Anda di halaman 1dari 18

TUGAS MIKROBIOLOGI DAN PARASITOLOGI DALAM

KEPERAWATAN REKAYASA GENETIKA PADA KANKER

MAKALAH

oleh
KELOMPOK 4
1. Riska Indah Permatasari NIM 152310101148
2. Kezia Ria Kristanti NIM 152310101157
3. Regitasari Dwi Cahyani NIM 152310101180
4. Wahyu Adinda Yuli.P NIM 152310101186
5. Bayu Anggara Purba.W NIM 152310101187
6. Qothrun Nada Arifin NIM 152310101214
7. Nunung Ratna Sari NIM 152310101219
8. Fikri Mahendra P NIM 152310101225
9. Aisyah Imaniar NIM 152310101225
10. Muhammad Ryan Maisur.A NIM 152310101235

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2018

i
TUGAS MIKROBIOLOGI DAN PARASITOLOGI DALAM
KEPERAWATAN REKAYASA GENETIKA PADA KANKER

diajukan guna memenuhi tugas Mata Kuliah Mikrobiologi dan Parasitologi dalam
Keperawatan dengan dosen PJMK Ns. Siswoyo, M.Kep.

oleh
KELOMPOK 4
1. Riska Indah Permatasari NIM 152310101148
2. Kezia Ria Kristanti NIM 152310101157
3. Regitasari Dwi Cahyani NIM 152310101180
4. Wahyu Adinda Yuli.P NIM 152310101186
5. Bayu Anggara Purba.W NIM 152310101187
6. Qothrun Nada Arifin NIM 152310101214
7. Nunung Ratna Sari NIM 152310101219
8. Fikri Mahendra P NIM 152310101225
9. Aisyah Imaniar NIM 152310101225
10. Muhammad Ryan Maisur.A NIM 152310101235

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2018

ii
RINGKASAN

Kanker adalah penyakit yang disebabkan oleh pertumbuhan sel-sel


jaringan tubuh yang tumbuh tidak normal dan tidak terkendali sehingga dapat
menyebabkan penyakit kanker. Perkembangan pengetahuan tentang kanker telah
menciptakan pengembangan pendekatan terapi baru dalam pengobatan kanker.
Tujuan dari makalah ini adalah mengetahui rekayasa genetika dan peran perawat
dalam rekayasa genetika khususnya pada penyakit kanker. Rekayasa genetik
merupakan teknik untuk menghasilkan molekul DNA yang berisi gen baru yang
diinginkan atau kombinasi gen-gen baru atau dapat dikatakan sebagai manipulasi
organisme. Rekayasa nanopartiker protein yang terdiri dari apoptin sebagai
temuan baru untuk terapi kanker. Pembentukan model CRC berdasarkan
transplantasi orthotopic organoids tumor usus manusia yang mengarah pada
perkembangan tumor kolorektal spontan yang menyebar ke tempat lain. Dalam
masalah ini perawat memiliki peran yang sangat penting agar proses
penyembuhan pasien bisa berlangsung lancar dalam. Perawat juga bisa berperan
menjadi konsultan, peran kolaborator, dan peran fasilitator.

iii
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN SAMPUL ............................................................................. i


RINGKASAN ........................................................................................... iii
DAFTAR ISI ............................................................................................ iv
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .................................................................... 1
1.2 Tujuan .................................................................................. 2

BAB 2. Tinjauan Teori


2.1 Definisi Rekayasa Genetika ................................................ 3
2.2 Fokus Kajian Rekayasa Genetika ..................................... 4
BAB 3. Peran Perawat Dalam Rekayasa Genetika
3.1 Peran Perawat dalam Rekayasa Genetika ......................... 8

