Anda di halaman 1dari 45

Makalah SGD Keperawatan Perkemihan

Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Urinary Tract Cancer dan Urinary
Tract Stone: Cancer of the Kidney

Fasilitator :

Lailatun Ni’mah, S.Kep.Ns., M.Kep.

Oleh: Kelompok 1-A2

Alfi Rahmawati Mufidah 131511133041


Dyah Rohmatussolichah 131511133043
Hesti Lutfia Arif 131511133050
Fifa Nasrul Ummah 131511133056
Alip Nur Apriliyani 131511133063
Ni Komang Ayu Santika 131511133066
Ayu Rahmawati 131511133075
Regina Dwi Fridayanti 131511133130

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena limpahan


rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul
“Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Urinary Tract Cancer dan Urinary Tract
Stone: Cancer of the Kidney” dengan baik dan tepat waktu. Adapun pembuatan
makalah ini dilakukan sebagai pemenuhan nilai tugas dari mata kuliah
Keperawatan Perkemihan. Selain itu, pembuatan makalah ini juga bertujuan untuk
memberikan manfaat yang berguna bagi ilmu pengetahuan khususnya ilmu
keperawatan.
Penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas semua
bantuan yang telah diberikan, baik secara langsung maupun tidak langsung selama
penyusunan makalah ini sehingga semua dapat terselesaikan dengan baik dan
lancar. Secara khusus rasa terimakasih tersebut penulis sampaikan kepada :

1. Lailatun Ni’mah, S.Kep.Ns.,M.Kep. selaku dosen mata kuliah Perkemihan


serta dosen pembimbing yang telah memberikan masukan dan dorongan dalam
penyusunan makalah ini.

2. Rekan-rekan di jurusan S-1 Pendidikan Ners, Universitas Airlangga, yang juga


telah banyak membantu penulis.

Penulis juga mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun


terhadap kekurangan dalam makalah agar selanjutnya penulis dapat memberikan
karya yang lebih baik dan sempurna. Semoga makalah ini dapat berguna dan
bermanfaat bagi pengetahuan pembaca.

Surabaya, 27 Februari 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR..........................................................................................ii
DAFTAR ISI........................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN....................................................................................1
1.1 Latar Belakang.................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah...........................................................................................2
1.3 Tujuan..............................................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA KANKER GINJAL.......................................4
2.1 Definisi Kanker Ginjal....................................................................................4
2.2 Klasifikasi Kanker Ginjal................................................................................5
2.3 Etiologi Kanker Ginjal....................................................................................7
2.4 Patofisiologi Kanker Ginjal.............................................................................8
2.5 WOC Kanker Ginjal........................................................................................10
2.6 Manifestasi Klinis Kanker Ginjal ...................................................................11
2.7 Pemeriksaan Diagnostik Kanker Ginjal..........................................................13
2.8 Penatalaksanaan Kanker Ginjal.......................................................................14
2.9 Komplikasi Kanker Ginjal...............................................................................20
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS............................................21
3.1 Pengkajian.......................................................................................................21
3.2 Diagnosa Keperawatan....................................................................................24
3.3 Intervensi Keperawatan...................................................................................25
3.4 Evaluasi...........................................................................................................30
BAB IV ASUHAN KEPERAWATAN KASUS..................................................31
4.1 Kasus...............................................................................................................31
4.2 Pengkajian.......................................................................................................31
4.3 Diagnosa Keperawatan....................................................................................35
4.4 Intervensi dan Implementasi............................................................................36
4.5 Evaluasi...........................................................................................................39
BAB V KESIMPULAN.......................................................................................40
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................41

iii
iv
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Ginjal merupakan salah satu organ tubuh manusia yang vital fungsinya
bagi keseluruhan sistem tubuh manusia. Ginjal adalah organ utama sistem
ekskresi manusia, yang mengatur pembuangan zat-zat sisa yang sudah tidak
berguna lagi bagi tubuh. Selain itu, ginjal juga berperan dalam menjaga
homeostasis cairan dalam tubuh. Seperti organ tubuh lainnya, ginjal juga bisa
mengalami kanker. Kanker ginjal adalah suatu keganasan pada parenkim
ginjal yang berasal dari tubulus proksimalis ginjal (Baradero, et all, 2008).
Jenis kanker ginjal yang paling sering ditemukan adalah karsinoma sel
ginjal. Bahayanya, kanker ginjal ini biasanya ditemukan pada saat kanker ini
telah mengalami metastasis dan sudah menyebar ke organ tubuh lainnya,
karena pada stadium dini kanker ini jarang sekali menunjukkan gejalanya.
Gejalanya baru mulai terasa pada stadium lanjut, yaitu terjadi hematuria
(terdapat pada aliran seni).
Penyakit kanker ginjal merupakan salah satu penyakit yang ditakuti
oleh beberapa orang karena tidak menunjukkan gejalanya. Sehingga ketika
terdeteksi ternyata sudah menyebar ke organ yang lain dan sulit untuk
disembuhkan. Angka kejadian kanker ginjal cenderung meningkat belakangan
ini. Kanker ginjal pada umumnya terjadi pada orang dewasa usia diatas 40
tahun. Pada orang dewasa, kanker ginjal lebih sering pada pria dari pada
wanita, dengan rasio 2:1 (Otto, 2005).
Penyebab pasti terjadinya kanker ginjal hingga saat ini masih belum
diketahui secara pasti, namun ada beberapa faktor yang dapat memicu
terjadinya kanker ginjal seperti faktor keturunan, obesitas, hipertensi, von
helper-lindau syndrome, paparan bahan industri dan zat karsinogenik, serta
gaya hidup yang tidak sehat misalnya merokok dan makan makanan yang
tinggi lemak (American cancer society, 2014).
Setiap tahunnya, sekitar 208.500 kasus kanker ginjal didiagnosa di
seluruh dunia, yang meliputi jumlah 2% dari seluruh kasus kanker. Angka
tertinggi kasus kanker ginjal ini tercatat di Amerika Utara, sedangkan wilayah
Asia dan Afrika angkanya tergolong kecil (Williams, 2011).

v
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apa yang dimaksud dengan cancer of the kidney ?
1.2.2 Apa saja penyebab terjadinya atau etiologi cancer of the kidney?
1.2.3 Bagaimana patofisiologi dari cancer of the kidney ?
1.2.4 Bagaimana WOC dari cancer of the kidney ?
1.2.5 Bagaimana manifestasi klinis dari cancer of the kidney ?
1.2.6 Bagaimana klasifikasi dari cancer of the kidney ?
1.2.7 Apa saja pemeriksaan diagnostik yang digunakan pada cancer of the
kidney ?
1.2.8 Bagaimana penatalaksanaan dari cancer of the kidney ?
1.2.9 Apa saja komplikasi dari cancer of the kidney ?
1.2.10 Bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan cancer of the
kidney ?

1.3 Tujuan
1.1.1 Tujuan Umum
Setelah proses pembelajaran diharapkan mahasiswa mampu
memahami konsep dan teori serta mampu mengaplikasikan dalam
asuhan keperawatan pada klien dengan cancer of the kidney.
1.1.2 Tujuan Khusus
a. Mahasiswa dapat mengerti dan memahami definisi dari cancer of
the kidney.
b. Mahasiswa dapat mengerti dan memahami etiologi dari cancer of
the kidney.
c. Mahasiswa dapat mengerti dan memahami patofisiologi dari
cancer of the kidney.
d. Mahasiswa dapat mengerti dan memahami WOC dari cancer of
the kidney.
e. Mahasiswa dapat mengerti dan memahami manifestasi klinis dari
cancer of the kidney.
f. Mahasiswa dapat mengerti dan memahami klasifikasi dari cancer
of the kidney.
g. Mahasiswa dapat mengerti dan memahami pemeriksaan diagnostik
yang digunan pada cancer of the kidney.
h. Mahasiswa dapat mengerti dan memahami penatalaksanaan dri
cancer of the kidney.
i. Mahasiswa dapat mengerti dan memahami komplikasi dari cancer
of the kidney.
j. Mahasiswa dapat mengerti dan memahami asuhan keperawatan
pada klien dengan cancer of the kidney.

vi
vii
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA KANKER GINJAL

2.1 Definisi Kanker Ginjal


Kanker ginjal adalah penyakit dimana sel ginjal menjadi ganas (kanker)
dan tumbuh tidak terkendali membentuk tumor. Hampir semua kanker ginjal
pertama kali muncul di lapisan tabung kecil (tubulus) di ginjal. Jenis kanker
ginjal ini disebut karsinoma sel ginjal. Carcinoma sel ginjal adalah tumor
malignoma renal, yang sering ditemukan diperensim renal dan menimbulkan
gejala yang baru (Nursalam & Fransisca, 2006).
Kanker ginjal merupakan sebagian besar tumor ginjal yang solid (padat)
dan jenis kanker ginjal yang paling sering ditemukan adalah karsinoma sel
ginjal (adeno karsinoma renalis/hipemefroma). Kanker ginjal atau
hipemefroma merupakan jenis kanker yang terdapat pada bagian ginjal atau
disebut tubulus renal proksimal.
Kanker ginjal merupakan suatu keganasan pada parenkim ginjal yang
berasal dari tubulus proksimalis ginjal. Stadium dari adenokarsinoma ginjal
terbagi atas empat stadium:

Stadium adenokarsinama ginjal menurut Robson. Stadium I tumor


masih terbatas di dalam ginjal; Stadium II invasi ke jaringan lemak
perirenal; Stadium III invasi ke vena renalis/vena kava; Stadium IV
metastasis ke organ lain (misalnya: usus) (Jonasch, 2006).

