah pasien yang telah menjalani pengobatan > 1 bulan dan tidak
mengambil obat 2 bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa
pengobatannya selesai.
d. Kasus gagal
Adalah pasien BTA positif yang masih tetap positif atau kembali menjadi
positif pada akhir bulan ke-5 (satu bulan sebelum akhir pengobatan) atau
akhir pengobatan.

e. Kasus kronik
Adalah pasien dengan hasil pemeriksaan BTA masih positif setelah selesai
pengobatan ulang dengan terapi kategori 2 dalam pengawasan yang baik

f. Kasus bekas TB
Bila didapat hasil pemeriksaan BTA negatif (biakan juga negatif bila ada)
dan gambaran radiologi paru menunjukkan lesi TB yang tidak aktif, atau
foto serial menunjukkan gambaran yang menetap. Riwayat pengobatan
OAT adekuat akan lebih mendukung. Kemudian pada kasus dengan
11

gambaran radiologi meragukan dan telah mendapat pengobatan OAT 2


bulan serta pada foto toraks ulang tak ada perubahan gambaran radiologi.

2.9 Pengobatan Tuberkulosis Paru


2.9.1 Prinsip Pengobatan
Program nasional pemberantasan TB di Indonesia sudah dilaksanakan sejak
tahun 1950-an. Ada 6 macam obat esensial yang telah dipakai yaitu Isoniazid (H),
Para Amino Salisilik Asid (PAS), Streptomisin (S), Etambutol (E), Rifampisin (R)
dan Pirazinamid (Z).(PDPI, 2011)
Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat, biasanya
penderita menular menjadi tidak menular dalam waktu 2 minggu. Sebagian besar
penderita tuberkulosis BTA positif menjadi BTA negatif pada akhir pengobatan
intensif. Pengawasan ketat dalam tahap ini sangat penting untuk mencegah
terjadinya kekebalan obat. (Palomino, 2007)
Pada tahap lanjutan penderita mendapat jenis obat lebih sedikit tetapi dalam
jangka waktu yang lebih lama. Tahap ini bertujuan untuk membunuh kuman
persisten (dormant) sehingga dapat mencegah terjadinya kekambuhan (Bahar,
2007; Fishman, 2008).

2.9.2 Obat Anti Tuberkulosis (OAT)


Obat yang dipakai menurut (PDPI, 2011):
1. Jenis obat utama (lini 1) yang digunakan adalah INH, Rifampisin, Pirazinamid,
Streptomisin dan Etambutol
2. Jenis obat tambahan lainnya (lini 2) :Kanamisin, Amikasin dan Kuinolon
3. Obat lain masih dalam penelitian yaitu makrolid dan amoksilin + asam
klavulanat
4. Beberapa obat berikut ini belum tersedia di Indonesia antara lain :
Kapreomisin, Sikloserino, PAS (dulu tersedia), Derivat rifampisin dan INH,
Thioamides (ethionamide dan prothionamide)
12

Tabel 2.1 Jenis dan dosis OAT


Dosis Dosis (mg) / berat
Dosis yg dianjurkan Dosis
(Mg/ badan (kg)
Obat Maks
KgBB/ Harian (mg/ Intermitten (mg/ 40-
(mg) < 40 >60
Hari) kgBB/hari) KgBB/kali) 60
R 8-12 10 10 600 300 450 600
H 4-6 5 10 300 150 300 450
Z 20-30 25 35 750 1000 1500
E 15-20 15 30 750 1000 1500
Sesuai
S 15-18 15 15 1000 750 1000
BB
R 8-12 10 10 600 300 450 600

Tabel 2.2 Dosis obat antituberkulosis kombinasi dosis tetap


Berat Fase Intensif (2 bulan) Fase lanjutan (4 bulan)
Harian 3x/minggu Harian 3x/minggu
Badan RHZE RHZ RHZ RH RH
(Kg) 150/75/400/275 150/75/400 150/150/500 150/75 150/150
30-37 2 2 2 2 2
38-54 3 3 3 3 3
55-70 4 4 4 4 4
>71 5 5 5 5 5

2.9.3 Regimen pengobatan (metode DOTS)


Pengobatan tuberkulosis dibagi menjadi (PDPI, 2011):

A. TB paru (kasus baru), BTA positif atau pada foto toraks terdapat lesi luas.
 Paduan obat yang dianjurkan yaitu 2 RHZE/4 RH, 2 RHZE/6HE,
2 RHZE/4R3H3
 Paduan ini dianjurkan untuk:
o TB paru BTA (+), kasus baru
o TB paru BTA (-), dengan gambaran radiologi lesi luas (termasuk luluh
paru). Bila ada fasiliti biakan dan uji resistensi, pengobatan disesuaikan
dengan hasil uji resistensi

