Anda di halaman 1dari 21

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bangsa Indonesia mempunyai tujuan sebagaimana yang tercantum
dalam Pembukaan UUD 1945 alinea 4 adalah untuk melindungi segenap
bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan
kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk mencapai
tujuan tersebut diselenggarakan program pembangunan nasional secara
berkelanjutan, terencana dan terarah. Tujuan diselenggarakannya
pembangunan kesehatan adalah meningkatkan kesadaran, dan kemampuan
hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat
yang optimal.
Untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan tersebut
diselenggarakan berbagai upaya kesehatan secara menyeluruh, berjenjang dan
terpadu. Puskesmas adalah penanggungjawab penyelenggara upaya kesehatan
untuk jenjang tingkat pertama yang menyelenggarakan kegiatan pelayanan
kesehatan secara berkesinambungan, yang meliputi pelayanan kesehatan
perorang (private goods) dan pelayanan kesehatan masyarakat (public goods)
sebagai bentuk usaha pembangunan kesehatan.
Dalam rangka peningkatan dan pengembangan pelayanan kesehatan
jiwa di Ruang Program Khusus Pria BLUD RSJ Sambang Lihum
Banjarmasin, salah satu aspek penting yang menjadi perhatian dalam rangka
upaya rehabilitasi dan spiritual yaitu peran serta keluarga untuk berpartisipasi
aktif dalam pelayanan kesehatan gangguan jiwa pada klien yang dilakukan
perawatan atau rawat inap, dalam hal ini di Ruang Program Khusus Pria yang
menjadi salah satu ruang rawat inap pada klien dengan gangguan jiwa.
Peningkatan peran keluarga pada pelayanan terapi klien gangguan jiwa
dapat ditingkatkan oleh petugas kesehatan yang bersangkutan salah satunya
melalui “home care”. Home care atau kunjungan rumah berarti mengunjungi
tempat tinggal klien dan bertemu dengan keluarga untuk mendapatkan

1
berbagai informasi penting yang diperlukan dalam rangka membantu klien
dalam proses terapi maupun untuk melakukan pendidikan kesehatan terkait
dengan kebutuhan klien selama dirawat.
Peran dan partisipasi keluarga dalam proses terapi merupakan alat
yang sangat penting dalam membantu proses kesembuhan klien, karena rumah
sakit jiwa sebagai tempat pelayanan kesehatan jiwa tidak berarti menjadi
pelayanan utama seumur hidup, tetapi rumah sakit hanya merupakan fasilitas
dalam membawa klien dan keluarga mengembangkan kemampuan dalam
mencegah terjadinya masalah, menanggulangi berbagai masalah dan
mempersatukan keadaan adaptif.
Berdasarkan hal di atas, maka kunjungan rumah merupakan alternatif
yang baik untuk dilakukan sebagai salah satu upaya membantu proses
perubahan respon maladaptif klien menjadi respon adaptif, hal ini menjadi
alasan bahwa melalui kunjungan rumah akan didapatkan informasi data fisik
maupun non fisik klien dan keluarga yang dibutuhkan untuk proses terapi di
rumah sakit secara lebih lengkap dan sesuai dengan keadaan klien, selain itu
informasi terhadap keluarga klien agar dapat diterima keberadaanya dan
diperlakukan sewajarnya baik di lingkungan keluarga maupun di lingkungan
masyarakat sekitarnya.

1.2 Tujuan
1.2.1 Umum
Kunjungan Rumah bertujuan untuk melengkapi dan mengklasifikasi
data yang didapat dari klien serta melakukan asuhan keperawatan,
yaitu memberikan penyuluhan kesehatan jiwa kepada keluarga
khususnya keperawatan yang dihadapi klien.
1.2.2 Khusus
Mengidentifikasi riwayat kesehatan klien yaitu :
1.2.2.1 Riwayat penyakit yang diderita klien baik sebelum maupun
sesudah dirawat di RSJ.