BAB 4. Kesimpulan dan Saran


4.1 Kesimpulan ........................................................................... 11
4.2 Saran ..................................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................. 12
LAMPIRAN ............................................................................................. 13

iv
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kanker adalah penyakit yang disebabkan oleh pertumbuhan sel-sel


jaringan tubuh yang tumbuh tidak normal dan tidak terkendali sehingga dapat
menyebabkan penyakit kanker. Selanjutnya kanker yang abnormal tersebut akan
masuk ke jaringan sekitar dan menyebar melalui jaringan ikat dan darah. Kanker
dapat disebabkan oleh faktor genetik maupun lingkungan. Jenis kanker dapat
dibedakan berdasarkan jaringan yang berkembang.
Kanker merupakan penyakit yang mematikan dan penyebab utama
kematian dinegara industri dan penyebab kedua kematian dinegara berkembang
(Jemal A. Et all, 2011). sebanyak 12,7 kasus baru kanker dilaporkan setiap tahun
dengan angka kematian 7,6 juta diseluruh dunia (Al-Dimassi S. et all, 2014).
Perkembangan pengetahuan tentang kanker telah menciptakan
pengembangan pendekatan terapi baru dalam pengobatan kanker. Kanker
merupakan penyakit mutasi gen, sehingga terapi gen atau rekayasa gen tentu
efektif untuk mengobati kanker (Amer, 2015). Terapi gen atau rekayasa gen
merupakan prosedur yang dimaksudkan untuk mengobati atau meringankan
penyakit dengan memodifikasi secara genetik sel dari pasien (Tatum El, 1996).
Akhir-akhir ini, penyakit-penyakit target untuk terapi gen telah meluas dari
kelainan metabolik maligna menjadi tumor-tumor maligna yang tidak dapat
disembuhkan oleh pengobatan yang ada dan bahkan penyakit tumor jinak kronis
yang menyebabkan penurunan kualitas hidup.
Berbagai metode yang telah dicoba digunakan dalam pengiriman gen-gen
kedalam sel-sel target pada terapi gen kanker adalah dengan menggunakan virus,
liposom, dan nanosphere, penyuntikan DNA langsung. Terapi gen untuk kanker
payudara meliputi penggantian gen supresor tumor dan terapi antionkogen.
Sedangkan terapi gen untuk kanker paru-paru dan kanker kepala dan leher
dilakukan melalui penggantian gen supresor tumor p53 dengan menggunakan
vektor retrovirus LTRp53A, adenovirus Adp53 dan virus Onyx-015 yang sedang
dalam tahap uji klinis (Teresa, 2005).

1
Oleh karena itu terapi gen atau rekayasa genetika untuk mengobati kanker
didasarkan pada koreksi kecepatan pertumbuhan, kontrol kematian sel, dan
membuat sisten imun membunuh sel-sel kanker.
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan umum
Tujuan umum dalam makalah ini adalah mengetahui rekayasa genetika
dan peran perawat dalam rekayasa genetika.
1.2.1 Tujuan Khusus
Tujuan khusus dalam makalah ini meliputi :
1. Untuk mengetahui apa itu rekayasa genetika
2. Untuk mengetahui fokus kajian rekayasa genetika
3. Untuk mengetahui peran perawat dalam rekayasa genetika
4. Untuk memahami bagaimana rekayasa genetika dalam hal kanker/tumor

2
BAB 2. TINJAUAN TEORI

2.1 Definisi Rekayasa Genetika

Rekayasa genetik merupakan teknik untuk menghasilkan molekul DNA


yang berisi gen baru yang diinginkan atau kombinasi gen-gen baru atau dapat
dikatakan sebagai manipulasi organisme. Rekayasa genetika merupakan dasar dari
bioteknologi yang di dalamnya meliputi manipulasi gen, kloning gen, DNA
rekombinan, teknologi modifikasi genetik, dan genetika modern dengan
menggunakan prosedur identifikasi, replikasi, modifikasi dan transfer materi
genetik dari sel, jaringan, maupun organ (Sutarno, 2016). Rekayasa genetika
adalah pencakongkan gen atau rekombinan DNA. Penelitian rekayasa genetika
telah dimulai sejak tahun 1950-an. Bahan genetic DNA memiliki informasi
tentang keturunan (Karmana, 2006). Prinsip dasar teknologi rekayasa genetika
adalah memanipulasi atau melakukan perubahan susunan asam nukleat dari DNA
atau menyelipkan gen baru kedalam struktur DNA organisme penerima. Gen
yang diselipkan dan organisme penerima dapat berasal dari organisme
apa saja. Misalnya, gen dari bakteri bisa diselipkan di
khromosomtanaman, sebaliknya gen tanaman dapat diselipkan pada
khromosom bakteri. Gen seranggadapat diselipkan pada tanaman atau gen
dari babi dapat diselipkan pada bakteri, atau bahkan gen dari manusia dpat
diselipkan pada kromosom bakteri (Anjasari, 2010). Rekayasa genetika terjadi
dibeberapa bidang yaitu (Karmana, 2006):
1. Rekayasa genetika dalam bidang kedokteran
Rekayasa genetika di bidang kedokteran telah berkembang secara pesat,
contohnya pada pembuatan insulin manusia oleh bakteri. Pada penderita diabetes
mellitus dalam menghasilkan hormone insulin cukup kurang, melalui rekayasa
genetika para peneliti berhasil memaksa mikroorganisme untuk menghasilkan
insulin yang sangat mirip insulin yang dihasilkan manusia.
2. Rekayasa genetika dalam bidang farmasi
Keuntungan rekayasa genetika di bidang farmasi yaitu dalam usaha
pembuatan protein yang sangat diperlukan dalam kesehatan, misalnya