B. TB Paru (kasus baru), BTA negatif, pada foto toraks: lesi minimal
 Paduan obat yang dianjurkan 2 RHZE/4 RH, 6 RHE dan 2 RHZE/4R3H3
13

C. TB paru kasus kambuh


Sebelum ada hasil uji resistensi dapat diberikan 2 RHZES / 1 RHZE. Fase
lanjutan sesuai dengan hasil uji resistensi. Bila tidak terdapat hasil uji resistensi
dapat diberikan obat RHE selama 5 bulan.

D. TB Paru kasus gagal pengobatan


Sebelum ada hasil uji resistensi seharusnya diberikan obat lini 2 (contoh
paduan: 3-6 bulan kanamisin, ofloksasin, etionamid, sikloserin dilanjutkan 15-18
bulan ofloksasin, etionamid, sikloserin). Dalam keadaan tidak memungkinkan
pada fase awal dapat diberikan 2 RHZES / 1 RHZE. Fase lanjutan sesuai dengan
hasil uji resistensi. Bila hasil uji resistensi negatif dapat diberikan obat RHE
selama 5 bulan. Dapat pula dipertimbangkan tindakan bedah untuk mendapatkan
hasil yang optimal.

E. TB Paru kasus putus berobat


Pasien TB paru kasus lalai berobat, akan dimulai pengobatan kembali sesuai
dengan kriteria sebagai berikut :
a. Berobat > 4 bulan
1) BTA saat ini negatif
Klinis dan radiologi tidak aktif atau ada perbaikan maka
pengobatan OAT dihentikan. Bila gambaran radiologi aktif, lakukan
analisis lebih lanjut untuk memastikan diagnosis TB dengan
mempertimbangkan juga kemungkinan penyakit paru lain. Bila terbukti
TB maka pengobatan dimulai dari awal dengan paduan obat yang lebih
kuat dan jangka waktu pengobatan yang lebih lama.

2) BTA saat ini positif


Pengobatan dimulai dari awal dengan paduan obat yang lebih kuat
dan jangka waktu pengobatan yang lebih lama

b. Berobat < 4 bulan


1) Bila BTA positif, pengobatan dimulai dari awal dengan paduan obat
yang lebih kuat dan jangka waktu pengobatan yang lebih lama
14

2) Bila BTA negatif, gambaran foto toraks positif TB aktif pengobatan


diteruskan.

F. TB Paru kasus kronik


- Pengobatan TB paru kasus kronik, jika belum ada hasil uji resistensi, berikan
RHZES. Jika ada hasil uji resistensi, sesuaikan dengan hasil itu (minimal
terdapat 4 macam OAT yang masih sensitif) ditambah dengan obat lini 2
seperti kuinolon, betalaktam, makrolid dll. Pengobatan minimal dilakukan
selama 18 bulan.
- Jika tidak mampu dapat diberikan INH seumur hidup.
- Pertimbangkan tindakan pembedahan untuk meningkatkan kemungkinan
penyembuhan.
Tabel 2.3 Ringkasan paduan obat
Kasus Paduan obat yang diajurkan Ket
- TB paru BTA + 2 RHZE / 4 RH atau 2 RHZE / 6 HE
I
- BTA - , lesi luas *2RHZE / 4R3H3
-RHZES / 1RHZE / sesuai hasil uji
Bila
resistensi atau 2RHZES / 1RHZE / 5
streptomi-
- Kambuh RHE
sin alergi,
II - Gagal -3-6 kanamisin, ofloksasin, etionamid,
dapat
pengobatan sikloserin / 15-18 ofloksasin,
diganti
etionamid, sikloserin atau 2RHZES /
kanamisin
1RHZE / 5RHE
Sesuai lama pengobatan sebelumnya,
lama berhenti minum obat dan
- TB paru putus
II keadaan klinis, bakteriologi dan
berobat
radiologi saat ini (lihat uraiannya) atau
*2RHZES / 1RHZE / 5R3H3E3
2 RHZE / 4 RH atau
- TB paru BTA (-)
III 6 RHE atau
lesi minimal
*2RHZE /4 R3H3
RHZES / sesuai hasil uji resistensi
IV - Kronik (minimal OAT yang sensitif) + obat
lini 2 (pengobatan minimal 18 bulan)
V - MDR TB Sesuai uji resistensi + OAT lini 2 atau
15

H seumur hidup

2.9.4 Kombinasi Obat


Pemakaian obat kombinasi dosis tetap 4 obat sebagai dosis yang efektif
dalam terapi TB untuk menggantikan paduan obat tunggal sebagai bagian dari
strategi DOTS. Tersedia obat Kombinasi Dosis Tetap (OAT-KDT) untuk paduan
OAT kategori I dan II. Tablet OAT-KDT ini adalah kombinasi 2 atau 4 jenis obat
dalam 1 tablet. Dosis paduan OAT-KDT untuk kategori I, II dan sisipan dapat
dilihat pada tabel berikut (Depkes RI, 2008).