viii
2.2 Klasifikasi
Menurut (Basuki, 2003) dibagi:
1. Renal cell carcinonoma (RCC)
RCC berasal dari parenkim ginjal yang berfungsi untuk menyaring darah.
Jenis kanker ginjal ini menempati urutan kedelapan sebagai kanker
tersering pada orang dewasa. Di Amerika Serikat, RCC menyebabkan 3–
4% dari keseluruhan kasus kanker. Gejala yang sering ditemukan adalah
adanya nyeri pinggang, urine berwarna kemerahan atau kecokelatan, dan
adanya massa ginjal yang dapat diraba. Selain itu, dapat disertai keluhan
lain yang tidak khas, yaitu penurunan berat badan dan nafsu makan,
mudah lelah, serta sering demam tanpa penyebab yang jelas.
(Basuki,2003).
2. Trantitional cell carcinoma (TCC)
TCC berasal dari bagian pelvis ginjal yang berfungsi sebagai tempat
berkumpulnya urine dan menyalurkannya ke kandung kemih. Jenis kanker
ini cukup jarang ditemui. Gejala yang ditimbulkan mirip dengan kanker
RCC. (Basuki, 2003)
3. Tumor Wilms/nefroblastoma
Tumor Wilms atau yang dikenal sebagai nefroblastoma sering ditemukan
pada anak. Tumor ini jarang terjadi pada orang dewasa. Sebagian besar
kasus terjadi sebelum usia 5 tahun, yaitu sebanyak 75–80% kasus. Sekitar
2–5% kasus tumor Wilms terjadi pada kedua ginjal. Pasien jarang
menunjukkan keluhan seperti nyeri perut, kencing kemerahan, atau
demam. Keluhan yang sering ditemukan (pada 90% kasus) adalah adanya
benjolan atau massa di perut. (Basuki, 2003).
Salah satu yang cara untuk menilai tingkat keparahan atau stadium
adalah menggunakan klasifikasi TNM. Dalam klasifikasi ini, yang dinilai
adalah ukuran kanker, keterlibatan adrenal atau kelenjar getah bening, dan
penyebaran jauh ke organ tubuh lain (misalnya paru-paru atau tulang).
Berikut adalah klasifikasi TNM menurut American Joint Committe on
Cancer (AJCC) 2010:

T Tumor: menilai adanya pertumbuhan tumor primer dan diukur dalam

ix
satuan sentimeter (cm).

Tx: tumor primer tidak dapat dinilai.

T0: tidak terdapat adanya bukti tumor primer.

T1: ukuran tumor <7 cm (jika terdapat beberapa tumor, yang diukur
adalah tumor berukuran terbesar), terbatas di ginjal.

T2: ukuran tumor >7 cm, terbatas pada ginjal.

T3: tumor telah meluas ke pembuluh darah vena besar, tetapi tidak
menyebar ke kelenjar adrenal dan tidak melewati fasia ginjal (selaput
yang melindungi ginjal).

T4: tumor sudah meluas hingga keluar fasia ginjal.


N Nodus: menilai adanya keterlibatan kelenjar getah bening di sekitar
ginjal.

Nx: penyebaran kelenjar getah bening regional tidak dapat dinilai.

N0: tidak terdapat penyebaran ke kelenjar getah bening regional.

N1: sudah terdapat penyebaran ke kelenjar getah bening.

M Metastasis: menilai adanya penyebaran sel kanker ke organ lain


seperti paru-paru, otak, hati, tulang, dan kelenjar getah bening yang
letaknya jauh dari ginjal.

M0: tumor tidak menyebar ke organ lain yang jauh.

M1: ditemukan penyebaran ke organ lain yang jauh.

Berikut adalah pengelompokan stadium berdasarkan TNM (AJCC 2010):


1) Stadium I : T1, N0, M0

x
2) Stadium II : T2, N0, M0
3) Stadium III : T1/T2, N1, M0; atau T3, N0/N1, M0
4) Stadium IV : T4, semua tahap N, M0; atau semua tahap T, semua tahap N,
M1

Gambar. Stadium berdasarkan TNM

Sumber: The University of Texas. Anderson Cancer Center. 2008

2.3 Etiologi Kanker Ginjal


Penyebab pasti belum diketahui, tetapi ada beberapa faktor lingkungan dan
genetic yang menjadi faktor resiko terbentuknya karsinoma sel ginjal,
meliputi hal-hal sebagai berikut (Grace & Borley 2006):
1) Merokok. Perokok memiliki sekitar dua kali lipat risiko dari non-perokok.
2) Kontak dengan bahan kimia tertentu. Pekerja yang melakukan kontak
dengan bahan kimia seperti pewarna aniline (senyawa organik buatan yang
digunakan dalam pekerjaan kulit dan kayu) dan logam berat memiliki
risiko lebih tinggi.

xi
3) Obesitas. Mereka yang mengalami obesitas akan memiliki ririko yang
jauh lebih tinggi terkena kanker ginjal. Risiko obesitas terkait dengan
risiko darah tinggi (hipertensi).
4) Penyakit ginjal stadium akhir yang memerlukan dialysis (pengobatan
yang melakukan beberapa hal yang dilakukan oleh ginjal sehat).
5) Asupan obat penghilang rasa sakit kronis, seperti parasetamol, dan obat
anti pembengkakan tanpa steroid (NSAID) seperti ibuprofen dan aspirin.
6) Kanker ginjal bawaan. Sebagian besar dari mereka yang terkena
penyakit memiliki bentuk kanker ginjal yang sporadis atau bukan bawaan
dari kanker ginjal. Suatu bentuk bawaan dari penyakit terjadi pada
sebagian kecil pasien (kurang dari lima persen dari total) karena adanya
gen yang rusak. Kondisi yang diwariskan ini mempengaruhi seseorang
terkena kanker ginjal yang meliputi sindrom von Hippel-Lindau (VHL)
[kelainan bawaan yang ditandai dengan pembentukan tumor dan kantung
berisi cairan (kista) di berbagai bagian tubuh], tuberous sclerosis (penyakit
genetik multi-sistem langka yang menyebabkan tumor tidak berbahaya
tumbuh di otak dan organ penting lainnya seperti ginjal, jantung, mata,
paru-paru, dan kulit), sindrom Birt-Hogg-Dube (kondisi bawaan yang
terkait dengan beberapa tumor kulit, kista paru-paru yang tidak berbahaya,
dan suatu peningkatan risiko baik tumor ginjal dan kanker ginjal yang
tidak berbahaya), dan sel jernih bawaan non-VHL dan kanker sel ginjal
papiler

2.4 Patofisiologi Kanker Ginjal


Karsinoma sel ginjal adalah tipe yang paling umum dijumpai.
Pertumbuhan sel tumor pada karsinoma sel ginjal ini di mulai dari bagian
korteks ginjal yang lama-kelamaan sel tumor tersebut bisa tumbuh menjadi
semakin besar sehingga menekan sel parenkim ginjal (Black dan Jane, 2009).
Penyebab pasti terjadinya kanker ginjal hingga saat ini masih belum diketahui
secara pasti, namun ada beberapa faktor yang dapat memicu terjadinya kanker
ginjal seperti faktor keturunan, obesitas, hipertensi, von helper-lindau
syndrome, paparan bahan industry dan zat karsinogenik, serta gaya hidup

xii
yang tidak sehat misalnya merokok dan makan makanan yang tinggi lemak
(American cancer Society, 2014).
Kandungan cadmium dalam rokok akan masuk ke dalam tubuh melalui
air liur hingga ke pembuluh darah, kemudian akan menyebabkan
vasokontriksi arteriol aferen dan mengakibatkan penurunan LFG (Laju filtrasi
glomerulus). Selain itu, pada kasus hipertensi juga dapat terjadi penurunan
laju filtrasi glomerulus akibat retensi pembuluh darah yang menyebabkan
vasokontriksi pembuluh darah arteri. Apabila penurunan laju filtrasi
glomerolus terjadi dalam waktu yang lama akan menimbulkan obstruksi atau
kerusakan lumen tubular dalam ginjal yang memicu pelepasan zat-zat
vasoaktif intrarenal. Hal ini akan merangsang pertumbuhan sel endotel
abnormal dan bersifat merusak. Faktor keturunan dan von helper-lindau
syndrome terkait dengan masalah genetic yang menyebabkan tidak
berfungsinya gen pengekang tumor (VHL) sehingga menyebabkan
peningkatan HIF yang merangsang progresifitas sel-sel abnormal. Sedangkan,
paparan bahan industry dan zat karsinogenik dapat menyebabkan
pembentukan senyawa nitrosamine. Senyawa ini dapat masuk ke dalam sel
dan menyebabkan mutasi DNA sehingga dapat terjadi pertumbuhan sel yang
abnormal.

2.5 WOC Kanker Ginjal

Faktor resiko

Terpapar bahan industry Hipertensi Faktor keturunan dan


Merokok
dan zat karsinogenik sindrom von Hippel-Lindau

xiii
Pembentukan Kadmium masuk ke Retensi Tidak berfungsinya
senyawa nitrosamin pembuluh darah pembuluh darah VHL

Masuk ke dalam sel Penurunan aliran darah ke ginjal Peningkatan HIF

Mutasi DNA Penurunan laju filtrasi glomerolus

Abnomalitas pertumbuhan sel

Proliferasi sel tidak terkendali

Kanker Ginjal

Kerusakan struktur fungsional ginjal


Gangguan filtrasi Gangguan
ginjal Penurunan produksi Pembesaran tumor keseimbangan
hormone eritropoetin pada ginjal elektrolit

Retensi Na
Penurunan Penekanan saraf Mual dan muntah
produksi eritrosit di pinggang
Peningkatan
Penurunan nafsu
volume intestisial
Penurunan Hb makan
Nyeri pada
pinggang
Edema
MK: Intoleransi MK:
aktivitas Ketidakseimbangan
MK: Kelebihan MK: Nyeri
nutrisi: kurang dari
volume cairan kronis
kebutuhan tubuh

