Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Posisi ternak kambing cukup penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia,


baik dalam kehidupan sosial, ekonomi maupun keagamaan. Sehubungan dengan itu
diperlukan upaya untuk mendorong secara terus menerus dan terencana
pengembangan dan peningkatan produksi dan populasi kambing secara nasional.
Upaya pengembangan ini seharusnya memperhatikan potensi daya dukung terhadap
input produksi terutama hijauan pakan ternak yang merupakan sumber pakan penting
bagi ternak ruminansia. Salah satu upaya yang dapat ditempuh adalah dengan
mengembangkan tanaman pakan ternak jenis leguminosa pohon.
Salah satu faktor penentu keberhasilan suatu usaha peternakan adalah pakan,
selain faktor genetik dan manajemen peternakan itu sendiri. Pemberian bahan pakan
yang tidak sesuai dengan kebutuhan ternak, baik dari segi kualitas maupun
kuantitasnya akan berdampak terhadap penampilan produksi ternak.
Indigofera merupakan salah satu leguminosa pohon yang potensial untuk
pakan ternak ruminansia seperti kambing. Leguminosa pohon ini memiliki
prodiktivitas yang tinggi dan kandungan nutrien yang cukup baik, terutama
kandungan proteinnya yang tinggi. Tanaman ini dapat dimanfaatkan sebagai pakan
ternak yang kaya akan nitrogen, posfor, kalium dan kalsium.
Akbarillah et al. (2002) melaporkan nilai nutrisi tepung daun indigofera
adalah sebagai berikut: protein kasar 27,97%; serat kasar 15,25%, Ca 0,22% dan P
0,18%. Selanjutnya disebutkan bahwa sebagai sumber protein, tepung daun
Indigofera mengandung pigmen yang cukup tinggi seperti xantofil dan carotenoid.
Daun sengon (Albazia falcataria) sebagai sumber suplemen protein pakan
untuk ternak ruminansia cukup tinggi. Berdasarkan karakteristik degradasinya,
tanaman ini mampu menyediakan N-NH3 yang cukup tinggi di rumen serta
berpotensi menyediakan by pass protein yang cukup (Afzalani dkk, 1998).

1
Produksi VFA (Volatile Fatty Acid) akan meningkat seiring dengan
meningkatnya protein pakan. Semakin tinggi protein dalam ransum maka amonia dan
VFA yang dihasilkan akan semakin meningkat. Amonia akan digunakan oleh
mikroba rumen untuk membangun tubuhnya, sehingga aktivitas mikroba dalam
proses fermentasi ransum yang masuk diharapkan dapat menghasilkan peningkatan
VFA (Tillman dkk, 1991). Pemberian pakan berserat kasar rendah dan banyak
mengandung karbohidrat mudah tercerna akan cenderung menurunkan konsentrasi
VFA dan menurunkan pH cairan rumen, akibatnya aktivitas dari bakteri selulolitik
menjadi menurun (Asri, 2011).
Penambahan daun sengon diharapkan mampu memproteksi protein yang
terdapat dalam indigofera agar tidak terdegradasi di dalam rumen dan dapat diserap di
usus halus. Berdasarkan hal di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian
tentang Peningkatan Produktivitas Kambing Peranakan Etawa pada Penambahan
Daun sengon sebagai protease inhibitor protein Indigofera

1.2 Rumusan Masalah

Dalam penerapan pakan suplemen berbasis Indigofera pada Kambing


Peranakan Etawa sudah baik diaplikasikan untuk usaha peternakan. Namun, dalam
proses pencernaannya protein by pass yang dihasilkan dari Indigofera yang diberikan
masih sedikit. Penambahan daun sengon dalam konmstrat ini diharapkan mampu
meningkatkan efisiensi protein yang terdegradasi di dalam rumen, sehingga menjadi
protein by pass

1.3 Hipotesis

Salah satu cara mengetetahui peningkatan produktivitas kambing PE adalah


melalui kadar VFA rumen, amonia, dan gas metan. Penambahan daun sengon dalam
ransum dapat meningkatkan produktivitas kambing PE, sehingga hipotesis pada
penelitian ini adalah :
1. Penambahan daun Sengon dalam konsentrat hijau Indigofera meningkatkan
kadar VFA rumen Kambing Peranakan Ettawa

2
2. Penambahan daun Sengon dalam konsentrat hijau Indigofera meningkatkan
kadar Ammonia rumen Kambing Peranakan Ettawa
3. Penambahan daun Sengon dalam konsentrat hijau Indigofera menurunkan
kadar gas Metan rumen Kambing Peranakan Ettawa

1.4 Tujuan Penelitian

Tujuan dilakukan penelitian ini adalah :


1. Untuk melihat pengaruh penambahan daun Sengon dalam konsentrat hijau
Indigofera dalam meningkatkan kadar VFA rumen Kambing Peranakan
Ettawa
2. Untuk melihat pengaruh penambahan daun Sengon dalam konsentrat hijau
Indigofera dalam meningkatkan kadar Ammonia rumen Kambing Peranakan
Ettawa
3. Untuk melihat pengaruh penambahan daun Sengon dalam konsentrat hijau
Indigofera dalam menurunkan kadar gas Metan rumen Kambing Peranakan
Ettawa