3
pecangkokan gen. hasil pencangkokan gen yaitu senyawa-senyawa kecil yang
nantinya dengan dosis kecil dapat memperihatkan pengaruhnya. Misalkan
senyawa untuk penyembuhan luka, protein pengatur, maupun ketenangan hati.
3. Rekayasa genetika dalam bidang pertanian
Keuntungan rekayasa genetika dibidang pertanian misalnya mengganti
pemakaian pupuk nitrogen. Pupuk nitrogen yang mahal dapat diganti dengan
penggunaan bakteri yang dapat fiksasi nitrogen secara alami.
2.2 Fokus Kajian
2.2.1 Pengertian Kanker
Kanker adalah suatu kondisi dimana sel telah kehilangan pengendalian dan
mekanisme normalnya, sehingga dapat mengalami pertumbuhan yang tidak
normal, cepat dan tidak terkendali. Kanker bisa terjadi dari berbagai jaringan
dalam berbagai organ, seperti sel kulit, sel hati, sel darah, sel otak dan sel-sel
tubuh lainnya (Yuliyani, I.D. 2017). Penyakit kanker adalah penyakit akibat
pertumbuhan tidak normal dari sel-sel jaringan tubuh yang berubah menjadi sel
kanker. Dalam perkembangannya, sel-sel kanker ini dapat menyebar ke bagian
tubuh lainnya sehingga dapat menyebabkan kematian. Kanker adalah istilah yang
mencakup sekelompok kompleks lebih dari berbagai jenis penyakit kanker.
Kanker dapat mempengaruhi hampir setiap organ dalam tubuh manusia. Banyak
orang yang baru mengetahui bahwa kanker yang dapat mempengaruhi bagian-
bagian tubuh seperti mata dan jantung. Setiap jenis kanker memiliki penyebab,
gejala, dan metode pengobatan yang berbeda. Seperti kelompok penyakit yang
lain, beberapa jenis kanker ada yang lebih umum daripada yang lain.
2.2.2 Faktor-faktor Penyebab Kanker
Penyeba kanker belum diketahui secara pasti karena merupakan gabungan
dari sekumpulan faktor genetik dan lingkungan. Beberapa faktor yang diduga
mengkatkan resiko penyakit kanker, yaitu (Yuliyani, I.D. 2017):
a. Faktor keturunan atau genetik
Faktor genetik menyebabkan beberapa keluarga memiliki resiko lebih tinggi
untuk menderita kanker tertentu bila dibandingkan dengan keluarga lainnya.
b. Faktor kejiwaan