Pembuluh darah Penekanan pada


Hematuria pecah pembuluh darah
Perubahan status
MK: Risiko kesehatan
perdarahan
2.6 Manifestasi Klinis Kanker Ginjal MK: Ansietas
Gejala kanker ginjal dimulai dari gejala-gejala yang spesifik. Ciri-cirinya
sangat halus sehingga tidak disadari bagi mereka yang berpotensi
menderitanya. Meski tidak dimulai dari gejala khas, namun beberapa indikasi
(Nursalam & Fransisca 2006) seperti adanya:

xiv
a) Benjolan di perut, benjolan pada perut bawah cukup sulit diraba secara
fisik. Pada stadium rendah kadangkala tidak teraba secara fisik
b) Kencing darah
c) Nyeri dibagian pinggang menjadi gejala umum kanker ginjal. Sementara
rasa sakit di pinggang baru terasa ketika pertumbuhan tumor semakin
membesar, terasa sebagian sakit tumpul (sakit terasa monoton dan terus-
menerus)
Tanda dan gejala lain yang muncul (Williams&Wilkins, 2011)
a) Nyeri atau fraktur tulang akibat lesi yang bermetastasis
b) Edema di kaki bagian kanan atas
c) Demam kemungkinan karena hemoragi atau nekrosis
d) Hyperkalemia (berkembang dengan cepat, kemungkinan akibat produksi
hormone paratiroid ektopik oleh tumor)
e) Hepertensi (akibat kompresi arteri renal yang disertai dengan iskemia
parenkimal renal)
f) Mual dan muntah
g) Retensi urin
h) Berat badan menurun
Meski tidak spesifik, tanda-tanda umum penyakit kanker ginjal yang
sering dijumpai pada penderita kanker ginjal (Yulianti Soleha, 2018) adalah:
1) Gatal dan Ruam. Muncul rasa gatal, kulit ruam, karena fungsi ginjal
dalam membuang limbah dan kotoran terganggu. Akibatnya akan
menimbulkan rasa gatal pada kulit gatal ringan atau gatal yang berlebih.
Kadangkala ketika digaruk sampai menimbulkan luka serta pembengkakan
di berbagai bagian tubuh.
2) Tubuh menjadi kedinginan dan menggigil. Dingin adalah efek dari
berkurangnya kemampuan ginjal dalam memproses aliran darah. Terjadi
juga anemia karena otak tidak tersedia oksigen yang cukup. Akibatnya,
kepala sering menderita pusing, hilang keseimbangan, susah
berkonsentrasi, dan tubuh terasa dingin selama beberapa waktu.
3) Timbul sesak nafas. Sesak nafas terjadi karena ada penimbunan cairan
yang berlebih karena ketidakmampuan ginjal akibat sakit sehingga
menutup beberapa saluran seperti saluran di paru-paru, dan bagian tubuh
yang lain. Kanker Ginjal juga akan menyebabkan anemia akibat
kekurangan oksigen untuk bernafas. Pasien susah tidur karena susah
bernafas, aktifitas tubuh terasa berat, perut terasa kembung terus menerus.

xv
4) Urine penderita berpenyakit ginjal biasanya berubah. Urine ditandai
dengan saat buang air seni terasa sakit, jumlah urine sedikit, sering
terbangun ingin kencing saat tidur (mirip gejala diabetes), dan perubahan
warna struktur air seni (warna urine jauh lebih pekat). Hanya saja mulai
ada darah dalam urine, darah berwarna merah muda, merah atau
kehitaman. Hal ini terjadi karena ginjal mulai tidak berfungsi dengan baik.
5) Sakit pinggang. Kondisi sakit pinggang, nyeri yang terjadi pada
punggung, terutama di bawah tulang rusuk, yang kadangkala muncul dan
tidak hilang-hilang. Tanda-tanda rasa sakit kronis berawal dengan sakit
yang muncul sesekali saja, namun dengan berkembangnya penyakit akan
membuat rasa sakit berlangsung lebih sering/kerap dan lebih lama.
6) Bau mulut dan keringat yang tidak enak. Hal ini terjadi karena proses
adanya gangguan detoksifikasi (lewat mulut, keringat) yang menumpuk
pada mulut dan kulit.
7) Pembengkakan Kaki, Tangan, Muka. Pembengkakan tubuh terjadi
karena cairan oedema yang tertimbun dalam tubuh tertentu akibat
terganggunya sistem organ sekresi. Pembengkakan terjadi pada bagian
tubuh spesifik seperti pergelangan kaki, tangan, atau muka.
8) Nyeri pada bagian tubuh dan tanda spesifik lain. Sakit dan nyeri terjadi
pada punggung, tubuh terasa lemah, tidak bertenaga, serta tidak dapat
bekerja berat. Didahului dengan rasa gatal-gatal, perut mual, muntah,
nafsu makan menyusut, serta turunnya berat badan. Umumnya juga
disertai dengan naiknya tekanan darah, anemia, sulit tidur, sesak nafas
2.7 Pemeriksaan Diagnostik Kanker Ginjal
Pemeriksaan diagnostic yang dilakukan pada pasien dengan kanker ginjal
antara lain (Perawatan Kritis: Seri Panduan Klinis, 2009):
a. Pemeriksaan radiologi
PIV biasanya dikerjakan atas indikasi adanya hematuria, tetapi jika diduga
ada massa pada ginjal, pemeriksaan dilanjutkan dengan CT scan atau
MRI. Dalam hal ini USG hanya dapat menerangkan bahwa ada massa
solid atau kistik. CT scan merupakan pemeriksaan pencitraan yang
dipilih pada karsinoma ginjal. Pemeriksaan ini mempunyai akurasi yang
cukup tinggi dalam mengetahui adanya penyebaran tumor pada vena
renalis, vena cava, ekstensi perirenal, dan metastasis pada kelenjar limfe

xvi
retroperitonereal. MRI dapat mengungkapankan adanya invasi tumor pada
vena renalis dan vena cava tanpa membutuhkan kontras, tetapi
kelemahanya adalah kurang sensitive mengenali lesi solid yang berukuran
kurang dari 3 cm.
1) IVP (Intrevenous Pyelograf)
Memperlihatkan ketidakserasian tepi-tepi ginjal dan memberi
gambaran adanya dugaan tumor ginjal. Tumor kecil pada parenkin
tidak akan jelas, tapi bisa diperjelas dengan CT scan.
2) Foto thoraks (Rontgen)
Merupakan pemeriksaan untuk mengevaluasi ada tidaknya metastasis
ke paru-paru. Arteriografi khusus hanya diindikasikan untuk pasien
dengan tumor Wilms bilateral atau termasuk horseshoe kidney.
3) Ultrasonografi
Merupakan pemeriksaan non invasif yang dapat membedakan tumor
solid dengan tumor yang mengandung cairan. Dengan pemeriksaan
USG, tumor Wilms nampak sebagai tumor padat di daerah ginjal. USG
juga dapat digunakan sebagai pemandu pada biopsi. Pada potongan
sagital USG bagian ginjal yang terdapat tumor akan tampak mengalami
pembesaran, lebih predominan digambarkan sebagai massa hiperechoic
dan menampakkan area yang echotekstur heterogenus.
4) CT Scan
Untuk membuat diferensiasi carcinoma sel-sel ginjal dan kista renal.
Memberi beberapa keuntungan dalam mengevaluasi tumor Wilms. Ini
meliputi konfirmasi mengenai asal tumor intrarenal yang biasanya
menyingkirkan neuroblastoma; deteksi massa multipel; penentuan
perluasan tumor, termasuk keterlibatan pembuluh darah besar dan
evaluasi dari ginjal yang lain. CT scan memperlihatkan massa
heterogenus di ginjal kiri danmetastasis hepar multiple. CT scan dengan
level yang lebih tinggi lagi menunjukkan metastasishepar multipel
dengan thrombus tumor di dalam vena porta.
5) Angiografi
Untuk diferensiasi kista dengan tumor.
b. Pemeriksaan Laboratorium: (Perawatan Kritis: Seri Panduan Klinis, 2009)
1) Analisis urin
2) Pemeriksaan sel darah lengkap
3) Blood Gas Analysis
4) Pemeriksaan kimia darah lengkap dan koagulasi darah
5) Laju endap eritrosit

xvii
6) Kadar human chronic gonadotropin (HCG)
7) Kadar kortisol
8) Kadar renin
9) Kadar hormon adenokortikotropin.

2.8 Penatalaksanaan
Tujuan penatalaksanaan kanker ginjal adalah untuk menghilangkan anker
tersebut sebelum terjadi metastasis. Nefrektomi radikal merupakan terapi
pilihan jika tumornya dapat diangkat. Tindakan ini mencakup pengangkatan
ginjal (serta tumornya, kelenjar adrenal, lemak perirenal; disekitarnya serta
fasia Gerota dan nodus limfatikus. Terapi radiasi, hormonal ataupun
kemoterapi dapat dilakukan bersama-sama pembedahan. Menurut
Gitayulia (2011), penatalaksanaan dari kanker ginjal antara lain:
1. Operasi
Operasi adalah perawatan yang paling umum untuk kanker ginjal.
Perawatan jenis ini merupakan suatu tipe dari terapi lokal yang dilakukan
dengan merawat kanker ginjal dan area yang dekat pada tumor. Operasi
untuk mengangkat ginjal disebut nephrectomy. Adapun tipe operasi
pengangkatan ginjal ini tergantung pada stadium dari tumor yaitu :
a. Radical nephrectomy. Ahli bedah mengangkat seluruh ginjal bersama
kelenjar adrenal dan beberapa jaringan disekitar ginjal. Beberapa
simpul getah bening di area itu juga diangkat
b. Simple nephrectomy. Ahli bedah hanya mengangkat ginjal. Biasanya
tindakan ini dilakukan pada penderita kanker ginjal stadium I.
c. Partial nephrectomy. Ahli bedah hanya mengangkat bagian dari ginjal
yang mengandung tumor. Operasi ini dilakukan ketika seseorang itu
hanya mempunyai satu ginjal, ketika kanker sudah memengaruhi kedua
ginjal, maupun penderita yang ukuran tumor ginjalnya kurang dari 4 cm
atau ¾ inci.
Efek samping dari operasi adalah lamanya waktu untuk sembuh. Lama
waktu yang diperlukan untuk kesembuhan pun berbeda untuk setiap orang.
Pasien sering tidak nyaman selama beberapa hari pertama meskipun telah
menggunakan obat penghilang nyeri.
2. Arterial embolization