Tabel 2.4 Dosis Paduan OAT KDT Kategori I : 2(RHZE)/4(RH)3


Tahap Intensif tiap hari Tahap Lanjutan 3x
Berat
selama 56 hari seminggu selama 16 minggu
badan
RHZE (150/75/400/275) RH (150/150)
30 – 37 kg 2 tablet 4KDT 2 tablet 4KDT
38 – 54 kg 3 tablet 4KDT 3 tablet 4KDT
55 – 70 kg 4 tablet 4KDT 4 tablet 4KDT
> 71 kg 5 tablet 4KDT 5 tablet 4KDT
(Depkes RI, 2008)

Tabel 2.5 Dosis Paduan OAT KDT Kategori II: 2(RHZE)S/(RHZE)/5(HR)3E3


Tahap Intensif tiap hari
Tahap Lanjutan 3x seminggu
Berat RHZE (150/75/400/275) +
RH (150/150) + E (400)
Badan S
Selama 58 hari Selama 28 hari Selama 2 Minggu
30 – 37 2 tab 4KDT + 500mg 2 tab 2KDT + 2 tab
2 tab 4KDT
kg Streptomisin inj Etambutol
38 – 54 3 tab 4KDT + 750mg 3 tab 2KDT + 3 tab
3 tab 4KDT
kg Streptomisin inj Etambutol
55 – 70 4 tab 4KDT + 1000mg 4 tab 2KDT + 4 tab
4 tab 4KDT
kg Streptomisin inj Etambutol
> 71 kg 5 tab 4KDT + 1000mg 5 tab 4KDT 5 tab 2KDT + 5 tab
16

Streptomisin inj Etambutol


(Depkes RI, 2008)
Tabel 2.6 Dosis OAT untuk Sisipan
Tahap Intensif tiap hari selama 28 hari
Berat Badan
RHZE (150/75/400/275)
30 – 37 kg 2 tablet 4KDT
38 – 54 kg 3 tablet 4KDT
55 – 70 kg 4 tablet 4KDT
≥ 71 kg 5 tablet 4KDT
(Depkes RI, 2008)

2.9.5 Efek Samping Pengobatan

Tabel 2.7 Efek Samping Pengobatan dengan OAT

Jenis Obat Efek Samping Ringan Efek Samping Berat

nyeri otot, kesemutan dan


Isoniazid (H) gangguan kesadaran, defisiensi Hepatitis, ikhterus
piridoksin dan kelainan kulit.

Hepatitis, sindrom
respirasi, kadang disertai
Rifampisin gatal-gatal kemerahan kulit,
syok, purpura, anemia
(R) sindrom flu, sindrom perut.
hemolitik akut, gagal
ginjal
Pirazinamid Reaksi hipersensitifitas : demam, Hepatitis, nyeri sendi,
(Z) mual dan kemerahan serangan arthritis gout
Kerusakan saraf VIII
Reaksi hipersensitifitas : demam,
Streptomisin yang berkaitan dengan
sakit kepala, muntah dan eritema
(S) keseimbangan dan
pada kulit
pendengaran
Etambutol Buta warna untuk warna
Gangguan penglihatan
(E) merah dan hijau
(Depkes RI, 2008; Bahar, 2007)
17

BAB III

LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS PENDERITA
Nama : Nn. C
Umur : 19 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Suku : Aceh
Agama : Islam
Pekerjaan : Mahasiswa
Alamat : Kp. Baro, Pidie
Masuk RS : 15 Desember 2014
Tanggal Pemeriksaan : 15 Desember 2014
18

B. ANAMNESA
Keluhan Utama : Batuk darah
Keluhan Tambahan : Nafsu makan menurun
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang dengan keluhan batuk darah ± 1 minggu sebelum masuk
rumah sakit, sebelum batuk darah os sudah sering batuk berdahak sejak 11 bulan
yang lalu dan hanya minum obat yang diperoleh dari mantri setempat dan
sembuh, kemudian hal tersebut berulang kembali. Os juga mengeluh 2 bulan ini
demam naik turun, sembuh dengan obat hanya sementara, selain itu disertai
dengan keringat malam. Menurut Os dan keluarga Os berat badan Os sejak 2
bulan ini makin lama makin menurun serta nafsu makan yang menurun, riwayat
nyeri dada (-), sesak nafas (-).