2
1.2.2.2 Mengidentifikasi riwayat kesehatan keluarga, apakah ada
yang menderita gangguan jiwa.
1.2.2.3 Mengidentifikasi tentang klien, apakah klien mempunyai
masalah dalam keluarga, lingkungan, masyarakat, tempat
kerja.
1.2.2.4 Mengklasifikasi data yang didapat dari klien dan keluarga.
1.2.2.5 Melakukan intervensi kepada keluarga tentang perawatan
klien.
1.2.2.6 Menjelaskan kepada keluarga tentang penyakit yang dialami
klien dan cara mengatasinya.
1.2.2.7 Mengajukan kepada keluarga untuk siap dan dapat menerima
klien sebagai anggota keluarga untuk dapat memenuhi
kebutuhan klien.
1.2.2.8 Menganjurkan keluarga untuk memberikan kesempatan
kepada klien mencurahkan perasaannya.
1.2.2.9 Menganjurkan kepada keluarga untuk memberikan
aktifitas/kesibukan sesuai dengan kemampuan klien.

1.3 Pelaksanaan Kegiatan


Hari : Kamis
Waktu : 14 September 2017
Tempat : Jalan Prona III Lokasi II Gg. Kapul RT.25/02, Pemurus
Baru, Banjarmasin Selatan, Kota Banjarmasin,
Kalimantan selatan
Petugas : Petugas yang akan melakukan home care adalah mahasiswa
STIKES Suaka Insan Banjarmasin yang sedang praktek klinik
di rumah sakit jiwa Sambang Lihum, Kelompok II. Adapun
Kelompok II beranggotakan:

3
1. Ari Yesika 5. Megawati
2. Erwin Irwandi 6. Prima Jaya
3. Fahlevi 7. Sutrinota
4. Indra Gunawan 8. Yohana Kristin

1.4 Strategi Pelaksanaan


1.4.1 Perkenalan
Kelompok akan melakukan perkenalan pada keluarga klien, terkait
nama, asal tempat tinggal dan Institusi Pendidikan untuk membina
hubungan saling percaya.
1.4.2 Intervensi
Intervensi yang akan dilakukan adalah memberikan SP 1-5 Halusinasi
pada SP keluarga
1.4.3 Evaluasi
Evaluasi yang dilakukan terkait evaluasi struktur, evaluasi proses dan
evaluasi hasil.
1.5 Satuan Pembelajaran
Pokok Bahasan : Halusinasi
Sasaran : Keluarga klien
Hari/tanggal : Kamis, 14 September 2017
Waktu : 09.00 wita - selesai
Tempat : Jalan Prona III Lokasi II Gg. Kapul RT.25/02,
Pemurus Baru, Banjarmasin Selatan, Kota
Banjarmasin, Kalimantan selatan
1.5.1 Tujuan
1.5.1.1 Umum
Kunjungan Rumah bertujuan untuk melengkapi dan
mengklasifikasi data yang didapat dari klien serta melakukan
asuhan keperawatan, yaitu memberikan penyuluhan kesehatan

4
jiwa kepada keluarga khususnya keperawatan yang dihadapi
klien.
1.5.1.2 Khusus
Mengidentifikasi riwayat kesehatan klien yaitu :
1.5.1.2.1 Riwayat penyakit yang diderita klien baik sebelum
maupun sesudah dirawat di RSJ.
1.5.1.2.2 Mengidentifikasi riwayat kesehatan keluarga, apakah
ada yang menderita gangguan jiwa.
1.5.1.2.3 Mengidentifikasi tentang klien, apakah klien
mempunyai masalah dalam keluarga, lingkungan,
masyarakat, tempat kerja.
1.5.1.2.4 Mengklasifikasi data yang didapat dari klien dan
keluarga.
1.5.1.2.5 Melakukan intervensi kepada keluarga tentang
perawatan klien.
1.5.1.2.6 Menjelaskan kepada keluarga tentang penyakit yang
dialami klien dan cara mengatasinya.
1.5.1.2.7 Mengajukan kepada keluarga untuk siap dan dapat
menerima klien sebagai anggota keluarga untuk dapat
memenuhi kebutuhan klien.
1.5.1.2.8 Menganjurkan keluarga untuk memberikan
kesempatan kepada klien mencurahkan perasaannya.
1.5.1.2.9 Menganjurkan kepada keluarga untuk memberikan
aktifitas/kesibukan sesuai dengan kemampuan klien.
1.5.2 Metode
Ceramah dan tanya Jawab
1.5.3 Media
Booklet dan leaflet

5
1.5.4 Tahap Pelaksanaan
Tahap Kegiatan Pemberi Materi Kegiatan Media
Sasaran
Perkenalan 1) Ucapkan salam. Keluarga
2) Perkenalkan klien
nama,asal,tujuan,dan lama
kunjungan.
3) Beri informasi bahwa klien
mulai dirawat oleh mahasiswa
sejak tanggal 06 September
2017,dimulai pada pukul 08.00
WITA.
4) Menanyakan tentang perilaku
klien dirumah yang
menyebabkan keluarga
memutuskan untuk membawa
klien ke rumah sakit.
5) Menanyakan kepada keluarga
faktor apakah yang
menyebabkan klien mengalami
gangguan jiwa.
6) Menanyakan tentang keluarga
klien (orang tua, saudara, dan
lain-lainnya).
7) Menanyakan harapan keluarga
terhadap kesembuhan klien.
8) Menanyakan dan
mengobservasi kondisi
lingkungan tempat tinggal
klien.