4
Stress yang berarti dapat menyebabkan gangguan keseimbangan seluler
tubuh.

c. Faktor perilaku
Perilaku yang dimaksud adalah merokok dan mengkonsumsi makanan yang
banyak mengandung lemak dan daging yang diawetkan serta minuman
beralkohol. Perilaku seksual dengan sering berganti-ganti pasangan juga dapat
menjadi faktor penyebab kanker.
d. Faktor makanan
Makanan yang dapat menjadi penyebab terjadinya kanker, terutama kanker
pada saluran pencernaan. Jenis makanan yang menyebabkan kanker seperti
makanan yang diasap dan diasamkan yang dapat meningkatkan resiko terjadinya
kanker lambung. Minuman yang mengandung alkohol serta makanan yang
mengandung zat makanan juga dapat menyebabkan resiko terjadinya kanker.
2.2.3 Proses Penyebaran Kanker
Pertumbuhan sel kanker tidak terkendali disebabkan kerusakan deoxyribose
nucleic acid (DNA), sehingga menyebabkan mutasi gen vital yang mengontrol
pembelahan sel. Beberapa mutasi dapat mengubah sel normal menjadi sel kanker.
Mutasi-mutasi tersebut diakibatkan agen kimia maupun fisik yang edisebut
karsinogen. Mutasi dapat terjadi secara spontan maupun diwariskan. Sel-sel
kanker membentuk suatu masa dari jaringan ganas yang kemudian menyusup ke
jaringan di dekatnya dan menyebar ke seluruh tubuh. Sel-sel kanker sebenarnya
dibentuk dari sel normal melalui proses transformasi terdiri dari dua tahap yaitu
tahap iniasi dan promosi. Tahap inisiasi, pada tahap ini perubahan bahan genetis
sel yang memancing sel menjadi ganas. Perubahan sel genetis disebabkan unsur
pemicu kanker yang terkandung dalam bahan kimia, virus, radiasi, atau sinar
matahari. Pada tahap promosi, sel menjadi ganas disebabkan gabungan antara sel
yang peka dengan karsinogen. Kondisi ini menyebabkan sistem kekebalan tubuh
berusaha merusak sebelum sel berlipat ganda dan berkembang menjadi kanker.
Sistem kekebalan tubuh yang tidak berfungsi normal menjadikan tubuh rentan
terhadap kannker (Sunaryati, 2011).

5
2.2.4 Rekayasa Genetika untuk Kanker

Menurut Lee Joon Jae, et al dalam jurnalnya yang berjudul “Genetically


engineered and self-assembled oncolytic protein nanoparticles for targeted
cancer therapy” mengatakan bahwa pro protein apoptosis dengan sifat selektif
tumor, termasuk protein yang berasal dari virus oncolytic dan penekan tumor
menusia lainnya, hal ini dikatakan menarik karena kemampuan mereka untuk
secara selektif membunuh sel kanker. Aktivitas oncolytic dari apoptin
berlangsung secara independen dari penekan tumor p53, dan fungsi biologisnya
dirangsang oleh berbagai onkoprotein intraseluler. Pengiriman gen aopotin yang
diperantai oleh virus telah menjadi pilihan utama, tetapi memiliki kelemahan
tertentu termasuk efisiensi transduksi rendah, ekspresi gen yang tidak terkontrol,
dan imunotoksisitas yang dapat membatasi pengiriman sistemik dan manfaat dari
apoptin itu sendiri. Pengiriman langsung dari protein apoptin aktif dianggap
sebagai pendekatan yang lebih disukai untuk pengobatan kanker yang manjur dan
dapat dikelola. Dalam jurnal ini menjelaskan rekayasa nanopartiker protein yang
terdiri dari apoptin sebagai temuan baru untuk terapi kanker. Apoptin yang
direkayasa secara genetik dengan hati-hati ditampilkan untuk merakit diri menjadi
nanopartikel apoptin dengan homogenitas dan stabilitas yang tinggi sebagai
bentuk larut ketika diekspresikan dalam E.coli. Pengiriman sistemik yang
ditargetkan dari tumor protein oncolytic selektif, apoptin, sebagai bentuk
nanopartikel protein supra molekuler melalui perpaduan genetik dari EEGFR
spesifik. Pertimbangan terhadap selektivitas tumor intrinsik, stabilitas tinggi, dan
fungsionalisasi yang lancar, rekayasa nanopartiker protein apoptin dapat
dikembangkan sebagai agen terapi selektif dan tumor selektif yang disuntikkan
untuk pengobatan kanker yang berguna sebagai terapi kanker.