xviii
Arterial embolization adalah tipe terapi lokal yang menyusutkan
tumor dan dilakukan sebelum tindakan operasi. Tujuannya adalah agar
operasi dapat berjalan lebih mudah. Ketika operasi tidak mungkin
dilakukan, maka embolization digunakan untuk membantu menghilangkan
gejala – gejala kanker ginjal.
Cara ini dilakukan dengan memasukkan tabung yang sempit ke
dalam suatu pembuluh darah di kaki. Tabung dialirkan keatas hingga ke
pembuluh darah besar utama atau arteri ginjal yang menyediakan darah
pada ginjal. Lalu disuntikkan suatu senyawa ke pembuluh darah untuk
menghalangi aliran darah ke dalam ginjal. Setelah arterial embolization
penderita biasanya merasakan nyeri punggung atau mengalami demam.
Efek – efek lainnya mual dan muntah. Namun masalah – masalah ini bisa
segera menghilang.
3. Terapi radiasi
Terapi radiasi ( radioterapi ) adalah tipe lain dari tipe lokal yang
yang menggunakan sinar bertenaga tinggi untuk membunuh sel – sel
kanker, serta memengaruhi sel – sel kanker di area yang dirawat. Pasien
mendapatkan perawatan di rumah sakit atau klinik dalam lima hari setiap
minggu selama beberapa minggu.
Efek samping dari terapi radiasi tergantung pada jumlah radiasi
yang diberikan dan bagian tubuh yang dirawat. Pasien bisa menjadi sangat
lelah selama terapi radiasi, terutama pada minggu – minggu pertama
perawatan. Terapi radiasi pada ginjal dan area – area yang berdekatan
memungkinkan terjadinya mual, muntah, diare atau tidak nyaman ketika
BAK. Selain itu juga menyebabkan kekurangan jumlah sel darah putih
sehat yang sebenarnya membantu melindungi tubuh terhadap infeksi. Efek
lainnya kulit diarea yang dirawat akan memerah, kering dan peka (Heri
Saputra, 2010).
4. Terapi biologis
Terapi biologis adalah suatu tipe dari terapi sistematis atau terapi
yang menggunakan senyawa – senyawa yang berjalan melalui aliran
darah, mencapai dan memengaruhi sel – sel di seluruh tubuh. Terapi
biologis menggunakan kemampuan alamiah tubuh atau sistem imun untuk
melawan kanker.

xix
Terapi biologis mungkin menyebabkan gejala – gejala seperti flu,
kedinginan, demam, nyeri – nyeri otot, kelemahan, kehilangan nafsu
makan, mual, muntah dan diare. Pasien – pasien juga mungkin
memperoleh suatu ruam kulit atau skin rash. Persoalan – persoalan ini
dapat menjadi parah, namun mereka menghilang setelah perawatan
dihentikan.
5. Kemoterapi
Kemoterapi adalah tipe dari terapi sistemis dengan menggunakan
obat – obatan. Obat – obatan anti kanker memasuki aliran darah dan
mengalir ke seluruh tubuh. Meskipun berguna untuk kanker – kanker yang
lain, obat – obatan tersebut telah menunjukkan penggunaan yang teratas
terhadap kanker.
Efek samping dari kemoterapi tergantung pada obat – obatan
spesifik dan jumlah yang diterima. Pada umumnya, obat – obatan anti
kanker memengaruhi sel – sel yang membelah secara cepat, terutama sel –
sel darah. Sel – sel ini melawan infeksi, membantu darah untuk
menggumpal atau membantu, dan membawa oksigen ke seluruh tubuh.
Ketika obat – obat memengaruhi sel – sel darah, pasien lebih mudah
mendapat infeksi, memar berdarah, juga merasa sangat lemah dan lelah.
Kemoterapi dapat menyebabkan kerontokan rambut. Rambut tumbuh
kembali, namun adakalanya rambut yang baru memiliki warna dan tekstur
yang agak berbeda. Kemoterapi dapat menyebabkan nafsu makan yang
buruk, mual, muntah, diare, atau luka – luka mulut dan bibir. Namun, efek
– efek samping ini dapat dikontrol dengan menggunakan obat – obatan
(Heri Saputra, 2010).
Jenis obat kemoterapi yang diberikan pada kanker ginjal yaitu:
a. Interferon alfa : diberikan secara subkutan dan dosis bersifat
individualistic. Efek sampingnya adalah gejala flu seperti demam,
fatigue, sakit kepala, anoreksia, menggigil, depresi, letargi, pusing,
mual, muntah, konstipasi, stomatitis, pruritus, nyeri di tempat suntikan,
dan peningkatan enzim hati.
b. Interleukin-2 (IL-2) : diberikan secara intravena (dalam pembuluh
darah) atau suntikan subkutan (di bawah kulit) dua kali sehari.efek

xx
sampingnya adalah mual, kelelahan, kebingungan, depresi, mudah
tersinggung dan insomnia.
6. Nutrisi
Pasien perlu makan dengan baik selama terapi kanker. kecukupan kalori
dibutuhkan untuk menjaga berat badan dan protein untuk mempertahankan
kekuatan. Nutrisi bisa membuat penderita kanker merasa lebih baik dan
mempunyai lebih banyak energi. Masalahnya pasien kanker sering kali
sulit untuk makan karena tidak merasa nyaman atau lelah.
7. Nefrostomi
Nefrostomi merupakan suatu tindakan diversi urine menggunakan
tube, stent, atau kateter melalui insisi kulit, masuk ke parenkim ginjal dan
berakhir di bagian pelvis renalis atau kaliks. Nefrostomi biasanya
dilakukan pada keadaan obstruksi urine akut yang terjadi pada sistem
saluran kemih bagian atas, yaitu ketika terjadi obstruksi ureter atau ginjal.
Nefrostomi dapat pula digunakan sebagai prosedur endourologi,
yaitu intracorporeal lithotripsy, pelarutan batu kimia, pemeriksaan
radiologi antegrade ureter, dan pemasangan double J stent (DJ stent).
Nefrostomi ini biasanya dilakukan untuk mengobati penderita kanker
ginjal atau orang dengan kerusakan ginjal yang parah. Nefrostomi juga
dilakukan untuk mengambil ginjal yang sehat untuk donor pada
transplantasi ginjal (Robert R. Cirillo, 2008).
Menurut Robert R. Cillio (2012), perawatan yang harus dilakukan
pada tindakan nefrostomi adalah:
1. Untuk nefrostomi dengan indikasi infeksi maka pemberian antibiotika
sejak sebelum tindakan diteruskan. Pedomannya adalah:
a. Jenis antibiotika berdasarkan kultur dan antibiogram
b. Bila belum ada kultur dan antibiogram
1) Kombinasi ampicillin atau derifatnya dan aminoglikosida
2) Cephalosporin generasi III, untuk kasus gagal ginjal berat
Bila tidak infeksi cukup diberikan obat golongan nitrofurantorin atau
asam nalidisat peri operatif.
2. Perhatikan kateter / pipa drainage, jangan sampai tersumbat
3. Perhatikan dan catat secara terpisah produksi cairan dari nefrostomi.
4. Usahakan diuresis yang cukup.
5. Periksa kultur urin dari nefrostomi secara berkala.
6. Bila ada boleh spoelling dengan larutan asam asetat 1% seminggu 2x
7. Kateter diganti setiap lebih kurang 2 minggu. Bila nefrostomi untuk
jangka lama pertimbangkan memakai kateter silikon.
8. Pelepasan kateter sesuai indikasi

xxi
9. Pelepasan drain bila dalam 2 hari berturut-turut setelah pelepasan
kateter produksinya < 20 cc/24 jam.
10. Pelepasan benang jahitan keseluruhan 10 hari pasca operasi.
Perawatan postprosedural dan tinjak lanjut yang dilakukan pada tindakan
nefrostomi:
a. Bed rest selama 4 jam
b. Melanjutkan diet yang disarankan untuk postprosedural
c. Pemeriksaan tanda-tanda vital setiap 30 menit selama 4 jam pertama
postrosedural dan kemudian dilakukan setiap shift
d. Terapi antibiotik jika diidentifikasi ataupun diduga terjadi infeksi
e. Pembilasan kateter dengan 5 ml larutan NaCl isotonik bakteriostatik
kemudian diaspirasi setiap 6-12 jam
f. Pantau output urine
8. Sistostomi
Sistostomi adalah prosedur di mana kandung kemih dan kulit
dihubungkan dengan pembedahan untuk mengeringkan urin melalui
tabung yang keluar di dinding perut. Ini perlu dilakukan pada pasien yang
tidak dapat berkemih secara normal akibat sumbatan pada kandung kemih
atau kondisi medis lainnya yang mengganggu bagian dari saluran kemih
atau fungsi normal ginjal yang menyebabkan urin pasien tertahan.
Penggunaan tabung sistostomi, yang juga dikenal dengan sebutan kateter
suprapubik, salah satu pengalihan saluran kemih yang rendah resiko dan
dapat digunakan sementara maupun jangka panjang. Sistotomi adalah
memasukkan kateter dengan membuat lubang pada buli-buli melalui
insisi suprapubik dengan tujuan untuk mengeluarkan urine.
Kateterisasi suprapubik umumnya digunakan untuk drainase urine
jangka pendek. Jika usia pasien atau kondisi komorbid tidak
memungkinkan untuk dilakukannya operasi koreksi, maka kateter
temporer ini dapatdipertahankan lebih lama, atau dapat diganti dengan
kateter suprapubik yang permanen (Maclure F and Renau A, 2012).