6
9) Menanyakan kepada keluarga
mengenai cara perawatan dan
pengobatan yang telah
dilakukan keluarga selama
klien dirumah
Penyajian Tindakan keperawatan sesuai Keluarga Booklet,
dengan diagnosa keperawatan klien leaflet
halusinasi, yaitu SP keluarga
dimana klien mendapat dukungan
dari keluarga dan diharapkan
keluarga dapat merawat klien
dengan Halusinasi.

Penutup a. Evaluasi respon keluarga Keluarga


1) Evaluasi Subjektif klien
a) Menanyakan perasaan
kepada bapak/ibu
setelah berbincang-
bincang.
b) Menanyakan kembali
kepada kelurga
tentang hal-hal yang
baru saja didiskusikan.
2) Evaluasi Objektif
a) Menanyakan kembali
kepada keluarga
tentang tanda dan
gejala serta penyebab
halusinasi, akibat yang

7
akan terjadi apabila
tidak ditangani, dan
cara keluarga untuk
memberikan dukungan
kepada klien dalam
merawat klien.
b) Mengobservasi
ekspresi keluarga
selama pembicaraan
dan respon perilaku
terhadap kunjungan.
c) Meminta keluarga
untuk menngulang
kembali (validasi) cara
merawat serta
dukungan keluarga
dengan klien.
d)
b. Rencana tindak lanjut
1) Menanyakan kepada
keluarga tentang harapan
dan keinginan selanjutnya.
2) Meminta keluarga
menjelaskan kembali yang
telah didiskusikan dan
tetap berkonsultasi dengan
dokter.

8
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1. Masalah Utama


Halusinasi
2.2. Proses Terjadinya Masalah
2.1.1 Pengertian
Halusinasi adalah pencerapan tanpa adanya rangsang apapun pada
panca indera seorang pasien, yang terjadi dalam keadaan sadar/
bangun, dasarnya mungkin organik, fungsional, psikotik maupun
histerik (Maramis, 2000 dalam Trimelia, 2011).
Halusinasi adalah terganggunya persepsi sensori seseorang
dimana tidak terdapat stimulus (Varcarolis, 2006 dalam Trimelia,
2011).
Halusinasi adalah suatu sensori persepsi terhadap sesuatu hal
tanda stimulus dari luar. Halusinasi merupakan pengalaman terhadap
mendengar suara Tuhan, suara setan dan suara manusia yang berbicara
terhadap dirinya, sering terjadi pada pasien skozofrenia (Stuart &
Sundeen, 1995 dalam Trimelia, 2011).
Halusinasi adalah suatu keadaan dimana seorang mengalami
perubahan dalam jumlah dan pola dari stimulus yang mendekat (yang
diprakarsai secara internal/eksternal disertai dengan suatu
pengurangan/berlebih, distorsi atau kelainan berespons terhadap
stimulus (Townsend, 1998 dalam Trimelia, 2011).
Halusinasi adalah persepsi klien terhadap lingkungan tanpa
stimulus yang nyata, artinya klien menginterpretasikan sesuatu yang
nyata tanpa stimulus/rangsang dari luar. Halusinasi merupakan distorsi
persepsi yang muncul dari berbagai indera (Stuart & Laraia, 2005
dalam Trimelia, 2011).
Jenis-jenis Halusinasi:

9
1. Pendengaran
Mendengar suara atau kebisingan, paling sering suara orang. Suara
berbentuk kebisingan yang kurang jelas sampai kata-kata yang jelas
berbicara tentang klien, bahkan sampai pada percakapan lengkap
antara dua orang yang mengalami halusinasi. Pikiran yang
terdengar dimana klien mendengar perkataan bahwa klien disuruh
untuk melakukan sesuatu kadang dapat membahayakan.
2. Penglihatan
Stimulus visual dalam bentuk kilatan cahaya, gambar
geometris,gambar kartun,bayangan yang rumit atau kompleks.
Bayangan bias menyenangkan atau menakutkan seperti melihat
monster.
3. Penghidu
Membaui bau-bauan tertentu seperti bau darah, urin, dan feses
umumnya bau-bauan yang tidak menyenangkan. Halusinasi
penghidu sering akibat stroke, tumor, kejang, atau dimensia.
4. Pengecapan
Merasa mengecap rasa seperti rasa darah, urin atau feses.
5. Perabaan
Mengalami nyeri atau ketidaknyamanan tanpa stimulus yang jelas.
Rasa tersetrum listrik yang datang dari tanah, benda mati atau orang
lain.
6. Cenesthetic
Merasakan fungsi tubuh seperti aliran darah di vena atau arteri,
pencernaan makan atau pembentukan urine
7. Kinisthetic
Merasakan pergerakan sementara berdiri tanpa bergerak.

10
2.1.2 Faktor predisposisi
Faktor predisposisi menurut Trimelia (2011):
1. Faktor biologis
Terdapat lesi pada area frontal, temporal dan limbik.
2. Faktor perkembangan
Rendahnya kontrol dan kehangatan keluarga menyebabkan individu
tidak mampu mandiri sejak kecil, mudah frustasi, hilang percaya
diri dan lebih rentan terhadap stress adalah merupakan salah satu
tugas perkembangan yang terganggu.
3. Faktor sosiokultural
Individu yang merasa tidak diterima lingkungannya akan merasa
disingkirkan, kesepian dan tidak percaya pada lingkungannya.
4. Faktor biokimia
Mempunyai pengaruh terhadap terjadinya gangguan jiwa. Adanya
stress yang berlebihan dialami individu maka didalam tubuh akan
dihasilkan suatu zat yang dapat bersifat halusogenik neurokimia
seperti Buffofenon dan Dimetytransferase (DMP). Akibat stress
berkepanjangan menyebabkan teraktivasinya neurotransmiter otak.
Misalnya terjadi ketidakseimbangan Acetylcholin dan Dopamin.
5. Faktor psikologis
Tipe kepribadian yang lemah dan tidak bertanggung jawab mudah
terjerumus pada penyalahgunaan zat adiktif. Selain itu ibu yang
pencemas, overprotektif, dingin, tidak sensitif, pola asuh tidak
adekuat, konflik perkawinan, koping tidak adekuat juga
berpengaruh pada ketidakmampuan individu dalam mengambil
keputusan yang tepat demi masa depannya. Individu lebih memilih
kesenangan sesaat dan lari alam nyata menuju alam nyata.
6. Faktor genetik
Penelitian menunjukkan bahwa anak yang di asuh oleh orangtua
skizofrenia cenderung akan mengalami skizofrenia juga.

11
2.1.3 Faktor presipitasi
Faktor presipitasi menurut Trimelia (2011):
1. Biologis
Stressor biologis yang berhubungan dengan respons neurobiologik
yang maladaptif termasuk gangguan dalam putaran umpan balik
otak yang mengatur proses informasi dan adanya abnormalitas pada
mekanisme pintu masuk dalam otak yang mengakibatkan
ketidakmampuan untuk secara selektif menanggapi rangsangan.
2. Pemicu gejala
Pemicu atau stimulus yang sering menimbulkan episode baru suatu
penyakit yang biasanya terdapat pada respons neurobiologis yang
maladaptif berhubungan dengan kesehatan, lingkungan, sikap dan
perilaku individu.
3. Kesehatan, seperti gizi buruk, kurang tidur, keletihan, infeksi, obat
SSP, gangguan proses informasi, kurang olah raga, alam perasaan
abnormal dan cemas.
4. Lingkungan, seperti lingkungan penuh kritik, gangguan dalam
hubungan interpersonal, masalah perumahan, stress, kemiskinan,
tekanan terhadap penampilan, perubahan dalam kehidupan dan pola
aktivitas sehari-hari, kesepian (kurang dukungan) dan tekanan
pekerjaan.
5. Perilaku, seperti konsep diri rendah, keputusasaan, kehilanagn
motivasi, tidak mampu memenuhi kebutuhan spiritual, bertindak
berbeda dengan orang lain, kurang keterampilan sosial, perilaku
agresif dan amuk.
Menurut Rawlins dan Heacokck (dalam Trimelia, 2011), penyebab
halusinasi dapat dilihat dari lima dimensi berikut:
1. Dimensi fisik
Halusinasi dapat ditimbulkan oleh beberapa kondisi fisik, seperti
kelelahan yang luar biasa, penggunaan obat-obatan, demam hingga