Menurut Fumagalli, A. et al dalam jurnalnya yang berjudul “Genetic


dissection of colorectal cancer progession by orthotopic transplantation of
engineered cancer organoids” mengatakan bahwa pada tahun 90 an Vogelstein
dan rekan kerjanya mengusulkan model dimana merka mendefinisikan satu set
perubahan genetik yang memfasilitasi perkembangan kanker kororektal (CRC).

6
Kemajuan ke tahap karsinoma dikaitkan dengan mengaktifkan mutasi pada jalur
sinyal EGF reseptor dan mutasi inaktivasi berikutnya dalam jalur transformasi
faktor pertumbuhan (TGF) β dan P53. Ketidakstabilan genetik dan heterogenitas
CRC adalah menantang untuk menghubungkan peristiwa genetik individu spesifik
ke langkah-langkah terpisah dari metastasis, termasuk kemampuan sel untuk
bermigrasi, menyebarluaskan dan tumbuh tempat lain. Dalam jurnal ini
menggambarkan pembentukan model CRC berdasarkan transplantasi orthotopic
organoids tumor usus manusia yang mengarah pada perkembangan tumor
kolorektal spontan yang menyebar ke tempat lain. Selain itu, dengan
mentransplantasi organ usus besar manusia yang direkayasa untuk menyimpan
kombinasi yang berbeda dari urutan karsinoma adenoma dengan menggunakan
CRISPR/Cas9, kami menentukan kontribusi peristiwa genetik yang diartikan
dengan langkah-langkah yang berbeda dari perkembangan CRC.

7
BAB 3. PERAN PERAWAT DALAM REKSAYA GENETIKA

3.1 Peran Perawat Sebagi Care Giver


Asuhan keperawatan yang di lakukan pada penderita kanker secara
optimal mampu meminimalkan terjadinya komplikasi setelah operasi atau
terapi lain. Pasien penderita kanker di harapkan mampu beradaptasi,
menerima, dan memenejemen gejala- gejala yang timbul akibat terapi yang
di lakukan. Sehingga tujuan akhir pemberian asuhan keperawatan dapat
tercapai, yaitu peningkatan kualitas hidup klien.
Teori adaptasi dari Roy yang di kombinasikan dengan teori
Symptom Management dari Humpreys di gunakan dalam asuhan keperawatan
pada klien penderita kanker. Teori adaptasi dari Roy di gunakan karena klien
yang menderita kanker harus mampu beradaptasi dengan penyakitnya dan
pengobatan yang harus di lakukan. Teori Symptom management di gunakan
pada klien penderita kanker yang mendapatkan terapi lanjutan berupa
kemoterapi. Teori ini membantu perawat dalam memahami proses
manajemen gejala yang terjadi akibat penyakit atau dampak terapi pada klien
penderita kanker.
Menurut Roy, manusia merupakan sistem adaptif yang holistik.
Setiap manusia di pandang memiliki suatu kesatuan yang utuh dengan
komponen biologi,psikologi, sosial yang berinteraksi dengan lingkungan
secara konstan. Manusia dalam mempertahan homeostasisnya harus berespon
dan beradaptasi terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di sekitarnya
baik internal mauoun eksternal.
Dalam hubungan teori Roy dengan asuhan keperawatan, ada dua tahap
pengkajian yang di lalui. Yaitu pengkajian perilaku dan pengkajian stimulus.
Pengkajian perilaku di lakukan pada empat area adaptasi yaitu konsep diri,
fisik fisologis, fungsi peran, dan interdependensi.
Ada 3 dimensi penting yang di tekankan pada teori keperawatan
Sympton Management dalam menangani gejala secara efektif. Ketiga
dimensi tersebut yaitu symptom experience, symptom managament strategies