Riwayat Penyakit Dahulu


Ispa (+), TB (-), Asma Brochial (-)

Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada anggota keluarga pasien yang menderita keluhan yang sama
dengan pasien.

Riwayat Berobat
Pasien hanya berobat ke mantri bila sakit

Riwayat Penggunaan Obat


 Paracetamol
 Ambroxol
 Amoxicilin

Riwayat Kebiasaan Sosial


19

Os sehari-harinya beraktivitas sebagai mahasiswa, merantau dan tinggal


bersama kakaknya di Banda Aceh. Sehari-harinya os dan kakaknya makan tidak
teratur karna masing masing sibuk dengan perkuliahan dan dibarengi dengan
masalah ekonomi. Setiap minggunya os pulang ke kampung halaman, os tinggal
di kawasan perkampungan yang padat penduduk, sangat jarang berolahraga
bahkan tidak pernah. Sumber air minum, cuci dan masak dari sumur pompa
listrik. Os menyangkal kebiasaan merokok.

C. PEMERIKSAAN FISIK
1. Status Present
Keadaan umum : Sedang
Kesadaran : Compos mentis
Tekanan darah : 110/70 mmHg
Nadi : 80x/menit
Pernafasan : 20x/menit
Suhu : 37,8 0C

2. Status Internus
Kulit : Kecoklatan, turgor (N), pucat (-)
Mata : Pupil bulat isokor, konjungtiva palpebra anemis (-/-),
sklera ikterik (-/-)
Telinga : Meatus akustikus eksternus (N), nyeri tekan mastoid (-)
Leher : Pembesaran kelenjar tiroid (-), kaku kuduk (-),tekanan
vena jugular (N)

Sistem Pernafasan
Inspeksi : Gerakan nafas simetris kiri dengan kanan, tidak
ditemukan retraksi dinding dada
Palpasi : Stem fremitus (N/N)
Perkusi : Sonor/Sonor
Auskultasi : Suara pernapasan bronkovesikuler, rhonki (+/+),
wheezing (-/-)
20

Sistem Kardiovaskular
Inspeksi : Cardiac bulging (-)
Palpasi : Ictus kordis teraba ICS V LMCS (Linea Mid Clavicula
Sinistra)
Perkusi : Batas-batas jantung
Atas : ICR III Sinistra
Kanan : Linea parasternal dextra
Kiri : 1 cm media LMCS
Auskultasi : BJ I > BJ II, regular, bising (-)

Sistem Gastrointestinal
Inspeksi : Simetris, asites (-), distensi (-)
Palpasi : Nyeri tekan (-), Lien dan hepar tidak teraba
Perkusi : Timpani, pekak hati (-)
Auskultasi : Peristaltik (N)

Sistem Urogenital : Miksi dan defekasi dalam batas normal


Ekstremitas :

Hangat Edema/ulkus Sianosis


+ + - - - -
+ + - - - -

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Hasil Pemeriksaan Hematologi Tanggal 16/12/2014
Jenis Pemeriksaan Hasil Pemeriksaan Nilai Rujukan
Hemoglobin 13,2 13-18 gr/dl
Leukosit 7,2 4,1-10,5.103/ul
LED 17 0-15 mm/jam
Thrombosit 230 150-400.103/ul
Hematokrit 30 40-55%
Gula darah sewaktu 102 60-110 mg/dl
21

E. FOTO ROENTGEN THORAX

Cor : Cor tampak normal


Pulmo : Tampak gambaran fibroinfiltrat pada paru kiri
Aorta : Elongasi (-), dilatasi (-)
Sinus Costophrenicus : Tajam

F. SPUTUM BTA SPS


Pemeriksaan sputum BTA 3x SPS (-)/(-)/(-)

G. DIAGNOSA
Tuberkulosis Paru Kasus Baru BTA (-) + Hemoptisis
H. PENATALAKSANAAN
Berat Badan : 36 kg
 IVFD RL + 1 ampul Asam Tranexamat drip 20 gtt/menit
 Paracetamol 3x500 mg
 Codein 3x15 mg
 Vit C 3x1
 4 FDC 1x2
 Edukasi