12
delirium, intoksikasi alkohol dan kesulitan untuk tidur dalam waktu
yang lama.
2. Dimensi emosional
Perasaan cemas yang berlebihan atas dasar masalah yang tidak
dapat diatasi merupakan penyebab halusinasi itu terjadi. Isi dari
halusinasi dapt berupa perintah memaksa dan menakutkan. Klien
tidak sanggup lagi menentang perintah tersebut, sehingga klien
berbuat sesuatu terhadap ketakutan tersebut.
3. Dimensi intelektual
Bahwa individu dengan hausinasi akan memperlihatkan adanya
penurunan fungsi ego. Pada awalnya halusinasi merupakan usaha
dari ego sendiri untuk melawan impuls yang menekan, namun
merupakan suatu hal yang menimbulkan kewaspadaan yang dapat
mengambil seluruh perhatian klien dan tidak jarang akan
mengontrol semua prilaku klien.
4. Dimensi sosial
Klien mengalami interaksi sosial dalam fase awal dan comforting,
klien menganggap bahwa hidup bersosialisasi di alam nyata sangat
membahayakan. Klien asik dengan halusinasinya seolah-olah ia
merupakan tempat untuk memenuhi kebutuhan akan interaksi
sosial, kontrol diri dan harga diri yang tidak di dapatkan dalam
dunia nyata. Isi halusinasi dijadikan sistem kontrol oleh individu
tersebut, sehingga jika perintah halusinasi berupa ancaman, dirinya
atau orang lain individu cenderung untuk itu. Oleh karena itu, aspek
penting dalam melaksanakan intervensi keperawatan klien dengan
mengupayakan suatu proses interaksi yang menimbulkan
pengalaman interpesonal yang memuaskan, serta mengusahakan
klien tidak menyendiri sehingga klien selalu berinteraksi dengan
lingkungannya dan halusinasi tidak berlangsung.

13
5. Dimensi spiritual
Secara spiritual klien halusinasi mulai dengan kehampaan hidup,
rutinitas tidak bermakna, hilangnya aktifitas ibadah dan jarang
berupaya secara spiritual untuk menyucikan diri. Irama
sirkadiannya terganggu karena sering tidur larut malam dan bangun
sangat siang. Saat terbangun merasa hampa dan tidak jelas tujuan
hidupnya. Individu sering memaki takdir tetapi lemah dalam upaya
menjemput rezeki, menyalahkan lingkungan dan orang lain yang
menyebabkan takdirnya memburuk.
2.1.4 Rentang respon

Respons neurobiologis individu daapt diidentifikasi sepanjang rentang


respons adaptif sampai maladaptif, menurut Stuart dan Laraia (1998)
dalam Trimelia (2011) adalah sebagai berikut:

Respons Adaptif Respons Maladaptif

• Pikiran logis • Pikiran kadang • Gangguan proses


• Persepsi akurat menyimpang pikir/delusi/waham
• Emosi konstan • Ilusi • Etidakmampuan
dengan • Reaksi untuk mengalami
pengalaman emosional emosi
• Perilaku sesuai berlebih/kurang • ketidakteraturan
• Hubungan • Perilaku ganjil • Isolasi sosial
sosial harmonis • Menarik diri • halusinasi

14
2.1.5 Masalah Keperawatan
Effect Risiko Tinggi Perilaku Kekerasan

Core Problem Perubahan Persepsi Sensori: Halusinasi

Causa Isolasi Sosal

Harga Diri Rendah Kronis


Pohon masalah perubahna persepsi sensori: Halusinasi (Fitria, 2014)

Diagnosis Keperawatan :
Gangguan persepsi sensori: Halusinasi

2.1.6 Cara Merawat Pasien dengan Halusinasi


Menurut Stuart (2007), strategi merawat pasien dengan halusinasi
yaitu membina hubungan interpersonal dan saling percaya, mengkaji
gejala halusinasi, memfokuskan pada gejala dan minta pasien
menjelaskan apa yang sedang terjadi, mengkaji penggunaan alkohol
atau obat terlarang, mengatakan bahwa perawat tidak mempunyai
stimulus yang sama, membantu pasien mengidentifikasikan kebutuhan
yang dapat memicu halusinasi dan membantu menangani gejala yang
mempengaruhi aktifitas hidup sehari-hari.
Menurut Keliat, dkk (2011) tindakan keperawatan yang dapat
diberikan untuk keluarga pasien halusinasi adalah sebagai berikut:
1. Diskusikan masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat
pasien.