8
dan symptom outcomes. Hubungan teori dalam proses asuhan keperawatan
yaitu pengkajian yang meliputi symptom experience. Dimensi symptom
management strategies berhubungan dengan tahap perencanaan dan
implementasi. Sedangakan dimensi symptom outcomes berhubungan dengan
proses evaluasi. Ketiga dimensi tersebut berhungan satu sama lain.
3.2 Peran Perawat Sebagai Advokat
Peran ini dilakukan perawat dalam membantu pasien dan keluarganya
dalam menginterpretasikan berbagai informasi dari pemberi pelayanan atau
informasi lain khususnya dalam pengambilan persetujuan atas tindakan
keperawatan yang diberikan kepada pasien penderita. Juga dapat berperan
mempertahankan dan melindungi hak-hak pasien yang meliputi hak atas
pelayanan sebaik-baiknya, hak atas informasi tentang penyakitnya dan hak
atas privasi. (Hidayat, 2008)
Peran perawat sebagai advokat disini sangat penting, terutama jika
pasien dan keluarga merupakan orang ya ng masih awam dalam bidang
kesehatan. Perawat harus menjelaskan mengenai penyakit yang di deritanya,
dalam makalah ini kanker misalnya. Perawat harus menjelaskan kepada
pasien informasi dari tenaga kesehatan lainnya agar pasien bisa menentukan
akan menerima asuhan keperawatan atau tidak. Dan perawat juga harus bisa
melindungi hak-hak pasien untuk menerima pelayanan yang terbaik tetapi
tetap di sesuaikan dengan kemampuan pasien.

3.3 Peran Perawat Sebagai Edukator


Peran ini dilakukan dengan membantu pasien dalam meningkatkan
tingkat pengetahuan kesehatan, gejala penyakit bahkan tindakan yang
diberikan, sehingga terjadi perubahan perilaku dari pasien setelah dilakukan
pendidikan kesehatan. (Hidayat, 2008)
Sebagai edukator ,perawat harus mampu memahami apa penyakit yang
diderita pasien. Dalam makalah ini sebagai contoh yaitu penyakit kanker. Jika
pasien adalah orang awam maka pasien menganggap kanker adalah penyakit
mematikan dan penderitanya akan segera meninggal. Kita sebagai edukator

9
harus bisa meyakinkan pasien bahwa kanker bisa disembuhkan dengan
pengobatan dan terapi yang tepat. Misalnya dengan menjelaskan kanker
terjadi karena sel yang tumbuh tidak terkontrol, dan hal ini bisa di atasi
dengan terapi gen P53 salah satunya. Lalu juga dijelaskan mengenai perilaku
hidup sehat apa saja , diet makanan apa saja untuk penyakit kanker.
3.4 Perawat sebagai konsultan
Dalam hal konsultan perawat dapat memenuhi hak pasien yang ingin
menengtahui lebih mendalam mengenai penyakit kanker yang dialami.
Membantu menyelesaikan masalah dengan memberikan arahan dan jalan
keluar pada pasien dan dengan cara ini pasien akan lebih merasa sedikit
tenang karena ada yang bisa diajak berbicara dan berkonsultasi secara
mendalam.
3.5 Perawat sebagai peneliti
Di bidang penelitian dalam hal ini perawat dapat melakukan penelitian ,
yaitu membantu bagaimana perkembangan kanker atau sakit yang dialami
pasien dengan mengecek laporan hasil lab dantugas delegasi seperti injeksi
obaat-obat yang akan dimasukkan ke dalam tubuh pasien tersebut.
3.6 Perawat sebagai koordinator
Perawat sebagai koordinator dilaksanakan dengan mengarahkan,
merencanakan serta mengorganisasikan pelayanan kesehatan dengan tim
kesehatan lain untuk memberikan asuhan keperawatan yang terarah, efektif,
efisien, dan menguntungkan pasien.
3.7 Perawat sebagai kolaborator
Peran perawat sebagai kolaborator yaitu perawat bekerja bersama tim
kesehatan lain yang terdiri dari dokter, ahli gizi, fisioterapis, dan lain
sebagainya untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada penderita kanker
melalui gen p53. Selain mengidentifikasi gen tersebut terhadap penderita
kanker, perawat juga saling berdiskusi dan bertukar pendapat dalam
menentukan pelayanan kesehatan seperti apa dan bagaimana yang akan
diberikan kepada si penderita kanker dengan media p53 yang digunakan
untuk menekan kanker

10
BAB 4. KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Rekayasa genetika merupakan teknik untuk menghasilkan molekul