2.9 Komplikasi
Komplikasi yang muncul akibat kanker ginjal menurut Nursalam, 2008
yaitu:
1. Metastase yang kuat ke berbagai organ meliputi paru, hati, otak, dan
tulang melalui saluran limfe atau melalui sistem vena berupa:

xxii
a. Sumbatan arteri.
b. Perdarahan.
c. Kehilangan fungsi ginjal.
2. Komplikasi pembedahan karena nefrektomi meliputi atelektasis,
pneumonia, hemoragis, infeksi, dan ileus paralitik.

xxiii
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS

3.1 Pengkajian Keperawatan


Pengkajian adalah tahap awal dan dasar dalam proses keperawatan. Kegiatan
dalam proses pengkajian yakni pengumpulan data, adapun pembagian
macam-macam data sebagai berikut (Sodikin, 2011) :
A. Anamnesa
1) Identitas klien
Identitas klien berisikan nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan,
pekerjaan, status, penanggung jawab klien dan data demografi
penanggung jawab klien.
2) Keluhan utama
Keluhan utama pasien dengan kanker ginjal biasanya nyeri pinggang
(tumpul / tajam)
P : Kecapean
Q : seperti dipukul benda tumpul/ ditusuk benda tajam
R : pinggang bawah
S : 4-5
T : intermitten
3) Riwayat penyakit sekarang
Pada pasien dengan diagnose kanker ginjal biasanya tidak nampak
gejala yang signifikan sebelum masuk stadium 4 kecuali pada pasien
yang melakukan check rutin sehingga pasien tidak mengetahui dan
menghiraukannya karena hanya menganggap nyeri sebagai pegal-pegal
atau nyeri sendi (encok) yang tidak membahayakan, sampai akhirnya
pasien mengalami nyeri pinggang yang tidak bisa ditahannya lagi
ataupun adanya darah dalam urin saat berkemih barulah pasien datang
ke tempat pelayanan kesehatan untuk meminta bantuan.
4) Riwayat penyakit terdahulu
Terkadang pada pasien dengan von help-lyndau syndrome
kemungkinan menderita kanker ginjal namun pada pasien dengan
kanker ginjal biasanya disertai hypertensi, obesitas, gagal ginjal kronik
yang mengharuskan dialisa selama lebih dari 5th terakhir bahkan
pernah mempunyai riwayat operasi atau pernah menderita penyakit
kanker sebelumnya.
5) Riwayat kesehatan keluarga
Pada pasien dengan kanker ginjal biasanya mempunyai garis keturunan
dengan hipertensi atau bahkan menderita penyakit kanker.
6) Pola Fungsi Kesehatan
a. Pola nutrisi dan metabolik :
Suhu badan normal hanya panas hari pertama sakit. Dapat
terjadi kelebihan beban sirkulasi karena adanya retensi natrium dan
air, edema pada sekitar mata dan seluruh tubuh. Klien mudah
mengalami infeksi karena adanya depresi sistem imun. Adanya mual,
muntah dan anoreksia menyebabkan intake nutrisi yang tidak
adekuat. BB meningkat karena adanya edema. Perlukaan pada kulit
dapat terjadi karena uremia.
b. Pola eliminasi :
Eliminasi alvi tidak ada gangguan, eliminasi uri : gangguan pada
glumerulus menyebakan sisa-sisa metabolisme tidak dapat diekskresi
dan terjadi penyerapan kembali air dan natrium pada tubulus yang
tidak mengalami gangguan yang menyebabkan oliguria sampai
anuria, proteinuri, hematuria.
c. Pola Aktifitas dan latihan :
Dapat terjadi malaise, kelemahan otot dan kehilangan tonus karena
adanya hiperkalemia. Dalam perawatan klien perlu istirahat karena
adanya kelainan jantung dan tekanan darah mutlak selama 2 minggu
dan mobilisasi duduk dimulai bila tekanan darah sudah normal
selama 1 minggu. Adanya edema paru maka pada inspeksi terlihat
retraksi dada, pengggunaan otot bantu napas teraba,auskultasi
terdengar rales dan krekels , pasien mengeluh sesak. Kelebihan beban
sirkulasi dapat menyebabkan pembesaran jantung (Dispnea, ortopnea
dan pasien terlihat lemah) anemia dan hipertensi yang juga
disebabkan oleh spasme pembuluh darah. Hipertensi yang menetap
dapat menyebabkan gagal jantung. Hipertensi ensefalopati
merupakan gejala serebrum karena hipertensi dengan gejala
penglihatan kabur, pusing, muntah, dan kejang-kejang.
d. Pola tidur dan istirahat :
Klien tidak dapat tidur terlentang karena sesak dan gatal karena
adanya uremia. keletihan, kelemahan malaise, kelemahan otot dan
kehilangan tonus
e. Kognitif & perseptual :
Pasien awam yang belum mengetahui bahwa dirinya menderita
kanker ginjal pada awalnya tidak mau dan tidak bisa menerima
kenyataan yang dialaminya.
B. Pemeriksaan Fisik
1) Breathing/ B1 (system pernafasan) :
Pada pasien dengan metastase pada paru-paru akan mengalami dypsneu
atau sesak nafas, tampak otot bantu nafas, pch, nafas dalam dan dangkal
serta batuk darah.
2) Blood/ B2 (system peredaran darah) :
Tidak dapat terkaji
3) Brain/ B3 (system persyarafan) :
Pada pasien dengan metastase ke otak maka akan muncul kerusakan-
kerusakan syaraf
4) Bladder/ B4 (system perkemihan) :
Pasien dengan kanker ginjal stadium lanjut barulah nampak tanda-tanda
klinis, adanya darah dalam urine saat berkemih, nyeri punggung bawah.
5) Bowel/ B5 (system pencernaan) :
Pasien dengan kanker ginjal stadium lanjut barulah nampak tanda-tanda
klinis, adanya rasa tidak nyaman di perut, teraba massa atau benjolan di
abdomen
6) Bone / B6 (system pergerakan, ekstremitas) :
Setelah adanya metastase ke tulang barulah Nampak tanda ke
abnormalitasan pada system pergerakan seperti mudah fraktur dan nyeri
pada tulang.
C. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Diagnostik Hasil/Temuan


Tes Laboratorium
1. Sel dasar lengkap Normokromik, anemia normositik atau
polisitemia yang di sebabkan oleh
peningkatan eritropoietin
2. Jumlah sedimentasi Meningkat (elevated)
eritrosit
3. Urianalisis Hematuria
X-Ray Kidney-Ureter- Space-occupying lesion
Bladder
Urogram intravena Area hipervaskular
USG Untuk membedakan kista ginjal atau
tumor ginjal
Arteriogram Memperlihatkan anatomi vaskuler renal
sebelum pembedahan untuk mendeteksi
spread up vena renal secara detail

CT atau MRI Scan Untuk scan dada, hepar, dan tulang


dalam melihat penyebaran metastase
dan mendeteksi stadium tumor
Biopsy ginjal Digunakan untuk mengambil jaringan
sitologi

3.2 Diagnosa Keperawatan


1) Domain 12: Kenyamanan. Kelas 1 Kenyamanan Fisik. Nyeri kronis
berhungan dengan infiltrasi tumor
2) Domain 2: Nutrisi. Kelas 1 Makan. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan mengabsorbsi
nutrient (00002)
3) Domain 5 : Persepsi/Kognisi. Kelas 4 Kognisi. Defisiensi Pengetahuan
berhubungan dengan kurang informasi (00126)
4) Domain 9 : Koping/Toleransi stress. Kelas 2 Respons Koping. Ansietas
berhubungan dengan perubahan dalam status kesehatan
3.3 Intervensi Keperawatan
No Diagnosa Kriteria Hasil Intervensi (NIC)
Keperawatan (NOC)