15
2. Berikan pendidikan kesehatan tentang pengertian halusinasi, jenis
halusinasi yang dialami pasien, tanda dan gejala halusinasi, proses
terjadinya halusinasi dan cara merawat pasien halusinasi.
3. Berikan kesempatan kepada keluarga untuk memperagakan cara
merawat pasien dengan halusinasi langsung di hadapan pasien.
4. Memberikan pendidikan kesehatan kepada keluarga tentang
perawatan lanjutan pasien.
Merawat pasien berarti juga harus terlibat langsung dengan program
pengobatan pasien. Peran keluarga dibutuhkan dalam mengawasi
pasien minum obat. Oleh karena itu penting bagi
keluarga untuk mengetahui tentang obat dan efek samping obat.
Keluarga diharapkan mengetahui manfaat obat, jenis, dosis, waktu,
cara pemberian dan efek samping obat. Kondisi halusinasi dalam
perawatan dan pengobatan bisa dikontrol oleh obat (Videbeck, 2008).
Penatalaksanaan terpentingnya adalah bagaimana pasien dengan
halusinasi tahu manfaat obat, kemudian mau minum obat dan patuh,
sehingga mampu mengikuti dan mempertahankan terapinya untuk
mengontrol halusinasinya (Suwardiman, 2011)

16
BAB III
PROPOSAL KUNJUNGAN RUMAH

3.1 Identitas Klien


Nama : Tn.M.R
Umur : 17 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Suku/Bangsa : Banjar/WNI
Status Perkawinan : Belum Kawin
Alamat : Jalan Prona III Lokasi II Gg. Kapul RT.25/02,
Pemurus Baru, Banjarmasin Selatan, Kota
Banjarmasin, Kalimantan selatan
Ruang di Rawat : Ruang Program Khusus Napza Pria
Tanggal MRS : 08 Agustus 2017
Tanggal Pengkajian : 06 Agustus 2017
No.Registrasi : 02.xx.xx
Diagnosa Medis : F.19.5
Penanggung jawab : Ny. M
Hubungan dengan klien : Orang tua
Tanggal Kunjungan :

3.2 Tujuan Kunjungan Rumah


1. Tujuan Umum
Keluarga dapat menerima dan merawat anggota keluarga yang
mengalami gangguan jiwa dan menjadi sistem pendukung yang efektif.
2. Tujuan Khusus
a. Memberikan informasi kepada keluarga tentang perkembangan
kondisi klien selama di rumah sakit.
b. Memvalidasi data dan melengkapi data yang diperoleh dari klien dan
data sekunder (rekam medik) mengenai:
- Keluarga

17
1) Alasan masuk atau dirawat di rumah Sakit.
2) Keadaan ekonomi
3) Keharmonisan keluarga
4) Komunikasi dalam keluarga
5) Harapan keluarga terhadap klien
6) Pengetahuan keluarga tentang perawatan klien
7) Faktor predisposisi dan presipitasi.
8) Genogram keluarga.
9) Persepsi keluarga terhadap penyakit yang diderita klien.
- Lingkungan
1) Fasilitas ibadah
2) Pendapat masyarakat tentang penyakit klien
3) Tempat pelayanan kesehatan terdekat
4) Pemanfaatan keluarga dengan pelayanan keseehatan.
c. Melakukan imlementasi tentang diagnosa keperawatan.
3. Support system dalam keluarga.
Mengkaji pengetahuan keluarga tentang perawatan klien gangguan jiwa
di rumah dikaitkan dengan 5 fungsi keluarga, yaitu:
a. Keluarga dapat mengenal masalah yang menyebabkan klien kambuh.
b. Keluarga dapat mengambil keputusan dalam melakukan perawatan
terhadap klien.
c. Keluarga dapat merawat klien dirumah.
d. Keluarga dapat memodifikasi lingkungan yang terapeutik dalam
merawat klien.
e. Keluarga dapat memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada di
masyarakat untuk merawat kesehatan klien.
4. Memberikan pendidikan kepada keluarga sesuai dengan masalah yang
ditemukan saat pengkajian.
5. Memotivasi keluarga untuk melanjutkan perawatan di rumah.