DNA yang berisi gen baru yang di inginkan atau kombinasi gen-gen baru atau
dapat dikatakan sebagai manipulasi organisme. Kanker adalah suatu kondisi
dimana sel telah kehilangan pengendalian dan mekanisme normalnya, sehingga
dapat mengalami pertumbuhan yang tidak normal, cepat dan tidak. Perawat
memiliki peran yang sangat penting agar proses penyembuhan pasien bisa
berlangsung lancar. Perawat berperan dalam memberi dukungan pada pasien
dengan melakukan diagnosa. Peran sebagai pemberi asuhan keperawatan ini dapat
dilakukan perawat dengan memperhatikan keadaan kebutuhan dasar manusia yang
dibutuhkan melalui pemberian pelayanan keperawatan. Peran pengamat kesehatan
juga merupakan salah satu peran perawat dalam rekayasa genetik. Perawat juga
bisa berperan menjadi advokat klien, peran sebagai koordinator dimana
mengkoordinir seluruh kegiatan upaya pelayanan kesehatan dalam mencapai
tujuan kesehatan. Perawat juga bisa berperan menjadi konsultan, peran
kolaborator, dan peran fasilitator.
4.2 Saran

Penulis berharap dengan makalah ini, semoga mahasiswa dapat


mengerti bagaimana pengertian mengenai rekayasa genetika dan peran perawat
dalam melakukan atau melaksanakan rekayasa genetika. Sehingga dapat berpikir
kritis dalam melakukan tindakan keperawatan.

11
DAFTAR PUSTAKA
Al-Dimassi S, Abou-Antoun T, El-Sibai M. 2014. Cancer cell resistance
mechanism: a mini revie. Clin Transi Oncol. 16:511-6.
Amer. 2015. Gene therapy for cancer: present status and future perspective.
Mollecullar J. 2(27):1-2.
Anjasari, P. (2010). Rekaya Genetika untuk Menghasilkan Insulin. Yogyakarta:
Universitas Negeri Yogyakarta.
Baughman., Diane C. 2000. Keperawatan Medikal Bedah. Jakata: EGC
Campbell,Neil A, dkk.2008.Biologi jilid 1.Surabaya:Penerbit Erlangga
Dharmayanti, Indi.2003.Kajian Biologi Molekuler: Gen Supressor tumor (p53)
sebagai target gen dalam pengobatan kanker.WARTAZOA Vol.13 No.3
Dr.Gani.W. Tambunan. Diagnosis dan Tata Laksana Sepuluh Jenis Kanker
Terbanyak Di Indonesia. Jakarta : Penerbit EGC
Fumagalli, A, et al. 2017. Genetic dissection of colorectal cancer progession by
orthotopic transplantation of engineered cancer organoids.
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5373343/pdf/pnas.2017012
19.pdf [Diakses pada 03 Oktober 2018]
Jemal A, Bray F, Center MM, Ferlay J, Ward E, Forman D. 2011. Global cancer
statistic. Cancer J. 61(3):69-90.
Karmana, O. (2006). Biologi. Jakarta: Grafindo Media Pratama.
Lee Joon Jae, et al. 2016. Genetically engineered and self-assembled oncolytic
protein nanoparticles for targeted cancer therapy. Biometerial. Elsevier.
https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0142961216307323?via
%3Dihub [Diakses pada 03 Oktober 2018]
Mangan, Y. 2009. Solusi Sehat Mencegah dan Mengatasi Kanker. Jakarta: PT
AgroMedia Pustaka
Robbins SL, Kumar V. 1992. Sistem Genitalia Wanita Dan Payudara Buku Ajar
Patologi II. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Sjamsuhidat R. 1997. Buku Ajar Beda,Edisi Revisi. EGC: Jakarta

12
Sutarno. (2016). Rekayasa Genetika dan Perkembangan Bioteknologi di Bidang
Pertanian. Proceeding Biology Education Conference, 23-27.
Tatum El. 1996. Molecular biology, nucleic acids, and the future of medicine.
Perspect Biol Med. 10:19-32.
Teresa. 2005. Terapi gen pada penyakit kanker. researchgate
Yu. Hai-yuan. Dkk. 2014. Relationship between p53 Status and Response to
Chemoterapy in pantients with Gastric Cancer: A Metaanalysis. Zhenjiang:
PLOS ONE

13
LAMPIRAN

14