1.5 Manfaat Penelitian

Manfaat dalam penelitian ini adalah :


1. Memberikan informasi mengenai pemanfaatan daun sengon sebagai pakan
yang berkualitas untuk ternak ruminansia
2. Mengetahui pengaruh daun Sengon sebagai bahan pakan tambahan
berkualitas dalam konsentrat hijau pakan ternak
3. Mengetahui aplikasi tannin sebagai binding protein pakan dalam rumen ternak
ruminansia.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kambing Peranakan Ettawa

Kambing Peranakan Etawah (PE) adalah kambing hasil persilangan antara


kambing kacang atau kambing jawarandu dan kambing etawah. Hasil persilangan ini
mengakibatkan bentuk tubuhnya berada di antara kambing etawah dan kambing
kacang.
Kambing Peranakan Etawah (PE) merupakan kambing unggul dwiguna yakni
penghasil daging dan susu. Produksi susu kambing Peranakan Etawah masih
fluktuatif dari waktu ke waktu.
Karakteristik kambing Peranakan Etawah(PE) menurut Markel dan
Subandryo (1997) adalah kuping menggantung ke bawah dengan panjang 18-19 cm,
tinggi badan antara 75-100 cm, bobot jantan sekitar 40 kg dan betina sekitar 35 kg.
Tetapi dengan pakan kualitas bagus bobot ternak ini dapat mencapai 80 kg.Kambing
PE jantan berbulu di bagian atas dan bawah leher, rambut pundak dan paha belakang
lebih lebat dan panjang.Kambing PE betina memiliki rambut panjang hanya pada
bagian paha belakang.Warna rambut kambing PE terdiri atas kombinasi coklat
sampai hitam atau abu-abu dan muka cembung (Hardjosubroto, 1994). Ciri khas dari
kambing Peranakan Etawah adalah pada bentuk mukanya yang cembung, bertelinga
panjang yang mengglambir, postur tubuh tinggi.

2.2 Indigofera sp

Tanaman Indigofera spp. adalah salah satu genus legum pohon terbesar
dengan perkiraan 700 spesies, 45 jenis tersebar diseluruh wilayah tropis (Schrire
2005). Spesies Indigofera kebanyakan berupa semak meskipun ada beberapa yang
herba, dan beberapa lainnya membentuk pohon kecil dengan tinggi mencapai 5
sampai 6 meter. Ciri tanaman Indigofera memiliki daun yang menyirip dengan
ukuran 3-25 cm, dengan bunga kecil berbentuk raceme dengan ukuran panjang 2-15
cm. Tanaman Indigofera sp. dapat beradaptasi tinggi pada kisaran lingkungan yang

4
luas, dan memiliki berbagai macam morfologi dan sifat agronomi yang sangat
penting terhadap penggunaannya sebagai hijauan dan tanaman penutup tanah (cover
crops) (Hassen et al. 2006).

2.3 Produksi Amonia (NH3)

Konsentrasi amonia ditentukan oleh tingkat protein pakan yang dikonsumsi,


derajat degradibilitasnya, lama pakan di dalam rumen, dan pH rumen. Peningkatan
populasi mikroba sangat menguntungkan bagi hewan ternak. Selain meningkatkan
kecernaan pakan di dalam rumen, ternak juga akan mendapat pasokan protein
mikroba yang telah mati dan mengalir ke usus. Produksi amonia yang dapat
memenuhi kebutuhan tidak akan merugikan sintesis mikroba rumen. Sebaliknya, jika
produksi amonia rendah, akan mempengaruhi produksi sintesis mikroba rumen
(Moante dkk, 2004). Kadar NH3 cairan rumen tergantung pada jumlah dan sifat
protein bahan pakan yang dikonsumsi (Ando dkk, 2013).

2.4 Produksi Volatile Fatty Acid (VFA)

Fermentasi karbohidrat di dalam rumen untuk membentuk Volatil Fatty Acid


(VFA) atau asam lemak terbang menghasilkan kerangka karbon (C) untuk sintesis sel
mikroba dan membebaskan sejumlah energi dalam bentuk Adenosin Tri Phospat
(ATP), CO2 (Karbon dioksida), dan CH4 (gas metan). Energi dalam bentuk ATP
digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok dan pertumbuhan mikroba
rumen. Proses pencernaan karbohidrat di dalam rumen ternak ruminansia akan
menghasilkan energi berupa VFA yang terdiri atas asam asetat, propionat, butirat,
valerat, dan format. Perbandingan asam-asam lemak atsiri di dalam rumen berkisar
antara 50--70% asetat, 17--21% propionat, 14--20% butirat, valerat dan format hanya
terbentuk dalam jumlah kecil ( Arora, 1995).