18
3.3 Rencana Tindakan Keperawatan
1. Fase Orientasi
a. Salam terpeutik
1) Ucapkan salam.
2) Perkenalkan nama,asal,tujuan,dan lama kunjungan.
3) Beri informasi bahwa klien mulai dirawat oleh mahasiswa sejak
tanggal 06 September 2017,dimulai pada pukul 08.00 WITA.
4) Menanyakan tentang perilaku klien dirumah yang menyebabkan
keluarga memutuskan untuk membawa klien ke rumah sakit.
5) Menanyakan kepada keluarga faktor apakah yang menyebabkan
klien mengalami gangguan jiwa.
6) Menanyakan tentang keluarga klien (orang tua, saudara, dan
lain-lainnya).
7) Menanyakan harapan keluarga terhadap kesembuhan klien.
8) Menanyakan dan mengobservasi kondisi lingkungan tempat
tinggal klien.
9) Menanyakan kepada keluarga mengenai cara perawatan dan
pengobatan yang telah dilakukan keluarga selama klien
dirumah.
b. Kontrak
Selama 1,5 jam ( pukul 09.00 – 10.30 WITA ) perawat dan keluarga
akan berdiskusi tentang cara perawatan klien yang seharusnya
dilakukan keluarga selama dirumah, memberi informasi tentang
kondisi klien di rumah sakit, validasi data dari keluarga, dan
kesiapan keluarga terhadap kepulangan klien.
2. Fase Kerja
Tindakan keperawatan sesuai dengan diagnosa keperawatan halusinasi,
yaitu SP keluarga dimana klien mendapat dukungan dari keluarga dan
diharapkan keluarga dapat merawat klien dengan Halusinasi.
Tindakan Keperawatan:

19
SP Keluarga
SP 1
1. Diskusikan masalah yang dirasakan dalam merawat pasien
2. Jelaskan pengertian, tanda dan gejala serta halusinasi (gunakan
booklet)
3. Jelaskan cara merawat pasien dengan halusinasi
4. Latih cara merawat halusinasi : Hardik
5. Anjurkan membantu pasien sesuai jadwal
SP 2
1. Evaluasi kegiatan keluarga dalam merawat menghardik beri pujian
2. Jelaskan 6 benar cara memberikan obat
3. Latih cara memberikan / membimbing minum obat
4. Anjurkan membantu pasien sesuai jadwal
SP 3
1. Evaluasi kegiatan keluarga dalam merawat dalam menghardik dan
memberikan obat
2. Jelaskan cara bercakap-cakap dan mengontrol halusinasi
3. Latih dan sediakan waktu untuk bercakap dengan pasien terutama
saat halusinasi
4. Anjurkan membantu pasien sesuai jadwal, berikan pujian
SP 4
1. Evaluasi kegiatan keluarga merawat, menghardik, memberikan obat
beri pujian
2. Jelaskan follow up ke RSJ/PKM
3. Anjurkan membantu pasien sesuai jadwal
SP 5
1. Evaluasi kegiatan keluarga dalam merawat, menghardik, minum
obat, bercakap-cakap dan follow up. Beri pujian
2. Nilai kemampuan keluarga merawat pasien
3. Nilai kemampuan keluarga melakukan RSJ/PKM

20
3. Fase Terminasi Keluarga
a. Evaluasi respon keluarga
1) Evaluasi Subjektif
a) Menanyakan perasaan kepada bapak/ibu setelah berbincang-
bincang.
b) Menanyakan kembali kepada kelurga tentang hal-hal yang
baru saja didiskusikan.
2) Evaluasi Objektif
a) Menanyakan kembali kepada keluarga tentang tanda dan
gejala serta penyebab halusinasi, akibat yang akan terjadi
apabila tidak ditangani, dan cara keluarga untuk memberikan
dukungan kepada klien dalam merawat klien.
b) Mengobservasi ekspresi keluarga selama pembicaraan dan
respon perilaku terhadap kunjungan.
c) Meminta keluarga untuk menngulang kembali (validasi) cara
merawat serta dukungan keluarga dengan klien.
b. Rencana tindak lanjut
1) Menanyakan kepada keluarga tentang harapan dan keinginan
selanjutnya.
2) Meminta keluarga menjelaskan kembali yang telah didiskusikan
dan tetap berkonsultasi dengan dokter.

21