1. Domain 12: Setelah dilakukan  Pemberian analgesik


kenyamanan tindakan keperawatan - Tentukan lokasi,
Kelas 1 : selama 3 x 24 karakteristik, kualitas, dan
kenyamanan fisik jam,diharapkan klien keparahan nyeri sebelum
(00132) dapat mengontrol rasa mengobati pasien.
nyeri. Dengan kriteria - Cek perintah pengobatan
Nyeri kronis b.d hasil: meliputi obat, dosis, dan
infiltrasi tumor  Kontrol Nyeri: frekuensi obat analgesik
Batasan - Dapat mengenali yang diresepkan.
karakteristik: kapan nyeri terjadi - Cek adanya riwayat alergi
1. Bukti nyeri - Dapat obat.
dengan menggunakan - Evaluasi kemampuan pasien
menggunakan tindakan untuk berperan serta dalam
standar daftar pengurangan pemilihan analgetik, rute
periksa nyeri [nyeri] tanpa dan dosis, dan keterlibatan
untuk pasien analgesik pasien, sesuai kebutuhan.
yang tidak dapat - Dapat mengenali - Pilih analgetik atau
mengungkapkann apa yang terkait kombinasi analgesik yang
y dengan gejala nyeri sesuai ketika lebih dari satu
2. Ekspresi wajah (gejala nyeri diberikan.
nyeri (kesakitan) abdomen, sakit - Tentukan pilihan obat
3. Mengekspresikan kepala) analgesik (narkotik, non
perilaku (gelisah)  Tingkat nyeri: narkotik, atau NSAID),
4. Sikap melindungi 1) Tidak ada nyeri berdasarkan tipe dan
area nyeri yang dilaporkan (3- keparahan nyeri.
5. Perubahan selera 4 hari) - Tentukan analgesik
makan. 2) Tidak ada ekspresi sebelumnya, rute
nyeri pada wajah pemberian, dan dosis untuk
(3-4 hari) mencapai hasil pengurangan
 Tanda-Tanda Vital : nyeri yang optimal.
- Suhu tubuh normal - Monitor tanda vital sebelum
{suhu tubuh dan setelah memberikan
normal : 36-37,50C analgesik narkotik pada
(akan normal pemberian dosis pertama
kembali pada kali atau jika ditemukan
waktu 1-2 hari)} tanda-tanda yang tidak
- Irama pernafasan biasanya.
normal (normal 16- - Berikan analgesik sesuai
20x/menit) waktu paruhnya, terutama
- Tekanan darah pada nyeri yang berat.
sisitolik {TD - Berikan analgesik tambahan
sistolik normal : dan/atau pengobatan jika
<120 Tekanan diperlukan untuk
darah diastolik meningkatkan efek
{TD diastolik pengurangan nyeri.
normal : <80 - Dokumentasikan respon
- Tekanan nadi terhadapp analgesic dan
normal {nadi adanya efek samping.
normal : 60- - Lakukan tindakan-tindakan
100x/menit} untuk menurunkan efek
 Pengetahuan: samping analgesic
Manajemen Nyeri: (misalnya, konstipasi dan
- Mengetahui faktor- iritasi lambung).
faktor penyebab - Ajarkan tentang
dan faktor yang penggunaan analgesic,
berkontribusi strategi untuk menurunkan
- Dapat menyusun efek samping, dan harapan
strategi pencegahan terkait dengan keterlibatan
nyeri dalam keputusan
pengurangan nyeri
 Manajemen nyeri
- Lakukan pengkajian nyeri
komprehensif yang
meliputi lokasi,
karakteristik, onset/durasi,
frekuensi, kualitas,
intensitas atau beratnya
nyeri dan faktor pencetus.
- Gali pengetahuan dan
kepercayaan pasien
mengenai nyeri.
- Tentukan akibat dari
pengalaman nyeri terhadap
kualitas hidup pasien
(misalnya, tidur, nafsu
amkan, pengertian,
perasaan, hubungan,
performa kerja dan
tanggung jawab peran).
- Gali bersama pasien
faktor-faktor yang dapat
menurunkan atau
memperberat nyeri.
- Berikan informasi
mengenai nyeri seperti
penyebab nyeri, berapa
lama nyeri akan dirasakan,
dan antisipasi dari
ketidaknyamanan akibat
prosedur.
- Kurangi atau eliminasi
faktor-faktor yang dapat
mencetuskan atau
meningkatkan nyeri
(misalnya, ketakutan,
kelelahan, keadaan
menonton dan kurang
pengetahuan).
- Ajarkan prinsip-prinsip
manajemen nyeri.
- Dorong pasien untuk
memonitor nyeri dan
menangani nyerinya
dengan tepat.
- Ajarkan penggunaan
teknik non farmakologi
(seperti biofeedback,
TENS, hypnosis, relaksasi,
bimbingan antisipatif,
terapi music, terapi
bermain, terapi aktivitas,
akupressur, aplikasi
panas/dingin dan pijatan,
sebelum, sesudah dan jika
memungkinkan, ketika
melakukan aktivitas yang
menimbulkan nyeri
sebelum nyeri terjadi atau
meningkat, dan bersamaan
dengan tindakan penurun
rasa nyeri lainnya).
 Monitor tanda-tanda vital
- Monitor tekanan darah,
nadi, suhu, dan status
pernapasan dengan tepat.
- Monitor tekanan darah
setelah pasien minum obat
jika memungkinkan.
- Monitor tekanan darah,
denyut nadi, dan
pernapasan sebelum,
selama, dan setelah
beraktivitaas dengan tepat.
- Monitor keberadaan dan
kualitas nadi.
- Monitor irama dan tekanan
jantung.
- Identifikasi kemungkinan
penyebab perubahan
tanda-tanda vital.
2. Domain 2: Nutrisi, Setelah dilakukan  Manajemen Nutrisi :
Kelas 1: Makan tindakan keperawatan - Tentukan jumlah kalori
Ketidakseimbangan selama 3 x 24 dan jenis nutrisi yang
nutrisi: kurang dari jam,diharapkan nutrisi dibutuhkan untuk
kebutuhan tubuh klien dapat terpenuhi. memenuhi persyaratan
berhubungan dengan Dengan kriteria hasil: asupan gizi
ketidakmampuan  Status Nutrisi : - Anjurkan dan berikan
mengabsorbsi Asupan Nutrisi informasi pada pasien
nutrien (00002) - Dapat asupan terkait dengan kebutuhan
karbohidrat makanan tertentu
Batasan karakteristik {normal IMT : berdasarkan
: 18.5 ; 1gr = 4 kkal, perkembangan atau usia.
1. Berat badan 20% 45-50% dari total - Monitor jumlah nutrisi dan
atau lebih di kalori, (akan kandungan kalori.
bawah rentang normal 2x24 jam)} - Kaji kemampuan pasien
berat badan ideal - Dapat asupan untuk mendapatkan nutrisi
2. Penurunan berat protein {normal yang dibutuhkan.
badan dengan IMT : 18,5 ; 1gr=4  Monitor Nutrisi :
asupan makanan kkal, 10-15% dari - Timbang berat badan
adekuat total kalori (akan pasien
normal 2x24jam)} - Monitor kecenderungan
- Kebutuhan vitamin turun dan naiknya berat
larut dalam air : badan
C,B ; vitamin larut - Identifikasi perubahan
dalam lemak : nafsu makan dan aktivitas
A,D,E,K terpenuhi akhir-akhir ini
selama 1x24 jam
- Dapat asupan
mineral (60-70%
dari seluruh BB)
 Nafsu Makan :
- Hasrat/keinginan
untuk makan
meningkat ( 3x1
hari)
- Intake makanan
adekuat sesuai
dengan kebutuhan
tubuh
- Intake nutrisi
adekuat sesuai
dengan kebutuhan
3. Domain 5 : Setelah dilakukan  Peningkatan kesadaran
Persepsi/Kognisi. tindakan keperawatan kesehatan
Kelas 4 Kognisi. selama 3 x 24 jam, - Gunakan komunikasi yang
Defisiensi diharapkan klien sesuai dan jelas
Pengetahuan mendapatkan - Hindari penggunaan
berhubungan dengan pengetahuan tentang akronim/singkatan dan
kurang informasi penyakitnya. Dengan jargon medis
(00126) kriteria hasil: - Berikan pendidikan
Batasan  Pengetahuan : kesehatan satu persatu
Karakteristik: Manajemen atau konseling jika
1. Kurang penyakit kronis memungkinkan.
pengetahuan - Klien dan keluarga - Evaluasi pemahaman
sudah memahami pasien dengan meminta
faktor penyebab dan pasien mengulangi
faktor yang kembali menggunakan
berkontribusi dalam kata-kata sendiri atau
penyakit memperagakan
- Klien dan keluarga keterampilan.
sudah memahami
perjalanan penyakit
- Klien sudah
memahami tanda
dan gejala penyakit.
- Klien sudah
memahami strategi
pencegahan
komplikasi
- Klien dan keluarga
sudah memahami
pentingnya istirahat
yang cukup untuk
pemulihan penyakit.
4. Domain 9 : Setelah dilakukan  Pengurangan kecemasan
Koping/Toleransi tindakan keperawatan - Mendengarkan penyebab
stress. Kelas 2 selama 3 x 24 jam, kecemasan klien dengan
Respons Koping. diharapkan klien dapat penuh perhatian
Ansietas mengontrol rasa - Observasi tanda verbal
berhubungan dengan cemasnya. Dengan dan non verbal dari
perubahan dalam kriteria hasil: kecemasan klien
status kesehatan.  Kontrol kecemasan  Calming tehnique
Batasan - Klien mampu - Menganjurkan keluarga
Karakteristik: mengidentifikasi dan untuk tetap mendampingi
1. Gelisah mengungkapkan klien
2. Insomnia gejala cemas - Mengurangi atau
3. Kesedihan yang - Mengidentifikasi, menghilangkan
mendalam mengungkapkan dan rangsangan yang
menunjukkan tehnik menyebabkan kecemasan
untuk mengontrol pada klien
cemas  Peningkatan koping
- Vital sign dalam batas - Meningkatkan
normal pengetahuan klien
- Postur tubuh, ekspresi mengenai penyakit yang
wajah, bahasa tubuh sedang diderita.
dan tingkat aktivitas - Menginstruksikan klien
menunjukkan untuk menggunakan
berkurangnya tekhnik relaksasi
kecemasan

3.4 Evaluasi
Setelah dilakukan tindakan keperawatan, pasien akan menunjukkan:
1) Secara subjektif melaporkan nyeri berkurang atau dapat diadaptasi
2) Berat badan dan nafsu makan meningkat
3) Klien sudah paham dengan penyakitnya
4) Kecemasan klien berkurang
BAB IV
ASUHAN KEPERAWATAN KASUS

4.1 Kasus
Tn J usia 55 tahun datang ke IRD RSDS bersama istrinya dengan keluhan
nyeri tidak tertahankan dibagian pinggang kanan dengan skala 7 (skala 0-10),
nyeri hilang timbul seperti ditusuk benda tajam, nyeri telah dirasakan klien
semenjak 3 minggu dan semakin memberat seminggu sebelum dibawa ke RS,
klien juga mengatakan kencingnya terdapat darah selama 3hari terakhir. Klien
dilakukan anamnesa klien mengatakan mengonsumsi rokok selama 30 tahun
sebanyak 20 batang rokok perhari, klien juga bekerja dibagian pertambangan
timah selama 5 tahun terakhir, klien saat ini mengeluh merasa mual muntah
dan tidak nafsu makan, klien tidak dapat beraktivitas karena tubuhnya semakin
lama semakin lemah dan nyerinya yang tidak tertahankan, klien juga memiliki
riwayat hipertensi selama 20 tahun terakhir.Istri klien mengatakan bahwa
dalam 3 minggu terakhir menghabiskan makannya sebanyak ¼ porsi.
Keluarga klien tidak memiliki penyakit seperti klien.Saat dilakukan
pemeriksaan fisik didapatkan massa dibagian pinggang kanan klien disertai
nyeri tekan, klien tampak lemah dan pucat. Berat badan klien telah turun 15
Kg dari sebelum sakit 90 Kg menjadi 75 Kg, IMT 18,5. Saat pengambilan
sampel urine terdapat bercak darah dalam urin klien. TTV S: 37,3⁰C, TD:
170/110 mmHg, nadi: 95 x/menit, RR: 22 x/menit. Pemeriksaan laboratorium
didapatkan Hb: 7,5 g/dl, kreatinin 2,5 mg/dl, Kalsium 12 mEq/L. CT Scan foto
polos nampak terdapat perkembangan sel abnormal yang tidak simetris pada
ginjal. Diagnosa medis Renal Cell Carcinoma (kanker ginjal).