5
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

2.1 Waktu dan Tempat

Penelitian dilakukan selama 45 hari dan koleksi data setelah 28 hari


pemeliharaan bertempat di Kandang dan Laboratorium Fakultas Peternakan
Universitas Jambi.

2.2 Materi Penelitian

Materi penelitian adalah cairan rumen kambing PE yang telah diberikan pakan
perlakukan,indikator metil red, larutan Borat, cawan conway, tabung tempat cairan
rumen, buret, alat destilasi, labu erlenmeyer, gelas ukur, pipet, plastik, dan glass
syringe.

2.3 Prosedur Penelitian

Rancangan Penelitian

Penelitian dilakukan pada 20 ekor kambing PE bobot 12 kg dengan


menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 4 perlakuan 5 ulangan.
Kambing-kambing tersebut diletakkan pada 20 kandang individual. Empat perlakuan
pakan dengan imbangan hijuan konsentrat 60:40. Dalam konsentrat ditambahkan
sengon sebagai sumber tannin untuk menjadi proteksi protein dari Indigofera sp yang
terdiri dari 4 (empat) level yaitu R1 = tanpa daun sengon, R2 = 2% daun sengon, R3
= 4% daun sengon, dan R4 = 6% daun sengon, tiap perlakuan terdiri atas 5 ulangan.
Hijauan yang diberikan berupa rumput-rumput alam dan konsentrat berupa 20%
konsentrat hijau (Indigofera) dan 80% konsentrat konvensional sehingga pemberian
pakan setiap hari akan berkomposisi sebagai berikut:
R1: 60% Rumput alam + 40% konsentrat + 0% daun sengon
R2: 60% Rumput alam + 40% konsentrat + 2% daun sengon
R3: 60% Rumput alam + 40% konsentrat + 4% daun sengon
R4: 60% Rumput alam + 40% konsentrat + 6% daun sengon

6
Pelaksanaan Penelitian

Penelitian dibagi selang waktu yaitu : adaptasi selama 7 hari dan pemeliharaan
selama 45 hari. Pengamatan dan koleksi data dilakukan terhadap kadar VFA,
ammonia, dan gas metan dalam rumen di Laboratorium.

Analisis Kadar VFA

Produksi asam lemak terbang (VFA) cairan rumen dapat diukur dengan
metode
destilasi uap (Muhtarudin dkk, 2002). Cairan rumen di centrifuge pada kecepatan
8000 rpm selama 10 menit pada suhu 40C, kemudian dipisahkan antara supernatan
dan endapan. Ambil supernatan cairan rumen sebanyak 5 ml menggunakan spet, lalu
dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer. kemudian tambahkan H2SO4 15% sebanyak 1
ml dan menutup labu erlenmeyer yang telah dirangkai dengan alat destilasi uap.
Larutan H2SO4 akan mendesak VFA, sehingga VFA akan menguap dibawa oleh uap
panas. Selanjutnya uap panas dan VFA setelah melewati tabung pendingin akan
terkondensasi dan ditampung dalam erlenmeyer yang berisi 5 ml NaOH 0,5 N.
Hentikan proses destilasi jika labu erlenmeyer mencapai volume 150 ml. Selanjutnya
diteteskan 2-3 tetes indikator fenolptalein ke dalam labu erlenmeyer dan dititrasi
dengan larutan HCL 0,5 N sampai terjadi perubahan warna dari merah jambu
menjadi tidak berwarna lagi. Selanjutnya Hitung kadar VFA cairan rumen dengan
rumus sebagai berikut :
VFA Total = (b-s) x N HCL x 1000/5 Mm
Keterangan =
b : volume titran blangko
s : volume titran sampel
N : normalitas larutan HCL

Analisis Amonia

Analisis produksi NH3 dilakukan dengan menggunakan teknik mikrodifusi


conway. Cawan Conway dan tutupnya diolesi bagian tepi dengan vaselin. Bagian

7
tengah cawan dimasukkan 1 ml asam borat dan 1 tetes indikator campuran metil
merah dan bromkreso hijau. Sisi kiri cawan dimasukkan 1 ml supernatan dan 1 ml
larutan sodium karbonat (NaCO3) jenuh dimasukkan pada sisi kanan. Cawan ditutup
dan digoyang secara perlahan agar larutan supernatan dan sodium karbonat tercampur
secara homogen, kemudian didiamkan selama 24 jam pada suhu kamar. Setelah 24
jam cawan dibuka dan kemudian dilakukan titrasi dengan menggunakan H2SO4
0,0055 N sampai terjadi perubahan warna ungu menjadi merah muda.
Perhitungan produksi amonia:
NH3 = (ml H2SO4 titrasi x N H2SO4 x 1000) mM

Keterangan :
NH3 = Produksi NH3 yang diperoleh
N H2SO4 = Normalitas larutan H2SO4

Analisis Data

Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam pola rancangan acak
kelompok, bila analisis sidik ragam nyata pada P<0,05 dilanjutkan dengan uji Duncan
(Steel & Torrie, 1993).