I. PROGNOSIS
22

Qua ad vitam : dubia ad bonam


Qua ad functionam : dubia ad bonam
Qua ad sanactionam : dubia ad bonam
23

FOLLOW UP PASIEN

16 SUBJEKTIF Batuk darah (+), demam (+), nafsu makan (+)


Des
 TANDA VITAL
2014
Kesadaran: Compos mentis, TD: 100/70 mmHg,
HR: 86 kali/menit, RR: 20 kali/menit, T : 37,30 C
OBJEKTIF
 PEMERIKSAAN FISIK
a/r paru : simetris, retraksi (-/-), stem fremitus ka=ki, ves (-/-),
rhonki (+/+)
ASSESMENT Tuberculosis Paru Kasus Baru BTA (-) + Hemoptisis

 IVFD RL +1 ampul Asam Tranexamat drip 20gtt/menit


 Paracetamol 3x500 mg
 Codein 3x15 mg
TERAPI
 Vit C 3x1
 4 FDC 1x2
 Edukasi

Batuk darah (+), demam (+), keringat malam (+),


17 SUBJEKTIF
nafsu makan (+)
Des
 TANDA VITAL
2014
Kesadaran: Compos mentis, TD: 100/70 mmHg,
HR: 86 kali/menit, RR: 20 kali/menit, T : 37,70 C
OBJEKTIF
 PEMERIKSAAN FISIK
a/r paru : simetris, retraksi (-/-), stem fremitus ka=ki, ves
(-/-), rhonki (+/+)
ASSESMENT Tuberculosis Paru Kasus Baru BTA (-) + Hemoptisis
 IVFD RL +1 ampul Asam Tranexamat drip20gtt/menit
 Paracetamol 3x500 mg
 Codein 3x15 mg
TERAPI
 Vit C 3x1
 4 FDC 1x2
 Edukasi
24

Batuk darah (-), demam (-), keringat malam (-),


18 SUBJEKTIF
nafsu makan (+)
Des
 TANDA VITAL
2014
Kesadaran: Compos mentis, TD: 110/70 mmHg,
HR: 82 kali/menit, RR: 20 kali/menit, T : 37,10 C
OBJEKTIF
 PEMERIKSAAN FISIK
a/r paru : simetris, retraksi (-/-), stem fremitus ka=ki,
ves (-/-), rhonki (+/+)
ASSESMENT Tuberculosis Paru Kasus Baru BTA (-) + Hemoptisis
 IVFD RL 20 gtt/menit
 Paracetamol 3x500 mg
 Codein 3x15 mg
TERAPI
 Vit C 3x1
 4 FDC 1x2
 Edukasi

Batuk darah (-), demam (-), keringat malam (-),


19 SUBJEKTIF
nafsu makan (+)
Des
 TANDA VITAL
2014
Kesadaran: Compos mentis, TD: 100/70 mmHg,
HR: 86 kali/menit, RR: 20 kali/menit, T : 36,60 C
OBJEKTIF
 PEMERIKSAAN FISIK
a/r paru : simetris, retraksi (-/-), stem fremitus ka=ki,
ves (-/-), rhonki (-/-)
ASSESMENT Tuberculosis Paru Kasus Baru BTA (-) + Hemoptisis
 4 FDC 1x2
 Ambroxol 3x30 mg
TERAPI
 Sohobion 1x 1
 Edukasi
25

DAFTAR PUSTAKA

Bahar, A., Zulkifli Amin. 2007. Pengobatan Tuberkulosis Mutakhir dalam Buku
Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II, Edisi IV. Jakarta : BPFKUI

Bayupurnama, Putut. 2007. Hepatoksisitas karena Obat dalam Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam Jilid I, Edisi IV. Jakarta: BPFKUI

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2008. Pedoman Nasional


Penanggulangan Tuberkulosis Edisi 2 Cetakan Pertama. Jakarta.

Fauci AS, Kasper DL, Longo DL, et al. 2008. Harrisson's Principle of internal
medicine 17th ed. New York: MGraw Hill companies

Fishman AP, Elias JA, Fishman JA, et al. 2008. Fishman's pulmonary disease and
disorders 4th ed. New York: MGraw Hill

Palomino JC, Leao SC, Ritacco C. 2007. Tuberkulosis 2007: from basic science to
patient care. Brazil: Bourcillier Camp

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. 2011. TUBERKULOSIS. Pedoman


Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia

Price, Sylvia A., Wilson, Lorraine M. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-
Proses Penyakit Edisi 6 Volume 1. Alih Bahasa: Brahm U. Pendit, Huriawati
Hartanto, Pita Wulansari, Dewi Asih Mahanani. Jakarta: EGC.

World Health Organization. 2014. Global Tuberculosis Control: A Short Update to


the 2014 Report. Geneva: World Health Organization