4.2 Pengkajian
A. Anamnesa
a. Identitas Klien
Nama : Tn J
Usia : 55 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : Pertambangan timah
Agama : Islam
Alamat : Surabaya
No. Register : 1315111330xx
Diagnosa medis : Renal Cell Carcinoma (kanker ginjal)
b. Keluhan utama
Tn. J mengeluh nyeri tidak tertahankan dibagian pinggang kanan, serta
lemah
c. Riwayat kesehatan sekarang
Klien mengeluh nyeri tidak tertahankan dibagian pinggang kanan
dengan skala 8 (skala 0-10), nyeri hilang timbul seperti ditusuk benda
tajam, nyeri telah dirasakan klien semenjak 3 minggu dan semakin
memberat seminggu sebelum dibawa ke RS, klien juga mengatakan
kencingnya terdapat darah selama 3 hari terakhir.Klien mengeluh
merasa mual muntah dan tidak nafsu makan, klien tidak dapat
beraktivitas karena tubuhnya semakin lama semakin lemah dan
nyerinya yang tidak tertahankan, klien juga memiliki riwayat hipertensi
selama 20 tahun terakhir.
d. Riwayat penyakit dahulu
Tidak terdapat riwayat penyakit terdahului yang berhubungan dengan
penyakit saat ini.
e. Riwayat keluarga
Tidak ada keluarga yang pernah menderita penyakit sama seperti klien
f. Riwayat aktivitas sehari-hari
Klien bekerja di pertambangan timah selama 5 tahun terakhir. Klien
juga mengonsumsi rokok sebanyak 20 batang rokok perhari selam 30
tahun.
B. Pemeriksaan Fisik
1) B1 (Breathing)
RR: 22 x/menit
2) B2 (Blood)
TD: 170/110 mmHg, suhu: 37,3oC, nadi: 95 x/menit.
3) B3 (Brain)
Tidak ada keluhan
4) B4 (Bladder)
Terdapat massa dibagian pinggang kanan dengan nyeri tekan.
5) B5 (Bowel)
Berat badan turun sebanyak 15 kg dalam 3 minggu ini, IMT 18,5.
6) B6 (Bone)
Tn J nampak lemah dan pucat
C. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium didapatkan Hb: 7,5 g/dl, kreatinin 2,5 mg/dl,
Kalsium 12 mEq/L. CT Scan foto polos nampak terdapat perkembangan
sel abnormal yang tidak simetris pada ginjal.
D. Analisa Data
No. Data Etiologi Masalah
Keperawatan
1. DS: Ca ginjal Nyeri akut
- Klien mengeluh
nyeri tidak ↓
tertahankan
Kerusakan struktur
dibagian pinggang
fungsional ginjal
kanan dengan
skala 7 (skala 0- ↓
10), nyeri hilang
timbul seperti Penekanan sarafdi
ditusuk benda pinggang
tajam
DO: ↓
- Pemeriksaan fisik Nyeri pada bagian
didapatkan massa pinggang
dibagian pinggang
kanan klien ↓
- CT Scan foto
polos nampak Nyeri akut
terdapat
perkembangan sel
abnormal yang
tidak simetris
pada ginjal
Data nyeri:
P: nyeri disebabkan
oleh adanya sel
kanker pada ginjal
Q: nyeri hilang timbul
R: nyeri berada pada
pinggang kanan
S: nyeri skla 7 (0-10)
T: nyeri dirasakan 3
minggu ini,
memberat 1
minggu sebelum
ke RS.

2. DS: Ca ginjal Risiko perdarahan


- Klien mengatakan ↓
kencingnya
terdapat bercak Kerusakan struktur
darah dalam 3 hari fungsional ginjal
terakhir

DO:
- Saat pengambilan Penekanan pada
sampel urine pembuluh darah
terdapat bercak
darah dalam urin ↓
klien.
Pembuluh darah
pecah

Hematuria

Risiko perdarahan

3. DS: Ca ginjal Ketidakseimbangan


- Klien mengeluh nutrisi: kurang dari
tidak nafsu makan ↓ kebutuhan tubuh
- Klien mengeluh
Kerusakan struktur
merasa mual
fungsional ginjal
muntah
- Istri klien ↓
mengatakan
bahwa klien Gangguan
hanya keseimbangan
menghabiskan elektrolit
makanannya
sebanyak ¼ porsi. ↓
DO: Mual muntah
- Berat badan klien
menurun 15 Kg ↓
saat sakit sebelum
sakit 90 Kg Penurunan nafsu
menjadi 75 Kg, makan
IMT 18,5.

Data Nutrisi
A: berat badan klien Ketidakseimbangan
turun 15 Kg dalam nutrisi: kurang dari
3 minggu, IMT kebutuhan tubuh
18,5
B: Hb: 7,5 g/dl,
kreatinin 2,5
mg/dl, Kalsium 12
mEq/L
C: klien mengeluh
mual muntah, dan
tidak nafsu makan
D: tidak ada diet yang
dilakukan klien
4.3 Diagnosa Keperawatan
1) Nyeri akut b.d agens cedera biologis (kanker ginjal). Domain 12:
Kenyamanan. Kelas 1: Kenyamanan Fisik (00132).
2) Risiko perdarahan. Domain 11: Keamanan/Perlindungan. Kelas 2:
Cedera Fisik (00206).
3) Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b.d kurang
asupan makanan. Domain 2: Nutrisi. Kelas 1: Makan (00002).
4.4 Intervensi dan Implementasi

MASALAH
NO. NOC NIC JAM IMPLEMENTASI
KEPERAWATAN

1. Domain 12: kenyamanan Setelah dilakukan tindakan Manajemen Nyeri (1400) 07.00 Manajemen Nyeri (1400)
Kelas 1 : kenyamanan fisik keperawatan 3x24 jam, 1) Lakukan pengkajian 1) Melakukan pengkajian nyeri
(00132) diharapkan klien tidak nyeri komprehensif yang komprehensif: lokasi nyeri
Nyeri akut b.d agens cidera mengeluh nyeri dengan meliputi lokasi, dipinggang kanan, karakteristik
biologis kriteria hasil karakteristik, nyeri seperti ditusuk benda tajam,
(kanker ginjal) Kontrol Nyeri (1605) : onset/durasi, frekuensi, onset nyeri hilang timbul, kualitas
Batasan karakteristik: 1) Dapat mengenali kapan kualitas, intensitas, atau nyeri semakin lama semakin
1. Bukti nyeri dengan nyeri terjadi (1-2 hari) beratnya nyeri dan faktor memberat, faktor pencetus nyeri
menggunakan standar 2) Dapat menggunakan pencetus akibat kanker ginjal).
daftar periksa nyeri tindakan pengurangan 2) Tentukan akibat dari 07.15 2) Menentukan akibat dari
untuk pasien yang tidak [nyeri] tanpa analgesik (1- pengalaman nyeri pengalaman nyeri: pengalaman
dapat 2 hari) terhadap kualitas hidup nyeri mengakibatkan pasien tidak
mengungkapkannya 3) Dapat mengenali apa yang pasien (mis., tidur, nafsu nafsu makan, intoleransi aktivitas
2. Ekspresi wajah nyeri terkait dengan gejala nyeri makan, pengertian, 3) Memodifikasi faktor lingkungan:
(kesakitan) (gejala nyeri kanker perasaan hubungan, 06.45 batasi pengunjung, mengatur
3. Perubahan pada ginjal: nyeri pinggang) (1- peforma kerja, dan pencahayaan sesuai dengan
parameter fisiologis 2 hari) tanggung jawab peran) keinginan pasien, jauhkan dari
(tekanan darah) Tingkat nyeri (2102) : 3) Kendalikan faktor suara yang mengganggu pasien,
1) Tidak ada nyeri yang linkungan yang dapat klien mengatakan merasa nyaman
dilaporkan (2-3 hari) mempengaruhi respon dengan modifikasi ruangan yang
2) Tidak ada ekspresi nyeri pasien terhadap telah diberikan
pada wajah (2-3 hari) ketidaknyamanan (mis., 08.00 4) Mengaplikasikan tindakan:
Tanda-Tanda Vital (0802) : suhu ruangan, pemberian Kodein (IV)
1) Suhu tubuh normal {suhu pencahayaan, suara 1mg/KgBB/6jam selama 3 hari,
tubuh normal : 36-37,50C bising). pasien mengatakan nyerinya
(akan normal kembali 4) Pilih dan mereda setelah diberikan terapi
pada waktu 1-2 hari)} implementasikan pengobatan, tidak terdapat efek
2) Tekanan darah sisitolik tindakan yang beragam samping dan komplikasi
{TD sistolik normal : (mis., farmakologi, 09.00 5) Mengedukasi pasien dan keluarga
<120 (akan normal nonfarmakologi, mengenai prinsip-prinsip
kembali pada waktu 1 interpersonal) untuk manajemen nyeri: klien mengerti
hari)} memfasilitasi penurunan dan memahami mengenai prinsip
3) Tekanan darah diastolik nyeri, sesuai dengan manajemen nyeri, klien tampak
{TD diastolik normal : kebutuhan mengaplikasikan prinsip
<80 (akan normal kembali 5) Ajarkan prinsip-prinsip manajemen nyeri yaitu dengan
pada waktu 1 hari)} manajemen nyeri mengompres bagian pinggangnya
Pengetahuan: Manajemen Pemberian Analgesik Pemberian Analgesik (2210)
Nyeri (1843) : (2210) 07.00 1) Menentukan lokasi, karakteristik,
1) Mengetahui faktor-faktor 1) Tentukan lokasi, kualitas, dan keparahan nyeri
penyebab dan faktor yang karakteristik, kualitas, sebelum mengobati pasien: Pasien
berkontribusi (1-2 hari) dan keparahan nyeri
menunjukkan ekspresi nyeri, nyeri
2) Melakukan hipnosis (1-2 sebelum mengobati
hari) pasien. di bagian pinggang kanan,
3) Dapat menyusun strategi 2) Cek adanya riwayat nyerinya hilang timbul dengan
pencegahan nyeri (2-3 alergi obat. durasi 10 menit
hari) 3) Monitar tanda vital 06.45 2) Melakukan cek alergi: hasilnya
sebelum dan setelah pasien tidak menunjukkan gejala
memberikan analgesik alergi pada obat
narkotik pada pemberian 08.00 3) Memantau tanda-tanda vital: TD:
dosis pertama kali atau 150/100 mmHg, Nadi 100x/menit,
jika ditemukan tanda-
RR: 22x/menit
tanda yang tidak
biasanya.
2. Domain 11: Setelah dilakukan tindakan Pencegahan perdarahan Pencegahan perdarahan (4010)
Keamanan/Perlindungan. keperawatan 3x24 jam, (4010) 08.00 1) Mengkaji warna urine klien
Kelas 2: Cedera Fisik diharapkan risiko perdarahan 1) Monitor dengan ketat Hasil: Masih terlihat adanya darah
(00206). tidak ada dengan kriteria resiko terjadinya pada urine
hasil perdarahan pada pasien 09.00 2) Melakukan pemeriksaan darah
Risiko perdarahan Keparahan kehilangan 2) Catat nilai hemoglobin lengkap pada klien
darah (0413) dan hematocrit sebelum Hasil:
1) Tidak ada kehilangan dan setelah pasien Hb= 7,6 g/dL
darah yang terlihat kehilangan darah sesuai 08.15 Hc= 40%
2) Hematuria tidak ada (akan indikasi 3) Melakukan pemeriksaan TTV pada
normal kembali pada 2-3 3) Monitor tanda-tanda klien. Hasil:
hari) vital ortostatik, termasuk TD= 150/100 mmHg
3) Penurunan Hb tidak ada tekanan darah RR= 22 x/ menit
(akan kembali normal 4) Instruksikan pasien N= 90 x/menit
pada 1-2hari) untuk meningkatkan S= 37°C
Pengetahuan: manajemen makanan yang kaya 08.30 4) Memberi edukasi pada klien untuk
kanker (1833) vitamin K makan makanan yang kaya vit K,
1) Klien memahami tanda Pengurangan perdarahan seperti: brokoli, bayam, alpukat,
dan gejala kanker (1-2 (4029) stroberi
hari) 1) Monitor jumlah dan sifat Pengurangan perdarahan (4029)
2) Klien mengerti mengenai kehilangan darah 08.00 1) Memantau jumlah dan sifat
tanda dan gejala 2) Instruksikan pasien dan kehilangan darah pada klien
kekambuhan (1-2 hari) keluarga akan tanda- 2) Hasil: Klien mengalami hematuria,
3) Klien mengerti efek tanda perdarahan dan sebagai efek dari Ca Kidney.
terapeutik obat (1-2 hari) tindakan yang tepat Jumlah eksresi urine/ 24 jam
4) Klien mengerti efek (yaitu meberitahu adalah 1200 cc, biasanya berwarna
samping obat (1-2 hari) perawat) bila perdarahan kuning kemerahan akibat
lebih lanjut terjadi bercampur darah
Manajemen obat 08.30 3) Memberikan edukasi pada klien
1) Monitor efek samping dan keluarga mengenai tanda
obat perdarahan yang berlanjut, seperti
2) Pantau kepatuhan klien terlihat lemas, darah di urine
mengenai regimen obat semakin banyak. Jika terdapat
tanda tersebut untuk segera
menghubungi perawat.
4) Respon klien: Klien serta keluarga
memahami penjelasan perawat
Manajemen obat
09.00 1) Mendampingi pasien setelah
meminum obat.
09.00 2) Mendampingi pasien selama dan
setelah minum obat, serta
memastikan pasien menelan
obatnya
3. Domain 2. Nutrisi. Kelas 1. Setelah dilakukan tindakan Manajemen nutrisi (1100) 07.00 Manajemen nutrisi (1100)
Makan keperawatan 2x24 jam, 1) Tentukan status gizi 1) Memberikan makanan pada
diharapkan nutrisi klien pasien dan kemampuan pasien: Bubur ayam tanpa bumbu
Ketidakseimbangan nutrisi: terpenuhi dengan kriteria pasien untuk memenuhi kuning saring, Telur rebus matang
kurang dari kebutuhan hasil kebutuhan gizi (kalori dan Susu
07.45
tubuh b.d kurang asupan Status Nutrisi (1004) 600-1200kcal/hari, 1,5 2) (pasien hanya habis setengah
makanan (00002) 1) Asupan Gizi terpenuhi (1- sampai 2gm protein / 06.45 porsi).
Batasan karakteristik : 2 hari) kg / berat badan / hari, 3) Memberi obat-obatan sebelum
a. Berat badan 20% atau 2) Asupan Makanan makanan rendah serat) makan sesuai intruksi dokter:
lebih di bawah rentang terpenuhi (1-2 hari) 2) Beri obat-obatan antiemetic dan pasien sudah
berat badan ideal. 3) Rasio berat badan kembali sebelum makan sesuai minum obat dengan patuh
b. Kurang minat pada normal (2-3 hari) dengan resep dokter 06.30 4) Menciptakan lingkungan yang
makanan Tingkat ketidaknyamanan 3) Ciptakan lingkungan optimal: bersih berventilasi, santai,
(2109) yang optimal pada saat dan bebas daribau yang menyengat
1) Kehilangan nafsu makan mengonsumsi makan 5) Mengkaji kecenderungan
tidak ada (1-2 hari) 4) Monitor kecenderungan 09.00 terjadinya penurunan dan
2) Mual tidak ada (1 hari) terjadinya penurunan peningkatan berat badan:
3) Muntah tidak ada (1 hari) dan kenaikan berat menimbang berat badan klien,
Nafsu makan (1014) badan. klien mengaku nafsu makan
1) Hasrat/keinginan untuk Bantuan Peningkatan membaik, BB klien bertambah 300
makan tidak ada Berat Badan (1240) gram
gangguan (1-2 hari) 1) Monitor mual muntah Bantuan Peningkatan Berat Badan
2) Intake makanan tidak 2) Dukung peningkatan (1240)
terganggu (1-2 hari) asupan kalori. 09.15 1) Melihat adanya mual muntah
3) Rangsangan untuk makan 3) Sediakan variasi (Pasien sudah tidak mengalami
tidak ada gangguan (1-2 makanan yang tinggi mual muntah saat makan)
hari) kalori dan bernutrisi 2) Mendukung peningkatan asupan
tinggi. kalori (memfasilitasi peningkatan
asupan kalori klien dengan
09.45 berkolaborasi dengan ahli gizi)
3) Mengidentifikasi perubahan nafsu
makan dan aktivitas-aktivitas akhir
ini (pasien sudah mulai nafsu
makan).
5) Evaluasi
1. Nyeri akut b.d agens cidera biologis (kanker ginjal)
S: - Klien mengatakan dapat mengenali kapan nyeri terjadi
-Klien dapat menggunakan tindakan pengurangan nyeri tana analgesik
-Klien dapat mengenali apa yang terkait dengan gejala nyeri
-Klien dapat menyusun strategi pencegahan nyeri
-Klien mengatakan nyerinya berkurang 6 (0-10)
O : - Suhu tubuh klien 37,2⁰C
- Tekanan darah 150/100 mmHg
- Ekspresi wajah klien menyeringai menunjukkan menahan rasa nyeri.
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi no.1

2. Risiko perdarahan
S : - Klien mengatakan masih terdapat bercak darah dalam urinnya
tetapi sedikit berkurang
- Klien mengatakan telah mengetahui tanda dan gejala kanker
- Kekambuhan kanker
- Efek terapeutik serta efek samping obat.
O : - Dalam urin klien masih nampak bercak darah
- Klien mengikuti rejimen obat dengan baik
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi no. 2

3. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b.d kurang


asupan makanan
S : - Klien mengatakan nafsu makannya meningkat
- Klien masih merasakan mual muntah.
O : Rasio berat badan naik sebanyak 300 gram.
A : masalah belum teratasi
P : lanjutkan intervensi no. 3

BAB V
KESIMPULAN

Kanker ginjal adalah penyakit dimana sel ginjal menjadi ganas (kanker)
dan tumbuh tidak terkendali membentuk tumor. Penyebab pasti belum diketahui,
tetapi ada beberapa faktor lingkungan dan genetik yang menjadi faktor resiko
terbentuknya karsinoma sel ginjal.
Tanda tanda kanker ginjal meliputi gatal dan ruam, tubuh menjadi
kedinginan dan menggigil, timbul sesak nafas, urine penderita berpenyakit ginjal
biasanya berubah, sakit pinggang, bau mulut dan keringat yang tidak enak,
pembengkakan kaki tangan muka, nyeri pada bagian tubuh dan tanda spesifik lain.
Penganganan pada kanker ginjal yaitu operasi, arterial embolization, terapi
radiasi, terapi biologis, kemoterapi, nutrisi, nefroktomi radikal.
Komplikasi yang dapat muncul adalah metastase yang kuat ke berbagai
organ meliputi paru, hati, otak, dan tulang. Asuhan keperawatan pada klien
dengan kanker ginjal ditegakkan untuk mengurangi derajat keparahan penyakit
dan komplikasi yang mungkin terjadi.

DAFTAR PUSTAKA

American Cancer Society. 2014. Kidney Cancer (Adult) – Renal Cell Carcinoma.
http://www.cancer.org/acs/groups/cid/documents/webcontent/003107-
pdf.pdf diakses pada 26 Februari 2018.
Aspirani, Y. Reny. 2015. Buku Ajar Keperawatan pada Klien dengan Gangguan
Sistem Perkemihan, Aplikasi NANDA NIC dan NOC. Jakarta: Trans Info
Media.
Baradero, et all. 2008. Klien Gangguan Ginjal: Seri Asuhan Keperawatan.
Jakarta: EGC.
Black, M. Joyce. 2014. Keperawatan Medikal Bedah, Ed. 8. Singapore: Elseveir
Heather, T Herdman.“Nursing Diagnoses : Definition & Classification 2015-
2017”.Jakarta: EGC.
Laba, Yunita Susana. 2018. Makalah Kanker Ginjal. KUPDF
Nursalam dan Fransisca N. Batticaca. 2006. Asuhan Keperawatan pada Pasien de
ngan Ganguan Perkemihan. Jakarta: Salemba Medika.
Otto, S.E. 2005. Buku Saku Keperawatan Onkologi. Jakarta: EGC.
Schwarts, S.I. 2000. Intisari Prinsip-prinsip Ilmu Bedah. Jakarta : EGC
Sing. HealthGroup.2014. Diambil dari:
https://www.singhealth.com.sg/PatientCare/Overseas-
Referral/bh/Conditions/Pages/kidney-cancer-surgery.aspx. (25 Februari 2018)
Soleha. Yulianti.2018. Kanker Ginjal . Diambil dari:
https://faktakanker.com/kanker-ginjal. (26 Februari 2018)
Surharyanto, Toto dan Abdul Madjid, 2009 . Asuhan Keperawatan pada Klien
dengan Gangguan Sistem Perkemihan. Jakarta: TIM
Tiffany,Anita.2018. Kanker Ginjal. Diambil dari:
https://kankere.com/article/content/kanker-ginjal-31. (26 Februari 2018).
Web MD LLC. 2018. Diambil dari:
https://www.webmd.com/cancer/understanding-kidney-cancer#3. (25 Februari
2018)
Williams, Lippincott et all. 2011. Nursing: Memahami berbagai macam penyakit.
Jakarta: Jurnal Nursing.